Disclaimer : semua karakter milik J.K. Rowling. I don't own here.
Pairing : Draco Malfoy / Hermione Granger
Rated : T
Timeline : Tahun ketujuh setelah perang Hogwarts. Hermione dan Draco menjadi Ketua Murid.
Summary : Draco Malfoy menerima tantangan untuk menaklukkan hati Hermione Granger. Apa saja usaha yang akan dilakukannya? Berhasilkah?
A/N : I'm back! *dikeroyok karena kelamaan update XD. Ini chapter terpanjang sepanjang sejarah Mission Impossible. Lebih panjang dari chapter kemarin. Semoga bisa memuaskan kalian semua ya. ^^
Warning! Super OOC, GaJe, Typo, Humor garing, alur nggak jelas dan kekurangan lainnya. Boleh dikritik kok, selama kritik itu membangun..:)
Happy Read and Review, please.
Don't like? Don't read...
.
Mission Impossible
.
#10: Mission Impossible
Could be possible?
.
Draco membanting buku Transfigurasinya dengan frustasi. Sobekan-sobekan perkamen bertebaran disekitarnya. Percuma saja. Dia sudah berusaha keras untuk berkonsentrasi pada tugas essay Transfigurasinya tetapi tetap saja ada yang mengganjal dalam pikirannya dan membuatnya sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Mungkin sekali lagi dia harus menerima hukuman karena tidak mengerjakan tugasnya dengan baik.
Draco merasa nyaris gila. Sudah beberapa hari ini dia merasa kacau. Sulit berkonsentrasi, malas makan, susah tidur dan semua itu dikarenakan perasaan bersalah yang terus menghantuinya dan membuatnya gelisah. Ya, perasaan bersalahnya terhadap Hermione Granger terus mengejarnya dan sama sekali tidak membiarkannya lepas.
Draco tahu dia memang salah, walaupun tidak sepenuhnya. Bagaimanapun ini adalah ide Blaise—oke, Draco memang ikut andil dan itu cukup—sangat keterlaluan. Siapa sih yang tidak akan marah jika dijadikan sebagai objek taruhan? Apalagi kalau sudah menyangkut soal perasaan. Sakit bukan?
Draco sangat ingin meminta maaf—walaupun dia tidak tahu bagaimana dia bisa melakukannya. Pertama, dia tidak pernah meminta maaf pada siapapun sebelumnya. Dia terbiasa menjadi yang paling benar dan semua orang harus mengalah dan menurut padanya. Kedua, bagaimana dia bisa meminta maaf jika dia bahkan sama sekali tidak bisa menemui Hermione? Sudah berhari-hari Draco tidak bertemu dengan Hermione—diluar kelas tentunya. Walaupun Draco berniat untuk mengejarnya setelah kelas selesai, tapi Hermione selalu lebih cepat darinya dan tiba-tiba saja gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.
Sejak kejadian itu Hermione juga menghilang dari asrama Ketua Murid. Sepertinya dia sudah pindah lagi ke asrama Gryffindor, dimana Draco tidak mungkin bisa menemuinya. Kecuali mungkin Draco mau menunggu semalaman sampai Hermione keluar asrama keesokan harinya—yang jelas tidak mungkin Draco lakukan. Meskipun dia tahu bahwa itu semua kesalahannya, seorang Draco Malfoy tetap tidak mau menjatuhkan harga dirinya sedemikian rupa—apalagi di depan singa-singa lapar Gryffindor.
Dengan tidak adanya kesempatan berbicara satu hurufpun dengan Hermione, maka Draco masih harus terus memelihara perasaan bersalah pada gadis itu. Entah mengapa, Draco sama sekali tidak bisa merasa cuek pada masalah ini. Padahal dulu Draco sering mendekati gadis-gadis lain dan kemudian mencampakkannya begitu saja tanpa secuilpun rasa bersalah. Tapi kali ini rasanya benar-benar berbeda. Dia tahu Hermione memang berbeda. Dan sepertinya Draco benar-benar ingin menjaga perasaan Hermione. Tapi kenapa?
Merasa semakin frustasi dan sama sekali tidak menemukan pencerahan, Draco akhirnya memutuskan untuk pergi ke asrama Slytherin menemui Blaise dan Theo. Draco memang tetap tinggal di asrama Ketua Murid. Dia berharap Hermione akan melunak dan segera kembali untuk mendengarkan penjelasannya. Tapi ternyata percuma saja—Hermione tidak akan memaafkannya semudah itu. Seharusnya dia tahu itu!
.
.
"Belum mendapat kemajuan apapun, Draco?" Tanya Blaise saat Draco memasuki kamarnya dengan wajah kusut. Sebenarnya Blaise sudah bisa membaca dari ekspresi Draco bahwa sahabatnya itu masih sama frustasinya dengan hari kemarin.
Theo yang sebelumnya sedang membaca buku di atas tempat tidurnya ikut mendongak dan memperhatikan Draco dengan tatapan sedikit prihatin.
Draco langsung merebahkan diri di atas tempat tidurnya yang sudah lama sekali tidak dia gunakan. Walaupun begitu, kasurnya—dengan sprei yang memiliki lambang "M" besar—tetap terasa empuk, nyaman dan hangat. Peri-peri rumah Hogwarts pastilah tetap merawat kasur itu dengan baik. Memikirkan peri rumah ternyata membuat Draco mengingat Hermione lagi. Hermione memang sangat cerewet pada Draco yang biasanya sangat suka menyuruh-nyuruh peri rumah untuk meladeni semua permintaan tuan muda Malfoy itu.
"Kau sama sekali tidak memiliki pri-kemanusiaan, Malfoy!" Suara nyaring Hermione dengan segera terngiang di dalam kepala Draco dan membuatnya sedikit meringis. Merlin! Peri rumah memang bukan manusia, kan?
"Sama sekali tidak menemukan titik terang," erang Draco. Blaise dan Theo menatapnya dengan penuh empatik.
"Aku tahu rasanya, Draco," desah Blaise pelan.
"Yeah, tapi setidaknya Turpin lebih mudah di ajak bicara daripada Granger. Buktinya sekarang dia sudah mau menemuimu dan bicara padamu kan? Atau setidaknya dia mau mendengarkan penjelasanmu dan percaya padamu—walaupun kau harus melakukan percobaan bunuh diri terlebih dulu. ("Aku sama sekali tidak melakukan percobaan bunuh diri, pirang!" Protes Blaise). Bagaimana denganku? Kau pikir Granger akan semudah itu memaafkanku? Apa menurutmu dia akan segera berlari datang padaku jika mendengar aku sedang sakit akibat dari melewatkan makananku selama sehari karena memikirkannya? Dia akan melakukannya pun tapi aku tetap tidak sebodoh kau, Blaise!" Draco menumpahkan semua kekesalannya sementara Blaise semakin melotot pada Draco dan Theo hanya bisa meringis. Tapi Blaise dan Theo juga tahu bahwa Draco memang benar. Hermione Granger tidak akan semudah itu dilunakkan.
"Maafkan aku, Draco," kata Blaise dengan penuh sesal. "Seharusnya kita tidak membicarakan hal itu di tempat terbuka. Aku tidak belajar dari kesalahanku yang lalu dan sekarang aku justru menempatkanmu pada masalah."
"Sudahlah, Blaise. Semua sudah terjadi kan? Lagipula, siapa peduli dia mau bicara padaku atau tidak? Aku sama sekali tidak peduli bagaimana sikapnya padaku sekarang. Beruntung dia pindah ke asrama Gryffindor jadi aku bisa menguasai asrama Ketua Murid sendirian tanpa ada nona cerewet yang sok nge-bos itu," ujar Draco disertai dengan tawa hambarnya.
Blaise dan Theo saling bertatapan dengan ekspresi aneh. Blaise sendiri bisa menerka-nerka bagaimana sebenarnya perasaan Draco dan pemuda itu cukup yakin bahwa semua kalimat yang dikatakan Draco barusan adalah bohong untuk menutupi kegelisahannya. 'Harga diri, bodoh!' Batin Blaise.
"Berhenti menatapku seperti itu!" Seru Draco kesal karena kedua temannya terus menatapnya dengan pandangan aneh menurut Draco.
"Well, aku heran padamu, mate. Sampai kapan kau mau membohongi dirimu sendiri?" Tanya Blaise dengan mata memandang tajam pada Draco dan kedua tangan dilipat didepan dada.
"Blaise benar, Drake. Akui saja kalau kau memang sudah lama tertarik pada Granger," lanjut Theo.
"Tahu apa kalian? Aku tertarik padanya? Demi sejuta Merlin!"
"Oya? Bukankah kau menganggapnya sangat jenius ditahun pertama kita?" Tuduh Theo.
"Aku sama jeniusnya dengan dia. (Blaise dan Theo mendengus). Hanya saja aku tidak suka mempertontonkan kejeniusanku seperti nona sok tahu itu!" Elak Draco.
"Dia yang paling mengkhawatirkanmu di tahun ketiga saat kau diserang ayam milik si Hagrid itu," lanjut Blaise.
"Ya, tapi dia mengkhawatirkanku hanya untuk memukulku setelah itu karena aku yang membuat makhluk brengsek itu di eksekusi. Dan makhluk itu bukan ayam, Blaise!" Draco sedikit tersinggung mendengar makhluk yang katanya bernama Hippogrif itu disamakan dengan ayam. Mau ditaruh mana muka Draco jika ada orang tahu bahwa dia diserang ayam? Sangat tidak elit.
"Kau menganggapnya cantik di Yule Ball pada tahun keempat kita kan?" Selidik Theo.
"Apa? Aku tidak pernah berkata—aku tidak pernah menganggapnya cantik saat itu. Si keturunan veela itu masih jauh lebih cantik dari Granger," ucap Draco. Sebenarnya Draco memang sedikit terpana melihat Hermione yang tampil sangat cantik saat itu, tapi masa dia harus mengakuinya sekarang didepan kedua temannya yang sekarang menatapnya dengan tatapan 'Akui saja, bodoh!'.
"Oke, Draco. Kau memang tidak tertarik padanya. Kalau begitu, berarti aku boleh mendekatinya?" Pancing Blaise dengan salah satu alis terangkat dan senyum menyebalkan.
Draco menggeram sesaat, "Lakukan saja kalau kau mau Turpin mengutukmu jadi labu kali ini. Aku dengan senang hati akan menghiasmu untuk Halloween berikutnya, Blaise."
Blaise dan Theo terkekeh. "Jangan tutup-tutupi perasaanmu, Drake. Ungkapkan saja apa yang kau rasakan padanya. Jangan terlalu terpaku pada ego-mu saja atau kau akan menyesal. Ingat itu!"
"Berhenti mengkhotbahiku!"
.
.
Flashback
"Granger! Granger! Tunggu!"
Draco berusaha mengejar Hermione. Dia tidak mungkin salah mengenali rambut cokelat itu sebagai partner ketua muridnya, Hermione Granger. Dan itu berarti Hermione mungkin sudah mendengar semua percakapannya dengan Blaise dan Theo barusan? Satu kata—GAWAT! Oke, dua kata—MATI KAU! Tiga kata—CEPAT KEJAR, BODOH!
Koridor demi koridor ditelusuri Draco untuk bisa menemukan sosok gadis berambut cokelat lebat, tapi hasilnya nihil. Hermione tidak dia temukan dimanapun juga. Well—salah satu keuntungan bersahabat dengan Harry James Potter adalah kau akan mengetahui seluk-beluk Hogwarts termasuk jalan-jalan rahasianya yang memudahkanmu untuk melarikan diri dari seseorang—seperti Hermione yang melarikan diri dari Draco sekarang.
Setelah dirasanya cukup lama mencari tanpa membuahkan hasil, Draco memutuskan untuk kembali ke asrama ketua murid. Barangkali saja Hermione sudah kembali kesana dan mungkin sekarang dia sedang—menangis?
Dengan secercah harapan, Draco berjalan kembali ke asrama ketua murid hanya untuk menemukan bahwa harapannya kali ini juga menguap. Hermione tidak ada disana. Tidak di ruang rekreasinya maupun dikamar tidurnya. Hermione tidak kembali ke asrama Ketua Murid.
Draco merebahkan dirinya di atas sofa dengan tangan memijit pelipisnya. Draco tidak tahu bagaimana dia harus menjelaskan semuanya pada Hermione nantinya. Dia harus punya alasan yang bagus supaya Hermione bisa memaafkannya. Dan dia sangat yakin alasan untuk mempertahankan harga dirinya didepan Blaise tidak termasuk kategori alasan yang bisa diterima oleh Hermione.
Sampai keesokan harinya, Hermione tidak juga kembali ke asrama ketua murid, padahal Draco sudah gelisah menunggunya semalaman. Hermione juga tidak muncul pada jam pelajaran pertama dan kedua. Draco baru melihat Hermione lagi pada pelajaran Ramuan di sore hari.
Hermione masih tampak seperti biasanya dan wajahnya bebas dari bercak airmata. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa dia baru saja menangis semalaman. Wajah gadis itu justru tampak lebih keras dari sebelumnya dan membuat Draco sedikit bergidik melihatnya. Hermione memilih untuk duduk di apit oleh kedua sahabatnya, Harry dan Ron. Draco sedikit meruntuk, jika ada Harry dan terlebih lagi si Weasel rambut merah, maka akan sulit sekali untuk dirinya bisa mendekati Hermione.
Draco terus-menerus menatap Hermione dengan terang-terangan, tetapi gadis itu seperti kebal terhadap tatapan Draco dan sama sekali tidak memandang Draco sejak masuk kelas tadi.
"Hadang saja dia nanti setelah kelas selesai," usul Theo dengan berbisik.
"Dihadapan Potter dan Weasley? Bukannya aku takut, tapi aku sedang malas menambah masalah," desis Draco. "Dan aku tidak mau dikutuk mereka didepan seluruh siswa Hogwarts."
"Lalu apa rencanamu?" Tanya Blaise.
"Entahlah—mungkin aku akan mengikutinya sampai dia sendirian, baru aku akan berbicara padanya," ucap Draco putus asa.
"Well, selamat menunggu kalau begitu, mate," putus Blaise.
Flashback End
.
.
Draco berjalan dengan cepat menapaki koridor demi koridor. Dia sudah bertekad, hari ini semua masalahnya dengan Hermione harus selesai. Benar-benar tidak boleh ditunda-tunda lagi. Dia harus bisa menemukan Hermione sekarang dan menuntaskan semuanya.
"Weasley! Hei, Weasley!"
Ginny Weasley yang baru saja keluar dari kelas Transfigurasi menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya dan mengangkat alis dengan heran ketika melihat Draco-lah yang mendekat padanya.
"Kalian pergilah dulu. Nanti akan kususul kalian di ruang rekreasi," kata Ginny kepada kedua temannya yang juga bertampang sama herannya dengan Ginny tetapi juga menatap Draco dengan terkikik.
"Malfoy? Kau yakin barusan kau memanggilku?" Tanya Ginny ketika kedua temannya sudah beranjak pergi—dengan satu lagi tatapan peringatan dari Ginny tentunya.
"Ya! Ya, Weasley! Aku memanggilmu dan aku butuh bantuanmu," kata Draco dengan cepat.
Ginny semakin tinggi mengangkat kedua alisnya, " Dan bantuan seperti apa tepatnya yang kau harapkan dariku, Malfoy?"
"Aku butuh bantuanmu. Aku perlu tahu dimana Granger sekarang," lanjut Draco.
"Granger—?"
"Hermione Granger! Aku perlu tahu dimana dia sekarang. Kau pasti tahu dimana dia kan, Weasley? Beritahu aku dimana dia? Aku harus bicara padanya!"
Ginny justru semakin bertambah bingung melihat Draco yang tampak kacau dan terlihat sangat ingin menemui Hermione. Apa yang terjadi antara mereka berdua?
"Well, Malfoy. Seperti yang kau lihat, aku baru saja keluar dari kelas, jadi aku tidak tahu dimana Hermione sekarang—"
"Tapi kau pasti tahu dimana dia biasanya menghabiskan waktu kan?" Potong Draco.
"Sudahkah kau mencarinya di perpustakaan? Itu tempat pertama yang—"
"Aku sudah mencarinya kesana beberapa kali tapi dia sama sekali tidak terlihat disana," potong Draco lagi dengan tidak sabar.
"Kalau begitu aku tidak punya ide dimana dia sekarang selain di ruang rekreasi Gryffindor atau dikamarnya," kata Ginny.
Draco mengeluh. Jika Hermione memang berada di asrama Gryffindor, maka tidak ada peluang baginya untuk bisa menerobos masuk ke dalam asrama itu dan berbicara pada Hermione.
"Baiklah kalau begitu. Kurasa aku harus mencarinya ketempat lain," jawab Draco dengan getir. Sesaat mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu pada Ginny tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.
"Terima kasih," kata Draco akhirnya sambil beranjak pergi meninggalkan Ginny yang mulai tersenyum penuh arti.
Draco melanjutkan kembali pencariannya. Dia sudah mencari ke perpustakaan, aula, halaman, ruang-ruang kelas, bahkan sampai di depan kamar kebutuhan sebelum dia ingat bahwa kamar tersebut sudah hancur saat perang besar.
Langit sudah berubah menjadi gelap ketika akhirnya Draco menyerah dan memutuskan untuk kembali ke asrama saja. Dia tetap tinggal di asrama ketua murid dengan harapan suatu saat Hermione akan muncul dan kembali kesana.
"Mungkin selamanya dia tidak akan pernah memaafkanku," gumam Draco letih dan segera saja rasa lelah menyergapnya dua kali lipat.
Draco sudah setengah perjalanan kembali ke asrama ketua murid ketika dia melewati tangga yang menuju ke menara Astronomi. Entah apa yang membuatnya berhenti berjalan dan memandang tangga itu, tapi detik berikutnya, Draco sudah melangkahkan kakinya menaiki tangga.
Selangkah demi selangkah Draco menapakkan kakinya menaiki menara. Hawa dingin sudah mulai terasa menyelimuti tubuh pemuda itu tetapi sama sekali tidak dihiraukannya. Dia tetap berjalan menuju puncak menara.
Sesampainya di puncak, Draco menatap pintu yang ada di hadapannya. Setengah ragu dan tidak tahu apa yang sedang diharapkannya, perlahan dibukanya pintu itu.
Hal pertama yang dilihatnya adalah langit luas yang gelap dan bertabur bintang. Selama beberapa detik Draco hanya terpaku menatap langit dengan tangan masih memegang knop pintu. Draco baru tersadar setelah matanya menangkap ada gerakan di sudut lain menara.
Draco menyipitkan matanya berusaha menangkap gerakan yang tadi dilihatnya. Suasana yang gelap membuat Draco cukup susah melihat siapa yang sudah terlebih dulu ada di menara Astronomi sebelum dirinya. Draco sudah hampir membuka mulutnya untuk bertanya ketika dia menangkap sinar cokelat tajam yang membuatnya membelalakkan mata.
"Granger!"
Hermione sama sekali tidak menjawab keterkejutan Draco. Gadis itu tetap diam mematung dengan kedua matanya memandang tajam pada Draco.
Draco berhasil dengan cepat mengatasi keterkejutannya. Siapa yang akan menyangka bahwa dia justru akan menemukan Hermione disini? Menara Astronomi, eh? Tapi hal itu tidak penting. Yang paling penting bagi Draco adalah saat ini menjadi saat yang tepat baginya untuk berbicara pada Hermione, sebelum gadis itu menghilang lagi.
"Granger, aku perlu bicara denganmu," ujar Draco.
"Aku ingin menjelaskan semuanya," lanjut Draco cepat ketika masih tidak ada respon apapun dari Hermione. "Aku sama sekali tidak bermaksud mempermainkanmu. Aku juga tidak bermaksud untuk menyakitimu. Ini semua hanyalah bagian dari taruhan konyol yang aku, Blaise dan—"
"Taruhan konyol? Kalian menjadikan perasaan orang lain sebagai bahan taruhan dan kau bilang itu taruhan konyol? Bagian mana yang bisa di anggap bahwa kau tidak bermaksud mempermainkanku? Kau—Draco Malfoy—sudah menjadikan perasaanku sebagai bahan taruhanmu! KAU PIKIR AKU INI APA?" Hermione mulai meledak marah. Seluruh wajahnya merah padam dan dengan sekuat tenaga, gadis itu menahan airmata yang hampir jatuh di pelupuk matanya. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin pemuda Malfoy itu tahu betapa hancurnya dia saat mengetahui semua kebenaran ini.
"Aku punya hati yang tidak bisa kau permainkan, Malfoy! Aku punya perasaan yang tidak bisa kau jadikan bahan taruhan! Kupikir kau sudah berubah! Kupikir kau sudah menjadi orang yang lebih baik—yang bisa lebih menghargai orang lain—tapi ternyata aku salah!" Hermione terus meluapkan amarahnya yang sudah dia pendam selama beberapa waktu terakhir.
Draco hanya bisa menatap Hermione dengan kedua mata abu-abunya yang meredup. Dia tahu Hermione pastilah sangat marah padanya. Dia juga tahu bahwa Hermione mungkin tidak akan pernah memaafkannya—sebesar apapun harapannya untuk dimaafkan.
"Granger, aku tahu aku memang salah dan aku juga tahu kesalahanku pasti sangat sulit untuk dimaafkan. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyakitimu. Dan—ma—maaf jika aku sudah melukai perasaanmu," kata Draco pelan. Dia sudah putus asa sekarang. Menghadapi Hermione yang seperti ini berarti selamanya dia tidak akan pernah mendapat maaf dari seorang Hermione Granger.
Sejenak keheningan meliputi keduanya. Hermione tidak lagi berteriak-teriak pada Draco walaupun wajahnya masih memerah. Sementara itu Draco sudah pasrah dengan apapun yang akan dihadapinya—sekalipun Hermione akan mengutuknya menjadi musang pink.
Draco tercengang ketika dia mendengar suara isakan dari arah Hermione. Gadis itu menunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Rambut cokelatnya tampak sangat berantakan. Tapi suara isakan itu sudah cukup untuk memberitahu Draco bahwa Hermione sedang menangis sekarang!
Draco sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia sama sekali tidak berpengalaman dalam menghadapi seorang gadis yang—salah—seorang Hermione Granger yang sedang menangis. Ya, karena Hermione berbeda dengan gadis-gadis lain.
Belum selesai Draco memikirkan apa yang harus dilakukannya, Hermione sudah mengangkat kepalanya. Dengan wajah basah dan penuh dengan bercak airmata, Hermione kembali memandang Draco—kali ini tidak setajam tadi.
"Aku membencimu, Malfoy!" Desis Hermione. Dan entah mengapa, Draco merasa sesak mendengar tiga kata yang baru saja di ucapkan oleh Hermione itu.
"Aku membencimu. Sangat membencimu. Kupikir kau sudah menjadi lebih baik dan ternyata aku salah. Kau sudah mempermainkanku dan melukai perasaanku. Kau menjadikanku seperti barang yang bisa seenaknya saja kau jadikan objek taruhan. Semula aku berpikir kita bisa berteman, tapi sekarang aku justru semakin membencimu," ucap Hermione.
Draco menahan napasnya. Sangat menyakitkan rasanya mendengar perkataan Hermione. Setiap kalimat yang dilontarkan gadis itu bagaikan ribuan pisau yang menghujam jantungnya. Tetapi Draco tetap diam. Dia membiarkan Hermione melontarkan semua kekesalannya—mungkin juga kebenciannya.
"Tapi kau tahu?" Suara Hermione semakin pelan seperti berbisik, "apa yang membuat ini semua terasa lebih menyakitkan?"
Draco tertegun mendengar suara Hermione yang tercekat. Mata abu-abunya sekarang menatap langsung pada warna cokelat yang tampak sayu. Hermione sendiri masih menatap Draco dengan tatapannya yang semakin melembut.
"Ini semua terasa lebih menyakitkan, karena aku tahu—" Hermione tercekat,"—aku mulai jatuh cinta padamu."
Sebutir airmata mengalir lagi dari mata Hermione. Gadis itu merasa sekarang dia sudah tidak sanggup lagi menatap Draco, maka dia berbalik memunggungi Draco dan kembali menatap langit malam seperti yang dilakukannya sebelum Draco datang.
Draco masih terpaku mendengar pengakuan Hermione yang tiba-tiba. Benarkan? Hermione baru saja mengatakan bahwa dia mencintainya? Apakah ini bukan mimpi? Sesuatu dalam diri Draco bergejolak senang memikirkannya walaupun Draco juga tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang.
Dengan perasaan yang campur aduk—antara senang, takut, bingung—Draco mulai berani berjalan mendekati Hermione. Perlahan Draco mulai menjulurkan tangannya dan menyentuh pundak Hermione. Melihat Hermione tidak menolak sentuhannya—tepatnya tidak merespon—secara tiba-tiba Draco memeluk Hermione dari belakang dan membuat sang Ketua Murid Perempuan merasa kaget. Draco mempererat pelukannya dan menutup mata sambil membenamkan wajah di pundak Hermione.
"Apakah kau masih bisa mempercayaiku?" Tanya Draco pelan yang tidak dijawab Hermione.
"Apa kau akan mempercayaiku—jika aku berkata bahwa aku mencintaimu?" Lanjut Draco.
Walaupun Hermione masih belum menjawab, tapi Draco bisa merasakan bahu Hermione sedikit menegang.
"Apakah ini semua masih jadi bagian dari sandiwaramu, Malfoy? Sandiwara untuk mendapatkanku?" Sindir Hermione dengan dingin.
"Tidak. Sama sekali tidak, Granger. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Tidak ada hubungannya dengan taruhanku. Aku juga tidak sedang bersandiwara. Aku hanya sedang mengatakan suatu kejujuran padamu," ujar Draco dengan lebih lembut.
Hermione melepaskan pelukan Draco dan berbalik menghadap pemuda pirang itu. Sudah tidak ada lagi airmata yang mengalir di wajahnya.
"Setelah semua yang kau lakukan padaku, apa kau pikir aku akan mempercayaimu semudah itu?" Tanya Hermione.
"Setidaknya biarkan aku menjelaskannya terlebih dulu," ujar Draco. "Awalnya aku memang setuju mengikuti permainan Blaise—taruhan ini adalah idenya. Ku akui aku juga mencari berbagai macam cara untuk mendapatkan hatimu dan membuatmu menyukaiku. Tapi semakin aku berusaha, semakin juga aku dekat denganmu, aku juga merasakan perasaan yang berbeda."
Draco berhenti bicara dan menatap Hermione dengan setengah berharap. Hermione masih menatapnya tanpa ekspresi yang pasti.
"Bagaimana aku bisa tahu kalau ini semua bukan bagian dari sandiwaramu? Bagaimana aku tahu bahwa ini semua bukanlah kebohongan untuk mencapai misimu itu? Bagaimana aku percaya bahwa ini nyata?" Kata Hermione.
"Aku mengerti—kalau kau tidak bisa semudah itu mempercayaiku. Kau boleh gunakan veritaserum atau mantra apapun untuk membuktikan bahwa aku mengatakan kejujuran. Beri aku satu kesempatan lagi dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Aku tidak akan pernah lagi menyakitimu dan melukai perasaanmu dan—"
Kata-kata Draco terpotong karena Hermione sudah melompat memeluknya. Draco sedikit bingung. Dia semakin berpikir bahwa wanita memang sulit dimengerti. Bukankah tadi Hermione masih marah padanya? Well, walaupun Draco tidak menolak jika Hermione begitu cepat memaafkannya.
"Aku ingin sekali mempercayaimu," bisik Hermione.
"Lakukan, kalau begitu," pinta Draco.
"Ya—aku percaya padamu," lanjut Hermione. "Dan aku memaafkanmu."
Draco tersenyum dan mengelus rambut Hermione dengan sayang. Hermione sudah melengkapi misinya. Bukan misi konyol untuk sekedar mendapatkan hati gadis itu, tetapi juga misi pencarian Draco untuk mencari arti cinta sebenarnya. Hermione membuat misi yang tadinya mustahil bagi Draco sekarang menjadi nyata.
Draco menempelkan keningnya pada kening Hermione. Mereka berdua terdiam selama beberapas saat seolah meresapi perasaan masing-masing. Kemudian Draco mencium kening Hermione dan terus turun sampai ke bibir gadis itu.
"Terima kasih," ucap Draco tulus setelah mengakhiri ciuman pertama mereka.
.
.
MISSION IMPOSSIBLE
-COMPLETE-
.
.
EPILOG
3 Years Later
"Kau tetap saja dinyatakan gagal, Draco. Kau melebihi batas waktu yang telah ditentukan, ingat? Kau punya waktu 2 minggu—14 hari! Dan kau baru mendapatkannya setelah 20 hari. Itu sama artinya dengan mission failed, Drake," kekeh Blaise.
Saat ini Draco, Blaise dan Theo sedang duduk bersama di sebuah café sambil mengenang masa-masa taruhan konyol mereka. Blaise dan Theo bersikukuh bahwa hanya Draco-lah yang gagal pada taruhan mereka saat itu. Tetapi Draco juga tetap pada pendiriannya bahwa toh pada akhirnya dia tetap bisa mendapatkan Hermione walaupun sudah melewati batas waktu yang ditentukan. Apalagi taruhan mereka memang dibatalkan sebelum jangka waktu untuk Draco habis.
"Jangan sampai gadis-gadis kita mendengar kita membicarakan hal ini lagi. Mereka bisa marah besar nanti," ujar Theo mengingatkan sambil tertawa.
"Yeah, lagipula kita sekarang hanya bisa mentertawakan masalah yang kita buat sendiri waktu itu. Benar-benar heboh dan merepotkan," kata Blaise.
"Untunglah semuanya berakhir dengan bahagia. Happy end," celetuk Draco.
"Ya. Tapi tetap saja kau gagal, Draco," ungkit Blaise lagi. Kelihatannya Blaise memang suka sekali mengungkit-ungkit kegagalan Draco. Apalagi mengingat jika sahabatnya itu memang tidak suka jika dinyatakan gagal dalam mendapatkan sesuatu.
"Oh, tutup mulutmu, Zabini!" Geram Draco.
"Jadi, apa misimu berikutnya, Mr. Malfoy?" Tanya Theo. "Kau masih betah-betah saja dengan Hermione kan?"
"Yeah, apa misimu berikutnya? Jangan sampai mentargetkan misi yang mustahil lagi," kata Blaise yang masih tertawa senang melihat Draco melotot padanya.
"I will propose her to marry me," jawab Draco.
.
.
-THE END-
A/N : Kyyaaaa…Akhirnya Mission Impossible sampai pada chapter terakhir. Sekilas info, Mission Impossible mulai di publish tanggal 24 April 2011 dan selesai pada tanggal 27 Februari 2011. 10 chapter memakan waktu 10 bulan. Lama banget ya? Beda sama You're Not a Murderer yang cuman 9 chapter tapi selesai dalam 3 bulan. Tapi moga-moga hasilnya nggak mengecewakan kalian para readers ya. *menatap penuh harap. Untuk yang terakhir kalinya di story ini, please give me your review!
See you in next story!
Special Thanks!
Thank a lot to all of Mission Impossible's readers! Reviewers and also Silent Readers! I love y'all! ^^
