CHAPTER 10 (Pertarunganku part 2)
Tubuhku gemetaran, aku takut sekali. Aku melihat sekali lagi tubuhku yang menyedihkan. Sepertinya saat aku pingsan, mereka menyiksaku sampai ada genangan darah seperti ini. Dengan suara gemetar, aku angkat bicara.
"Sepertinya kau bersenang-senang, huh? Kau pikir aku akan diam saja seperti orang bodoh?" aku menyeringai. "Aku akan bertarung. AKU AKAN BERTARUNG!"
"Kau bodoh sekali, setelah kehilangan banyak darah kau akan bertarung? Heh, jangan membuatku tertawa."
Yuki-sensei, ah bukan, Yuki mendekat dan semakin mendekat. Memainkan pisaunya dengan seringai mengerikan.
'Ugh, apa yang harus aku lakukan? Berpikirlah Atsuko! Berpikir dan bertarunglah!'
Jleb!
"Ugghh," mulutku mengeluarkan darah. Yuki menusuk perutku. Dan genangan darah itu bertambah banyak.
'Apa aku akan mati tanpa bertarung? Apakah kematianku akan sia-sia?'
Nafasku tidak teratur, bukan tidak teratur, aku kesulitan bernafas. Mungkin karena aku kehilangan banyak darah. Kepalaku sakit sekali, begitu juga badanku. Aghh... lebih baik aku mati sekarang daripada harus merasakan sakit seperti ini!
'Mati? Kenapa aku berpikiran seperti itu? Aku harus menang! Setidaknya aku harus bertarung!'
Aku berusaha melepaskan tanganku dari ikatan itu.
"Hmph, percuma saja. Itu tali tambang, kau tidak akan bisa merusaknya."
Brak!
"Oh, Ralph? Ada apa?" Yuki membalikkan badan.
"Ada kecoak yang ingin menyusup masuk," Ralph melemparkan seseorang ke dalam ruangan.
Dengan sakit yang luar biasa, aku mengadahkan kepala melihat siapa yang dibawa Ralph. Dengan nafas terengah-engah, dia juga menatapku, kemudian tersenyum.
"Le..vi? Apa... apa yang kau lakukan di sini?!" aku mengangkat kepalaku perlahan. Ugh, sakitt...
Levi hanya tersenyum, dan tersenyum. Agh! Jangan tersenyum!
"Hah...hah...hah..." pandanganku mulai kabur.
'Ugh, jangan sekarang. Kumohon! Kuatlah Atsuko!'
Aku masih berusaha melepaskan ikatan di tanganku, sambil terus menatap Levi yang kaki dan tangannya juga diikat.
Aku melihat Ralph mengambil ancang-ancang menendang Levi.
"Le...vi!"
Bruk!
Levi menyandung Ralph hingga terjatuh. Yuki melenguh.
"Beraninya kau?!" Yuki menendang Levi.
"Levi!"
Aku merasakan tubuhku memanas. Amarahku meluap-luap.
"AAAARRRGGGHHH! JANGAN SENTUH LEVI!"
Crak!
Tali tambang yang mengikat tangan dan kakiku rusak. Aku merasakan ada energi yang mengalir ke seluruh tubuhku tiba-tiba. Dan aku merasakan amarah, aku belum pernah semarah ini semelumnya.
Aku berjalan menuju Levi dengan sedikit sempoyongan, mungkin karena efek kehilangan darah. Aku merusak tali pengikat Levi.
"Atsuko, daijoubu ka?" Levi memengang pundakku. Aku mengangguk pelan.
"K-kau... bagaimana bisa?" Yuki dengan gemetaran berjalan mundur menjauhi kami.
Aku berdiri, berlari menuju Yuki dan meninju perutnya.
"Agh," mulut Yuki mengeluarkan darah. "Uhuk, kau monster!"
Aku menyeringai. "Di sinilah pertarunganku dimulai."
Bruk!
Levi meninju Ralph, pertarungan di belakang sekolah terjadi lagi di sini. Aku berjalan menuju mereka berdua. Dengan keadaan Levi sekarang, dia tidak akan bisa bertarung dengan maksimal. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk meninju Ralph, dibantu Levi.
"Aaaaaaaa! Rasakan ini!"
Bruk!
"Hahhh...hahhh...hahhh..." energi yang tiba-tiba muncul, sekarang perlahan menghilang dari tubuhku. Begitu juga amarah tadi, tidak sekuat sebelumnya. Aku hampir tidak bisa berdiri.
Levi masih sibuk dengan Ralph, Ralph tangguh juga, dia tidak mau mengalah. Aku mencoba bergabung lagi, tetapi pandanganku tiba-tiba kabur.
"Ugh, jangan sekarang..." gumamku.
Grep!
Dari belakang, Yuki memegang kedua pergelangan tanganku kuat-kuat.
'Gawat, sekarang apa yang harus aku lakukan?'
"Kau kalah Atsuko Lent. Kau kalah," Yuki berbisik di telingaku, nafasnya yang menyapu kulitku membuatku merinding.
"Atsuko!" Levi mencoba menggapaiku.
"Lawanmu aku," Ralph tidak membiarkan Levi lepas.
Aku terjatuh, kepala dan tubuhku kembali merasakan sakit yang luar biasa. Pandanganku semakin kabur.
Brak!
"Atsuko! Levi!" segerombolan orang mendobrak pintu, aku tidak tahu itu siapa. Saat itu juga semua menjadi gelap.
