Jika kau adalah bunga, maka aku akan menjadi akar yang menopangmu untuk mekar.
.
.
.
—Kamus Besar Bahasa Shinobi―
angin /a•ngin/ noun. 1 gerakan udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah; 2 hawa; udara; 3 kesempatan; kemungkinan; 4 kecenderungan yang agak menggembirakan; -sepoi-sepoi angin yang bertiup lemah lembut;
bunga /bu•nga/ noun. 1 bagian tumbuhan yang akan menjadi buah, biasanya elok warnanya dan harum baunya; kembang; 2 tambahan untuk memperindah; 3 tanda-tanda baik; 4 sesuatu yang dianggap elok (cantik) seperti bunga;
akar /a•kar/ noun. 1 bagian tumbuhan yang biasanya tertanam di dalam tanah sebagai penguat dan pengisap air/makanan; 2 asal mula; pokok; pangkal;
.
.
.
Berhenti.
Napasnya seolah berhenti saat mendapati sosok tak asing yang kini berdiri di depan rumahnya. Sama seperti yang lalu-lalu. Selalu pemuda itu yang lebih dulu berada di situ.
Untuk beberapa saat, kakinya tak mampu bergerak.
Tapi ia ingat, ia sudah berjanji untuk melupakannya. Besok ia akan pergi dari sini dan semua pasti baik-baik saja. Ia hanya perlu melewati satu malam ini.
Gadis pirang itu lalu memasang senyum dan menyapa.
Tapi pria itu memang tahu segalanya. Menghancurkan semua pondasi yang telah dibangunnya hanya dengan melihat dan sepatah kalimat.
Kau menangis.
Tidak.
Yamanaka Ino tidak ingin percaya pada pendengarannya saat ini. Ia bersikeras tetap tersenyum setengah bercanda dan bermaksud menunjukkan ujung kelopak matanya yang kering.
Tapi pemuda itu tiba-tiba menangkap tangannya. Ia mencoba melepaskan diri namun pemuda itu terlalu kuat mencengkeramnya.
Apa maksudnya?
Sisi rapuh dalam dirinya dengan segera mengambil alih. Matanya sudah benar-benar berkaca ketika mendengar pertanyaan beruntun yang diucapkan pemuda itu padanya.
Apa orang itu membuatmu menangis?
Apa kau selalu menangis untuk orang itu?
Sama seperti Sakura?
Ino benci dirinya yang tidak bisa menahan isakannya kali ini. Tapi ia juga merasa asing dengan tatapan tajam pemuda itu padanya. Tidak pernah sebelumnya dia menatapnya seperti ini.
Lalu apa yang dikatakan pria itu? Menyamakan dirinya selalu menangis karena sosok lain? Jahat sekali.
Namun Ino dibuat terkejut ketika cengkeraman di tangannya tiba-tiba melunak. Pemuda itu bahkan menyentuh pipinya yang basah, mengusap air matanya dengan sangat lambat, dan berkata tak bisa melihatnya menangis. Pemuda itu juga meletakkan tangannya di depan dada dengan ekspresi sakit yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya.
Ino tercekat.
Ia tidak biasa dikhawatirkan. Biasanya dia yang mengkhawatirkan orang lain. Tapi kali ini ...
Rasanya ia jadi ingin berharap, namun kesadarannya segera melarangnya. Gadis itu kemudian menghentikan tangisnya dan tertawa. Semua berkembang menjadi lebih lancar ketika ia mengatakan dirinya menangis karena teringat ayah dan gurunya. Ino tahu, pemuda itu mengerti jika dirinya berbohong. Tapi ia sudah berusaha keras.
Sayangnya, ia melakukan satu kesalahan fatal.
"Kalau begini kau jadi terlihat mirip Sasuke," katanya saat angin bertiup kencang.
Dan dalam sekejap semuanya berubah.
Ino tidak mengerti mengapa pemuda itu tiba-tiba bersikap aneh malam ini. Memaksanya, bertanya, dan menatap tajam padanya. Apa maksud semuanya? Apa itu artinya ia sudah boleh berharap sedikit saja?
Tapi sepertinya tidak.
Karena pemuda itu kemudian hanya bertanya, "Kau tidak keberatan berteman denganku?"
Berteman.
Ha-ha-ha.
Seperti ada lubang besar di dadanya.
"Tidak, aku tidak pernah keberatan."
Ino menjawab jujur meski telinganya tak mau dengar segala hal tentang pertemanan. Ia tak mau dengar harapannya sekali lagi dipadamkan. Namun tak urung, ia penasaran dan memberanikan diri untuk balik bertanya.
Itu adalah kesalahan fatalnya yang kedua.
"Kau sendiri kenapa mau berteman denganku?"
Jeda.
Pemuda itu tidak segera mengatakan alasannya.
Sudah empat belas detik dan jantungnya tidak kuat bertahan lebih lama dari ini. Baiklah, lebih baik ia menghentikannya. Sudah tak ada harapan. Ini semua adalah kesalahan. Mereka memang hanya sebatas teman.
Dan pemikiran itu menghantuinya hingga tak bisa tidur semalaman.
Benar-benar payah.
Puncaknya saat malam menjelang keberangkatan.
Pemuda itu telah berdiri lebih dulu di depan pintu—sama seperti yang lalu-lalu. Selalu pemuda itu yang lebih dulu berada di situ.
Ino terlalu terkejut namun segera tersadar. Dia tak ingin mendengar apa pun lagi atau ia akan semakin kehilangan daya untuk menyelesaikan misinya.
Tapi bagaimana dia bisa melupakan dengan mudah? Saat mendengar kalimat terakhir yang dikatakan pemuda itu.
Berjanjilah untuk segera kembali.
Ya Tuhan.
Tolong.
Jangan mengatakan itu hanya untuk membuatnya semakin berharap.
Ino menggigit bibirnya kuat-kuat sebelum menjawab singkat, "Ya."
Tak peduli jawaban itu diucapkannya dengan bergetar. Ia berharap masih punya waktu untuk melupakan semuanya di Suna nanti. Gadis itu mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan hawa dingin yang menerpa kulitnya.
Bukan lagi sekedar angin sepoi.
Ini adalah badai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BREEZE (Angin sepoi-sepoi)
Naruto milik Masashi Kishimoto
Arti kata dari KBBI
CANON setting after war
(before NaruHina's wedding)
Sebuah fiksi untuk kamu
Sai x Ino
OOC, TYPO, EYD, RUSH,
COMPLETE
ditulis hanya untuk hiburan
bukan keuntungan material apa pun
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Penggalan ingatan itu lagi-lagi mampir di kepalanya tanpa diminta, terutama jika ia sedang sendiri seperti ini. Cepat, kunoichi pirang itu menggeleng. Udara di luar sedang amat cerah dan ia menyerah terus-terusan memikirkan masalah yang menurut pertimbangan logisnya tak pantas dikatakan masalah.
Lagi pula masih ada hal yang jauh lebih penting dan harus dikerjakannya.
Bola mata aquamarine-nya mengerjap menatap bayangan sosok pirang yang terpantul cermin di depannya. Ia tersenyum, mengangguk satu kali dan menunjuk bayangan itu dengan telunjuk lentiknya.
"Kau," jarinya bergerak-gerak sementara bibirnya berkata dengan penuh penekanan, "selalu baik-baik saja, Yamanaka Ino."
Ia tersenyum lebih lebar dan merasa sedikit lebih baik. Gadis itu menarik napas satu kali, berdehem anggun, kemudian keluar dari pintu kamar mandi.
Yamanaka Ino memang baru saja selesai berbenah setelah kesekian kalinya melakukan ritual khususnya. Ini sudah hari kesembilannya di Suna dan itu berarti sudah dua belas hari ia meninggalkan Konoha.
Hari pertama tiba, ia masih menyempatkan diri menganalisis kondisi sang tetua di dalam ruangan khusus, sebelum beristirahat dan memikirkan langkah selanjutnya. Malam harinya, ia membongkar kitab khusus Klan Yamanaka peninggalan sang Ayah yang dibawanya.
Hari kedua, ia memulai analisis lebih dalam dengan memakai teknik dasar shintenshin yang digabungkan dengan shindenshin no jutsu. Kunoichi itu tidak bisa sembarang menggunakan jutsu-nya karena objek sasarannya saat ini tengah menutup kesadarannya sendiri.
Beberapa menit pertama sejak menggunakan jutsu-nya, awalnya sama sekali tak ada pertanda apa-apa. Namun putri Yamanaka Inoichi itu tak lekas putus asa. Ia mengerahkan lebih banyak lagi chakra-nya.
Oh, ayolah.
Ia sedang membawa nama baik Konoha dan Klan Yamanaka. Lebih dari itu, Suna membutuhkannya, dan ini adalah misi kemanusiaan yang diembannya.
Yah, sepertinya ia memang harus benar-benar serius karena jutsu-nya tak juga berhasil.
Merasa tak cukup hanya dengan dua teknik andalannya, Ino kemudian berinisiatif untuk memadukannya dengan elemen yin dan yang yang dimilikinya. Perlahan-lahan, tekniknya barusan sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Ia mulai dapat merasakan dinding energi lain yang menghalanginya meski belum memperoleh gambaran secara utuh. Tapi ini suatu kemajuan.
Rupanya ide memanfaatkan elemen yin dan yang ternyata benar-benar tepat. Ino sungguh bersyukur, meski menggunakan dua jutsu sekaligus—ditambah penggunaan dua elemen khusus secara bersamaan—telah membuat chakra dan energinya habis terkuras. Napasnya bahkan sampai terengah-engah.
Begitu hari kedua berakhir, kunoichi itu akhirnya dapat menarik kesimpulan awal.
Yamanaka Ino kemudian berterus terang pada Kazekage jika teknik ini tak bisa dilakukan satu kali karena staminanya sendiri tidak memungkinkan. Sebenarnya semua bisa dilakukan dengan cepat namun membutuhkan sepuluh hingga lima belas kali lipat dari chakra yang dimilikinya sekarang. Namun sayangnya, teknik ini tidak bisa dilakukan dengan metode asupan chakra. Jadi, ia juga tidak bisa menerima infus chakra dari orang lain.
Jalan satu-satunya adalah dengan mentransfer jutsu-nya sedikit demi sedikit secara teratur dan terus-menerus. Namun risikonya, metode ini akan membutuhkan waktu berhari-hari.
Kazekage sama sekali tidak keberatan, bahkan memberi fasilitas jauh lebih nyaman dari yang dibayangkannya.
Hari ketiga, Ino harus memulihkan diri terlebih dahulu sebelum bersiap memasuki ritual misi yang sesungguhnya. Ia juga harus benar-benar lihai mengontrol chakra dan menakar jutsu-nya jika tidak mau mengorbankan dirinya secara cuma-cuma.
Hari keempat, ia benar-benar memulai tekniknya di ruangan khusus tersebut dibantu beberapa shinobi Suna yang juga menguasai elemen yin dan yang. Hingga sejauh ini, semuanya berjalan lancar.
Seharusnya ia baik-baik saja. Orang Suna juga amat sangat ramah padanya. Tapi hati terdalamnya tidak. Bahkan rasanya semakin rapuh di mana Ino membenci dirinya sendiri karena merasa tidak profesional dengan misinya. Terkadang, itu membuatnya semakin memaksakan diri.
"Ino."
Langkah kakinya terhenti. Tubuh rampingnya kemudian berputar. Gadis itu segera tersenyum mendapati sosok yang memanggilnya. Ia memang sudah sering berbincang dengannya selama berada di Suna. Bisa dikatakan, ia sudah cukup akrab dengan kakak sulung Kazekage.
"Kau tidak menyentuh makan malammu."
Gadis Yamanaka itu meringis kecil. "Maaf, aku tidak terbiasa makan malam dengan porsi sebanyak itu." Entah ada badai apa, sudut hatinya serasa mencelos saat mengucapkan kata 'makan malam' namun segera ditekannya dalam-dalam.
Temari masih menatapnya serius. "Kau harus lebih memperhatikan staminamu, Ino. Ini sudah hampir seminggu semenjak ritualmu dimulai dan kau hampir tidak pernah menyentuh makan malammu."
Ino jadi merasa bersalah mendapati raut khawatir yang tersirat dari wajah cantik Putri Suna, meski kenyataannya ia hanya tidak sanggup menghabiskan makan malamnya.
"Apa kau ingin kami mengganti menunya?"
Gadis Yamanaka itu buru-buru menggeleng. "Tidak, tidak, itu sudah lebih dari cukup, bahkan hampir mengacaukan program dietku," jawabnya sedikit bergurau. Lalu ekspresinya berubah lebih serius. "Sekali lagi maaf. Tapi ... aku hanya sedang tidak nafsu makan untuk menghabiskan semuanya. Kau tahu? Terkadang kita tidak ingin melakukan sesuatu meskipun kita tahu sebaiknya kita melakukan itu―tapi tenang saja, aku tidak akan membuang-buang nyawaku semudah itu," Ino mengakhiri kalimatnya dengan senyum.
Gadis aquamarine itu cukup takjub mendapati Temari tidak lagi mencecarnya. Putri Suna hanya mengangguk maklum dan berkomentar, "Ya, terdengar seperti seseorang."
Ino mengerjap satu kali. Lalu tersenyum lebar dan mengangguk kecil begitu menyadari maksud kalimat Temari. "Umm, kurang lebih begitu."
Temari balas tersenyum padanya. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah kembali serius. "Maaf, kami sudah sangat merepotkanmu."
"Sama sekali tidak, ini sudah tugasku." Ino mempertahankan senyumnya.
Temari menatapnya beberapa saat. Kali ini dengan sorot khawatir yang tampak lebih nyata dibanding sebelumnya. "Kau tidak terlihat baik-baik saja, Ino."
"Aku selalu baik-baik saja," sergah Ino cepat. Tak lupa dengan senyum lebar andalannya, berusaha menampik sorot khawatir dari sepasang mata hijau Putri Suna.
Gadis Yamanaka itu paham. Temari tak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu padanya—sahabat Shikamaru dan juga Chouji—dan tentu saja Ino tidak ingin hal itu terjadi.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya di jam yang sama.
Tepat menginjak hari kesepuluh di Suna, sekaligus hari ketujuh ritual jutsu-nya. Ino sudah semakin terbiasa dengan udara padang pasir yang panas menyengat di siang hari, namun dingin mencekam di malam hari.
Gadis itu kini tengah berdiri di tepi balkon usai berbenah setelah beberapa saat lalu menyelesaikan ritualnya. Bola mata birunya berputar lambat, menelisik pemandangan malam hari Desa Suna yang terlihat begitu menawan dari tempatnya berdiri. Terpujilah Kazekage muda yang menjabat saat ini.
Sayang, pikirannya sama sekali tak berada di sana. Ingatannya justru berbalik mundur pada kejadian nyaris dua minggu lalu sebelum perjalanannya kemari. Yakni malam ketika pemuda itu datang dan menghancurkan semua usahanya.
Ino segera menggelengkan kepala dan tertawa getir.
Kheh. Lagi-lagi tentang itu.
Ia tidak mengerti bagaimana mungkin selama 19 tahun hidupnya, hanya kejadian malam itu saja yang bisa diputar otaknya.
Waktu itu, ia benar-benar tidak mau dengar hal yang membuat hatinya akan semakin parah. Lebih baik tidak mendengar apa-apa. Pun selama perjalananannya menuju ke Suna. Semua seolah berlalu begitu saja. Ia tidak begitu ingat apa saja yang terjadi semenjak kakinya meninggalkan Konoha. Oh, ia bahkan nyaris melupakan fakta bahwa salah satu rekan seperjalanannya adalah si Uchiha. Saat itu, Ino mati rasa untuk merasakannya.
Dan sekarang, ketika kepalanya sudah lebih jernih, ia menyesal.
Mengapa malam itu ia tidak membiarkan Sai menyelesaikan kalimatnya? Ini adalah Sai. Sekali lagi, ini adalah Sai. Seseorang yang mungkin memiliki sudut pandang tak sama dari kebanyakan orang yang pernah dikenalnya.
Dan sebagai seorang teman—ehm―saudara, seharusnya Ino mengerti. Seharusnya ia memberi Sai kesempatan. Bukannya lari dan menghindar seperti ini.
Bodohnya kau, Ino.
Egois sekali.
Inner-nya mulai memaki.
Yah, ia memang bukan teman yang baik. Bukan pula saudara yang baik. Setelah semua ini, apa ia masih bisa berharap?
Ha-ha-ha.
Lihat, siapa yang paling idiot di sini? Inner-nya mengejek.
Rasanya antara ingin menangis atau menertawakan dirinya sendiri. Bohong jika ia tidak siap mendengar apa pun. Tapi lebih baik begitu daripada terkungkung dalam perasaan ingin tahu. Seperti sekarang, seberapa pun ia penasaran, tak ada yang dapat ia lakukan.
Angin mendadak bertiup kencang, menerbangkan helaian pirang pucatnya.
Bola matanya memejam sejenak. Berada di Negara Angin memang berbeda dengan saat-saat ia berada di Negara Api. Angin di sini lebih kencang, tajam, dan menusuk. Juga dingin hingga menembus kulit. Atau itu hanya perasaannya saja?
Tiba-tiba ia terbatuk kecil.
Kheh.
Kesehatannya memang sedang tidak begitu baik belakangan ini. Benar bahwa ia tidak akan membuang nyawa dengan mudah. Tapi ritual jutsu yang menguras chakra, ditambah kondisi hati yang mengenaskan, seolah menggerogoti dirinya perlahan-lahan.
Sepertinya ia harus mengingat-ingat untuk memakan beberapa butir kacang gingko guna meredakan tenggorokannya, atau sekalian meminum rebusan jahe yang dicampur akar lotus agar pusingnya mereda.
Ia kembali tertawa getir dalam hati.
Kunoichi medis tidak boleh jatuh sakit, 'kan? Sebab jika demikian, siapa yang akan mengobati rekan setimnya nanti.
Kepala pirangnya mendongak ke atas, memandang gelapnya langit yang diselingi percikan bintang. Seolah membentuk bayangan wajah seseorang di sana.
Itu salah satu pesanmu dulu bukan, Asuma-sensei?
Maaf, aku mengingkari janjiku untuk lebih memperhatikan sekitar. Nyatanya aku tetap saja payah.
Iris aquamarine-nya kemudian bergeser memandang arah lain di atas sana. Ia terdiam beberapa saat sebelum bibirnya bergerak perlahan tanpa suara.
Ayah.
Putrimu ini ... tak bisa diandalkan.
.
.
.
.
.
"Kau masih akan meneruskan?"
Kalimat pertama yang diucapkan Temari telah membuka percakapan antara dua kunoichi pirang yang kini tengah menyusuri lorong.
Ino masih meneruskan langkahnya. Hari ini adalah hari kedelapan misinya. Berarti genap dua minggu sejak ia meninggalkan Konoha. "Aku sudah beristirahat semalam," jawabnya tanpa melupakan senyumnya.
Temari menolehkan wajah, menatap Ino dengan tatapan selidik selama beberapa saat.
Yamanaka Ino masih tersenyum.
Terima kasih pada keahliannya berdandan. Sepertinya ia berhasil mengelabui mata tajam Temari yang menelisiknya, meski tampaknya alasan Putri Suna itu mengalah lebih karena sikap keras kepalanya.
Temari menarik napas satu kali. "Baiklah, aku percaya padamu."
"Terima kasih." Tanpa sadar, Ino turut menarik napas lega. Oh, ia benar-benar terkesan pada kakak sulung Kazekage yang tegas tapi juga sangat pengertian.
"Tapi kau harus istirahat tengah hari nanti."
Senyum Ino semakin lebar. "Tentu saja, jangan khawatir."
Mereka berhenti di depan sebuah pintu ruangan khusus. Raut wajah Ino menjadi lebih serius tepat sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam.
Apa pun yang terjadi, misi ini harus diselesaikan sebaik-baiknya.
.
.
.
.
.
Hari kesepuluh misi.
Jumlah coretan silang di buku catatan Ino sudah berjumlah enam belas, menandakan jumlah hari yang sama sejak ia meninggalkan Konoha.
Tak diduga, misi ini membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraannya semula. Lapisan-lapisan terakhir pertahanan dinding chakra yang harus ditembusnya menjadi semakin kokoh dan ia benar-benar harus bekerja keras menerobosnya. Ino bahkan tidak meninggalkan ruangan khusus tersebut dua hari belakangan ini. Gadis itu hampir tak punya waktu untuk beristirahat.
Namun perjuangannya membuahkan hasil. Tepat di hari keduabelas, tetua itu akhirnya membuka mata dan segera disambut dengan ungkapan penuh suka cita dari para shinobi yang ada di sana.
Akan tetapi jangan senang dulu, Yamanaka Ino!
Misinya belum selesai sampai di sini. Tiga hari pertama, ia harus memantau perkembangan sang tetua dengan sangat teliti sembari memastikan tidak ada lagi dinding-dinding chakra pembatas kesadaran yang masih tersisa.
Hingga hari kelima, barulah ia dapat sedikit bernapas lega. Kondisi sang tetua sudah lebih stabil dan ia tinggal mengawasi setidaknya satu minggu ke depan.
Masa-masa kritis telah lewat. Hari-hari suram telah berlalu. Ditambah dengan suasana cerah Desa Suna yang juga tengah bersuka cita. Proyek kerjasama Suna dan Konoha—di mana Shikamaru terlibat di dalamnya―telah tuntas pada tahapan pertama dan akan segera berlanjut pada tahapan kedua.
Semua bersuka cita. Kazekage bahkan bermaksud mengadakan perayaan kecil-kecilan bersama seluruh warga desa saat purnama tiba. Tak ada yang tak merasa gembira.
Ino pun juga merasakan hal yang sama—tadinya.
Lelah—tapi juga lega. Seluruh energinya memang seolah habis terkuras, baik fisik maupun jiwanya. Tapi ini semua hampir selesai. Misinya sudah hampir selesai. Tak lama lagi, ia sudah bisa kembali ke Konoha.
Seharusnya ia senang.
Tapi.
Lubang di dadanya ini ...
Terkadang menjadikannya seperti anomali.
.
.
.
.
.
"Selamat." Ino menepuk bahu tegap sahabatnya dengan senyum tulus.
Yang ditepuk hanya balas menyahut pendek, "Kau juga."
Ino tertawa pelan lalu mengibaskan tangan. "Yang kulakukan tak ada apa-apanya dibandingkan dirimu."
"Tidak akan semeriah ini kalau kau tidak mampu membuatnya membuka mata."
Ino tertawa lagi mendengar tanggapan Shikamaru yang diucapkan dengan datar. Yah, sejujurnya kunoichi pirang itu benar-benar kagum pada sahabat jeniusnya yang telah menyukseskan tahapan pertama proyeknya. Siapa lagi yang bisa merancang proyek mega taktis shinobi dengan begitu mengagumkan selain pemuda berambut nanas yang selalu punya dua ribu strategi dalam satu langkah?
Tak heran jika kemudian Kazekage benar-benar mengadakan syukuran kecil-kecilan di halaman utama gedung Kazekage. Bukan perayaan gemerlap yang berbalut kemewahan. Namun seluruh penduduk desa dapat hadir dan merayakannya bersama-sama di bawah sinar bulan. Cukup dengan berpakaian santai tapi sopan.
"Jadi, bagaimana kelanjutan proyekmu nanti? Kupikir tahap berikutnya akan semakin sulit meski waktu pengerjaannya bisa lebih cepat."
Shikamaru masih sempat menguap satu kali sebelum menjawab, "Tenang saja. Hokage sudah memikirkan langkah selanjutnya."
"Ooh begitu," Ino mengangguk-angguk. Teringat pada Hokage mesum yang telah terbukti kapabilitasnya dalam memimpin Konoha.
"Ino?"
Sebuah suara membuat kepala pirangnya menoleh.
"Kau sudah di sini?"
Gadis Yamanaka itu segera tersenyum mendapati sosok yang baru saja memanggilnya dengan kerutan kening. Seharusnya ia memang beristirahat setelah nyaris seluruh tenaganya habis terkuras. Tapi tentu saja ia tidak ingin ketinggalan memberi ucapan selamat atas kesuksesan sahabatnya.
"Hehe, aku tidak ingin melewatkan perayaan suksesnya proyek si pemalas ini," jawab Ino setengah bercanda.
Temari tersenyum tipis mendengarnya. Kemudian ia turut memberi ucapan selamat serta berterima kasih atas bantuan dan kerjasama Konoha pada Suna yang kemudian dijawab dengan senyum lebar Ino dan gumaman datar Shikamaru.
Kakak sulung Kazekage itu terlihat cantik dalam balutan yukata biru tua dan rambut pirang yang disanggul pendek. Sekali lagi, Ino mengagumi betapa elegannya sang putri Suna.
Ino sendiri hanya mengenakan yukata ungu gelap dengan motif samar bunga berwarna putih. Ia tidak membawa banyak baju ke Suna dan yukata ungu ini adalah pilihan satu-satunya. Rambut pirang panjangnya pun ia biarkan tergerai begitu saja.
Kedua kunoichi pirang itu sempat berbincang sebentar. Namun Ino yang tanggap akan keadaan kemudian berkata pada Temari dengan senyum lebar, "Aku akan mencoba puding tomat ceri di sebelah sana."
"Mau kutemani?" Temari menawarkan diri.
Ino tertawa kecil. "Bicara apa kau, aku akan makan sepuas-puasnya. Kau bisa mati bosan jika menemaniku," candanya.
Temari tersenyum. "Bukan masalah."
"Ups," sahut Ino cepat, "tapi aku ingin makan sendiri. Kau di sini saja. Dadah~" ujarnya ringan tanpa memberi kesempatan Temari untuk merespons.
Gadis Yamanaka itu masih sempat menyikut pelan sahabat lelakinya sebelum kabur menghindar sambil tertawa, "Selesaikan proyekmu dengan segera."
.
.
.
.
Yamanaka Ino melangkah perlahan menuju deretan meja puding, bermaksud menghibur dirinya sendiri dengan sesuatu yang bisa disantapnya. Ia memang belum makan dari pagi, sedangkan kemarin-kemarin ia hanya menyentuh sangat sedikit dari porsi makannya.
Kunoichi itu tersenyum begitu tiba di depan meja. Ya, seisi desa tengah berbahagia. Tak sepantasnya ia bermuram durja. Tangannya mulai bergerak memilih puding yang menarik seleranya. Namun gerakannya terhenti ketika iris birunya tak sengaja menangkap salah satu menu utama di meja seberang.
Sup tomat.
Ino segera meletakkan pudingnya dan berbalik badan bermaksud melupakan kenangan makan malam sup tomat yang dengan seenaknya mampir di kepalanya. Namun sekali lagi gerakannya terhenti. Oh tidak! Bahkan menu di meja seberangnya lebih buruk lagi―terutama bagi kondisinya saat ini.
Gadis itu membatu di tempatnya.
Momen tofu?
Astaga.
Siapa pun koki yang telah merancang daftar menu masakannya, maka ia telah benar-benar sukses membuat Yamanaka Ino kehilangan seluruh selera makannya malam ini.
Mengurungkan niat semula, gadis itu justru bergeser mundur menjauh dari deretan meja makan. Tanpa sadar pula tubuh rampingnya sudah menyelinap ke tepi, menjauh dari kerumunan.
Ia menyandarkan tubuh ke dinding sebelum perlahan-lahan mendudukkan diri di atas satu-satunya kursi kosong di dekat pintu halaman samping.
Bola mata birunya bergerak-gerak menyorot sekitar. Dapat dilihatnya bayangan Shikamaru dan Temari yang tampak samar dari kejauhan. Seketika gadis itu teringat pada sahabatnya yang satu lagi. Rasanya ia jadi merindukan Akimichi Chouji jika tidak teringat bahwa pemuda tambun itu tentu juga disibukkan dengan misinya di Kumogakure.
Ia menghela napas. Lalu mulai memikirkan masalahnya sendiri.
Setelah misinya benar-benar selesai nanti, apa ia akan siap untuk kembali ke Konoha?
Gadis itu memijat pelan pelipisnya. Kepalanya mulai terasa berat. Suasana ramai di sekitarnya entah mengapa membuat pernapasannya menjadi tak nyaman. Pelipisnya bahkan terasa semakin berdenyut-denyut.
Astaga, sepertinya dia benar-benar harus memaksa makan jika tidak ingin pingsan karena kehabisan tenaga.
Tak ingin terlihat semakin menyedihkan, Ino mencoba mengatur pernapasannya beberapa saat. Kemudian ia menggerakkan tubuhnya, bermaksud bangkit dan mencari makan.
Tapi pandangannya mendadak berkunang-kunang. Keseimbangannya goyah dan ia nyaris tak sanggup lagi berdiri. Apalagi melihat.
Hampir gelap.
Namun dirasakannya sebuah tangan kokoh menangkap tubuhnya.
Apa ini?
Kesadarannya timbul tenggelam.
Perasaan seperti—
Bruk.
―melayang?
Sesuatu tak asing meski hanya dirasakan samar-samar.
"Jangan memaksakan diri."
Lalu semuanya gelap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau semakin kurus, Ino-chan."
Itu kalimat pertama yang didengarnya begitu sepasang bola matanya terbuka. Aquamarine-nya bahkan belum sempurna menangkap bayangan sosok berkulit pucat yang kini tengah menyorotnya dengan obsidian gelapnya.
Begitu tersadar, Ino yakin pipinya tidak mungkin tidak memerah. Demi Tuan Kazekage yang tak punya alis, ia selalu senang disebut kurus. Terlebih jika yang mengatakannya adalah ...
"Sai?"
Bola matanya mengerjap beberapa kali seolah meyakinkan diri jika tidak sedang bermimpi. Hah? Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin sosok itu bisa ada di sini? Oh, atau ia memang sedang bermimpi?
Tapi sepertinya tidak.
Sebagai seorang kunoichi dengan keahlian jutsu pikiran, adalah hal yang sangat konyol jika tidak bisa membedakan jiwanya sedang tersadar atau tertidur.
Iris birunya masih menyorot tak paham.
Dia benar-benar Sai? Atau hanya seseorang yang iseng memakai henge no jutsu dan mengerjainya?
Namun pemuda itu tidak segera menyahutinya. Kepala hitamnya justru menoleh ke samping bawah. "Di dalam sana terlalu ramai. Kau tidak keberatan kan kemari?"
Refleks, kepala pirang Ino ikut menoleh ke kiri bawah. Seketika bola matanya membulat.
Hah? Mereka sedang terbang?
Pantas saja rasanya seperti melayang. Ternyata ia benar-benar terbang.
Ino menarik napas. Tak diragukan lagi, pemuda di depannya memang benar-benar Sai. Matanya kemudian bergulir memandangi satu per satu benda di dekatnya. Ia berdecak sebal saat menyadari sepenuhnya posisinya saat ini.
Ck, lagi-lagi benda-benda lukis itu. Jutsu chouju giga yang menyebalkan itu. Rasanya ia jadi ingin sekali melempar kuas Sai sejauh-jauhnya.
Gadis itu kemudian berniat melepas paksa selimut chakra-nya. Tapi selimut itu kembali membungkus tubuhnya dengan segera.
"Kau tidak keberatan kan jika aku yang membalut lukamu?"
Deg.
Jantungnya seperti berhenti berdetak mendengar kalimat familier barusan. Terlebih saat wajah pucat itu kemudian menoleh padanya. Lengkap dengan sepasang obsidian yang menatap sempurna ke arahnya.
Hohoho. Beginikah rasanya sulit menelan ludah?
Yah, memang dirinya sendiri yang dulu pernah berkata bahwa ia mengizinkan Sai membalut lukanya dengan chakra-nya.
Sial. Kalau begini ...
Gadis itu menggigit bibir. Dia tidak bisa dan tidak mau lagi jika―
"Sudah baikan?" Sai mengganti ekspresi serius di wajahnya dengan senyumannya yang biasa.
Ino mengerjap sejenak. Pertanyaan ini segera menyadarkannya, terutama chakra hangat yang membuatnya lebih nyaman. Mengingatkannya pada saat-saat lalu sebelum semua kerumitan ini mulai membelit perasaannya.
Kalau begitu, bisakah ia melupakan semua keruwetannya sejenak? Dan membiarkannya mengalir dulu untuk sementara?
Kunoichi pirang itu berdehem dan mencoba bersikap biasa. Karena itu, ia justru mengibaskan tangan dan balik bertanya, "Bagaimana mungkin kau bisa ada di sini?"
Lupakan. Lupakan niatnya untuk melupakan apa pun. Biarlah saat ini ia bersikap seolah mereka adalah sepasang teman, saudara atau apa pun itu. Biarlah ia merusaknya untuk malam ini saja. Esok tidak lagi.
"Aku diperintah Hokage untuk bergabung dengan proyek Shikamaru."
Ino membulatkan mulutnya, sedikit heran dan tak paham. Alis pirangnya bahkan naik beberapa derajat, tapi ia tak berani menerka-nerka. Ia tahu jika proyek itu akan segera berlanjut ke tahap berikutnya. Tapi ia tidak menyangka tim baru dari Konoha akan tiba malam ini. Dan makin tidak menyangka jika salah satunya adalah Sai.
Alhasil gadis itu hanya mengangguk-angguk dan merespons pendek, "Begitu."
Ya, seperti itulah reaksi normal yang dilakukan oleh seorang teman. Memang lebih baik begini, bukan?
"Sebenarnya aku yang mengajukan diri untuk bergabung."
Ap—sebentar.
Biarkan ia berpikir, reaksi normal seperti apa lagi untuk menanggapi kalimat kali ini? Reaksi normal apa sebagai teman biasa?
Yamanaka Ino kembali mengangkat alis pirangnya dan bertanya sewajarnya, "Hah? Kenapa?"
Sai tidak segera menjawab dan hanya menatapnya beberapa lama. Ino nyaris tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa hingga gadis itu akhirnya memilih untuk mengalihkan pandangannya.
"Maafkan aku."
Heh?
Kepala pirang Ino berputar segera, menatap kembali sosok di depannya. Mencoba mencerna penggal kalimat barusan yang didengarnya. Apa tadi katanya? Oh, ia bahkan belum sempat berpikir harus bersikap bagaimana ketika pemuda itu mengulang kembali kalimatnya.
"Maafkan aku."
Akhirnya Ino memilih memiringkan sedikit kepalanya dan bertanya pendek, "Untuk?"
"Membuatmu menunggu."
O-ow.
Ino mengerjap. Sungguh, kali ini ia benar-benar tidak mengerti kalimat tekstual barusan. Siapa yang membuat menunggu siapa?
Dalam seluruh ingatannya, justru dirinyalah yang biasanya membuat pemuda itu menunggu. Saat menemani menjaga toko, saat pemuda itu hendak berangkat misi, bahkan saat Ino akan berangkat misi pun, dirinya tidak menemui pemuda itu untuk berpamitan. Malah Sai yang datang dan menunggunya.
Dahi mulusnya berkerut sempurna. Ia tak lagi berpura-pura, kini ia sungguh-sungguh bertanya, "Apa maksudmu?"
"Lagi-lagi aku dihajar Sakura."
Kalimat Sai barusan sukses membuat Ino melongo tak paham. Apa hubungannya?
"Dia marah besar karena aku sudah membuatmu menunggu."
Ino semakin tidak mengerti. "A-pa?"
"Sakura bilang sudah cukup kau menyainginya saat di akademi, urusan kecantikan, dan medis. Dia tidak mau kau menyainginya juga dalam hal menunggu."
Kunoichi pirang itu seakan kehabisan kosakata. Bibirnya hanya mampu mengulang kalimat tanya yang sama, "A-pa maksud—"
"Ino-chan, aku akan menemanimu di sini dan menunggu hingga kau selesai misi."
Yamanaka Ino mengerjap dua kali.
Butuh beberapa detik hingga gadis pirang itu menghela napas dan mengalihkan pandang ke arah lain. Perasaan yang sempat bergemuruh di dadanya, kembali ia tekan dalam-dalam.
Tidak lagi.
Gadis itu berdehem, "Kau tidak perlu melakukannya, Sai. Aku juga punya banyak teman dan orang-orang yang sudah kuanggap saudara di sini. Tak perlu khawatirkan a―"
"Bukan itu."
Ino sontak menoleh. Menatap pemuda itu tak paham. Namun seketika itu juga ia terperangkap dalam-dalam.
"Yamanaka Ino."
Hatinya berdebar-debar entah untuk alasan apa.
T-tidak. Jangan lagi.
"Aku ingin menjadi alasanmu tersenyum setiap hari."
A-pa?
"Aku ingin menjadi satu-satunya yang bisa membuatmu tertawa dan menangis bahagia."
Tunggu sebentar.
"Kalaupun kau menangis, Aku ingin menjadi orang pertama yang menghapus air matamu."
Ha-ha. Ini bohong.
"Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang kau percaya untuk membalut lukamu."
Ini bohong kan?
"Aku ingin menjadi orang pertama yang kau pikirkan setiap kali kau terbangun."
Kenapa?
"Karena bagiku, kau adalah semua itu."
Tidak mungkin.
Ino tidak pernah mendengar pemuda itu berbicara sepanjang ini. Ia masih tidak ingin percaya pada apa yang didengarnya. Semuanya seperti tidak mungkin. Kedatangannya yang tiba-tiba, juga kata-katanya barusan. Semua terlalu mengejutkan. Ia tidak yakin dirinya masih punya kesempatan.
Ini pasti bukan kisahnya. Tidak mungkin semudah ini. Tidak mungkin semenyenangkan ini. Tidak mungkin sebahagia ini. Namun seberapa pun ia menyangkal, hatinya justru menjawab sebaliknya.
Aku ingin kau yang menemaniku makan pagi, siang, dan malam. Aku ingin kau yang mencicipi masakanku. Aku ingin kau orang yang pertama kali kulihat setiap kali aku membuka toko, aku ingin kau pula yang menemaniku menjaganya. Aku ingin kau yang membuatku tertawa saking senangnya.
Aku ingin kau yang membersamaiku dan membuatku tetap tegak saat melangkah maju.
Aku ingin kau.
Ino ingin mengatakan semua itu.
Tapi tidak.
Kelopak matanya terpejam.
Karena yang didengarnya pasti bohong.
"Ino-chan."
Apa lagi?
"Ini pertama kalinya aku tidak baik-baik saja."
Apa maksudnya?
"Hanya jika sedang bersamamu―"
Kenapa pemuda di depannya tidak berhenti bicara?
"—aku ... tidak baik-baik saja."
Dia mengatakannya lagi, seolah semua kalimat tadi belum cukup.
"Jantungku, pernapasanku―"
Tolong hentikan.
Kali ini, Ino sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia memberanikan diri menyela.
"Sai-kun."
Cukup, jangan diteruskan. Pembicaraan ini sungguh berputar-putar. Tidak bisakah pemuda itu menyederhanakannya?
Kelopak matanya terbuka. Ia memberanikan diri membalas tatapan obsidian gelap yang sedari tadi tertuju padanya. Samar, dapat dilihatnya bayangan dirinya sendiri di dalam sana.
Bibirnya pun bergetar kala bertanya, "Apa kau sedang memintaku untuk menjadi kekasihmu?"
Hening sejenak. Hanya desau angin yang terdengar. Mungkin sang angin bermaksud menjawab―membawa pertanyaannya terbang dan lalu begitu saja. Tapi tak seperti dulu, kali ini pemuda itu tak membiarkannya.
"Apa kau tidak bersedia menerimanya?"
Ino tercekat.
Tidak.
Sekali lagi tidak. Ini pasti bohong. Apa dia begitu menginginkan pemuda itu hingga dalam mimpinya pun terbawa seperti ini.
Tidak, ia sudah tidak mau berharap.
"Ino-chan."
Siapa pun, tolong bangunkan ia sekarang.
"Apa kau ... tidak mau jadi kekasihku?"
Sayangnya, ini nyata.
Ada jeda yang sempat singgah beberapa lama di sana. Jantung, otak, paru-paru, dan seluruh organ tubuhnya seolah mengalami disfungsi sementara. Matanya pun mulai berkaca.
Ya Tuhan. Semua ini nyata.
Ia bahkan hampir terisak saat akhirnya bersuara.
"Apa ... aku ... boleh memelukmu?"
Hanya sekejap, ia sudah merasakan dekapan hangat. Lengkap dengan sebuah bisikan.
"Jangan meminta. Biar aku yang memelukmu."
Sekali lagi ia masih belum ingin percaya. Tapi semua yang dirasakannya benar-benar nyata. Sai sedang memeluknya.
Tiba-tiba dadanya seperti bergemuruh oleh debaran perasaan. Semua yang ditekan dan ditahannya, kini berdesakan dan melesak keluar. Ia pun benar-benar menangis saat menggerakkan tangan membalas dekapan pemuda itu.
Kenapa Tuhan begitu sayang padanya? Tidak pernah ada dalam mimpinya sebelumnya.
Seseorang yang selalu ada di sampingmu tanpa harus kautunggu. Seseorang yang mendatangimu tanpa perlu kaukejar. Seseorang yang tak pernah mengeluhkan apa pun tentangmu. Seseorang yang selalu senang hati menemanimu, menerimamu apa adanya, dan tak pernah merasa direpotkan olehmu.
Sekarang Ino percaya.
Ini kisahnya, bukan kisah orang lain.
Dia bukan Sakura yang menunggu Sasuke. Bukan Hinata yang berlari dan berpegangan tangan di sisi Naruto. Bukan pula Temari yang mendampingi Shikamaru. Juga bukan Karui yang bersama Chouji. Atau Rei yang bersama Kiba.
Bukan, karena dia Ino Yamanaka. Dan ia telah memilih Sai sebagai takdirnya.
Tuhan, bukankah ia sangat beruntung?
Gadis itu mendongak kepalanya ke atas. Matanya yang berkabut masih dapat melihat langit. Ada wajah ayah dan gurunya yang tengah tersenyum padanya.
Ayah, Guru, terima kasih.
.
.
.
.
Mereka saling mendekap beberapa saat lalu, dan kini saling berpandangan seraya melempar senyum.
"Terima kasih," bisik Ino. Pipinya merona. Mata birunya yang basah terlihat semakin bersinar. Wajahnya mendongak ke atas. "Kamisama, aku bahagia. Aku bahagia."
Ia lalu menatap Sai dan tertawa, "Aku bahagia."
Tanpa diduga, Sai juga tertawa.
Ini pertama kalinya Ino mendengar pemuda itu tertawa. Suaranya seperti alunan menyenangkan yang membuatnya ketagihan.
Suatu saat nanti, kau akan merasakannya. Perasaaan senang yang begitu meluap-luap sampai-sampai tidak ingin berhenti tertawa.
Kali ini, tanpa ragu lagi Ino bergerak lebih dulu. Memeluk sosok berharga di depannya dengan erat dan tak akan ia lepaskan dengan mudah.
.
.
.
.
Angin malam berembus lebih kencang seperti biasa. Tapi kali ini, mereka tak memilih peduli. Karena bagaimana pun juga, angin yang selalu menjadi saksi pertemuan mereka.
Biarkan saja.
Biar angin yang menghapus kesepian mereka, membawa pergi semua kesedihan hingga lenyap tak bersisa. Biar angin yang meniupkan semuanya.
Biar angin ...
... yang mempertemukan perasaan mereka.
.
.
.
.
[Ino]
Ada banyak pilihan di dunia ini. Bisa melangkah maju, bergeser mundur, atau tetap diam di tempat dan terpaku pada masa lalu.
Tapi ia akan terus melangkah maju.
Itu pilihannya, dengan pemuda itu di sisinya.
Hanya dia.
Karena padanya aku jatuh cinta.
[Sai]
Ia kini mengerti, mengapa sosok itu begitu indah di matanya.
Dia seperti bunga. Terlihat cantik, tegar, menyejukkan, tapi sebenarnya butuh penopang.
Jika demikian ...
Ino-chan.
Jika kau adalah bunga, maka biarkan aku menjadi akar yang menopangmu untuk mekar.
.
.
.
.
.
FIN
Cinta sejati dibangun dari kesediaan tulus untuk saling memahami, mendukung, dan menerima. Tidak hanya kelebihan, tapi juga segala kekurangan, kesakitan dan latar belakang.
―Anonymous—
A.N:
Ino gadis bunga dan Sai dulunya anggota Anbu cabang Ne (akar). Kisah mereka bukan berakhir, justru baru akan dimulai di Negara Angin. Sebab hanya angin yang mampu membelai dua hati yang terpenjara sepi
Pft (dibakar rame-rame). Sebenarnya aku bingung nulis chapter ini. Kukira bakal panjang ternyata cuma jadi segini. Yep mari bunuh Lala. Makin hari, imajinasinya makin amburegul aja T.T
Yo, sebelum di-kamaitachi Temari, ijinkan daku bales ripiuw dulu:
arihara: iyep SaiIno the best hehe makasih udah kemari :D
de-chan: makasih udah RnR seperti kemarin~ (ikutan nyanyi lagunya nuwah) kyaa makasih juga pinjeman senternya, chap ini jadi lebih cerah :') wuah mau ikutan peluk Minato! XD
Indri: cihuy iya nih, si abang syudah punya emosi dan bisa galau :3 gapapah kak :p makasih banyak yah sudah setia ngikutin fiksi apalah-apalah ini (nangis terharu) :*
kaiLa wu: kazekage ngga naksir Ino kok :) nanti di Gaara Hiden kayaknya bakal dijelasin siapa jodoh kazekage-sama (Lala namanya) :3 makasih udah mampir yah ^^
RedGloriae: aduh makasih banget kyaa peluk :* ngga sia-sia dakuh sampe frustasi nulis chap kemarin T.T bacanya di internet, soalnya baru versi jepangnya yang resmi terbit :')
UchihaGilbert: pengen ada Ino/Sai Hiden :') tapi daku mah capa atuh tjuma sebutir fans T.T makasih udah RnR :3
Berikutnya, akan ada Hidden Chapter (bonus chapter tambahan) yang berisi hidden scenes tentang pertanyaan-pertanyaan tak terjawab di sepuluh chapter Breeze. Siapa informan Sakura, apa yang terjadi pada Sai selama Ino pergi, apa yang sebenarnya dilakukan sahabat-sahabat Ino, dll. Atau adakah yang minat rikues? Siapa tahu masih ada scene yang kulewatkan ;)
Dengan ini, Breeze dinyatakan resmi tamat. Terima kasih banyak untuk semua yang sudah berkenan mampir kemari. Membaca tulisan yang penuh kekurangan ini. Memberi pendapat/masukan tentang imajinasi absurd yang sebenarnya curhatan terselubung Lala tentang pasangan SaiIno. Pasangan yang engga diceritain gimana bisa beneran saling cinta, yang engga disebutin alasan kenapa bisa bersama, yang engga di— (stop La) (Lala ditimpuk rame-rame)
Intinya, I'm beyond blessed bisa berbagi imajinasi dengan kalian semua. Maaf untuk semua kekurangan dan keterbatasanku yah. Tanpa kalian, aku butiran debu. Cinta kalian semua :*
Akhir kata: semua pairing punya sisi mengagumkan dengan cara masing-masing. Keep loving all pairing (^3^)9
OMAKE? :D
Sosok pria bermasker tengah mengangguk-angguk puas dari balik meja kerjanya usai mendengar laporan dari salah satu ninja mata-mata pilihan.
Pria itu meluruskan sejenak punggungnya yang mulai terasa pegal. Tangan kokohnya meraih sebuah buku lama bersampul oranye. Membukanya sekilas, dan berhenti begitu menemukan secarik kertas penuh coretan. Sebuah tulisan tertera di bagian paling atas. Misi Seumur Hidup.
Pria itu mencentang salah satu barisan dan menambah tulisan singkat di sana.
Shikamaru: sukses.
Sang Hokage lalu memijit pelipisnya pelan. Kebiasaan yang sering dilakukannya kala terpikirkan suatu hal di saat-saat seperti ini. Yakni ketika jam kerja resminya berakhir dan ia masih menyendiri di balik tumpukan dokumen meja kerjanya.
Bermula dari pertanyan salah satu muridnya yang kemudian menyadarkannya. Ya, inilah yang dipikirkannya. Rasanya begitu semuanya jelas, bebannya jadi terasa lepas.
Ia tersenyum miring di balik maskernya, "Anak-anak itu harus berterima kasih padaku."
Benar sekali. Murid-muridnya yang terkenal berbakat dalam dunia ninja, memang agak merepotkan jika sudah menyangkut soal yang satu itu. Tapi setidaknya, kali ini pun berjalan dengan baik. Tinggal beberapa langkah lagi menuju tujuan utamanya.
Pria Hatake itu menutup buku oranye keramatnya dengan khidmat.
Sejurus kemudian, pandangannya teralih pada salah satu foto di ruangan tersebut. Terutama pada satu sosok tak asing dalam foto tua berbingkai. Tatapannya kini menghangat.
Jiraiya-sama. Peninggalan Anda benar-benar berguna.
Yah. Hatake Kakashi benar-benar Hokage yang baik, bukan?
.
.
.
.
.
Coming soon after Hidden Chapter
Sekuel Breeze:
FLORA (Tanaman)
"Tentang sebuah nama yang menyatukan bunga dan akar."
