"… Sakura yang kukenal itu memiliki resiliensi yang tinggi!"
.
.
allihyun presents
a SasuSaku Fanfiction
Psychologist
AU. Ficlet(s). Typo(s). OOC. Gombal XD
DLDR is on term
Naruto and its chara © Masashi Kishimoto
Psychologist © allihyun
.
Part X
Resiliensi
Yamanaka Ino mulai terjangkit rasa bosan.
Dia mulai mengetukkan kuku-kuku jarinya yang terpoles dengan cat kuku warna peach pucat secara berirama pada meja kafe yang dijadikannya sebagai tempat memangku tangan. Sembari membalik-balik halaman majalah fashion di hadapannya dengan tatapan bosan, gadis itu dengan samar-samar menyenandungkan lagu yang sedang diputar di kafe tempat mereka berada sekarang. Dia sudah bertahan melakukan hal yang sama selama dua puluh menit terakhir tanpa melakukan hal yang lain. Majalah fashion yang tadi dibukanya kini ditutupnya kembali, dia sudah benar-benar bosan sekarang.
Decak kesal menjadi hal pertama yang dilakukannya ketika dilihatnya sahabatnya yang ada di hadapannya masih meyembunyikan wajahnya dalam lipatan tangannya di meja. Tangan kiri Ino yang bebas terulur untuk menyentuh rambut merah jambu Sakura yang berjuntaian berantakan di meja, tapi niat itu diurungkannya. Sebagai gantinya Ino memilih mengalihkan atensinya ke luar. Langit biru yang cerah membentang luas, cuaca yang tidak cocok digunakan untuk bermuram durja.
"Sampai kapan kaumau menunduk begitu terus seolah-olah bangku itu cinta sejatimu begitu, Jidat!" Akhirnya Ino mengeluarkan suaranya. Sakura memilih untuk bergeming.
"Kau masih marah pada pacar gantengmu karena dia melanjutkan studi keluar tanpa kabar?"
Sakura masih tidak mengacuhkannya.
"Hhh, ternyata kau memang masih marah padahal dua minggu lagi … eh, atau kurang, ya? Sasuke sudah mau berangkat, tuh. Kalau sampai saat itu tiba kalian masih seperti ini, ya sudah, putus saj—"
"MANA BISA SEGAMPANG ITU PUTUS, BODOH!" Sakura langsung menggebrak meja lengkap dengan teriakan delapan oktafnya. Diabaikannya suara hardikan-hardikan tipis yang mengitari mereka, mengingat mereka sekarang ada di tempat umum. Wajahnya yang sedari tadi tersembunyi dalam lipatan tangannya terangkat, menampilkan lingkaran hitam yang ada di bawah matanya.
"Yah, aku tahu kau bakalan bilang begitu, sih. Aku juga tidak sungguh-sungguh mengatakan kalian untuk putus, tahu! Kalau tidak bilang begitu kau mana mau meresponku, dari tadi, lho!" Ino mengibas-ngibaskan tangannya main-main ke arah wajah sahabatnya yang berekspresi dramatis. Tawanya ditahan di ujung lidah ketika melihat mimik wajah aneh yang ditunjukkan Sakua, karena … demi apa pun,hanya orang gila yang menertawakan sahabatnya di saat seperti ini, dan Ino bukan orang gila.
"Kautahu aku marah bukan karena dia mau lanjut studi ke Columbia!"
"Hmmm,"
"Apa salahnya sih memberitahuku duluan kalau dia ikut program studi keluar negeri? Malahan aku harus tahu dari orang yang bukan siapa-siapa, memangnya dia pikir aku akan menghalanginya kalau tahu duluan? Sasuke-kun harusnya tahu kalau aku bukan tipikal gadis seperti itu!"
"Tapi kau sekarang kelihatannya jadi gadis yang seperti itu, lho, Jidat!"
Sakura tidak menjawab. Strawberry milkshake dihadapannya disedot sekeras mungkin hingga menimbulkan suara berisik yang risih. Jelas,gadis itu tidak suka dengan pernyataan Ino.
"Bukannya Sasuke sudah bilang padamu soal alasannya tidak bilang padamu?" Sakura mengangguk, "Ayolah, pinky, dia tidak bilang padamu bukan untuk alasan yang jelek, kan? Dia cuma kurang berpikir panjang tentang konsekuensi yang harus dihadapinya setelah itu. Well, dia mungkin lupa pacarnya kalau marah bisa seram sekali."
"Sasuke-kun bilang dia cuma ingin membuatku terkejut, dan nyatanya aku memang terkejut. Huhu, Inoooooo aku sangat membencinyaaaa!"
Tidak butuh waktu seumur hidup bagi Ino untuk mengerti kalau yang baru saja keluar dari mulut Sakura sama sekali tidak mencerminkan apa yang dirasakan temannya itu. Sakura terlalu denial untuk mengatakan apa yang dirasakannya. Bukan kebenciannya pada Sasuke, tapi kebenciannya pada ketiadaan Sasuke, yang akan dijalaninya sebentar lagi.
"Rasanya seperti tasmu dijambret orang dan orang itu tidak mengembalikannya, padahal tasmu itu tas kesayanganmu!"
"Hell, mana ada jambret yang mengembalikan tas yang sudah dicurinya?"
"Ino, kau menyebalkan!"
Satu gebrakan di meja, Ino mengangkat bahunya acuh, "Kau yang bikin analogi konyol, kok!"
"Dengarkan aku, Sakura-ku sayang! Tidak ada gunanya kau terus-terusan menjaga amarahmu seperti ini. Oke, aku tahu kau galau, kau pasti masih kecewa dan kesal dan kau butuh waktu untuk menikmati kejengkelanmu, aku mengerti. Tapi sayangku, untuk sekarang ini ada baiknya kau kesampingkan emosimu terlebih dahulu. Aku tahu kau pasti tidak akan suka kalau aku bilang hal ini, tapi aku harus bilang …." Ino menghela napas sejenak, "waktu kalian memang tinggal sedikit. Hanya dalam hitungan hari kalian sudah tidak akan bisa bertatap muka secara langsung lagi, dalam waktu yang tidak sebentar. Kauyakin mau melewatkan hal ini? Kauyakin mau membuang waktu berhargamu dengan membesarkan rasa khawatirmu?"
Sakura diam, sepenuhnya tidak menyangkal kebenaran kata-kata Ino.
"Sebaiknya, kalian menggunakan hari-hari sekarang ini untuk menguatkan satu sama lain. LDR bukan hal yang gampang lho, apalagi dengan kuantitas pertemuan kalian selama ini. Aku yakin,hal ini bukan cuma berat bagimu, tapi juga untuk pacar gantengmu itu, dari kemarin dia khawatir, tahu!"
Sakura menggigit bibirnya sedikit, kacau dengan perasaannya sendiri. Sebenarnya, kalau Sakura mau lebih jujur pada hati kecilnya sendiri, dia tahu dia sangat ingin bertemu dengan Sasuke. Tapi di sisi lain Sakura juga takut menghadapi kenyataan yang ada di depannya. Sakura takut dengan kehilangan, dengan kemungkinan-kemungkinan. Hal itu yang membuatnya tetap bertahan pada sikapnya sekarang.
"Rasanya berat, Ino …."
"Pasti tidak akan ringan, Sakura, tapi kau akan selalu punya bahu tempatmu bersandar." Ino menepuk bahunya sendiri sembari menyentil dahi Sakura pelan, "dan lagi … Sakura yang kukenal itu punya resiliensi tinggi. Biarpun kata Sai kau ini jelek, kau itu kuat, jidat! Kau bukan gadis cengeng yang akan merengek sampai air matamu kering hanya gara-gara sesuatu tidak berjalan seperti yang kau inginkan. Kau pasti bisa bertahan dalam situasi yang sulit, apalagi ini untuk 'Sasuke-kun'mu, kan?"
Kali ini Sakura membalas perkataan Ino dengan tersenyum dan membalas genggaman Ino yang kuat pada jari-jari tangannya. Merasa beruntung memiliki sahabat seperti Ino.
Ino benar, Sakura harus kuat.
Sakura pasti bisa.
===udah===
Resiliensi : kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi yang sulit.
Halooo, saya yang lagi hepi sama ending Naruto akhirnya bikin lagi wkwkw. Ga ngerti juga kenapa konsepnya malah jadi continuation ficlet begini, padahal tadinya mau dibikin unrelated tiap chapternya. Tapi engga apa-apa kan, ya? Kontennya masih nyambung kok sama tema chapter-nya hwhwhw. Dan somehow, saya lagi kangeeennn sama persahabatannya SakuIno jadinya bikin format girls talk begini, hihi, semoga suka yaaa xD
Story only= 897words
081114, yanglagihepisasusakucanonXDD
-allihyun.
