Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by me

Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain

Sebelumnya

"Kau mengenal ibunya Sasuke?" Kali ini Ino bertanya dengan tatapan tak percaya.

"I..Itu.."

"Dirumahku saja, dirumahku tidak ada siapapun" ucap Gaara tiba-tiba. Ucapan Gaara membuat semua mata yang tadinya melihat Hinata kini beralih ke Gaara. Hinata langsung menghela nafas lega , sepertinya ia harus berterima kasih pada Gaara.

"Baiklah, dirumah Gaara saja" Ino memutuskan.

Look At Me

"Sekarang bagaimana cara kita berangkat kesana?" tanya Sakura

"Aku bawa mobil"ucap Gaara tiba-tiba.

"Oh ya? Sasuke-kun juga bawa mobil kan?" tanya Sakura lagi. Sasuke hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Berarti kita naik mobil Gaara dan Sasuke" Naruto mengangguk paham.

"Aku dan Naruto akan ikut mobil Gaara" ucap Sakura. Naruto yang mendengar namanya disebut oleh gadis berambut pink itu langsung menoleh , Naruto memandang Sakura bingung sedangkan Sakura hanya tersenyum, senyum yang menurut Naruto mencurigakan.

"Kalau begitu aku juga.."

"Ino kau juga ikut mobil Gaara ya" Sakura memotong perkataan Hinata.

"Hah?" Ino menunjuk memandang Sakura sambil menunjuk dirinya sendiri seolah berkata 'kenapa aku?'. Hinata yang ucapannya tadi terpotong sekarang melihat Ino, ia berharap Ino menolak ajakan Sakura.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu" ucap Sakura cepat-cepat sebelum Ino sempat menolak.

"Kenapa tidak bicara sekarang saja?" tanya Ino kesal. Tentu saja Ino kesal, bagaimana tidak, tadi pagi tiba-tiba Sakura minta padanya agar kelompok mereka mengerjakan tugas bersama, awalnya Ino mengira Sakura juga ingin dekat dengan Sasuke, jadi sebagai sahabat yang baik Ino menyetujuinya. Tapi sekarang tiba-tiba Sakura mengajaknya ikut mobil Gaara, sebenarnya apa mau Sakura? Jangan-jangan dia mau menjauhkannya dari Sasuke-kun nya.

"Ini penting, lagipula kita harus cepat sebelum kemalaman, jadi kita bicara di mobil saja" setelah mengatakan itu, Sakura langsung menarik tangan Naruto dan Ino menuju parkiran. Di belakang mereka bertiga, Gaara mengikuti.

Sekarang mereka semua berada di perjalanan menuju rumah Gaara. Di mobil Sasuke, Hinata yang duduk di samping Sasuke terlihat sedikit gelisah, perasaan canggung, perasaan bersalah, sedih, bahkan rindu bercampur menjadi satu saat dirinya duduk di samping Sasuke seperti ini. Seharusnya tadi ia tidak usah menuruti permintaan Sakura. Hinata jadi teringat kejadian beberapa menit yang lalu, saat dirinya tiba di parkiran, Hinata langsung membuka pintu belakang mobil Sasuke, namun sebelum pintu itu terbuka Sakura tiba-tiba mendorong tubuh Hinata dan membuka pintu belakang itu kemudian memaksa Shion dan Chouji masuk kedalam.

"Sakura, aku ingin duduk di situ" Hinata masih ingat dengan ucapannya saat itu.

"Sudahlah Hinata kau di depan saja, lagipula kau kan tahu di kelas Chouji hanya dekat dengan Shion jadi kasihan kan dia kalau dia harus duduk denganmu atau Sasuke, dia pasti sangat canggung" Sakura memberi alasan yang sebenarnya tak masuk akal, dan Hinata yang sedang tidak mau berdebat pun memilih untuk menuruti kemauan Sakura yang sangat mencurigakan itu.

'Sebenarnya apa yang dipikirkan Sakura?' tanya Hinata dalam hati.

Sasuke yang melihat Hinata sedikit gelisah hanya tersenyum miris, segitu merasa terganggunya kah Hinata sampai-sampai ia harus merasa tak nyaman seperti sekarang ini. Seharusnya tadi siang Sasuke tak usah menerima ajakan Naruto. Sasuke menerima ajakan ini hanya karena Naruto mengatakan, kelompoknya ingin mengerjakan tugas bersama kelompok Sasuke, saat mendengar itu Sasuke mengira Hinata juga setuju untuk mengerjakan tugas bersama dan itu berarti Hinata sudah tak marah lagi kan dengannya. Tapi ternyata dugaannya salah.

"Jangan!"

Sasuke ingat saat Hinata menolak usulan Sakura, untuk mengerjakan tugasnya di rumahnya. Saat itu memang Sasuke sedang bermain game, tapi pendengarannya fokus kepada pembicaraan teman-temannya. Saat mendengar penolakan Hinata, entah kenapa perasaannya sedikit sakit.

Sasuke meminggirkan mobilnya dan berhenti tepat di depan sebuah toko es krim. Melihat Sasuke yang tiba-tiba berhenti, semua yang berada di mobil memandang Sasuke bingung.

"Pindah! Aku tidak mau duduk disampingmu" ucap Sasuke dengan nada memerintah. Hinata yang mendengar itu, memandang Sasuke dengan tatapan tak percaya.

"Cepat pindah!" ucap Sasuke lagi. Kali ini Hinata sedikit tersentak kemudian ia membuka pintu dan keluar. Hinata bertukar tempat duduk dengan Chouji.

Mata Hinata langsung memerah, ia menahan tangisnya agar tidak keluar sekarang. Hinata mengalihkannya dengan menatap keluar, ia membaca tulisan apapun yang ada di jalan sehingga dirinya bisa lupa dengan ucapan Sasuke barusan. 'Sweet' Hinata membaca nama toko es krim yang berada di sampingnya.

Deg

"Pak, kita mau kemana?"

"Bagaimana kalau kita mencari es krim"

Ingatan 5 tahun lalu kembali menganggu Hinata, ia ingat toko es krim itu. Toko es krim itu adalah tempat yang Hinata ingat untuk terakhir kali sebelum dia hilang kesadaran saat penculikannya dulu. Hinata terus menatap toko yang semakin lama semakin menjauh itu, Hinata sangat yakin itu tempatnya.

5 menit kemudian mereka sampai di rumah Gaara, Hinata keluar dari mobil Sasuke yang di parkir di depan garasi. Hinata berjalan ketempat Gaara, Sakura, Ino, dan Naruto yang berada di depan pintu masuk. Hinata memandangi rumah Gaara yang sangat besar, yaah memang rumah keluarga Hyuuga jauh lebih besar dari ini, tapi mengingat Gaara pernah mengatakan padanya kalau dia tinggal sendirian di Konoha, 'bukankah rumah ini terlalu besar' batin Hinata.

"Baiklah semuanya, ayo masuk" Ajak Gaara ketika semua sudah berkumpul, Gaara membuka pintu rumahnya kemudian mempersilahkan semua orang masuk.

"Hinata kau tidak mau masuk?" tanya Gaara saat melihat Hinata masih sibuk memandangi rumahnya.

"Eh?" Hinata baru sadar kalau semua teman-temannya sudah masuk, kemudian ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan Gaara tadi. Hinata berjalan melewati pintu rumah Gaara.

Deg

"Waktunya makan, Hinata"

"Kau tahu kenapa kali ini aku tidak akan memaksamu?"

"Karena hari ini kau akan mati"

"Ke-kenapa kau la-lakukan ini padaku?"

"INI SEMUA KARENA KAU ANAK HIASHI DAN HIKARI!"

Hinata memegang dadanya, kenapa tiba-tiba ingatannya tentang penculikan itu kembali memanggunya. Apakah ini karena ia melihat toko es krim itu?. Tangan Hinata bergetar, ia merasa kepalanya sedikit sakit sekarang.

"Hinata kau tidak apa-apa?" tanya Gaara ketika melihat gerak-gerik Hinata yang aneh. Mendengar suara Gaara, Hinata kembali tersadar. Hinata menggeleng lemah.

"Kau yakin? Kau terlihat tidak sehat" ucap Gaara lagi, kini wajah Gaara sedikit khawatir.

"Tidak apa-apa, aku hanya tiba-tiba ingat sesuatu" Hinata langsung masuk kedalam dan menyusul teman-temannya yang lain. Melihat Hinata yang sudah masuk, Gaara pun mengikuti dari belakang.

Mereka semua duduk di ruang tamu, sambil menunggu Gaara yang sedang mengambil laptop.

"Karena laptopnya cuma satu, kita akan mengerjakannya bergantian" ucap Ino.

"Pertama, kelompok 1 dulu yang mengerjakan, dan kelompok 2 yang akan membantu, nanti kita gantian" Sakura menjelaskan. Semua mengangguk setuju.

"Kalau begitu, kita bagi tugas" sekarang Naruto yang berucap. Tiba-tiba Gaara muncul dari belakang sambil membawa laptop, kemudian ia duduk di samping Naruto.

"Okee, kita buat tim.." ucap Sakura

"Tim pertama, Sasuke dan Hinata, karena mereka berdua pintar jadi mereka yang mencari materi" lanjut Sakura. Semua orang mengangguk setuju kecuali Hinata dan Sasuke.

"Tim kedua isinya Gaara, Naruto, Chouji tugas kalian mengetik apa yang di beritahu tim pertama" ucap Sakura lagi.

"Lalu kita bertiga?" tanya Shion sambil menunjuk Sakura, Ino, dan dirinya sendiri.

"Kita akan membuat makanan untuk mereka.." jawab Sakura.

"Kau bilang bahan makanannya banyak kan?" Sakura bertanya pada Gaara. Gaara mengangguk

"Eumm.. kau pergi saja ke dapur disana ada kulkas, buka saja" Gaara menunjuk arah menuju dapur.

"Baiklah" Sakura menarik Ino dan Shion menuju dapur, sedangkan yang lain mulai mengerjakan tugasnya masing-masing.

"Eumm bagaimana kalau kita mulai dari sejarah penemuan sel" ucap Hinata sambil melihat buku biologinya.

"Tidak usah, lebih bagus kalau langsung ke pengertian sel" Sasuke menolak usul Hinata.

"Tapi menurutku, kita harus tahu dulu bagaimana sejarah awalnya sel di temukan" Hinata berpendapat lagi.

"Siswa-siswa lain tidak akan peduli dengan sejarahnya, karena itu tidak penting, yang penting itu materi mengenai selnya" Sasuke tak mau kalah. Melihat perdebatan Sasuke dan Hinata, Naruto, Gaara, dan Chouji hanya bisa memandang bingung. Menurut mereka, mau sejarah atau langsung pengertiannya terserah yang penting tugas ini cepat beres, bukankah dengan berdebat seperti ini malah akan membuang banyak waktu.

"Tapi…"

"Ini tugas kelompokku kan? biar aku yang memutuskan, kau tidak perlu ikut campur" Sasuke memotong perkataan Hinata, mendengar nada sinis Sasuke, Hinata jadi kesal.

"Baiklah, kau kerjakan tugas kelompokmu, aku tidak akan membantu dan kau juga tak perlu membantu tugas kelompokku nanti"ucap Hinata, kemudian ia berdiri dan pergi menuju dapur untuk membantu pekerjaan Sakura, Ino dan Shion.

Melihat kejadian Naruto dan Chouji ternganga, sedangkan Gaara menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Temperamen Hinata memang sangat buruk" ucap Gaara pelan namun masih bisa didengar oleh Sasuke yang duduk di depannya.

"Sepertinya kau tahu banyak tentang Hinata" ucap Sasuke dengan nada tak suka, tapi sepertinya Gaara bukan orang yang peka.

"Yaah lumayanlah" ucap Gaara dengan tampang polosnya, Gaara sama sekali tak menyadari tatapan membunuh dari Sasuke.


Mereka baru selesai saat jarum jam menunjuk pukul 7 malam, Naruto, Sakura, dan Chouji pulang bersama menggunakan taksi, Ino dan Shion dijemput, sedangkan Hinata sekarang sedang sibuk menghubungi kakaknya yang dari tadi tak diangkat.

"Mau ku antar?" Tawar Gaara

"Tidak usah, rumahku sangat jauh dari sini" tolak Hinata. Hinata sedikit tak enak jika merepotkan Gaara.

"Bagaimana kalau bersama Sasuke?" tawar Gaara lagi.

"Kalau kau mau, aku akan bilang padanya" lanjut Gaara. Hinata menghela nafasnya kemudian ia melihat Sasuke yang sedang mengambil mobilnya dari garasi.

"Sasuke!" Gaara berteriak memanggil Sasuke yang baru saja melewati dirinya dan Hinata, dan itu membuat Sasuke mendadak menginjak rem karena kaget. Mobil Sasuke berhenti tepat di depan gerbang rumah Gaara, melihat itu Gaara langsung berlari mendekati mobil Sasuke dan Hinata pun mengkuti Gaara dari belakang. Sasuke membuka kaca mobilnya saat Gaara sampai.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Bisakah kau mengantar Hinata pulang?" Gaara balik bertanya. Saat mendengar pertanyaan Gaara, Sasuke langsung melihat Hinata yang berada di belakang Gaara.

Hinata yang merasa di perhatikan oleh Sasuke, malah membuang muka. Sasuke tersenyum miris saat melihat reaksi Hinata, kemudian ia kembali melihat Gaara.

"Bukankah kau bilang kau tau banyak tentang dia" Sasuke menunjuk Hinata menggunakan dagunya. Gaara melihat Hinata yang berada di belakangnya sebentar, kemudian ia kembali melihat Sasuke dengan pandangan bingung, kali ini Gaara benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Sasuke padanya barusan.

"Seharusnya kau tahu, kalau gadis di belakangmu itu membenciku, dia tidak mungkin mau pulang bersamaku" ucap Sasuke kemudian ia menancap gas mobilnya meninggalkan Hinata dan Gaara. Hinata menunduk, saat mendengar ucapan Sasuke. Tiba-tiba Hinata merasa matanya memanas.

Gaara menggaruk kepalanya "Ada apa dengannya?" ucap Gaara bingung. Kemudian Gaara membalikkan tubuhnya untuk melihat Hinata, "Biar kuantar sa.." ucapan Gaara terhenti ketika ia melihat Hinata terisak."Kau kenapa?" Gaara mengangkat wajah Hinata yang menunduk, air mata sudah membanjiri pipi Hinata.

Hinata hanya menggeleng lemah untuk menjawab pertanyaan Gaara. Tapi jawaban yang di berikan dengan tangisan Hinata yang makin terdengar jelas, tentu saja membuat Gaara tak percaya dengan jawaban itu.

"Ada apa Hinata?" tanya Gaara lagi sambil mengusap rambut Hinata pelan.

"A.. ..aku hanya kesal..karena ..ka..hiks..karena kakakku sulit di hubungi" ucap Hinata sambil mengusap air matanya.

"Hey, jadi kau menangis hanya karena hal itu?" Sekarang Gaara sedikit kesal dengan Hinata.

"Kau menangis hanya karena aku tak merespon?"

Tiba-tiba Hinata teringat ucapan Sasuke dulu, Hinata juga ingat bagaimana ekspresi kesal Sasuke setiap kali dirinya menangis karena hal-hal sepele.

"Hey..Hey.. aku kan sudah bilang kau tidak perlu menunggu kakakmu, biar aku yang antar" Gaara menarik tangan Hinata menuju garasi.

Baru saja Gaara ingin membuka garasi, sebuah suara menghentikannya. Hinata yang sadar kalau itu suara dari HPnya langsung mengambil HP dari dalam tas.

'Neji-nii'

Nama kakaknya muncul di layar HP yang masih berbunyi itu, Hinata mengangkat panggilan masuk dari kakaknya itu.

"Halo"

"…"

"Bisa jemput aku di rumah teman"

"…"

"Baiklah, aku akan sms alamatnya"

Hinata memutuskan panggilan itu setelah beberapa detik berbicara dengan kakaknya.

"Kakakmu?" tebak Gaara. Hinata mengangguk kemudian tersenyum, jika soal menebak sesuatu Gaara memang paling hebat.

"Apa katanya?" tanya Gaara.

"Dia akan menjemputku" jawab Hinata.

Sudah sepuluh menit berlalu sejak Hinata mendapat telpon dari Neji, kini Hinata menunggu di teras rumah Gaara.

"Seharusnya kau pulang denganku saja" ucap Gaara tiba-tiba.

"Aku tidak mau merepotkanmu" balas Hinata.

"Aku tidak merasa direpotkan" kini Gaara melihat Hinata yang duduk disampingnya.

"Sudahlah, biarkan saja kakakku melakukan tugasnya sebagai kakak" ucap Hinata enteng. Gaara mendengus ketika mendengar ucapan Hinata.

"Apa kau dekat dengan kakakmu?" tanya Gaara. Kini Hinata yang menoleh untuk melihat Gaara.

"Kau langsung menangis saat kakakmu tak mengangkat, pasti kau dekat dengannya" Gaara melanjutkan. Mendengar penjelasan Gaara, Hinata kembali menolehkan kepalanya untuk melihat gerbang, sebenarnya ia menangis bukan karena itu, tapi karena Uchiha Sasuke yang sangat menyebalkan itu.

"Aku kan sudah bilang aku hanya kesal, lagipula kau kan tahu, semenjak peneror itu melukai kakakku aku tidak pernah dekat dengan siapapun termasuk keluargaku sendiri" Hinata menjawab pertanyaan Gaara sedikit malas. Membicarakan tentang kedekatan, Hinata jadi teringat Sasuke lagi.

"Hmm Gaara?" Hinata memanggil nama Gaara ragu.

"Ada apa?" Gaara masih masih melihat Hinata.

"Kalau ada orang yang menyuruhmu memilih antara dua hal.." Hinata diam sebentar. "Pilihan pertama, orang itu akan menyakitimu, pilihan kedua orang itu akan menyakiti orang yang kau sayang.." Hinata berhenti lagi untuk menarik nafas. "Jika itu pilihannya, apa yang akan kau pilih?" Hinata kembali melihat Gaara yang duduk disampingnya.

"Eumm kalau seperti itu.." Gaara menatap langit untuk berpikir kemudian ia kembali melihat wajah Hinata."Aku tak akan memilih keduanya" jawab Gaara.

"Maksudmu?" Hinata masih tak mengerti.

"Aku tak akan membiarkan orang itu menyakitiku atau menyakiti orang yang ku sayang" Gaara menjawab pertanyaan Hinata, kemudian ia tersenyum. Hinata mentap mata Gaara untuk mencari keraguan dari mata itu , namun nihil, sepertinya Gaara sangat yakin dengan jawabannya. Hinata mengehela nafasnya ketika menyadari itu.

"Kenapa? jawabanku salah?" tanya Gaara saat melihat Hinata menghela nafas. Hinata menggeleng.

"Tidak, jawabanmu terlalu sempurna dan itu membuatku kesal" Hinata memalingkan lagi wajahanya.

"Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?" Gaara jadi sedikit penasaran.

"Ada orang yang ku suka"jawab Hinata.

"Lalu?" tanya Gaara bingung.

"Sekarang orang itu membenci ku dan menjauhiku" Hinata menjawab sambil memandang langit.

"Kenapa?" Gaara masih bingung.

"Karena aku menyuruhnya untuk menjauhiku"

Gaara mengernyit ketika mendengar jawaban Hinata yang terakhir.

"Wajar kan kalau dia menjauhimu, bukankah kau sendiri yang menyuruhnya untuk menjauh?"

"Hmm.." Hinata mengangguk. "Tapi sekarang aku merasa kehilangan dia" lanjut Hinata.

"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu" Gaara sedikit berkomentar

"Kau tidak perlu mengerti aku, Gaara.. kau hanya cukup tahu saja mengenaiku" ucap Hinata. Mendengar itu Gaara mengendikkan bahunya, kemudian dia ikut menatap langit. Mereka berdua kini sama-sama memandang langit yang sedang dipenuhi bintang.

"Kalau akau jadi orang itu, aku pasti ingin kau menceritakan masalahmu denganku, walaupun itu nantinya akan melukaiku tapi setidaknya aku akan merasa senang bisa membantu orang yang aku suka" ucap Gaara tiba-tiba.

"Darimana kau tahu kalau orang itu menyukaiku? Seingatku, aku tidak pernah mengatakan kalau orang itu juga menyukaiku" Hinata mengernyit bingung.

" 'Orang itu' yang kau maksud adalah Uchiha Sasuke kan? Aku rasa Sasuke juga menyukaimu"

'Shitt!' Hinata mengumpat dalam hati, seharusnya dia tak menceritakan masalah ini dengan Gaara, seharusnya Hinata tahu kalau Gaara akan mudah menebak siapa orang yang Hinata bicarakan.

"Kau itu punya indra keenam atau bagaimana sih!" Hinata sedikit kesal dengan Gaara. Melihat reaksi Hinata, Gaara langsung tertawa terbahak-bahak bahkan sekilas Hinata melihat air mata keluar dari mata Gaara.

"Kau itu sangat mudah di tebak, Hinata" Gaara mengedipkan sebelah matanya.


Keesokan harinya, Hinata pergi kesekolah seperti biasa, dia menggunakan bus kemudian turun di halte yang paling dekat dengan sekolah. Ketika Hinata masuk ke dalam sekolah, ia melihat Sasuke baru saja keluar dari gedung ekskul. Sepertinya Sasuke baru dari ruang basket, yahh.. Sasuke memang anggota dari club basket jadi wajar saja kalau dirinya sering pergi ke ruang basket, dari dulu Sasuke selalu menyempatkan diri untuk latihan di sana setiap pagi, kemudian dia akan pergi kekelas saat bel akan berbunyi. Melihat Sasuke, Hinata jadi teringat perkataan Gaara semalam.

Saat jam istirahat, Hinata meyakinkan dirinya untuk memberitahu semua masalahnya pada Sasuke. Hinata mau mengatakan masalahnya bukan karena ia berharap Sasuke akan membantunya, seperti yang dikatakan Gaara semalam, tapi ia hanya ingin Sasuke tahu alasan kenapa dirinya harus menjauhi Sasuke, dengan begitu setidaknya Sasuke akan menjauhinya tanpa membenci dirinya. Hinata mendekati meja Sasuke saat sebagian siswa di kelas sudah pergi ke kantin.

" " Hinata memanggil Sasuke yang sedang berbincang dengan Naruto. Mendengar namanya di panggil Sasuke menoleh untuk melihat orang yang memanggilnya. Sasuke sedikit terkejut saata melihat Hinatalah orang yang memanggilnya.

"Ada apa?" Tanya Sasuke yang sudah kembali bersikap dingin.

"Ada yang ingin ku bicarakan" ucap Hinata sambil menunduk.

"Bicara saja disini" Sasuke menatap Hinata datar.

"Bisa kita bicara berdua saja" pinta Hinata.

"Tidak, aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu" ucap Sasuke kemudian ia pergi meninggalkan Hinata yang masih berdiri di depan meja Sasuke. Hinata memegang dadanya yang terasa sesak.

'Ini memang salahku, wajar kalau Sasuke marah' Hinata mencoba menenangkan dirinya sendiri. Kemudian ia mengejar Sasuke yang sudah keluar kelas. Hinata berhasil mengejar Sasuke, saat mereka sampai di depan ruang basket, Hinata memegang tangan Sasuke dari belakang.

Merasa tangannya di sentuh dari belakang, reflek Sasuke membalikkan tubuhnya.

"Sasuke,tolong.. ini sangat penting" Hinata sedikit memelas. Sedangkan Sasuke mengernyit ketika melihat Hinata yang tiba-tiba bersikap aneh, kemudian ia menepis tangan Hinata dan masuk ke dalam ruang baket. Hinata sedikit terkejut denga sikap Sasuke barusan.

"Kenapa kau bersikap seperti ini?!" Hinata berteriak dari depan pintu ruang basket, dan itu membuat Sasuke kemabali menoleh unuk melihat Hinata.

"Lalu kau ingin aku bersikap seperti apa?!" Sasuke membentak Hinata. Hinata menunduk ketika Sasuke bertanya seperti itu.

"Kau menyuruhku untuk menjauhimu, sekarang aku sudah menjauh. Tapi kenapa tiba-tiba kau ingin berbicara denganku? Apa sekarang kau masih merasa aku mengganggumu? Kau ingin mengatakan kalau kau masih merasa terganggu olehku kan? Baiklah mulai sekarang aku tidak akan muncul dihadapanmu lagi, kau puas?" kali ini Sasuke tidak membentak hanya saja perkataannya sekarang lebih terasa menyakitkan dibanding saat Sasuke membentaknya tadi.

Hinata menunduk dalam dan memikirkan setiap perkataan Sasuke, yah benar memang Hinatalah yang menyuruh Sasuke untuk menjauhinya, lalu sekarang tiba-tiba Hinata memintan Sasuke untuk mendengarkannya, tentu saja Sasuke marah. Tapi sekarang Hinata bukan mau menyuruh Sasuke untuk menjauhinya lagi.

"Hiks..ma..maaf..hiks" Hinata terisak. Sasuke yang mendengar suara isakan Hinata langsung mendekati gads itu. Sasuke mengangkat dagu Hinata agar ia bisa melihat jelas wajah Hinata yang tadi mennduk.

"A..ada apa Hinata?" Sasuke sedikit panik saat melihat air mata sudah membanjiri pipi Hinata. Hinata menepis tangan Sasuke yang memegang dagunya kemudian ia mundur selangkah.

"Kau pembohong!" ucap Hinata tiba-tiba. Sasuke tidak mengerti, tadi Hinata tiba-tiba meminta maaf sekarang dia mengatainya pembohong, dan Sasuke semakin tidak mengerti saat melihat Hinata sekarang sudah berjongkok kemudian menyembunyikan wajahnya di kedua lutut, Hinata menangis semakin kencang sambil memeluk kedua kakinya. Sasuke ikut berjongkok di depan Hinata.

"Hinata ada apa?" Tanya Sasuke sambil mengelus rambut Hinata pelan. Hinata tidak menjawab pertanyaan Sasuke, Hinata terus saja menangis. Melihat itu Sasuke, menarik tubuh Hinata agar mendekat ke tubuhnya kemudian Sasuke memeluk Hinata dan menenggelamkan kepala Hinata di dadanya.

"Hinata jangan menangis, maafkan aku" Sasuke mengelus punggung Hinata pelan. Sebenarnya Sasuke bahkan tak tahu apa yang terjadi pada Hinata, dan dia juga tak tahu harus mengatakan apa agar Hinata berhenti menangis. Tapi apapun masalah Hinata sekarang, Sasuke tahu dirinya harus meminta maaf, mengingat tadi Hinata mengatainya pembohong, itu berarti Sasuke juga sudah melakukan kesalahan, walaupun ia belum tahu apa kesalahannya tetap saja ia meerasa harus meminta maaf sekarang.

"Hinata apa yang harus aku lakukan? Jangan menangis, kumohon" Sasuke masih berusaha menenangkan Hinata.

Sudah lima belas menit mereka bertahan dalam posisi seperti itu, Hinata yang menangis di dada bidang Sasuke dan Sasuke yang terus mengelus punggung Hinata sambil meminta maaf.

"Aku membencimu, kau pembohong" Hinata tiba-tiba mendorong tubuh Sasuke agar menjauh darinya , kemudian ia mengusap air matanya sendiri.

"Aku berbohong tentang apa?" tanya Sasuke.

"Kau bilang apapun yang terjadi, kau akan selalu mendengarkanku, tapi saat aku ingin bicara padamu kau malah tak mengacuhkanku" jawab Hinata yang sudah berhenti menangis. Sasuke mengernyit bingung, kapan dirinya pernah mengatakan itu? itulah yang dipikirkan Sasuke sekarang.

"Kau bahkan sudah lupa" Hinata mendesah kecewa. "Dulu saat kita masih SD kau pernah berjanji padaku" Hinata memberi sedikit petunjuk agar Sasuke mengingatnya.

"Aku janji, aku tidak akan pernah tidak meresponmu lagi, aku akan selalu mendengarkanmu sampai kapanpun"ucap Sasuke meyakinkan.

"Baiklah, aku juga tak akan menangis lagi" Ucap Hinata sambil mengusap sisa-sisa air matanya.

Sekarang Sasuke sudah mengingatnya, dulu Hinata pernah tiba-tiba menangis seperti sekarang juga, alasannya pun sama seperti sekarang, dan untuk menghentikan tangisan Hinata dulu, Sasuke membuat janji itu. Tapi kalau gara-gara Sasuke tak mendengarkan Hinata lagi, membuat Sasuke dituduh pembohong oleh Hinata, bukankah itu sedikit keterlaluan? lagipula dia melakukan itu karena Hinata sendiri yang menyuruh Sasuke untuk menjauhi Hinata.

"Bukankah kau yang menyuruhku untuk menjauhimu, kalau aku terus mendengarkanmu, bagaimana aku bisa menjauhimu?" Sekarang Sasuke bingung dengan sikap Hinata.

"Tapi kau sudah berjanji APAPUN YANG TERJADI kau akan selalu mendengarkanku" Hinata sengaja menekankan beberapa kata di ucapannya barusan.

Sasuke menghela nafas " Baiklah ini memang salahku, jadi jangan menangis lagi, mengerti" ucap Sasuke dengan nada memerintahnya. Hinata mengangguk sambil tersenyum.

Melihat Hinata yang tersenyum padanya, Sasuke jadi merasa Hinata sudah tidak berusaha menjauhinya lagi, dan perasaan itu membuat Sasuke senang.

"Jadi.. apa yang ingin kau bicarakan padaku tadi?" Sasuke mengembalikan topic awal mereka.

"Eumm i..itu."

TBC

Nurul851 : Eumm disini udah mulai ada lagi kan SasuHinanya, ia mereka mau baikan.

Baby niz 137 : okeee

sabrina : mungkin aja, oke tunggu ya chap nextnya lagi

onyxlavender23 : mungkin hehehe, oke tunggu ya chap nextnya

onyx dark blue : oke oke ini mereka udah baikan kok, ditunggu ya next chapnya

aindri961 : oh yaa? hehehehe mungkin emang Gaara pelakunya.

Juni : mungkin aja juni..

TanTan Hime-chan : mungkin aja tebakan kamu bener.. hehehe

Herocyn Akko : Kiddnapper(?) hahaha Ita suka sama julukan itu, eumm mungkin aja sih kita liat aja ntar

tsukiko : mungkin aja..

HyugaRara : eumm mungkin aja kamu bener, tunggu next chapnya ya..

Aihi : mungkin aja.. kalo motifnya ntar di kasih tau deh

oormiwa : iya nih Gaara gak di teror, kalau Sasuke sih dia cuma berusaha untuk gak peduli sama Hinata, kalau Gaara suka sama Hinata sih Ita belum tahu nih mau digimanain *Watados*

hinatauchiha69 : mungkin aja, eumm Sasuke maafin Hinata kok hehehe

Maaf ya Ita ngaret lagi up-nya, makasi semua yang udah baca dan review...

Dan yang besok udah masuk sekolah semangat yaa :)

Sampai jumpa di chap selanjutnya….