Uke VS Seme
Summary:: Dibalik sekolah asrama khusus laki-laki yang elit dan terkenal ternyata ada sebuah kejadian yang tidak diketahui oleh orang luar, yaitu permusuhan antar penghuni asrama disekolah itu. Bagaimana cara pihak sekolah mengatasi kejadian ini?
Pair:: Kyumin, Yewook, Hanchul, Haehyuk, Kangteuk, Sibum, Zhoury, Yunjae, Yoosu, Onkey, 2Min
Rated:: T
Genre:: Romance, Humor
Warn:: Unsur BL, OOC
Annyeong, readers~ ^^
Author balik lagi dengan mempersembahkan FF chap 10..
YunJae shipper~! Ayo kesini! Ayo merapat kesini~! Kali ini author bakalan bikin partnya Yunjae.. ^^
Mian kalau part Yunjae kelamaan.
Enjoy~!
^(*o*^) ^(O.O)^ (^TwT)^
"Selamat pagi, anak-anak." Sapa Han seonsaengnim saat masuk ke kelas XI-A. "Pagi, Han seonsaengnim." Jawab semua siswa yang ada dikelas itu.
"Sekarang, kumpulkan PR kalian." Semua siswa mengumpulkan buku PRnya di meja guru.
"Semuanya sudah kumpul? Ada yang tidak mengerjakan PR?" tanya Han seonsaengnim. Semua siswa dikelas itu menggeleng.
"Baiklah, kalian bacalah dulu buku Fisika halaman 56. Saya ingin memeriksa PR kalian terlebih dahulu." Lalu Han seonsaengnim pun memeriksa satu persatu buku-buku siswanya.
Han seonsaengnim mengernyitkan dahinya. "Kim Jaejoong!" panggil Han seonsaengnim dengan suara yang cukup keras. Jaejoong yang sedang membaca bukunya dengan serius langsung terlonjak kaget. Firasat buruk mulai menyelimuti dirinya.
"N-ne, seonsaengnim?" Jaejoong langsung berkeringat dingin saat melihat mimik wajah tidak mengenakkan dari Han seonsaengnim yang terkenal dengan julukkan guru tergarang di sekolah itu.
"Bisa kau jelaskan ini, Kim Jaejoong?" Han seonsaengnim menunjukkan buku PR milik Jaejoong.
Jaejoong membelalakkan matanya saat melihat bukunya. Di dalam buku itu terdapat gambar seorang guru dengan penampilan yang sangat buruk. Berbagai ejekkan tertulis disekitar gambar itu. Dan tepat di bawah gambar itu terdapat tulisan besar yang bertuliskan 'Han seonsaengnim yang paling jelek.'
Jaejoong menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tidak ingat kalau ia pernah menggambar itu di bukunya. Sebenarnya Jaejoong setuju-setuju saja dengan gambar dan ejekkan untuk Han seonsaengnim itu. Karena pasalnya, Han seonsaengnim itu sangat galak dan sangat menyebalkan.
Tapi masalahnya, kenapa gambar itu ada dibukunya? Dan siapa yang menggambar itu? Ini sebuah bencana! Tamatlah riwayatmu, Kim Jaejoong.
"I-itu-"
"Keluar dari kelas ini sekarang juga! Dan sebagai hukumannya, kau harus membersihkan seluruh lapangan SM High School ini! Jangan sampai ada sampah sedikitpun di lapangan itu!" Teriak Han seonsaengnim dengan lantang. Bahkan bisa diperkirakan teriakannya itu terdengar hingga keseluruh penjuru SM High School.
Jaejoong membelalakkan matanya. 'Mwo? Seluruh lapangan SM? Gila!' Pikir Jaejoong. Kalau disuruh membersihkan lapangan biasa sih Jaejoong akan dengan senang hati membersihkannya. Tapi masalahnya, lapangan SM High School ini luasnya hampir setara dengan luas Gelora Bung Karno.
Berlebihan? Memang berlebihan sih, tapi itulah kenyataan yang harus Jaejoong terima.
"Cepat keluar dan bersihkan lapangan itu, atau nilai ujianmu saya kurangi 60?" Jaejoong langsung melesat keluar dari kelas sebelum Han seonsaengnim mengamuk dan mengurangi nilainya.
~#~#~#~#~#~#~#~
"Huh! Kenapa tiba-tiba ada gambar mengerikan itu dibuku PRku sih? Dan kenapa juga sih harus dihukum membersihkan lapangan? Kenapa harus lapangan SM yang sangat luas itu sih? Kenapa tidak membersihkan toilet saja? Kenapa? Huh!" Gerutu Jaejoong sambil berjalan menelusuri koridor kelas.
Yunho yang kebetulan lewat dibelakang Jaejoong saat hendak kembali dari toilet dan hendak kembali ke kelasnya tidak sengaja mendengar gerutuan Jaejoong.
Yunho terus memandang punggung Jaejoong yang semakin menjauh. Kemudian, Yunho kembali berjalan memasuki kelasnya, kelas XI-B
Yunho duduk di bangkunya yang ada di sudut kiri dekat jendela. Matanya tidak sengaja melihat Jaejoong yang sedang menyeret sapu dengan lemas melalui jendela kelasnya. Yunho langsung mengambil bola tenis dari dalam tasnya, lalu melempar bola tenis itu kearah Shin seonsaengnim yang sedang menulis dipapan.
Buaakkh!
"Ya! Siapa yang melempari saya dengan bola?" tanya seonsaengnim dengan nada marah seraya mengelus-elus kepala belakangnya yang tadi terkena bola. Semua siswa yang ada di kelas itu kini menoleh kearah Yunho yang dengan santainya memandang balik Shin seonsaengnim.
"Mianhae, Shin seonsaeng." Jawab Yunho. Shin seonsaengnim menggeram dengan kesal. "Jung Yunho, silahkan keluar dari kelas saya sekarang juga!" Seru Shin seonsaengnim dengan marah. Yunho mengangguk lalu berjalan keluar dari kelasnya.
Shin seonsaengnim memandang aneh kearah Yunho. Pasalnya, Yunho itu termasuk murid yang disiplin dan sopan, tapi kenapa saat ini dia dengan santainya menerima hukuman itu setelah melakukan kesalahan terhadap seorang guru?
Yunho berjalan dikoridor. Tiba-tiba ia berhenti berjalan. 'Kenapa aku melempar seonsaengnim, ya?' Tanya Yunho dalam hati. "Aisshh! Kenapa aku melakukan itu sih? Untuk apa aku melakukannya?" Pikir Yunho sambil mengacak rambutnya.
Mata rubahnya kini teralih keluar jendela koridor. Dilihatnya seorang namja kini sedang menyapu lapangan sekolah. 'Kim Jaejoong?' Yunho berjalan menuruni tangga lalu keluar dari gedung sekolah. Ia berjalan mendekati lapangan sekolah yang sangat luas itu.
"Ya, Kim Jaejoong. Sedang apa kau disini?" tanya Yunho basa-basi. Sebenarnya Yunho sudah tahu kenapa Jaejoong bisa disini karena suara teriakan Han seonsaengnim tadi terdengar dengan jelas olehnya.
"Minta sumbangan," Jawab Jaejoong dengan malas.
"Hee?" Yunho mengangkat sebelah alisnya.
"Bukannya kau sedang membersihkan lapangan?" tanya Yunho lagi. "Sudah tahu kenapa masih bertanya?" Jaejoong kembali menyapu lapangan sekolah. "Perlu kubantu?" tawar Yunho dengan senyuman andalannya.
"Tidak perlu." Tolak Jaejoong, lalu ia kembali meneruskan pekerjaannya.
'Bagus Kim Jaejoong! Sekarang statusmu bukanlah seorang siswa lagi, melainkan seorang pembersih lapangan.' Pikir Jaejoong dengan kesal. "Aigoo~ Wajahmu itu menderita sekali sih," Yunho berjalan kedalam gedung sekolah, kemudian keluar dari gedung itu dengan membawa sapu.
"Aku akan membantumu," Yunho mulai menyapu lapangan itu. "Untuk apa kau membantuku?" tanya Jaejoong heran. Yunho mengelus tengkuknya sendiri dengan sambil berpikir sejenak "Umm, sebenarnya ada sedikit rasa bersalah saat melihat kau dihukum seperti ini. Aku tidak menyangka kau akan mendapatkan hukuman seperti ini," Jawab Yunho.
Jaejoong mengernyit. "Maksudmu? Kenapa kau merasa bersalah?" tanya Jaejoong yang masih belum mengerti. "Karena aku yang membuatmu dihukum. Aku yang.. membuat gambar itu," Jawab Yunho ragu. Jaejoong melebarkan matanya.
"MWO? Jadi kau yang menggambar itu? Aisshh! Dasar!" Jaejoong memukul Yunho dengan sapu yang tadi ia gunankan untuk menyapu. "Mianhae! Minahae! Tadinya aku berniat membalas perbuatanmu. Aku tidak menyangka kalau kau akan dihukum seperti ini. Aduuh!" Yunho berusaha menangkis pukulan Jaejoong.
'Aku menyesal mengatakan hal itu.' Pikir Yunho sambil menangkis sapu Jaejoong dengan sapunya.
"Mianhae? Enak saja!" Jaejoong terus melayangkan sapunya kearah Yunho. "Uwooh!Aku 'kan sudah minta maaf. Lagian, siapa suruh kau mengikat tali di kakiku? Pantatku masih sakit karena terjatuh tahu!" ujar Yunho seraya berlari menghindari pukulan Jaejoong.
"Ya! Jangan lari! Tapi 'kan kau duluan yang memasukkan kodok kedalam tasku! Aishh! Ya!" Jaejoong berusaha mengejar Yunho.
"Ya! Jangan pukul bokongku! Aduh!" Yunho masih tetap berlari menghindari pukulan sapu dari Jaejoong.
"Stop!" Ujar Yungho yang tiba-tiba berhenti dan membalikkan badannya menghadap ke Jaejoong. Jaejoong yang berada tepat di belakangnya langsung menabrak Yunho.
Dan terjadilah adu jidat antara Jaejoong dan Yunho.
"Aduuh! Appo~! Ya! Kenapa berhenti tiba-tiba sih? Mana jidatmu keras lagi. Auw!" Jaejoong mengelus-elus keningnya sambil sesekali meringis kesakitan.
"Jidatmu tuh yang keras. Sakit nih." Yunho memegang keningnya seraya berjongkok.
"YA! KIM JAEJOONG! SEDANG APA KAU DISANA! CEPAT BERSIHKAN LAPANGAN ITU!" Teriak Han seonsaengnim yang ternyata tidak sengaja melihat kearah Jaejoong. Jaejoong langsung panik mencari sapunya yang hilang.
"Sapu! Sapuku mana? Sapuku?" Jaejoong celingak-celinguk mencari sapunya yang hilang entah kemana. "Itu. Kau sendiri yang melempar sapumu." Ujar Yunho seraya menunjuk kearah sapu Jaejoong yang tergeletak jauh dari Jaejoong.
Jaejoong pun berlari kearah sapunya yang tadi ia lempar tepat sebelum kejadian 'adu jidat dengan Yunho' terjadi. Ia kembali mengerjakan tugasnya, yaitu menyapu. "Perlu kubantu?" tawar Yunho lagi. Jaejoong tidak menjawab Yunho, ia terus menyapu lapangan itu.
"Yakin tidak memerlukan bantuanku?" tanya Yunho yang mendekat kearah Jaejoong. Jaejoong menoleh kearah Yunho dengan wajah yang ragu-ragu kemudian melihat kearah lapangan yang luas itu dengan tatapan menusuk. 'Lapangan terkutuk.' Pikir Jaejoong.
"Baiklah. Kau bersihkan yang sebelah sana." Jawab Jaejoong akhirnya. Yunho tersenyum dan berjalan kearah yang ditunjuk Jaejoong.
Jaejoong menyapu dengan berjalan semakin ke belakang, begitu juga dengan Yunho. Akhirnya mereka berdua pun menabrak punggung satu sama lain. "Auw! Ya! Apa yang kau lakukan?" Jaejoong menatap kesal pada Yunho.
Yunho membalikkan badannya.
"Sedang menyapu." Jawab Yunho seadanya. "Bukan itu! Kenapa kau menabrak punggungku?" Jaejoong mendengus kesal. 'Sabar.. Sabar.. Tahan emosi. Bisa-bisa aku jadi keriputan gara-gara namja ini.' Jaejoong menahan keinginannya untuk menjitak Yunho.
"Bukannya kau yang menabrakku?" tanya Yunho balik.
"Ck, sudahlah. Minggir! Kau ke sebelah sana." Jaejoong mendorong sapu Yunho dengan sapunya.
"Kau saja yang ke sebelah sana. Kenapa harus aku?" Yunho kembali menyapu tempat yang dekat dengannya. "Di sebelah sana itu sangat panas, nanti kulitku bisa jadi gelap. Lagian 'kan kulitmu sudah gelap, jadi tidak apa-apa kalau berjemur lagi. Lalu kalau aku kepanasan lalu pingsan bagaimana? Kau tidak kasihan padaku?" Jaejoong melancarkan puppy eyesnya.
Yunho mengelus dagunya, tampang sedang berpikir. "Hmm.. Kalau kau jadi hitam karena sinar matahari, nanti kau akan jadi jelek dan mirip tukang semir sepatu," Ujar Yunho dengan pose yang masih sama.
Jaejoong merasa tertohok dengan kata-kata Yunho.
"Dan kalau kau kepanasan, bisa-bisa kau jadi kurus dan jadi seperti orang kurang gizi. Kulit jadi gelap, jadi jelek, lalu kurus, hidup lagi! Buruk." Jaejoong serasa seperti ditimpa batu 5 ton mendengar kata-kata Yunho.
"Haahh.. Tidak akan ada ya-"
"Cukup! Kau ini berniat membantu atau membuat aku jantungan karena kata-katamu itu sih? Sudahlah, aku saja yang kesebelah sana. Memang susah bicara dengan manusia sepertimu." Ujar Jaejoong seraya menyeret sapunya kearah lapangan yang belum dibersihkan.
Yunho tersenyum senang. "Siapa suruh kau mencoba menipuku dengan puppy eyesmu?" gumam Yunho.
#1 jam kemudian#
"Apa ini sudah cukup bersih?" tanya Jaejoong yang berdiri disamping Yunho.
"Disitu masih ada bungkus kripik." Yunho menunjuk kesisi lapangan sebelah kiri. Jaejoong pun berjalan kearah yang ditunjuk Yunho lalu membuang bungkusan itu.
"Sudah bersih 'kan? Kinclong!" Ujar Jaejoong bangga. "Belum. Di sebelah sana masih ada kaleng minuman." Jaejoong mengernyit lalu berjalan kearah kaleng itu. "Perasaan tadi di sebelah sini tidak ada sampah, deh." Gumam Jaejoong lalu memungut kaleng itu dan membuangnya.
Lalu, Jaejoong pun berjalan mendekati Yunho.
"BooJae! Di sebelah sana ada kaleng minuman lagi." Yunho menunjuk kearah belakang Jaejoong. Jaejoong menatap sengit pada kaleng tak berdosa itu.
"Ck, siapa sih yang sembarangan membuangmu?" tanya Jaejoong pada kaleng itu.
"Jae! Di sana! Di sana ada ranting kayu!" seru Yunho yang jaraknya lumayan jauh dari Jaejoong.
"Jae! Di sebelah sana ada bungkus plastik!"
"BooJae! Di sebelah sana, disamping lapangan itu. Didekat pepohonan itu ada banyak daun yang gugur."
"Jaejoongie! Di sana ada bungkus kripik lagi!"
"Jaejoong! Di sana ada kodok yang kejang-kejang, cepat tolong!" Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan tajam.
"Ya! Sebenarnya aku ini siapamu, sih? Seenaknya saja memerintahku. Kenapa tidak kau sendiri saja yang menolong kodok itu? Namja gila." Yunho tertawa melihat ekspresi marah dari Jaejoong.
"Jangan tertawa, tidak ada yang lucu." Jaejoong mengerucutkan bibirnya dan menyeret sapunya masuk kedalam gedung sekolah. Yunho mengikuti Jaejoong dari belakang sambil menahan tawanya.
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Aku tidak mengikutimu, kok. Aku 'kan ingin kembali ke kelas." Jawab Yunho lalu berjalan menuju kelasnya setelah sebelumnya mengembalikan sapu ke tempatnya.
"Huh, dasar!" Jaejoong meletakan sapu itu kedalam lemari khusus alat bersih-bersih. "Tapi dia cukup membantu, biasanya kalau membersihkan lapangan itu bisa sampai setengah hari." Jaejoong menatap ilfeel pada lapangan sekolah itu.
~#~#~#~#~#~#~#~#~
Skip Time~
"Jae hyung! Mari kita ke kantin!" Junsu menarik tangan Jaejoong agar berdiri dari bangkunya lalu menyeret Jaejoong menuju kantin. "Iya, iya. Pelan-pelan dong jalannya." Jaejoong pasrah saat Junsu masih menyeretnya dan tidak mendengarkan perkataannya.
"Waaahh, nggak ada meja kosong," Ujar Junsu saat mereka memasuki area kantin.
"Junsu-ah! Jae-ah! Sebelah sini!" seru Leeteuk yang melambai-lambaikan tangannya.
"Di sana, Su." Kini giliran Jaejoong yang menyeret Junsu mendekati Leeteuk. "Hyung juga belum dapat tempat duduk?" tanya Jaejoong saat melihat Sungmin, Eunhyuk, Leeteuk, Taemin, Junsu, Key, Ryeowook dan Henry hanya berdiri.
"Ani, kami sedang menonton sebuah pertengkaran. Seru loh, hyung. Lebih seru daripada yang ada di bioskop." Jawab Taemin dengan wajah polosnya. "Heh? Pertengkaran apa?" Junsu melihat kesekeliling kantin dengan berjinjit. "Junsu-ah, kau tidak perlu berjinjit. Pertengkaran itu tepat berada di depanmu." Ujar Leeteuk sweatdrop. Sungmin, Eunhyuk, Taemin, Junsu, Key, Jaejoong, Ryeowook dan Henry juga sweatdrop melihat tingkah Junsu.
Junsu hanya nyengir. "Mereka kenapa?" tanya Jaejoong yang bingung saat melihat Kibum dan Siwon sedang adu mulut. "Entahlah. Saat kami datang kesini, mereka sudah ribut." Jawab Key.
"Oh. Ah, aku ke toilet dulu, ya." Jaejoong langsung berjalan menuju toilet.
~#~#~#~#~#~#~#~#~
Jaejoong keluar dari toilet sambil mengelap tangannya dengan tisu. Ia berjalan memasuki area kantin dan menghela nafas saat melihat Kibum dan Siwon masih adu mulut. Matanya tidak sengaja menangkap Yunho yang sedang duduk sendirian di meja makan yang ada disudut kantin.
Jaejoong melangkahkan kaki jenjangnya mendekati Yunho yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Kau tidak makan?" tanya Jaejoong yang langsung duduk di depan Yunho. Yunho mengalihkan perhatiannya dari ponselnya. "Jaejoong? Ah, dongsaengku sedang memesan makanan," Yunho menyimpan ponselnya kedalam sakunya. Jaejoong mengangkat sebeah alisnya. "Dongsaeng? Kau punya adik?" Yunho mengangguk.
"Lalu, kenapa kau ada disini?"
"Karena tadi aku melihatmu duduk sendirian. Biasanya 'kan kau juga bergabung dengan teman-temanmu yang ada disana itu," Jaejoong menunjuk meja yang diduduki oleh Kyuhyun dan kawan-kawan. "Hmm.. Dongsaengku hari ini ingin makan berdua denganku. Dia memintaku mentraktirnya." Jelas Yunho. Jaejoong hanya mengangguk mengerti.
Cukup lama mereka dalam situasi diam, Jaejoong dan Yunho tidak ada yang ingin angkat bicara.
"Ehm! Yunho-ah, gomawo," Ujar Jaejoong memecah keheningan. Yunho yang tadinya sedang menonton Kibum dan Siwon langsung menoleh kearah Jaejoong.
"Untuk apa?" Jaejoong terlihat ragu untuk menjawabnya. "Terima kasih karena tadi pagi kau sudah membantuku." Yunho tersenyum mendengar perkataan Jaejoong. "Ne, kapanpun aku akan membantumu." Jaejoong tersipu. Tapi sedetik kemudian, ia langsung tersadar dan menatap Yunho.
"Bukannya seharusnya kau berkata, 'Kapanpun aku akan mengerjaimu'? Bukankah hobimu itu ngejahilin aku, ya?" Yunho nyengir. "Aku ganti, deh. Kapanpun aku akan berbaik hati pada BooJae!" kata Yunho yang diselingi tawa kecil.
Brakk!
"Hyung! Nih makanannya," Ujar Changmin seraya meletakkan nampan berisi berbagai jenis makanan dengan sedikit kasar karena terlalu bersemangat. Yunho melotot kearah makanan itu. "Ya! kenapa makanannya banyak sekali?" Changmin duduk di samping Yunho.
"Yang satu ini untuk hyung, dan yang lima ini untuk aku." Changmin meletakkan 1 mangkuk jajangmyeon didepan meja Yunho, dan sisanya 2 mangkuk jajangmyeon, 2 mangkuk makguksu, dan 1 mangkuk bibimguksu untuk dirinya sendiri.
"Hm.. Kau Changmin kelas X-B, ya?" Tanya Jaejoong pada Changmin yang sedang melahap jajangmyeonnya. Changmin menoleh ke Jaejoong. "Eh? Kenapa ada Jaejoong hyung di sini?" Yunho tidak menghiraukan Changmin dan Jaejoong, ia terus saja menikmati makanannya seraya memikirkan nasib dompetnya yang isinya telah musnah gara-gara Changmin.
Kemarin, Yunho kalah taruhan dengan Changmin sehingga mengharuskan Yunho mentraktir Changmin hari ini. Yunho memberikan dompetnya pada Changmin saat dongsaengnya itu hendak memesan makanan. Sekembalinya sang dompet pada pemiliknya, Yunho hanya bisa menyesal dan menangisi sang uang yang telah pergi meninggalkannya.
"Ah, aku sudah ada di sini daritadi, sebelum kau kembali." Jaejoong melirik sekilas ke Yunho.
"Ah, Changmin-ah." Panggil Jaejoong. Changmin menoleh ke Jaejoong sambil menyingkirkan mangkuk yang telah kosong dan mengambil semangkuk makguksu.
"Ne?"
"Aku ingin bertanya," Yunho mulai tertarik dengan percakapan kedua orang itu. Yunho agak iri juga sih saat melihat Jaejoong yang terlihat akrab dengan Changmin. Yunho memang tahu bahwa Changmin itu akrab dengan sebagian penghuni asrama lantai 2, tapi ia tidak mengira kalau Changmin juga dekat dengan Jaejoong.
"Kau itu minum susu berapa kali sehari, sih?" tanya Jaejoong dengan polosnya. Changmin berhenti makan, sedangkan Yunho tersedak mendengar pertanyaan Jaejoong.
"Dia minum susu 10 kali sehari." Jawab Yunho asal. Changmin menatap kesal pada hyungnya itu. "Enak saja! Siapa bilang aku minum susu 10 kali sehari?" Yunho mengangkat bahunya cuek dan kembali melahap makanannya.
"Lalu?" Jaejoong penasaran kenapa Changmin bisa setinggi itu. "15 kali sehari." Jawab Changmin santai seraya kembali memakan makanannya. Jaejoong melebarkan matanya, Yunho kembali tersedak untuk yang kedua kalinya.
"MWO! Kau kelebihan gizi, Max! Pantas saja kau tinggi sekali. Aisshh! Aku akan memberitahu eomma agar mengurangi jatah susumu!" Jaejoong menahan tawanya saat melihat ekspresi Yunho yang terlihat khawatir. "Jangan, hyuung! Nanti aku kekurangan gizi." Changmin menatap Yunho dengan tatapan memelas.
"Gizimu sudah sangat berlebihan, Max." Yunho menatap malas ke Changmin yang sedang meraung-raung dan menangis dengan lebaynya. "Sudahlah. Lagian kalian berdua ini tingginya hampir sama, kok. Apa bedanya?" Jaejoong berusaha menenangkan suasana.
"Oh! Tentu saja! Kami ini duo Jung yang paling tampan seantero!" Ujar Changmin bangga sambil berdiri dari kursinya. Yunho juga ikut berdiri dan tersenyum bangga.
"Hahahaha! Kalian ini sangat akrab, ya?" Jaejoong terkikik geli melihat tingkah duo Jung itu. Changmin kembali duduk dan langsung menggenggam kedua tangan Jaejoong.
"Jae hyung!" Panggil Changmin. Yunho melotot kearah Changmin. "Ya! Apa yang kau lakukan?" Yunho berusaha menarik tangan Jaejoong. "Kau mengganggu, hyung." Changmin menepis tangan Yunho.
Changmin menarik nafas sebelum berbicara. "Jae hyung, aku sangat senang mempunyai calon kakak ipar sepertimu," Ujar Changmin dengan wajah terharu. Jaejoong dan Yunho langsung cengo mendengar perkataan Changmin. "Aku menyerahkan hyung tercintaku ini padamu, dan tolong jaga dia baik-baik. Ah iya, dan semoga kau betah dengan kelakuannya. Hikkss- eh? Mieku sudah dingin!" Changmin langsung melepaskan tangan Jaejoong setelah menangis lebay. Ia kembali melahap mie porsi ke tiganya.
"A-ah, aku ke tempat Siwon dulu, ya." Yunho pun langsung berdiri dan berjalan ke meja Siwon dan kawan-kawan. Ternyata Siwon sudah selesai dengana urusannya.
Jaejoong menutup wajahnya yang memerah. 'Si Changmin ini apa-apaan sih? Aisshh!' Jaejoong menepuk-nepuk pelan pipinya yang memanas. Tanpa sengaja, matanya berhenti pada Yunho yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Jaejoong menghela nafas. 'Calon kakak ipar, ya?' Jaejoong menopang dagunya sambil menatap Yunho dari kejauhan.
Gajima deo gajima
Nae gyeotte isseojul suneun eobtni
Geojitmal da geotjimal
Jeonhyeo deullijiga anha
Saranghae neol saranghae
Hanmadi boyeojul suneun eobtni
Saranghae neol saranghae
Tto dashi saranghae jugettni
_JYJ – In Heaven_
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Skip Time~ Jam 19.35, Kamar Yunho & Yesung
"Kau sedang apa, Yun?" tanya Yesung yang sedang mengurusi anak-anaknya, alias Ddangko brothers. "Nanti juga hyung akan tahu sendiri." Yesung mengernyit mendengar jawaban Yunho. " Sebenarnya kau sedang apa, sih? Serius sekali." Yesung berjalan mendekati Yunho yang sedang melakukan sesuatu di meja belajarnya.
"Eh? Kau... Aigoo, ternyata kau sudah tertular adegan telenvelanya si Siwon." Yunho tertawa kecil mendengar perkataan Yesung. Yunho meletakkan sesuatu yang sedari tadi ia kerjakan ke dalam toples. Ia tersenyum senang seraya memandangi toples itu.
"Apa dia mau menerima ini?" tanya Yunho pelan. "Pasti diterima, kok." Jawab Yesung yang kini tengah mencolek-colek cangkang Ddangkomengh yang sedari tadi terus bersembunyi. 'Benarkah Boo akan menerima ini?'
Skip Time~ Keesokkan harinya..
"Jae hyung!" Panggil Junsu yang jaraknya lumayan jauh dibelakang Jaejoong. Jaejoong membalikkan tubuhnya dan menunggu Junsu yang berlari kecil menghampirinya.
"Waeyo?"
"Hyung, Park seonsaengnim memanggilmu ke ruangannya," Jaejoong mengernyit. "Ada apa?" Junsu mengangkat bahunya. "Entahlah. Lebih baik hyung langsung kesana saja," Jaejoong mengangguk. "Ne. Gomawo, Su-ie." Jaejoong lalu beranjak dan berjalan menuju ruangan Park seonsaengnim.
TOK TOK TOK
"Masuk." Jaejoong masuk kedalam ruangan itu setelah mendapatkan izin. "Seonsaengnim memanggilku?" Jaejoong bingung saat melihat Yunho juga ada diruangan itu.
"Ne. Karena kalian berdua sudah hadir, maka saya langsung katakan saja," Yunho dan Jaejoong mengernyit tidak mengerti.
"SooMan seonsaengnim mengatakan kalau taman belakang sekolah kita ini mulai kusam karena jarang dibersihkan lagi. Dan kebetulan petugas disekolah ini 2 hari yang lalu baru saja mendapatkan libur. SooMan seonsaengnim menyuruh saya untuk mencari murid yang setidaknya bisa membersihkan taman sekolah. Dan saya memilih kalian untuk menyelesaikan tugas itu. Saya akan memberikan nilai tambahan untuk kalian jika tugas yang saya berikan kalian laksanakan dengan baik. Ini wajib dan tidak ada penolakan!" Park seonsaengnim menarik nafasnya dalam-dalam setelah menjelaskan hal itu dalam satu tarikan nafas.
Yunho cengo sekaligus salut dengan ketahanan nafas Park seonsaengnim. Sedangkan Jaejoong, ia membelalakkan matanya. Didalam hatinya, ia merutukki Park seonsaengnim yang seenaknya memilihnya sebagai murid yang membersihkan taman belakang. Dan lebih parahnya lagi, hanya berdua dengan Yunho? Berdua? Namja tua yang ada dihadapannya itu benar-benar sangat menyebalkan.
"Kalian berdua saya izinkan tidak mengikuti semua pelajaran pada hari ini. Dan sebagai gantinya, kalian membersihkan taman belakang. Taman belakang itu harus bersih hari ini. Jika hari ini kalian tidak bisa menyelesaikan semuanya, besok kalian akan kehilangan setengah nilai pada pelajaran saya. Baik, sekarang kalian sudah boleh mulai menjalankan tugas kalian." Ujar Park seonsaengnim. Yunho mengangguk dengan senang hati.
'Nih guru udah merintah seenaknya, menambah derita orang, pakai ngancam lagi.' Pikir Jaejoong kesal seraya keluar dari ruangan itu. "Kau kok kelihatan senang sih dengan tugas ini?" Tanya Jaejoong saat melihat Yunho yang berjalan santai disampingnya.
"Menurutku ini pekerjaan yang menyenangkan. Taman belakang sekolah itu sangat indah, apalagi ada danau kecilnya. Kalau kita membersihkannya, bukankah taman belakang sekolah kita itu akan semakin indah?" Yunho bersenandung kecil seraya mengambil alat-alat untuk membersihkan taman belakang.
"Hmm, benar juga." Jaejoong berjalan memasuki area taman belakang, diikuti Yunho di belakangnya. Yunho meletakkan tasnya di kursi taman.
"Lalu? Kita mulai dari mana?" tanya Jaejoong saat melihat taman belakang sekolah lumayan luas.
"Terserah. Aku dari sini." Yunho lalu menyapu bagian yang dekat dengan danau. Jaejoong menggembungkan pipinya kesal. Jaejoong kesal karena Yunho mengambil bagian yang paling mudah untuk dibersihkan.
"Hmm?" Jaejoong berjalan mendekati salah satu pohon yang ada di taman itu. 'Pohon ukiran nama pasangan,' Jaejoong mengelus batang pohon itu. 'Kapan ya aku bisa mengukir namaku di sini?'
"Kau ingin namamu diukir di sana?" tanya Yunho yang tiba-tiba berdiri di belakang Jaejoong. "Eh?" Jaejoong terlonjak kaget.
"Kalau kau ingin mengukir namamu disana, ukir saja namamu dan namaku," Yunho mengambil gunting dari dalam tasnya. "Eh? Kenapa harus namaku dan namamu? Kau 'kan bukan pasanganku." Yunho tidak menjawab Jaejoong. Ia hanya tersenyum seraya mengukirkan namanya dan Jaejoong di pohon itu.
Entah kenapa, Jaejoong merasa senang saat Yunho mengukir nama mereka.
"Nah! Sudah selesai!" Yunho memandang bangga pada karyanya yang ia buat. Jaejoong menyentuh ukiran nama mereka.
"Joongie!" panggil Yunho. Jaejoong masih tetap memandang pohon itu. "Joongiiiee!" panggil Yunho lagi dengan cukup keras. "BooJaejoongie!" Jaejoong menoleh dengan wajah kusut karena acara mari-memandang-pohon-nya diganggu oleh Yunho.
"Apa, sih?" Jaejoong berjalan mendekati Yunho yang tengah berjongkok. "Lihat ini," Yunho memberikan setangkai bunga mawar pada Jaejoong yang berjongkok di sampingnya. "Mawar pink?" Yunho mengangguk. "Satu minggu yang lalu aku menanam bunga ini di sini. Ternyata sudah mekar. Cantik, ya?" Yunho memetik dua tangkai mawar pink lagi.
"Untukmu," Ia memberikan dua tangkai mawar itu pada Jaejoong yang mengernyit tidak mengerti. "Eh? Untukku?" Yunho mengangguk.
"Jangan dibuang, ya. Yup! Sekarang kita lanjutkan pekerjaan kita yang tertunda." Ujar Yunho seraya berdiri. Jaejoong tersenyum dan mencium aroma yang menguar dari bunga itu.
"Boo! Ayo cepat lanjutkan." Jaejoong segera berdiri dan meletakkan bunga mawar itu di samping tasnya.
"Ne."
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Jam 6.05
"Huwaahh! Lelahnya~" Jaejoong langsung menjatuhkan badannya di kasurnya saat sampai di kamarnya. "Kau habis dari mana, Jae? Kenapa kelihatan lelah sekali?" tanya Leeteuk yang sedang membaca bukunya.
"Tadi, aku dan Yunho disuruh membersihkan taman belakang sekolah oleh Park seonsaengnim. Bayangkan, hyung! Dari pagi sampai sekarang baru selesai. Aku tidak menyangka, ternyata taman belakang sekolah itu sangat luas. Park seonsaengnim menyuruh kami membersihkan danau juga. Memangnya danau bisa dibersihkan? Dasar aneh." Omel Jaejoong.
Leeteuk terkikik geli mendengar Jaejoong yang asyik mengomel. "Sudahlah, kau istirahat saja dulu, Jae." Leeteuk kembali melanjutkan acara membaca bukunya. "Eh!" Jaejoong langsung bangkit dari tidurnya dan langsung mengambil sesuatu dari tasnya.
"Hyung! Lihat ini!" Jaejoong melangkah ke meja Leeteuk seraya menunjukkan bunga mawar yang ada di tangannya. Leeteuk mengernyit.
"Mawar pink?" Jaejoong mengangguk. "Siapa yang memberimu bunga itu?" tanya Leeteuk seraya mengambil bunga itu dari tangan Jaejoong. "Yunho. Waeyo, hyung?" Leeteuk tersenyum.
"Kau tahu arti warna bunga mawar ini, Jae?" Senyuman Leeteuk semakin lebar saat melihat Jaejoong menggeleng dengan polosnya. "Kau tahu arti 3 tangkai bunga ini?" Jaejoong menggeleng lagi.
"Aigoo~ Mawar pink ini artinya keindahan dan keagungan, tapi bisa juga diartikan sebagai tanda kasih sayang," Jaejoong melebarkan matanya. "Jinjja?" Leeteuk mengangguk.
"Lalu, 3 tangkai bunga artinya_" Leeteuk tertawa kecil melihat ekspresi penasaran Jaejoong. "Artinya dia mencintaimu." Jaejoong melebarkan matanya lagi. "Jinjjayo?" Leeteuk mengangguk dan mengembalikan bunga itu pada Jaejoong yang kelihatan masih belum percaya.
TOK TOK TOK
"Hm? Nuguya?" gumam Leeteuk pelan. Leeteuk melangkah menuju pintu kamar dan membukanya. Jaejoong meletakkan bunga itu di meja dan berjalan mendekati Leeteuk. "Nuguya, hyung?" tanya Jaejoong saat tidak melihat siapapun di luar.
Leeteuk mengangkat kedua bahunya. "Saat aku buka pintunya, di luar sudah tidak ada orang," Leeteuk hendak menutup pintunya saat melihat sesuatu di lantai. "Hm?" Leeteuk mengambil sesuatu yang ada dilantai itu. "Toples?" Leeteuk mengangkat sebelah alisnya.
"Ada kertasnya, hyung." Leeteuk pun mengambil selembar kertas dari lantai. "Untuk Jaejoong, dari Jung Yunho," Ujar Leeteuk yang membaca isi kertas itu. "Untukmu, Jae." Leeteuk memberikan toples itu pada Jaejoong.
"Hm? Apa ini?" Jaejoong berjalan kearah meja belajarnya. Jaejoong membuka tutup toples itu. Jaejoong hendak mengambil isi yang ada di dalam toples itu namun terhenti saat melihat label yang tertempel di luar toples itu. Di label itu tertulis, '100 ALASAN SEORANG JUNG YUNHO MENCINTAI KIM JAEJOONG'.
Setelah cukup lama Jaejoong shock dengan label itu, ia lalu mengambil satu isi dari toples itu. Bentuk benda itu seperti sesuatu benda kecil yang dibungkus oleh kertas kecil. Jaejoong membuka bungkusan kertas itu dan ternyata isinya adalah permen.
Mata Jaejoong tanpa sengaja berhenti pada kertas yang tadi digunakan untuk membungkus permen itu. 'Aku mencintaimu karena kamu baik.' Begitulah isi dari kertas kecil itu. Jaejoong tersenyum.
Ia lalu mengambil permen lainnya dan membuka bungkusan kertasnya.
'Karena kamu cantik.'
'Karena kamu bisa memasak.'
'Karena rambutmu lurus.'
'Karena kamu selalu mengerjaiku.'
'Karena kamu yang ada di hatiku.'
'Karena kamu pasangan idamanku.'
'Karena kamu membuatku jatuh pada pandangan pertama.'
'Karena suaramu bagus.'
Jaejoong tersenyum membaca semua itu. 'Aku tidak menyangka kau mempunya alasan sebanyak ini.' Jaejoong mengambil permen yang ke 100 dan membuka kertasnya.
'Karena aku yakin, kaulah malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan untukku.' Senyum Jaejoong semakin lebar saat membaca yang terakhir itu. Jaejoong menyimpan semua kertas itu di sebuah kotak kecil, lalu memasukkan kembali permen-permen itu ke dalam toples.
"Gomawo, Yunnie-ah." Gumam Jaejoong pelan.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Keesokan harinya~
"Jae hyuuung! Tungguuu!" panggil Junsu dengan suara lumba-lumbanya seraya berlari kecil mengejar Jaejoong. Junsu langsung merangkul pundak Jaejoong saat ia sudah berdiri disamnping Jaejoong. Mereka kembali berjalan di tengah lapangan menuju gedung sekolah.
"Leeteuk hyung mana? Biasanya 'kan dia berangkat sama hyung." Junsu celingak celinguk mencari Leeteuk. "Leeteuk hyung tadi bangun kesiangan. Dia menyuruhku untuk berangkat duluan." Jelas Jaejoong. Junsu tidak mendengarkan penjelasan Jaejoong. Ia kini sedang menoleh ke belakang sambil terus berjalan.
Junsu menyipitkan matanya, sedetik kemudian ia langsung melebarkan matanya. Keterkagetan Junsu berganti menjadi senyuman saat melihat Yunho yang kini tengah berjalan mendekatinya dan Jaejoong dengan sebuket bunga di tangannya.
"Ya! Su-ie! Kepalamu jangan menoleh ke belakang terus, nanti lehermu terkilir." Jaejoong menolehkan kepala Junsu yang tadinya menoleh kebelakang. Junsu melepaskan rangkulannya dan berjalan menjauhi Jaejoong.
"Su-ie? Kau mau kemana?" tanya Jaejoong yang bingung saat Junsu berjalan menjauhinya. "Aku nggak ke mana-mana kok, hyung." Junsu menghentikan langkahnya dengan senyum imutnya. Jaejoong mengernyitkan dahinya.
"Boo," panggil Yunho. Jaejoong menoleh keasal suara. Ia langsung terkejut saat melihat Yunho memegang sebuket bunga mawar merah dan putih.
Ia lalu melihat ke sekelilingnya. Semua siswa yang kebetulan lewat di sana langsung berhenti dari aktivitasnya. Suasana di lapangan itu jadi hening.
"BooJae, kau tahu apa arti dari mawar merah dan putih ini?" tanya Yunho seraya menunjukkan bunga mawar itu pada Jaejoong. Sebuket bunga yang berisi mawar merah dan mawar putih.
"Aku tidak tahu." Jawab Jaejoong seraya menggeleng. Yunho tersenyum.
"Mawar merah dan putih ini artinya kesatuan dan kebersamaan. Maukah kau selalu bersamaku, berada di sisiku, berada di hatiku selamanya?" tanya Yunho dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya. "Maukah kau menjadi namjachinguku?"
"Hah?" Jaejoong hanya cengo mendengar kata-kata Yunho. Kemarin ia memang mendapatkan berbagai hal romantis dari Yunho, tapi ia tidak menyangka kalau Yunho benar-benar serius dengannya.
"Saranghae, Jaejoongie." Ujar Yunho dengan senyuman yang masih setia terpampang di wajah tampannya.
"Kau.. serius?" tanya Jaejoong yang masih ragu. "Ne, aku serius," Jawab Yunho.
"Jika kau menyuruhku memilih antara bernafas dan mencintaimu, aku tidak akan memilih satu pun,"
"Waeyo?" tanya Jaejoong yang tidak mengerti dengan jawaban Yunho.
Yunho tersenyum.
"Karena aku akan menggunakan nafasku untuk mencintaimu." Yunho menyodorkan buket bunga itu pada Jaejoong.
Jaejoong tersenyum dan menerima bunga itu. "Dan aku akan mencintaimu sampai aku berhenti bernafas, Yunnie." Jaejoong langsung memeluk Yunho.
"Nado saranghae, Jung Yunho." Jawab Jaejoong tanpa melepas pelukkanya. Yunho tertawa kecil saat Jaejoong memeluknya dengan erat.
"Sudah kubilang 'kan? Kisah Yunho juga akan seperti kisahmu, kisah seperti adegan telenovela." Ujar Yesung dengan senyum jahilnya. "Ya, ya, ya. Whatever. Yang penting berakhir bahagia, hyung." Jawab Siwon.
"Ne, happy ending." Ujar Kyuhyun dengan senyum evilnya. "Jangan tersenyum seperti itu, Kyu. Kau seperti setan yang akan menghancurkan hubungan orang saja kalau tersenyum seperti itu." Ujar Zhoumi. "Ya! Enak saja!"
"Boo, pelukkanmu sangat erat," Jaejoong tertawa kecil sebelum melepas pelukkannya.
"Yunnie, dari mana kau belajar menjadi orang romantis seperti itu?"
"Aku dari lahir memang sudah romantis kok,"
"Jinjja? Aku tidak percaya,"
"Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada Max. Kami, Jung brothers memang romantis."
"Ada yang menyebut namaku?"
"Ya! Max! Kenapa kau ada di sini? Kau mengganggu! Pergi sana!"
"Shirreo, hyung~ Hahahaha!"
"Dasar, evil!"
Lovin' you tsunaideta kimi no te ga
Lovin' you hanarete yuku
Lovin' you boku no te wa nukumori wo
Lovin' you oboeteru no ni
_TVXQ-Lovin' You_
~TBC~
Fiuuhhh~! Gimana? Cukup romantis, gak? Semoga cukup.. ^^
Mian kalau gak gitu bagus.. (-/\-)
Fujoshi 103, Park Hyo Ra, orangeblast52, snowhitehatesapple, rainy hearT, ma'on clouds, park soohee, dewiikibum, Chinatsu Kajitani Teukkie, Sicasnowers, MiEunMinWook, nurulamelia, doradora dongdong, Kang Rae Mi, Apdian Laruku, Ayuni Lee, Saeko Hichoru, hatakehanahungry, Momoogi, Chinatsu Ara, shin young rin, No Name, Manami Katayanagi, icha22madhen.
Thanks buat reviewnya. Dan terima kasih juga buat flame/kritiknya.. ^^
Gak terasa, ternyata ini udah chap yang ke 10, terima kasih banyak buat readers.. ^^
Dan satu lagi yang gak boleh kelupaan..
HAPPY 8TH ANNIVERSARY OF TVXQ/THSK/DBSK.
Always Keep The Faith!
Dan selamat hari Natal~ ^^
Ayuni Lee:: Itu lirik Ultra Lover-2PM dan Crazy-TVXQ ^^ Gomawo..
Icha22madhen:: Author usahain buat sekuelnya.. Gomawo ^^
Manami Katayanagi:: Thanks banget, ya.. Kata-kata dari chingu membuat hati author tenang *Jiahh* ^^ Gomawo..
Chap depan 2MIN!
Mian kalau giliran 2min lama.. Sabar ya, readers..
Akhir kata dari author..
Review, please~? Gomawo.. m(_ _)m
