Rose Festival

First Date, First Injuries (part 2)

Hari sudah menjelang malam, namun suasana disini masih sangat ramai. Dansa untuk menutup perayaan tahun ini akan dilaksanakan sebentar lagi. Aku sedang duduk di depan salah satu stand minuman bersama Len. Cukup melelahkan hari ini menghabiskan waktu bersamanya. Namun dengan begitu, aku merasa sangat senang.

Soal Kagari yang mungkin kulihat saat dansa pembukaan, rasanya saat itu aku keliru. Mungkin saja bukan dia. Aku juga tidak melihat ada teman-temanku yang datang. Apa mereka datang namun tidak bisa mengenali satu-sama lain, ya? Sudahlah, akan kuakhiri hari ini dengan damai. Ini semua berkat pertolongan Dewi Haru. Suasana semakin ramai. Aku bahkan tidak bisa melihat stand yang ada diseberangku. Banyak sekali orang yang lewat.

"Rin-chan, kira-kira kapan dansa selanjutnya dimulai?" tanya Len membuka pembicaraan.

"Nggak tahu. Tahun kemarin, pukul 6 sudah dimulai." Jawabku.

"Berarti masih ada waktu." Ucapnya. "Rin-chan, aku mau ke stand pamanku disebelah sana. Bisa kamu tunggu sebentar disini?"

"Ya, nggak apa. Santai saja." Jawabku ringan. Karena aku yakin aku akan baik-baik saja. Aku sudah biasa datang kemari.

"Kalau begitu, aku permisi sebentar ya." Tukasnya kemudian ia masuk kedalam kerumunan orang dan menghilang.

"Baiklah. Tinggal menunggu ia kembali dan aku akan baik-baik saja." Aku mencoba untuk menenangkan diri.

Setelah Len pergi, tiba-tiba ada seseorang yang menarik-narik dressku dari belakang. Aku menoleh untuk memastikan siapa orang itu. Terlihat seorang gadis kecil dengan rambut coklat yang dikepang mengenakan dress sambil membawa boneka teddy bearnya.

Aku tersenyum pada gadis kecil itu. "Halo, gadis kecil?" tanyaku ramah.

"Kakak Kagamine Rin?" tanyanya dengan suara sangat imut.

"Iya? Ada apa?" aneh sekali. Kenapa gadis kecil ini tahu namaku? Bahkan aku sama sekali tidak mengenalinya. Anak siapa? Dan darimana asalnya aku tidak tahu.

"Kakak dicari oleh seseorang disebelah stand gulali. Dia menyuruhku untuk memanggil kakak."

"Seseorang? Siapa ya?"

"Teman kakak. Dia berdandan cantik sekali dan mengenakan gaun oranye. Dia juga memberiku ini." Gadis kecil itu menunjukkan permen lolipop besar kepadaku.

Melihat apa yang dilakukan oleh temanku yang dikata oleh gadis kecil ini, rasanya temanku itu sangat baik. Tapi anehnya kenapa dia tidak menghampiriku? Padahal dia tahu aku ada disini. Siapa sebenarnya dia. Cantik dan mengenakan gaun oranye. Sudah pasti itu cewek. Tapi siapa? Aku menatap gadis kecil itu. Matanya tampak sayu. Ia juga memandangku lurus.

"Ngg, kalau begitu aku akan segera kesana. Kau sendiri bagaimana, gadis kecil? Nanti kalau aku pergi, kau disini dengan siapa?" aku khawatir dia akan tersesat. Apalagi ini dikerumunan orang.

"Itu orang tuaku." Gadis itu menunjuk kearah stand yang tak jauh dari tempatku duduk.

Syukurlah. Ternyata gadis kecil ini tahu kemana ia akan pergi. "Baiklah. Aku akan kesana dulu, ya! Kamu hati-hati disini. Kalau ada orang asing yang mengajakmu pergi, segera pergi ke papa dan mamamu, ya!"

Gadis itu tersenyum lalu mengangguk. Manis sekali.

Aku segera ketempat yang dikatakan gadis itu. Tapi tunggu! Bagaimana kalau aku pergi, lalu Len kembali? Ngg.. tapi seseorang sedang mencariku. Mungkin memang ada urusan penting. Baiklah! Aku kembali ke stand tempatku duduk tadi.

"Anu, bibi. Kalau nanti ada temanku yang berambut kuning dan berjas hitam datang kesini selagi aku pergi, bisa tolong katakan padanya untuk tunggu sebentar?" aku meminta bantuan dari bibi penjaga stand.

"Araa~ baiklah." Jawabnya.

Aku membungkuk. "Terimakasih banyak!" setelah berterimakasih kepada bibi itu aku segera pergi ke stand gulali. Stand gulali berada di paling pojok dekat pintu keluar alun alun. Ada apa, ya? Kenapa tempat bertemunya ditempat seperti itu? Dan lagi, gadis yang disebutkan itu tidak ada didepan stand!

Aku mendekati stand tersebut. Aneh sekali, tak ada orang yang menjaga stand itu. Aku segera mencari seseorang ke belakang stand tersebut..

"Selamat sore, Kagamine Rin." ucap seseorang dari belakang stand.

"Kagari.. Chika.." aku melihat gadis itu. Aku melihat gadis cantik dengan gaun oranye dihadapanku dengan beberapa gadis dibelakangnya dan ternyata itu adalah.. Kagari..

"Terkejut melihatku? Tentu tidak, ya!" ia tersenyum. Tapi aku tahu dibalik senyumannya itu tersembunyi sesuatu. Setuatu yang.. sangat jahat...

Ia mendekatiku. Derap kakinya sangat jelas terdengar. Ia memakai boots dengan heels yang sangat tinggi.

"Mau apa kau?" aku mundur perlahan.

"JANGAN KABUR!" ia menarik paksa tanganku.

Darah mengalir dari cengkraman tangan Kagari. Sial! Kuku Kagari merobek kulitku! "Sakit! Hentikan!"

Ia tertawa. "Sakit bukan, Kagamine? Maaf, tapi aku sengaja." Ia tersenyum.

Mataku terbelalak mendengar ucapannya. Tidak mungkin dia akan sekejam ini! "HENTIKAN!"

"Sora! Kemarikan alkoholnya!" Perintahnya kepada anak buahnya dibelakang.

Anak buahnya yang bernama Sora itu memberikan sebotol alkohol lalu kepada Kagari. "Bos, apa ini tidak keterlaluan?"

"SEKARANG SIAPA YANG KETERLALUAN?! AKU, APA CEWEK IDIOT INI YANG TELAH MEREBUT LEN?!" ia membentak anak buahnya lalu tertawa. Ia lalu membuka tutup botol alkohol itu dan mendekatkan botol itu ke tanganku.

"JANGAN! JANGAN, KAGARI! KAGARI-SAN! KUMOHON!"

"ups! Permohonanmu tak akan kukabulkan." Ia menuangkan isi botol itu tepat diatas luka yang dibuatnya pada tanganku.

Perih! "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"Sakit bukan, Kagamine?"

"CUKUP HENTIKAN!" aku merasakan perih yang amat perih! Aku harus berontak! Aku berusaha melepas cengkraman Kagari!

*Syat!* aku berhasil melepas tangan Kagari. Syukurlah dengan basahnya tanganku yang licin ini aku bisa dengan mudah melepas tangannya. Namun tetap saja, perih tetap perih! Ini saatnya aku harus kabur! Aku berlari meninggalkan Kagari dan teman-temannya.

"JANGAN BIARKAN DIA KABUR!" perintah Kagari yang terdengar olehku.

Aku harus berlari sejauh mungkin! Tak mungkin aku harus berlari kearah kerumunan orang! Aku mengangkat gaunku dan mulai berlari. Aku harus kabur ketempat lain! keluar dari alun-alun!

Seraya berlari aku merasakan takut. takut! takut! sangat takut! air mata sudah mengalir sejak tadi. Aku tidak tahu harus berlari kemana. Aku tidak punya tujuan. Ah! Pin mawarku terjatuh! Aku menoleh untuk kembali. Tidak! Tak ada waktu untuk kembali mengambil pin itu! KAGARI MENGEJARKU!

Dewi Haru! Dewi Haru! DEWI HARUUUU! Aku takut! tolong aku! Kumohon tolong aku! "LEEEENNN!"

Aku berlari tanpa arah hingga.. jalan buntu...

"Oh, tidak..." aku menghentikan langkahku. Aku ingin berbalik tetapi terlambat.. Kagari dan teman temannya sudah dibelakangku.

Riasan yang kupakai tadi pagi sudah luntur oleh air mata, rambut yang sudah ibu tata pagi ini sudah rusak karena pin mawar yang ibu sematkan sudah tidak pada letaknya, kulit yang bersih kini sudah terdapat bercak darah dan memar, dress yang terlihat cocok denganku sudah berubah menjadi baju lusuh. Hanya sepatu yang ibu berikan yang masih terlihat baik-baik saja. Tapi setelah ini, mungkin semuanya akan benar-benar hancur disini.

Sudahlah, aku tidak bisa kabur lagi..

"KAGAMINE RIN! beraninya kamu kabur begitu saja. Kamu tahu tanganku hampir putus barusan?!" Katanya dengan nada tinggi.

Tak ada seseorang pun disini. Semuanya sedang berada di alun-alun tertawa riang dan melakukan dansa penutupan. Seberapa keras Kagari berteriak, tak mungkin terdengar oleh siapapun. Dan seberapa kerasnya aku berteriak minta tolong, tak mungkin ada yang dapat mendengarku dan menolongku. Aku tak perlu berteriak, Dewi Haru akan menolongku. Cepat atau lambat, ia pasti menolongku.

Kagari mendekatiku lalu menarik kerah dressku. "DENGAR, TOLOL! Aku sudah memperingatimu untuk tidak mendekati Len!"

"Terserah. Tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan dan aku ingin kau tahu." Aku merendahkan suaraku. Aku setengah pasrah. Leherku merasa tercekik. "Aku tidak mendekati, Len. Len yang mendekatiku."

*PLAAK!* Kagari menamparku keras. "AKU TAHU, BODOH! AKU TAHU! AKU TAHU LEN YANG MENDEKATIMU! AKU TAHU LEN MENYATAKAN PERASAANNYA KEPADAMU!" ia membentakku. "TAPI KENAPA HARUS KAMU?!"

"..."

"KENAPA HARUS KAMU!?" Kagari melepaskan tangannya dari kerahku. Dia menghempaskan tubuhku ke tanah. "KAMU NGGAK CANTIK SEPERTIKU! KAMU NGGAK KAYA SEPERTIKU! TAPI KENAPA LEN MEMILIHMU?!" Kagari melemparkan gumpalan tanah kewajahku. Berulangkali ia lakukan itu.

Aku hanya bisa pasrah. Mungkin ini resiko sebenarnya apabila aku menyukai Len. Tak apa, kuterima. Kalaupun aku akan habis malam ini, aku sudah siap. Aku akan kembali ketempat dimana aku bertemu dengan Dewi Haru seperti didalam mimpiku itu.

"KENAPA KAMU NGGAK NGOMONG, KAGAMINE?! KATAKANLAH SESUATU!"

"Percuma. Meskipun aku bilang hentikan pun kamu nggak akan menghentikan perbuatanmu. Maafkan aku Kagari-san. Tapi aku juga menyukai Len."

"KURANG AJAR! TEGANYA KAMU, KAGAMINE!" Kagari mengambil potongan kayu yang runcing pada ujungnya.

*SRAAAAT!* Ia merobek gaun yang kupakai. Berulang kali pula ia lakukan itu. Aku masih tidak dapat bertindak apapun. Pasrah, hanya itu yang kupikirkan saat ini. Kalaupun aku masih bisa pulang malam ini, aku akan minta maaf pada ibuku.

*SRET!* terdengar suara robekan. Dan itu bukan dari pakaianku. ITU KULIT KAKIKU!

"AAAAAAAAAAAAAAARRRGGGGGGGGGGGGGGGHHHH!"

"AAAKHHH!" Kagari menjerit. Kemudian mundur perlahan-lahan. Teman-temannya hanya terdiam, menonton, dan tidak melakukan apapun. "NGGAK! Itu bukan salahku! Kayunya! Ya, kayunya!"

Kutahan sakit yang kurasa. Dari lengan, kini ke kaki. Hari ini.. kencan pertamaku, dan luka parah pertama yang pernah kualami...

N.K with [baka] R.F review:

N.K: maaf, Rin! aku nggak tega sebenernya kamu digituin. tapi skenario nya memang begitu *mojok* *merasa bersalah*

R.F: *baca* segini sih nggak parah. kan belum tewas ini. *muka datar*

N.K: *gebukin R.F* teganyaaaaa! minta maaf sana sama Rin chan!

R.F: *pegangin kepala* iya, gomen Rin.

N.K: *gigit R.F* ja, bentar lagi ending! *hiksuu*

R.F: hhhh... end