A/N : So, your weekly update is back! Enjoy:)
I own nothing, you know everything belong to JK Rowling
Chapter Ten
London, England
"Hello, Rosabelle."
Rhaella menyapa kakak iparnya itu setelah meletakkan vas besar berisi bunga mawar merah di dekat jendela anti peluru kamar ini. Rose yang baru terbangun setelah tertidur selama berjam-jam setelah operasi itu hanya mengangguk dan tak ada sapaan balik yang keluar dari mulutnya. Adik iparnya itu berdiri di samping ranjangnya dan tersenyum pada Rose. "Kau haus?" tanya Rhaella.
Rasa haus tetiba saja muncul ketika Rhaella menanyakan hal itu padanya. Rose menatap air mineral di sebuah gelas lengkap dengan sedotan tepat di hadapannya, namun terlalu angkuh untuk meminta Rhaella membawakan kepadanya. "Kau pasti haus," jawab Rhaella sendiri lalu membawakan gelas itu kepada Rose.
Rose menerimanya dalam diam setelah secara perlahan menekan tombol di samping bangsalnya agar ia dapat sedikit bersandar. "Berapa lama aku tertidur?" tanya Rose pada Rhaella yang sudah duduk di kursi tepat di samping Rose.
"Scorp mengatakan kau terbangun sekitar tengah malam lalu kembali tertidur hingga sekarang," jawab Rhaella.
Rose menatap matahari yang sudah sangat tinggi di luar sana. Bila ia tak salah perhitungan, sekarang sudah memasuki tengah hari. Ia kembali menyesap air mineral dari sedotannya dan berusaha mengingat apa yang terjadi padanya. Ia dan Scorp baru saja mendarat ketika landasan pacu itu disusupi oleh sesorang. Lalu sinar laser seakan membidik jantung Scorp, namun ia berhasil menyelamatkan suaminya itu dengan mendorongnya dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk peluru itu. Dan seperti akan tersedak sesuatu ia ingat siapa yang berusaha membunuh suaminya. Edward Vitiello. Pria itu berusaha membunuh suaminya. Damn it! Apa yang sebenarnya pria itu pikirkan?
"Kau lapar, Rose?" tanya Rhaella kembali sementara Rose hanya menggeleng.
Ia tak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Ia hanya tahu bahwa ia merasa sangat lelah namun ada rasa marah yang muncul di benaknya setiap sadar bahwa Edward salah satu orang kepercayaanya di Cosa Nostra bahkan mereka tidur bersama dan berbagi ranjang selama bertahun-tahun tega mengkhianatinya. Dan saat ini ia benar-benar ingin melepaskan semua selang yang ada ditubuhnya dan mengejar tikus itu kemudian menggorok lehernya hingga ia tewas mengenaskan. Rose akhirnya mengalihkan perhatiannya pada Rhaella yang masih duduk cantik di sampingnya. "Dimana suamiku?" tanya Rose pada akhirnya.
"Di ujung lorong ruangan ini bersama para pria lainnya," jawab Rhaella.
Rose mengangguk lalu tatapannya jatuh pada cincin di jari manis tangan kiri Rhaella. Ia mengerutkan dahi lalu bergantian menatap adik iparnya itu. Rhaella yang sadar akan hal ini tersipu malu lalu semu merah terpancar dari wajahnya. Sesaat kemudian Rhaella mengangkat tangannya lalu menunjukkan jari manis tangan kirinya yang kini sudah dilingkari sebuah cincin. "I'm getting married, Rosabelle," ujar Rhaella dengan semu merah yang masih terpancar di wajahnya.
Rose hanya mengangguk canggung lalu mencoba tersenyum. Seumur hidupnya, ia tak pernah mengalami hal sefeminim ini. Rose tak pernah memiliki teman perempuan dan kini tetiba saja ada seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah adik iparnya tengah memberikan kabar gembira mengenai pertunangannya. Jujur saja Rose tak tahu harus melakukan apa. "Kau tak ikut bergembira?" tandas Rhaella ketika melihat Rose yang tampak tak menunjukan sedikitpun emosi kepadanya.
"Tentu aku gembira, silly," jawab Rose cepat.
"Hanya itu?" tanya Rhaella.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Rose mulai kesal.
"Kau seharusnya memberikanku selamat, silly," jawab Rhaella yang ikut menjiplak panggilan Rose kepadanya tadi.
Kakak iparnya itu mendengus lalu mengangguk. "Congratulation, Rhaella, my dearest little sister," balas Rose dengan nada sarkastik di akhir kalimat itu.
Rhaella menyambutnya dengan kekehan. "Thank you, Rose."
"Kau ingin minum lagi?" tambah Rhaella.
Rose menggeleng dan mereka kembali diam. Rhaella membereskan gelas minum Rose lalu meletakkannya kembali ke tempatnya sementara Rose hanya memandang ke arah luar jendela ini. "Sebenarnya ada yang ingin aku minta darimu, Rosabelle," ucap Rhaella
Istri dari kakak lelakinya itu mengalihkan perhatiannya dari luar jendela itu kembali kepadanya. "Katakan."
"Aku ingin kau menjadi maid of honor-ku," jawab Rhaella.
Rose terkejut dan matanya terbelalak. Hal ini sontak membuat luka di antara dada dan perutnya berkontraksi dan rasa nyeri sektika menjalarinya. What the heck with this family? Bagaimana mungkin Rhaella dengan sangat mudah memintanya menjadi seorang maid of honor untuk pernikahannya? Mereka tak sedekat itu. Bahkan Rose dan Rhaella saling mengenal karena pernikahan yang terjadi anatara Scorp dan Rose. "Kau bercanda," jawab Rose.
Rhaella menggeleng. "Kau satu-satunya saudara perempuanku, Rosabelle."
"Aku hanya saudara iparmu, Rhaella. Kita bahkan tak sedekat itu," jawab Rose.
Kali ini Rhaella yang menghela napas menghadapi kekakuan dan kekerasan kepala dari istri kakaknya ini. Ia hanya meminta Rose menjadi maid of honor baginya, bukan menjadi pembantu pribadi atau sebagai pengawal setia yang sanggup menerima peluru di dadanya hanya untuk melindungi dirinya. "Pikirkanlah. Anggap hal ini adalah permintaan antar sesama wanita. Karena aku tak memiliki banyak teman di luar sana."
"Kau lebih baik memintaku membunuh salah satu musuhmu," balas Rose.
"Biarkan itu menjadi tugas Ballard," tandas Rhaella.
Rose hanya diam begitupula dengan Rhaella yang seketika saja menjadi kesal dengan sikap kakak iparnya ini. Namun kehingan itu terpecah dengan sebuah ketukan dari pintu kamar ini dan sosok healer yang belakangan ini menjadi dekat dengan Rhaella karena membantunya selama masa pemulihan itu berdiri di ambang pintu sana. "Permisi. Aku ingin melakukan pemeriksaan," ujarnya.
"Lily," ucap Rose terkejut.
Lily Potter berjalan ke arah mereka sambil bertukar senyum dengan Rhaella. "Hello, Healer Potter," sapa Rhaella.
"Miss Malfoy," jawabnya.
"Hai, Rose," sapa Lily pada sepupu angkatnya ini.
Rose masih tak paham dengan apa yang dia saksikan di hadapannya saat ini? Apa yang Lily lakukan saat ini? Kenapa bukan Doc yang datang untuk memeriksanya? "Lily Potter adalah asisten dari Doc dan bertugas untuk menjadi healer untuk keluarga kita," jelas Rhaella.
Hell yeah.
Rasanya dia baru pergi ke Casablanca dan berlibur dengan suaminya beberapa minggu dan tak sadar semalaman, tapi tetiba saja ia menghadapai kenyataan bahwa sepupu angkatnya yang sangat polos ini berkerja sebagai healer untuk keluarga mereka. Apakah Albus tahu akan hal ini? "Aku tak tahu kau menjadi seorang healer," ujar Rose ketika Lily memeriksa nadi dan monitor serta tanda-tanda vital lain di tubuh Rose.
"Kau meninggalkan London dalam waktu yang lama, Rose. Tentu ada banyak hal yang tak kau ketahui dari diriku dan keluarga kita."
Rose tak menjawabnya karena apa yang dikatakan Lily benar adanya. Ia sudah terlalu lama menjauh dari seluruh kabar keluarga Weasley. Lily mencatat hasil observasinya lalu tersenyum pada kedua wanita Malfoy di hadapannya. "Healer Bennett akan mengunjungimu setelah ia sampai disini. Beristirahatlah," ujar Lily lalu menghambur keluar dari ruang perawatan Rose.
"Sejak kapan ia menjadi asisten Doc?"
"Belakangan ini," jawab Rhaella.
Rose mengangguk dan pikiranya kembali pada suaminya. Apa yang sedang ia bicarakan dengan para pria lain seperti yang dikatakan Rhaella tadi? Apa mungkin ia tengah merencanakan penangkapan Edward? Shit! Rose tak mau tak dilibatkan dalam hal ini. Lagipula ia mencurigai ada hal lain yang telah dilakukan oleh Edward pada keluarga ini. "Dimana tadi kau mengatakan keberadaan suamiku?"
"Mereka berada di ruangan tepat di ujung lorong ini," jawab Rhaella.
"Antarkan aku kesana."
Rhaella mendelik seakan merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Rose baru saja sadar dan kini ia meminta untuk diantar untuk bergabung dengan suami dan teman-temanya yang lain. Bahkan Rhaella yakin, jahitan bekas operasi yang dimilikinya belum mengering sama sekali. Ditambah dengan semua selang yang menempeli dirinya, bagaimana caranya ia mengantar ia kesana? "Aku akan memberitahu Scorp bahwa kau sudah sadar dan memintanya untuk datang kesini," jawab Rhaella.
Dengan sangat cepat Rose menggeleng. Ia tak ingin diperlakukan seperti pasien. Lagipula ia tak ingin para pria itu melihatnya dalam keadaan lemah di atas ranjang dengan berbagai macam alat yang menempeli tubuhnya seperti orang tua yang tengah sekarat. "Antarkan aku kesana atau aku akan berjalan sendiri kesana, Rhaella."
"Kau gila, huh?"
"Yaa, aku gila."
"Aku tak mau, Rosabelle."
"Aku akan menjadi main of honor bagimu."
"Deal."
Rose hanya menatap malas ke arah adik iparnya itu dan Rhaella keluar dari ruangan itu untuk meminta bantuan Lily mengantar kakak iparnya itu menuju ruangan tempat suaminya berada.
000
Semua orang dapat bernapas dengan lega sekarang karena mengetahui bahwa Rosabelle sudah keluar dari masa kritisnya. Ia tak lagi berada di ruang ICU meski Doc masih memantaunya dengan intens. Bahkan Vito sengaja terbang dari New York untuk diajak berkonsultasi mengenai luka terakhir di bahu Rose agar Doc dapat mengambil alih untuk mengobatinya. Meskipun sudah melewati masa kritisnya, Doc masih belum mengizinkan prosedur perawatan di pindahkan ke manor karena ia harus memantau dengan intesif keadaan pasca operasi Rose paling tidak satu malam lagi. Hal ini jugalah yang membuat penjagaan di St,Mungo masih sangat ketat. Tak ada sedetikpun kamar perawatan Rose ditinggal tanpa penjagaan. Bahkan ada ratusan penjaga yang disebar di area St,Mungo sebagai detail pengamanan yang diminta Scrop kepada Ballard.
Hal ini jugalah yang menyebabkan Scorp tak meninggalkan rumah sakit barang sekejapun dan membawa semua pekerjaannya kesini. Apalagi setelah mengetahui siapa dalang dari percobaan pembunuhan bagi Rose dan Scorp, para anggota The Sociaty berkumpul di salah satu ruangan di rumah sakit ini untuk menentukan langkah apa yang akan diambil untuk menghabisi tikus busuk itu.
Rhaegar tengah duduk di dekat jendela kamar ini dengan sebuah apel di tangannya yang tengah coba ia habiskan. Sementara Niklaus dan Albus sibuk dengan laptop masing-masing sampai Ballard dan Scorp masuk ke kamar yang disihir menyerupai ruang kerja mereka. "Jadi, Vitiello dalang percobaan pembunuhan ini?" tanya Rhaegar enteng setelah membuang sisa apelnya ke tempat sampah.
Scorp mengangguk lalu duduk di sisi meja ruangan kantor ini sementara Ballard hanya bersedekap di dekat pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Aku ingin kalian menangkapnya hidup-hidup dan bawa dia ke manor untuk kuhabisi," ujar Scorp.
Ia tak mau kematian Vitiello semudah melepaskan timah panas ke jantungnya. Ia mau tikus busuk itu menderita hingga sekarat sampai ia secara sukarela meminta Scorp membunuhnya untuk mengakhiri penderitaannya. "Kita bisa meminta bantun Lorenzo untuk hal ini. Dia pasti tahu keberadaan Vitiello saat ini," ujar Rhaegar yang dijawab dengan gelengan dari Ballard.
"Mereka sesama Cosa Nostra, kita tak dapat mempercayainya," jawab Ballard.
"Tetapi ia membantu kita di Casablanca dan Lorenzo belum meninggalkan London sejak Rose tertembak," ujar Al yang masih sibuk dengan laptop sihirnya tanpa peduli untuk menatap Ballard ketika berbicara dengannya.
Scorp ikut menggeleng dari tempatnya. "Benar yang diucapkan Ballard, kita tak dapat mempercayai Lorenzo. Kita bahkan belum mengetahui motif mengapa tikus busuk itu berusaha membunuhku dan Rose. Bagaimana bila hal itu merupakan perintah Maurizio," jelas Scorp
Niklaus memutar matanya lalu mematikan laptop sihirnya. Ia berjalan ke arah jendela kemudian membukanya dan menyalakan rokoknya. "Jangan bercanda, apa alasan Maurizio membunuh kau dan cucu perempuannya?"
Scorp mengedik. "Selalu ada kemungkinan, Nik. Aku tak akan pernah mempercayai orang lain selain keluarga kita. Jadi, ikuti saja perkataanku," balas Scorp.
Niklaus mengangguk dan kembali fokus pada rokok yang tengah dihisapnya. Pria-pria lainnya ikut mengangguk sebagai tanda setuju atas perintah pemimpinnya. Keheningan pertemuan mereka terpecahkan oleh kehadiran Rhaella dan Rose yang mengekorinya dengan Lily yang mendorong kursi roda Rose dengan semua selang yang mengawang secara sihir di udara. "Apakah ada sebuah pertemuan penting dan aku tak kalian libatkan?" ujar Rose di atas kursi rodanya dengan gaun rumah sakit yang masih melekat di tubuhnya.
"What the fuck, Rose!" umpat Scorp ketika melihat istrinya sudah turun dari ranjang dan tetiba saja sudah berada di ruangan ini.
Rose menatap suaminya dengan malas. "Hello, husband," ujarnya dengan dipenuhi nada sarkastis.
"Apa yang kau lakukan, huh? Kau baru saja di operasi dan siuman," ujar Scorp yang sudah kehilangan sifat dinginnya di hadapan orang-orang saat ini.
Rose mengedik. "Kalian pasti tengah membicarakan Vitiello dan sebagai korban dan atasan dari tikus busuk itu, aku berhak tahu apa yang kalian rencanakan dan putuskan," balas Rose.
Rahang Scorp seakan ingin jatuh dari tempatnya. Dengan santai Rose tak memedulikannya dan menatap Lily untuk membantunya pindah ke sofa yang lebih nyaman di ruangan ini dengan alat-alat penyokong hidup Rose yang bergerak secara sihir. Rose tampak sedikit meringis saat perpindahan itu namun dengan sekuat cara ditutupinya.
Merasa tak lagi dibutuhkan, Lily undur pamit dari ruangan itu dengan Rhaegar yang tak lepas menatapnya hingga ia benar-benar sudah keluar dari ruangan itu. Bak singa yang menatap rusa sebagai santapannya. Rhaella juga merasakan hal yang sama dengan Lily dan ingin angsung menghambur keluar dari ruangan itu setelah berhasil mengantar kakak iparnya itu. "Kau sudah makan siang?" tanya Rhaella pada Ballard sebelum keluar dari ruangan ini.
Ballard mengangguk. "See you in manor," tambah Rhaella lagi pada Ballard.
Wanita itu berpamitan pada semua orang termasuk Albus yang hanya sanggup mengangguk padanya. "Apa kabarmu, Rose?" tanya Albus yang menahan tawanya karena melihat sifat keras kepala dan angkuh yang dimiliki oleh sepupunya ini dan mencoba melupakan apa yang dia lihat terjadi antara Ballard dan Rhaella.
"Tak separah yang kau lihat. Aku masih akan dengan mudah meng-crucio dirimu, Al," ujar Rose yang disambut dengan tawa oleh Ballard, Niklaus dan Rhaegar sementara Scorp masih tak habis pikir dengan tingkah serta kelakuan ajab dari istrinya ini.
"Kau harus kembali ke ruanganmu sekarang, Rosabelle," ujar Scorp dengan nada dinginnya yang sudah kembali normal.
Rose menggeleng dengan terus menatap suaminya. Ia tahu Scorp pasti tengah mencemaskan kesehatannya, tapi sekarang ada hal yang lebih penting dari sekadar Rose yang harus beristirahat. Semakin cepat mereka menyelesaikan masalah si tikus busuk, Edward Vitiello, semakin cepat pula Scorp menyelesaikan masalahnya dengan Nott, agar semua dendam itu dapat dibalaskan. "Aku akan segera kembali ke kamar itu setelah kita membahas hal ini. Aku janji," jawab Rose.
"Stubborn bitch," dengus Scorp.
"Thanks, dickhead," jawab Rose.
Kini Rose kembali fokus pada teman-teman di hadapannya. "Jadi, kalian sudah tahu dimana keberadaan Vitiello?" tanya Rose.
"Ia sudah melarikan diri dari Brooklyn sepertinya, karena sumber kita mengatakan bahwa ia tak kembali ke rumahnya tadi malam," jawab Ballard.
Rose tahu bahwa Vitiello akan melakukan hal itu dan hal ini akan semakin sulit melihat dengan siapa mereka berhadapan. Edward Vitiello tak dapat diremehkan dalam hal ini. "Aku akan memberikan kalian list tempat dimana kalian dapat menemukannya," ujar Rose yang mendapat anggukan dari seluruh pria di ruangan itu.
"Aku juga ingin dia dibawa ke hadapanku secara hidup dan aku sendiri yang akan memutuskan bagaimana cara mengakhiri hidupnya," tambah Rose lagi.
Scorp menyeringai ketika mendengarnya dan tawa pecah dari teman-temannya yang lain. Rose menatap mereka bingung. Ia menatap Scorp, tapi suaminya itu hanya mengedik dan kali ini tatapannya teralih pada Rhaegar yang masih terkekeh. "Apa?" tanya Rhaegar defensive.
"Apa yang lucu?" tandas Rose.
Rhaegar masih berusaha menghilangkan kekehan dari wajahnya sebelum menjawab pertanyaan kakak iparnya yang sangat penuntut ini. "Tak heran jika Scorp tergila-gila padamu, sister," ujar Rhaegar yang mendapat tatapan mematikan dari Scorp itu.
"Kau mengatakan hal yang persis dikatakan oleh kakakku tadi bahwa kau ingin membunuh Vitiello dengan tanganmu sendiri," jelas Rhaegar.
Queen dari The Sociaty itu bertukar pandang dengan suaminya yang kembali hanya mengdik. "Let's cut the bullshit, guys," jawab Rose yang seakan tak terpengaruh dengan lelucon yang dibuat oleh teman-temannya.
Wanita itu membenarkan posisi duduknya untuk mengurangi rasa sakit di bagian perutnya lalu mulai memberikan instruksi kepada para anggota mengenai protokol keamanan terbaru untuk dirinya serta para anggota keluarga Malfoy yang lain terutama Rhaella dan Rhaegar serta ayah mertuanya, Draco Malfoy. Ballard mengerutkan dahi mendengar protokol keamanan yang juga menyangkut pada tunangan dan dirinya. "Kenapa Rhaella juga dilibatkan? Bukankah tikus itu hanya mengincar kau dan Scorp?" tanya Ballard bungung.
Rose menggeleng. "Aku rasa penembakan kemarin bukanlah langkah pertama yang diambilnya. Aku mencurigai bahwa ia adalah dalang dari kecelakaan yang kau dan Rhaella alami. Oleh karena itu aku meminta penjagaan untik Rhaella juga ditingkat sebelum kita menemukan pengkhianat itu," jelas Rose.
Albus menatap horor kepada penjelasan sepupunya itu. "Mengapa Rhaella menjadi incarannya? Apa motif Vitiello sebenarnya?" tanya Albus.
"Apakah kakekmu dan anggota Cosa Nostra lain terlibat rencana ini?" tambah Niklaus
Wanita yang perlahan kelelahan itu menyesap air mineral dari sisi sofanya ini menggeleng. "Aku belum tahu apa motifnya. Tetapi , kemungkinan karena ia tak menyukai hubunganku yang berjalan sangat baik dengan Scorpius. Dan aku yakin Maurizio bukan dalang di balik kejadian ini."
"Fuck! Maksudmu dia cemburu?" tanya Rhaegar.
Scorp mengangguk. "Dia mantan kekasih istriku," jawab Scorp sarkastik.
"Hanya teman tidur," koreksi Rose.
"Simpan argumen mengenai kehidupan rumah tangga kalian, guys," potong Niklaus.
Scorp dan Rose hanya saling tatap tanpa mengeluarkan satu patah kata lagi mengenai hubungannya dengan Edward Vitiello ini. "Lalu mengapa kau mencurigai dia yang menyebabkan kecelakaan Rhaella dan Ballard?" sambung Niklaus lagi.
"Pertama, peluru yang digunakannya. Kedua, Ferari hitam yang menjadi kendaraannya. Dan ketiga, hanya dia anggota Cosa Nostra yang memiliki nyali sebesar itu untuk mengganggu kehidupanku. Tak ada yang berani berurusan denganku dengan mempertaruhkan nyawanya dan aku kenal betul siapa pria ini," jelas Rose lagi.
Para pria di ruangan itu tampak menahan napasnya. Jadi, sekarang mereka berurusan dengan pria yang cemburiu dengan kehidupan terbaru mantan pacarnya. This fucker is a crazy ex-boyfriend. What the fuck! Sementara Ballard, Rhaegar, Niklaus dan Albus tampak sibuk berdiskusi dengan langkah yang akan mereka ambil, Scorp menyadari perubahan warna wajah istrinya. Wajahnya semakin pucat dan ia tampak sangat berusaha menahan sakit yang dihasilkan dari posisi duduknya yang kurang nyaman. "Ayo kembali ke kamarmu," ujar Scorp dingin.
"Sebentar lagi," balas Rose.
"Sekarang atau aku akan melevitasimu dan mempermalukanmu di hadapan mereka," balas Scorp dengan berbisik yang membuat Rose menatapnya kesal.
"Fine," jawab Rose.
Scorp memanggil kembali Lily Potter untuk mengantar Rose kembali ke kamarnya. Lagi-lagi tatapan Rhaegar jatuh pada Lily dan healer itu menunduk seakan menghindari kontak mata dengan semua orang di ruangan ini. Sebelum keluar Rose memegang lengan suaminya. "Jangan lengah dengan masalah Nott. Ingat apa yang kita bicarakan di jet kemarin," ujar Rose.
Scorp mengangguk. "Beristirahatlah, Rosabelle," ujar Ballard yang diikuti oleh senyuman oleh Albus serta Niklaus dan kekehan dari Rhaegar.
Rose hanya mengangguk. "Aku akan mengunjugimu secepatnya di ruanganmu," goda Rhaegar.
Wanita itu hanya mendengus. "Go away, Rhaegar," ucapnya lalu benar-benar menghilang bersama Lily keluar dari ruangan itu.
Kali ini tatapan Scorp beralih pada Ballard yang sibuk berbincang dengan Rhaegar sementara Albus dan Niklaus sudah ikut keluar dari ruangan ini. "Apa ada kabar terbaru dari Nott?" tanya Scorp.
Ballard menggeleng. "Tetapi, seperti katamu aku menyelidiki pola yang dia lakukan setiap kembali ke London," jawab Ballard.
King dari The Sociaty itu mengangguk. "Terus kerjakan hal itu."
"Aye, Sir."
000
Albus Potter tengah menunggu Niklaus dan Rhaegar yang sedang berbicara dengan Scorpius tadi. Ia berdiri santai di lorong kastil rumah sakit ini dengan segelas teh di tangannya sambil menikmati hujan yang tetiba saja turun dengan derasnya di luar sana. "Al," panggil seseorang yang membuatnya mengalihkan perhatian kepada suara itu.
"Lily."
"Kau sedang tak bertugas?" tambah Al lagi.
Lily berdiri di sisi kakaknya itu lalu mengambil gelas kertas berisi teh dan perlahan ikut menyesapnya. Rambutnya tampak terkepal di atas kepalanya dan wajah adik perempuan satu-satunya ini tampak sangat lelah. "Aku baru saja selesai untuk shift ini. Aku akan pulang sebentar lagi," jawab Lily.
Albus membelai rambut adiknya itu ketika Lily menyandarkan kepalanya di bahu Albus. "Pulanglah, Al. Ayah dan ibu merindukanu," ujar Lily tetiba saja.
Albus hanya diam. Sudah lama sekali memang ia tak menemui kedua orang tua serta keluarga besarnya meski mereka berada di kota yang sama dengannya. Tak ada maksud tertentu. Ia hanya sedang sangat sibuk dengan apa yang dialami oleh perusahaannya dan The Sociaty. "Aku akan mengunjungi mereka akhir pekan ini," balas Albus.
Lily kembali berdiri di hadapannya. "Mereka membutuhkanmu dan James, Al. Kembalilah ke rumah," ujar Lily.
"Aku dan James sudah dewasa sekarang, Lil. Kami memiliki kehidupan sendiri dan kami memilki rumah masing-masing, begitupula dengan dirimu," jelas Albus.
Adiknya hanya mengangguk. Sangat tipikal Lily. Ia akan mengutarakan apa yang ada dipikirannya, namun saat itu juga ia akan mengalah bila lawan bicaranya menjawab dengan argumennya. Lily menghela napas sesaat lalu menyesap teh itu kembali. "We're busy growing up and we just don't realize Mum and Dad also growing old, Al," ucap Lily lagi dengan senyum lembut di wajahnya.
Pria berambut hitam yang persis dengan ayahnya itu hanya mengangguk."Aku berjanji akan lebih sering mengunjungi mereka, Lily."
"Okay," balas Lily.
Kedua kakak adik itu tampak menikmati suara serta harum dari guyuran hujan di luar sana. Hal yang sering mereka lakukan ketika masih di Hogwarts dulu. Albus melirik jam tangannya dan sadar bahwa ia sudah cukup lama menungu mereka. "Kau sedang menunggu seseorang?" tanya Lily yang dijawab dengan anggukan oleh kakaknya itu.
"Aku sedang menunggu Rhaegar dan Niklaus."
"Apakah Rhaegar Malfoy salah satu kolegamu di perusahaan seperti Nik?" tanya Lily yang terlihat tertarik dengan hal ini secara tetiba saja.
Albus mengangguk. "Dapat dikatakan seperti itu," jawab Albus cepat.
"Albus," panggil Lily lagi.
Kakaknya itu menatapnya. Ada semacam keraguan yang muncul di wajah Lily. Ia tak tahu apakah hal ini harus ia tanyakan pada kakaknya atau tidak. Tetapi, hal ini benar-benar mengganggunya. Sejak Doc membawanya masuk ke dalam keluarga Malfoy dan menjadikannya sebagai healer pribadi bagi Rhaella dan kini Rose, banyak sekali pertanyaan yang bekecamuk di pikirannya. Namun, seperti yang dikatakan Doc, ia tak boleh menanyakan hal ini pada semua orang. Lakukan saja pekerjaannya sebagai healer, kira-kira seperti itulah pinta Doc kepadanya. Tetapi, kali ini ia tak sanggup lagi menahan keingintahuan dan rasa penasaran di dalam dirinya.
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan, Al?" tanya Lily yang keluar dari mulutnya begitu saja.
Albus mengerutkan keningnya karena bingung dengan pertanyaan dari adik perempuannya itu. "Apa maksudmu, Lil?" kini Albus berbalik tanya.
"Pertama, Rhaella Malfoy dan Liam Ballard, lalu sekarang Rose Malfoy yang terluka. Aku tak mempermasalahkan dengan apa yang menimpa Rhaella karena kecelakaan adalah hal normal, tapi Rosabelle menjadi pengecualian. Dia tertembak, Albus. Dan bukan hanya sekali. Luka di bahunya bahkan masih sangat baru," cecar Lily.
Albus hanya diam sambil menunggu Lily menyelesaikan kecurigaannya. "Ditambah dengan semua penjagaan ketat di rumah sakit. Kalian bahkan meminta tiga lantai dikosongkan hanya karena anggota keluarga Malfoy sedang berada disini. Dan manor mereka dijaga dengan sangat ketat, bahkan ada ratusan lapis mantra pelindung dan penjaga yang berserak dimana-mana. Jadi, jujurlah padaku, Al. Siapa mereka dan kau sebenarnya? Apa yang sebenarnya kalian kerjakan?"
Akhirnya Lily menyelesaikan khotbahnya. Albus tak tahu apa yang harus dijawabnya kepada Rose. Ia tak mungkin dengan gamblang mengatakan bahwa mereka adalah sekumpulan mafia dan mereka dapat hidup dari membunuh musuhnya. Tetapi, Lily terlalu pintar dan juga sudah cukup dewasa untuk dibohonginya. Albus memijat kepalanya. "Kami hanya pengusaha dan pengusaha seperti kami memiliki musuh dimana-mana, Lily. Hal itu yang menyebabkan penjagaan di sekitar kami sangat ketat," jelas Albus.
"Apakah pengusaha lain juga mendapatkan luka tembak seperti Rose?" tandas Lily.
"Beberapa pengusaha dapat mengalami hal itu," jawab Albus.
Lily hanya diam dengan kerutan di keningnya. Haruskah ia mempercayai kakaknya ini? Ia tak tahu harus berbuat apa saat ini. Hal yang ia yakin adalah Albus tengah berbohong kepadanya. Albus memegang kedua pundaknya. "Percayalah padaku, Lily. Ada beberapa hal di dunia ini yang lebih baik tak kau ketahui sama sekali. Hal itu semua untuk kebaikanmu," ucap Albus.
"Al," panggil Niklaus bertepatan dengan Lily yang ingin kembali membuka mulutnya.
Lily menatap Nik yang berjalan ke arah mereka dengan Rhaegar yang mengekor di belakangnya. Entah apa sihir yang digunakan oleh bungsu dari Malfoy itu yang membuat Lily seakan tak sanggup untuk menatap langsung ke matanya. Wanita itu berubah salah tingkah ketika kedua teman kakaknya itu mendekat. "Hai, Lily," sapa Niklaus.
"Nik," balas Lily yang ingin segera kabur dari lorong ini.
"Kalian mungkin sudah saling bertemu, tapi aku belum memperkenalkan kalian dengan benar. Lily, ini Rhaegar Malfoy. Rhaegar, ini adikku," ujar Albus.
Rhaegar hanya mentap Lily dan hal ini membuat healer itu lebih salah tingkah dari biasanya. "Hello, Lily," sapa Rhaegar pada akhirnya.
"Hai."
Hanya satu kata itu yang keluar dari bungsu keluarga Potter itu. Wanita berambut hitam itu buru-buru pamit dari hadapan ketiga pria itu. "Aku pergi dulu. Bye, Al," ujar Lily kemudian mengecup pipi kakaknya lalu kembali menunduk dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah sakit.
"Ada apa dengan adikmu?" tanya Nik.
Albus mengedik. "Ia sudah bertingkah aneh sedari tadi. Ayo kita pergi," ajak Al.
Rhaegar masih menatap pintu tempat Lily kembali masuk ke rumah sakit itu. Wanita bertubuh mungil itu benar-benar menyita perhatiannya. "Rhaegar," panggil Nik.
"Yes, Nik," jawabnya yang seakan kembali dari dunianya sendiri.
"Ayo kita pergi," tambah Nik lagi.
Rhaegar kembali menatap pintu itu lalu mengangguk dan ikut pergi dengan Niklaus dan Albus.
000
Lorong perawatan dimana kamar perawatan Rose berada kembali kosong setelah para The Sociaty itu pergi termasuk Rhaella. Doc sudah datang untuk memeriksa keadaan Rose tadi dan sudah mengizinkan istri dari Scorpius itu makan. Ia juga mengatakan bahwa rencana perawatan Rose sudah dapat dipindahkan ke manor esok pagi setelah dirinya benar-benar stabil. Rose kembali tertidur setelah menerima asupan makanan serta injeksi ramuan untuk mempercepat kesembuhannya dan sama sekali belum berbicara dengan suaminya secara pribadi. Tak mau kehilangan momen saat Rose bangun dari tidurnya, Scorp membuat ruang perawatan istrinya bak kamar pribadinya di suite mereka. Semua berkas pekerjaan dan laptop sihirnya sudah berada menemaninya dengan nyaman di kamar ini. Bahkan Magnus tadi sempat datang untuk membawakannya makan siang.
Senja sudah menyapa ketika Scorp merenggangkan tubuhnya setelah melihat laporan dari para Captain The Sociaty. Ada banyak pekerjaann yang harus ia selesaikan dan hal ini benar-benar menyita waktu dan energinya. Bahkan ia tak sadar bahwa Rose sudah bangun sedari tadi dan tengah memperhatikannya. "Kau sudah bangun?" Scorp terkejut saat melihat Rose tengah menatapnya dengan mata bulat kelamnya.
Rose mengangguk. Scorp berjalan ke arah Rose lalu duduk di kursi tepat di sisi ranjang istrinya. "Sudah ada kabar dari Vitiello?" tanya Rose tanpa berbasa-basi lagi dengan suaminya.
Scorp menggeleng. Sebelum bubar tadi,Scorp memerintahkan Rhaegar dan Ballard untuk tetap menyelidiki Nott dan Albus serta Niklaus untuk mencari keberadaan Vitiello. Namun hingga sekarang belum ada kabar dari mereka berempat. "Dia pasti sudah tahu bahwa kita telah mengetahui dialah dalang penembakanku," jawab Rose.
"Berhentilah memikirkan tikus itu. Fokus pada penyembuhanmu terlebih dahulu baru kau dapat memikirkan hal ini lagi," balas Scorp.
Wajah tegang Rose perlahan mengendur saat melihat kekhawatiran dalam air muka suaminya. Tak butuh kemampuan untuk membaca pikiran seperti Scorp untuk mengetahui apa yang tengah dipikirkan olehnya saat ini. Ada kantung hitam di bawah matanya dan kulitnya semakin pucat dari biasanya. Rose pernah melihat Scorp dalam keadaan seperti ini di pagi hari ketika mereka di Paris, tapi kali ini ratusan kali lebih parah. Rose yakin bahwa Scorp terjaga semalam suntuk di sampingnya. Wanita itu mengambil tangan Scorp kemudian meremasnya. Scorp yang tadi sempat kesal karena sifat Rose yang tak memikirkan kesehatannya sendiri perlahan melunak. "Kemari," bisik Rose sambil menarik tangan itu agar semakin mendekat kepadanya dan menekan tombol agar ia dapat duduk di ranjangnya.
Scorp bangkit dari kursinya dengan Rose yang juga berusaha sedikit bangkit dari tidurnya untuk kemudian mengecup bibir suaminya itu dengan lembut. "Terima kasih telah mengkhawatirkanku," ucap Rose.
Suaminya itu menggeleng kemudian duduk di tepi ranjangnya. "Berhenti sekarat di hadapanku, Contessa," balas Scorp yang tak melepaskan tautan tangan mereka.
"Dan melihat peluru itu menembus jantungmu? Bermimpilah, dickhead. Aku bisa mati gila," jawab Rose.
Scorp menyeringai lalu mencium punggung tangan Rose. "Kau tak tahu tadi malam adalah malam terberat yang pernah kulewati, Rose. Kau sekarat di tanganku, kau kembali kehilangan banyak darah, kau berhasil membuatku gila."
Rose hanya tersenyum. "Don't do this to me again, Contessa," ucap Scorp.
Wanita itu mengangguk dengan senyum yang kembali terpancar di wajahnya. "I'll try. I don't wanna you through this situation anymore, dickhead," jawab Rose dengan sangat lembut.
"Great compromise, Rosabelle."
Kembali pasangan itu hanya saling berpandangan dengan tautan pada tangan mereka. Keheningan sama sekali tak mengganggu mereka. "Kenapa kau tak bersikap manis dan lembut seperti ini di hadapan mereka tadi?"
Rose mendengus. "Ugh tidak akan terjadi, dickhead. Aku hanya akan bersikap manis dan lembut serta menjadi istri yang penurut bagimu hanya saat kita berdua saja. Jangan menggantungkan harapan lebih padaku," ucap Rose dengan sarkastik.
Hal seperti ini yang disukai Scorp dari Rose yang ia yakin tak akan pernah ia temui di diri wanita-wanita lain di muka bumi ini. Hanya Rosabelle yang mampu melakukannya. "Sangat tipikal dirimu, Contessa."
Ponsel sihir Scorp bebunyi dan ia tahu pasti itu adalah panggilan dari salah satu Captain-nya. Scorp hanya memandangnya sesaat lalu tak dihiraunkannya. Ia tak mau seorangpun menganggu ia dan Rose sekarang. "Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Rose.
"Ada perang antar kelompok di North London dan keduanya adalah distributor kita. Aku sudah memerintahkan para Captain itu untuk mengatasinya, tapi aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan hingga masalah masih berlarut hingga sekarang," jelas Scorp.
Alis Rose bertaut. "Dimana Rhaegar dan Ballard? Mengapa para Captain langsung berhubungan denganmu?"
"Aku memerintahkan mereka berdua untuk mengurusi masalah Nott," jawab Scorp enteng.
"Kau tenanglah," tambah Scorp lagi.
Rose menghela napasnya lalu mengangguk. Ia menggeser sedikit tubunhnya lalu menepuk-nepuk sisi ranjangnya yang kosong. "Kemarilah. Berbaringlah bersamaku," ucap Rose.
Hal ini disambut dengan senyuman dari Scorp yang langsung menuruti permintaan istrinya itu. Rose sedikit memiringkan tubuhnya yang tak terluka agar Scorp dapat memeluknya. Harum tubuh dari suaminya bak aromaterapi pribadinya. Ia juga menyukai hangat tubuh Scorp yang menandakan bahwa hal yang tengah ia alami adalah nyata. Ia tidak sedang bermimpi dalam tidurnya. Bahwa ia telah sadar dari kondisi kritisnya. "Aku bersungguh-sungguh untuk memintamu tak terluka lagi, Rose," bisik Scorp sambil membelai rambut istrinya itu.
"Aku juga bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa aku akan berusaha melakukannya," jawab Rose,
Scorp menunduk dan mengecup kening istrinya dan semakin melekatkan pelukannya. Baru saja Scorp akan tertidur karena suasana syahdu dan hening dari ruangan ini, ponselnya kembali berbunyi. Ia tak memedulikannya, namun ponsel itu tak henti-hentinya mengeluarkan suara. Rose menengadah agar dapat menatap wajah suaminya. "Tak apa-apa," jawab Scorp pada pertanyaan tersirat Rose itu.
"Pergilah. Selesaikan perang bodoh antar distributor itu dan secepatnya kembali padaku," ujar Rose.
Scorp menggeleng. "Aku akan meminta Ballard memeriksanya."
"Tugas Nott sudah terlalu melelahkan baginya. Lagipula kau pasti dapat dengan cepat menangani kecoa-kecoa ini. Apakah mereka berharga bagi kita?" tanya Rose.
Kembali Scorp menggeleng. "Habisi saja mereka sebelum menarik perhatian lebih banyak dari para Auror. Panggil Tukang Ledeng lalu kau bisa kembali menghabiskan malam di ranjang ini," kekeh Rose.
"Aku tak sanggup meninggalkanmu tanpa pengawasan dariku sebelum Vitiello itu tertangkap."
Rose menggeleng. "Aku akan baik-baik saja. Targetnya adalah dirimu, Scorp. Aku hanya korban salah sasaran baginya. Dia mencintaiku, aku pastikan ia tak akan membunuhku di rumah sakit ini."
Mendengar bahwa tikus busuk si Vitiello itu mencintai Rose membuat darah Scorp seakan mendidih. King dari The Sociaty itu semakin ingin menggorok leher pria berdarah Italy itu. "Scorpius."
"Baiklah, Rose. Aku akan pergi dan kembali secepatnya," jawab Scorp.
"Great."
Scorp bangkit dari ranjang itu dan memakai jubahnya yang ia gantung si sudut ruangan ini. "Dan jangan pernah menyebut kembali bahwa Vitiello busuk itu mencintaimu di hadapanku lagi," ujar Scorp.
Rose menahan tawanya ketika mendengar nada cemburu terlontar dari mulut suaminya. Alih-alih terkekeh ia justru tersenyum dan mengangguk. Dia akan benar-benar menjadi istri yang manis hanya di hadapan suaminya. "Aye, Sir," jawab Rose.
Scorp mengecup bibir dan kening Rose dengan cepat. "Please stay alive, dickhead."
"Okay, Contessa."
000
North London, England
Gang itu terlihat sangat rusak dan berantakan ketika Scorpius sampai disana. Genangan darah, selongsong peluru dan bekas kilatan sihir hitam masih terpampang nyata di dinding-dindingnya. Scorp menggelengkan kepala ketika menatap dengan mata dan kepala mereka sendiri. Bahkan ia tak tahu pasti apa yang menyebabkan pecah perang antar kelompok di bawah The Sociaty ini. Hari sudah mulai malam ketika Scorp berjalan di lorong gang itu dengan beberapa Captain-nya. Wajah Scorp tampak begitu jijik dengan keadaan di sekitarnya. Pria itu bahkan sudah mengenakan sarung tangan hitam kulit kebanggaannya meski ia belum berniat mengeksekusi siapapun saat ini.
"Dimana pemimpin tertinggi dari kelompok ini?"
"Dia pasti tengah berada di markasnya di ujung lorong ini, Sir," jawab salah stau Captain itu.
Scorp berjalan memimpin gerombolan kecilnya itu. "Matikan zona aparasi di daerah ini dan pastikan kedatanganku tak bocor ke kelompok lainnya," ucap Scorp.
"Aye, Sir."
Scorp sampai di sebuah rumah yang terlihat reot dari luar itu, namun interior begitu mewah langsung terlihat ketika mereka sudah berada di dalamnya. Anak buah kelompok ini tampak terkejut dengan sosok yang dilihatnya tengah berkunjung ke rumah ini. "Dimana pemimpinmu?" tanya Scorp dingin.
"Scorpius Malfoy," ucapnya bergetar.
"King bertanya dimana pemimpinmu," ujar salah satu keturunan Carrow yang menjadi salah satu Captain The Socitay ini.
Anak muda dengan banyak bintik di wajahnya itu tergagap dan Scorp rasa ia dapat terkencing kapan saja di celananya saking ketakutannya. "Hopkins ada diatas," jawabnya.
Tanpa berbasa-basi lagi, Scorp naik ke lantai dua bangunan itu dan tanpa tedeng aling-aling juga ia membuka kamar utama dari lantai ini. Pria bernama Hopkins dengan dua orang lainnya yang sedang memasukan galleon-galleon mereka ke dalam sebuah brankas tampak terkejut dan membeku di tempat ketika mendapati Scorp beserta para Captain-nya di ambang pintu kamar ini. "Sir," ucapnya dengan raut wajah penuh takut.
Scorp masuk ke kamar itu tanpa emosi. Carrow menjetikkan tongkatnya lalu semua pintu dan jendela di ruangan ini tertutup. Satu kali jentikkan lagi dari tongkatnya Hopkins tampak terikat di tempat. Kali ini saatnya Scorp yang beraksi dengan melevitasinya untuk berlutut tepat di hadapanya. "Kau tahu apa yang kau lakukan telah mencuri banyak perhatian masyarakat?" tanya Scorp.
Pria paruh baya bernama Hopkins itu hanya menunduk dan tak berani untuk sedikitpun membuka suaranya. "Aku sedang bertanya padamu, rat," tambah Scorp lagi.
Akhirnya Hopkins menengadah. "Mereka memprovokasi kelompok kami. Aku tak punya pilihan lain selain membunuh anak-anak buahnya," jawabnya.
Scorp menghela napas mendengar para amatir ini. Tak mau membuang waktu lagi, Scorp mengangkat pistolnya yang langsung ia arahkan ke kepala Hopkins ini. "Sir," cicitnya seperti tikus yang tengah terjepit.
"Kami juga terpancing emosi karena anak buah dari istrimu mengatakan bahwa kau hanya akan memberikan barangmu kepada mereka dan menghetikan suplai ke kelompok kami," tambah Hopkins lagi.
Kening Scorp mengerut. "Anak buah istriku?"
"Yaa, pria Italy itu mendatangi kelompok kami beberapa hari yang lalu," jawab Hopkins sambil terus berharapa bahwa Scorp akan mengurungkan niatnya.
Scorp langsung masuk ke dalam pikiran pria di hadapannya ini dan potongan-potongan wajah Vitiello yang tengah memprovokasi mereka terpampang jelas di sana. Tikus bedebah! Dia benar-benar ingin menghancurkan Scorpius ternyata. Dalam satu tarikan napas Scorp memuntahkan peluru itu ke kepala Hopkins setelah ia mendapatkan informasi yang di butuhkannya. Kedua anak buah Hopkins itu tampak ketakutan setengah mati. "Habisi sisanya dan minta Tukang Ledeng membersihkanya hingga tanpa sisa. Jika ada Auror yan mencium kejadian ini dan kembali mencurigai kita, kalian yang akan kubunuh," ujar Scorp.
"Aye, Sir."
Scorp keluar dari kamar itu ketika mendengar dua kali lagi suara tembakan. "Bereskan kelompok satunya lagi, persis seperti yang aku lakukan," perintah Scorp.
"Yes, Sir."
Scorp sudah berada di luar rumah itu dengan suhu malam yang semakin turun di akhir bulan November ini. Ponsel sihir Scorp berbunyi dan nama Ballard tertera disana. "Malfoy. Speak," ucap Scorp.
"Vitiello sedang berada St,Mungo," ujar Al diseberang sana.
Fuck!
000
London, England
Penjagaan di St,Mungo malam ini bahkan lebih ketat dari penjagaan Kementerian Sihir US dan UK bila dijadikan satu. Pengawal gabungan The Sociaty dan Cosa Nostra terserbar di semua titik di perimeter yang telah ditentukan oleh Ballard sebagai kepala keamanan The Sociaty. Tetapi, hal ini tak akan sedikitpun mempengaruhi Edward Vitiello untuk masuk atau lebih tepatnya menyusup ke dalamnya. Dengan ramuan polyjus tingkat lanjut serta mantra penyamar ia berhasil berada di lobi rumah sakit sihir terbesar di Inggris ini. Ia melenggang masuk dengan sangat santai ke lantai tempat kamar perawatan Rose berada. Tak ada satupun penjaga yang curiga ketika ia naik ke lantai itu karena ia menyamar sebagai perawat pria yang memang bertugas di lantai itu. Tetapi, langkahnya terhenti ketika salah satu penjaga merangkap Madmen yang ditugaskan untuk menjaga Rose mencurigainya. "Apa maumu?" tanya Madmen bernama John itu.
"Aku Perawat Jordan. Aku akan memeriksa Nyonya Malfoy malam ini," jawab Edward yang menyamar sebagai perawat itu.
John memicingkan matanya lalu mengeluarkan tongkat sihir dari jubahnya. Diletakkan tongkat itu ke wajah Edward sambil terus menelusuri tiap jengkalnya. John tahu pria di hadapannya ini tengah berbohong karena Perawat Jordan sudah menyelesaikan shift jaganya sore tadi. Madmen itu menggeleng lalu mendorong Edward hingga terjerembab ke lantai dengan tangan yang dikunci di belakangnya. "Pembohong amatir, Jordan baru saja menyelesaikan shift-nya di hadapanku," desis salah satu pengawal andalan The Sociaty itu.
Edward terkekeh karena sadar usahanya untuk menculik Rose tak akan semudah yang dibayangkannya. "Kita disusupi," ujar John dan beberapa pengawal di lantai itu datang ke lorong kamar Rose itu.
John mengangkat tubuh Edward dan memaksanya untuk bangkit dan seperti perintah yang diinstruksikan Ballard untuk membawa tikus ini ke dungeon manor. Seorang pengawal sudah menguhubungi Ballard untuk mengabari kejadian dan Ballard berjanji untuk segera tiba disana. Edward baru saja bangkit dari lantai dengan senyum sarkastik di wajahnya menyadari bahwa pria bernama John ini masih mengunci pergelangannya dengan borgol. Tetiba saja ia tertawa kepada John. "Kini kita lihat siapa yang amatir," ucap Edward yang langsung bermanuver menjadikan tubuh John sebagai batu loncatannya.
Ia kini sudah berada di balik tubuh John dan mencekiknya dengan borgol itu sekuat tenaga lalu merapalkan mantra penghancur non verbal untuk mematahkan borgol itu. Para pengawal itu langsung datang menyerbunya dengan hujanan peluru dan sambaran mantra. Bukan Edward Vitiello namanya jika dapat dengan mudah dikalahkan oleh pengawal ini. Dengan sigap ia merapalkan mantra kedap suara ke seluruh lantai ini dan menjadikan tubuh John yang sekarat menjadi tamengnya sambil memuntahkan peluru-peluru untuk melumpuhkan semua pengawal ini. Tak butuh memakan waktu yang lama, lorong itu kembali hening. Mantra penyamar dan efek dari polyjus itu memudar hingga Edward sudah kembali ke wujud aslinya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut lantai ini lalu berjalan masuk ke kamar perawatan itu setelah yakin keadaan sudah aman.
Edward berdiri tepat di sisi ranjang Rose sambil menatap gerakan naik dan turun yang menandakan ia masih dapat bernapas dengan sempurna. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam dan Rose sudah terlelap kembali setelah makan malamnya. Edward memberanikan diri menyentuh punggung tangan Rose sambil berbisik pelan padanya. "Maafkan aku, Rose. Aku tak berniat menyakitimu. Aku hanya ingin menghabisi Malfoy."
Perlahan Edward mengeluarkan ramuan berisi obat bius agar ia dapat mengeluarkan Rose dari rumah sakit ini secepatnya dan membawanya pergi sejauh mungkin dari Inggris ataupun Amerika. Namun Rose tersadar sebelum Edward menginjeksikan ramuan itu ke tubuhnya. Mata Rose mengerjap karena pencahayaan yang minim di ruangan itu. "Scorpius," panggilnya yang mengira pria itu adalah suaminya.
Edward merasa jijik dan muak ketika wanita yang dicintainya ini justru memanggil nama Scorpius, suaminya. "Sayang sekali suamimu tak ada disini, Rose," ujar Edward.
Rose membelalak. Tubuhnya menegang dan matanya langsung awas. "Edward," ujar Rose.
"Kau sangat mencintai suamimu ternyata, Rose. Kau seperti lupa bahwa kau yang mengatakan jika kau hanya menikahinya karena nama dan jabatannya saja, tapi lihat dirimu sekarang," ujar Edward dengan nada paling rendah yang dapat ia hasilkan.
Rose menatap tajam ke arahnya lalum menggeleng. "Apa yang kau mau, Vitiello?"
Edward Vitiello tersenyum sarkastik padanya. "Aku akan membawamu jauh dari sini," jawab pria itu.
"Kau tak dapat melakukannya. Suamiku akan menemukanmu dan kau akan mati baik di tanganku ataupun di tangannya."
Kali ini Edward membalasnya dengan tawa sarkastik dan pandangan geram ke arah Rose. Wanita itu tak percaya bahwa selama ini ia meniduri dan dapat dikatakan menjalin hubungan dengan seorang psikopat sakit jiwa. "Kau berubah, Rosabelle. Benar kata Maurizio, cinta membuatmu lemah," ujar Edward.
Rose berusaha tak memedulikannya dan mencari cara untuk meminta bantuan agar seseorang dapat masuk ke ruangan ini. Wanita itu tahu pasti para pengawal di luar sana sudah tak lagi bernyawa jika Vitiello sudah berhasil menembus kamarnya. "Lihat dirimu sekarang. Terbaring lemah di ranjang rumah sakit karena berusaha menyelamatkan suamimu, sementara ia tengah di luar sana sedang memberesakan urusannya. Kau calon Capo, Rose. Bukan ibu rumah tangga yang hanya menjadi penghangat ranjang suaminya," tambah Edward.
"Go to hell, rat," desis Rose.
"As long as with you, Rose," ucap Edward yang langsung menginjeksikan obat bius ke dalam cairan infus Rose.
Pintu kamar ruangan itu terbuka dan Scorpius sudah berdiri di ambangnya. Edward terkejut namun berusaha meredamnya. Dalam hati ia merutuki dirinya mengapa harus terbawa suasana untuk berbincang dengan Rose bukannya langsung menginjeksi obat bius lalu membawanya pergi. "Jangan kau coba berani mendekati istriku, tikus busuk."
Tak lagi berbasa-basi seperti yang dilakukannya dengan Rose tadi, Edward langsung mengeluarkan tongkat sihirnya. Kedua pria itu langsung beradu mantra. Kilatan saling menyambar dari tongkat itu, sementara Rose sudah kehilangan kesadarannya karena ulah Edward melepaskan koneksi yang terjadi antara tongkat mereka, Scorp mengeluarkan pistol dari sakunya dan melepaskan peluru tepat di lutut Vitiello. Hal ini sama sekali tak terbaca oleh pria itu dan menyebabkannya jatuh serta koneksi tongkat itu terputus. Sebelum Vitiello dapat kembali menguasai keadaannya, Scorp langsung menghajarnya dan dalam satu kali rapalan mantra, tikus busuk itu sudah terikat dengan sempurna. Edward Vitiello seperti menggelepar ketika Scorp menyurukkan tongkatnya tepat ke leher pria itu. "See you soon in dungeon, rat," ujar Scorp dan Edward Vitiello benar-benar kehilangan kesadarannya.
Scorpius langsung bangkit untuk memeriksa keadaan Rose. Ia memegang pergelangam tangannya dan merasakan denyut nadi normal istrinya. Scorp dapat sedikit bernapas lega ketika menyadari bahwa tikus busuk itu hanya memberikan obat bius kepada istrinya.
"Damn it," umpat Ballard yang sudah berada di ambang pintu kamar itu.
Ia tampak terbelalak dengan tubuh Vitiello yang sudah ada tergeletak di lantai itu dan melihat berapa banyak tubuh yang berserak di lorong kamar perawatan ini. "Rosabelle baik-baik saja?" tanya Ballard yang dijawab dengan anggukan oleh Scorp.
"Panggil Doc sekarang juga," perintah Scorp.
Ballard langsung menghambur dari ruangan itu untuk mencari Doc dan Scorp kembali fokus pada keadaan istrinya. "Rose."
"Contessa, kau dapat mendengarku?"
Doc muncul di ruangan ini tak lama kemudian. "Ada apalagi?" tanya Doc yang langsung memeriksa tubuh Rose yang tak sadarkan diri.
"Aku rasa dia diinjeksi obat bius oleh tikus ini," jawab Scorp.
Doc mengangguk. "Syukurlah tak ada komplikasi karena dosisnya yang rendah. Aku akan memantau keadaannya semalaman ini," ujar Doc lalu meninggalkan ruangan ini.
Scorp menatap tubuh tak berdaya Vitiello di lantai dengan dingin. "Bereskan dia dan panggil Tukang Ledeng untuk membersihkan lorong itu."
"Aye, Sir."
000
"Welcome to the dungeon, rat."
Edward Vitiello mengerjapkan matanya. Ia berusaha beradaptasi dengan keadaan sekitar yang tetiba saja terang. Tubuhnya terasa sakit di sekujurnya. Ia juga merasakan tangan dan kakinya tak dapat digerakkan. Edward menghentakkannya sekuat tenaga agar ia dapat melepaskan diri dari belenggu yang menjeratnya, namun hasilnya nihil. Alih-alih terbebas ia justru mendengar tawa dari seorang pria yang terlihat menjulang di hadapannya. "Well, hello Vitiello. How's your nap?" tanya Rhaegar dengan senyum sarkastik di wajahnya.
Edward mengeram ketika sadar bahwa anggota keluarga Malfoy termudalah yang sedang mengoloknya. Kembali Edward meronta berusaha untuk melepaskan diri, tapi gagal untuk kesekian kalinya. "Simpan energimu, tikus busuk. Kau akan cepat kelelahan nanti," jawab Rhaegar.
Pria itu berhenti meronta lalu berhenti menatap lekat mata kelabu Rhaegar yang mendekat padanya dengan tongkat sihir tepat menempeli dagunya. "Hanya bocah ingusan yang diturunkan untuk mengurusku?" tanya Edward.
"Jangan memancing emosiku. Kau tak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini," jawab Rhaegar.
Perkataan tadi dijawab dengan tawa mengejek oleh Edward. Pria yang dulu menjadi kaki tangan Rose itu meludah jijik ke lantai. Rhaegar kembali menyurukan tongkatnya ke dagu Edward. "Kau mengotori lantai dungeon-ku, tikus busuk," ujar Rhaegar.
Bukannya takut dengan nada kelam yang diadopsi Rhaegar dari ayah dan kakak lelakinya itu, Edward justru meludahi wajah Rhaegar. "Kau pasti bercanda," desis Rhaegar.
"Crucio," rapalnya dan Edward terjengkang dari tempat duduknya sambil berteriak kesakitan.
Tak hanya berhenti disitu, masih dibawah kutukan itu Rhaegar menarik kerah jubah Edward dan memukulinya. "Kau tak pantas melakukan hal itu padaku, bedebah sialan."
Pintu dungeon itu terbuka dan otomatis efek dari kutukan itu terhenti karena Rhaegar kehilangan konsentrasi. "Easy, mate," ujar Niklaus yang masuk bersama Scorpius.
Napas Edward terengah ketika Niklaus merapalkan mantra dan membuat ia kembali duduk di tempatnya. Kali ini Scorp mengambil alih tikus itu dan duduk di bangku lain tepat di hadapannya. "Mari kita lakukan hal ini dengan cepat, arsehole," ujar Scorp pada Edward yanb wajahnya tak lagi beraturan.
"Apakah Maurizio yang memerintahmu atau kau bekerja sendiri kali ini?" tanya Scorp.
Tak ada jawaban sepatah katapun dari Edward dan Scorp memakluminya. King dari The Sociaty itu tak mau menghabiskan energinya dan lebih memilih untuk langsung masuk ke pikiran pria busuk di hadapannya ini. Semua peristiwa penembakan Rose di landasan pacu hingga penembakan mobil yang menyebabkan kecelakaan bagi Rhaella dan Ballard terputar disana. Scorp menggeleng dan menghela napasnya. "Crucio," ucap Scorp.
Dan untuk kedua kalinya Edward terjengkang dan mengerang hebat saking menahan sakit. Kali ini Scorp semakin mempererat belenggu sihir di tubuhnya agar sakit yang dihasilkan oleh kutukan itu semakin bertambah. Ketika Scorp menghentikan rapalan kutukan itu, darah sudah mengalir keluar dari hidung dan telinga Edward. Sekali lagi pria itu kembali dibuat duduk di kursi pesakitannya. "Berani sekali kau menganggu keluarga kami. Pertama adikku dan kini istriku. Semua itu kau lakukan karena perasaan cemburu? Menyedihkan sekali," ujar Scorp.
Scorp menjentikan kembali tongkatnya dan Edward terangkat melayang di udara. Dia tercekat bak ada tangan gaib yang mencekiknya. "Kau berurusan dengan keluarga yang salah, fucker," tambah Scorp lalu melempar tubuh Edward ke dinding.
Ia jatuh seperti karung sampah yang terserak di lantai. Secara sihir ia dibuat berdiri dengan dinding dungeon ini sebagai sandarannya. "Siapa yang bersemangat untuk bermain lempar pisau?" tanya Rhaegar yang bertukar tawa dengan Niklaus.
"Aku."
Rose masuk ke dungeon ini dan tampak sangat sehat seperti ia tak pernah terluka tembak dan menjalani operasi dua hari yang lalu. Wanita itu berbagi pandang dengan suami dan adik iparnya serta Niklaus yang sudah sedari tadi berada di dungeon ini. Rose tampak mengedarkan pandangannya dan mengerutkan alisnya. "Dimana Ballard?"
"Ada beberapa hal yang harus diurusnya," jawab Scorp.
"Nott?"
Scorp mengangguk dan Rose hanya mendengus. "Sayang sekali ia harus melewatkan kegiatan bersenang-senang kita hari ini. Kapan lagi ia melihat pelaku yang membuat ia dan Rhaella kecelakaan meregang nyawa?" ucap Rose.
"Dia titip salam dan meminta agar siksaan darinya di wakilkan," tambah Rhaegar
Scorp menyeringai sementara Rhaegar dan Niklaus bertukar tawa. Rose berjalan mendekati Edward yang sudah sama sekali tak berdaya. "Hai, Edward."
Edward tak menjawabnya. "Kau tak menjawabku? Bukankah kau sangat senang jika kita memanggil nama depan satu sama lain?" tambah Rose.
Scorp mendengus mendengarnya. "Contessa."
Rose mengedik. "Kau akan tamat di tanganku, Vitiello."
Wanita itu mundur jauh lalu dengan satu gerakan luwes ia melempar belati dan menancap tepat di dada kanan Edward. "Aargh!" teriak pria itu.
Rose memberikan belati lain pada Rhaegar. "Untuk Rhaella dan tentunya Ballard," ucap Rhaegar sambil melempar belati itu dan menancap tepat di ulu hatinya.
"Aargh!" teriakan itu kembali terdengar.
"Kau tak mau, husband?"
Scorp menggeleng. "Habisi dia sekarang juga, Rose. Aku muak melihatnya di manor ini lebih lama."
Rose mengedik lalu mengambil pistol dan dengan satu tarikan napas peluru itu menembus jantung dan kepala Edward. "Selamat tinggal, asshole," ucap Rose.
"Bakar tubuhnya dan buang abunya di parit," ujar Scorp.
"Aye, Sir," jawab Rhaegar
"Ayo Rose. Kau harus kembali beristirahat."
Rose hanya tersenyum dan mengrkori suaminya.
000
Scorpius tak langsung kembali ke suite-nya bersama Rose. Wanita itu kembali ke kediaman mereka di manor itu seorang diri. Setelah meminum ramuan entahlah-apa-namanya dari Doc pasca operasi, stamina Rose seakan kembali dan rasa sakit itu perlahan hilang. Namun ia tetap saja belum dapat mengerjakan banyak pekerjaan yang seperti biasa ia kerjakan. Jadilah, wanita itu tengah duduk di sofa panjangnya yang menatap langsung ke beranda suite itu. Rose memandang kosong keluar sana karena hujan yang tak henti-hentinya mengguyur kota ini. Tak ada wine atau alkohol lain yang biasa menjadi teman relaksasinya saat senggang seperti ini. Rose hanya menyesap tehnya lagi dan lagi hingga ia muak. Doc melarang betul ia menyentuh alkohol hingga kesehatannya kembali lagi seperti semula.
Rose menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam dan Scorp belum kembali ke suite mereka. Apakah ada sesuatu yang terjadi setelah mereka menghabisi Edward Vitiello? Apakah ada gesekam antar kelompok lagi yang harus diselesaikannya malam ini juga? Atau mungkin ada pekerjaan rahasia yang tak diceritakannya pada Rose. Pikiran terkahir itulah yang selalu terngiang di kepala Rose terutama setelah apa yang diucapkan Edward di kamar perawatannya semalam. Apakah benar Rose sekarang menjadi lemah? Apakah ia sanggup menjadi Queen bagi The Sociaty yang dipuja oleh semua anggotanya sekaligus menjadi Capo untuk Cosa Nostra yang membuat semua perkataannya menjadi sebuah aturan hukum? Memikirkan hal ini benar-benar menguasai emosi dan menguras tenaganya.
Love makes you weak. Kalimat itu beratus kali keluar dari mulut kakeknya dan baru kali ini ia merasakannya. Mencintai seseorang adalah hal terburuk bagi sosok yang hidup di dunia seperti mereka. Orang-orang yang mereka cintai akan dijadikan alat untuk menghancurkan mereka. Hal ini terbukti dengan kecelakan Rhaella dan Scorpius yang menjadi target penembakan oleh Edward. Seharusnya Rose tak membiarkan dirinya mencintai seseoran dan seharusnya juga orang-orang tak perlu mencintainya. Bila kata cinta itu tak ada di hidupya, pasti tak ada yang pernah terluka karenanya. Tetapi, jika Rose memikirkan bahwa Scorp berhenti mencintainya dan keluarga Malfoy berhenti memedulikannya mungkin ia yang akan mati perlahan karenanya. Rose menggeleng dan bangkit menuju rolling door beradanya lalu berdiri di hadapannya. Ia kembali menyesap tehnya yang perlahan kehilangan hangatnya.
"Kau tak boleh berdiri terlalu belum sanggup melakukannya."
Rose memalingkan tatapannya dan mengedik lalu kembali menatap guyuran hujan di luar sana, sementara Scorp berdiri tepat di belakangnya. "Dia sudah mati?" tanya Rose dingin yang dijawab dengan anggukan dari suaminya.
Mereka kembali diam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Rose sibuk berpikir tentang segalanya dan Scorp sibuk membaca apa yang sedang Rose pikirkan. Tak seperti pasangan romantis lain yang akan langsung menyambut pasangannya dengan sebuah pelukan atau kecupan ketika mereka datang atau menghampiri, Rose dan Scorp sudah merasa nyaman dengan berdiri berdampingan seperti ini. Rose menghela napas panjang ketika ia merasa bahwa kali ini kepalanya akan meledak dengan semua pikiran yang berkecamuk di dalamnya. "Kau tidak lemah, Rose," ujar Scorp yang menjawab segala kegelisahan istrinya.
Tak lagi marah seperti kali pertama Scorp membaca pikirannya, Rose hanya diam dan tak menjawabnya. "Kau tetap Rosabelle seperti yang pertama kali aku temui di restaurant berbulan-bulan lalu," tambah Scorp.
Rose menggeleng untuk menjawabnya. "Aku tak pernah dalam keadaan seperti ini sebelumnya. Kau membuatku lemah, Scorp," jawab Rose pada akhirnya.
"Mencintai seseorang tak lantas membuatmu lemah," balas Scorp.
"Aku rela menerima peluru itu untukmu, dickhead. Bahkan aku tak tahu apakah aku sanggup menghadang peluru untuk Hugo," jawab Rose.
"Hal itu yang membuatku berpikir bahwa aku melemah sekarang. Seharusnya hanya diriku seorang yang boleh kupikirkan dan kupedulikan, tapi kini aku memikirkanmu dan memikirkan keluarga ini. Kalian semua membuatku lemah, kalian merubahku dengan sangat berhasil, bahkan aku menerima permintaan Rhaella untuk menjadi maid of honor untuk hari pernikahannya," tambah Rose lagi berpanjang lebar.
Scorp tersenyum ketika mendengar kalimat terakhirnnya. "Tak ada yang merubahmu dan tak ada yang mencoba merubahmu, Contessa. Manusia hidup untuk beradaptasi dan kini kau berhasil beradaptasi dengan keluarga ini, kau berhasil menerima kami sebagai keluargamu."
"Tak ada yang berubah darimu. Kau tetap Rosabelle Archangella Weasley-Allegri Malfoy. Kau tetap calon Capo wanita pertama untuk Cosa Nostra. Kau tetap berhati dingin dan berjiwa bengis serta ditakuti oleh semua lawanmu. Kau tetap seorang penakluk dan kau berhasil menaklukan keluargaku dan tentunya diriku," tambah Scorp lagi sebelum menyelesaikan kalimatnya.
Pria itu menghela napas panjang karena ia jarang sekali berbicara panjang lebar seperti tadi terutama di hadapan seorang wanita. Justru Rose-lah yang merubahnya. Mereka kembali diam dan kali ini Scorp tak berani menginterupsi pikiran istrinya dengan meneobos masuk ke kepalanya. "I'm not weak," ucap Rose.
"You're not weak," balas Scorp.
"No one can againts us because we protect each other," tambah Scorp lagi.
"Yes, we protect each other. If you die.."
"I die, Rose. And vice versa."
Scorp mengakhiri percakapan beruntun ini dengan memeluk istrinya dari belakang. Rose sedikit terkejut dengan gesture yang di tunjukan oleh suaminya, namun sesat kemudian ia mulai terbiasa dan merelaksasikan diri dalam dekapan suaminya. "Aku senang kau dapat melewati masa kritismu, Contessa."
"Jangan tanyakan betapa senangnya aku dapat melewati masa itu dan dengan sangat tidak beruntungnya kembali terjebak denganmu, dickhead," jawab Rose dengan nada sarkastik namun kekehan terdengar juga pada akhirnya.
Scorpius ikut menyeringai karenanya. "Jangan pernah terpengaruh dan sekalipun berpikir bahwa kau lemah, Rose. Kau Queen of The Sociaty serta calon Capo bagi New York Cosa Nostra. Tak ada wanita lemah yang mampu menempati tahtamu sekarang, kau hanya perlu mengingat hal itu, Contessa."
Rose mengangguk. "Yes, dickhead."
Scorp memutar tubuh Rose lalu mencium bibirnya lembut. Rose tersenyum padanya. "Come to bed with me," bisik Rose yang disambut dengan anggukan oleh Scorp.
Tangan mereka baru saja bertaut ketika Rose akan berjalan ke ranjang mereka, tapi sebuah ketukan di pintu suite mereka mengalihkan mereka. Scorp membuka pintu itu dan rambut pirang Rhaegarlah yang menyapanya. "Aku menganggu kalian?" tanya Rhaegar dengan memasang wajah pura-pura lugu di hadapan Scorp.
"Kau tahu jawabanya," balas Scorp dingin.
Rhaegar terkekeh. "Kalian belum mau tidur, bukan? Ayolah ini bahkan belum tengah malam," tambah Rhaegar yang mendapat tatapan maut dari kakaknya.
"Cut the bullshit, Rhaehar Kraver."
"Baiklah. Ballard sudah kembali ke manor dan ia ingin berbicara dengan kita di ruang kerja."
Scorp mengangguk. Hal ini pasti berhubungan dengan Nott. Baru saja ia akan berbalik, Rose sudah ada di belakangnya. "Ayo," ucap Rose lalu keluar dan memimpin jalan menuju ruang kerja Scorp.
Ballard sudah berada disana ketika mereka bertiga masuk. Ada banyak perkamen berserakan ketika Scorp mendekati meja belajar itu. Foto-foto pria yang berusia di awal 20 tahunan itu terpampang disana. Hal yang menarik perhatian adalah Nott yang juga terlihat sering bersamanya. Baik memperhatikan dari jauh atau sedang berbicara dengannya. "Dia adalah alasan mengapa Nott mengunjungi London secara berkala," ujar Ballard.
Semua menunggu ia melanjutkannya. "He's Mikhail Dashkov or should we say Mikhail Nott, bastard of Theodore Nott," tambah Ballard.
Rhaegar dan Rose bertukar pandang sebelum bungsu Malfoy itu tersenyum seperti penuh kemenangan. Sementara Scorpius masih terdiam dan belum mengeluarkan sepatah katapun. Ia merasa bahwa saatnya sudah tiba untuk mengakhiri dendam kematian ibunya. "Bawa anak ini kepadaku dan kita lihat apa yang akan dilakukan Nott jika aku membuatnya menyaksikan anaknya kukuliti hingga tak besisa," desis Scorp.
000
to be continued
Don't forget to leave your review. I LOVE YOU GUYS! XOXO
