"Aku menyukainya." Kata Baekhyun lirih.

"Ah sudahlah percuma dijelaskan kau tidak akan mengerti." Erang Baekhyun lagi sambil manyun lalu menenggelamkan wajahnya di dada Jongin. Jongin hanya terkekeh sebelum ikut menenggelamkan wajahnya di rambut Baekhyun lalu berbisik pelan.

"Aku tahu. Karena aku juga merasakannya sekarang."

"Replace"

Warn: Gs!Kai, Gs!Baekhyun, Typo(s)

Pair : Hunkai

Disclaimer : Cast(s) milik diri mereka sendiri.

.

.

.

Brakk.

Sehun mengerang pelan saat pintu kamarnya dibuka dengan paksa. Tidak tahukah siapapun yang berani-beraninya menggebrak pintu kamar Sehun kalau sekarang Sehun sedang lelah. Maksudnya BENAR-BENAR LELAH. Sumpah serapah sudah sampai diujung lidah Sehun siap dilemparkan kepada siapapun yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Tapi sayang harus ditelan lagi saat melihat siapa yang berdiri disana.

"Haowen?"

Ya yang mendobrak pintu kamar Sehun tadi adalah Haowen, masih lengkap dengan piyamanya dan mata yang berkaca-kaca?

"Hilang." Kata Haowen lirih sambil menahan tangisnya.

"Hmm?" Tanya Sehun bingung. Hilang? Apanya yang hilang?

"Hilang! MommKU hilang!" Teriak Haowen kesal sambil air matanya menetes. Melihat itu Sehun langsung saja bangkit menuju Haowen. Jongin hilang? Dia pergi lagi? Tapi kenapa?

"Ssstt Mommy tidak hilang mungkin dia sedang ke kamar mandi atau memasak di dapur." Sehun menggendong Haowen sambil menggosok-gosok punggung Haowen yang tangisannya makin keras.

"Tidak ada! Haowen sudah cari tapi tidak ada! Huwaaaaa. Moooooom~" Tangisan Haowen pecah, menggelegar di seluruh penjuru rumah megah Sehun, termasuk di kamar Baekhyun membuat sosok yang sedang ditangisi langsung terbangun.

'Astaga Haowen.' Pekik Jongin terbangun dari tidurnya. Dia lupa kalau semalam dia meninggalkan Haowen sendirian di kamarnya. Jadi tidak heran kalau sekarang Haowen sedang menangis meranung-raung mencari dirinya.

Jongin segera mencoba bangun tapi tidak bisa karena Baekhyun masih memeluknya erat. Melirik ke arah Baekhyun yang nampaknya masih tertidur, Jongin mencoba melepas pelukan Baekhyun dengan sangat pelan berharap Baekhyun masih tertidur dan tidak menyadari pergerakannya.

Tapi sayang-

"Jangan." Kata Baekhyun pelan, masih memejamkan matanya tapi dari suaranya yang terdengar jelas menandakan bahwa Baekhyun sudah bangun. Baekhyun malah makin mengeratkan pelukannya.

"Aku belum selesai tidur." Tambah Baekhyun.

"Tapi Haowen menangis. Aku akan melihat Haowen sebentar lalu kembali lagi." Jongin mengelus-elus rambut Baekhyun sambil berusaha melepaskan pelukan Baekhyun.

"Nggak mau. Biarin saja Haowen." kata Baekhyun keras kepala.

"Tapi Haowen menangis." Seolah menyetujui ucapan Jongin tangis Haowen terdengar lebih keras lagi.

"Moooooom~~"

"Baekhyun aku mohon sebentar saja." Mohon Jongin terlihat gelisah mendengar tangisan Haowen yang semakin menjadi-jadi. Tapi bukan Baekhyun namanya kalau dia mengalah. Bahkan pada adiknya sendiri.

"Huwaa dimana Mommyku~"

"Baekhyun."

"Aww aww kakiku sakiit." Rengek Baekhyun kesakitan yang begutu saja dipercayai oleh Jongin. Hah. Tidak salah klub teater memohon-mohon pada Baekhyun untuk menjadi anggotanya. Akting Baekhyun memang top class.

"Eh? Masih sakit? Yang ini?" Kata Jongin memegang kaki Baekhyun.

"Iya masih sakit." Kata Baekhyun memelas.

"Moooommmmmyyyy~~"

"Aw aw kakikuuu~~"

"Mooooom~"

"Awww~"

"Moooooommmyyyyy."

"Baekhyun aku mohon sebentar oke. Aku akan mengambil Haowen dulu lalu aku akan memijat kakimu." Pinta Jongin beranjak menuju pintu kamar Baekhyun.

"Tapi kakiku sakiit." Rengek Baekhyun.

"Aku akan segera kembali." Janji Jongin sebelum meninggalkan kamar Baekhyun. Diluar terlihat Haowen yang sedang di gendong Sehun di depan kamarnya sambil menggendong Haowen yang sedang menangis.

"Mommy~~"

"Haowen." Panggil Jongin berlari kecil ke arah Haowen. Haowen langsung saja menghentikan tangisannya sambil tangannya menggapai-nggapai ke arah Jongin yang mencoba menggendongnya.

Sehun sendiri hanya mengerutkan alisnya bingung melihat darimana Jongin.

"Kau dari kamar Baekhyun?" Tanya Sehun.

"Mhmm." Gumam Jongin sambil menggoyang-goyangkan badannya menenangkan Haowen.

"Sstt sudah jangan menangis." Kata Jongin pada Haowen.

"Awwww kakikuuuu~~" Teriakan Baekhyun menyadarkan Jongin bahwa masih ada satu bocah lagi yang sedang membutuhkannya. Segera saja Jongin kembali ke kamar Baekhyun dengan masih menggendong Jongin. Sehun hanya diam dan menatap Jongin yang tergesa ke kamar Baekhyun.

"Awww~" Baekhyun bergelung di kasurnya sambil memegangi kakinya. Jongin mendudukkan dirinya di pinggiran kasur Baekhyun dan langsung memijat lembut kaki Baekhyun.

"Apa masih sakit?" Tanya Jongin.

"Iya disitu masih sakit." Kata Baekhyun memelas. Bohong. Kakinya sudah tidak terlalu sakit. Hanya saja dia suka diperhatikan oleh Jongin jadinya dengan kemampuan aktingnya dia bertingkah kakinya masih sakit. Gengsi dong kalau dia secara blak-blakan mengakuinya. Tidak heran Chanyeol sunbae selalu memanggilnya tsundere.

"Baekhyun kau kenapa sayang?" Tanya Sehun masuk ke kamar Baekhyun.

"Kaki Baekhyun sakit dad. Kemarin jatuh." Kata Baekhyun manja.

"Benarkah? Apa sekarang baik-baik saja? Apa mau daddy panggilkan dokter atau tukang pijat? Kalau begitu hari ini tidak usah masuk sekolah dulu oke?" Kata Sehun khawatir. Yes! Hari ini memang Baekhyun sedang malas sekolah.

"Tidak papa Dad. Biar Jongin yang memijat kakiku. Kau tidak kebaratan kan Jongin?" tanya Baekhyun pada Jongin sambil memasang wajah melas.

Sehun mengerutkan alisnya bingung.

Sejak kapan Baekhyun dan jongin...?

Apa mereka sudah benar-benar akur?

Atau ini hanya akal-akalan Baekhyun untuk membully Jongin?

Bukannya Sehun berprasangka buruk pada putrinya. Bukan, tapi semua orang pun tahu kalau Baekhyun sudah tidak suka pada seseorang maka Baekhyun tidak akan main-main dan menyembunyikan rasa tidak sukanya. Sama seperti dirinya. Dan Haowen juga. Kalau kata Kris itu penyakit turunan dari Sehun.

"Tentu saja." Jawab Jongin tanpa ragu dan tulus. Sehun melirik kearah Jongin yang memijat kaki Baekhyun dengan tangan kirinya dan mengelus punggung Haowen dengan tangan kanannya. Membuat Sehun merasa bersalah kalau Baekhyun memang benar hanya ingin membully Jongin yang kelewat baik.

Dan Baekhyun berusaha mati-matian menahan senyumnya.

"Tapi Mommy harus menyiapkan Haowen dan mengantarkan Haowen ke sekolah." Protes Haowen yang sudah berhenti menangis.

"Suruh saja orang lain Haowen. Noona kan lagi sakit. Kau tega sama noona." Protes Baekhyun tidak mau kalah.

"Noona saja yang suruh orang lain!"

"Tidak mau! Kau saja! Orang cuma mandi juga! Lagian kau sudah besar masih dimandiin terus! Nggak malu apa!"

"Biarin! Noona juga orang cuma pijat aja suruh orang lain kan bisa!"

"Nggak bisalah dipijat kan beda-beda rasanya tiap orang!" Suara Baekhyun dan Haowen makin lama makin meninggi.

"Baekhyun. Haowen." Lerai Sehun tapi suaranya teredam tetiakan kedua anaknya.

"Nggak mau pokonya Mommy harus sama Haowen!"

"Nggak! Jongin harus memijat kakiku pokonya!"

"NGGAK MAU!"

"Ish! Apa bedanya sih kalau orang lain!" Teriak Baekhyun gemas.

"Beda dong! Dia kan MommyKU!" Teriak Haowen final.

Skak mat untuk Baekhyun.

Suasana langsung menjadi hening.

Sehun membeku.

Jongin melirik kearah Baekhyun gelisah.

Baekhyun menatap tajam Haowen.

Haowen hanya diam gagal memahami situasi.

Baekhyun terus menatap Haowen tajam karena sungguh dia sangat benci dengan topik ini. Dan Baekhyun kalah telak kalau Haowen sudah mengatakan itu.

Dengan kasar Baekhyun menarik kakinya dari tangan Jongin. Meringis saat merasakan sakit karena kakinya ditarik terlalu keras.

"Baekhy-"

"Pergi." Titah Baekhyun membalikkan badannya. Jongin menatap Baekhyun sedih. Haowen menatap Jongin bingung.

"Aku akan segera kembali." Kata Jongin bangkit dari duduknya.

"Tidak usah." Kata Baekhyun singkat. Menghela napas pasrah Jongin beranjak keluar kamar Baekhyun. Sehun yang sedari tadi hanya diam mendudukkan pantatnya di kasur Baekhyun. Sebenarnya dia sendiri kurang menangkap situasi yang terjadi sekarang. Yang dia tahu Baekhyun marah pada Haowen karena Haowen menyangkut-nyangkutkan masalah ibu. Tapi pasti ada yang lain lagi. Antara Jongin dan Baekhyun pasti terjadi sesuatu. Tapi Sehun tidak tahu itu apa.

"Terjadi sesuatu antara kalian?" Tanya Sehun menatap punggung Baekhyun sambil mengelus rambutnya.

"Tidak." Baekhyun tahu yang dimaksud 'kalian' adalah dia dan Jongin tapi tetap saja Baekhyun tidak mau mengakui apa yang terjadi semalam.

"Daddy akan bolos hari ini dan menemanimu dirumah." Kata Baekhyun.

"Tidak usah Dad. Aku baik-baik saja." Tolak Baekhyun dingin.

"Daddy akan tetap bolos dan menemanimu."

"Tidak mau Dad. Aku mau sendiri." Tolak Baekhyun setengah merengek. Membuat Sehun menghela napas pasrah.

"Beneran? Kau baik-baik saja sendiri?" Tanya Sehun memastikan.

"Mhmm." Kata Baekhyun memutar badannya menghadap Sehun sambil melempar sengum tipis.

"Baiklah. Daddy akan kerja sekarang. Daddy usahakan untuk pulang cepat oke?" Sehun mengecup kening Baekhyun lalu bangkit dan meninggalkan kamar Baekhyun setelah menerima anggukan dari Baekhyun.

Baekhyun bergelung dikasurnya memutuskan untuk kembali tidur. Toh, memang dia tidak ada pekerjaan lain.


Jongin meletakkan roti panggang dengan selai strawberry di piring yang sudah disiapkannya di nampan. Jongin sudah selesai menyiapkan Haowen yang sekarang sedang memakai sepatunya makanya Jongin membuatkan sarapan untuk Baekhyun. Baru saja Jongin berniat untuk beranjak dari dapur untuk mengantarkan Sehun dan Haowen ke depan dirinya sydah dikejutkan oleh Sehun yang sedang bersandar di pantry di belakangnya.

"Ah kau mengagetkanku." Jongin sedikit terlonjak begitu melihat Sehun.

Sehun hanya diam.

"Ada apa?" tanya Jongin was-was melihat wajah serius Sehun. Sehun melirik ke belakang Jongin melihat nampan yang sudah siap berisi sarapan.

"Untuk siapa?" tanya Sehun, Jongin ikut menoleh ke belakangnya mengikuti arah pandangan Sehun.

"Baekhyun. Dia kan belum sarapan." jawab Jongin. Membuat Sehun merasa dia akan benar-benar marah pada Baekhyun kalau memang Baekhyun hanya berniat untuk membully Jongin. Tidak. Sehun tidak melarang kalau Baekhyun membenci Jongin. Sehun hanya ingin Baekhyun bersikap dengan baik itu saja.

"Apa terjadi sesuatu antara kau dan Baekhyun semalam?" tanya Sehun kembali menanyakan pertanyaan yang tadi gagal mendapatkan jawaban dari Baekhyun.

"Tidak ada. Baekhyun terjatuh di kamar mandi dan aku menolongnya. Itu saja." Memang itulah yang terjadi. Tapi Jongin meninggalkan penjelasan yang lebih spesifik karena Jongin yakin Baekhyun pasti tidak akan senang dengan itu.

"Benarkah?"

"Benar."

"Bohong. Apa ini hanya akal-akalan Baekhyun untuk mengganggumu?" Tuntut Sehun tidak percaya.

"Sungguh aku tidak bohong. Dan Baekhyun sama sekali tidak melakukan apa-apa padaku." Kata Jongin meyakinkan.

"Mommy~ bantu Haowen. Haowen tidak bisa menali sepatunya." Teriak Haowen dari ruang tv. Jongin memberikan lirikan penuh arti yang menenangkan pada Sehun sebelum melangkahkan kakinya.

Tapi Sehun belum puas dengan itu. Dengan sigap Sehun menarik lengan Jongin, niatnya ingin membuat Jongin kembali menghadap ke dirinya. Tapi karena tarikannya terlalu tiba-tiba, Jongin yang tidak siap langsung terhuyung menghadap Sehun hingga menabrak dada Sehun.

Sehun sendiri malah memeluk Jongin.

Karena sudah terlanjur, kenapa tidak sekalian dipeluk saja kan? Itulah yang melintas di otak Sehun.

"Jongin." Kata Sehun singkat menuntut penjelasan.

"Sungguh Sehun tidak ada apa-apa. Baekhyun tidak menggangguku." Jongin tanpa sadar memanggil nama Sehun tanpa merasa awkward seperti biasanya. Entahlah itu mengalir begitu saja dari mulutnya.

Sehun diam sesaat masih memeluk Jongin, sebelum menghela napas dan melepaskan pelukannya. Jongin mendongak menatap Sehun.

"Baiklah. Tapi kau harus langsung memberitahu aku kalau Baekhyun melakukan sesuatu oke?"

Jongin hanya tersenyum kecil sambil menggumamkan "Mhmm." Karena Sehun sudah ikut tersenyum dan mulai mencium Jongin ringan dan penuh afeksi.

"Mommyyyyyy~" Panggilan Haowen membuat Jongin menyudahi ciuman mereka dan beranjak meninggalkan Sehun yang mengikuti berjalan di belakangnya.


Baekhyun bergerak-gerak dalam tidurnya, tadi dia menyetel AC kamarnya ke suhu paling rendah, tapi kenapa terasa hangat dan nyaman sekali. Kakinya yang

tadi terasa sakit pun sekarang rasanya tidak sakit. Seperti...

Seperti ada yang memijat.

Ya dipijat.

Dan pijatannya enak sekali.

Seperti pijatan Jongin.

Huh?

Jongin?

Baekhyun buru-buru membuka matanya dan benar saja Jongin yang memijat kakinya. Jongin menoleh saat merasakan kepala Baekhyun bergerak, menemukan Baekhyun yang menatap datar ke arahnya.

"Selamat pagi Baekhyun." Sapa Jongin tersenyum lembut ke arah Baekhyun.

Baekhyun hanya diam sambil menatap datar ke arah Jongin. Mengerti tidak akan mendapat balasan Jongin kembali memulai percakapan.

"Aku tadi membawakanmu sarapan. Tapi kau malah tertidur jadinya dingin," kata Jongin.

"Nanti akan aku bawakan lagi yang masih hangat." tambah Jongin.

Baekhyun hanya diam lalu menarik kakinya dari tangan Jongin. Beranjak dadi kasurnya dan berjalan sedikit tertatih menuju kamar mandi. Mungkin wanita ini akan meninggalkannya kalau Baekhyun mandi.

Baekhyun membuka pintu kamar mandinya dan melihat bathubnya penuh dengan air hangat, terlihat dari asap yang mengepul diatasnya. Baekhyun mengernyitkan alisnya bingung.

"Aku tadi mengisinya dengan air panas sekitar lima belas menit yang lalu. Mungkin sekarang sudah hangat. Kau mau mandi sekarang?" Suara Jongin dibelakangnya kembali menyadarkan Baekhyun.

Membawakan makanan.

Menyiapkan air mandi.

Memijat kakinya.

"Apakah kau memerlukan bantuanku untuk mandi?" tawar Jongin lagi tersenyum.

Dan satu lagi. Membanjiri Baekhyun dengan perhatian dan afeksi benar-benar memporak-porandakan hati Baekhyun.

Baekhyun ingin menolak. Bukan hanya menolak, mungkin dia juga ingin sedikit melempari Jongin dengan kata-kata tajam. Tapi saat Jongin merangkul bahunya lembut dan membantunya masuk ke kamar mandi Baekhyun tidak kuasa.

"Baiklah aku akan membantu." Ujar Jongin dengan suara yang kelewat ceria. Ingin membuat Baekhyun tertawa karena lagi-lagi wanita ini mengartikan kediaman Baekhyun sebagai iya.

'Selalu saja menarik kesimpulan seenak jidatnya.' Cibir Baekhyun dalam hati.

Jongin mendudukkan Baekhyun diatas closet dan melepaskan baju Baekhyun, lalu membantu Baekhyun masuk kedalam bathub untuk berendam. Jongin memberi shampoo pada rambut panjang Baekhyun sambil tersenyum. Dulu Jongin tidak pernah bermain boneka karena dia tidak punya uang untuk membeli boneka dan tidak punya waktu untuk bermain, dia sibuk untuk belajar dan bekerja. Tapi kata teman-temannya bermain boneka sangatlah menyenangkan dan sekarang Jongin tahu rasanya. Bahkan yang ini lebih menyenangkan.

Baekhyun memang seperti boneka. Rambutnya hitam dan panjang dengan sedikit ikal dibagian ujungnya, kulitnya putih dan halus seperti boneka porselen mahal yang mengkilap, wajahnya pun sangat cantik, mungil dan imut. Apalagi kalau sedang diam seperti ini. Baekhyun benar-benar seperti boneka. Meskipun jujur Jongin lebih suka mendengar omelan Baekhyun yang terdengar lucu dan manja.

Sepanjang acara mandi mereka tidak ada yang membuka mulut. Baekhyun masih terlarut dalam pikirannya. Dia hanya menurut saya saat dituntun Jongin melakukan ini itu.

Baekhyun terduduk di tempat tidurnya sekarang. Jongin sedang menyisir rambutnya masih dengan senyuman yang menurut Baekhyun terlihat bodoh.

"Nah sudah." Kata Jongin tersenyum lebar memperhatikan hasil kerjanya.

"Aku akan kebawah sebentar. Mengambilkan makanan lalu segera kembali." Pamit Jongin meninggalkan kamar Baekhyun membawa makanan dingin tadi.

Jongin kembali membawa nampan baru berisi sandwich, strawberry dan jus. Duduk dihadapan Baekhyun, Jongin menyerahkan piring berisi dua potong sandwich itu dihadapan Baekhyun.

Baekhyun hanya diam.

Tangan Jongin terulur mengambil satu potong lalu menyodorkannya dimulut Baekhyun.

Lagi-lagi menarik kesimpulan seenaknya. Baekhyun bersumpah dia pasti sudah memutar bola matanya kalau suasana hatinya sedang tidak buruk.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Baekhyun akhirnya buka suara.

"Hmm? Melakukan apa?" tanya Jongin tidak mengerti.

"Berpura-pura peduli padaku," kata Baekhyun.

"Bukannya kau seharusnya mengurusi Haowen. Kau kan Mommynya." Sindir Baekhyun sarkatis.

"Baekhyun, Haowen tidak mengerti apa yang dia katakan." Kata Jongin.

"Tentu saja. Dia tidak mengerti segalanya."

"Karena dia masih kecil. Dia akan mengerti ketika sudah waktunya." Kata Jongin lembut.

"Dan pada saat itu dia akan terkejut akan seberapa kerasnya kenyataan bisa menamparnya." Kata Baekhyun dengan tatapan kosong. Jongin menatap Baekhyun sendu.

"Berhentilah menatapku seperti itu dan berhentilah berpura-pura peduli padaku karena kau merasa kasihan. Aku tidak suka dikasihani."

"Aku tahu. Dan aku tidak melakuka ini karena mengasihanimu."

"Lalu apa? Karena kau menginginkan Daddyku?" Tanya Baekhyun menantang.

"Baekhyun bukan sep-"

"Kau menyukainya kan?" putus Baekhyun. Sementara Jongin setengah membuka mulutnya, bingung harus menjawab apa membuat Baekhyun tersenyum mengejek.

"Tidak usah dijawab. Aku sudah tahu arti tatapan matamu. Aku juga tidak mau mendengar seperti yang dikatakan Daddyku 'Maafkan Daddy Baekhyun, Daddy tidak menyukainya. Tapi mencintainya.' Hah. Klise." Cibir Baekhyun dibagian akhir mengingat betapa seriusnya ayahnya saat mengatakan hal itu. Jongin terkejut, tentu saja. Bukannya tidak tahu kalau Sehun erm-mencintainya, tidak berlebihan kan kalau Jongin menggunakan kata-kata itu? Oh, terserahlah. Yang jelas Jongin sangat sadar kalau Sehun menyimpan perasaan untukknya. Tentu saja, melihat tingkah Sehun saja semua orang pun tahu. Acts speak louder than words, huh?

Tapi baru kali ini Jongin mendengar Sehun mengungkap perasaannya secara verbal-meskipun secara tidak langsung. Tapi kalau melihat kilatan di mata Baekhyun, Jongin tahu Baekhyun tidak berbohong.

Sebelumnya kalau ditanya bagaimana peraasaan Jongin sekarang? Dia akan menjawab rasanya seperti meledak. Rasanya seperti kembali ke masa SMA ketika ada sunbae incaran sekolah menembakmu. Tapi Jongin urung menjawab sekarang begitu melihat Baekhyun. Ekspresi terluka Baekhyun benar-benar membunuh euforia kebahagiannya.

"Aku berjanji Baekhyun tidak akan terjadi apa-apa diantara kami selama kau tidak menginginkannya." Kata Jongin tegas tanpa sedikitpun keraguan. Jongin sadar ini bukan saatnya dia untuk egois. Dia memang mencintai Sehun. Tapi jika itu menyiksa orang lain terutama Baekhyun, Jongin akan lebih memilih mengalah. Baekhyun hanya memiliki Sehun dan Haowen. Haowen sudah menempatkan Jongin pada okupasi tertinggi dihidupnya sekarang, menggeser kedudukan Sehun dan Baekhyun. Jadi Jongin rasa itu sudah cukup. Jongin tidak akan mengambil tempatnya di Sehun kalau Baekhyun tidak menginginkannya.

Baekhyun sendiri menatap Jongin bingung.

Kenapa wanita ini melakukannya?

Bukankah dia juga menyukai Daddy?

Tapi kenapa dia-?

Apakah dia benar-benar memikirkan Baekhyun atau hanya... mencoba bermain-main dengan perasaan Baekhyun?

Dan Baekhyun tidak kuasa menahan tangisnya.

Kenapa?

Karena Oh Baekhyun yang menurut orang memiliki kehidupan yang sempurna nyatanya tidak lebih dari anak yang kesepian dan kekurangan kasih sayang, jadi jangan salahkan Baekhyun kalau dirinya pun akan bergetar kala dihujani afeksi seperti ini.

Tao ge kadang memanggilnya siput. Awalnya Baekhyun kira bahwa dirinya lambat. Tapi Baekhyun salah. Dan sekarang dia mengerti apa alasannya.

Baekhyun adalah siput. Orang hanya melihat cangkangnya yang kuat dan tak tergoyahkan diluar. Tapi begitu cangkangnya dilepas dia hanya makhluk lembek dan lemah. Dan sayangnya Jongin berhasil masuk ke dalam cangkang itu, melihat Baekhyun yang lembek dan lemah itu.

"Sudah kubilang berhentilah berpura-pura peduli padaku!" Sentak Baekhyun tapi gagal karena dia tengah terisak dan malah membuat itu terdengar seperti rintihan pelan. Tangannya menutup mukanya yang berlinang air mata.

Jongin menyibak poni Baekhyun dan menyelipkannya dibelakang telinga Baekhyun, menarik pelan tangan Baekhyun sampai terlihat mukanya. Jongin mengelap air mata Baekhyun lalu mengangkat muka Baekhyun untuk menatapnya. Lalu berkata dengan lembut.

"Apa aku terlihat berpura-pura di matamu?"

Baekhyun diam untuk sesaat memandang mata Jongin yang lembut dan tegas disaat yang sama. Merasakan ketulusan lewat mata Jongin yang menghujam matanya yang berlinang air mata. Lalu menggeleng dengan perlahan. Dan air matanya semakin deras mengalir. Jongin tersenyum kecil lalu membawa Baekhyun kedalam pelukannya.

Pelukan Jongin sama seperti tadi malam, hangat dan menyenangkan. Baekhyun tahu Jongin tulus memperhatikannya dan Haowen. Entah dia dibayar mahal oleh Daddynya atau bagaiaman Baekhyun tidak tahu. Yang jelas Jongin tidak berpura-pura. Dan Baekhyun tahu itu sejak awal. Hanya saja...

"Aku takut." Kata Baekhyun lirih dalam pelukan Jongin.

Ya. Baekhyun takut. Dia takut jatuh kedalam pesona Jongin, lalu ditinggalkan. Dia takut terluka lagi.

Jongin mengelus punggung Baekhyun mengerti. Dia tahu apa yang ditakutkan Baekhyun. Dia pernah mengalaminya dulu. Dan sekarang dia ingin membantu Baekhyun menghilangi ketakutannya itu.

"Percayalah padaku. Semua akan baik-baik saja." Jongin mengutip kata-kata Sehun, mengingat bagaimana kata-kata sederhana itu menenangkan hatinya.

Baekhyun mencengkram baju bagian depan Jongin ragu. Bisakah dia mempercayai Jongin sekarang? Apa Jongin tidak akan menyakitinya?

Pelukan Jongin terasa semakin hangat dan menenangkan seolah ingin membantu Baekhyun menghapus semua keraguannya.

Baekhyun memejamkan mata dan menarik napas panjang.

Tangannya yang mencengkram baju Jongin terlepas dan berpindah perlahan memeluk Jongin balik dengan tangan yang bergetar.

Baekhyun sudah memutuskan.

Dia akan keluar dari cangkangnya.

Sambil menggenggam tangan Jongin.

.

.

.

TBC


A/N :

Zuppppperr late update maafkan saya :'3 pendek pula chap ini :'

Maafkan saya buntuu ide bangeet. Saya seneng banget banyak yang suka, reviewnya juga banyaak tapi saya jadi kepikiran sendiri. Pas nulis jadinya ngerasa Ini bagus nggak? Gimana kalau nggak sesuai harapan reader? Gimana kalau ini plotnya malah makin hancur dan berbelit-belit? :'' Ah seriously saya sampe enggan ngelanjutin :"

Tapi ah semoga ff ini makin lama gak ngecewain. Terutama chap ini, haduuuh saya pusing banget bikin chap ini. Bingung gimana mau ngungkapin perasaannya Baekhyun yang sebebernya rindu belaian/? tapi juga takut kalau terluka lagi, ngerti kan maksudnya? iya kan? kan?

Terus di chap ini niatnya mau bikin suasana yg emosional banget antara Jongin sama Baekhyun biar mereka talk heart-to-heart/? tapi kayaknya fail :"

Dan tolong jangan panggil saya thor, ching, min atau apapun. Panggil saja Tokisaki atau Kou atau bebeb juga boleh wkwk xD dan eonni juga jangan senpai juga jangan saya masih muda kok 99line.

Sekian cuap-cuap saya.

Ciao~