Jaejoong tidak pernah tahu jika menjadi "nanny yang baik" berarti semacam menjadi "pembantu merangkap ibu yang baik." Bermain truth or dare dengan "bocah" ini sungguh menjebak.
Jaejoong dibopong secara paksa memasuki kamarnya, dengan seorang "bayi" yang mengaku bosan tidur sendiri. Ia kira ia hanya akan menemani Yunho hingga ia tertidur, tapi "bocah" itu sungguh jahil. Ia memaksa Jaejoong untuk bernyanyi dan menari Tiga Beruang selama satu jam, dan membacakan sebuah cerita pengantar tidur bertema pembunuhan. Ia diberi pelukan peremuk tulang rusuk oleh bayi beruang itu, dan dipaksa menemani dia tidur di dalam pelukannya yang "hangat".
Tidak susah membangunkan Yunho sebenarnya. Beruang itu memainkan bulu mata Jaejoong saat ia tertidur, dan membuat Jaejoong melayangkan "belaian" pengusir lalat terbaiknya tepat ke wajah Yunho. Dan, dia bangun. Lebih tepatnya Jaejoong bangun karena teriakan selamat pagi Yunho.
Jaejoong mengira kata-kata Yunho kemarin berarti lain. Namun ternyata, menjadi "nanny yang baik" untuk "bayi" ini, sangatlah menguras kesabaran.
Saat mandi, kau tahu. Ia hampir saja menenggelamkan pria itu jika dia tetap memaksanya untuk mandi bersama.
"Tapi bagaimana jika aku tenggelam?" kata "bayi" menyebalkan yang tingginya 4 kali tinggi bath tub itu.
Jaejoong melotot, "Kau bisa bangun dari khayalanmu berenang di Atlantis, dan duduk secara tegak! Astaga Yunho! Tub itu tidak lebih tinggi dari lututmu!"
"Tapi kau kan nanny ku! Kau harus memastikan aku mandi dengan bersih!"
Jaejoong sudah bersiap-siap mengikat leher Yunho dengan selang shower saat ponsel pria itu berbunyi.
"Halo? Kau meneleponku sepagi ini? Tidak kah kau tahu pengasuhku sedang bersiap-siap memandikanku?"
Jaejoong benar-benar merasa... Hah!
Wajah Yunho berubah masam, "Aku tidak ingat menyetujui rapat sepagi ini. Aku bahkan belum mandi."
Jaejoong menunggu beberapa saat hingga Yunho memutus sambungan teleponnya, lalu menceletuk "Kau harus bekerja! Aha! Aku akan menyiapkan sarapanmu selagi kau mandi dengan bersih! Aku tahu kau tidak akan berangkat kerja tanpa mandi yang bersih." ia tertawa menang, saat Yunho membuka ponselnya lagi.
"Batalkan saja jadwalku hari ini. Aku mendadak sakit, dan tolong jangan ada telepon lagi untuk 24 jam kedepan."
Dan sekali lagi Jaejoong benar-benar merasa... Hah!
Akhirnya dengan 45 menit perdebatan tentang mandi dengan bersih. Jaejoong bisa bernapas lega saat Yunho merelakannya pergi ke pasar(?) untuk berbelanja makanan spesial yang ia karang ceritanya semenarik mungkin. Mungkin berbohong baik juga jika itu bisa menyelamatkanmu dari mandi bersama pria pedo.
Pada kenyataannya, Jaejoong hanya pergi ke Mc Donalds yang hanya berjarak setengah mil, dan memesan empat egg muffin. Lalu menatanya di piring. Ia sudah terlalu malas meladeni pria itu lebih jauh lagi.
"Enak kan?" Katanya.
Yunho mengangguk dengan mulut penuh makanan. Tidak biasanya, dia makan makanannya sendiri hari ini.
"Apa kau mau mengunjungi orang tuamu lagi hari ini?"
Jaejoong merapikan poni rambut Yunho, dan mendesah.
"Kita baru saja berkunjung kemarin lusa." ia tidak mengira jika pria setampan ini, bisa berubah menjadi beruang menyebalkan seperti pagi tadi.
Bagaimana caranya menjaga dirimu tetap bahagia, saat masa kecilmu sekelam itu? Jaejoong sendiri yakin, ia akan berbeda jika mengalami kejadian seperti Yunho dulu.
"Bagaimana dengan mengunjungi orang tuamu?"
Yunho berhenti mengunyah, dan menaruh egg muffin ke tiganya kembali ke piring.
Jaejoong yang selalu melihat sisi bahagia Yunho, untuk sedetik sadar, bahwa pria ini juga manusia yang bisa memiliki rasa sakit. Seperti yang terlihat di matanya saat ini.
Dia menatap egg muffinnya yang sepertinya lebih menarik daripada Jaejoong. Namun tetap bungkam.
Jaejoong mendorong belakang kepala Yunho dan mencium pria itu. Satu tindakan yang bahkan tidak bisa ia sangkal, berasal dari hatinya sendiri.
"Ayo kita pergi bersama-sama mengunjungi mereka."
.
.
Yunho mengemudikan dalam diam ia menggigiti kepalan tangannya berkali-kali, dan tanpa bertanya pun, Jaejoong tahu pria ini masih menyimpan ketakutan tersendiri mengunjungi orang tuanya.
Mereka tiba disebuah tempat di lereng bukit tinggi yang menghadap jauh dari laut. Jaejoong mencium wangi bunga dan angin kering begitu berdiri di luar mobil.
Ia mengikuti Yunho mendaki tangga kecil dan berbelok menghadap sebuah gundukan tanah ditumbuhi rumput dan bunga-bunga kuning kecil yang indah.
Ia bisa melihat bagaimana gugupnya Yunho berusaha menahan perasaannya. Pria itu menaruh ikatan bunga Lily putih kecil dengan tangan bergetar.
Jaejoong menata barang-barang yang ia bawa. Buah, bunga, arak, dan lain sebagainya. Kemudian memberi hormat dalam diam.
Yunho masih terus saja menatapi makam itu, dan Jaejoong pikir mungkin ia memerlukan waktunya untuk sendiri, jadi ia berdiri dan mencari tempat untuk memberi Yunho privasi.
Pria itu meraih pergelangan tangan Jaejoong, "Tunggu, aku mohon. Sebentar saja." Jaejoong duduk menyebelahi Yunho dan menggenggam tangan Yunho.
Ada banyak hal yang bisa ia katakan, namun tidak ada satupun yang keluar dari mulutnya. Ia sendiri tidak bisa membayangkan jika kehilangan kedua orang tuanya dalam umur yang begitu muda, dan dengan cara yang...
Yunho menarik napasnya dalam-dalam hingga dadanya membusung, lalu menutup kedua matanya sambil meraapalkan "Aku adalah pria yang kuat, aku adalah pria yang kuat." berkali-kali.
Setelah beberapa lama ia menoleh pada Jaejoong dengan raut muka yang lebih cerah.
"Apa kau mau berbicara secara pribadi?" kata Jaejoong. Yunho terlihat memikirkannya, lalu mengangguk.
"Ya. Aku mencintaimu." katanya. Jaejoong mencubit perut pria itu cepat-cepat.
"Maksudku dengan kedua orang tuamu!" dengusnya menahan malu.
Yunho mendesah, dan memandang ke arah perkotaan dibawah sana. "Berbicarapun mereka tidak akan bisa mendengarku, Jae."
Jaejoong bersandar dan mencium pipi Yunho secepat kilat. Yunho menatapnya kaget, dan ia hanya tersenyum maklum. "Kau memang pria yang kuat." ia mengedikan bahu, lalu menepuk kepala Yunho. Seolah bangga dengan anak asuhnya yang sudah dewasa.
.
.
.
"Aku melihatnya kemarin." ujar Dara mencebil lucu. Ia menatap sedih pada boneka-boneka yang ia dandani secara gotik, membelai-belai rambut mereka yang dicat hitam dan putih. Ia mendesah, "Sudah kuduga mereka berdua berpacaran."
"Oppa, kenapa aku sebal sekali melihat mereka berdua?" ujarnya.
Seunghyun meliriknya malas, lalu mendengus keras, "Aku lebih sebal karena kau berpura-pura tidak mengenalku saat itu." ia menepuk-nepuk pelan kakinya yang diperban.
"Apa oppa tidak sadar? Oppa jatuh dengan cara yang super tidak keren, lalu berteriak-teriak seperti orang gila. Apa oppa tidak peduli padaku?" Sandara memprotes.
Kakaknya itu menatapnya skeptis, lalu melemparkan sandal rumahnya kearah Dara. Yang sayangnya(atau untungnya?) meleset.
"Waa! Kau adalah orang jahat!" teriak adiknya itu membuat Seunghyun melotot menyeramkan.
"Lalu bagaimana? Apa aku harus menjadi orang jahat sepertimu lalu membuatnya suka kepadaku? Oppa, kau harus membantuku!" rengek Dara.
Seunghyun mendesah dan mengurut dadanya mencoba sabar. Tidak biasanya adiknya itu se rewel ini. Meskipun tidak berarti biasanya ia tidak rewel. Hanya saja, pria yang dulu ia sukai saat SD sepertinya membuatnya sangat panik.
"Jung Yunho itu, ya?" ujarnya mengingat-ingat wajah pria yang bersama dengan laki-laki manis yang ia temui beberapa hari lalu. Mungkin jika ia membantu Dara, ia bisa bertemu dengannya lagi.
"Oppa! Jung Yunho itu temanku! Yang aku sukai itu Kim Jaejoong! Pria yang satunya lagi." Seru adiknya itu.
Otak Seunghyun memerlukan beberapa detik untuk memproses informasi itu, sebelum ia menatap Dara kaget.
"Pria yang satunya lagi kau bilang!"
.
.
.
Hola, comprande~
#er awkward
maaf kalau author lama sekali update T^T
jadi musim lalu author ada panggilan untuk dateng ke sebuah camp musim panas gitu. Dan yah, author gak boleh mbeberin sih. tapi nantinya kalian bakal lihat kalau tulisanku berubah jadi agak terpengaruh sama camp itu hehe
BIG THANKS untuk semua reviewer, reader, dan visitor(yg cuma ngintip, gak tertarik, trus close tab) hoho...
ini rahasia, tapi aku gak bakal lanjut nih FF kalau notif review ataupun follow kalian gak menghantui hidupku lewat Gmail -_-
hehehe... pokoknya gracias aja lah, dan see ya~
TEAM LEO!
