A/N: di titik ini saia merasa cerita ini FAIL. Sangat FAIL. Benar2 FAIL *jedotin kepala* Sudah dibuatin plot juga jalan ceritanya nggak bisa bener2 jelas. Separuh jiwaku *bleh* pingin berhenti aja, tapi separo yang lainnya ngotot namatin. Jadi gimana enaknya, pembaca? TTATT
"The fourth quarter nearly finish, while the scores are still chasing one another. Now ShinRa is equal to Junon at eighty seven. Will one of the superiors scores, or this battle will end draw?"
Bersamaan dengan komentar komentator, pemain jangkung berseragam biru terus menerobos pertahanan lawannya. Lihai sekali, semua penjaga berhasil ia lewati nyaris tanpa usaha berarti.
"Rude! Defend!" seru sala satu lawannya. Pemuda yang mengenakan topi beanie itu bersorak singkat ketika sang defender terakhir mampu merebut bola. Bola yang serta merta dioper padanya segera digiring menuju ring.
"Ten seconds! Will this ShinRa captain bring a sweet victory to his team?"
Sang kapten terus berlari dan menghindari serangan sekuat tenaganya. Paru-parunya sampai sakit tiap kali menarik nafas. Namun ia terus mengarahkan pandangannya ke tujuan, tak ada niat berhenti sedikitpun.
"Five!"
Ya ampun, tinggal lima detik.
Separuh spectatorsberdiri dari bangkunya.
"Four! Three! Two! One!"
.
.
.
BLAM!
Penonton menggila dalam euforia.
Hug and Kiss
Things to experience when you have friends along your path
Chapter 10: SERIOUS
.
.
=xoxo=
"You're acting pretty worked up over there."
-Kunsel, FFVII: CC-
Rutinitas bergulir lagi. Ya, selama beberapa hari Kunsel tiba-tiba jadi pahlawan. Ia mendapat tepukan bangga para Firan yang kebetulan berpapasan dengannya. Beberapa gadis sekarang mulai tersipu saat ia melenggang melewati mereka. Namun tak lama ia kembali jadi pelajar yang biasa-biasa saja.
Jam tiga sore Kunsel kembali termangu di kursinya. Kelas Profesor Sephiroth membahas bab baru tentang partikel radioaktif. Itu seharusnya topik yang menarik, tapi herannya tidak membuat Kunsel tertarik.
Tidak perlu heran, sekarang tak ada yang lain di otak laki-laki bertopi itu selain omongan pelatihnya.
.
.
"Dang, dude! You made us flutter!"Zack masuk dan langsung menyambit Kunsel dengan kaos merah.
Kunsel menjauhkan kaos Zack dari wajahnya, mengrenyit gara-gara baunya yang apak. Sesaat kemudian ia menyadari badannya sendiri lebih apak, jadi memutuskan tidak mengomentari itu. Kunsel tersenyum lebar. Katanya, "Siapa juga yang menyuruhmu berkibar?"
"Yang benar berdebar-debar, Konyol. Sial. Rasanya seperti jatuh cinta."
Kunsel melotot ngeri. Tapi kemudian kedua sobat karib tertawa, terus ngobrol. Tak lama setelahnya pelatih tim basket ShinRa masuk ke ruang ganti. Kemenangan tidak membuat wajahnya berseri-seri.
"Ada apa, Coach?"
"Tidak. Aku hanya berpikir bagaimana caranya dapat pemain bagus kurang dari seminggu."
Zack, sambil berpakaian, bertanya heran, "Memangnya kenapa dengan pemain kita?"
"Bukan begitu. Aku hanya tidak menyangka tahun ini pertandingan menjadi lahan pembantaian. Akibatnya kita kena imbasnya. Rude itu pemain cadangan terakhir," jelasnya lesu.
Kedua remaja bertukar pandang.
Waktu itu satu-satunya solusi yang dapat mereka tawarkan adalah bahwa Zack bersedia dijadikan pemain cadangan. Itu juga karena Zack ternyata cukup gila untuk mengemukakan pendapatnya.
.
.
Kunsel tak bisa benar-benar menganggap serius koar si Jabrik. Mana mungkin Zack yang bahkan nggak bisa men-dribble lurus itu ikutan di pertandingan seserius Midgar Basketball League? Apalagi faktanya, Zack memang nggak bisa serius. Pemuda itu benar-benar tak rela melihat laga yang dicintainya berubah jadi tempat lawakan.
Kunsel menggeleng. Sekali lagi melirik jam dinding, bertanya-tanya kenapa hari itu terasa sangat panjang. Ada niat untuk tidur, tapi segera pupus ketika Kunsel ingat di kelas siapa dia berada sekarang. Sebosan-bosannya dirinya sekarang, ia masih sayang nyawa.
.
.
=xoxo=
Hal pertama yang dilakukannya setelah bebas yaitu berbelok ke bagian selatan gedung S. Di sana ada lapangan basket indooryang nyaris tak pernah digunakan.
Baiklah, sekarang dari mana harus mulai? Aha. Pemuda itu meraih ke dalam rak bola dan mengambil satu bola. Seketika matanya berbinar. Dan kali ini bukan binar night mode Makoeyes.
Si pemuda bertopi baseball hitam berjalan ke hadapan ring, agak gontai. Namun, tepat ketika wajahnya menengadah untuk melihat ring,
ia merasakan hidupnya telah kembali.
Bam bam bam…
Ia memantul-mantulkan bolanya lihai dan mengambil ancang-ancang shooting.
"Kau tahu kenapa aku suka basket?" sebuah suara bergetar dalam benaknya. "Karena dalam basket, aku tahu apa tujuanku."
Dia mengamati ring yang menjulang menantangnya. Pantulan bola di tangannya semakin cepat.
"Apa tujuanmu?"
"Tujuanku? Hahaha. Apakah itu penting? Aku toh akan mati sebelum mewujudkannya." Suara itu muncul dan memudar, tetapi semakin keras ketika muncul kembali. "Tapi kau, kau berbeda. Kau haruspunyatujuan. Dan setelah itu, kau harus mengejarnya. Jangan pernah lupa,berjuang meraih cita-cita(*)adalah nama belakangmu."
Serta merta sosok itu menembakkan bola. Bola yang dilempar dari tengah lapangan itu sempat menggelinding di pinggiran ring, sebelum masuk ke dalamnya dengan sukses.
Ia menghembuskan nafas. Kelegaan maksimum menyejukkan hatinya. Senang. Puas.
"Belum kehilangan sentuhan, eh?" kata sebuah suara lagi.
Tunggu. Itu suara yang berbeda.
Apa?!
Segera pemuda itu berbalik. Sosok kapten basket Firaga telah bersandar di dinding, mengamatinya, tersenyum misterius.
.
.
=xoxo=
"Aku kan sudah bilang aku nggak membuntutimu! Setelah kelas terakhirku aku memang berniat latihan di lapangan itu. Hei! Apa kau marah? Rufus! Ya, aku ingat, namamu Rufus, kan? Hei! Bisa tolong berhenti sebentar?"
Sekarang Kunsel dan orang itu menaiki tangga dengan cepat. Orang itu tak berbalik sedikitpun selama Kunsel berusaha mengajaknya bicara.
"Kau punya kemampuan. Kenapa nggak coba main dulu?"
Kunsel terus mengikuti langkah cepat si pirang, 'kloning'-nya. Orang itu tidak melambatkan langkah sedikitpun setelah menaiki sekian banyak tangga. Ngos-ngosan Kunsel menyambangi kecepatan orang itu.
Yah, itu hal bagus. Orang ini punya stamina.
"Saat ini kami benar-benar butuh pemain. Kami tidak bisa mendapatkannya dengan mudah karena semua atlet yang baik main untuk cabang olahraga lain. Kalau kau bisa meng-cover, kami bakal sangat terbantu. Pertandingannya masih empat hari. Kalau latihan mulai sekarang, aku yakin kita bisa bermain dengan baik nanti."
Dia berbelok ke lorong tangga yang lain, masih tak bergeming. Kunsel mengikutinya terus, tak mau menyerah. Dia menjelaskan kemenangan yang tinggal sejengkal jauhnya. Dia bahkan mulai menceritakan betapa betapa besar keinginan pribadinya untuk menang.
Sampai di satu titik Kunsel nekat mendahuluinya dan menyetopnya dari depan.
"Kumohon, bergabunglah."
'Atau si gila Zack yang bakal bergabung dan kacaulah pertandingan itu,'pikirnya putus asa.
Orang itu menatapnya—setidaknya kelihatannya begitu. Dan meskipun mereka sama-sama pakai topi baseball hitam, ia dapat merasakan pandangan orang itu bisa menembusnya.
"Not interested,"tukas orang itu datar.
"Kau nggak bisa berbohong. Aku mengawasimu, dan percaya, deh, aku tahu orang mana yang benar-benar ingin bermain."
"Apakah aku benar-benar ingin bermain atau tidak bukan urusanmu." Ia melewati Kunsel dengan gesit.
Apa Kunsel akan menyerah sekarang?
Belum.
"Pertandingan ini benar-benar penting buatku! Basket adalah tujuanku hidup!"
Hanya Gaia yang tahu apa yang membuat orang itu berhenti menjauh. Tetapi syukurlah orang itu mau berhenti.
"Aku yakin kau pasti tahu bagaimana rasanya berada sangat dekat dengan impianmu. Seumur hidup aku selalu bermimpi jadi kapten tim basket, dan bermain di kelas dunia suatu hari nanti. Sekarang aku benar-benar jadi kapten. Tinggal selangkah lagi menuju impianku yang sesungguhnya. Kalau kau ada di posisiku, kau nggak mungkin melepas impianmu begitu saja hanya gara-gara tidak cukup keras berusaha, kan?" Kunsel menambahkan, "Itu sebabnya aku nggak akan menyerah untuk mengajakmu bergabung."
Omongan Kunsel mungkin menyentuhnya. Bahkan dari belakang orang itu tampak bimbang beberapa saat. Akan tetapi ia kembali dengan jawaban yang tak pernah dipertimbangkan.
"Aku tidak tahu rasanya punya impian. Permisi."
.
.
=xoxo=
Ternyata kali inipun si Pirang terpaksa menimbun diri dengan buku-buku. Disisirnya jajaran rak kelas 600 perpustakaan utama ShinRa. Secara asal tangannya menarik sesuatu dari sana. Dia pun kembali ke bangku tempat ia biasa membaca—bangku mahoni besar di pojokan—dengan sebuah bacaan usang.
Kata seseorang acquaintance, semua tindakan hampir pasti ada tujuannya. Membaca ada tujuannya, yaitu untuk memperoleh informasi mengenai sesuatu, tetapi si pemuda sama sekali tidak tahu apa tujuannya mengambil buku itu dari raknya.
Juga tentang tujuan hidupnya, ia tak yakin sama sekali.
Tadinya, ia kira ia memiliki tujuan, atau paling tidak pedoman. Tapi suatu hari pedoman itu pergi, dan dirinya pun terombang-ambing. Rasanya sama saja seperti kapal muatan yang tahu-tahu kehilangan kapal pemandu di tengah badai. Tinggal tunggu saja sampai badai itu melenyapkannya.
"Semua manusia hidup untuk dirinya sendiri. Suatu saat kalau aku pergi, kau pasti mengerti. Kau akan melanjutkan hidupmu. Hidupmu sendiri."
Lalu ingatlah dia akan orang itu dan senyumannya. Wajah orang itu tergambar jelas. Matanya yang biru dan rambutnya yang pirang. Baju necisnya. Caranya menyisir rambut. Caranya menyebut namanya.
Rasanya punya sahabat…
Ia cepat-cepat mengenyahkan memori lama dari pikirannya. Buru-buru ia memfokuskan perhatian ke jilid lembaran kekuningan tadi. Judulnya Maladies and Their Cures. Terkejut, semakin diselaminya judul buku tersebut.
Titel itu menyebabkan ingatannya kembali pada sosoknya yang telah tiada. Tidak juga. Ia tidak pernah lupa dia, atau berniat melupakannya.
Tak lama kemudian ia bangkit berdiri, keluar dari perpustakaan, meninggalkan buku itu di meja dan membiarkan angin dari jendela yang terbuka membalik halaman-halamannya.
[Page 643, Starscar Syndrome—Geostigma]
.
.
=xoxo=
"Ingat! Prioritas kalian adalah bermain tanpa cedera!" pelatih ShinRaga berteriak-teriak dari tepi lapangan. Sementara itu timnya terus mengejar ketinggalan.
Kali ini lawan mereka berasal dari Golden Province, provinsi yang terkenal karena amusement park-nya, Gold Saucer. Sebuah tim yang ganasnya luar biasa.
Pemain lawan menyeringai mendengar komando itu. Dengan sengaja ia berlari menerjang seorang pemain ShinRa yang sedang lengah.
"Rude, awas!"
Peringatan Kunsel terlambat.
Orang bertubuh tinggi besar itu menabrak Rude keras, membuatnya terseret sambil memegangi kaki.
Dengan segera Kunsel menengok ke arah wasit. Sungguh tak bisa dipercaya apa yang dilakukan wasit itu. Dia bersiul-siul seakan-akan ini adalah liburan musim panasnya.
Kunsel melempar pandangan mengutuk ke si wasit pendek itu. Wasit itu hanya pura-pura tidak melihatnya.
.
.
"&*^%#! Ini yang kalian namakan pertandingan?! Dasar bedebah nggak beradab!" umpat Reno emosi. Sementara si ia sibuk mengacung-acungkan jari tengah, Zack membantu Kunsel memapah Rude.
"Kamu nggak papa? Demi rambut Sephiroth, kakimu bengkak tuh!"
"Nggak perlu teriak begitu, Zack," kata Kunsel kesal. "Tanpa lihat dia juga sudah tahu," katanya mewakili si teman yang kesakitan.
"Gila, ini pertandingan paling menjijikkan yang pernah kulihat!" sentak Reno dari belakang. "Rude itu cuma pemain cadangan!"
Pak Pelatih tergopoh-gopoh menghampiri Kunsel.
"Aku sudah bilang, sebisa mungkin hindarilah cedera. Kau bukannya berhati-hati malah berusaha mencetak angka."
"Lihatlah, Coach, sekarang skor kita hanya ketinggalan empat belas. Di kuarter terakhir kita bisa mengungguli mereka."
Coach dan anak asuhnya itu menengok bangku cadangan. Duduklah seorang pemuda, tidak melihat ke arah mereka. Matanya yang biru ganjil menyorot ring musuh.
"Hah… Kau yakin tentang ini, Kunsel?" tanya si pria awal lima puluhan ragu-ragu.
"Sangat yakin," tegas sang kapten mantap.
Pelatih bergumam tidak jelas. Kemudian serunya, "Rufus Shinra, giliranmu bermain."
.
.
=xoxo=
Di kuarter ke empat, tim dari Golden Province bermain lebih buas lagi. Satu per satu pemain ShinRa tumbang. Dan secara ekstrimnya, meski ada lima pemain yang bertahan, hanya satu yang benar-benar bermain maksimal. Dialah Rufus Shinra, sang pemain baru.
Ketertarikan penonton yang sudah memudar sejak kuarter ke-dua kembali kini. Melihat betapa jagonya anak baru itu melewati musuh, mereka jadi antusias. Semangat Kunsel pun berkobar kembali. Kelelahan yang menumpuk ia abaikan demi menyuport Rufus.
Rufus sendiri berhasil menyamakan kedudukan. Dibantu Kunsel ia mencetak empat belas angka. Tiga angka terakhir ia raih setelah akhirnya berhasil melakukan tripoint. Sekarang tinggal satu serangan, dan berbuah manis sudah latihan kerasnya selama empat hari.
"Fifteen second! Oh my God this is the most destining day in my life! This occasion is repeated one more time! Let's see if this boy could make a miracle."
Memang hanya keajaiban yang bisa membuat mereka menang. Rufus masih di daerah pertahanannya sendiri, dan sekarang kelima pemain tidak menyerang, tetapi mengepungnya. Sebenarnya, akan lebih mudah bagi Rufus kalau mereka semua menyerang. Dengan begitu ia bisa mengecoh mereka dan melenggang leluasa ke ring mereka. Tapi dia harus melompati pagar manusia itu atau menghilang untuk dapat mengibuli mereka sekarang. Dan yang jelas, rekan-rekan satu tim tak bisa diandalkan karena semuanya sudah tidak punya tenaga.
Ia mendribble ke kiri dan ke kanan, tapi tak menemukan celah untuk menerabas. Dan waktu semakin menipis.
"Oh my God. This game likely ends draw. Ten! Nine!"
"Rufus!" Ia dipanggil tiba-tiba.
Kunsel sudah ada di sisi seberang. Ia sendiri heran bagaimana lawan bisa luput menjaganya. Ini adalah kesempatan emas. Kunsel bebas. Hanya saja ego yang selalu ada dalam dirinya takkan membiarkan bola itu menerjang ring kalau bukan dirinya sendiri yang melakukannya.
"Capai tujuanmu, hanya itu yang harus kauperhatikan. Singkirkan yang lain."
"Five! Four!"
.
.
.
"Kau bukan kau yang dulu. Kau tahu apa yang harus kaulakukan."
.
.
.
Jadi dia melambungkan bola setinggi-tingginya, melewati pagar manusia. Membiarkan Kunsel menerimanya.
Lawan-lawannya berteriak-teriak marah. Seketika mereka berbalik, lalu berlari ke arah Kunsel
"Three!"
Kunsel sudah melakukan tembakan. Bola menggelinding di ring.
"Two!"
Oh ayolah!
"One!"
.
.
.
.
Syuut…
BRUKH BRUK BRUAGH!
.
.
=xoxo=
Setelah kemenangan itu, Rufus mulai dikelilingi orang-orang merepotkan. Bahkan saat ini dia dipaksa mampir ke kamar 89, kamar di mana Kunsel berbaring tak bisa bergerak karena lebam di seluruh tubuhnya. Yeah, para penggilas brutal itu menabraknya tanpa ampun, tapi ShinRa menang.Yeah, Rufus Shinra yang memiliki andil besar—walaupun ia mempunyai nama yang sangat unik—jadi pahlawan juga sekarang.
Yeah, mulai hari itu Rufus dianggap sebagai teman Kunsel. Dan, yeah, kelihatannya lima sekawan mendapat anggota baru. Anggota baru yang dipaksa bergabung.
.
.
=toBcontinued=
(*) berjuang mencapai cita-cita: strive (*hint: this is a HINT! ;p penyingkapannya aka nada di chapter skitar 16-18. Hahaha! Stay tuned!)
Huhu. Sebenernya ini chapter saia revisi hiks hiks. Reader yang udah baca unrevised versionnya mungkin sudah tau penyelesaian dari suatu ketidakcocokan di chapter ini. Atau mungkin kalian sudah pada lupa? Hahaha. Bagus, malah, kalo pada lupa. Oke. Selamat menikmati next chapter hohoho!
