A/N: ukh akhirnya update juga. The last chapter! Thanks for review all! Maaf chap sebelumnya nggak bales reviewnya, nggak sempet D:

Maaf kalau misanya soal basa-basi Sena yang dapet beasiswa itu nggak terlalu nyambung dengan cerita aslinya, saya baru baca komiknya emang si Sena ke Notre Damenya pas dia kelas 3 SMA atau kelas berapa nggak tau woho dll dll, yah namanya juga fanfic tidak sesempurna aslinya, hehe

Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata

The Day With You Last Chapter

.

"Selamat ya Sena!" ucap semua anggota Devil Bats yang sekarang sedang mengadakan pesta kecil-kecilan akan Sena yang mendapat beasiswa dari American Football untuk bersekolah di Notre Dame.

Sena hanya tersenyum dan tertawa malu-malu, sedangkan anggota lainnya menepuk punggungnya—lebih tepatnya memukulnya. Semua orang melewati pesta kecil-kecilan ini—kecuali Hiruma karena dia katanya sedang sibuk—dengan senang, kecuali Suzuna, iya Suzuna. Dia memang ikut tertawa, menyelamati Sena, dan bercanda bersama anggota lainnya. Tapi dia merasa sedih, Sena akan pergi keluar negri, meninggalkannya, yah mungkin tidak selamanya, tapi tetap saja, setahun waktu yang cukup lama. Michi pun datang di pesta kecil-kecilan itu, walaupun dia banyak diam dan sedikit tersenyum, mungkin dia juga tidak terlalu senang soal kepindahan Sena, tapi yah apa boleh buat, yang terjadi terjadilah.

"Aku tidak menyangka Sena akan pindah," ucap Suzuna pada Michi saat mereka berduaan saja.

"Yah, aku sudah tidak peduli, itu urusanmu sekarang," balas Michi ketus, walaupun sebenarnya dia hanya menutup-nutupi bahwa dia juga sedih. Padahal baru saja dia bertemu dengan Sena untuk waktu yang cukup lama, tapi akhirnya mereka harus berpisah lagi.

"Hei kalian berdua, kenapa murung? Ayo nikmati pesta!" tiba-tiba Mamori mengajak mereka ikut berpesta.

"Iya Mamo-nee!" balas Suzuna dengan ceria.

Akhrinya pesta pun selesai. Semua anggota sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Saat Suzuna ingin mengambil tasnya di clubhouse, dia melihat Sena disana sendirian. Dia sedang memegang helm eyeshieldnya, helm yang berharga baginya.

Sena pun menoleh ke belakang, dimana Suzuna berdiri melihatnya, "Eh.. Ah.. Su.. Suzuna. Be.. Belum pulang?" tanya Sena, mukanya sedikit memerah.

"Iya, belum, kau sedang apa?" Suzuna balas bertanya, ekspresinya datar, entah karena apa.

"Yah.. aku hanya…" Sena memandangi helm eyeshieldnya lagi, "Aku hanya tidak menyangka, aku akan mendapat beasiswa ke Notre Dame, itu sangat hebat. Padahal awalnya aku hanya pahlawan bohongan.."

Suzuna pun mendekati Sena, mendekati wajahnya dengan wajah Sena, "Menurutku kau pahlawan yang sesungguhnya," setelah itu pun bibir Suzuna mengecup pipi Sena.

"Kau berpikir begitu?" tanya Sena.

"Iya, tentu saja. Eyeshield 21," Suzuna pun berbalik, tapi Sena menghetikannya dengan menggenggam tangannya.

"Tunggu.. Suzuna, kau ingin ke atap?" tawarnya.

"Apa? Untuk apa?" tanya Suzuna, bingung.

"Ikut sajalah," ucap Sena dan mengajak Suzuna pergi keluar dari clubhouse.

Sena dan Suzuna pun pergi ke atas atap Deimon, sambil bergandengan. Entah kenapa pintu menuju atap tidak dikunci, mungkin satpamnya ketiduran sehingga lupa menguncinya, namanya juga sekolah Deimon, yang tidak mungkin menjadi mungkin.

"Sena sebenarnya kenapa sih kita ke atap?" tanya Suzuna.

"Lihat ke atas!" kata Sena sambil menunjukan jari ke atas langit. Suzuna pun mengangkat lehernya, melihat bintang-bintang yang bertaburan berkelipan di langit yang hitam, seperti glitter. Ditambah dengan bulan purnama yang kelihatannya lebih besar dari yang biasanya—tapi ini bukan Supermoon, ini hanya seperti bulan yang terang dengan sangat sempurna.

"Indah.." kata Suzuna.

"Iya, ya… Aku diberitahu Mamori-neechan kalau sekarang bintang-bintang sedang muncul, yah memang tidak terlau banyak."

"Gara-gara polusi cahaya," Suzuna berkata, "Di kota seperti ini sudah jarang muncul bintang-bintang seperti ini, ini pun sudah luar biasa."

"Ya, iya.." Sena menyetujuinya. Mereka menatap bintang, dengan masih sambil bergandengan tangan. Keadaan yang romantis. Suzuna menggenggam tangan Sena lebih erat, sangat erat, dia tidak ingin kehilangannya, tidak ingin lagi.

"Suzuna…" Sena mulai menghilangkan keheningan. "Aku.. aku ingin minta maaf."

Suzuna mengangkat alisnya, "Untuk apa Sena? Aku sudah memaafkanmu 'kan?"

"Entahlah… aku hanya merasa aku masih bersalah kepadamu."

"Tenanglah Sena, kau 'kan temanku. Semoga kau sukses di Notre Dame ya.." entah kenapa Suzuna bisa melontarkan ucapan itu tanpa ragu-ragu, dia memang sedih, tetapi dia turut senang juga atas prestasi yang Sena dapatkan.

Sena tersenyum dan menatap Suzuna, "Suzuna… sebenarnya ada yang ingin kukatakan dari dulu."

Suzuna balas menatapnya, wajahnya sedikit penasaran, dan apakah hanya perasaannya tapi dia mulai merona, "Eh.. apa?"

"I.. itu.." Sena mulai gugup, Suzuna mulai merasakan keringat di tangan Sena yang digenggamnya.

"Apa?" tanya Suzuna dengan suara lembut.

"Berat badanmu berapa?"

"…"

Berat badan yah?

BERAT BADAN?

Berat badan? Jadi itukah yang dia ingin tahu selama ini? Berapa berat badanku? Pikir Suzuna, kacau. Tidak segan-segan Suzuna langsung melepas tangannya dari genggaman Sena, segera mengangkat tangannya lalu menampar pipi Sena dengan sekuat tenaga.

"Jadi itu maksudmu hah? Ingin mengetahui berat badanku? Itu privasiku idiot!" teriak Suzuna kesal.

"Itu.. maaf, bukan, bukan itu maksudku! Aku hanya… Itu anu…" Sena mengelus pipinya yang merah karena ditampar oleh Suzuna.

"Padahal kukira… Ah sudahlah! Dari dulu aku menyukaimu BODOH!" Suzuna pun segera pergi dari atap meninggalkan Sena, dia kesal, kenapa Sena tidak bisa mengucapkan hal itu kepadanya? Sena bodoh! Bodoh! Apakah Sena memang benar-benar menyukaiku seperti yang dikatakan Michi?

Sena hanya diam, memegangi pipinya yang merah, "Aku memang bodoh."

xxx

Seminggu kemudian… Sena sudah berada di bandara Narita, semua anggota Deimon datang, kecuali Suzuna. Suzuna tidak pernah mampir ke Deimon lagi setelah hari itu, Taki mengatakan kalau Suzuna sedang sibuk dan sebagainya, tapi Sena tahu, Suzuna tidak ingin melihatnya.

"Suzuna-chan tidak datang ya?" tanya Mamori, "Apakah kutelepon saja?"

"Ti… Tidak perlu Mamori-neechan," kata Sena, "Lagipula sebentar lagi aku akan berangkat."

"Yah karena itu kutelepon dia," kata Mamori.

"Ja.. Jangan Mamori-neechan, itu.. anu… dia sepertinya sedang sibuk, nanti malah mengganggu lagi!" kata Sena.

Mamori pun hanya menatap Sena dengan bingung. Yah terserah saja deh.

Selain anggota Devil Bats, ada beberapa teman yang datang juga. Keluarganya(itu sih pastilah), teman-teman dari Ojo seperti Shin, Sakuraba, Otawara, dan Takami, lalu ada Kakei dan Mizumachi dan segelintir lainnya, termasuk Riku dan Michi.

Riku melihat pembicaraan Mamori dan Sena, yah sudah pasti ada yang salah. Dia pun segera mengambil handphonenya, menelepon nomor Suzuna.

Sedangkan itu di rumah Suzuna, dia hanya diam di kamarnya, bosan. Taki sudah mengajaknya pergi untuk mengantar Sena, tapi dia tidak mau, dia masih kesal akan Sena yang tidak bisa mengutarkan perasaannya, atau mungkin dia kesal pada diri sendiri karena percaya bahwa Sena memang menyukainya?

"Huh aku ini bodoh… Ternyata Sena memang tidak memiliki perasaan apa pun padaku," kata Suzuna sambil meringkuk di kasurnya.

Lalu tiba-tiba handphonenya berbunyi, dia segera mengangkatnya, dari Riku, apa yang ingin dia bicarakan?

"Halo?" Suzuna mengangkat handphonenya.

"Halo Suzuna, ini aku Riku. Kau tidak datang mengantar Sena?" tanya Riku.

Suzuna bingung harus menjawab apa, dia sedang kesal, dia tidak ingin mengantar Sena, tapi kalau dia tidak mengantar, dia tidak bisa melihat Sena pergi, tapi dia tidak peduli lagi, dia kesal dan marah pada Sena.

"Aku… tidak. Lagi pula dia tidak akan membutuhkanku, dia hanya ingin tahu berat badanku," jawab Suzuna.

"Hah berat badan?" Riku mengulangi bingung, "Eh hei.. jangan sembarangan me—"

"Suzuna-chan!" tiba-tiba bukan suara Riku lagi yang terdengar, itu suara Michi!

"Mi… Michi?" tanya Suzuna bingung.

"Yah ini aku Michi. Siapa lagi? Cepat kau datang kemari! Kau tidak ingin menyesal diakhir 'kan?" katanya dengan nada yang agak membentak.

"Tapi… Aku sudah menyesal, Sena memang tidak menyukaiku.."

"Oh jadi kau pikir aku berbohong? Sena memang menyukaimu! Kau juga menyukainya 'kan? Dianya saja yang terlalu malu untuk mengatakannya, jangan dibawa emosi dulu dong!" Michi mengatakan itu secara beruntun tanpa spasi.

"Mi.. Michi.."

Terdengar Michi membuang nafasnya, "Suzuna, kau menyukainya kan? Cepatlah datang, Sena membutuhkanmu. Tanpamu, harinya akan kacau."

Harinya akan kacau. Hari Sena akan kacau tanpa Suzuna. Saat itu pun Suzuna juga menyadari, tanpa Sena harinya pun akan kacau, seperti saat dia bertengkar dengan Sena, atau pun melihat Sena dengan Michi, kecemburuan, kekacauan. Tetapi hari-hari ketika dia bersama Sena, saat itu terasa bahagia.

Suzuna pun segera bangkit dari kasurnya, dia segera turun ke lantai bawah dengan tergesa-gesa, memakai roller skatenya dengan terburu-buru.

"Suzuna, kau mau kemana?" tanya Ibunya kebingungan

"Ke bandara! Semoga waktunya sempat!" jawab Suzuna lalu segera pergi dari rumahnya.

Dia tahu jarak dari rumah ke bandara Narita tidak dekat, tapi dia terus melaju dengan roller skatenya, tidak menghiraukan keluhan orang-orang yang ditabraknya, dia terus melaju, walaupun dia sangat kelelahan.

Akhirnya dia sampai di bandara, melihat Riku dan Michi menghampirinya. Lalu dia segera bertanya dimana Sena.

"Dia sudah pergi, tapi belum sampai ke pesawat! Cepatlah!" ucap Michi.

"Aku… aku lelah!" keluh Suzuna dengan nafas yang tersenggal-senggal.

Lalu Riku pun mengambil tangan Suzuna, "Sini biar kuantar, pegangan yang kuat."

Riku pun berlari samba memegangi tangan Suzuna, dengan kecepatan cahayanya, dia bisa berlari dengan cepat, tapi Suzuna agak sedikit kewalahan. "Riku! Ini terlalu cepat! Aku pakai roller skate kau ingat?"

Tapi Riku tidak menggubrisnya, dia hanya tersenyum dan tiba-tiba mengerem, lalu akhirnya mengatakan, "Ah itu dia Sena-mu.."

Suzuna pun menegakan tubuhnya, dia berusaha mengambil nafas panjang karena kelelahan. Lalu dia pun melihat Sena. Dia sedang berjalan dikerumunan orang, dengan koper dan tas yang dibawanya. Tanpa basa-basi, Suzuna mengejarnya, mendekati laki-laki itu, "Senaa!"

Sena pun menoleh mendengar suara yang familiar baginya. Dia membelalak kaget, mengira Suzuna tidak akan datang karena dia masih kesal padanya.

"Suzuna kenapa—"

Kata-katanya terpotong saat Suzuna memeluknya, erat. Sena awalnya berusaha menyeimbangkan dirinya, lalu balas memeluk Suzuna.

"Sena, maaf aku terlambat," kata Suzuna.

"Itu.. tidak apa-apa, aku juga minta maaf…" kata Sena.

Suzuna melepaskan pelukannya, "Jadi… kau akan berangkat sekarang?"

"Iya, aku akan berangkat," jawa Sena sambil tersenyum.

Suzuna hanya bisa membalas dengan senyum yang lemah. "Sampai jumpa," dia pun berbalik untuk pergi tapi lagi-lagi, Sena menahan tangannya.

"Suzuna, aku hanya ingin bilang… Aku, aku.." Sena mulai berbicara, tapi pipinya sangat merah padam.

"Ssshh.." ucap Suzuna, "Aku sudah tahu kok," lalu Suzuna pun mendekai wajah Sena untuk menciumnya.

Faktanya, mereka berciuman. Mereka tidak menghiraukan tatapan orang-orang lain, suara-suara rebut yang menggoda mereka, atau pun suara berisik pesawat. Hanya mereka, berciuman, menjadi satu, berada di dunia mereka sendiri.

Akhirnya Suzuna melepaskan mulutnya, "Jadi dadah, Sena, aku menyukaimu."

Sena balas tersenyum, lalu tiba-tiba dia mengambil sesuatu yang berada di lehernya, sebuah kalung. Kalung berhias bola football yang diberikan Suzuna saat itu.

Mata Suzuna membelalak tak percaya, "Kau masih menyimpannya?"

"Tentu saja, karena jimat ini, aku bisa berhasil… Aku.. aku menyukaimu, Suzuna," Sena pun membalas Suzuna dengan ciuman di keningnya. Yah di keningnya, sekarang Sena sudah tambah tinggi, lebih dewasa.

Suzuna tertawa kecil, "Jika kau pulang nanti, mau menjalani hari lagi bersamaku?"

"Tentu," jawab Sena, lalu akhirnya dia pun pergi, melepaskan genggaman tangan Suzuna.

Suzuna hanya melihatnya pergi, tersenyum bahagia, tapi dengan mata berkaca-kaca pula.

Michi, Riku, dan yang lainnya mendekati Suzuna, mulai menggodanya soal mencium Sena, dia tertawa bersama, dan yang mengagetkan Michi pun ikut tersenyum. Sekarang dia dan Michi sudah menjadi teman baik, jadi sudah tidak ada hal yang dirisaukan.

Suzuna pun melihat pesawat yang membawa Sena, walaupun mereka jauh, tapi hati mereka masih dekat.

"Hari-hari bersamamu… itu adalah yang terbaik," itulah kata yang terakhir yang Suzuna dan Sena ucapkan.

The Day With You/End

Special Thanks for: Allah, Keluar saya , Temen-temen saya, Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata dan para readers dan reviewer yang baca fic nggak jelas ini! Love you all!

A/N: Akhirnya selesai juga! YEY! Dan yah.. now I'm hiatus from es21 fandom. Bye bye untuk sementara~ Maafya kalau ada EYD atau mistypo atau aurnya kecepatan (bikinnya sambi buru2 sih)

Review?

Flame? Terserahlah! Yang penting aku senang menyelesaikan cerita ini wuhuuuu~!