*I Hope it's Gonna Better*

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

I Hope it's Gonna Better milik Mayu Tachibana

Rated : T

Pairing : NaruHina

Genre : Fantasy & Romance

Warning : OOC,AU,missed typo(s),alur cepat,Vampfic

Summary : Naruto,cowok yatim piatu yang tinggal di Konohagakure dan ditinggal ibunya karena suatu alasan bertemu dengan Hinata seorang Vampir yang nantinya akan menjadi seorang pemimpin bangsanya. Naruto pada akhirnya mengetahui siapa dia sebenarnya dan menyebabkan hubungannya yang terjalin dengan Hinata mengalami gangguan.

.

.

.

Chapter 10 : Pesta penyambutan

Hinata membuka kedua matanya dengan gerakan lambat. Amethys-nya yang sekarang terbuka lebar tiba-tiba saja disambut oleh pemandangan langit-langit kamar yang tampak asing baginya.

Dimana aku? batinnya.

Gadis itu mendudukkan dirinya ditempat tidur lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar yang diselimuti warna pastel lembut. Dia dapat melihat kamar yang di tempatinya sekarang hanya terisi oleh sebuah tempat tidur dan sebuah lemari yang menempel disalah satu sudut kamar, terasa begitu kosong ditempat yang cukup luas.

Hinata menyentuh kepalanya dan mulai mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sebelum dia jatuh pingsan. Kilasan wajah berambut hitam jabrik dengan mata semerah darah menghampiri ingatannya kemudian disusul kilasan-kilasan lain berupa hutan yang dilewati saat dia berlari juga perasaan nyeri disalah satu bagian tubuhnya ketika dia tertangkap oleh laki-laki itu.

Hinata perlahan bangkit dari tempat tidurnya dan kemudian melangkahkan kakinya ke bingkai jendela kamar tersebut, matanya memandang pemandangan yang tersaji dihadapannya dengan pandangan kosong. Apakah sekarang dia memang sudah berada di kediaman Tuan Orochimaru? Pemandangan yang ada didepannya sama sekali tidak dia kenal.

"Ah, kau sudah bangun?" tanya seseorang mengalihkan perhatiannya.

Hinata menolehkan kepalanya dari bingkai jendela dan bertemu pandang dengan seorang laki-laki yang tiba-tiba saja sudah berdiri dibalik pintu kamarnya. Laki-laki itu secara perlahan mendekatinya dan kemudian menghentikan langkahnya ketika dirinya berada tepat satu meter di depan Hinata, menampilkan senyum ramah diwajah pucatnya.

Hinata memandang laki-laki yang sekarang berada di hadapannya, laki-laki itu terlihat memakai setelan jas panjang berwarna putih dengan kacamata berlensa bulat bertengger dihidungnya dan rambut berwarna putih sebahu.

Hinata menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan itu. "K-kau siapa?"

"Aku Kabuto Yakushi, dokter khusus di manor ini."

Hinata hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan sedikit kaku sebagai jawabannya lagi.

Mereka terdiam selama beberapa saat hingga laki-laki bernama Kabuto itu kembali mendekati Hinata kemudian meraih tangan gadis berambut indigo panjang itu dengan lembut. Hinata hanya bisa diam di tempat dan memperhatikan dokter itu memeriksa lengannya.

"Ne... Nona Hyuuga, apakah kau sudah meminum darah pertamamu?" tanya dokter itu tiba-tiba.

Hinata membelalakkan matanya terkejut, apa maksudnya dengan pertanyaan itu?

"S-sudah," jawab Hinata pada akhirnya. "A-apa ada masalah?"

Pria bernama Kabuto itu menggeleng, senyum samar terlukis dibibirnya. "Tidak ada masalah, itu bagus."

Hinata hanya bisa mengerutkan keningnya bingung. Kabuto melepaskan pegangannya dari tangan Hinata kemudian melangkahkan kakinya ke pintu kamar Hinata. Sebelum benar-benar pergi dia menolehkan kepalanya dan menucapkankan sesuatu. "Kalau butuh apa-apa panggil saja Sara, salah satu pelayan disini. Mulai dari sekarang dialah yang akan mengurusmu."

Hinata menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengerti sehingga kemudian Kabuto melangkahkan kakinya melewati pintu, pergi meninggalkannya.

Blam

Gadis itu kembali berjalan mendekati bingkai jendela kamar itu kemudian memandang pemandangan yang ada dibawahnya. Kini hatinya entah mengapa terasa mati rasa, dia tidak bisa merasakan perasaan apapun kecuali angin yang menyapu wajahnya lembut. Tidak ada lagi perasaan takut, senang atau bingung yang menggantungi hatinya, hanya rasa hampa yang ada.

Hinata menyentuh jantungnya seperti yang sebelumnya pernah dia lakukan, tidak ada detakan jatung disana. Memang mustahil, batinnya.

Dia kembali menurunkan tangannya dari dada kirinya kemudian berjalan mendekati lemari dan membuka salah satu daun pintunya. Terdapat banyak gaun-gaun indah disana. Semua gaun yang ada didalam lemari itu rata-rata bernuansa merah dan hitam, tidak ada gaun berbuansa cerah satupun.

Hinata memilah-milah gaun yang berada disitu selama beberapa saat kemudian memilih salah satu diantaranya, dia meletakkan gaun yang dipilihnya itu keatas tempat tidurnya. Gadis itu menutup lemari itu kemudian melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi yang juga terletak dikamar itu. Dia menekan saklar lampu yang berada disalah satu dinding dan mendapati kamar mandi dengan bak yang berisi air bertabur aneka bunga, shower dan cermin lebar yang terpasang separuh di sepanjang salah satu dinding.

Hinata mengacuhkan semua itu dan dengan cepat segera melepaskan seragam berikut pakaian dalamnya. Dia memasuki bak berisi air bertabur bunga itu secara perlahan-lahan. Bau harum semerbak bunga langsung menyergap hidungnya dan membuatnya rileks, dia kemudian menenggelamkan kepalanya, menjernihkan pikirannya dari hal-hal yang membuatnya stress.

.

"Bagaimana keadaannya?" tanya seseorang cepat.

Kabuto yang baru saja keluar dari kamar Hinata menatap datar orang yang bertanya kepadanya lalu menjawab. "Dia baik-baik saja, cederanya sembuh dengan cepat."

Syukurlah, batin pria itu ketika mendengar perkataan Kabuto. Tanpa sadar orang yang bertanya tersebut menghembuskan napas lega yang terdengar cukup keras sehingga membuat Kabuto mengerutkan keningnya heran.

"Kau mengkhawatirkannya, eh?" tanya Kabuto penasaran, baru pertama kali orang ini mengkhawatirkan oranglain selain dirinya sendiri.

"Tidak sama sekali," jawab orang itu terkesan acuh tak acuh. "Aku takut kalau Orochimaru akan menghukumku lagi jika membuat kesalahan terhadap gadis itu."

Kabuto mendengus pelan, orang yang sedang berada dihadapannya itu juga selalu menyembunyikan perasaannya. Hal itu merupakan tindakan yang sama sekali tidak mempan pada Kabuto karena dia bisa merasakan perasaan lawan yang berbicara kepadanya dengan cukup jelas.

"Terserahlah," komentar Kabuto datar, dia memutuskan untuk tidak memikirkan perasaan orang yang berada dihadapannya itu. "Tetaplah berjaga disini, Menma."

Menma menganggukkan kepalanya singkat kemudian memandang kepergian Kabuto yang mulai tidak terlihat kembali.

Dia menghela napas pelan kemudian kembali menyandarkan tubuhnya di dinding. Dia mulai memikirkan keadaannya yang mulai terasa aneh semenjak bertemu gadis beriris amethys tersebut, gadis yang memiliki tatapan yang begitu polos sehingga tanpa sadar dirinya ingin melindungi gadis itu.

Mata semerah darahnya memandang langit-langit lorong yang diterangi lampu redup, semakin dalam dirinya memasuki pikirannya mengenai perasaan aneh yang kini menggelayutinya. Perasaan aneh itu terasa begitu hangat dan mulai mencairkan hatinya yang sudah lama membeku selama 50 tahun terakhir.

Apakah...? batinnya termenung lalu menggelengkan kepalanya keras, keningnya berkerut cukup dalam untuk mengelak kenyataan itu. Tidak mungkin hal itu terjadi padanya.

Dia mendengus pelan untuk melihat pikiran itu kemudian memandang pintu yang terletak di sebelahnya. Mengintip sekilas pemandangan kamar itu dari celah pintu yang sedikit terbuka, menampakkan sebuah kamar yang kosong dan hening.

Tunggu...? Menma mengerjapkan matanya kemudian dengan gerakan cepat membuka pintu kamar itu semakin lebar. Dimana gadis itu?

Dia menyusuri kamar yang sangat sepi itu untuk mencari keberadaan sosok gadis yang sekarang semakin memenuhi pikirannya, tapi tidak ada siapapun disana.

Tiba-tiba telinganya menangkap suara yang sangat samar dari pintu lain dikamar itu yang tertutup rapat. Dia melangkah mendekati pintu itu dan tangannya mulai menggenggam pegangan pintu itu, entah mengapa perasaannya menjadi sangat ragu untuk membuka pintu.

Dia mengedikkan bahunya tak acuh lalu dengan sekali sentakan membuka pintu lebar-lebar. Mata semerah darahnya tiba-tiba menjadi sangat bulat ketika dia menatap pemandangan 'indah' yang sekarang tersaji dihadapannya.

Disisi lain Hinata yang mendengar suara pintu terbuka segera berbalik menghadap pintu dan terbelalak lebar ketika menemukan Menma sedang terpaku menatapnya.

"KYYAAAAAAA..." jeritan segera keluar dari mulut Hinata.

Oh, sial.

Menma kembali mengerjapkan matanya kembali supaya tersadar sepenuhnya kemudian segera keluar dari ruangan itu.

Poor or Luck Menma, eh?

.

"Bagaimana keadaan calon pemimpin itu, Kabuto?" tanya seorang pria yang terbaring lemah di sebuah tempat tidur, kedua matanya tertutup dan selimut menutupi tubuhnya yang tampak rikuh.

Kabuto membetulkan letak kacamatanya sembari menggerakkan tangannya menuliskan sebuah catatan di perkamen yang dipegangnya, matanya menelusuri tubuh rikuh itu sebelum akhirnya menjawab. "Dia baik-baik saja, sehat, tapi belum berubah sepenuhnya."

Pria itu hanya mendesah panjang, sebuah batuk tiba-tiba keluar dari mulutnya. Cukup lirih, tapi dapat terdengar bagi mereka berdua karena jarak mereka yang tidak terentang jauh.

"Bagaimana dengan para bangsawan?" tanya pria itu lagi.

"Sudah beres, mereka akan datang ke sini tepat jam sebelas malam."

"Bagus," jawab pria itu. "Kau sudah menyiapkan ramuan untukku?"

Kabuto mengangguk. "Sudah, Tuan."

Tidak terdengar suara apapun disana kecuali desau angin yang mengelilingi mereka. Kabuto masih sibuk memeriksa tubuh pria itu sebelum akhirnya meletakkan parkemennya kemudian mengambil sebuah botol kaca berwarna coklat lumpur yang isinya bergoyang pelan akibat gerakan yang dibuatnya.

"Tuan..."

Pria yang terbaring itu membuka matanya perlahan lalu bangkit dar posisi tidurnya, menampakkan iris mata ular berwarna merah gelap dan tubuh yang terbalut kimono tipis. Tangannya terulur untuk menerima botol itu lalu menegaknya tanpa jeda.

Kabuto kembali menerima botol itu lalu menatap tuannya lagi dengan lekat. Perubahan tuannya itu langsung terlihat cukup jelas setelah meminum habis seluruh ramuan itu.

"Bagaimana, Tuan?" tanya Kabuto.

"Lebih baik," jawabnya singkat, matanya terangkat untuk menatap bawahan langsungnya itu dengan tajam. "Pastikan semuanya berjalan lancar, Kabuto."

Kabuto menganggukkan kepalanya khidmat, sebuah senyum simpul yang dipelajari dari salah satu sahabat baiknyanya terlukis di bibirnya. "Tentu Tuan, akan saya laksanakan dengan baik."

.

Sebuah suara ketukan tiba-tiba terdengar dari balik pintu kamar Hinata. "Permisi, Nona, bolehkah saya masuk ke dalam?"

"S-silahkan," jawab Hinata pelan.

Sesosok perempuan berambut merah panjang dengan pakaian khas seorang pelayan berjalan memasuki kamar Hinata, dia berjalan menghampiri Hinata lalu membungkuk sopan di hadapan gadis itu. "Perkenalkan, Nona. Saya Sara, pelayan yang akan membantu anda bersiap-siap."

"B-bersiap-siap?" tanya Hinata tampak bingung. "Untuk a-apa?"

Sara mengerutkan keningnya. "Nona tidak tahu?"

Hinata segera menggelengkan kepalanya, matanya membulat menyatakan bahwa dia benar-benar tidak tahu akan hal ini. Dokter yang sebelumnya masuk kesini pun tidak memberitahunya apa-apa selain tentang Sara yang memang akan membantunya selama tinggal di sini.

"Ah... Baiklah," mungkin belum saatnya untuk bersiap-siap. batin Sara pada akhirnya. "Apa nona ingin berkeliling terlebih dahulu untuk melihat manor ini secara keseluruhan?"

Hinata menatapnya takut-takut. "A-apa tidak masalah?"

Sara mengulas senyum tipis ketika mendengar ucapan Nona barunya yang terdengar polos, dia hampir menyangka bahwa gadis yang ada di hadapannya masih manusia. Dia sudah hidup cukup lama dan mengabdi hampir seluruh hidupnya untuk melayani para calon pemimpin vampir. Dia sudah cukup sering melihat sifat para calon pemimpin vampir baru yang selalu angkuh dan semena-mena terhadapnya dan vampir kelas bawah lain yang juga bekerja di manor ini. Hal ini mungkin disebabkan karena rata-rata calon pemimpin vampir yang dipilih merupakan salah satu bangsawan yang membunuh pemimpin vampir sebelumnya sehingga bisa merebut tempat. Tapi entah kenapa kali ini berbeda.

"Tidak masalah, Nona. Saya akan mendampingi anda," jawab Sara lembut. "Tapi pertama-tama Nona harus berganti pakaian."

Hinata mengerutkan keningnya bingung, bukankah dia sudah berganti pakaian? Dia menundukkan kepalanya dan seketika melebarkan kedua bola matanya ketika melihat dirinya yang hanya terbalut handuk. Kalau saja dia masih manusia, mungkin wajahnya sudah berubah menjadi merah padam seperti tomat masak.

Sara terkekeh pelan, calon pemimpin vampir kali ini memang kelewat polos. Dia bergerak cepat mendekati lemari pakaian lalu mengambil beberapa gaun dan meletakkannya di atas tempat tidur. Dia berkali-kali memasangkan sebuah gaun di depan Hinata lalu menggeleng pelan dan mengambil gaun lain yang mungkin lebih cocok.

Ketika tiba giliran gaun terakhir, sebuah gaun dengan potongan yang sangat sederhana dan berwarna coklat yang tampak tidak menarik, Sara terdiam selama beberapa saat.

"Ada apa, Sara-san?" tanya Hinata penasaran, secara perlahan dia mendekati Sara yang sedang terpaku di tempatnya.

Sara mengerjapkan matanya lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ada apa-apa, Nona."

Hinata kembali diam di tempat ketika Sara menyuruhnya berbalik dan mengenakan gaun itu langsung tanpa mengeceknya. Sara menggerakkan tangannya untuk meresleting gaun itu dan menyuruh Hinata untuk berbalik ke hadapannya. Entah kenapa gaun yang sebelumnya tidak tampak menarik sama sekali itu terlihat cocok untuk Hinata, penampilannya sekarang sangat manis dan polos sesuai dengan sikapnya.

"Apa kali ini juga tampak aneh, Sara-san?" tanya Hinata sedikit risih ketika Sara memperhatikan tubuhnya lekat.

Sara menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nona, ayo kita jalan-jalan!"

"Hn," Hinata mengangguk sambil tersenyum kecil.

Mereka berjalan beriringan ketika menyusuri lorong manor yang terlihat remang-remang. Dengan lampu minyak yang hanya menempel di beberapa bagian dinding saja membuat kesan misterius dan sedikit menakutkan yang cukup kental. Udara dingin mengalir lembut melewati mereka, menghembusi mereka yang tidak dapat merasakan apa-apa.

"Nona mau mulai dari mana?" tanya Sara memecah keheningan.

"T-terserah, Sara-san saja."

Jawaban Hinata membuat Sara terdiam selama beberapa saat untuk berpikir lalu mulai menyusun rangkaian tur-nya.

"Kita mulai dari lantai teratas saja, Nona?"

Hinata menganggukkan kepalanya. "O-oke."

Mereka berjalan menaiki tangga yang berputar melingkar-lingkar selama beberapa saat lalu berhenti ketika tangga itu tiba disebuah ruangan yang hampir kosong dengan karpet besar yang membentang dan lampu gantung yang tampak sangat berdebu di atasnya.

"Ini adalah tempat dimana pemimpin vampir dan pendampingnya menghabiskan waktu," jelas Sara singkat."

"K-kenapa tempat ini sangat berdebu?"

"Tidak ada yang pernah datang kesini lagi semenjak pendamping pemimpin vampir kami tewas, pemimpin vampir saat ini melarang kami untuk menyentuh tempat ini."

"K-kenapa?" tanya Hinata, nada penasaran menyelimuti pertanyannya yang terdengar ambigu.

Sara hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. "Entahlah."

Mereka kembali menuruni tangga dan berhenti tiap satu lantai sehingga Sara bisa menjelaskan secara singkat ruangan-ruangan yang ada di lantai tersebut. Mereka sempat melewati dua lantai yang dijelaskan Sara yang merupakan milik pemimpin vampir dan pendampingnya karena akan terlalu beresiko. Hinata hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban dan mengikuti langkah Sara yang cepat dan anggun tidak seperti dirinya.

"Kurasa perjalanan kita hanya sampai disini, Nona," ucap Sara. "Anda harus segera bersiap-siap untuk menghadiri pesta penyambutan."

"B-baik."

Sara kembali tersenyum kecil lalu perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh bahu Hinata. "Nona tak perlu sungkan terhadap saya. Kalau Nona mengalami kesulitan atau apapun panggilah saya dan saya akan segera membantu semaksimal mungkin."

"B-baik, arigatou Sara-san."

"Nona juga tidak perlu memanggil saya dengan embel-embel 'san'," tambah Sara kemudian. "Cukup Sara saja."

"T-tapi-" ucap Hinata keberatan, dia merasa kalau itu tidak benar.

Sara menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak ada tapi-tapian, Nona."

Hinata akhirnya menganggukkan kepalanya pasrah.

Sara tersenyum lebar untuk pertama kalinya lalu menggaet lengan Hinata, dia sangat menyukai Nona barunya ini. "Sekarang saya akan membantu anda untuk segera bersiap-siap, ayo kita masuk, Nona."

"H-ha'i!"

.

Sebuah jam terdengar berdentang keras sebanyak sebelas kali dari lantai dasar, menunjukkan bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas tepat. Dari balik dinding kamarnya dia dapat mendengar suara-suara mengalun lembut yang saling bercampur membentuk sebuah melodi yang tidak terputus.

Hinata menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tepat berada di hadapannya. Dia dapat melihat seraut wajah dengan make up tipis berupa blush-on yang tersapu disepanjang tulang pipinya sehingga memberi kesan seakan sedang merona, rambutnya digelung anggun dengan beberapa helai rambut yang tergerai di kedua sisi kepalanya, sepasang mata sewarna amethys membalas tatapannya dan bibir mungil sewarna peach lembut itu tampak merapat akibat gugup yang menghinggapinya.

"Apa Nona sudah siap untuk turun?" tanya Sara yang berdiri tepat dibelakangnya.

Hinata terdiam selama beberapa saat, dia sangat gugup dan juga sangat takut. Dia sama sekali tidak mengenal orang-orang yang berada di bawah sana dan dia tidak dapat membayangkan apa yang harus dilakukannya saat di pesta itu, di pesta yang penuh dengan sekumpulan vampir tanpa Sara berada disampingnya.

"Apa Nona masih khawatir?" tanya Sara lagi, kali ini dia menyentuh pundak Hinata dan ikut memandang pantulannya di cermin.

"A-aku takut," aku Hinata begitu lirih.

Sara meremas pundaknya pelan, bermaksud memberinya sedikit suntikan semangat. "Nona tidak perlu takut, akan ada Menma yang akan mendampingi Nona selama di pesta nanti, ah... dan juga Tuan Orochimaru."

Hinata segera menggelengka kepalanya cepat. "A-aku tidak mengenal mereka dan s-sedikit tidak menyukai m-mereka," ucap Hinata lagi.

Pelayan itu tertawa pelan. "Nona tidak harus menyukai mereka berdua, yang penting Nona akan selalu aman jika tetap berada disamping salah satu diantara mereka selama pesta berlangsung."

"B-begitukah?"

Sara mengangguk.

Mereka kembali terdiam hingga sebuah ketukan pintu yang sedikit menuntut terdengar dari balik pintu kamarnya.

"Apa Nona Hyuuga sudah siap?" tanya seseorang itu dari balik pintu.

Hinata menarik napas panjang walaupun dia tidak membutuhkannya lalu menganggukkan kepalanya kearah Sara. Mereka segera berjalan beriringan menuju pintu kamar lalu membukanya perlahan, menampakkkan sesosok pria berambut hitam jabrik dan mata semerah darah. Menma.

Laki-laki itu tanpa berkata apa-apa mengulurkan lengannya sehingga Hinata bisa mengalungkan lengannya disana. Mereka mulai berjalan tanpa berbicara sedikitpun sehingga membuat rasa gugup Hinata bertambah parah.

"Jangan khawatir," sebuah suara tiba-tiba mengejutkannya. "Mereka tidak akan menyakitimu selama aku masih berada di sisimu."

Hinata hanya bisa terdiam ketika mendengar ucapan yang terdengar menenangkan dari laki-laki yang berjalan disampingnya. Kepalanya menunduk menatap kearah kakinya yang terbalut sepatu hak rendah berwarna hitam dan secara perlahan, dari balik helaian rambutnya yang menjuntai, dia melirikkan matanya untuk menatap laki-laki itu yang masih tetap memasang wajah datar seakan tidak pernah bereaksi apapun.

Tiba-tiba langkah mereka terhenti dan laki-laki itu menoleh kearahnya. "Kau sudah siap?"

Hinata mengangguk, masih tetap menundukkan kepalanya. Saat ini mereka tepat berada dibagian samping tangga utama dan dapat mendengar sangat jelas obrolan-obrolan yang terdengar cukup ramai di bawah sana. Hinata dapat merasakan kedua kakinya tidak tahan lagi untuk mengambil langkah seribu untuk menjauh dari sana, dia masih tidak siap.

Secara perlahan Hinata dapat merasakan kaitan lengan mereka melonggar dan telapak tangannya sudah tergenggam erat di tangan laki-laki itu. Hinata mendongak cepat dan memandang ke laki-laki itu yang lagi-lagi tidak membalas tatapannya yang sekarang tampak terkejut. Laki-laki itu malah berucap dua patah kata yang terdengar jelas di telinganya. "Jangan menunduk."

Hinata kembali merapatkan bibirnya lalu mulai mengambil napas sebanyak mungkin. Siap atau tidak siap dia harus tetap menghadapi semua ini.

"A-aku sudah siap," ujar Hinata pelan pada akhirnya.

Bersamaan dengan itu dua sosok lain tiba-tiba saja sudah muncul disisi lain tangga dan menatap mereka lekat. Salah satu sosok itu melangkahkan kakinya kearah Hinata lalu mengulurkan lengannya kearah gadis itu, sepasang mata beriris ular itu menatapnya lekat dengan senyum ramah tersungging di bibirnya.

"Nona Hyuuga, ayo kita turun bersama," ucapnya terdengar persis dengan nada suara seseorang yang ada di dalam mimpinya dulu.

Hinata mematung, menatap lengan yang terulur kearahnya dengan tatapan kosong. Seluruh tubuhnya menolak untuk menerima uluran lengan itu meskipun dia sudah berusaha untuk bergerak, perasaan enggan menyelimuti dirinya tanpa ragu-ragu.

Senyum laki-laki itu perlahan lenyap ketika melihat penolakan tampak samar di wajah Hinata, dia menurunkan lengannya lalu kembali tersenyum dengan terpaksa. "Baiklah, kurasa saya yang akan turun terlebih dahulu."

Hinata masih tetap terdiam di tempatnya dan Menma berdiri, kedua bola matanya menatap laki-laki bermata ular itu yang sekarang sedang bergerak menuruni tangga perlahan menuju lantai dasar bersama dokter yang mengunjunginya tadi, Kabuto Yakushi.

"Terima kasih karena sudah datang pada pesta penyambutan ini para bangsawan yang sekaligus merupakan sahabat dan keluarga saya yang sangat saya hormati." ucapnya terdengar lantang dan berwibawa ketika sampai di lantai dasar, dia mengucapkan beberapa kata-kata lagi yang cukup panjang dan begitu membingungkan bagi Hinata yang bagi gadis itu terdengar bagaikan serentetan kata kabur hingga sampai pada sebuh kalimat yang menarik perhatiannya.

"... Hari ini kita akan merayakan lahirnya penerus kerajaan ini, Nona Hinata Hyuuga."

Sebuah tepuk tangan menyambut perkataan laki-laki itu dan membuat Hinata tersentak. Laki-laki yang berada disampingnya pun tanpa berkata apa-apa segera membawanya menuruni tangga sehingga kali ini dia dapat melihat sekumpulan orang –atau lebih tepatnya vampir, yang berada di bawahnya.

Hinata mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, menatap sekilas sekumpulan vampir yang menatapnya dengan lekat. Gadis itu membuka dan menutup mulutnya berkali-kali, dia tidak tahu harus bagaimana saat ini!

Apa yang harus kukatakan?

Hinata lagi-lagi merapatkan bibirnya, perasaan gugup kembali menghampirinya ketika orang-orang itu masih tetap memandangnya lekat dan menunggu dengan sabar kata-kata yang akan dikeluarkan oleh calon pemimpin vampir baru ini.

Sebuah remasan pada salah satu tangannya membuat dirinya menoleh dan melihat Menma menatapnya dengan tatapan katakan-saja-apa-yang-ingin-kau-katakan-kalau-ingin-semua-ini-berakhir. Hinata kembali menoleh ke depan dan akhirnya mengeluarkan kata-kata yang ditunggu oleh semua orang yang berada di manor itu.

"Saya Hinata Hyuuga, putri dari Hiashi Hyuuga. Hanya seorang manusia yang terpilih sebagai calon pemimpin vampir yang baru," ucapnya lancar tanpa hambatan, gadis manis itu berusaha sebaik mungkin menyembunyikan raut wajah aslinya ketika berbicara. "Semoga kalian bisa menikmati pesta ini."

Ucapannya seketika membentuk serangkaian tepuk tangan yang menyambut salam perkenalannya yang cenderung singkat. Tiba-tiba seorang laki-laki dengan rambut pirang panjang tampak mengulurkan salah satu tangannya ke atas dan menyerukan tiga patah kata yang membuat hatinya mencelos.

"HIDUP SANG RATU!" serunya membahana yang seketika dibalas oleh seruan-seruan lain. Secara serempak para bangsawan itu kemudian berlutut ke arahnya dan di ikuti juga oleh Tuan Orochimaru, Kabuto dan Menma yang berada disampingnya.

Hinata menegak ludahnya, sebuah pikiran yang mengerikan segra melintas di benaknya. Kau tidak akan bisa kembali lagi, Hinata. Selamanya.

.

.

.

TBC

A/N :

Hai... maaf atas keterlambatannya, minna. Akhir-akhir ini aku konsen belajar jadi gak sempet untuk mempublish *ojigi berulangkali. Ngomong-ngomong chapter kali ini makin absurd kah? maaf kalau ini mengecewakan –,–)a

Ah ya, aku mau memberitahu kalau fic ini mau kubuat ulang, alurnya udah terlalu kecepetan dan bahasanya terlalu... err (?) Ada yang mau kasih saran, kritik atau masukan untuk pembuatan ulang fic ini? siapa tahu aku bisa dapet ide alur yang lebih baik dari ini =w=

Makasih buat yang udah membaca, memfav/memfollow fic ini, makasih juga buat blackschool dan Kirito Cesar yang mereview chap sebelumnya.

Buat silent readers: tolong kasih pendapat tentang fic ini dong, satu kali aja... *puppyeyesnojutsu #ditendang

Sampai jumpa lagi dichapter berikutnya, minna. Jaa ne

(edited :))