Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Genre : Supernatural, hurt/comfort, family
Note : Dilarang mengcopy paste isi fic ini maupun fic milik saya lainnya. Yang tetep membandel saya kutuk jadi jomblo seumur hidup!
Selamat membaca!
Calendula Officinalis
Chapter 10 : Pengecut?
By : Fuyutsuki Hikari
Seperti hari-hari biasanya, pagi ini Mei berjalan menuju ruang kerjanya di dalam komplek gedung Kejaksaan Jepang. Ia membawa segelas kopi di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menjinjing tas kerja kulitnya yang berwarna coklat mengkilap. Ada yang aneh, pikirnya. Kenapa rekan-rekan kerjanya mencuri pandang ke arahnya lalu berbisik-bisik? Sungguh hal yang mengganggu karena Mei yakin saat ini mereka tengah membicarakan dirinya. Mei menelengkan kepala, penasaran.
Di usianya yang hampir menginjak tiga puluh empat tahun, Mei sebenarnya sudah biasa mendapat tatapan prihatin dari rekan-rekan kerjanya karena hingga detik ini dia masih berstatus single. Menurut Mei tidak ada yang salah dengan hal itu. Karirnya cemerlang, perekonomiannya lebih dari cukup, apalagi yang kurang? Dia menikmati waktu kesendiriannya, yah, walaupun kedua orangtuanya sering kali mempertanyakan kapan dia akan mengenalkan pria yang akan menjadi suaminya?
Bukannya Mei tidak mau, namun hingga detik ini dia masih belum menemukan seorang pria yang mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Atau mungkin itu hanya alasannya saja karena dia terlalu pengecut untuk memilih? Entahlah. Mei selalu merasa jika dia baik-baik saja. Dan kehidupannya terasa menyenangkan walau tanpa seorang kekasih disisinya. Ya, dia sudah terbiasa dengan kesendiriannya. Dan dia tidak menyesalinya. Mungkin?
"Mei, kenapa kau tidak bilang jika kau sudah memiliki kekasih?" tanya seorang pria diujung lorong.
Langkah Mei terhenti seketika. Ia menekuk wajahnya bingung. Dengan perlahan dia berbalik, mencari asal sumber suara. Tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, seorang pria paruh baya yang merupakan atasannya memberinya acungan jempol dan sebuah senyum lebar, seolah memberinya selamat. Mei semakin bingung saat beberapa pegawai ikut bertepuk tangan dan bersiul panjang untuknya. "Kalian semua gila!" gumamnya pelan sebelum kembali berbalik untuk melanjutkan sisa perjalanannya.
Mei mendorong pintu ruang kerjanya dengan menggunakan bahu. Lagi-lagi dia dibuat terkejut. Empat orang rekan kerja yang berada di dalam satu ruangan yang sama dengannya menyambutnya dengan tepukan meriah serta ucapan selamat. "Ada apa dengan kalian semua pagi ini?" tanya Mei dengan ekspresi masam.
Ia meletakkan gelas kopinya di atas meja, lalu meletakkan tas kerjanya di kursi kerjanya sebelum menjatuhkan diri di atas kursi nyaman miliknya. Wanita itu baru saja hendak menyalakan laptopnya saat ekor matanya menangkap objek asing di atas mejanya. "Bunga milik siapa ini?"
Ditempat duduknya, Konan tersenyum lebar mendengar pertanyaan itu, dengan nada jail dia balik bertanya, "Bukankah seharusnya kami yang bertanya siapa yang mengirim bunga itu pada anda, Senior?"
"Bunga ini untukku?" tanya Mei terlihat sangat terkejut. Dengan cepat dia menyambar sebuah kartu berwarna champagne mewah yang terselip di dalam rangkaian bunga tulip berwarna putih itu. "Maafkan aku!" gumamnya membaca catatan singkat yang digoreskan di kartu ucapan itu. "HK?" ia mengernyit, menebak-nebak. "Hatake Kakashi?" pekik Mei tertahan dengan mata melotot saat nama itu meluncur dari tenggorokannya. "Tidak mungkin," erangnya. "Tidak mungkin dia yang mengirimnya," ulangnya terdengar terganggu. Mei bahkan tidak memedulikan keempat rekan kerjanya yang mulai berbisik dan melempar tatapan penuh arti padanya.
Tidak mungkin Kakashi yang mengirimkan bunga ini untukku. Berbagai pikiran tumpang tindih di dalam benaknya, apa maksud semua ini? Tanyanya di dalam hati. Selain Kakashi, tidak ada pria lain yang memiliki inisial 'HK'.
Jika benar bunga ini darinya, kenapa begitu tiba-tiba? Yang diingat Mei, Kakashi bukanlah tipe pria romantis yang akan mengirimkan karangan bunga serta sebuah kartu permohonan maaf. Ada yang salah, pikirnya mulai mengendus sesuatu yang dirasanya aneh.
Tapi bagaimana jika benar Kakashi yang mengirimnya? Mei kembali bertanya di dalam hati. Wanita itu mulai bimbang, apa dia harus percaya jika Kakashi yang mengirim bunga itu atau tidak?
Pertanyaan selanjutnya, kenapa Kakashi harus meminta maaf sekarang? Sudah sembilan tahun berlalu sejak Kakashi mengakhiri hubungan mereka, dan Kakashi baru berinisiatif meminta maaf sekarang? Yang benar saja! Aku tidak akan kalah dalam permainanmu, Hatake Kakashi, putusnya di dalam hati.
Di sudut meja, Naruto mengulum senyum tipis saat mengamati ekspresi Mei saat ini. Mantan kekasih pamannya itu memang terlihat tidak peduli, namun rona merah yang kini mewarnai daun telinganya jelas tidak luput dari pengamat Naruto yang jeli.
Ah, setidaknya paman masih ada kesempatan, kan? bisiknya penuh harap pada udara kosong. Naruto terus duduk diam mengamati Mei bekerja siang ini. Gadis itu duduk tenang di atas meja kerja Mei yang terlihat rapi. Kau adalah sumber kebahagiaan Paman Kakashi, dan sebaliknya, Paman Kakashi adalah sumber kebahagianmu. Iya, kan? tanyanya merdu. Karena itu, tolong ijinkan aku untuk ikut bermain di dalam ikatan takdir kalian, tambahnya pelan.
Setelah selesai bicara, tubuhnya berpendar membentuk asap tipis, menyisakan setitik cahaya sebelum akhirnya menghilang seutuhnya.
.
.
.
Naruto melayang ringan di udara. Matanya sejenak terpejam, mencoba merasakan hembusan angin yang bertiup, namun tiupan menyenangkan itu tidak pernah menyapu wajahnya. Ah, apa yang dipikirkanya? Saat ini dia hanyalah roh tanpa raga. Bagaimana bisa dia mengharapkan angin membelai wajahnya yang pucat?
Dalam satu hentakan ia terbang lebih cepat, membelah udara, mencoba untuk menekan kesedihannya dan menikmati kebebasannya-terbang bebas layaknya seekor walet kecil.
Kedatangannya bertepatan dengan bunyi bel sekolah yang menandakan jam makan siang telah tiba. Naruto melayang rendah, wajahnya berekspresi impresif yang biasa. Lorong-lorong sekolah mulai gaduh oleh tawa dan langkah kaki para murid yang tergesa menuju kantin sekolah. Naruto berdiri melayang setengah meter di atas lantai. Menunggu dengan tenang di lorong sekolah, sementara beberapa murid berjalan menembusnya.
Ekspresi wajahnya segera berubah saat kedua matanya menangkap empat orang sosok yang memang tengah dicarinya. Sebuah seringai jail menghiasi wajah pucatnya yang cantik, Naruto menyembunyikan tubuhnya, menunggu dengan sabar untuk menerkam korbannya-Shimura Sai.
Di sisi lain, Sai tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja jantungnya berdebar tidak karuan. Bulu kuduknya meremang tanpa alasan. Ia mencoba menyembunyikan perasaan aneh itu, mengabaikannya dan menanggapi ucapan Neji dengan gurauan hambarnya.
Tapi kenapa firasat tidak menyenangkan itu masih bercokol di hatinya, tanpa bisa dienyahkannya?
Ada yang salah, pikirnya.
Naruto? Atau jangan-jangan hantu lain? Ia mulai merinding ngeri membayangkan hantu lain yang mungkin saja memiliki niat jahat dan rupa yang tidak sedap untuk dipandang.
Perlahan dia menoleh ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang untuk mencari sosok tak kasat mata yang sering mengganggunya belakangan ini. Namun keberadaan sosok itu masih tak terdeteksi oleh indera penglihatannya.
Dia pasti bersembunyi, batin Sai mulai menebak-nebak dengan panik. Sai pun mulai melangkah lebih cepat, mendahului Sasuke dan Shikamaru, meninggalkan Neji yang menekuk keningnya dalam tak mengerti akan tingkahnya yang tiba-tiba terlihat aneh.
"Apa kau baik-baik saja, Sai?" tanya Shikamaru pada Sai yang berjalan semakin tergesa.
Sai menelan air liurnya susah payah, sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan Shikamaru. Saat ini semua panca inderanya dipasang untuk menangkap pergerakan Naruto, atau hantu lainnya. Aku harus menyiapkan diri seandainya dia datang tiba-tiba untuk menakutiku, tegasnya dalam hati.
"Sai, apa kau sakit?" kini giliran Neji yang bertanya, sementara Sasuke dan Shikamaru menatap wajah pucat pasi Sai dengan satu alis terangkat. "Wajahmu sepucat tembok rumah sakit," kekeh Neji yang terlihat sama sekali tidak khawatir.
"Aku baik-baik saja," sahut Sai kemudian dengan suara dan ekspresi yang tidak meyakinkan. "Atau tidak?" tambahnya pelan, bergetar, nyaris tak terdengar. Sai kemudian terdiam, langkah kakinya terhenti saat telinganya mendengar sesuatu datang dari ujung lorong. Jakunnya naik turun. Keringat dingin mulai membasahi tangan, punggung serta pelipisnya. Ekspresi ketakutannya terlihat sangat nyata.
Sesuatu yang tak kasat mata itu meluncur dengan perlahan, berhati-hati dan semakin mendekat ke arahnya. Apa mungkin itu bukan Naruto? Apa kemampuannya melihat hantu sudah kembali seutuhnya? Lagi-lagi Sai menelan air liurnya susah payah. Bayangan mengerikan dari masa lalu kembali mengusiknya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ah, seharusnya dia meminta jimat pengusir hantu dari kuil.
Dan sesuatu mengagetkan Sai, tepat di depan wajahnya, membuatnya ketakutan hingga merasa tak berdaya. Sambil menelan pekikan ketakutannya ia melangkah mundur hingga punggungnya bertabrakan dengan dada Sasuke yang berdiri di belakangnya. "Sialan kau, Naruto!" teriak Sai dengan napas putus-putus saat suaranya kembali. Kemarahannya menguasainya hebat, mengalahkan ketakutannya yang menggunung. "Aku tidak akan pingsan," tambahnya terengah, telunjuknya teracung tepat ke arah Naruto yang tertawa terpingkal-pingkal.
Kelakuan tak biasa Sai jelas mengundang tanda tanya beberapa murid yang tak sengaja berpapasan dengannya. "Aku tidak gila!" raung Sai frustasi pada beberapa murid yang memilih untuk kembali melanjutkan sisa perjalanan mereka menuju kantin.
"Apa Naruto ada disini?" tanya Sasuke tanpa ekspresi. Ia mengamati wajah Sai yang memerah, marah.
Sai mendelik ke arahnya, meluapkan amarahnya pada Sasuke. "Ya. Kekasihmu ada disini. Dia menertawaiku. Tertawa dengan tidak sopannya setelah menakutiku!" pekiknya garang pada Sasuke sebelum akhirnya ia menatap tajam Naruto yang melayang-layang di udara sembari tertawa puas.
"Sai, kau benar-benar tidak pingsan." Ujar Neji dengan nada tidak percaya yang terselip dalam suaranya.
"Memangnya kenapa jika aku tidak pingsan?" tanya Sai ketus, membalas ucapan Neji yang terlihat aneh karena Sai masih sadarkan diri. Napas Sai terengah, kemarahannya menyebar cepat dalam pembuluh darahnya. Sai kemudian melirik ke arah Naruto, menatapnya dengan ekspresi keras. Hingga akhirnya otaknya mulai menyerap maksud ucapan Neji tadi. Dia tidak pingsan? Kenapa? Bukankah seharusnya dia sudah pingsan saat ini karena ketakutan?
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Sai menatap satu per satu wajah keempat teman barunya, lalu matanya teralih pada Naruto yang masih tertawa keras sembari memegang perutnya.
Aku tidak pingsan? Tanyanya di dalam hati. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya sebelum akhirnya senyum tipis itu berubah menjadi sebuah senyuman lebar, "Aku tidak pingsan!" teriaknya menggebu. Kedua tangannya diangkat ke udara. Sai mulai berteriak heboh, mensyukuri hal yang sungguh sama sekali tak diduganya. "Aku tidak pingsan!" serunya lagi pada Sasuke yang balas menatapnya dengan satu alis terangkat. "Kekasihmu itu tidak bisa membuatku pingsan, Sasuke!" ia berujar senang.
Sasuke menghela napas. Dengan isyarat dia meminta Shikamaru dan Neji untuk membekap mulut Sai yang masih berteriak heboh. Keduanya segera mengangguk paham, lalu dengan sekuat tenaga mereka pun mengambil tindakan untuk menghentikan kehebohan yang diciptakan oleh Sai-mereka membekap, lalu menyeret tubuh Sai yang meronta hebat untuk melanjutkan sisa perjalan mereka menuju kantin sekolah.
.
.
.
Naruto cemberut, kedua tangannya dilipat di depan dada. Sai sepertinya sudah mulai terbiasa dengan keberadaannya, dan entah kenapa hal itu membuatnya sebal karena salah satu hiburannya sudah tidak ketakutan lagi saat melihatnya. Menyebalkan, pikirnya masam.
Dilain pihak, walau tidak pingsan seperti hari-hari sebelumnya, ketakutan itu tidak serta merta langsung hilang seluruhnya dari diri Sai. Pemuda itu masih enggan untuk menatap langsung mata Naruto yang menyipit ke arahnya. "Sasuke?!" panggilnya pelan pada Sasuke yang duduk di sampingnya.
"Hn," jawab Sasuke terdengar datar.
"Bisakah kau meminta Naruto untuk tidak menatapku seperti itu?"
"Kenapa kau harus meminta hal itu pada Sasuke?" bentak Naruto sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Sai yang langsung gemetar dari ujung kaki hingga tangannya. "Kau pikir Sasuke bisa memerintahku?" tambahnya terdengar kesal. "Pingsan!" perintah Naruto dengan telunjuk teracung. "Kenapa kau tidak pingsan?!" erangnya marah.
"Apapun yang sedang kaulakukan pada Sai saat ini, hentikan!" kata Sasuke tenang. Pemuda itu bicara sembari menatap menu makan siangnya yang tersaji di atas meja makan. "Sai tidak berguna jika pingsan," tambahnya membuat Sai menoleh ke arahnya dengan tatapan sebal.
"Oh, maafkan aku karena tidak berguna saat pingsan," ujar Sai sinis.
"Dan merepotkan," sahut Neji sembari mengacungkan sumpit di tangannya tepat di depan wajah Sai.
"Terima kasih sudah mengingatkan, Tuan Hyuuga."
Neji mengangkat bahu. "Tidak masalah," katanya dengan binar mata jail.
"Ngomong-ngomong, apa salah satu dari kalian melihat Kiba?" tanya Naruto setelah kejengkelannya mereda.
Sai mengernyit, lalu melempar tatapan pada Neji, Shikamaru dan Sasuke, pemuda itu masih enggan melihat langsung wajah Naruto. "Naruto tanya apa kalian melihat Kiba?" beonya menirukan ucapan Naruto.
"Aku tidak melihatnya beberapa hari ini," jawab Shikamaru dengan nada mengantuk. "Ah, itu dia," tambahnya saat melihat Kiba yang tengah mencari kursi kosong untuk duduk.
Neji segera melambaikan tangannya ke arah Kiba. Memberinya isyarat untuk duduk bersama mereka. Kiba mengangguk kecil, ekspresinya terlihat muram, tanpa suara dia pun mendudukkan diri di atas kursi yang tadinya ditempati Naruto, memaksa roh gadis itu untuk menyingkir lalu berdiri di belakang Sasuke.
"Naruto mencarimu," ujar Sasuke tiba-tiba, membuat ketiga temannya melirik ke arah Kiba secara bersamaan.
"Dia ada disini?" Kiba balik bertanya.
"Hn."
"Maaf, aku agak sibuk belakangan ini hingga tidak bisa menengokmu." Ujar Kiba dengan nada bersalah.
"Apa kau sedang ada masalah?" tanya Sai menirukan ucapan Naruto.
Kiba melepas napas panjang, lalu mendorong baki makanannya ke depan. Sejenak dia terdiam, sebelum akhirnya menjawab, "Aku lulus seleksi tim sepak bola wilayah Kanto."
"Itu hebat," puji Neji sembari menepuk punggung Kiba yang kini menyunggingkan senyum dipaksakan.
"Lalu kenapa kau terlihat tidak bersemangat?" tanya Sasuke.
Kiba menghela napas pendek, "Orangtuaku tidak memberiku ijin untuk mengikuti kamp pelatihan selanjutnya." Jawabnya. "Mereka bilang aku membuang waktu," tanbahnya terdengar lelah. "Mereka ingin aku fokus belajar dan menjadi dokter hewan." Kiba terkekeh pelan setelahnya, lalu menggelengkan kepala sebelum akhirnya menundukkannya dalam. Kiba merasa perjuangannya selama ini sia-sia. Impiannya untuk menjadi pemain sepak bola profesional sudah di depan mata, namun harus dilepaskannya karena perintah orang tua? Bukankah ini tidak adil?
"Apa kau sudah menjelaskan kepada orangtuamu?" tanya Sasuke membuat Kiba kembali mendongakkan kepala untuk menatapnya. "Kau sudah berusaha hingga titik ini. Bukankah sudah seharusnya kau untuk memperjuangkannya?" tambahnya. "Mereka orangtuamu, kurasa mereka tidak akan setega itu mengusirmu hanya karena cita-citamu tidak sesuai dengan harapan mereka."
"Aku sudah membujuk mereka, tapi hasilnya sia-sia. Ayahku tidak juga melunak."
"Dan kau akan menyerah begitu saja?" tanya Sasuke lagi. "Apa kau sudah pernah mengundang mereka untuk menonton pertandinganmu?"
Kiba menggelengkan kepala.
"Kapan pertandinganmu selanjutnya?"
"Hari Minggu besok," jawab Kiba lesu.
"Kami akan membantumu," ujar Sasuke membuat Kiba sama terkejutnya seperti Naruto. "Kenapa kau harus kaget?" tanya Sasuke. "Teman Naruto berarti temanku juga," jelasnya santai. "Lebih baik kau siapkan diri untuk pertandinganmu selanjutnya. Bermainlah dengan baik, dan yakinkan orangtuamu jika kau tidak main-main."
"Orangtuaku tidak mungkin datang," ujar Kiba dengan gelengan kepala pelan.
"Kau memiliki empat orang teman serta satu roh yang bisa diandalkan. Kenapa harus cemas?" ujar Shikamaru yang kini menguap lebar. "Asal kau tahu, aku akan sangat kasihan pada pasien-pasienmu di masa depan jika kau benar-benar memutuskan untuk menjadi dokter hewan."
Sai mengangguk setuju. "Kau benar, Shikamaru. Aku jelas tidak akan mau mengeluarkan uang dan mempercayakan hewan peliharaanku padanya," ujarnya sungguh-sungguh. "Kita harus menyelamatkan nasib hewan-hewan itu. Kiba tidak boleh menjadi dokter hewan. Titik."
"Kalian benar-benar brengsek," gerutu Kiba pura-pura tersinggung. Namun entah kenapa dia merasa beban di pundaknya hilang. Rasanya sangat menyenangkan saat tahu jika teman-temanmu memiliki rasa peduli yang besar. Kiba memang merasa kesepian sejak Naruto koma, namun Tuhan sepertinya berbaik hati dengan mengirim empat orang teman baru, yang tiga diantaranya pernah dicap brengsek olehnya. Dan Kiba bersyukur karena kesalahpahaman diantara mereka sudah berakhir.
.
.
.
Nagato berdiri, bersandar santai pada tembok dingin di belakangnya. Ia menyesap kopinya perlahan, menikmati rasa pahit dari minuman itu yang menurutnya sangat nikmat. Sejauh ini kopi membuatnya merasa rileks. Tapi ketenangannya itu tidak akan berlangsung lama karena sebentar lagi dia pasti akan kembali diganggu oleh rentetan pertanyaan dari para wartawan yang semakin hari bertambah banyak.
Tanpa rasa lelah dan putus asa mereka berkumpul di depan markas kepolisian, berharap untuk mendapatkan sedikit saja berita terbaru mengenai kasus percobaan pembunuhan yang menimpa Namikaze Minato. Mereka melayangkan protes baru karena pihak kepolisian gagal menangkap pelaku hingga akhirnya pelaku mati dibunuh. Para pendemo itu menuntut agar otak dari kasus ini segera ditemukan dan diadili.
Mereka pikir semudah itu menangkap penjahat? Pikir Nagato heran.
Kepala Nagato kembali berdenyut sakit. Ia melepas napas lelah, sementara tangannya meremas gelas plastik kosong lalu melemparnya masuk ke dalam tong sampah yang ada di pojok ruangan. Dia tidak tahu dari mana wartawan-wartawan itu tahu jika mayat pria yang ditemukan di gudang pelabuhan kemarin adalah mayat pelaku percobaan pembunuhan Minato. Nagato yakin seratus persen jika ada salah satu dari bawahannya yang membocorkan mengenai hal ini ke media.
Sialan! Makinya dalam hati.
Merasa belum cukup, Nagato memutuskan mengambil satu cangkir plastik kopi hitam tanpa gula lagi untuk dibawa ke kantornya. Hari ini dia harus membaca laporan yang dikumpulkan dari saksi-saksi. Sejenak Nagato berhenti berjalan, menatap keluar lewat jendela kantornya. Di depan gedung kepolisian, puluhan orang yang bergabung dari beberapa organisasi masyarakat masih berdemo, meminta kepolisian segera menangkap otak dibalik kasus yang menimpa walikota mereka.
"Mereka tidak akan berhenti hingga mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Suara Bee dari belakang punggungnya membuat Nagato menoleh lewat bahunya sebelum kembali melihat keluar jendela. "Mereka tidak pernah kehabisan energi yah?"
Bee mengangkat bahu, "Begitulah." Jawabnya pendek. "Ngomong-ngomong, apa kau sudah selesai mengintrogasi anak-anak itu?" tanyanya kemudian. "Apa roh putri walikota benar-benar datang?" tambahnya penasaran.
Nagato melepas napas panjang, terlihat tidak suka akan apa yang akan dia katakan. Sungguh, dia tidak percaya hal-hal gaib seperti hantu, atau roh, tapi semua yang dikatakan anak-anak remaja itu sama. Dia bahkan mengecoh anak-anak itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar, namun hasilnya tetap sama. "Aku mengintrogasi mereka satu persatu. Aku bahkan memisahkan mereka di tempat yang berbeda, namun jawaban mereka semua sama." Keduanya terdiam untuk sejenak. "Apa mungkin otak dibalik semua ini adalah lawan politik dari walikota?"
"Entahlah," jawab Bee hati-hati. "Kita tidak bisa berspekulasi, Nagato. Terlalu berbahaya. Namikaze Minato terkenal sebagai pemimpin yang bersih, oleh karena itu dia memiliki banyak musuh, bukan hanya dari lawan politiknya saja, tapi juga beberapa pengusaha yang bermain kotor," jelasnya sembari berjalan pelan sementara Nagato menangguk pelan. "Bola panas ini akan terus bergulir hingga kita berhasil menangkap otak dibalik penyerangan serta pembunuhan ini."
"Aku mengerti," jawab Nagato paham.
"Bagaimana dengan rekaman CCTV di gudang itu?"
"Anak buahku masih memeriksanya."
"Bagus," seru Bee. "Dan aku harap kita segera mendapat titik terang untuk kasus ini."
.
.
.
Setelah selesai memberi keterangan di kantor polisi, Sasuke, Sai, Neji dan Shikamaru langsung meluncur menuju kediaman Uchiha, sore ini. Naruto sudah memerintahkan dengan tegas agar semuanya berkumpul untuk membahas rencana selanjutnya mengenai Kakashi dan Mei.
Mereka berlima tiba tepat sebelum jam makan malam. Di kediaman Uchiha, Itachi sudah menunggu kedatangan kelimanya bersama Kyuubi. Selesai menyantap makan malam, mereka bertujuh langsung naik ke lantai dua, berkumpul di dalam kamar Sasuke.
"Jadi, apa Nona Mei menyukai bunga yang kita kirim?" Kyuubi mengawali pembahasan dengan ekspresi penasaran. Keenam orang itu duduk melingkar di atas karpet hitam saat ini.
"Nona Mei terkejut," jawab Sai mengulangi ucapan Naruto. "Tapi Naruto yakin jika Nona Mei menyukainya."
"Naruto, apa kau yakin?" tanya Itachi yang terdengar tidak percaya akan apa yang baru disampaikan oleh Sai. "Maksudku, bukankah paman kalian memutuskan hubungannya begitu saja dengan nona itu? Kurasa sudah sewajarnya jika Nona Mei marah atau muak karena Paman Kakashi kembali mendekatinya. Iya, kan?" ujarnya meminta persetujuan.
Mau tidak mau Naruto mengangguk setuju. "Tapi kuperhatikan Nona Mei menyukai kiriman bunga itu," tukasnya yang segera disampaikan oleh Sai. "Walau tidak bisa dipungkiri jika Nona Mei terlihat masih marah pada paman," lanjutnya dengan kening ditekuk dalam. "Tapi dia tidak membuang bunga itu. Bukankah itu awal yang bagus?" tanyanya senang.
"Lalu selanjutnya bagaimana?" Sasuke buka suara. "Apa kita tunggu hingga Paman Kakashi bertemu dengannya dulu?"
"Jangan!" sergah Naruto cepat. "Kita tetap jalankan rencana kita," tambahnya dengan ekspresi serius.
"Besok kita aka mengirim sekotak coklat mahal untuk Nona Mei," terang Sai. "Pastikan kalian membeli coklat terbaik dan mahal."
"Tidak masalah," sahut Itachi yakin. "Jika kita akan mengirimnya besok, itu berarti kita harus membelinya malam ini juga."
"Aku bisa menemanimu untuk membelinya," tawar Kyuubi.
"Dan bisakah kalian mengantar kami pulang dulu sebelumnya," tanya Shikamaru penuh harap. Dia terlalu malas untuk pulang naik bus malam ini.
"Bisa diatur," jawab Itachi membuat Shikamaru bersorak senang di dalam hati. "Setelah coklat, lalu apa lagi?"
"Tiket menonton opera?" usul Naruto.
Sasuke menaikkan satu alis saat Sai mengatakan usul Naruto dengan ringisan. "Bukankah opera sangat membosankan? Aku tidak mengerti bagaimana orang dewasa bisa bertahan menonton sesuatu yang sangat membosankan dalam waktu yang lama? Apa mereka tidak merasa mengantuk?"
"Orang dewasa memang aneh," ujar Naruto menyetujui. "Tapi bukankah Nona Mei menyukai pertunjukkan opera?"
"Hasil penyelidikan Shikamaru tidak mungkin salah." Neji menimpali dengan sangat yakin. "Ngomong-ngomong, bukankah saat ini tengah ada pertunjukan opera di gedung kesenian pusat?" tanyanya. "Tiketnya sangat terbatas dan pertunjukan hanya digelar hingga akhir minggu ini saja."
"Aku akan meminta bantuan ibu untuk hal ini," sahut Kyuubi. "Dengan koneksinya aku yakin ibu bisa mendapatkan tiket itu dengan mudah."
"Dan setelahnya kita harus memastikan mereka menikmati makan malam romantis," ujar Naruto dengan semangat.
"Tapi bagaimana caranya kita memastikan mereka bertemu?"
"Oh, jangan khawatir," ujar Naruto menjawab pertanyaan Sasuke. "Paman akan menemuinya karena masalah pekerjaan," tambahnya dengan seringai lebar penuh arti. "Setelah pertemuan itu kita akan mengirim tiket kepada keduanya. Kita akan membuat Nona Mei percaya jika paman yang mengundangnya nonton dan makan malam, begitu pun sebaliknya."
"Lalu, bagaimana jika seandainya rencana kita gagal?" tanya Neji. "Hei, kita harus memikirkan hal terburuknya, kan?" tambahnya saat mendapat tatapan tajam dari semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
"Kita hanya membantu untuk menyatukan mereka, namun keputusannya tetap berada di tangan mereka." Kata Kyuubi tenang. "Kurasa sekarang sudah terlalu malam. Sebaiknya kami segera mengantar kalian pulang," tambahnya. "Eh, dan Sai tumben kau tidak pingsan?"
"Sepertinya Sai sudah mulai terbiasa akan keberadaan Naruto," jelas Neji singkat.
Kyuubi menaikkan satu alisnya. "Benarkah?"
Sai mengangguk pelan.
"Tapi kenapa kau selalu melihat ke bawah?" tanya Kyuubi lagi yang sejak awal merasa heran karena Sai selalu menundukkan kepala. "Apa kau masih belum bisa menatap langsung adikku? Apa wajah adikku sangat menakutkan?"
Sai menggelengkan kepala.
"Lalu kenapa?"
"Aku masih trauma akan roh halus," jawab Sai dengan suara tercekik.
.
.
.
Naruto tetap tinggal di dalam kamar Sasuke setelah rapat selesai. Dia duduk di atas kasur Sasuke sementara pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan. Naruto mengernyit dalam, mungkin perilakunya sudah sangat keterlaluan pada Sai. Hal itu membuatnya menyesal dan bertanya-tanya hal buruk apa yang pernah terjadi pada Sai hingga pemuda itu trauma dan ketakutan secara berlebihan setiap kali melihat roh seperti dirinya?
"Aku harus meminta maaf pada Sai," ujarnya pelan. Naruto kemudian merebahkan diri di atas ranjang empuk milik Sasuke. Matanya menerawang, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Lama dia terdiam, sementara suara air dari dalam kamar mandi sudah tidak terdengar lagi. Ah, sepertinya Sasuke sudah selesai mandi.
Naruto mengangkat sebelah tangannya yang tembus pandang. Lalu mendesah panjang, wajahnya terlihat murung, namun ekspresinya kembali cerah saat ingat perkataan Kimimaro tempo hari-dia bisa bicara pada seseorang yang dikehendakinya jika dia bisa memusatkan konsentrasi. Namun Kimimaro juga mengingatkan jika hal itu akan menguras banyak energi.
Tidak ada salahnya untuk dicoba, pikir Naruto.
Dengan gerakan cepat dia mendudukkan diri, memjamkan mata dan mulai berkonsentrasi. Kedua matanya kembali terbuka saat pintu kamar mandi terbuka dan Sasuke keluar dari dalamnya. "Sasuke?!" panggil Naruto pelan.
Sasuke sama sekali tidak menjawab dan terlihat acuh. Pemuda itu berjalan santai menuju ranjangnya dengan sebuah buku di tangan.
"Kenapa tidak berhasil?" tanya Naruto tidak mengerti. Ia menelengkan kepala, lalu menggelengkannya pelan dan berusaha untuk mencobanya lagi.
"Sasuke?!"
Sasuke yang sudah duduk nyaman di atas ranjangnya sangat yakin jika ada suara yang memanggil namanya. Suara Naruto. Dia tidak mungkin salah mengenalinya. Sasuke tetap diam, berharap jika Naruto kembali mmanggilnya agar dia yakin jika saat ini ia tidak berhalusinasi.
"Kenapa kau tidak bisa mendengarku?"
Suara Naruto terdengar lebih jelas di telinganya. Dia benar-benar bisa mendengar suara Naruto. Apa saat ini Naruto tengah mencoba untuk berinteraksi dengannya?
Sasuke bergeming, dengan tenang ia membuka buku di tangannya. Ia akan pura-pura membaca, dan menunggu dengan sabar hingga Naruto bicara lagi.
"Ah, sepertinya aku kurang konsentrasi," keluh Naruto dengan wajah cemberut, sementara Sasuke sekuat tenaga menahan diri agar tidak membuka mulut dan mengatakan jika ia bisa mendengar suara Naruto. "Apa kau benar-benar tidak bisa mendengar suaraku?" tanya Naruto tepat di depan wajah Sasuke. Ia bahkan meniup wajah pemuda itu, membuat Sasuke meremang karenanya.
"Ayolah, kenapa kau tidak bisa mendengar suaraku?" keluh Naruto lagi. "Atau mungkin memang lebih baik jika kau tidak bisa mendengar suaraku agar aku lebih leluasa bicara denganmu?" ujarnya membuat jantung Sasuke berdebar semakin cepat, apa Naruto akan menyatakan cinta? Batinnya mulai melantur.
"Aku benar-benar berterima kasih karena kau bersedia membantuku, Sasuke." Ujar Naruto. "Kau bahkan bersedia membantu Kiba. Asal kau tahu, itu sangat berarti untukku." Naruto hanya tersenyum kecil saat Sasuke tidak menanggapinya dan membalik halaman buku dengan tenang. "Kak Kyuubi dan Kak Itachi terlihat bahagia, itu membuatku tenang. Kau pun bergerak cepat saat aku meminta bantuan mengenai kondisi ayahku. Aku berhutang budi padamu."
Sasuke bisa mendengar nada gembira dalam suara Naruto saat ini, dan hal itu pun membuatnya merasa senang.
"Aku juga berhutang maaf, padamu." Lanjut Naruto. "Maaf karena selama ini aku mempertanyakan ketulusanmu," katanya sedih. Naruto mendesah, menyesal. "Sayangnya aku mengetahuinya saat semuanya sudah terlambat. Bagaimana jika aku benar-benar sudah terlambat, Sasuke?" tanyanya membuat tubuh Sasuke menegang. "Rasanya menyakitkan saat melihat ibu menangis di malam buta dan memohon pada Tuhan untuk memberi kesembuhan padaku," terang Naruto. Gadis itu menyatukan jemari tangannya, lalu menekurinya seolah hal itu sangat menarik. "Menyakitkan saat mendengar ayah meminta maaf karena sudah tidak berlaku adil padaku," tambahnya serak. "Aku juga sering memergoki Kak Kyuubi menangis di dalam kamarku, dan itu menyakitiku. Keluargaku menangisiku, Sasuke. Dan kukira selama ini mereka tidak peduli padaku. Bukankah aku sangat bodoh?"
Naruto terdiam sejenak. "Paman Kakashi pun terlihat sangat lelah karena masalah terus datang bertubi-tubi, dan semua itu salahku. Aku membuat keluargaku sedih." Naruto kembali menggeleng saat dadanya semakin terasa sesak. "Dan waktuku hampir habis."
Sasuke masih tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Ya, Sasuke. Aku hanya memiliki waktu selama empat puluh hari untuk kembali ke dalam tubuhku," jelas Naruto. "Masalahnya, sampai detik ini aku sama sekali tidak tahu apa yang menghalangiku sehingga aku tidak bisa kembali. Aku takut. Benar-benar takut. Bagaimana jika aku terjebak selamanya dalam dunia roh? Aku ingin pulang, Sasuke. Tapi aku tidak bisa."
Ruangan itu kembali hening untuk waktu yang lama. Naruto menundukkan kepala, sementara Sasuke sama sekali tidak bisa bergerak. Dia terlalu syok mendengar kenyataan yang baru saja disampaikan oleh Naruto padanya. Empat puluh hari? Sasuke mulai menghitung di dalam hati. Itu artinya waktu Naruto hanya tinggal dua minggu lagi?
"Untung saja kau tidak bisa mendengarku," ujar Naruto dengan kekehan pelan. "Aku merasa sedikit lebih baik setelah mengatakan semuanya, yah, walau kau tidak bisa mendengarnya," tambahnya dengan senyum pahit. Naruto kemudian mengucapkan selamat malam, lalu menghilang kembali ke rumah sakit.
.
.
.
"Seharian ini kau kemana saja?" tanya Kimimaro tiba-tiba.
Naruto memutar kedua bola matanya. "Kenapa kau mengagetkanku?" ia balik bertanya dengan nada galak.
"Aku bertanya padamu lebih dulu," ujar Kimimaro dengan mata menyempit. Pria itu berjalan pelan melewati Naruto. "Ingat waktumu semakin sempit, aku sarankan agar kau membatasi waktumu bermain-main diluar."
"Aku tidak bermain," protes Naruto keras. "Aku hanya menemui keluarga dan teman-temanku," terangnya membuat Kimimaro mendengus. "Eh, apa karena waktuku semakin sempit jadi kekuatanku semakin berkurang?"
"Apa maksudmu?" Kimimaro berbalik dan menatap Naruto tidak mengerti.
"Aku sudah berkonsentrasi agar Sasuke bisa mendengar suaraku, tapi usahaku gagal. Kenapa bisa begitu?"
"Apa kau yakin sudah melakukannya dengan benar?" Kimimaro mengangkat satu alisnya, pria itu terlihat tidak percaya saat Naruto mengangguk mantap. "Apa sekarang kau merasa energimu terkuras habis?"
"Anehnya aku merasa seperti itu," jawab Naruto dengan pose berpikir.
"Kurasa Sasuke hanya pura-pura tidak mendengar suaramu, Naruto."
"Benarkah?" pekik Naruto tak percaya. "Tapi dia sama sekali tidak menanggapi ucapanku," terangnya berapi-api. Kedua mata Naruto terbelalak setelahnya, ia lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. "Jangan-jangan Sasuke mendengar semua perkataanku!"
"Memangnya apa saja yang sudah kau katakan?" tanyanya penasaran.
"Semuanya. Semua," erang Naruto sembari menjambak kesal rambutnya. "Aku bahkan mengatakan jika waktuku semakin menipis. Aku akan membuatnya cemas. Iya, kan?"
"Dasar bodoh!" ejek Kimimaro datar, sama sekali tidak berniat untuk menghibur Naruto.
.
.
.
Kakashi menghabiskan satu hari penuh untuk menangani setumpuk berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi belakangan ini memaksanya untuk bekerja serta berpikir ekstra keras. Dia bekerja lembur setiap harinya di kantor untuk kemudian dilanjutkannya lagi setelah pulang ke rumah.
Penampilannya tidak serapi biasanya, janggutnya sudah satu minggu ini belum dicukur, kantung matanya semakin menebal setiap harinya, sementara lingkaran di bawah matanya semakin menghitam. Kakashi terlihat seperti seekor panda.
Terlepas dari kondisinya saat ini, dia sangat bersyukur karena kondisi kakak angkatnya sudah berangsur membaik. Kakak iparnya pun terlihat lebih tegar dalam menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi pada keluarganya, sementara Kyuubi kini memiliki Itachi yang selalu siap sedia jika keponakannya itu membutuhkan tempat untuk bersandar.
Kakashi mengernyit dalam. Entah kenapa dia merasa jika hal-hal baik yang terjadi di dalam keluarga Namikaze akhir-akhir ini karena campur tangan Naruto. Entahlah, ia memang belum yakin sepenuhnya tapi firasatnya mengatakan seperti itu.
Untuk sesaat Kakashi jatuh dalam lamunannya, sementara pandangannya menatap kosong layar laptopnya yang masih menyala. Kakashi menarik napas, kemudian melepasnya panjang, terdengar kasar. Kapan semua ini akan berakhir? Tanyanya di dalam hati.
Pertama, Naruto koma. Lalu usaha pembunuhan terhadap Minato. Ditambah lagi para wartawan yang seolah tidak pernah kehabisan energi, mengejarnya untuk sebuah berita. Dan sekarang, dia harus kembali bertemu dengan Terumi Mei, mantan kekasihnya yang pernah dicampakkannya dulu.
Benar. Terumi Mei.
Brengsek! Makinya di dalam hati. Kenapa harus Mei yang menangani kasus itu? Jujur saja, dia masih belum siap untuk bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu. Kakashi pernah melukainya, walau mungkin Mei tidak sadar jika tindakannya di masa lalu bukan hanya menyakiti wanita itu, namun juga menyakiti dirinya sendiri.
Dan hingga detik ini dia terlalu pengecut untuk meminta maaf pada wanita itu.
Kakashi mengerang. Dia menekankan dalam hati jika untuk saat ini konsentrasinya tidak boleh buyar oleh masalah pribadi.
Fokus, Kakashi. Fokus. Ujarnya di dalam hati.
Kakashi melirik jam digital yang diletakkan di samping laptopnya. Sudah jam tiga pagi. Pantas saja matanya mulai berdemo untuk dipejamkan.
Mengalah pada kepenatan dan rasa lelahnya, Kakashi memutuskan menunda sisa pekerjaannya untuk dikerjakan besok. Setelah memastikan semua file pekerjaannya disimpan, ia segera mematikan laptop lalu menumpuk rapi dokumen-dokumen yang awalnya tercecer di atas mejanya.
Siap atau tidak, besok dia harus menemui wanita itu. Kakashi melepas napas lelah, besok akan menjadi hari yang panjang untuknya.
.
.
.
TBC
Hello... saya kembali dengan membawa updatean CO. Oh, iya jadi inget, masih ada beberapa pembaca yang mengeluhkan perihaluntuk mengingatjudul fic ini yah #NangisDiPojokan
Well, kalau Calendula Officinalis sulit untuk diucapkan, kalian boleh menggunakan nama lain, yaitu Marigold. Calendula atau Marigoldmerupakanbunga kelahiran bulan Oktober.Naruto, kan lahir di bulan Oktober, bunga yangmelambangkan kasih sayang, rahmat, kepuasan, keunggulan, rasa syukur dan simpati (sumber : mengutip dari internet).
Hm... waktu untuk Naruto sudah semakin menipis yah, dan cerita ini pun sepertinya sudah hampir mendekati akhir, tapi kita lihat nanti saja, siapa tahu ada perkembangan terbaru. #ApaanNih?
Semoga pembaca masih berkenan untuk menunggu kelanjutannya. Sampai jumpa dichapselanjutnya!
^-^
#WeDoCareAboutSFN
