Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"

Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)


Preview chap :

"Apa yang akan kau lakukan padaku kali ini?"

Luhan bersikap lebih waspada. Seharusnya Seulgi sadar bahwa kata-katanya menyiratkan ketidaksukaan.

"Kau takut padaku?"

"Aku hanya takut hilang kendali dan menyakitimu!"

Seulgi tertawa. "Ya, tentu saja, wanita jalang sepertimu bisa melakukan apa saja. Asal kau tau, aku mengetahui siapa kau sebenarnya. Xiao Lu!"


Luhan terkejut. Tapi mengapa ia heran? Bukankah Sehun pernah mengatakan kalau Seulgi sedang menyelidiki siapa Luhan sebenarnya dan mencari celah agar menjauhkannya dari Sehun. Luhan mencoba menenangkan diri dan tersenyum.

"Xiao Lu? Siapa?"

"Kau tidak harus menyangkal lagi. Aku punya segala buktinya. Coba kau bayangkan, bagaimana bila aku memberitahu siapa kau sebenarnya pada mertuaku. Dia akan membuangmu."

"Lalu bagaimana nasibmu jika aku memberi tahu perselingkuhanmu dengan Sehun? Apakah dia akan tetap mempertahankanmu di rumah ini? Kurasa dia akan lebih mempertahankan Sehun dibandingkan dirimu. Berhentilah bersikap seperti i ni, Seulgi! Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan Sehun apapun yang kau lakukan!"

"Meskipun aku menghabisimu?"

Luhan tersenyum sinis. "Ya, meskipun kau menghabisiku Sehun tidak akan beralih kepadamu!"

"Kau bertindak seolah-olah Sehun sangat mencintaimu. Dia akan segera membuangmu, jadi jangan dulu berenang hati dengan sikapnya yang hanya sementara!"

"Lalu? Aku tidak meragukan itu. Aku tau kalau suatu saat nanti akan berpisah dengannya. Jadi kau tidak perlu khawatir karena aku memang tidak punya satu alasanpun untuk dipertahankan."

Luhan mengangkat bahu seolah-olah semua yang terjadi sama sekali bukan masalah dan juga bukan salahnya. Langkah kakinya terdengar sangat ringan begitu keluar dari kamar Seulgi menuju kamarnya.

Sayangnya, Luhan tidak bisa menyembunyikan kekesalannya jika dia hanya seorang diri. Jika kamar itu miliknya sendiri, Luhan pasti lebih memilih untuk menghancurkan semua barang yang ada dan melemparkannya keluar jendela.

Luhan berbaring di ranjang dan membenamkan wajahnya dalam-dalam. Sesaat kemudian ia mulai terisak. Mengapa harus ada pengganggu di tengah -tengah kebahagiaannya yang Luhan tahu hanya bersifat sementara. Dia memang tidak punya alasan untuk di pertahankan. Sehun memang tidak pernah mengatakan kalau laki-laki itu ingin mempertahankannya. Dan Luhan juga tidak pernah berharap. Dia juga tidak mungkin mau hidup bersama dengan Sehun bila masih ada Seulgi yang akan siap membunuhnya sewaktu-waktu.

"Luhan, mengapa pintunya di kunci?"

Luhan segera duduk dan menatap pintu. Sehun sudah pulang, ia memang selalu pulang lebih cepat belakangan ini. Sebisa mungkin Luhan menghapus jejak air matanya lalu membukakan pintu untuk Sehun. Laki-laki itu tidak langsung masuk, malah menatapnya.

"Apa yang terjadi?" Tanyanya.

Luhan menggeleng. "Tidak ada!"

"Jackson bilang dia kehilangan jejakmu, makanya aku pulang. Kau tidak sedang menghindari Jackson, kan? Aku rasa tidak. Katakan apa yang Seulgi lakukan padamu!"

"Mengapa kau langsung menduga Seulgi yang melakukannya?"

Luhan menggeram sambil membantu Sehun membuka pakaian kerja dan meninggalkan kemeja serta celananya untuk Sehun tanggalkan sendiri.

Luhan mengambil pakaian di dalam lemari lalu memberikannya kepada Sehun. Laki -laki itu mengambilnya dan langsung beranjak ke kamar mandi. Setelah mengganti pakaiannya, Sehun segera duduk di sebelah Luhan di atas sofa. Ia masih penasaran dan akan terus meyakinkan Luhan untuk bercerita.

"Ayolah, kau tidak perlu merahasiakan apapun. Selama ini kau juga tidak pernah merahasiakan apapun dariku, kan? Seulgi melakukan apa?"

"Dia hanya mengatakan kalau dia tau siapa aku sebenarnya!"

Luhan menyerah, Sehun memang harus di beri tahu, diapun tidak bermaksud menyimpannya sendiri.

"Dia mengancam akan memberi tahu Sarah tentang Xiao Lu."

"Aku tidak heran dengan itu. Seperti yang pernah ku katakan, dia sedang menyelidiki segala hal tentangmu."

"Aku juga berfikir seperti itu."

"Lalu apa yang kau katakan kepadanya? Kau tidak mungkin menyerah begitu saja, kan?"

"Aku mengatakan kalau aku akan membeberkan perselingkuhanmu dengannya kalau sampai dia mengatakan hal seperti itu kepada Sarah."

"Kau akan mengatakannya? Bibiku akan mengusirku karena itu!"

"Tidak akan, aku tidak akan menjelek-jelekkan namamu. Aku hanya ingin membuat Seulgi takut. Aku sangat igin menarik rambutnya dan mencakar wajahnya saat ia mengatakan itu tadi."

"Jadi itulah yang kau peljari selama ini di Denmark. Sepertinya Seulgi salah memilih musuh."

Sehun tertawa sejenak. "Lalu mengapa kau menangis?"

"Kapan?"

"Kau menangis tadi, aku sudah berdiri di depan pintu dan mendengarkan isakanmu. Jadi?"

Luhan menghela nafas. "Tentu saja karena aku kesal. Mengapa kau memilih untuk berselingkuh dengan Seulgi? Karena kecerobohanmu itu rumah tanggaku yang seperti madu harus di ganggu oleh rasa pahit. Meskipun sedikit aku tetap tidak suka ada gangguan."

"Ya, aku juga menyesalinya. Lalu bagaimana dengan sekarang?"

Luhan mengangkat alisnya. "Apanya?"

"Kau sudah siap? Kita akan mencobanya lagi!"

"Kita harus makan malam dulu. Tidak bisakah kau menahannya? Setiap kali kau melakukannya, aku akan terkapar selama berjam -jam."

"Aku sangat tidak suka dengan penundaan Luhan. Kau fikir enak, menahan itu sama saja dengan membunuhku."

Luhan menghela nafasnya. "Kau meminta hal itu sekarang untuk memberiku anak atau melampiaskan hasrat…"

Sehun menciumnya sesaat untuk mengatakan kalau lebih baik Luhan diam. Tindakan itu memang benar-benar berhasil untuk membuat Luhan tidak bersuara untuk beberapa lama.

Sehun menatap matanya dalam -dalam, tentu saja hal itu tak pelak membuat Luhan bergetar. Sehun mencium keningnya lalu kelopak mata dan bibirnya sekali lagi. Ia menghela nafas lega saat melepaskan ciumannya.

"Luhan, apakah bercinta denganku sesakit itu? Kau selalu menangis saat bercinta denganku!"

Luhan mengangguk. "Aku mulai terbiasa."

"Aku tidak akan memaksamu, sebenarnya kau yang pertama yang kupaksa seperti itu. Wanita-wanita sebelumnya selalu menyerah pada klimaks-klimaks awal."

"Berarti pemaksaanmu itu hanya berlaku kepadaku?"

Luhan memutar bola matanya. "Lalu mereka melarikan diri?"

"Tidak, mereka datang lagi untuk mencicil."

Sehun lalu tertawa. "Mereka selalu bilang kalau rasa sakit itu hanya akan bertahan pada bulan -bulan pertama, setidaknya hal itu selalu membuat mereka ingat kepadaku!"

"Apakah Seulgi juga menangis waktu bercinta denganmu?"

Sehun diam sebentar mengingat-ingat. "Dia terlalu angkuh untuk menangis. Dia tidak pernah menangis sekali pun!"

"Sekalipun? Maksudmu? Kau sering melakukannya dengan Seulgi?"

"Jika tidak, wanita itu tidak mungkin mengejarku sampai seperti ini. Aku memang selalu tampak seksi, kan?"

"Hentikan, aku sudah lama tidak mendengarmu mengatakan seperti hal itu!"

Luhan benar, ia sudah lama tidak mendengar Sehun memuji dirinya, atau menawarkan ranjangnya dan dirinya. Luhan tertawa sejenak. Selang beberapa detik, Sehun sudah membekap mulutnya dan membawa Luhan keranjang.

"Jadi? Kau akan melakukannya? Tidak, maksudku kita akan melakukannya?"

Luhan terdiam sejenak lalu mengangguk.

Sehun mendesah senang. "Aku berjanji kau akan hamil kali ini!"

"Kau selalu mengatakan itu setiap kali kita bercinta!"

"Ya, karena aku selalu berfikir positif kalau aku bisa membuahimu saat itu!"

"Dan kau kecewa setelah sebulan pernikahan kita aku tidak mengandung juga?"

Sehun tertawa mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja tidak. Kalau bukan karena anak yang masih belum kita dapatkan itu, aku tidak akan bercinta denganmu sesering yang kita lakukan selama ini. Aku pastikan kalau kau hanya memperbolehkan aku menyentuhmu dua kali dalam seminggu. Dan aku akan sangat kecewa lalu mencari perempuan lain!"

"Ah, ya! Tentu saja kau boleh melakukan itu sesukamu!"

"Tentu saja tidak ada yang bisa melarangku untuk itu. Jadi diamlah, Luhan. Kau tidak sedang mengalihkan tindakan yang seharusnya kulakukan sejak tadi dengan membicarakan hal itu, kan? Kau tidak akan ku biarkan berkata apapun lagi mulai detik ini!"

Luhan menghela nafas, mencari kesiapan di dalam dirinya. Setiap kali melakukan hal ini, Luhan selalu merasa gugup seolah-olah semua yang dilakukannya dengan Sehun adalah untuk pertama kalinya.

Sehun membuka pakaian Luhan, membiarkan Luhan duduk tanpa sehelai benangpun di atas ranjang. Ia memandanginya dengan kagum, saat ini Luhan adalah hartanya yang paling berharga.

"Kau tidak akan memulainya?" Luhan bertanya sengit.

Sehun mendekat dan duduk di hadapannya. Ia membelai pipi Luhan lembut.

"Aku ingin, tapi kali ini aku ingin lebih perlahan. Aku tidak akan menciummu karena ciumanmu hanya akan membuatku menggebu -gebu."

"Kau akan sangat menyiksaku jika melakukannya dengan perlahan."

"Jadi kau tidak pernah melakukannya secara perlahan?"

"Dengan siapa? Dengan pelangganku di Denmark? Mereka akan menghabiskan banyak uang karena itu. Aku di bayar perjam, kau tau!"

"Harusnya aku tau!"

Sehun menyandarkan tangannya ke payudara Luhan lalu memijatnya dengan lembut. Luhan mulai menahan nafas. Saat Sehun membelai puncak payudaranya seluruh tubuhnya ikut bergetar, Sehun melakukannya dengan gerakan yang benar-benar perlahan, dia tidak terburu-buru seperti biasanya.

Luhan mencoba memenuhi paru-parunya dengan udara sebanyak-banyaknya. Bila Sehun ingin melakukannya dengan perlahan, maka dia sama sekali tidak tau harus melakukan apa. Dia tidak bisa bertindak se-agresif biasa.

Luhan mengangkat tangannya berusaha menyentuh wajah Sehun yang terus memberikan kenikmatan pada dadanya, bahkan perhatian Sehun benar-benar hanya tercurah disana.

Dengan sangat lamban Sehun mendekatkan wajahnya kesana, mengulum puncak payudaranya, menggigit, menghisap ia benar-benar berhasil membuat Luhan tersengal-sengal. Sehundainya tidak seperlahan ini, Luhan akan berusaha menanggalkan pakaian Sehun sekarang. Tapi laki -laki itu bahkan tidak membuka pakaiannya. Setiap sentuhannya membuat Luhan berada di puncak keinginannya untuk bercinta.

Sehun menyiksanya dengan hasrat dan Luhan harus berusaha menahannya. Ia tidak ingin merusak rencana dan kesenangan Sehun akan tubuhnya. Mulut Sehun berpindah ke payudara yang satunya. Ia melakukan hal yang sama disana. Sebelah tangannya menurun menuju daerah sensitif milik Luhan dan membelainya. Luhan mendesah nikmat. Ia tidak bisa menahannya lebih lama.

"Sehun cepatlah, aku sangat tersiksa!"

Sehun menghisap puncak payudaranya lebih intents dan cepat. Ia nyaris memberikan Luhan satu kali klimaks dengan jari-jarinya. Tapi ternyata Sehun memilih menjauhkan dirinya dari Luhan dan membatalkan niat untuk menyentuhnya. Luhan sudah mengharapkannya, melihat Sehun menjauh Luhan benar-benar kecewa.

"Apanya yang salah!"

"Kau terlalu menggoda, Luhan. Aku takut malam ini tidak akan cukup untuk kita bercinta, mungkin aku akan memaksamu melayaniku sampai pagi, mungkin juga sampai siang datang lagi. Aku menolak untuk menyentuhmu sekarang!"

"Tapi aku sudah sangat berharap."

Luhan merasakan kekecewaannya berlipat-lipat. Sehun tidak ingin melakukan hal yang dimintanya? Dia sudah membuat Luhan tidak bisa memisahkan diri darinya malam ini. Kecengengannya timbul lagi. Luhan teringat pada saat ia di tolak setelah 'dicoba' seperti saat pertama kali menjalani pekerjaannya di Denmark.

Air matanya merembes memandang Sehun dengan perasaan tak menentu. Tentu saja hal itu membuat Sehun terkejut. Sehun kembali kedekatnya dan memeluk Luhan erat-erat. Sehun menghapus airmata Luhan dengan lembut.

"Kau menangis lagi?"

"Kau menyakitiku!"

"Aku?"

"Kau menolakku, Sehun. Aku merasa di tolak!"

"Aku tidak menolak, Luhan! Aku hanya menundanya. Kau benar kalau kita harus makan malam dulu. Aku butuh banyak tenaga untuk itu. Seperti yang ku bilang tadi, kau terlalu menggoda dan malam ini ku rasa tidak akan pernah cukup untuk mengecapmu."

Sehun mencium pipi Luhan lalu memandangnya dengan senyum. "Sekarang akuilah, kau menginginkanku! Selama ini kau selalu bertindak seolah-olah sedang melayani keinginanku. Sekarang kau yang menginginkanku kan?"

Luhan memukul dada Sehun kesal, beberapa saat kemudian ia mendengus lalu berujar. "Kita sama-sama menginginkannya, kan?"


Entah karena bercinta waktu itu, atau karena beberapa kali sesudahnya, Sesuatu yang lain mulai terjadi ada tubuh Luhan. Ia selalu tampak pucat dan sangat tidak bertenaga. Beberapa kali Jackson datang membawakannya obat, tapi Mrs. Philarette melarangnya memakan obat-obatan aneh.

Tepat dua minggu setelahnya, Luhan mendapati dirinya muntah-muntah setelah menyiram bunga di halaman. Oh Sarah segera memberikan dugaan yang masuk akal. Luhan sudah hamil. Meskipun hanya sebatas dugaan, itu benar-benar membuat Luhan bahagia.

Sarah bertindak sangat cepat dengan memerintahkan Jackson mencari alat tes kehamilan. Benda itu menunjukkan hasil yang positif. Tapi Sarah sama sekali belum puas sehingga Luhan di paksa menguji kehamilannya dengan alat tes kehamilan dari berbagai merek hingga akhirnya Sarah memeluknya dan memberi selamat. Ia sangat bahagia. Jackson juga sangat sumringah, jika bukan karena larangan Sarah, laki-laki itu pasti sudah menelpon Sehun dan memberi tau. Tapi Sarah menginginkan Luhan yang memberi tahu kepada suaminya.

"Kau harus memberitahukan ini sendiri kepada Sehun. Dia sangat berharap dan pasti sangat bahagia mendengar kabar ini." Sarah berujar dengan bangga.

Ia memandangi wajah Luhan dengan sangat berbunga-bunga. Akhirnya akan ada anak kecil di rumah ini. Luhan akan memberikan cucu yang di impi -impikannya.

"Aku tidak bisa membayangkan reaksinya." Desis Luhan.

"Ya, dia pasti sangat senang. Sejak kecil aku tidak pernah melihat Sehun tampak benar-benar senang. Dia tidak pernah mengekspresikan perasaan senangnya secara nyata."

Luhan tersenyum. Ia juga tidak pernah melihat Sehun tertawa senang kecuali setelah mereka mengerjai Seulgi waktu itu.

"Aku ingin dia segera pulang!"

"Kau sangat mencintai Sehun, sayang?"

Tidak ada ekspresi lain yang tepat untuk di lakukan selain mengangguk. Tentunya mustahil bagi Luhan menggeleng karena Sehun adalah suaminya.

"Aku juga mencintai anak ini. Aku senang saat Sehun mengizinkanku untuk melahirkannya."

"Ya, Sehun juga kurasa. Keinginannya untuk punya anak kali ini begitu besar. Kurasa memang sudah waktunya Sehun berfikir untuk menjadi seorang ayah."

Sarah lalu mencondongkan tubuhnya kedekat Luhan dan berbisik. "Kalian juga berusaha sangat keras sepertinya. Suara kalian terlalu berisik dan sangat lama!"

Luhan tertawa kecil. "Aku minta maaf tentang yang itu!"

"Aku mengerti, Kau sangat ekspresif sekali. Jadi aku bisa tau kalau Sehun mungkin memaksamu terlalu keras. Karena itu ku kira keinginannya untuk punya anak lebih besar daripada kau sendiri."

"Kurasa juga begitu. Dia selalu membicarakan tentang rencana -rencananya jika anak ini lahir. Sehun bahkan sudah memikirkan ke universitas mana anaknya harus kuliah!"

Kali ini Sarah yang tertawa. "Astaga. Apa ku bilang!"

"Apakah istri-istrinya yang sebelumnya tidak ada yang hamil?"

Sarah menggeleng putus asa. "Kalau soal bercinta, aku hanya mendengar suara-suara itu di bulan pertama, memasuki bulan kedua mereka berpisah. Sehun sudah tiga kali menikah dan semuanya seperti itu. Istrinya yang terakhir sedikit lebih lama, sempat mengandung tapi wanita itu menggugurkannya karena ia belum siap melahirkan anak. Menurutnya Sehun belum bisa memberikan jaminan untuk anaknya karena Sehun orang nomor dua di rumah ini. Aku kecewa mendengarnya. Dengan kata lain, wanita itu mengharapakan uang dari keluarga ini!"

"Aku harap aku tidak begitu. Bila suatu saat Sehun akan meninggalkanku juga bukan masalah besar, asalkan dia tidak memisahkanku dari anakku!"

"Astaga, sayang! Kenapa kau mengatakan itu? Kau dan Sehun tidak boleh berpisah. Berjanjilah!"

Luhan tersenyum getir. Ia ngin berjanji, sangat ingin. Tapi merasa tidak berhak memutuskan itu. Semua keputusan berada di tangan Sehun. Sehun juga tidak pernah memberikan isyarat akan mempertahankannya.

Waktu Luhan di rumah ini hanya tinggal sebulan lagi dan saat itu tiba, Sehun akan mengantarkannya pergi.

"Bagaimana dengan namanya?" Sarah bergumam lagi.

"Aku sangat menyayangi putraku, Yifan. Sehun juga sangat menyayangi Yifan, kami ingin dia hidup selamanya. Sayangnya kami kehilangan Yifan terlalu cepat. Tapi sekarang aku merasa anakmu terlahir untuk menggantikannya. Maukah kau menamai anak itu dengan namanya?"

Luhan terkejut. Ia harus menamai anak itu dengan nama Yifan? Sehun pasti setuju, Sehun tidak akan menolaknya selagi anak itu tidak memakai nama Oh yang sangat Sehun tidak sukai.

"Aku rasa Sehun akan setuju."

"Luhan!" Jackson tiba-tiba datang dan menyela.

Ia menoleh kepada Oh Sarah sejenak. "Maaf aku menyela, Nyonya. Sehun ingin aku mengantarkan istrinya ke Ottawa!"

Sarah memandang Jackson heran. "Kau tidak memberitahu apa -apa padanya, kan?"

"Tidak. Aku mengikuti instruksimu, Nyonya!"

"Lalu mengapa tiba-tiba mengajak Luhan ke Ottawa?"

"Kurasa mengenai pengobatan untuk mempercepat kehamilannya lagi!"

Sarah mengangguk-angguk mengerti. Sehun memang selalu berusaha melakukan berbagai cara agar Luhan cepat mengandung. Ia benar-benar bersemangat untuk Luhan dan calon bayinya.

"Kalau begitu, kau harus menyampaikannya sendiri kepada Sehun tentang kehamilanmu saat tiba di Ottawa nanti!"

Lalu kepada Jackson, "Kalian tidak boleh pergi naik Mobil. Belilah tiket pesawat, Luhan tidak boleh terlalu lelah. Kehamilannya sedang berada dalam bulan-bulan rawan sekarang!"

"Ya, Nyonya. Sehun juga memintaku melakukan itu. Bukan karena dia tau kalau istrinya sudah mengandung tentunya. Kurasa dia hanya tidak sabar untuk cepat bertemu dengan Luhan!"


Perjalanan menuju Ottawa sedikit rumit, tapi Luhan merasa perjalanan mereka pasti cukup singkat bila harus dibandingkan dengan perjalanan darat dengan mobil.

Jackson duduk di sebelahnya dan bercerita banyak hal tentang persahabatannya dan Sehun. Luhan sangat suka mendengarnya. Tapi karena perjalanan mereka begitu singkat, Luhan akhirnya harus menyimpan dalam-dalam keinginannya untuk mendengarkan cerita tentang Sehun.

Sehun sudah menunggunya di bandara. Ia menyerahkan kemudi kepada Jackson dan menunjukkan istruksi yang tidak jelas—setidaknya menurut Luhan—dan Jackson melakukannya. Luhan sangat ingin menyampaikan kabar baik saat itu juga. Tapi Sehun terlebih dahulu menutup matanya dengan sapu tangan sehingga pemandangan Luhan menjadi sangat gelap. Tentu saja ia sangat terkejut dengan ini.

"Kau tidak sedang menculikku, kan?" Kata Luhan.

"Tentu saja aku sedang menculikmu. Tapi kau tidak menolak untuk ku culik, kan? Kalau kau tidak bersedia, kau akan ku kembalikan ke rumah keluarga Oh di Calgary."

Luhan tersenyum tipis. "Bukankah sejak awal kau sedang menculikku makanya aku bisa berada di rumah Oh?"

"Ya, aku sangat bangga dengan kejadian itu. Jika tidak, aku tidak akan bersamamu di dalam mobil ini sekarang."

"Ya, dan aku…"

"Kita sudah sampai!" Sehun memotong ucapan Luhan.

Luhan nyaris saja mengatakan 'dan aku tidak akan mengandung anakmu seperti sekarang'. Ia sangat kecewa karena gagal mengatakannya.

Ternyata jarak tempat yang mereka tuju tidak begitu jauh dari bandara. Atau Jackson mengemudi dengan kecepatan super? Entahlah. Luhan hanya merasa harus pasrah saat Sehun menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari Luhan dan menggenggamnya erat.

Luhan membiarkan Sehun menggandengnya ke sebuah tempat yang masih misterius tanpa membiarkan Luhan melihat apapun. Sehun ingin membuat kejutan, itu yang pasti. Tapi Luhan sama sekali tidak bisa menebak kejutan seperti apa.

"Kita mau kemana?"

"Lebih tepatnya, kita berada dimana?"

Sehun akhirnya membebaskan Luhan dari kegelapan pandangannya. Luhan tidak tau harus bagaimana, ia sekarang berdiri di sebuah lingkungan tempat tinggal sederhana, tepat di depan sebuah rumah kecil dengan cat krim.

Rumah itu memiliki halaman yang tidak begitu luas tapi sangat nyaman. Tidak ada batasan dengan rumah-rumah lain di sekelilingnya dengan jalanan setapak di lapisi semen menuju pintu rumah. Rumput-rumput hijau yang baru di potong mengelilingi sebuah pohon besar yang memenuhi halaman.

Luhan menatap ke atap rumah dan ia yakin sedang melihat cerobong asap. Beberapa buah mobil berjalan pelan dan ia baru menyadari kalau rumah-rumah itu berada di pinggir jalan. Luhan menoleh kepada Sehun tak mengerti.

"Maksudmu apa!"

Sehun mengangkat bahu. Lalu menarik tangan Luhan untuk memasuki rumah.

"Ayo kita cari tau di dalam!"

Luhan memandang Jackson sejenak, laki-laki itu melambai dan kembali masuk ke dalam mobil. Selang beberapa detik, Luhan menghadapi pemandangan yang lain lagi. Benar-benar pemandangan rumah yang hangat.

Mereka memasuki ruang tamu yang memiliki sofa berwarna putih dengan meja kaca dan lampu kristal. Ada beberapa buah ornament yang terbuat dari kerang menempel di dinding yang di cat putih.

Sehun membawanya semakin ke dalam hingga mereka tiba di ruang tengah yang langsung terhubung ke dapur. Karpet bulu yang nyaman menghalangi sofa yang menghadap ke televisi untuk langsung menyentuh lantai. Luhan juga memandangi bar mini di antara dapur dan ruang tengah. Ada sebuah meja makan kecil dan tiga buah pintu di ruangan ini.

"Ini rumah siapa, Sehun?"

"Kenapa malah bertanya? Ini rumahmu, kan?"

Kening Luhan menjadi berlipat-lipat. "Ini bukan rumahku. Aku tidak punya rumah!"

"Ini rumahmu! Coba kau lihat itu!"

Sehun menunjuk beberapa lembar kertas yang berada di atas meja. Luhan masih heran, tapi rasa penasaran juga mendorong dengan lebih kuat lagi. Ia meraih kertas-kertas itu dan membacanya dengan perasaan aneh.

Surat-surat rumah, dan sebuah surat pemindahan kepemilikan bangunan dengan tertanggal hari ini. Beberapa detik kemudian Luhan melihat namanya terdaftar sebagai pemilik rumah itu, Oh Luhan? Luhan kembali menoleh kepada suaminya.

"Sejak kapan aku menyandang nama Oh?"

"Sejak kau menikah dengan seorang Oh!" Jawab Sehun.

"Atau aku harus mencantumkan nama Xiao Lu disana?"

"Sehun, jelaskan padaku!"

"Luhan. Rumah ini milikmu, aku membelinya dengan uangku sendiri, bukan dengan harta Oh. Demi anakku. Memang bukan rumah yang besar, tapi ku rasa cukup nyaman untuk kau tinggali bersama anakku nanti. Yah, meskipun anak itu belum ada."

"Bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa hamil? Kau akan mengambil rumah ini lagi?"

Sehun menggeleng. "Tentu saja tidak. Kau akan tetap memilikinya, ini benda pertama yang ku beli dari hasil kerja kerasku sendiri. Aku mengumpulkan uang gaji yang pantas ku terima selama mengurusi semua harta Yifan. Memang tidak banyak, semuanya sudah habis untuk membeli rumah ini."

Luhan merasakan sesuatu mendesak di dadanya. Ia sangat terharu, Sehun membelikannya sebuah rumah dengan uang yang selama ini disimpannya. Sehun mengorbankan harta berharga miliknya untuk Luhan. Dia sangat bahagia dan tidak bisa memungkiri itu.

"Aku juga akan mengirimu uang setiap bulan, uang gajiku, mungkin tidak besar. Aku tidak akan menghidupimu dengan harta Oh, sepeserpun! Aku ingin anakku dibesarkan dengan uangku sendiri."

Dan kau masih berfikir kalau kita suatu saat nanti akan becerai? Gumam Luhan dalam hati.

Sehun bertindak seolah-olah dirinya dan Luhan tidak akan berpisah selamanya. Ia terlalu membangun harapan terhadap semua ini. Sehun mungkin tidak sadar kalau ia juga sedang membangun harapan Luhan.

Jika saja dia tidak sedang mengandung, Luhan tidak akan sanggup menerima ini dan memilih untuk melarikan diri. Tapi sekarang dia sedang mengandung, setidaknya menurut tes sederhana yang dilakukannya di rumah begitu.

Luhan meraih kedua tangan Sehun dan menempelkan telapak tangan laki-laki itu di perutnya. Ia memandang Sehun cukup lama dengan tatapan haru. Beberapa waktu kemudian Luhan tersenyum dan berujar pelan.

"Sapalah anakmu, Dia pasti juga senang!"

Sehun memandangi tempat dimana kedua tangannya menempel. Ia termenung dan membeku. Butuh waktu lama bagi Sehun untuk memulihkan kesadarannya dan saat ia sadar, ternyata air matanya merembes. Ia merasakan Luhan menyeka airmata bahagianya dan menyentuh pipinya lembut.

"Benarkah, Luhan? Kau…" Sehun menggantung ucapannya. Ia masih tidak bisa percaya tentang semua prasangkanya. Kedua tangan Sehun berpindah ke bahu Luhan dan mengguncangnya perlahan.

"Katakan Luhan, maksudmu apa. Aku tidak ingin salah sangka!"

"Aku juga belum bisa percaya, Sehun! Tapi Sarah memergoki aku muntah muntah pagi ini. Mrs. Philarette sebenarnya sudah menduganya saat ia melihatku pucat sejak seminggu yang lalu. Tapi Sarah meminta Jackson membeli alat tes kehamilan dan menurut beda itu, hasilnya positif!"

"Benarkah? Apakah kau yakin? Alat itu bisa saja salah!"

"Ya, aku rasa Sarah juga berfikir begitu. Makanya ia memintaku melakukan tes yang sama dengan banyak alat tes kehamilan lain dari berbagai merek. Dan semuanya menunjukkan hasil yang positif!"

Sehun merasa harapan yang dirajutnya selama ini semakin membuncah. Akhirnya anak itu datang, akhirnya Tuhan mengizinkan Sehun merasakan kebahagiaan saat mengetahui kalau dirinya akan menjadi seorang Ayah. Akhirnya, usahanya selama ini tidak sia-sia. Sehun ingin memeluk Luhan dan berterima kasih. Tapi ia menundanya dan membawa Luhan keluar dari rumah itu.

"Kita harus ke dokter, aku harus memastikannya sekarang juga!"


TBC


Muehehe.. apdet!
Yang nanya ini nantik sampe chap berapa, kayaknya sampe chap belasan deh XD.

Makasih buat yang nge-fav, nge-foll, sama yang nge-review :)

Big Thanks and Big Hug to :

HunHanCherry1220, Nam NamTae, deerhanhuniie, PxnkAutumnxx, Arifahohse, ohhunhan5, ElisYe Het, Juna Oh, hunnaxxx, Seravin509, Miyoung, misslah, molly a.k.a syfr17, .39, Sarrah HunHan, nina zifan, Lisasa Luhan, JodohSeHun, SyiSehun, Luniaakimwu, XikaNish, pinkeuxo, Navizka94, rikha-chan, mandwa, and all Guest.

Last..
Review juseyo..
Gomawooo... :*:*