Rina: Hai semua na Rina disini dengan chapter 10!

Rin: Hei, author bego kata na kau mau UN?

Len: Pergi belajar sana!

Mel: *rolling eyes*

Rina: Aku males belajar! *teriak2 frustasi*

Rin: Hei, ntar kau dimarahin ortu!

Len: Biarin ja Rin, author yang satu ini emank author tergila yang pernah aku lihat... Mana sebelum na dia makan tanganku lagi.

Rina: Nah, kalian kan sudah lama ndak baca disclaimer, gimana kalau kalian gantiin membaca? ++++^-^++++ *senyum sparkle*

Rin: Gah, ada Edward Cullen! *kabur*

Len: Eh, aku baca disclaimer na cepet2 ja deh!

Disclaimer: Author gila ini ndak punya Vocaloid, yang punya itu pemilik kami masing-masing. Tapi author gila ini punya fic ini! Yang penting jangan main api ntar kebakaran!

Len: Kalau begitu kami pergi dulu, karena ada vampir! *lari

Rina: Hei, kenapa kalian pergi semua sih?

Mel: *muncul dari alam antah berantah* Nah, selamat membaca!


Teto POV


Aku mendengar bahwa Rin-chan sudah sadarkan diri. Aku mencabut selang infus yang ada di tanganku dan berusaha menuju ke ruang rawat Rin-chan. Meski dokter bilang aku harus banyak-banyak istirahat, aku ingin bertemu dengan Rin-chan. Karena aku masih menyukainya, aku ingin... bicara dengan Rin-chan.

"Teto kenapa kau disini?" tanya Ted-senpai yang pertama kali melihatku berjalan di lorong. Ted kemudian segera menghampiriku.

"Teto, bukankah kau harus istirahat?" tanya Mikuo yang segera menyusul Ted untuk menghampiriku.

Aku masih berjalan meski harus dibantu dengan pegangan tangan yang dipasang di tembok rumah sakit. Aku tidak berpikir untuk merapikan rambutku yang masih terurai. Aku sudah muak dengan terapi!

"Aku ingin... bertemu..." ucapku pada Ted dan Mikuo. Sementara yang lain masih berdiri tegak di depan pintu, begitu pula dengan orang tua Rin-chan.

"Tidak, Teto, kau masih belum diizinkan untuk bergerak oleh dokter!" cegah Ted. Tapi, aku tidak mendengarkannya dan terus berjalan.

"Jangan sekarang Teto!" cegah Mikuo.

Aku hanya menggelengkan kepalaku, kemudian aku berusaha melewati mereka berdua. Aku tak akan melakukan apapun, aku hanya ingin bertemu dan berbicara dengan Rin-chan, meski dia akan membenciku setelah ini.

Aku berhasil menerobos Ted dan Mikuo yang berusaha menghalangiku dan membuka pintu ruang rawat Rin-chan.

Saat aku membuka pintu itu, aku melihat Kagamine Len dengan Rin-chan yang sedang berpelukan, sementara Rin-chan menangis. Dadaku terasa ditusuk dengan duri, tapi rasa sakit ini, tidak sama dengan kemarin. Di satu sisi aku bersyukur bahwa mereka bersama, namun aku juga merasa cemburu pada Len.

"Rin...-chan..." ucapku.

Sepertinya mereka menyadari keberadaanku dan segera berpaling ke arahku. Dan aku yakin, mereka tidak mengira bahwa aku akan berada disini sekarang.

"Kasane-san..." ucap Kagamine Len.

"Teto-chan..." ucap Rin-chan.

Mereka segera melepaskan pelukan mereka sementara aku berjalan, meski sedikit sempoyongan, menuju ke arah Rin-chan. Air mata yang kutahan, sekarang mulai menggenangi kedua mataku.

"Hei... Kagamine... bisa kau tinggalkan kami berdua sebentar saja?" pintaku. Aku ingin bicara dengan Rin-chan, berdua saja.

Kagamine melihat sekeliling terlebih dahulu, kemudian dia melihat ke arah Rin-chan, meminta persetujuan darinya. Rin-chan hanya mengangguk, sembari menghapus air matanya yang masih mengalir.

Kagamine kemudian membawa Ted dan Mikuo untuk meninggalkan ruangan ini, dan segera menutup pintu ruang rawat Rin-chan. Kini kami hanya berdua saja di dalam ruangan ini.

Aku segera duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Rin-chan, dan kemudian aku berkata, "Rin-chan... maaf..."


Rin POV


Aku masih berusaha menghapus air mata yang mengalir dari wajahku, saat Teto berkata, "Rin-chan...maaf..." ucap Teto.

Aku segera melihat ke arahnya, aku tidak merasakan perasaan takut pada Teto, dia tidak menakutkan, karena Teto adalah temanku...

"Aku membuatmu... mengingat hal yang buruk. Lalu, soal Hatsune juga... aku ingin minta maaf. Aku tak tahu kenapa aku melakukan hal itu, aku hanya..." ucap Teto yang terdengar kebingungan.

"Teto-chan..." gumamku. Aku mencoba mencerna perkataan dari Teto, Hatsune? Apa dia berbicara tentang Miku? Jangan-jangan penyebab mereka berdua memasuki rumah sakit itu, karena Teto?

"Aku ingin... aku hanya ingin... melihatmu tersenyum..." lanjut Teto dengan terisak-isak. Dia menundukkan kepalanya, dan dapat kulihat air mata yang berjatuhan pada baju rumah sakit miliknya. Meski aku menyadari bahwa Teto memiliki pribadi yang lain, aku tak mengerti apa yang telah dia lakukan pada Miku.

"Apa maksudmu... tentang Miku?" tanyaku. Aku merentangkan kedua tanganku, berusaha meraih Teto.

"Aku... saat aku menemuinya untuk berbicara, aku membawanya ke sebuah gubuk kemudian aku membakar gubuk itu, pada saat Hatsune ada di dalam..." jawab Teto yang berbicara dengan suara pelan, di sela tangisnya.

Aku kemudian memeluk Teto yang masih menangis, aku menjadi merasa sangat bersalah, aku... seandainya aku tidak melupakan kejadian hari itu, semua ini tidak akan pernah terjadi, aku pasti akan mencegah Teto melakukan hal-hal seperti ini.

"Maaf, Teto-chan, ini karena aku adalah anak yang pengecut, aku melupakan hari itu, dimana semuanya dimulai, karena aku takut terluka, aku melupakan hari itu. Jika aku mengingatnya, aku pasti akan melindungimu..." ucapku, aku menangis saat memeluk Teto.

"Rin-chan..." ucap Teto.

"Maaf, telah membuatmu menderita Teto-chan..." tambahku. Air mata semakin deras mengalir dari kedua mataku.

Aku berpikir dalam hati, "Seandainya... seandainya aku tidak mencintai Len, semua ini tidak akan pernah terjadi, karena itu aku tak akan... melarikan diri lagi. Suatu saat nanti, aku pasti..." pikirku.

"Rin-chan... kita tetap sahabat bukan?" tanya Teto. Dia menatap mataku dengan tatapan yang terhalang air mata, matanya terlihat sembab karena terlalu banyak menangis.

Aku hanya mengangguk dan memeluknya semakin erat, "Tentu saja Teto-chan, untuk sekarang dan selamanya kita merupakan sahabat..." jawabku.

Setelah itu, tak ada yang berbicara, kami masih menangis tanpa suara dalam pelukan masing-masing. Dan dalam tangisku ini, aku memutuskan bahwa aku tak akan lari lagi... meski aku akan ditolak, aku harus mengatakannya, sehingga kejadian ini tidak akan terulang kembali.


Len POV


"Mereka berdua lama sekali!" keluh Mikuo yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di aula rumah sakit, yang terletak cukup dekat dari lorong kamar Rin.

Aku sendiri hanya duduk dan menunggu Kasane-san keluar dari kamar Rin, karena terletak dekat dengan aula rumah sakit, jika ada yang keluar ataupun masuk, kami bisa langsung mengerti.

Luka dan Gakupo sudah menghilang entah kemana, Ted yang hanya duduk diam seakan tidak menggubris keberadaan musuhnya, Mikuo, yang dari tadi mondar-mandir, Mel-senpai yang sepertinya sudah tidak mempedulikan keadaan dunia sekitar, dan orang tua Rin yang sudah pergi dari tadi, sepertinya berbicara dengan dokter yang menangani Rin. Seingatku, Kaito-san sedang menjaga Miku di kamarnya. Saat aku lihat tadi, Miku senang-senang saja dengan keberadaan Kaito-san.

"Aku akan melihat keadaan dulu," ucapku sambil berdiri.

Mel-senpai kemudian melepaskan sesuatu dari telinganya, jadi sejak tadi dia memakai earphone, pantas saja dia tidak mengeluh meski harus menunggu, hanya berkata, "Jangan menguping atau mengintip..." ucapnya.

"Kalau Teto bilang ingin diantar kembali ke kamarnya, cepat panggil aku dulu!" ucap Ted dengan melirik tajam ke arah Mikuo.

"Len, kau akan memanggilku terlebih dahulu bukan?" ucap Mikuo dengan nada berkompetisi. Mikuo membalas lirikan tajam Ted, dengan lirikan yang tak kalah tajamnya.

Aku hanya sweatdrop, sebentar lagi mereka akan perang dingin lagi. Aku tak menjawab permintaan mereka dan hanya berjalan meninggalkan medan perang, saat aku rasa akan ada pertumpahan darah.

Sekarang aku berdiri tegak di depan pintu ruang rawat Rin, dari dalam aku bisa mendengar suara tangis yang sangat lemah dan nyaris tidak ada suara. Aku mengambil nafas, sebelum mengetuk pintu itu.

Namun, tanpa kuduga, pintu itu terbuka dan Kasane-san keluar dari sana, menyebabkan kami berdua bertubrukan dan dia terjatuh... di atasku.

"Kagamine... kenapa kau disini?" tanya Kasane-san yang masih ada di atasku, aku berharap Ted atau Mikuo tidak datang kesini sekarang.

"Eh, aku baru saja datang dan saat aku akan mengetuk, kau keluar dan sekarang bisa kuminta kau pergi dari atasku?" jelasku sembari meminta Kasane-san untuk menyingkir.

"Ah, maaf..." ucapnya yang kemudian menyingkirkan tubuhnya dari atasku. Dia memegang pegangan tangan di dinding dan baru akan mulai berjalan meninggalkanku. Aku sendiri sedang berusaha berdiri setelah ditubruk dan ditindih oleh Kasane-san.

Namun, belum sampai 10 langkah, Kasane-san berkata tanpa membalikkan tubuhnya, "Apa aku boleh memanggilmu Len?" tanya Kasane-san.

Aku sedikit terbelalak, itu adalah hal yang paling tak kuduga dari semua perkataannya, dengan nada tidak percaya aku menjawabnya, "Ah, boleh saja Kasane-san..." jawabku. Bagaimanapun juga dia adalah teman Rin, dan karena dia teman Rin aku harus mengenalnya dengan baik bukan?

"Teto, panggil aku Teto. Lalu, bisa kau panggilkan Ted untukku?" pintanya.

Aku sempat berdiri membeku ditempatku, Ka- maksudku Teto, memintaku memanggilkan Ted? Dan dia hanya memanggilnya Ted. Ted semoga kau berhasil... Teto sepertinya memberimu pertanda positif.

"Ah, eh, iya, baiklah..." jawabku dengan sedikit ragu-ragu. Namun, aku segera menjalankan perintahnya dan pergi menuju ke arah dimana perang terbuka terjadi.

Saat aku hendak berbelok ke arah aula rumah sakit, Ted menabrakku hingga aku nyaris terjatuh lagi, kenapa aku sering menabrak orang dan terjatuh? Ted sendiri kaget melihatku yang berjalan ke aula, dia kemudian berkata, "Len, sedang apa kau disini?" tanya Ted. Mungkin dia mengira, aku sedang menguping pembicaraan Teto dan Rin, atau sedang menunggui Rin di kamarnya.

Aku segera memberi tanda untuk mendekatkan telinganya sedikit, takut kalau Mikuo dengar, kemudian aku berbisik, "Teto memanggilmu..." bisikku.

Tanpa aku mengerti, Ted melihat ke arah Mel-senpai yang hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Kemudian, Ted balas berbisik padaku, "Aku juga baru diberitahu Mel-san bahwa Teto memanggilku tadi," bisik Ted.

Aku hanya sweatdrop, aku sempat berpikir, ini karena pendengaran Mel-senpai yang terlalu tajam, atau dianya yang bukan manusia. Tapi, menyingkirkan masalah senpai teraneh sedunia itu terlebih dahulu, aku dan Ted segera menuju ke arah tujuan kami, aku akan menjaga Rin di kamarnya, dan Ted mengantar Teto ke kamarnya.

Setelah aku memastikan Ted pergi dengan Teto, aku memasuki kamar Rin. Mata Rin bengkak karena kebanyakan menangis, dan sepertinya dia tak mengira bahwa aku akan memasuki ruangannya. Sempat terjadi keheningan yang tidak mengenakkan diantara kami.

Saat aku melihat mata Rin, aku melihat bahwa dia ingin mengatakan sesuatu, namun dia ingin aku berbicara dulu, sehingga aku berkata, "Bagaimana keadaanmu Rin?" tanyaku.

Rin sedikit tersentak dan terkadang melihat ke kiri ke kanan tidak jelas, entah apa yang dia cari, kemudian dia berkata, "Eh... aku... aku... baik-baik saja..." jawabnya dengan sedikit tergagap. Terjadi keheningan lagi diantara kami, karena baik aku maupun Rin tidak ada yang berbicara. Suasana jadi terasa tidak enak.

Aku sekarang menjadi ingat, karena keadaan Rin yang tidak sadarkan diri selama 3 hari, aku jadi lupa untuk mengatakannya, namun sekarang...

"Aku..." ucap kami bersamaan.

Kami sweatdrop bersamaan, kenapa dalam hal-hal penting kami selalu kompak begini? Segera Rin berkata, "Eh, Len dulu saja..." ucapnya.

"Ah, tidak, lebih baik kau duluan Rin..." tanggapku.

Setelah itu kami bertengkar tentang siapa yang terlebih dahulu berbicara, aku merasa senang karena aku merasa menjadi akrab kembali dengan Rin. Karena perebutan sudah berlangsung terlalu lama, akhirnya Rin mengalah dan terjadi keheningan di antara kami.

Aku merasa wajahku menjadi panas, instingku berkata bahwa Rin akan mengatakan hal yang amat sangat penting.

"Hei, Len... kau tahu..." ucap Rin yang masih belum menyelesaikan perkataannya.

Aku memasang pendengaranku dengan baik, sehingga aku bisa mendengar ucapan Rin, yang sepertinya penting ini, dengan baik dan jelas.

"Sejak dulu, aku... tentang Len... aku... me-" belum selesai Rin berkata, kami mendengar suara teriakan dari arah pintu dan juga suara pintu yang dibanting.

"Rin, kau dengar? Kau bisa meninggalkan rumah sakit minggu ini!" teriak seseorang dari arah pintu ruang rawat.

"Sial, ada gangguan!" aku mengumpat dalam diriku sendiri dan melihat ke arah pintu. Disana berdiri, ibu Rin, Lily-san, bersama dengan Luka, yang melompat-lompat seperti kelinci dengan amat gembira.

"Kata dokter, Rin dan Teto bisa naik panggung, jadi..." dari pintu aku juga melihat Mel-senpai yang menengok isi ruang rawat Rin, dan memandangiku dengan tatapan yang berarti, "Kau tak diperlukan, kecuali jika aku berubah pikiran," atau semacamnya.

Untuk menyegarkan pikiran aku segera memberi selamat Rin, yang menatap ibunya, Luka, dan Mel-senpai dengan tatapan senang. Kemudian dia berkata, "Benarkah?" tanya Rin yang masih setengah tidak percaya.

"Iya, meski Teto baru akan keluar dari rumah sakit 3 hari sebelum hari-H, semuanya akan baik-baik saja!" jawab Luka dengan wajah senang. Aku maklum saja karena ini pentas terakhirnya di Festival Kebudayaan.

Segera aku memberi selamat Rin, "Selamat ya, Rin!" ucapku. Aku juga melemparkan senyum padanya. Aku tidak punya pikiran jelek jadi jangan salah paham!

"Terimakasih Len!" balas Rin dengan senyumnya yang sangat riang bagaikan malaikat, aku baru menyadari senyum Rin yang teramat sangat manis itu, akhir-akhir ini. Kalau saja aku bisa melihat senyum itu hanya untukku... tapi, aku tidak boleh egois, bukankah begitu?

"Ah, lalu Len-san, aku harus berbicara empat mata dengan putriku tercinta ini, jadi bisa kau pulang dulu?" pinta Lily-san, yang terdengar seperti... mengusirku?

Aku merasa sangat terkejut dengan perkataan Lily-san, tapi karena dia orang tua Rin, mau tak mau aku harus meninggalkan rumah sakit. Meski Lily-san telah menghancurkan harapanku untuk berbicara dengan Rin tadi.

"Ah, baiklah, sampai jumpa Rin!" jawabku sambil meninggalkan ruang rawat Rin. Aku sempat berhalusinasi bahwa Rin tampak sedih, namun itu tak mungkin bukan?

"Iya, sampai jumpa lagi... Len," balas Rin yang tersenyum dengan senang. Mungkin aku tadi benar-benar berhalusinasi, dan Rin sepertinya merasa sangat senang aku meninggalkan rumah sakit.

Saat di jalan, mau tak mau aku memikirkan keadaan Rin tadi, "Mungkin saja, dia tidak suka merepotkanku, sehingga dia senang saat aku pergi. Berpikirlah positif, Len! Rin tidak akan membencimu..." pikirku.

Tak lama kemudian aku sampai di depan apartemen yang aku tinggali, saat aku melihat sebuah mobil, dengan cat berwarna hitam mengkilap, yang diparkir di depan apartemenku.

Kalau itu hanya mobil yang biasa lewat, aku tidak merasa ada masalah dengan mobil itu, tapi itu merupakan mobil dari orang tuaku, aku ulangi orang tuaku! Aku berharap, agar mereka tidak melakukan hal yang aneh. Dan... memaksaku pulang ke rumah utama, aku tidak suka perlakuan di rumah utama yang berlebihan.

Aku melangkahkan kakiku ke apartemen yang kusewa dan menarik nafas cukup dalam, berharap bahwa mereka tidak ada disini, dan apa yang kulihat tadi hanya perasaanku saja.

Aku membuka pintu dan melihat ke dalam sebentar. Apartemenku masih aman, sepi dan lengang. Tapi, terdapat dua pasang sepatu yang tak kukenal, dan aku bisa memastikan bahwa itu adalah milik orang tuaku.

"Aku pulang…" ucapku dengan nada pelan, berusaha agar tidak ada yang mendengar ucapanku tadi. Namun, nasibku menjadi amat sangat sial, saat seseorang atau sesuatu berlari di koridor dan melompat ke arahku. Membuatku kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dengan seseorang atau sesuatu itu, di atasku.

"Ibu!" teriakku protes. Ibuku itu hanya tersenyum dan menatapku dengan tatapan yang seram. Pasti dia punya maksud buruk!

"Miriam, sudahlah!" ucap suara seseorang dari dalam rumah. Ibuku bernama Kagamine Miriam, sedangkan ayahku…

"Leon… aku kan, hanya merindukan anak kita yang tak pernah pulang ini!" keluh ibuku dengan nada memelas. Iya, ayahku bernama Kagamine Leon, dan dia merupakan ayah yang paling menyebalkan di dunia ini! (ini Author asal ngembat vocaloid ==;)

"Ibu, bisa tolong jelaskan kenapa kalian kemari hari ini?" tanyaku dengan nada sedikit jengkel. Kenapa? Satu, karena ibuku masih berada di atasku dan memelukku seperti memeluk boneka, dua karena mereka ada disini! Dan itu berarti mereka merencanakan sesuatu.

"Tentu saja karena kami ingin bertemu denganmu Lenny!~" ucap ibuku dengan memanggilku dengan nama panggilan.

Aku memicingkan mataku, aku sama sekali tidak percaya jika hanya itu alasan mereka untuk mengganggu kehidupanku, yang aman, damai, tentram, tanpa crossdress setiap hari.

"Itu karena kami ingin menyelenggarakan pertemuan dengan teman kami… tentang suatu hal," ucap ayahku yang membantu ibuku berdiri.

Aku kemudian berdiri, tentunya setelah ibuku meninggalkan hobi buruknya itu. Aku merasa sangat curiga akan perkataan ayahku itu. Aku memutar otakku sebentar dan menyadari apa maksud dari ayahku itu, "Maksud ayah aku akan dijodohkan?" ucapku dengan memberi tekanan pada kata "dijodohkan".

Ayah dan ibuku, yang kini sedang membuat udara di sekitar panas, hanya mengangguk. Dan bisa kurasakan dunia berputar-putar dan hanya aku yang berdiri tegak. Dijodohkan? Enak saja! Masih ada yang ingin kukatakan pada Rin!


Rin POV


"Ada apa ibu?" tanyaku. Kini semua orang sudah meninggalkan ruang rawatku dan hanya tinggal aku dan ibuku, Kamine Lily, disini.

"Ah, aku hanya ingin bertanya tentang beberapa hal…" jawab ibuku. Dia kemudian mengambil sebuah jeruk dan mengupasnya.

Aku merasakan firasat buruk, sangat buruk! Kenapa? Karena, satu, ibuku mengupaskan sebuah jeruk, itu merupakan kebiasaannya jika dia ingin aku melakukan sesuatu, kedua, ayah tidak ada disini, ayahku merupakan tipe orang yang tak bisa berbohong. Karena itulah, setiap akan melakukan sesuatu, ayahku, Kamine Akaito, selalu mengajak ibu, terutama jika harus menghadapi orang yang tidak terlalu menyenangkan.

Eh, kalian tanya pekerjaan kedua orang tuaku? Mereka merupakan pemilik dari perusahaan swasta yang cukup terkenal. Tapi, jangan salah paham dulu, meski keluargaku kaya raya, kami tak punya rumah besar atau semacamnya. Alasan, karena terlalu mencolok dan itu sama saja dengan mengundang pencuri masuk ke dalam rumah.

"Soal apa?" tanyaku. Meski aku tahu ini jebakan, aku tetap mengambil sepotong jeruk dan memakannya.

"Ah, begini, apa kau memiliki kekasih?" tanya ibuku.

Mendengar pertanyaan itu, rasanya jeruk yang kumakan menyangkut di tenggorokan, Apa itu tadi? Segera aku menjawab, "Ti-tidak! Lalu kenapa bertanya?" jawabku sambil menanyakan alasan ibuku memberikan pertanyaan itu. Yah, aku memang mencintai Len, tapi itu merupakan hal yang berbeda bukan?

"Oh, jadi begitu… kalau ada, mungkin kami akan membatalkan persetujuan itu. Tapi, karena tidak ada ya, sudahlah!" jawab ibu. Dia mengupas sebuah jeruk kembali sambil memandang keluar jendela.

Aku mencerna perkataan ibuku itu sambil memakan sepotong jeruk, yang manis. Tapi, saat aku memakan jeruk yang asam, aku menjadi mengerti maksud perkataan ibuku itu, segera aku berteriak, "Jadi aku dijodohkan?" teriakku, masa bodoh dengan aturan rumah sakit.

Ibuku hanya tersenyum, kemudian ibu berkata, "Akhirnya kau sadar Rin!" ucap ibu dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Kemudian dia menambahkan, "Ah, tapi pelaksanaannya baru setelah Festival Kebudayaan selesai, kok! Aku juga sudah meminta pertolongan seseorang untuk melakukan sesuatu," tambah ibu.

Aku bisa merasakan bahwa wajahku menjadi pucat pasi, A-apa maksudnya ini? Dan di saat aku mulai berusaha untuk mengungkapkan perasaan pada Len!


Rina: Chapter 10 OWARI! *teriak2 gaje*

Rin+Len: Hei, author apa maksudnya ini?

Rina: Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin menambah bumbu rujak! *senyum iblis* atau mungkin kalian ingin aku buat menderita? *aura dark*

Rin: Tidak terimakasih

Len: Ndak, aku ndak mau disiksa…

Rina: RnR okay! Jadi na author bisa ngerjain UN dan meneruskan fic ini!

Rin: RnR biar author ndak ngambek nulis!

Len: RnR supaya ada adegan (sensor)(sensor)(sensor) di fic ini!

Rina: LENN! Ingin aku buat kau crossdress ya! Pikiranku tidak sebejad itu!

Len: Ah, iya maaf author….

Rina: Sampai jumpa di chapter 11! Dan mohon maaf, sekali lagi tidak ada spoiler!