Title : Wish Princess

Disclaimer : Grand Chase Indonesia dan juga milik KOG Korea. Cuman meminjam karakternya aja

Pairing : Edel x Rufus (Slight: Ronan x Elesis)

Rating : T

Genre : Action & Mystery & Family & Angst& Romance

Warning : Tulisan Gaje, Typo dimana-mana,

Summary : "Sudah saatnya aku minum sekarang!" Dia membuka mulutnya lebar-lebar. Memperlihatkan gigi taring yang sangat tajam/'Aku Sangat Suka Darah'/Sapphire bertemu Crimson keduanya masih saja saling menatap/Karena kau milikku,Hanya milikku.'/ Sorry Ga pinter bikin Sumary/Pair Edel x Rufus.

Don't Like Dont'Read

Chapter 10 True Power

.

.

.

Sebelumnya...

.

"Kuucapkan selamat datang!"

.

"di-"

.

"Kastil Es-ku."

.

.

.

"Sudah kuduga kaulah orangnya, Edel Frost!" Kata Ronan takjub melihat kekuatan Edel yg tersembunyi.

"Apa maksudmu?" Tanya Edel tak mengerti kata-kata Ronan sebelumnya.

"Apa kau tidak tau Revan? " Tanya Ronan balik.

"Revan ?"

"Revan adalah proses kebangkitan seseorang dari masa lalu ke masa sekarang. Singkat kata seperti reinkarnasi." Jelas Ronan.

"Lalu... apa hubungannya denganku?" Edel masih belum paham sama sekali apa yang dibicarakan.

"Kaulah orang yg terlahir kembali dari masa lalu."

"Maksudmu a-"

"Aku tidak tau siapa kau dimasa lalu. Yang jelas itulah alasannya Veigas Terre terus memburu dirimu." Ucap Ronan lagi membuat Edel terdiam.

"Mungkin dimasa lalu kau berhasil mengalahkannya sehingga saat mendengar ada Revan dia langsung memburu orang-orang yg baru terlahir dimasa sekarang. Dia takut kau akan mengalahkannya lagi. Itulah alasan sebenarnya kenapa dia membunuh keluargamu!" Edel masih terdiam mendengarkan. Ronan langsung menyarungkan kembali pedangnya ke pinggangnya.

"Ikutlah denganku! Maka kau akan tau semuanya! Aku tau kau masih dendam dengannya akibat kematian keluargamu!" Kata Ronan sambil mengulurkan tangan; berniat mengajak Edel.

Sementara Edel terlihat berpikir keras. Disatu sisi ia sangat ingin membalaskan dendam keluarganya, Disisi lain ia masih belum bisa percaya perkataan Ronan 100%.

Pada saat itulah ia lengah. Bayangan Ronan tiba-tiba muncul dibelakangnya. Bayangan itu langsung mengayunkan pedangnya kearah leher Edel. Tetapi dengan tenang, Edel menghindarinya dengan menundukkan kepalanya kedepan.

Edel langsung menusuk bayangan Ronan itu tepat dijantungnya dan menyebabkan bayangan itu menghilang.

"Huh... Ternyata kau suka menyerang diam-diam. Inikah kekuatanmu?" Tanya Edel sambil tersenyum mengejek Ronan.

"Hmp.. Benar! Kekuatanku adalah 'Bayangan'. Misalnya jika aku seperti ini?!" Ronan langsung menarik pedangnya kembali dan mengarahkannya ke Edel.

Syuut!

Dalam sekejap pedang Ronan bertambah panjang dengan cepat melewati samping kepala Edel. Dan dalam sekejap pula pedangnya memendek lagi seperti semula. Edel hanya mampu terpaku melihat kejadian barusan. Karena ia tak melihat proses ketika pedang Ronan bertambah panjang dalam sekejap.

"Walaupun kekuatanku cuma 'Bayangan' atau Ilusi namun itu tetap dapat membuatmu kesakitan kalau sampai terkena." Ronan memejamkan mata; merapalkan sebuah mantera. 3 buah meteor api berjatuhan dari langit kearah Edel.

Edel langsung bersiap siaga begitu mendengarnya. Ia mengangkat tangan kanannya yg kosong dan mengarahkan kearah Meteor milik Ronan.

Meteor tesebut langsung pecah menjadi sebuah bongkahan es kecil-kecil. Tentu saja hal itu tak membuat Edel terluka sedikit pun. Melihatnya Ronan hanya diam tak percaya, kalau meteornya dihentikan dengan mudah.

"Apa yang kau laku-" Tanya Ronan masih tak percaya.

"Aku menurunkan suhu udara dilangit atasku secara drastis sampai -200 derajat celcius. Sehingga meteor itu dalam sekejap menjadi bongkahan Es. Karena terlalu beku bongkahan Es itu tak kuat menahan tekanan gravitasi bumi sehingga ia pecah diudara." Jawab Edel santai. Ronan tersenyum puas.

"Kau juga mempunyai kekuatan yg sangat langkah, Edel Frost! Tak heran Veigas Terre begitu ingin membunuhmu!" Katanya lagi.

Kemudian Ronan merapalkan mantera-nya lagi. Seperti saat bertarung dengan Dio. Sihir Es muncul disekeliling Ronan.

"Apa kau bisa menghentikan es ini dengan kekuatanmu?! Kita lihat saja." Es berukuran cukup besar seperti tombak langsung menyerang Edel secara cepat dan tepat.

Edel tetap diam ditempatnya; tak bergerak sedikitpun. Es yg menyerang tubuhnya langsung mencair ketika menyentuh tubuh Edel. Setelah itu tubuh Edel menyerap es yg mencair tadi dan menambah kekuatannya.

"Percuma saja! Kau tak akan bisa melukaiku dengan sihir es. Walaupun aku tidak bisa menghentikan sihir es-mu," Ujar Edel tenang.

"Berkat itu aku jadi tahu kekuatanmu! Kau mempunyai 2 kekuatan bukan?!" Tanya Edel memastikan.

"Karena kau sudah melihatnya, lebih baik kuceritakan saja. Kekuatanku yg pertama adalah menguasai 'Sihir' dan yg kedua adalah 'Bayangan'."

"Kekuatan 'Sihir'ku merupakan kekuatan dari keturunan keluarga Erudon yg sudah lama punah, kecuali diriku. Sedangkan kekuatan 'Bayangan'ku merupakan kekuatan original milikku sendiri. Maka dari itu keluarga Erudon banyak diantara mereka mempunyai kekuatan lebih dari 1!" Jelas Ronan panjang lebar.

"..." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Edel bergerak langsung menyerang Edel. Perlawanan mereka terjadi cukup sengit. Semuanya mengeluarkan kekuatan terkuat mereka.

Dengan tipuan bayangan-nya, Ronan menggunakan bayangannya untuk menipu pandangan Edel. Bayangan milik Ronan menyerang Edel dari depan, sedangkan Ronan yg asli menyerang Edel dari belakang.

Tetapi dengan sigap, Edel langsung menghindar ke samping. Kemudian Bayangan Ronan menghilang menyatu dengan Ronan kembali. Ronan mengarahkan pedangnya ke arah Edel.

Syuut!

Dalam sekejap pedang Ronan memanjangkan diri lagi untuk yg kedua kalinya. Karena sudah tau akan diserang seperti itu, Edel segera menahan serangan Ronan. Dengan Rapier yg ia miliki, Edel menangkis serangan Ronan sampai ke samping kepalanya saking kuatnya.

Tring! Trang!

"Cih, hebat juga kau!" Puji Ronan. Merasa belum puas, Ronan akhirnya memutuskan akan kembali menyerang. Saat mau menyerang kembali tiba-tiba terjadi sesuatu pada Ronan.

Brugh!

Ronan jatuh tersungkur ditanah secara tiba-tiba.

"Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?" Pikir Ronan kaget.

"Hahaha... Apa kau merasa kakimu tidak bisa digerakkan?" Seringaian muncul diwajah Edel. Sedangkan Ronan hanya meringis kesal.

"Tentu saja, sebab aku sudah menurunkan suhu disekitar kakimu berada. Dalam keadaan itu suhunya menurun sekitar -200 derajat celcius. Kakimu akan mati rasa dalam sekejap!" Jelas Edel panjang lebar.

"Sejak kapan?" Tanya Ronan.

"Sejak kau menyerangku dari belakang tadi!"

Tanpa babibu lagi, Edel langsung membekukan kaki sampai sekitar perut Ronan. Semuanya membeku.

"Aku akan membunuhmu secara perlahan! Karena kau, Natsuki dan Rufus mengalami kematian yg menyakitkan!" Kata Edel dingin dan diikuti dengan perasaan balas dendam.

Ronan hanya menutup matanya merasakan kalau tubuhnya semakin lama semakin dingin. Edel berdiri tepat didepannya dan ia mengarahkan Rapier tepat ke jantung Ronan.

Saat mau menikam Ronan, lagi-lagi ada sebuah halangan yang terjadi.

Syut!

Sebuah pedang yg terlempar jatuh tepat diantara Ronan dan Edel. Sehingga membuat Edel melompat menghindar ke belakang. Dengan itu juga Es yg menahan Tubuh Ronan ikut mencair karena konsentrasi Edel gagal.

Edel menolehkan kepalanya kearah si pelaku yg melemparkan pedangnya barusan. Ia melihat seorang gadis berambut merah panjang dengan mata berwarna merah juga. Edel mengenalnya! Ia adalah Elesis, teman sekelas disekolahnya dulu.

Elesis menghampiri mereka berdua. Setelah sampai ia langsung menyapa Edel, "Hai, Edel sudah lama kita tak berjumpa!" Elesis memeluk Edel dengan erat seperti mereka tak bertemu. Edel pun membalas pelukan erat mereka.

"Kau juga, Elesis. Kenapa kau disini? Kenapa kau tadi menghalangiku?" Tanya Edel bertubi-tubi. Elesis hanya memasang wajah senyum ceria.

"Tenang-tenang! Akan kujelaskan satu-satu, okay?!" Kata Elesis. Edel menggangguk pelan sebagai jawabannya.

"Elesis kenapa kau datang kemari?!" Sebuah suara laki-laki menginterupsi pertemuan Elesis dan Edel.

"Aku kemari karena ingin membenarkan jalan hidupmu yang salah!" Ucap Elesis tegas.

"Salah? Kau tidak akan pernah mengerti perasaanku, Elesis. Sekalipun kita pernah bersama-sama dulu!" Sela Ronan marah.

"Saat ini kau sudah terjatuh kedalam kegelapan yg sangat dalam, Ronan! Bukan hanya balas dendam, tapi kau juga menjadi seorang pembunuh berdarah dingin." Ujar Elesis.

"Pembunuh, kau bilang? Bukankah sudah pernah kubilang kalau aku akan menyingkirkan siapa saja yg menghalangi jalanku! Seharusnya kau lebih tau soal itu, Elesis!" Kata Ronan.

"Sudahlah percuma saja aku berbicara denganmu! Sekarang tujuanku bukan lagi untuk menangkap Edel Frost. Tetapi aku akan membunuhnya sebagai sarana meningkatkan kekuatanku agar bisa mengalahkan Veigas!" Ronan langsung menyerang mereka berdua sekaligus setelah mengatakan itu.

Dengan sigap Elesis menangkis semua serangan Ronan. Elesis bahkan sampai memukul Ronan hingga terjatuh kembali.

"Kau tak akan bisa mengalahkanku! Aku tau kekuatanmu sudah hampir habis saat melawan Edel tadi." Ucap Elesis.

Tetap memaksakan diri, Ronan berusaha menyerang mereka berdua kembali. Ketika itu ada peluru pistol yg berhasil melukai tangan kanan Ronan.

Dor!

Ronan menolehkan kepalanya dan dia melihat Rufus berdiri terengah-engah dengan tangan kirinya yg sudah putus, tangan kanannya tentu berhasil memegang pistol Eyetooth miliknya. Ditambah lagi tubuhnya yg penuh luka memar, sayatan.

Ronan langsung berdiri terdiam ditempatnya! Pandangannya juga berubah menjadi kosong. Edel dan Elesis keheranan dibuatnya.

"Apa yg kau lakukan padanya, Rufus!" Tanya Edel sambil berlari kearah Rufus.

"Aku memberinya satu mimpi yg tidak akan pernah bisa berakhir." Katanya pelan karena dia merasa sakit pada tangan kirinya yg putus.

"Kau baik-baik saja? Tidak usah memaksa-"

"Aku cukup baik walaupun tangan kiriku sudah tidak ada lagi!"

"Apa maksudmu yang tadi?" Sekarang Elesis yg mulai bertanya.

"Aku mempunyai kekuatan 'Memanipulasi Pikiran' dengan itu aku berhasil mengontrol apa yg ada dipikirannya. Tidak semua orang berhasil kukendalikan pikirannya." Kata Rufus lagi.

"Lalu bagaimana caranya kau berhasil mengendalikan pikirannya?" Tanya Elesis.

"Dengan memasukkan darah-ku kedalam tubuh seseorang, maka aku baru bisa mengendalikannya."

"..." Elesis masih terdiam mendengarkan.

"Tentu kau tau apa yg kulakukan bukan?!" Rufus menolehkan kepalanya ke tangan kanannya memegang Eyetooth yang berlumuran darah miliknya.

"Jangan-jangan kau melapisi peluru pistolmu dengan darahmu sendiri?!" Tanya Elesis memastikan. Rufus hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.

"Jagalah dia! Aku tau bahwa kalian mempunyai hubungan khusus! Jagalah dia sampai terbangun dari mimpi panjangnya!" Pernyataan Rufus membuat Elesis bertanya-tanya.

"Memangnya apa yang terjadi dengan Ronan saat ini?" Tanya Elesis.

"Dia tidak akan bangun dari tidur panjangnya sampai dia sadar akan perbuatannya dan mau berubah pada akhirnya. Jika dia tidak mau berubah menjadi orang baik, maka selamanya dia tidak akan pernah bangun dari mimpinya!" Jelas Rufus panjang. Elesis yg mendengarnya hanya memejamkan matanya, kemudian tanpa sadar ia meneteskan air matanya.

"Terima kasih!" Ucap Elesis sambil membungkukkan badannya.

.

.

"Jadi ini semua sudah selesai?" Tanya Edel pada kedua orang didepannya.

"Ya..."' Jawab Rufus pelan.

"Edel sekarang akan kuceritakan, apa yg membuat Ronan sampai seperti itu!" Edel dan Rufus langsung menoleh kearah Elesis. Dan kemudian Elesis mulai menceritakannya.

.

.

.

-Flashback Start-

.

*Elesis Pov*

Kejadian ini terjadi beberapa tahun lalu. Tepatnya saat aku masih berumur 8 tahun.

Ayahku yang notabene adalah seorang kepala prajurit di Kerajaan Serdin mempunyai hubungan baik dengan semua orang tak terkecuali dengan para bangsawan yang ada di Kerajaan Serdin.

*Rumah*

Pagi itu Ayah masih memakan sarapan bersama keluarganya, yaitu aku dan Ibuku yang sedang mengandung selama 4 bulan. Semuanya masih tenang-tenang saja, sampai seorang prajurit menggedor-gedor pintu rumah kami dengan keras.

Prajurit itu mengatakan bahwa keluarga bangsawan tepatnya Keluarga 'Erudon' terbunuh semua dalam semalam. Tidak diketahui siapa yang melakukan hal ini.

Ayahku dengan sigap langsung berganti pakaian dan ikut bersama prajurit tadi (Tentunya berpamitan dulu dengan Aku dan Ibu) untuk melakukan penyelidikan kasus ini.

Aku yang saat itu masih kecil tidak mengerti apa-apa soal itu. Seharian itu kuhabiskan untuk membantu Ibu dirumah seperti mencuci piring, baju, dll. Makhlum juga karena Ibuku sedang hamil, jadi ia tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat.

Malam harinya aku dikejutkan dengan kedatangan seorang anak laki-laki yang terlihat seumuran denganku berambut biru tua pendek. Dia datang bersama Ayahku kerumah. Setelah itu Ayah mengatakan kalau 'Mulai sekarang dia akan tinggal bersama kami! Karena dia sudah tidak punya keluarga lagi!'

Ibu tentu tidak menolak merawat anak laki-laki ini. Aku juga tidak menolaknya. Aku percaya pada keputusan Ayah jika ini benar baik untuknya aku tidak akan keberatan menolong seseorang.

Selama beberapa bulan sikapnya sangat dingin terhadap padaku. Padahal aku sudah bersusah payah ingin berteman dengannya. Tapi dia malah mengacuhkanku.

*Sungai*

Kulihat dia duduk ditepi sungai sambil meletakkan wajahnya diantara kedua lututnya. Kudekati dia secara perlahan. Aku mendengar suara lirihannya.

"Hiks...hiks...hiks Ayah, Ibu kenapa kalian harus mati? Kenapa?!" Gumamnya. Tetapi aku tetap mampu mendengar suaranya. Dia terus menangis memikirkan keluarganya.

Aku memegang bahunya dan dia langsung menoleh kepadaku. Dia terlihat terkejut dan dia mengusap matanya kasar agar air matanya tak terlihat olehku.

"Apa?" Tanyanya kasar.

"Kau menangis, ya?" Aku bertanya kepadanya.

"T-t-tidak! Aku tidak menangis." Katanya ngeles.

"Sudahlah tidak usah berbohong padaku! Kalau mau menangis, ya menangis saja!" Dia terdiam memikirkan perkataanku.

"Janganlah memendam suatu hal yang menyakitkan! Karena hal itu bisa membuat hati merasa sakit." Kataku lagi.

Dia masih terdiam pada awalnya. Beberapa menit kemudian kulihat dia menangis kembali. Aku duduk disebelahnya; menepuk punggungnya untuk menenangkan dia.

Plukk!

Aku membelakan mataku kaget. Dia langsung memelukku dengan erat. Kurasakan pipi-ku mulai merona merah. Terus terang saja aku belum pernah dipeluk langsung oleh anak laki-laki seusiaku.

Dia menenggelamkan kepalanya dibahuku, kurasakan juga air matanya terus bercucuran deras. Aku hanya bisa menenangkannya saat itu. Kami berkenalan mulai saat itu.

Sejak saat itu hubungan kami semakin membaik satu sama lain. Seringkali kami bermain bersama, bercanda bersama, pokoknya melakukan sesuatu bersama dengannya merupakan menjadi suatu hal yang indah bagiku.

Apalagi saat masa SMP, Ronan melakukan sesuatu yg berhasil membuatku terkejut sekaligus senang. Dia menyatakan cinta-nya padaku dihadapan semua orang, termasuk orang tuaku. Ayah dan Ibu bahkan merestui hubungan kami tanpa memikirkannya dulu.

Selama masa SMP itu aku bisa dikatakan bahagia. Aku mempunyai pacar yg baik, selalu pengertian terhadapku. Yah walaupun wajahnya tidak terlihat tampan, namun aku tetap mencintainya sepenuh hatiku.

Sampai saat itu tiba. Mungkin masa Akhir sebelum kelulusan SMP, aku dikejutkan kembali olehnya.

Aku baru mengetahui akhir-akhir ini kalau ternyata dia adalah seorang Vampir. Vampir merupakan makhluk hidup yang suka menghisap darah dari manusia sampai habis.

Aku pun memaksanya bercerita tentang dirinya. Dengan berbagai paksaan akhirnya Ronan menceritakan semuanya. Keluarga 'Erudon' ingin hidup berdampingan dengan manusia. Maka dari itu berbagai cara mereka upayakan agar menutupi identitas mereka. Para petinggi pun mengijinkan Keluarga 'Erudon' tinggal disini dengan satu syarat yaitu, 'Jangan pernah mengambil darah dari seseorang yang tinggal di Kerajaan Serdin ini.'

Akhirnya aku lega begitu mengetahui tentang dirinya. Beberapa hari kemudian aku mengajak Ronan pergi ke tengah kota untuk kencan atau lebih tepatnya nge-date.

Pada saat kami berjalan bersama didaerah pinggiran kota ada seseorang yang suka berteriak-teriak tidak jelas dijalan seperti orang stress.

Dia mengatakan kalau orang bernama 'Veigas Terre' ada dikota ini. Seketika itu juga Ronan langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya. Aku melihat tingkah lakunya yang terlihat aneh kepadaku setelah dia mendengar omongan orang tidak jelas tadi.

Saat itulah jurang pemisah diantara kami mulai tercipta. Sejak hari itu Ronan tak pernah lagi mengajakku berkencan atau semacamnya. Sikapnya yang dulu ramah sekarang berubah menjadi dingin dan datar. Perlahan tapi pasti dia mulai mengacuhkanku yang notabene adalah pacarnya.

*Malam harinya...*

Malam itu aku terbangun mendengar suara aneh dari kamar sebelahku. Lebih tepatnya kamar Ronan. Karena penasaran kulihat apa yang dilakukannya. Kulihat dia mengemasi barang-barang miliknya seolah-olah akan pergi jauh.

Aku langsung masuk ke kamarnya dan dia melihatku langsung secara respon. Aku terus bertanya kepadanya. Tetapi dia hanya diam tak menjawab. Sampai akhirnya dia mengatakan suatu hal yang kejam terhadapku.

"Kau tau, Elesis?! Jika aku bersamamu terus... Aku tidak akan pernah bisa membalas dendam Keluargaku!" Katanya dingin dan datar.

Aku mencerca perkataannya barusan. Jadi ini semua hanya demi balas dendam keluarganya? Setelah itu dia muncul dibelakangku dan memukul tengkuk kepalaku.

Dan semuanya terlihat gelap saat itu juga. Aku menyadari sesuatu kalau Ronan Erudon yang sekarang bukanlah Ronan Erudon yang dulu menjadi pacarku, orang yang kucintai.

.

.

*Elesis Pov End*

.

-Flashback End-

.

.

.

*Kediaman Rufus*

Terlihat seorang pemuda berambut cokelat muda sedang tertidur pulas dikasurnya. Tangan kiri-nya yg awalnya tidak ada, sekarang kembali ada seperti sebelum terkena serangan.

"Ehhmm..." Perlahan tapi pasti pemuda ini membuka mata Crimson yg indah. Dia mengederkan pandangan ke sekelilingnya dan menyadari kalau dia berada dirumahnya sendiri.

Dia melirik tangan kiri-nya, dan betapa terkejutnya dia melihat tangan kirinya yang utuh kembali seperti sedia kala. Masih dengan rasa penasaran yg luar biasa, dia berusaha berjalan keluar dari kamarnya untuk bertanya pada seseorang.

Kriet...

Pintu kamarnya terdengar dibuka. Sekarang terlihatlah seorang gadis berambut silver keunguan sedang berjalan kearah pemuda tadi dengan tatapan cemas.

"Rufus, istirahatlah dulu! Badanmu masih lemah, setelah pemulihan dari racun dan penumbuhan tangan kirimu kembali!" Kata gadis bernama Edel itu sambil mengajak pemuda bernama Rufus itu kembali ke kasurnya.

"Edel, kenapa tangan kiriku bisa ada kembali!" Tanya Rufus setelah mereka duduk dipinggir kasur.

"Setelah kau mendengarkan pembicaraan Elesis kemarin, kau langsung jatuh pingsan karena menahan rasa sakitmu! Untung ada seorang gadis berambut ungu pendek sebahu itu yg menyembuhkanmu!" Jelas Edel panjang lebar.

"Gadis itu bernama Arme Glenstid. Ia merupakan salah seorang GuiltyVampire .Tapi tenang saja ia memutuskan untuk keluar dari organisasi itu dan ia ingin menebus semua kesalahannya dengan mengobati semua teman-teman kita!" Kata Edel lagi.

"Benarkah?! Kalau begitu sampaikan terima kasihku padanya jika bertemu ia!" Baru kali ini Rufus mengucapkan terima kasih pada orang. Mungkin pertemuan dengan Edel mengikis hati-nya yang tebal bagaikan Es.

"Tentu saja~" Jawab Edel riang. Tidak ingin bertele-tele lagi, Edel langsung menanyakan sesuatu pada Rufus. Tatapannya juga terlihat tajam seperti menginterogasi penjahat.

"Kenapa kau tidak mencariku selama 2 bulan ini? Terus kenapa kau juga bisa berteman dengan orang-orang yg dulu menyerang kita dan menyebabkanku amnesia?!" Tanya Edel bertubi-tubi.

"Hm... Alasannya cuma satu!"

"Ceritakan!" Paksa Edel.

"Hah... Baiklah..." Hela Rufus.

-Flashback Start-

*Tebing Jurang*

Hap! Rufus akhirnya sampai ditempat terakhir dia mencium bau darah Edel. Disana terlihat Azin berdiri memandangi jurang dengan pandangan kosong. Rufus yg tidak melihat tanda-tanda kehadiran Edel mendekati Azin dan bertanya. "Dimana Edel?" Azin hanya diam tak menjawab.

"Jangan-jangan... Kau mendorongnya ke jurang?" Tanya Rufus tak percaya. Azin masih saja diam tak menjawab. Rufus memegang kerah bajunya agar Azin menoleh kepadanya.

"Jawab aku, Brengsek!" Kata Rufus gusar. Azin menjawabnya dengan pelan, "Ia memang jatuh ke jurang!" Kemarahan Rufus tak bisa terbendung lagi. Masih menyengkram kerah baju Azin, Rambut Rufus berubah keemasan lagi juga tangan kirinya.

"Aku akan membakarmu sekarang dengan Api Biru!" Ucap Rufus emosi. Saat akan membakar Azin ada lagi yg menghentikan kegiatannya.

"Cukup sampai disitu!" Kata Seseorang dengan rambut jabrik berwarna Hitam. Rufus terlihat membicarakan sesuatu pada mereka.

"Lepaskan dia!" Perintah orang itu lagi.

"Huh…Atas dasar apa aku menurutimu?" Tanya Rufus sambil tetap mencengkram kerah baju Azin.

"Kami akan membantu mencari gadismu, Rufus!" Kata orang itu kemudian.

"Benarkah itu?! Aeknard Sieghart kuharap kau tidak menipuku kali ini!"

"Kami akan mengadakan aliansi denganMu! Apa kau bersedia?" Ucap Sieghart sambil menegaskan kata-katanya.

"Aku tentu tidak menolak hal yang akan menguntungkan diriku, Selama kau tidak menipuku tidak ada masalah!" Kata Rufus merendah.

"Baiklah, Mari kita bekerja sama!" Sieghart menjulurkan tangannya berniat mengajak bersalaman.

"Kuharap kau memaksimalkan kinerja anak buahmu dalam mencari Gadisku!" Rufus menerima ajakan Sieghart dan bersalaman dengannya sebagai tanda bukti kalau dia setuju.

"Aku mohon padamu, Rufus tolong maafkan sikap anak buahku yang tadi dia lakukan!" Pandangan Sieghart mulai beralih kea rah Azin yang masih diam shock.

"Aku akan memaafkannya setelah kalian berhasil menemukan Gadisku. Jika Gadisku belum ditemukan sampai waktu yang lama, jangan harap aku mau memaafkannya!" Ujar Rufus dingin. Kemudian dia pergi meninggalkan Sieghart dan Azin sendiri untuk beristirahat dirumahnya.

.

.

.

-Flashback End-

.

*Back To Rufus & Edel*

"Oh… Jadi begitu! Sudah banyak yang kau lalui tanpa diriku, ya Rufus?!" Edel menundukkan kepalanya mencoba mengingat masa lalunya kembali.

"Sekarang ceritakan tentang dirimu ketika menghilang 2 bulan lalu, Edel!" Perintah Rufus sambil mendekatkan dirinya dengan Edel.

"Baiklah! Akan kuceritakan. Aku terjatuh saat dijurang itu dan terbawa arus sungai."

"Ketika berada disungai kepalaku terbentur batu-batu yg terjatuh ke sungai akibat longsor. Karena itu aku langsung amnesia seketika. Setelah terbawa arus sungai cukup lama ada seseorang wanita yang menolongku. Wanita itu sangatlah mirip denganku!" Kata Edel.

Rufus tersentak mendengarnya. Kemudian dia memberanikan diri bertanya, "Jadi apa warna rambutnya putih silver?" Edel menoleh kembali kearah Rufus.

"Kau kenal dengan Mama?" Tanya Edel yang terlihat bingung.

"Apakah namanya adalah Leona?" Tanya Rufus balik mengacuhkan pertanyaan Edel.

"Eh, kau tau darimana?"

Tanpa disangka-sangka Rufus malah mengeluarkan air matanya dan dia mulai menangis sesegukan. Edel terlihat kaget sekali, masa orang yang terlihat kejam dan dingin bisa menangis didepannya seperti ini.

"Kenapa kau menangis, Rufus?!" Sedangkan Rufus hanya menggeleng sesaat sebelum dia mengusap air matanya cepat.

"Tidak! Aku hanya senang mengetahui kalau Ibuku masih hidup!"

"Ibu? Memangnya siapa Ibumu?" Tanya Edel.

"Wanita yang menolongmu itu adalah Ibuku. Ibuku yang menghilang ketika aku berumur 10 tahun. Dengan kata lain ia sudah menghilang selama 10 tahun yang lalu." Jawab Rufus lirih.

"Dimana ia sekarang, Edel?" Rufus sampai menggoyang-goyangkan tubuh Edel. Ia bahkan sampai meringis kesakitan.

"A-aku tidak tau. Terakhir kali Mama menyuruhku pergi berkelana demi mencari ingatanku yang hilang!" Jawab Edel sedikit ketakutan.

"Oh… begitu ya?!" Rufus terlihat sedih dan kecewa ketika mendengarnya.

.

Begitulah akhirnya pada malam itu mereka habiskan dengan saling bertukar infromasi masing-masing.

.

.

.

*2 Hari Setelahnya*(Malam Hari)

Terlihat seorang maid berjalan cepat ke kamar milik Rufus yang terletak dilantai 2. Maid itu kemudian mengetuk pintu begitu sampai didepan kamar Rufus.

Tok…tok…tok

"Tuan muda!"

"Ada apa?" Suara Rufus terdengar sampai keluar ruangan. Maid itu langsung membuka pintu begitu mendengar suara tuan muda-nya.

"Tuan Besar baru saja kembali, Tuan Muda!"

Deg…deg…deg

.

.

.

TBC


Author Curhat :

Hai, saya kembali di chapter 9 ini. Gimana nih ceritanya? Apakah menarik ato jelek? Silahkan masukkan itu direview. Walah gw telat beberapa hari nih buat update. Sorry buat yang udah ga sabar nunggu. Mungkin aja kalian merasa ga nyambung ama ceritanya mohon dimaklumi.

Lagi-lagi misterinya masih kurang lengkap! Kebanyakan Romance ama Actionnya. Wkwkwk

Yah semoga kalian suka dengan chap ini ^_^

Ester : Ad pin BBM gw nih : "79DDA1AF" add saja jika kk bersedia. ^_^

Arch Demonic Aggressor: Private Server itu adalah server pribadi milik seseorang yang hanya bisa dimainkan oleh orang dari negara itu sendiri. Kalo GC Megaxus itu bukan private server karena orang dari luar masih bisa maen GC Indonesia. Karena masih banyak orang Indonesia yang masih sayang ama Grand Chase maka mereka membuat server khusus orang Indo saja yang bisa maen. Singkat kata Private Server ni ga ada hubungannya KOG ama Megaxus.

Yah, itu saja yang mesti kubalas reviewnya!

Note : Setiap Chapter akan update per Minggu jadi tunggu saja

Thanks To :

AkaneMiyuki, Ester, Puni, Perfect Maid Haruka, XeLeo05, Demonic Twilight Aggressor, RattoChan, All Silent Readers

^Yang udah dukung bwt lanjutin nih fic^

.

.

+Review Please+