Disclaimer : I do not own Akatsuki no Yona, but Hakuya and Yohime my Own.
.
Chapter 10 – The Honourific Name of Princess
.
"PANAAAAAAAS..." ujar Yona mengayunkan telapak tangannya yang barusan memegang dahi Yohime.
"dia demam tinggi..." ujar Yun menempelkan telapak tangannya ke dahi Yohime yang terlelap di gendongan Haku "apa mungkin karena pengendalian api yang berlebihan?".
"kalau kau lihat bagaimana dia menggunakan apinya barusan, tidak salah lagi" sahut Haku.
"apa tak sebaiknya kita berkemah saja agar Yohime-sama bisa istirahat?" ujar Kija cemas.
"masalahnya, Hime-sama satu ini pasti akan menyuruh kita untuk tetap melanjutkan perjalanan meski kondisi tubuhnya sendiri tak sehat seperti sekarang... lain cerita jika orang lain yang tak sehat, baru dia mau berhenti, dasar..." gerutu Haku.
"benar sekali..." angguk Yona pasrah.
"tapi kita tak bisa menginap di desa Seiryuu, apa boleh buat... kita cari sungai dulu di dekat sini, baru kita berkemah..." ujar Yun.
Baru separuh jalan, Kija ikut tumbang karena kelelahan akibat menggali sekuat tenaga.
Tiba-tiba, Seiryuu berlari ke suatu tempat sehingga mereka menyusulnya. Ternyata Seiryuu lari ke arah sungai, yang mengejutkan mereka adalah ketika Seiryuu tiba-tiba terjun ke sungai. Rupanya ia menangkap ikan yang lalu ia serahkan pada Kija.
"Yohime, bangun... makan sedikit dan minum obat, kita makan ikan hari ini" ujar Yun berusaha membangunkan Yohime.
"aku seperti melihat seorang ibu sedang merawat anaknya yang sedang sakit" gumam Haku.
"aku dengar itu, bodoh" ujar Yohime berusaha menahan tawa.
"Yohime, ini..." ujar Shina menyerahkan mangkuk porsinya.
Sadar kalau Seiryuu ingin memberikan bagiannya, Yohime menolak secara halus "Yun sudah memberikan bagianku, makan saja bagianmu... terima kasih, Seiryuu".
.
"aku heran, kalian berdua benar-benar Hime-sama atau bukan? omong-omong, apa kakakmu memang begitu?" tanya Yun.
"kenapa dengan kakakku?".
"dengan Seiryuu, dia tak bilang begitu karena Seiryuu memanggil nama kecilnya langsung... tapi padaku dan Kija yang baru bergabung, dia meminta kami untuk tak memanggilnya Hime-sama, kan? malah lebih memilih dipanggil dengan nama kecilnya saja".
Yona ingat saat Kija baru bergabung dengan mereka, Kija sempat memanggil Yohime dengan sebutan Hime-sama dan Yohime langsung memintanya untuk tak menyebutnya Hime-sama, ia bahkan meminta Kija memanggilnya dengan namanya saja. Bagi Kija, memanggil Hime-sama yang menjadi majikannya hanya dengan nama kecilnya merupakan hal yang lancang, karena itu akhirnya Kija memanggil Yohime dengan sebutan yang sama dengan Haku, nama Yohime ditambah embel-embel -sama. Yohime hanya menjawab 'terserah' sambil tersenyum pada Kija dan mengatakan bahwa itu untuk membedakannya dengan adiknya.
"karena Yohime bilang kalau itu karena kita berteman, apa boleh buat... toh, dengan begini jadi lebih mudah membedakan kalian berdua... lalu, apa aku boleh memanggilmu dengan namamu saja? seperti aku memanggil Yohime, boleh aku memanggilmu Yona? Hime-sama itu terlalu panjang dan merepotkan jika diucapkan...".
Yona menutup mulutnya dan tersipu "kau manis sekali, Yun".
"apanya!?"
.
Setelah bicara dengan Haku soal nama untuk Seiryuu dan mendapat nama untuk Seiryuu, yaitu Shina, Yona teringat percakapannya dengan Yun barusan.
"aku tak terlalu memperhatikannya, tapi karena Yun membicarakannya... apa kira-kira kau tahu kenapa kak Yohime bicara begitu? soalnya, seingatku saat di istana, kak Yohime tidak terlalu ambil pusing soal kecil begitu...".
"kadang hal yang kita anggap kecil, bisa jadi sebenarnya berdampak besar bagi seseorang, aku bukan Hakuya yang bisa menebak pikirannya... tapi ini kesempatan, biarkan aku bicara dengan Yohime-sama soal ini" ujar Haku.
Baru saja bicara begitu, mereka berdua menemukan Yohime pergi ke tepi sungai. Setelah Haku meminta Yona kembali saja, Haku menghampiri Yohime.
"memangnya tak apa-apa jika kau jalan-jalan begitu, Yohime-sama?"
"kebetulan, Haku... ada yang ingin kubicarakan denganmu..." ujar Yohime berdiri.
"apa itu?".
"saat aku berusaha menjebol dinding batu menggunakan api, kau menghentikanku dengan cara memelukku dari belakang dan memanggilku Hime-sama, ingat?".
"maafkan aku, atas kelancanganku, itu...".
"tak masalah, aku mengerti kau melakukan itu untuk menghentikanku..." ujar Yohime menoleh ke belakang dan tersenyum dengan ekspresi yang sama dengan Yona barusan "tapi jangan lagi panggil aku Hime-sama... dengan kau memelukku sambil memanggilku Hime-sama, membuat aku merasa... seolah Hakuya yang sedang memelukku...".
Haku menutupi wajahnya dan terkekeh, berlutut di depan Yohime "maafkan aku... bagaimana aku bisa lupa? Hakuya selalu memanggilmu dengan sebutan 'Hime' atau 'Hime-sama', karena itulah... kau tak ingin ada orang lain yang memanggilmu seperti cara Hakuya memanggilmu, karena kau tak ingin teringat pada Hakuya?".
"Yona memintamu untuk tetap memanggilnya 'Hime-sama' karena ia ingin setidaknya ada satu orang yang takkan lupa bahwa ia adalah anak raja Il, dan yang membedakanku dengannya hanya apa yang kami butuhkan... bagiku, keberadaanmu, Haku, sebagai pengawal Yona yang tetap berada di sampingnya meski ayahanda telah tiada, itu saja sudah cukup menjadi pengingat bahwa kami adalah putri kerajaan Kouka yang ditinggalkan oleh ayahanda, oleh raja Il... tapi pengawalku hanya ada satu... hanya dia satu-satunya orang yang boleh memanggilku 'Hime-sama'..." ujar Yohime mendongak, menatap bulan sebelum menatap Haku dan memegangi dadanya "maafkan keegoisanku tapi mengertilah, aku tahu tak ada seorangpun yang sudi dijadikan sebagai pengganti orang yang telah tiada... aku tak pernah menginginkan kau menjadi pengganti Hakuya, karena bagiku Haku tetaplah Haku tapi dengan wajah, suara dan sentuhan yang mirip dengannya... jika kau memanggilku 'Hime-sama', jadi terasa seolah Hakuya yang melakukannya bagiku... karena itulah... kumohon... jangan katakan ini pada siapapun dan jangan singgung apapun mengenai Hakuya di hadapanku, hanya untuk sementara... masih terasa sangat sakit bagiku hanya dengan mendengar namanya...".
"kalau begitu, kenapa kau tak menangis?".
"keras kepala... sudah kubilang, kan? air mataku sudah kering..." sahut Yohime sebelum pergi. Mendengar ucapan Yohime, Haku mengerutkan kening, hanya bisa diam menatap bulan yang bersinar temaram.
