Kayaknya saya terlalu gegabah bilang kalau saya akan menuntaskan cerita ini dalam satu chap. Karena, di chapter kemarin ternyata saya bahkan sudah menulis 4,2k. Dan bagaimana mungkin persoalan rumit itu diselesaikan dalam satu chapter yang isinya 5k?

Saya kalkulasi, kalau kemarin klimaks, brarti tahap falling down ama endingnya kan ya gak mungkin dalam satu chap.

Bisa sih, tapi yang jelas nggak 5k. Perhitunganku 11k. Waw... itu bisa bikin jari keriting.

Dan kebetulannya lagi, saya menemukan coretan asli dari naskah ini yang—dulu nyelip entah di mana. Ternyata pun saya pernah membuat bagan yang isinya ada 21chap.

Haa— padahal saya sudah lupa. Dan konfliknya juga rumit enggak sekedar Sasuke selingkuh. Masalahnya, apakah saya sanggup? Dengan tekanan yang kadang bikin saya takut buat baca review.

Baiklah, abaikan kegalauan saya. Selamat menikmati.


.

Wellcome to reading—

.

WEDDING HELL.

.

.

an Original story by poochan.

Naruto by MK.

.

Sasu-Hina

DRAMA

Romance

.

Warning:

M content.

Typos, OOC, plotless, dan crackpair.

.

DLDR!

.

Bersikap sopan

dan jangan budayakan plagiat.

Saya menerima kritik dan saran.

.

.

.

(Act : 10)

.

Stronger*

.

Chapter ini didedikasikan untuk para readers yang memberikan review di chapter kemarin.

Terimakasih sobat,

kalian TELOLET sekali. :* :*

.

Untuk akun anonym Lost yang membuat saya begitu senang.

Kamu flamer pertama saya dear :)

Kecup dulu ya.

Muachhh!

.


.

Sasuke memprediksi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Wanitanya itu akan kembali memberondongnya dengan banyak makian atau perang sindiran ketika pagi menjelang. Namun begitu mereka akan menyelesaikan masalah itu segera. Ia tahu Hinata bukan tipe yang menumpuk masalah. Tapi mungkin ia lupa, bahwa kemarin istrinya telah meminta cerai.

Ia lebih suka kupingnya dijejali sarapan omelan ketimbang keheningan mencekam. Nyatanya, segala angan kosong itu justru mencekiknya pelan-pelan. Merayap bagai ular kobra, dan mematuk hatinya sampai membiru. Tinggal tunggu waktu racunnya bereaksi dan mengirimnya ke alam baka.

Ia mengerjap dan menyadari bahwa telah tertidur di sofa setelah pertengkaran terakhirnya. Kemudian bangun dengan kepala yang terasa berputar. Lalu mendapati lantainya lengket dengan sisa minuman yang tumpah atau mungkin beling yang berserakan karena ia mengamuk.

.

Semesta memang mengujinya sejauh ini. Jadi ia bertekad untuk setidaknya mengurangi dampak yang ditimbulkan prahara rumah tangganya. Langkah kakinya mengayun ke lantai atas. Di mana kamar utama mereka berada. Tapi langkahnya berhenti di depan pintu yang jelas-jelas terbuka.

Tak ada istrinya di sana, kenyataan pahit pertama yang harus ditelannya pagi ini. Alarm peringatan berdering di kepalanya, ia dengan langkah lebar segera membuka walk in closet milik istrinya. Cukup lega karena sepertinya pakaiannya masih utuh. Tapi matanya mengerjap shock, saat mengetahui jika di atas nakas ada cincin kawin yang pernah digunakannya untuk melamar Hinata.

Cincin dengan batu opal itu seolah sudah kehilangan cahayanya. Karena hanya teronggok sepi tanpa jari lentik yang memakainya. Terbuang, diantara semua kemewahan kamarnya sendiri.

Lalu apa arti semuanya jika ia pun harus melepaskan Hinata?

Ia telah berjuang menyingkirkan Itachi dan juga Neji. Menjadi bajingan adalah kesehariannya, tapi tak ada dalam benaknya untuk bercerai dari Hinata.

Ia selalu memimpikan bahwa ia akan memiliki kehidupan yang sempurna bersama sang istri, dan memiliki anak bersamanya. Ia akan membahagiakan Hinata, ia akan menjadi ayah yang baik untuk anaknya kelak. Suara tawa anak-anak menggema dalam imajinya. Berlarian dengan Hinata yang tersenyum ke arahnya.

Tapi kini, impian itu bahkan layu sebelum berkembang.

Lihatlah, bung! Ia hanya menjadi pecundang karena menyelingkuhi istrinya. Memberikan seorang anak haram. Dan kini bersiap menghadapi kehancurannya.

Tapi bukan Sasuke namanya jika ia tak berjuang untuk Hinata. Ia telah menjadi iblis demi orang yang ia puja. Dan pantang baginya untuk menyerah dan membiarkan Hinata lepas dari genggamnya.

Sasuke menarik napas. Membulatkan tekad, mengumpulkan serpihan asa yang tersisa. Kini sudah saatnya ia bergerak, mencari keberadaan Hinata adalah yang utama.

.

***p90***

.

.

Sasuke Uchiha adalah bajingan yang beruntung. Semua orang tahu akan hal itu. Dan ia akan memanfaatkan segala yang ia miliki untuk menyombongkan diri. Termasuk mendapatkan si jelita Hinata. Dia berengsek, tapi semua mengakui pesonanya. Tampan, muda, dan kaya.

.

Mangkir dari pekerjaannya sendiri di kantornya, lelaki Uchiha justru sudah berada di firma hukum milik Hinata. Para lawyer cukup kaget melihat kedatangan sang pangeran dari Uchiha Corporation. Mereka menatap penuh rasa ingin tahu sekaligus tertarik. Apa gerangan yang membuat sang pengusaha sekaligus suami bosnya itu harus rela memangkas waktunya dengan berkeliaran di firma hukum mereka?

.

Bukan Sasuke namanya kalau tak mampu menipu mata semua orang. Ia datang dengan tampilan sempurna, nyaris tanpa cela, dengan mobil sport dan juga dandanan seperti keluar dari majalah fashion pria. Tanpa sungkan langsung melenggang ke meja kerja istrinya. Tak peduli jika di dalam mungkin sedang rapat atau apa.

.

Kosong.

.

Meja tempat istrinya bernaung tak berpenghuni. Dan Sasuke menatap meja itu dengan perasaan sakit yang tak bisa dijelaskan. Apakah ini yang namanya diabaikan. Apakah ini yang namanya ditolak. Ia telah melalui banyak hal untuk bersama Hinata dan kehilangannya bukanlah sebuah resolusi.

.

Sasuke memilih untuk bersikap lebih tenang dengan segera ke ruangan Kurinai, seorang wanita setengah baya yang berstatus sebagai sekertaris pribadi Hinata. Dan rupanya gayung bersambut. Kurinai tersenyum ke arah sang Tuan.

"Uchiha san, apa yang membuat Anda ke sini?"

"Di mana istriku?" Dingin nada Sasuke membutuhkan kepuasan jawaban.

Kurinai tersenyum sopan, "Saya akan menjawabnya setelah Anda duduk, Uchiha san." rupanya kelembutan suara Kurinai sungguh kontras dengan kalimat perintah terselubungnya.

.

Berdamai dengan keadaan, Sasuke menuruti perkataan Kurinai dan duduk si sofa empuk. Yang justru membuatnya gusar dan tak nyaman sama sekali. Memang, suasananya tidak setegang tadi ketika ia menerobos masuk ke ruangan yang tepat di sebelah kiri milik istrinya. "Bisa kau jawab kan?" Desak Sasuke tanpa kompromi.

.

***p90***

...

..

.

Di sinilah ia sekarang. Memakirkan mobil di kediaman utama Hyuuga. Memakai hikimori hitam dengan simbol sulaman kipas dua warna. Melambangkan siapa dirinya di rumah induk Hyuuga.

.

Hari ini adalah peringatan ke dua puluh lima tahun kematian Lady Hikari Hyuuga.

.

Mata Sasuke menatap istrinya tampak dingin tak terjangkau. Ada kekosongan yang begitu menyiksa batinnya. Dia lebih berharap jika Hinata menangis daripada melihat wanita itu diam dengan pandangan menatap foto ibunya dengan mata merah karena menahan air matanya untuk jatuh. Sasuke ingin sekali memeluknya. Tapi ia sadar, penolakan Hinata di ruang publik seperti ini akan sangat menguntungkan bajingan yang kini menyeringai ke arahnya. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah berjalan perlahan masuk di aula. Lalu duduk sempurna di samping sang istri.

.

Ia tahu hatinya kacau, pun juga hati Hinata. Ia menatap wajah Hinata yang tenang—yang ia tahu bahwa itu adalah sebuah kepura-puraan yang terbungkus apik dan indah di saat yang sama. Tapi di lubuk hati Sasuke sendiri, itu menyakitkan.

.

Di antara semua kekacauan itu, bajingan tengik berambut merah, Gaara tampak menjadi seseorang yang tampak nyaman yang berada di deretan kerabat. Seolah mengejeknya karena telah menjadi bagian dari keluarga itu sekian lama. Namun yang membuatnya terheran adalah keberadaan Itachi Uchiha beserta Ino dan juga putri kecil mereka yang bahkan belum genap dua bulan.

.

.

Kenapa?

.

Kenapa hanya dirinya yang merasa terasing dan juga terpinggirkan. Kenapa hanya dirinya yang tak mengetahui bahwa hari ini adalah hari sakral yang harusnya tak bisa ia lupa. Tapi mengapa? Mengapa ia harus merasa seperti orang luar yang tak bisa menjangkau istrinya sendiri?!

.

Ia menghembuskan napas pelan, matanya bergulir sempurna ke arah Hinata. Menatapnya penuh rasa sedih yang mengharu biru hingga ia tak sadar telah menggenggam tangan sang istri, menguatkan Hinata serta menguatkan dirinya sendiri. Lalu melakukan dengan anggun gerakan penghormatan kepada mendiang sang ibu mertua. Bersujud dengan takjim. Lalu kembali ke posisi sempurna di samping istrinya.

.

Bau hio dan juga bau bunga krisan putih bercampur di udara. Tapi bagi Sasuke tak ada yang lebih menyakitkan selain tak dianggap ada oleh istrinya.

.

Istrinya masih tak bergerak, hanya menyisakan ruang dingin yang mengoyak jantungnya.

.

Tatapan Hinata yang seolah tak melihatnya. Membuat dadanya sakit. Dengan keberanian yang tersisa ia meraih cincin di saku celana hikimorinya lalu perlahan memasukkan ke jari manis istrinya.

.

Tak menolak tapi juga tak menyambut.

.

Itu adalah hal yang membuat ego Sasuke remuk redam bagai kaca yang sudah di banting kemudian diinjak pula. Tapi berapa harga dari sebuah ego jika ia harus kehilangan Hinata. Hinata berhak mengamuk, berhak marah dan kecewa setelah semua hal yang terjadi.

.

Lihatlah, mata cantik itu seolah redup. Dan Hinata sama sekali tidak bersuara, bahkan suara helaan napas atau tangisan pun tak mampir dalam ekspresinya. Hanya ada raut muka dingin seolah mengunci semua perasaan dalam dunianya. Dan tak seorangpun diijinkan untuk sekedar mengintip dasar hatinya.

.

Ada yang berdesir menyakitkan ketika Sasuke mengingat perkataan Hinata malam tadi,

"Kau ingin aku mati seperti ibuku? Mengemis cinta pada lelaki yang tak mampu mencintainya? "

.

Tak mampu mencintai Hinata? Cih, jangan bercanda! Yang benar justru tak mampu mencintai selain Hinata. Pikiran Sasuke mengamuk ketika dituduh mengabaikan istrinya.

.

Para pria bisa menyalurkan kebutuhan tanpa cinta. Seks dan make love itu jelas berbeda. Meski keduanya punya wujud yang sama. Disebut make love karena melibatkan perasaan cinta dan hanya seks, jika klimaksnya hanya berupa orgasme tanpa rasa.

.

Tapi wanita lebih kompleks, seks yang melibatkan perasaan cinta, bisa berubah menjadi kasus pemerkosaan jika si wanita merasa tak 'ingin' disetubuhi. Dipaksa, atau si wanita merasa terpaksa menjalani rutual yang disebut make love itu sendiri. Jadi perbedaan konteks antara hanya seks, make love dan pemerkosaan adalah rasa.

.

Lucunya rasa adalah sebuah movement yang dibangun di hati, bukan otak. Termasuk juga prinsip benar dan salah dalam penilaian sesuatu.

.

.

.

Tak lama setelah suasana mencekam kepunyaan Hinata dan Sasuke berlangsung, Hiashi masuk ke ruang sembahyang dengan baju kebesarannya. Diikuti si ibu tiri beserta Hanabi. Mereka juga melakukan gerakan penghormatan yang sama.

.

Sasuke menelan ludahnya susah payah. Bayangan bercerai dengan Hinata entah mengapa menjadi lebih rasional daripada bertahan dalam kesuraman ini.

.

Sasuke mendesah keras. Lalu berusaha meraih tangan Hinata untuk menguatkan dirinya sendiri yang justru terpuruk setelah menyakiti istrinya.

Hinata melepas sentuhan Sasuke, tapi berhenti ketika Sasuke berbisik lirih dengan suara serak karena perih.

"Kumohon, untuk kali ini saja, besandarlah."

.

Ia adalah Uchiha, pantang baginya untuk meminta. Tapi di depan Hinata ia selalu dipaksa mengakui bahwa ia hanya bisa mengemis satu kesempatan untuk kembali.

Hinata mengerjap. Tapi ia memilih untuk meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Hanya untuk mengabarkan pada dunia bahwa ia tidak sendirian.

.

***p90***

.

.

.

.

.

Setelah segala hal yang melelahkan hati mereka, rumah adalah satu-satu alasan mereka pulang.

.

Mereka menyadari bahwa tempat deal paling sempurna bagi mereka adalah rumah milik sanv raja dan ratu yang terletak di atap gedung pencakar di pusat Tokyo. Tempat yang mati-matian membuat iri orang lain tapi sesungguhnya hanya ruang yang diperuntukkan untuk dipamerkan. Seperti halnya hubungan mereka, tampak seperti dongeng di luar tapi bagai neraka di dalamnya.

.

Memasuki peraduan milik berdua, mereka mulai membuka kebekuan. Sasuke lebih dulu membuka percakapan setelah Hinata berganti baju dengan gaun tidur kebesarannya, gaun tidur sutra berwarna hitam.

.

"Kita perlu bicara." Sasuke membuka bajunya, ia terbiasa shirtless dan menganggap pakaian hanya membuatnya terkekang.

.

Hinata mengacuhkan permintaan Sasuke dengan menata bantalnya, "Bicaralah dengan pengacaraku." ucapnya sambil merebahkan diri di kanan tempat tidur.

.

Sasuke menelan ludah, mengikuti gerakan istrinya yang memilih untuk tidur, ia menaiki ranjang dan berbaring di atas kasur. "Beri satu kesempatan, aku takkan mengacau kali ini." Kata Sasuke setelah membalik tubuhnya hingga menyamping dan menatap Hinata yang kini memunggunginya.

.

"Yang kubutuhkan cuma tandatanganmu di surat itu." Tegas Hinata tanpa kompromi.

.

Sasuke habis cara. Ia putus asa. Dengan sigap ia membalik posisi Hinata hingga mata mereka bertatapan.

Tak ada lagi gelora yang dulu pernah saling membakar jika mereka bertatapan.

Segalanya telah hangus, dibakar oleh dusta dan cemburu. Sasuke tak bisa menutup kenyataan bahwa kini rahangnya mengatup erat. Menahan segala emosi. Jika ia bisa, jika ia tak peduli dengan perasaan Hinata, mungkin ia lebih memilih menyerang Hinata.

Membuat wanita itu lupa segalanya dengan cumbuannya. Namun itu hanya akan melecehkan Hinata. Pelecehan yang kemarin dibuatnya sudah lebih dari cukup untuk menjauhkan mereka dan ia tak ingin memperburuk suasana. Matanya merah memancarkan keputus asaan. "Aku mencintaimu. Harusnya kau tahu itu."

.

Hinata mendengus pelan, "Itu tak mengubah apapun, sekarang."

.

Sasuke menelan ludahnya susah payah. "Memang. Tapi kita punya kesempatan untuk memperbaikinya."

.

Hinata menggigit bibirnya. Menahan hasratnya untuk mengulurkan tangannya dan memeluk suaminya.

.

Ini bukan saja kesalahan Sasuke sepenuhnya. Segala akar masalah ini adalah, dirinya sendiri. Hinata butuh waktu untuk menata hati dan pikirannya serta membuat rencana baru. Dengan pondasi yang lebih kuat dari sebelumnya.

.

***p90***

.

.

.

Sasuke mengerjap beberapa kali dan menemukan kekosongan di sebelahnya. Ada rasa yang menonjok ulu hatinya. Ranjang itu biasanya kurang besar untuk mereka di saat malam panas yang mereka lalui. Tapi kini hanya berupa kasur dingin yang membekukan hati Sasuke.

.

Menutup mata sebentar ia menarik napas. Ia harus kuat menghadapi cobaan pertama rumah tangganya. Dan dimulai dengan, menghancurkan Gaara.

Mata Sasuke berkilat, senyum iblisnya terbit, jika Sabaku sialan itu bisa menggoyang rumah tangganya. Maka Sasuke bisa lebih kejam lagi, ia akan membuat dunia mengenal Gaara Sabaku sebagai seorang lelaki hina yang memiliki gangguan kejiwaan akut. Lelaki yang tanpa malu berusaha merebut istrinya.

.

.

***p90***

...

..

.

Whats doesn't kill you make you stronger. Begitu kutipan dari penyanyi yang memenangkan ajang pencarian bakat di Amerika. Dia memiliki masalah dengan ayahnya. Dan dia harus bertahan di dunia showbiz. Kelly Clarkson memang bukan Hinata Hyuuga. Tapi mereka punya kesamaan untuk tidak takhluk pada keadaan.

.

Menepi dari keramaian adalah pilihan Hinata ketika masalah datang seperti tsunami dalam rumah tangganya. Dalam satu sapuan, ombak ganas itu meruntuhkan semua pondasinya dan membuatnya hancur lebur tak bersisa.

.

Membencipun rasanya terlalu mewah jika dihadapkan dengan Sasuke Uchiha. Karena berarti ia sendiri masih punya rasa kepada bajingan itu. Kelihatan sekali kalau dia kalah telak dan gagal move on. Toh nyatanya tidak begitu. Ia ingin marah, benci, mengamuk. Tapi ibarat kata, hati Hinata kebas, sangking kebasnya melihat Sasukepun ia tak lagi membuatnya marah atau tergetar. Hanya tersisa perasaan muak.

.

Menepi ke Okinawa adalah pilihan yang tak pernah terlintas di pikirannya—dulu. Tapi kini, ia malah terdampar di pantai dengan wajah kaku dan mata yang menatap kosong. Di ujung sana ada Inuzuka Kiba, seorang kenalan atau lebih tepatnya anak dari mantan dokter pribadi ibunya.

.

Setelah ia pulang dan bertengkar dengan Sasuke. Gaara meneleponnya, mengatakan bahwa ia bersedia melakukan apapun untuk menolongnya. Hinata menolak.

.

Memangnya apalagi yang harus dilakukannya dengan kepala kacau seperti ini. Ia tak mungkin menambah skandal dengan lari bersama calon adik iparnya. Bisa-bisa ayahnya akan kepalang senang dan segera mencoretnya dari daftar pewaris.

.

Tidak. Otak boleh kusut, tapi insting mengajarkannya untuk bermain hati-hati. Memberikan harapan pada Gaara sama saja memberikan heroin pada orang yang sedang sakau. Memang bisa meringankan atau bahkan meniadakan rasa sakit—untuk sesaat, tapi pada titik tertentu bisa menyebabkan kematian.

.

Dan apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang selalu memerlukan bantuan profesional untuk membuatnya waras? Gaara jelas memiliki masalah dengan amarahnya. Ia posesif dan juga overprotektif. Bahkan ia yakin bisa melebihi Sasuke. Dan Hinata terlalu waras untuk memilih lelaki yang mengejarnya tanpa ampun itu. Dia bukan buruan. Dan ia takkan sudi untuk diburu siapapun.

.

Tidak ada orang baik yang mengaku-aku ia baik. Karena pengakuan bahwa ia orang baik hanyalah sugesti yang membuat kita percaya bahwa orang itu baik. Yang sesungguhnya bisa jadi kebalikannya.

.

Dengan kata lain, Gaara jelas bukan orang baik. Ia sengaja menggiring Hinata dalam kekacauan. Bahkan sebelum Hinata memenangkan pertempurannya dengan sang ayah.

.

Hinata tersenyum masam mengingat hal itu. Ia bukan orang bodoh. Memberikan perhatian pada Gaara adalah sebuah blunder. Harusnya Gaara adalah senjatanya untuk menghancurkan Hiashi dan juga keluarganya. Bukannya malah membuat prahara pada pernikahannya sendiri.

.

.

Sialan.

Senjata makan tuan. Malah kini ialah yang harus terluka karena keteledorannya. Masalah perselingkuhan Sasuke jelas ada campur tangan Gaara di dalamnya.

.

Matanya lalu bergulir ke arah mobil putih yang tadi ditumpanginya. Di sana ada Kiba si lelaki ramah, dengan anjing putih gemuk yang mengekorinya sepanjang waktu.

.

Meski begitu, Hinata merasa tak pernah berteman dengan lelaki yang terang-terangan tak bisa mengalihkan perhatian darinya. Mencoba mencari perhatian dengan kelewat baik dan juga perhatian. Dan sebagai wanita yang terhormat, pandangan lelaki macam Kiba bisa menyebabkan masalah, terutama jika Sasuke tahu.

.

Sasuke lagi. Pembahasan tentang pria itu mau tak mau membuat Hinata tersenyum pahit, mengingat bahwa lelaki itu tak hanya membawa kebencian dan juga ambisi. Lebih dari itu mereka memiliki cinta yang mati-matian mereka sangkal.

Sebuah rasa yang dulu ditolak oleh keduanya namun urung untuk dibuang dan dilenyapkan. Cinta milik mereka lebih mirip seleksi alama dan membuat sebuah evolusi rasa.

Rapuh dan lemah awalnya, lalu mengakar kuat dan juga bertahan hidup. Lalu kini ada seleksi alam yang lebih dasyat hanya waktu yang menjawab apakah musnah ditelan zaman atau berkembang lebih kompleks dan juga beradap.

.

Hinata melihat siluet matahari tenggelam di ufuk barat. Seolah bersembunyi ke dasar samudra sebelum akhirnya muncul kembali di balik bukit. Sebuah hari baru telah di mulai.

.

"Hinata-san, sebaiknya kita segera kembali. Ibuku terus menelepon." cengirnya tidak enak.

.

Hinata mengangguk dan segera meninggalkan pantai dengan mengendarai mobil Kiba.

.

***P90***

...

..

.

Kembali ke penginapan, setelah perjalanan yang lumayan panjang bersama Kiba dan anjingnya. Ia malah dikejutkan oleh sosok wanita dewasa yang memiliki aura sensual mematikan.

.

Ia tak pernah bermimpi bertemu langsung dengan wanita itu. Adalah Mei Terumi, atau Lady 'M'.

.

Sosok perempuan yang menjadi istri dari Madara Uchiha. Sebuah contoh wanita mandiri sekaligus sosialita yang sangat sempurna. Satu-satunya wanita Uchiha yang luar biasa berkarisma.

.

Pesonanya takkan tenggelam, meski disandingkan dengan suaminya, yang tak lain adalah lelaki super power semacam Madara Uchiha yang menjadi seorang Perdana Mentri.

.

Mereka menyebut Lady M sebagai wonder woman. Sebab ia tak bisa dikekang oleh marga yang disandangnya. Ia type Lady Diana. Yang bakal lebih mentereng kalau suaminya bersinar. Dan lebih kelihatan berpengaruh ketimbang suaminya.

.

Kabar buruk bagi para suami yang tak menginginkan istrinya tunduk di rumah. Karena Lady M tak bisa dijinakkan seperti kucing siam jika ia punya taji seperti seekor macan.

.

Wanita itu tersenyum penuh persahabatan. Matanya berkilat senang dan juga hangat. Seperti seorang ibu yang bersyukur anak perempuannya kembali setelah kabur dari rumah.

.

Lucu sekali. Bukan Mikoto Uchiha yang datang menenangkannya, tapi malah si bibi muda yang merengkuhnya dalam dekapan hangat.

"Ayo ikut aku." Ujarnya antusias.

.

***p90***

.

.

Hinata memdengus geli dengan pilihan tempat sang bibi. Tak habis pikir dengan prediksinya sendiri. Dipikirnya ia akan berada di tempat yang lebih privat, dengan tingkat ketengangan yang tinggi. Tapi tebakannya justru melenceng. Mereka duduk di sebuah kedai teh kecil di pinggiran kota, buka di tempat elegan yang biasa dikunjungi para lady Uchiha.

.

Perempuan itu duduk dengan gerakan kasual, tak peduli ia berada di tempat murahan sekalipun. Memgirimkan imej kuat dan tak bisa dikendalikan. Dia adalah anomali dari kumpulan menantu Uchiha dari generasi kedua.

Bahkan kini tanpa sungkan mengeluarkan sebungkus rokok mild dari tas mahalnya. Hinata nyaris tak bisa mempercayai penglihatannya saat Sang Lady sang sempurna justru menyulutnya dan dengan gerakan luwes menghirup nikotin itu. Senyum dari sang lady tampak mengejek Hinata, bahwa ada banyak hal yang disembunyikan apik oleh sang lady.

.

Rupanya kedatangan sang Lady ada sangkut pautnya dengan telik sandi yang mengatakan bahwa menantu utama dari generasi ketiga ingin lepas dari akar keluarga Uchiha. Hal yang membuat Mei Terumu gusar adalah, Hinata adalah salah satu menantu kesayangannya. Seekor kunang-kunang kecil yang menawarkan cahaya meski tak seberapa dalam pekatnya malam.

"Kau mau menyerah ya?" katanya tanpa sungkan jika Hinata akan canggung mengungkapkan apapun.

Hinata tersenyum pahit, "Tak ada yang tersisa. Tidak cinta ataupun kepercayaan."

"Jangan terlalu melankolik." Kata perempuan berumur tiga dekade lebih itu sambil terus menghisap rokoknya dan sesekali mengetukkan abunya di bibir asbak.

.

Hinata menggeleng, "Jalang yang ditidurinya sudah memberinya anak. Aku bisa apa dengan keadaan ini?!" urainya tanpa beban. Aneh sekali, Hinata merasa Mei Terumi pantas untuk mendapatkan kejujuran dari kisah cintanya yang ruwet bak benang wol yang dimainkan kucing lalu jatuh ke dalam got.

.

Bibir Lady M naik sedikit, menampilkan senyum simpati aneh yang terlihat seperti ejekan dan sinisme terhadap kehidupan Hinata. "Kalau kau bercerai, para jalang itu akan bersorak merayakan kekalahanmu. Dan itu berarti pengorbananmu dengan menjadi istrinya maka akan menjadi seperti ini—" Lady M menghembuskan asap rokoknya, lalu bibir sensual itu tersenyum culas, tangannya menghancurkan rokoknya di asbak.

"Sia-sia." Lanjutnya dengan penuh penekanan. Mata keemasan milik Lady M berkilat tajam. "Aku pintar Hinata, jadi aku memilih membuang hatiku ketika menikahi bajingan Uchiha."

.

DEG!

.

Sebuah tamparan kesadaran menghajarnya tanpa persiapan. Hinata tersenyum pahit. Mana ada Uchiha yang suci? Dia tahu bahwa semua Uchiha itu bajingan, bahkan jika itu adalah Itachi. Lelaki yang kini menjadi ayah itu bahkan pernah dengan sengaja mencampakkan Ino. Pasti sekali dua kali pernah juga melakukan one night stand dengan perempuan di luar sana. Apalagi Sasuke si penjahat kelamin. Kenapa ia harus terbawa suasana dengan menjadi istri sungguhan dan cemburu karena selingkuhan suaminya. Cih, menggelikan!

.

Hinata tertawa penuh ironi. Ia sendiri yang mengaku-ngaku bisa bertahan diantara ganasnya dosa para Uchiha kini mendadak menjadi seorang wanita yang kecewa atau dengan kata lain cinta mati kepada suaminya. Dia yang melakukan deal dengan para iblis Uchiha. Ia yang berikrar dihadapan Tuhan untuk tetap bersama dengan si berengsek itu hingga maut memisahkan, lalu apakah ia juga yang harus mengingkarinya lebih dulu.

.

"Kalau kau lebih cerdas, biarkan saja Sasuke bodoh itu berjalan sesukanya. Nikmati saja peranmu sebagai korban. Kita para wanita, bisa membalasnya dengan cara paling kejam." Mata Lady M memancarkan kesenangan. "Memberikan dia kebahagiaan lalu memusnahkannya. Bukankah kita bisa berkali lebih menjengkelkan kalau kita terdesak. Aku tahu kau pintar untuk menjadikan kesalahan Sasuke sebagai senjata kan."

.

Hinata tersenyum anggun. Lalu menatap mata Lady M dengan seksama, "Lalu kenapa kau belum meninggalkan Madara-sama, bibi?"

.

Sang Lady tergelak, "Karena permainanku dengannya belum selesai, sayang."

.

Jawaban tenang itu membuat Hinata tersenyum simpul, mungkin jika ibunya masih hidup dan memiliki jiwa yang kuat, ia akan seperti Lady M. Cantik dan tak mudah dikalahkan.

.

"Ada dua hal yang paling menyiksa di dunia ini, Hinata. Pertama, dendam. Dan yang kedua adalah penyesalan. Karena keduanya berasal dari cinta yang tak terbalas, atau cinta yang disakiti. Kalau kau ingin menghancurkan pria Uchiha, pilihan kedua adalah yang paling tepat untuk mereka, karena iblis yang menyesal tak ubahnya manusia hina yang merengek kesempatan kedua."

.

***T (tutup) B (bibir) C (cerewet)***

.

.

.

.

A/n:

Ini part paling emosional yang pernah saya tulis. Bukan karena part ini adegannya yang emang berjalan lambat dan menjemukan, tapi saya sadar di part kemarin saya telah memasukkan banyak plot twist. Ada review panjang yang seolah menelenjangi kearoganan saya. I am apologize, anggaplah saya sedang mabuk dan meracau.

.

Ya, terus terang faktor tekanan dari kata "Cepat update" seperti bom dengan detikan, dan tunggu waktu buat meledak. Kalau saya meneruskan cerita ini dengan alur aslinya—21 chapter, berarti ini akan menjadi cerita yang amat panjang. Dan saya tahu tidak semua orang bisa sesabar itu dalam menunggu sebuah cerita drama.#sarkasm

.

Dan WH ini jelas cerita saya yang paling berbeda, saya akui itu. Saya sudah pernah bilang kalau pemeran utama saya ini—you called her Hinata—bukan protagonis. Yes, she is an antagonist. Dan ya, saya bercerita tentang kehidupan lewat mata seorang antagonis, tapi Hinata bukanlah seorang villain.

.

That's ekstremly diferrent. Vilain itu orang jahat ya gaes, kalau antagonis itu [n] (1) orang yg suka menentang (melawan dsb); (2) Dok dua macam obat atau racun yg mempunyai khasiat berlawanan sehingga dapat menghilangkan atau mengurangi khasiat masing-masing; (3) tokoh dl karya sastra yg merupakan penentang dr tokoh utama; tokoh lawan.

.

Beberapa orang mengenal saya sebagai seorang yang sangat pesimis dan hipokrit. Ya, mungkin itulah saya, dan kata mereka saya adalah spesialisasi sad ending. Cerita yang seperti itu mudah untuk dikenang sebenarnya. Daripada yang fluffy dan juga manis hingga mengakibatkan deabetes. Saya akui saya punya kecenderungan menyadisi SasuHina. Bukan karena saya benci pair ini, tapi karena ini seperti cinta pertama yang ternyata karam dan justru saya terobsesi terhadapnya. Opsesi itu tingkatan levelnya lebih dari cinta ya teman-teman.

.

Jadi maklumi saya kemarin agak sensitif berkata kalau saya bosan dengan pair ini. Anggaplah ini adalah reaksi orang stress dan nggak punya pelampiasan lain selain melarikan diri ke dunia tulis menulis. Gomenassai.

.

Chapter ini sebenernya jembatan korelasi antara Wedding Hell (SH) dan Wedding Hell (MM). Apakah Wedding Hell (Madara/Mei) akan di publish di Ffn? Jawabannya tidak. Biar nggak kebanyakan hutang di sini.

.

Oh iya satu lagi.

.

Saya lebih suka kalian menulis 'masih dilanjut, kan?' daripada 'woy kapan dilanjut nih. lama banget updatenya?'

.

Buat informasi saja. Saya berumur 28th, sudah menikah dan bekerja. Jam bekerja saya dari jam 7pagi sampai jam 5sore. Dalam satu bulan saya dapat hadiah libur sehari. Saya garis bawahi SEHARI. Jadi menulis bukanlah prioritas saya. Ini adalah tempat pelarian karena saya jenuh di dunia nyata.

.

Tidak.

Saya tidak ingin mengeluh sebenernya. Tapi saya bahkan masih mencuri waktu menulis dan tidak hiatus seperti author yang mungkin sedang; kuliah, sekolah, mulai bekerja, atau menikah.

.

Jadi saya mohon, yang sopan ketika kalian meminta sesuatu. Karena saya sadar, Ffn ini gratis. Dan barang yang gratis itu nggak setiap hari juga kali dibagiinnya.

.

Kalau kalian bosan menunggu cerita ini update, kalian kan tinggal baca-baca karya author lain yang sedang up. Jadi jangan terlalu memberikan tekanan pada yang bikin juga (don't push me!). Saya rasa inilah juga yang dialami banyak author senior. Mereka susah bagi waktu, masih juga ditodong-todong.

Sekian dari saya.

Mohon maaf jika tidak berkenan.

.

.

Sincerly,

Poochan.