Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto :D cerita ini punya Haruno Kira
Warning : AU, OOC, typo(s), alur cepat dll :D
Summary : "Mi-Minato-kun, aku takut petir, aku ingat Ayahku, aku takut, Minato-kun,"/ "Apa setidaknya, kehadiranku saat ini tidak dapat mengobati sedikitpun luka hatimu?"/ "Kenapa Kushina-sama tidak memakan buburnya? Tidak enak? Saya disuruh Minato-sama untuk mengukur suhu badan Kushina-sama dan memastikan Kushina-sama untuk minum obat,"
A/N : author lagi sakit nih jadi tidak bisa update cepat soalnya author lagi flu, jadi tidak bisa konsen bikin fic, maaf ya
.
.
Our Promise
By : Haruno Kira
.
.
.
"Tanganmu sudah sembuh, gyps-nya bisa dilepas, mau dilepas sekarang?" tanya Dokter Taji ramah kepada Kushina, Kushina mengangguk dengan antusias.
"Iya-ttebane! Aku sudah cukup muak dengan gyps ini," kata Kushina, Taji tersenyum dan menuntun Kushina ke tempat tidur yang ada di klinik tersebut.
"Baiklah, sebentar ya," Dokter Taji mengambil gunting dan mulai melepaskan perban Kushina, kemudian perlahan-lahan, gypsnya ia lepas.
"Ngomong-ngomong, pacarmu yang kemarin itu tidak datang?" tanya Taji, ia ingat sekali pasiennya yang satu ini mempunyai warna rambut yang mencolok, warna merah dan pacarnya yang memiliiki rambut berwarna kuning.
"Eh, dia… ada di luar," kata Kushina malu-malu, ia masih belum terbiasa mengakui Minato sebagai pacarnya.
"Begitu? Ia pasti akan senang saat mengetahui gypsmu ini sudah dilepas," Kushina mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu, ini resep obatnya, bila suatu saat masih terasa sakitnya, minum saja," kata Taji, Kushina tersenyum.
"Kalau begitu, aku permisi dulu, Dokter Taji, terima kasih," Taji mengangguk dan Kushina keluar dari ruangan dokter tersebut, Minato yang sudah menunggu dari tadi melihat ke arahnya.
"Sudah dilepas?" tanya Minato, Kushina mengangguk, wajahnya merona, entah kenapa ia merasa hidupnya sudah sangat lengkap sekarang, ia merasa hatinya sudah kembali utuh lagi.
"Ta-tapi aku diberi resep dokter, katanya untuk jaga-jaga kalau tanganku sakit lagi-ttebane," Kushina menunjukkan resep tersebut pada Minato, Minato melihatnya dan akhirnya memasukkannya ke kantong.
"Ya sudah, nanti kita berhenti dulu di apotek, yang penting kamu sudah baik-baik saja, Kushina-chan," Minato tersenyum dan memeluk Kushina sesaat.
"Minato-kun, ini di tempat umum," rona merah terlihat sangat jelas pada wajah Kushina, Minato melepaskan pelukannya.
"Iya, ayo kita pulang," Minato tersenyum hangat kepada Kushina, Kushina mengangguk dan mengaitkan jari-jarinya pada jari Minato.
"Minato-kun, apa kamu senang menjadi pacarku-ttebane? Aku kan galak, menyebalkan, dan hanya bisa merepotkanmu," kata Kushina, Minato mengalihkan pandangannya yang tadi lurus ke depan mejadi menatap violet Kushina.
"Kushina-chan, kalau aku tidak senang menjadi pacarmu, kenapa aku harus repot-repot menembakmu segala? Kenapa juga aku harus repot-repot mencari tempat bagus untuk acara penembakanku itu?" tanya Minato, Kushina mengangguk pelan.
"Oh, benar juga ya," Minato menunjukkan cengirannya dan mengelus rambut Kushina.
"Kamu itu kenapa sih? Pertanyaanmu itu aneh-aneh saja, Kushina-chan," Kushina menggeleng.
"Tidak apa-apa kok, aku kan cuma ingin tahu, Minato-kun."
"Dengar ya, Kushina-chan, aku menyukaimu apa adanya, aku terima saja kalau kamu itu galak, suka memukulku, dan merepotkanku, tapi aku suka semua hal darimu," Kushina merona, ia menatap safir Minato dan tersenyum.
"Aku juga suka semua hal dari Minato-kun, meskipun ia suka menggodaku, genit, dan terlalu overprotektif," Minato terkekeh, ia tahu ia sangat overprotektif terhadap Kushina, berbicara dengan cowok selain dia dan Fugaku saja tidak boleh, entah bagaimana kalau ia pergi ke Kiri.
~Our Promise~
Kilat menyambar-nyambar pada malam hari ini, hujan turun teramat deras, suara kilat dan suara hujan bercampur menjadi satu layaknya harmoni yang mengerikan untuk gadis berambut merah yang sedang tidur ini, jam menunjukkan pukul 3 pagi, waktu untuk orang-orang mengistirahatkan badannya agar segar kembali untuk pagi harinya.
"Unggh," gadis itu menggeliat, ia terbangun karena suara kilat yang menyambar amatlah keras dan memekakkan telinganya.
"Ki-kilat?" ia menatap kilat yang terlihat dari pintu balkonnya yang tidak ia tutupi korden, saat ia melihat kilat, ia seakan merasuki pikirannya di masa lalu.
FLASHBACK
"Ayah! Ayah! Ayah kenapa tidak terbangun juga? Ayah, jawab aku! Bangunlah, Yah," gadis berumur 16 tahun itu berada di samping jasad Ayahnya yang tewas karena penyakit yang dideritanya, stroke.
"Kushina," di samping anak tersebut ada sosok yang mirip dengan dirinya tetapi mempunyai paras yang lebih dewasa, ia adalah Ibu dari anak tersebut, Ibunya juga menangis karena ditinggal oleh suami tercintanya.
"Ibu, Ayah tidak apa kan?" tanya Kushina, enggan untuk menerima kenyataan yang ada, Ibunya hanya menggeleng lemah, Kushina berlari keluar dari UGD RS. Uzugakure tersebut, saat itu kilat sedang menyambar-nyambar dan hujan menerpa seluruh Kota Uzushio, Kushina beranjak agar ia terbasahi oleh air hujan, ia menengadahkan kepalanya ke atas.
"Kami-sama, kenapa Engkau mengambil Ayahku satu-satunya? Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa menerimanya! Kembalikan Ayahku!" serunya, entah kepada siapa, tapi ia berharap Kami-sama dapat mendengar doanya.
"Aku benci hari ini! Aku benci kilat dan hujan yang menyambar saat Ayahku meninggal! Aku benci!"
END OF FLASHBACK
Oleh karena itu, gadis manis tersebut seakan merasuki memorinya di masa lalu saat hari sedang hujan dan kilat menyambar-nyambar tersebut, ia merasakan lagi betapa sakit hatinya saat itu, ia kehilangan salah satu dari orangtuanya saat hari itu, hari itu kehidupannya berbalik 180 derajat, ia tidak pernah diperhatikan lagi oleh Ibunya, dan malah pindah ke Konoha.
"A-Ayah," Kushina sangat menyayangi sosok Ayahnya tersebut, dari dulu ia lebih dekat kepada Ayahnya daripada dekat dengan Ibunya sendiri. Kushina takut, ia kesepian, ia butuh seseorang yang menemani sekarang.
'JDERRRR' Kushina membelalakkan mata violetnya, kedua tangannya memegangi kepalanya, ia trauma, ia sangat trauma kepada kilat.
'JDERRRR'
"Kyaa!" serunya, kelopak matanya menghangat, ia sangat takut saat ini, ia segera merogoh sesuatu dari dalam bantalnya dan menatap benda tersebut, ponsel. Ponselnya ia buka, menampakkan wallpaper fotonya dengan Minato yang diambil saat Minato menang pertandingan Karate, mereka berdua tampak bahagia di foto tersebut, kemudian ia mengetik sms dengan cepat kepada Minato.
To : Minato-koi
Minato-kun….
~Our Promise~
"Hoahm," pemuda berambut kuning itu menguap, ia sudah begadang membaca buku novel yang digemarinya saat ini, buku novel yang menceritakan sebuah kasus dan misteri-misteri yang terkuak oleh sang Detektif, kemudian ia menatap ke arah pintu balkonnya yang terbuat dari kaca, hari sedang hujan lebat dan kilat menyambar-nyambar, ia tidak peduli, ia tidak takut, kemudian ia membalikkan buku itu ke halaman selanjutnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah sms yang masuk, ia segera mengambil ponselnya dan terkejut melihat pengirimnya, bukannya ia sudah tidur? Tadi jam 12 malam ia sempat masuk ke kamar Kushina dan melihatnya tidur, ia memencet tombol untuk membuka pesan singkat tersebut.
From : Kushina-chan
Minato-kun…..
.
Minato tampak agak panik, tidak biasanya Kushina seperti ini, ia segera menutup novelnya dan melemparnya ke sembarang tempat dan meloncat dari tempat tidurnya, ia berlari menuju kamar Kushina, ia mengetuknya, tidak ada jawaban, ia segera masuk ke kamar kekasihnya itu.
"Kushina-chan, kamu belum tidur?" tanya Minato, ia menutup pintu kamar Kushina dan menyalakan lampu kamar Kushina, ia menuju tempat tidur Kushina, melihat Kushina yang menoleh kepadanya dan terlihat ketakutan membuat Minato terkejut.
"Mi-Minato-kun, aku takut petir, aku ingat Ayahku, aku takut, Minato-kun," ucapan Kushina menjadi tidak begitu jelas sekarang, yang Minato tahu, Kushina sedang ketakutan sekarang, Minato memeluk Kushina dengan penuh kehangatan.
"Kushina-chan, ssht, aku di sini," Kushina merapatkan tubuhnya pada Minato, Minato meletakkan kepala Kushina pada dada bidangnya, Kushina merasa agak tenang karena kehadiran Minato, tetapi itu tetap tidak mengenyahkan rasa takutnya.
"Ayah, Ayah meninggal saat itu, saat kilat menyambar, saat hujan turun dengan deras, Minato-kun," Minato jadi sedikit mengerti apa penyebabnya, Kushina merasa sangat kehilangan saat itu, dan suasana seperti ini membuatnya mengingat akan Ayahnya.
"Kushina-chan," Minato menarik wajah Kushina agar berhadapan dengannya, pipi Kushina bersemu.
"Apa setidaknya, kehadiranku saat ini tidak dapat mengobati sedikitpun luka hatimu?" tanya Minato, Kushina terdiam.
"Kushina-chan, itu hanya masa lalu, aku tahu itu pasti pedih untukmu, tetapi, kamu jangan menatap masa lalu terus, ya? Seperti layaknya kamu mengendarai sebuah sepeda motor, saat kamu menatap spion terus, kamu pasti akan tertabrak karena tidak melihat apa yang di depan, jadi, semangatlah, Kushina-chan," Kushina mengangguk, ia meresapi kata-kata Minato, dan apa yang diucapkannya memang benar adanya.
"Mungkin aku juga tidak mengalami apa yang kamu alami dan aku tidak tahu betapa perihnya itu, tapi, kumohon, Kushina-chan, biarlah aku yang menyembuhkan luka hatimu itu sedikit demi sedikit, kamu mau?" tanya Minato, ia menggenggam tangan Kushina dengan erat, Kushina mengangguk lagi, ia sangat percaya dengan Minato.
"Terima kasih, Minato-kun," Kushina tersenyum tipis.
"Ya sudah, untuk malam ini, aku akan tidur di sebelahmu, menemanimu agar kau tidak takut lagi, kamu mau, Kushina-chan?" Kushina mengangguk, Minato menunjukkan cengiran khasnya dan menarik selimut Kushina agar dapat menutupi tubuh mungil Kushina dan juga tubuhnya, kini Minato berbaring di samping Kushina, mendekap Kushina dengan erat seakan tak ingin melepaskannya.
~Our Promise~
Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamar Kushina, sinar matahari yang mengganggu itu membuat sang pemuda yang bernama Namikaze Minato terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya agar dapat beradaptasi, ia melirik ke gadis yang ada dalam dekapannya, ia tersenyum sesaat, tapi, ada yang aneh, suhu badannya memanas dan mukanya terlihat sangat merah.
"Kushina-chan," panggilnya, Kushina tidak bergeming, Minato mulai khawatir, ia menggoyang-goyangkan badan Kushina.
"Apa sih? Ke-Kepalaku pusing," Kushina bergumam, ia mengatakan apa yang dirasakannya saat ini, kepalanya pusing sekali, badannya lemas, suhu badannya naik.
"Kushina-chan, kamu sakit?" tanya Minato, Kushina akhirnya menampakkan violetnya.
"Minato-kun, kepalaku pusing, badanku lemas, panas," kata Kushina, Minato semakin khawatir.
"Duh, kalau begitu hari ini aku tidak masuk sekolah dulu untuk merawatmu, ya?" tanya Minato, Kushina tersenyum lemas dan menggeleng.
"Ngh, tidak, kamu masuk sekolah saja, nanti biar Meika-san yang merawatku, aku hanya butuh istirahat, Minato-kun," Minato sangat tidak tega meninggalkan Kushina sendirian, tetapi Kushina yang memintanya untuk sekolah.
"Tapi a-," Kushina memutuskan perkataan Minato karena ia tahu lelaki ini akan menolak perkataannya.
"Kamu harus sekolah, Minato-kun, pokoknya kamu harus sekolah, jangan sampai kamu ketinggalan pelajaran karena merawatku," kata Kushina, Minato mengernyitkan dahinya, ia menunjukkan raut sedih.
"Ya sudah, setidaknya aku mengompres kepalamu dan memberimu obat," Kushina mengangguk lemah, kemudian ia memejamkan matanya lagi, Minato segera bergegas mengambil kompres dan mengambil obat untuk Kushina.
"Kushina-chan, Kushina-chan, buka matamu, minum obat dulu," kata Minato, tetapi Kushina tak bergeming, Minato menghela nafas kemudian ia menyelupkan kompresnya pada air yang berada di dalam baskom kecil dan menaruhnya pada kening Kushina, berharap semoga ia tidak terbangun, tetapi sensasi dingin yang tiba-tiba membuat Kushina terbangun dan menatap Minato.
"Syukurlah kamu bangun, ayo minum obat dulu," Kushina mengangguk, sebenarnya ia sangat membenci obat, tapi saat keadaan terdesak saja ia meminumnya, seperti sekarang ini.
"Ini, aku sudah mengambilkan air untukmu, ayo diminum," Kushina mengusahakan dirinya untuk duduk, tetapi ia gagal, akhirnya Minato membantunya.
"Terima kasih, Minato-kun," Kushina mengambil obat dan air yang sudah disodorkan oleh Minato, kemudian ia menaruh obatnya di mulutnya dan meneguk air sebanyak mungkin, pahit dari obat itu terasa sekali, oleh karena itu Kushina membenci obat.
"Sana, kamu tidur dulu, akan kusuruh Meika untuk merawatmu, aku siap-siap dulu ya, Kushina-chan," Kushina mengangguk lemah dan menatap punggung Minato yang kian lama kian menjauh dan hilang dibalik pintu kamarnya.
"Aah," keluh Kushina, ia kemudian mengistirahatkan kepalanya lagi dan tertidur.
~Our Promise~
"Aku tidak tega terhadap Kushina, masa aku sendiri ke sekolah dan Kushina tetap di rumah? Lebih baik kalau aku di rumah saja menjaganya," Minato bergumam pada dirinya sendiri, ia sedang mengancingkan seragam atasannya, seragamnya berwarna putih dan ia memasangkan dasi berwarna biru tua, celananya berwarna merah gelap, hampir terlihat seperti hitam, sedangkan seragam untuk wanita berbeda lagi, seragamnya berwarna putih dengan dasi biru muda, memakai rok pendek berwarna merah gelap kotak-kotak hitam.
Setelah ia melihat pantulan dirinya di cermin, merasa sudah siap, ia segera beranjak dari kamarnya, tak lupa membawa tas yang berisi buku pelajarannya, ia keluar dari kamarnya, memastikan kamarnya sudah dikunci dan ia ke kamar Kushina, ia melihat seorang gadis yang tidur berbalutkan selimut dengan wajah merah karena suhu badannya naik.
"Kushina-chan," panggil Minato, Kushina tidak bergeming.
"Aku akan secepatnya pulang ke rumah, aku tidak mengikuti ekskul dan rapat osis dulu, agar aku bisa merawatmu, Kushina-chan, aku akan pulang jam 2, baik-baik ya," pamit Minato, ia mencium kening Kushina sejenak dan beranjak ke lantai bawah, menemui Meika, salah satu pembantunya.
"Meika-san, tolong buatkan bubur untuk Kushina ya, tolong rawat dia dulu, badannya panas, dan pastikan ia meminum obatnya dengan baik, aku berangkat dulu," kata Minato, pembantu yang bernama Meika itu mengangguk, setelah itu Minato pergi ke halaman dan ia tahu pasti bahwa Mobil Ferrarinya sudah disiapkan oleh supirnya, tetapi Minato tidak mau disetirkan, ia ingin menyetir sendiri.
"Kushina-chan," ia menatap balkon yang berhubungan dengan Kamar Kushina, kemudian ia tersenyum lemas dan masuk ke mobilnya, melajukan Ferrarinya.
Selama di perjalanan, Minato terdiam, biasanya ada Kushina di sampingnya yang cerewet dan mengajaknya bercanda, Minato merasa kesepian, apalagi kalau nanti Kushina pindah ke Kiri, ia pasti akan sangat kesepian.
~Our Promise~
Minato memasuki sekolahnya dengan muka yang murung, ia tidak mendengar para fansnya meneriakkan namanya dan memuja-mujanya. Ia masuk ke dalam kelasnya dengan muka murung, Fugaku yang sedang duduk dan berbincang dengan Mikoto melihat Minato yang tampak murung tersebut, ia mengambil tindakan untuk menghampirinya, Mikoto mengikutinya.
"Minato, kenapa kamu murung sekali?" tanya Mikoto, biasanya Minato selalu saja tersenyum dan terlihat ceria.
"Mana Kushina?" tanya Fugaku, kemudian Mikoto baru sadar kalau Kushina yang biasanya ada di sisinya tidak ada.
"Kushina…. Sakit," kata Minato, Mikoto membelalakkan matanya.
"Kushina sakit apa? Kenapa ia tidak memberitahuku?" tanya Mikoto.
"Badannya panas, ia pusing, badannya lemas," kata Minato menjelaskan secara singkat.
"Oleh karena itu kamu murung sekali ya, Minato," kata Fugaku, Minato menatap Fugaku yang memiliki tinggi yang sama dengannya dan mengangguk.
"Fuga-kun, ayo nanti sore menjenguk Kushi-chan," kata Mikoto.
"Tapi kamu harus pulang dulu dan berganti baju, nanti aku akan menjemputmu," Mikoto mengangguk.
"Fugaku, aku tidak ikut rapat OSIS dulu ya," kata Minato, Fugaku mengangguk.
"Yah, sepertinya aku bisa menggantikanmu, percayalah padaku," Minato ganti mengangguk.
"Ayo, anak-anak duduk, kita mulai pelajarannya," kata Orochimaru, guru merangkap bintang film dari Konoha tersebut.
"Ya, Sensei."
~Our Promise~
"Kushina-sama, Kushina-sama, bangun," kata Meika, menggoyang-goyangkan badan Kushina, ia telah mengganti kompres Kushina, Kushina mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap Meika.
"Makan dulu, Kushina-sama, Minato-sama berpesan padaku untuk merawat Kushina-sama," kata Meika, Kushina mengangguk.
"Tak perlu merawatku, Meika-san, aku bisa sendiri, tinggalkan saja buburnya di sini, terima kasih telah mengganti kompresku," kata Kushina.
"Tapi, saya bisa dimarahi oleh Minato-sama kalau tidak merawat Kushina-sama," kata Meika, Kushina tertawa pelan.
"Nanti aku akan memarahi Minato kalau ia berani memarahimu, sudah kamu kerja saja, kamu pasti banyak pekerjaan," kata Kushina, Meika mengangguk.
"Baiklah kalau itu mau Kushina-sama, buburnya saya taruh di meja ini ya, saya permisi dulu," Kushina tersenyum dan Meika menutup kembali pintu kamar Kushina.
Kushina berusaha untuk duduk, ia mengambil mangkok yang berisi bubur yang masih panas itu, ia mengambil satu sendok dan meniupnya agar tidak terlalu panas saat masuk ke dalam mulutnya. Ia memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan, buburnya memang terasa enak kalau Kushina sehat waktu memakannya, tetapi kalau ia sakit seperti ini, ia tidak nafsu makan.
"Yang penting sudah kumakan," kata Kushina, ia hanya memakan satu sendok buburnya kemudian ia melirik ke air putih dan obat yang tergeletak pada meja di samping tempat tidurnya, dan ia tertidur.
~Our Promise~
"Kushina-sama, Kushina-sama, bangun," Kushina terbangun lagi, ia menatap samar-samar Mieka dan melihat apa yang dipegangnya, thermometer beserta satu mangkuk bubur lagi.
"Kenapa Kushina-sama tidak memakan buburnya? Tidak enak? Saya disuruh Minato-sama untuk mengukur suhu badan Kushina-sama dan memastikan Kushina-sama untuk minum obat," Meika berdiri di samping tempat tidur Kushina, Kushina menghela nafasnya dan akhirnya ia duduk, badannya sudah lebih enakan daripada tadi pagi.
"Enak, Meika-san, tapi aku sedang tidak nafsu makan, sini termometernya, biar aku mengukur sendiri," kata Kushina, Meika menyerahkan thermometer kepada Kushina, Kushina mengambilnya dan menaruhnya di ketiak.
"37,4 derajat, sepertinya Anda sudah membaik ya, Kushina-sama?" tanya Meika ketika ia melihat hasil dari thermometer tersebut, Kushina mengangguk.
"Kushina-sama minum obat dulu," kata Meika, menyodorkan segelas air dan sebutir tablet, Kushina mengambilnya dan segera meminumnya, mengacuhkan rasa pahit yang menyergapnya, ia hanya ingin tidur sekarang.
"Sekarang jam berapa?" tanya Kushina, Meika melihat jam yang berada di kamar Kushina dan menjawab.
"Jam 12.00, oleh karena itu Minato-sama menyuruh saya untuk mengantarkan makanan pada Kushina-sama melalui pesan singkat," Kushina mempertajam pendengarannya.
"Meika-san, berkirim pesan singkat dengan Minato-kun?" tanya Kushina dengan tatapan menyelidik, Meika menggeleng.
"Ti-tidak! Baru kali ini Minato-sama mengirim pesan singkat kepada saya, tetapi Minato-sama hanya menyuruh saya untuk merawat Kushina-sama, saya tahu kalau Minato-sama adalah pacar Kushina-sama," kata Meika.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Kushina.
"Sudah jadi gossip di antara pelayan-pelayan di sini kok, Kushina-sama, tenang saja, kami tidak menggosipkan macam-macam kok," kata Meika, muka Kushina memerah, jadi selama ini ia dan Minato menjadi bahan pergosipan di antara pelayan-pelayan yang ada di rumah ini?
"Ya sudah, Kushina-sama makan buburnya dulu ya, saya mau menaruh bubur tadi pagi ke tempat cuci piring dan melanjutkan pekerjaan saya, semoga cepat sembuh," kata Meika, menutup pintu kamar Kushina, Kushina menghela nafasnya dan ia kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, tidak bernafsu untuk menyentuh bubur yang mengepul-ngepul yang ada di meja sebelahnya, kemudian ia tertidur.
~Our Promise~
"Ngh, jam berapa ini?" kata Kushina, ia terbangun lagi, tapi bukan karena siapa-siapa, tetapi ia bangun dengan sendirinya, ia melirik jam yang ada di mejanya, jam sudah menunjukkan pukul 12.45, Kushina mencari-cari ponselnya dan membuka 3 sms yang masuk pada ponselnya.
From : Minato-koi
Kushina-chan, aku nanti pulang jam 2 siang, kamu cepat sembuh ya, jangan jalan-jalan dulu, aku sayang kamu :*
.
From : Miko-chan
Kushi-chan! Kata Minato kamu sakit ya? Nanti sore aku akan menjengukmu, cepat sembuh ya, sepi kalau kamu tidak masuk
.
From : Minato-koi
Kushina-chan, bagaimana keadaanmu? :D
.
Kushina terkekeh, ternyata pacarnya dan sahabatnya sangat mengkhawatirkannya saat ini, ia membalas pesan singkat itu dengan cepat.
To : Minato-koi
Badanku sudah enakan, Minato-kun, cepat pulang ya, aku kesepian, ;)
Aku juga sayang kamu :*
.
To : Miko-chan
Iya, Miko-chan, aku akan menunggumu, terima kasih ;D
.
Kushina menutup ponselnya, ia sangat bosan, badannya sudah enakan, suhu badannya sudah menurun, kepalanya tidak begitu pusing lagi, tetapi ia gerah, ia baru sadar kalau ia belum mandi dari pagi, maka ia beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
~Our Promise~
Kushina beranjak keluar dari kamar mandi, ia sudah memakai baju berwarna merah tanpa lengan dan celana pendek berwarna krim, ia beranjak ke tempat tidurnya, badannya memang masih hangat dan kepalanya tidak begitu pusing, tapi ia enggan untuk tidur, ia sudah tidur berjam-jam dan ia tahu pasti bahwa ia tidak akan tidur lagi.
"Lebih baik aku ke halaman saja-ttebane," Kushina beranjak keluar kamar tidurnya tanpa terbesitpun niat untuk membawa ponselnya, halaman belakang rumah Minato memang agak jauh, tetapi pemandangannya sangat indah, ia ingin memasukkan kakinya ke dalam kolam ikan kepunyaan Minato, dan ia ingin duduk di rerumputan hijau menikmati suasana alam sendirian, biasanya ia selalu ditemani Minato, tapi kali ini ia ingin mencoba ke sana sendiri, ia berusaha untuk menjauh dari Meika dan semua pelayannya, karena kalau Meika tahu, pasti ia akan melapor ke Minato, dan kalau Minato tahu, pasti ia akan marah, toh juga Minato masih lama pulangnya, maka ia berencana sebelum jam 2 ia akan kembali ke kamarnya dan pura-pura tidur.
"Hihi," Kushina terkikik, ia sudah sampai di halaman belakang rumah Minato, ia tersenyum melihat betapa indah dan luasnya halaman belakang ini, sesuai rencana, ia keluar dari rumah Minato tanpa alas kaki dan mencelupkan kakinya di kolam ikan yang dingin tersebut.
"Ahh, enaknya," kata Kushina, ia melihat sekeliling, pohon pohon tampak begitu hijau, daunnya tumbuh dengan sempurna, kebanyakan pohon yang ada pada halaman rumah itu adalah Pohon Sakura, Kushina suka melihat bunga-bunga sakura yang sudah tumbuh menampakkan keindahannya.
~Our Promise~
"Anak-anak, saya memiliki kabar bagus, semua murid akan dipulangkan pukul 01.15, karena guru-guru akan menghadiri rapat," kata Hiruzen Sarutobi, ia kini mengajar di kelas Minato, Fugaku, dan Mikoto.
"Apa? YAIII! PULANG CEPAT!" para murid tampak bersorak sorai dengan riangnya, terlebih lagi untuk Minato karena ia dapat segera bertemu dengan Kushina.
"Meskipun pulang cepat juga aku masih ada rapat," keluh Fugaku.
"Maaf ya, Fugaku, aku jadi membebankan semua padamu," kata Minato yang tak sengaja mendengarnya.
"Tidak apa, asal ada imbalannya saja," kata Fugaku tersenyum tipis, Minato menyeringai.
"Iya, pasti adalah."
"Aku bercanda, Dobe, aku rela kok membantumu," kata Fugaku, Minato tersenyum.
"Terima kasih," Fugaku mengangguk, dengan begitu pembicaraan di antara mereka selesai.
Minato mengetikkan sms untuk Kushina dengan cepat, ia sangat terampil dalam hal mengirim pesan singkat tersebut.
To : Kushina-chan
Kushina-chan, aku pulang cepat :D aku sudah pulang sekarang, bagaimana keadaanmu?
.
Kushina yang tidak membawa ponselnya tidak mengetahui kalau Minato mengirimi pesan seperti itu, dan Kushina masih berpikir bahwa Minato pulang jam 2 siang.
~Our Promise~
Mobil Ferrari hitam berhenti di depan pintu masuk rumah utama Namikaze tersebut, Minato segera beranjak ke Kamar Kushina berharap ia ada di kamarnya dan terbangun.
"Kushina-chan, aku pu-," perkataannya terputus ketika ia menyadari sosok wanita yang dicarinya tidak ada di kamarnya.
"Kushina-chan? Kamu di mana?" ia mengecek kamar mandi Kushina, tetapi nihil, tidak ada Kushina di dalam kamar mandinya, Minato mencari ke seluruh penjuru rumah, berusaha bertanya kepada pembantunya, tetapi tidak ada yang tahu, bahkan Meika juga tidak tahu.
"Kushina-chan! Kushina-chan, kamu di mana?" tanya Minato, tetapi ia berpikir ia lupa satu lokasi, halaman belakang, ia segera mencari Kushina ke halaman belakang, tidak melepas kaos kakinya, dan ia lega ketika melihat sosok berambut merah panjang sedang terlihat bersenandung sembari mencelupkan kakinya di kolam ikan, ia memunggungi Minato, jadi ia tidak tahu kalau Minato datang ke arahnya.
I love you but it's not so easy to make you here with me
I wanna touch and hold you forever, but you're still in my dream
I can't stand to wait till nite is coming to my life
I still have a time to break a silence
Minato tersenyum ketika mendengar Kushina bernyanyi, suaranya merdu juga, Minato tersenyum licik, ia mengendap-ngendap di belakang Kushina dan memeluknya tiba-tiba.
"KYAA!" seru Kushina, ia tercebur ke kolam ikan, Minato yang mengagetkannya juga ikut tercebur.
"Aduduh, Minato no Baka! Kamu ngapain sih?" seru Kushina, Minato tertawa.
"Hukuman, karena kamu tidak mentaati perkataanku, Kushina-chan," kata Minato, muka Kushina merona, ia tahu kalau ia bersalah.
"Sepertinya kamu sudah sembuh ya, Kushina-chan," kata Minato menyeringai dan mencubit pipi Kushina.
"Yah, kalau ketemu kamu, aku sembuh, Minato-kun," Kushina tersenyum, Minato balas tersenyum, kemudian Minato beranjak berdiri dan mengulurkan tangan kepada Kushina.
"Ayo ganti bajumu, nanti kamu masuk angin," ajak Minato, Kushina mengangguk dan menerima uluran tangannya, selama perjalanan ke kamar mereka masing-masing, mereka bergandengan tangan.
~Our Promise~
"KUSHII-CHAN~," Mikoto menyeruak masuk ke kamar Kushina, Minato dan Fugaku mengikuti Mikoto dari belakang.
"Miko-chan! Akhirnya kamu sampai juga," kata Kushina, Mikoto tertawa dan memberikan Kushina buah-buahan yang bergizi.
"Wah, kamu repot-repot sekali, Miko-chan," kata Kushina tersenyum, Mikoto memeluk Kushina.
"Bagaimana keadaanmu, Kushi-chan?" tanya Mikoto.
"Aku sudah sembuh 100%! Karena Minato dan Meika-san merawatku," Mikoto tiba-tiba menggeret Kushina menjauh dari Minato dan Fugaku yang sedang mengobrol.
"Tadi Minato itu murung lho saat di sekolah, ia mengkhawatirkanmu, Kushi-chan, lalu tadi kamu dirawat bagaimana dengan Minato?" tanya Mikoto, Kushina tampak berpikir.
"Uhm, tadi Minato marah-marah karena aku tidak makan sama sekali, aku kepergok karena ia melihat bubur yang masih penuh berada di kamarku, hanya itu saja, lalu ia mengganti kompresku, sepertinya sih itu saja, Miko-chan," kata Kushina, Mikoto terkekeh.
"Sepertinya kamu mesra sekali ya? Baguslah, aku jadi tak usah repot-repot membantumu lagi, lalu bagaimana dengan kabar kakekmu? Besok adalah hari penentuannya, Kushi-chan," kata Mikoto.
"Yah, itu masalahnya, aku masih tidak tega berpisah dengan Minato, aku sangat membutuhkannya, Miko-chan."
~Our Promise~
To Be Continued :D
A/N: Wahh aku ngebut chap ini dalam satu hari loh :D karena aku masih belum pelajaran, aku baru saja terima rapot ^^ oh ya lagu yang dinyanyikan Kushina adalah lagu When you love someone-Endah n Ressa lhoo :D ada yang tahu?
Balasan Rview:
Citra Namikaze
Iya nih, sebenarnya aku juga iri, pengen kaya Kushina juga huhu *gigit jari* ini udah update loh :D mind to RnR? :9 makasih reviewnyahh
Plotnya udah 13 chapter dengg hihi :D tapi author bingung mau ngakhirin cerita ini kaya gmana~
Can Rez'Alv
Iya nih, Btw aku juga blum di-PJ sama MinaKushi huhu :D
Amin, amin, tapi di sini Kushina tidak galak kan? Hihi, terima kasih reviewnyah :D
Kazuki Namikaze
Iya nih :D akhirnya update juga! Dengan penuh perjuangan loh updatenya
Makasih reviewnyahh
Gerarudo Flaazzh
Wahh iya :D makasih ya atas persetujuannya(?), tapi aku juga masih ngadat 3 fic, takutnya kalau aku nambah fic baru lagi ntar malah DC semua lagi
Terima kasih reviewnya yahh :D
Noname
Terima kasih ya atas pujiannya aku tersipu-sipu wkwk :D oh ya update ASAP tuh apa ya? Hihih *katrok*
Terima kasih reviewnyaaa
Dita
Terima kasih ^^ mind to RnR again? :D
Cerly
Sebenarnya author juga iri loh hhohoh iya nih uda update, terima kasih reviewnya :D
.
Ada yang mau memberi saran untuk ending Our Promise ini? Sarann ditunggu loh ^^ just review ajah! :D
Sign,
Haruno Kira
