Sasuke membuka kedua kelopak matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah helaian-helaian berwarna merah muda tepat di depan hidungnya. Puncak kepala seorang wanita yang telah ia miliki jiwa raganya. Lelaki itu memejamkan mata, menghirup aroma bunga dari rambut merah muda tersebut. Dikecupnya puncak kepala sang istri yang ada dalam dekapannya.
Tak pernah sekali pun ia membayangkan kalau dirinya akan menemukan seseorang yang memang ditakdirkan untuknya. Seseorang yang melengkapi kekosongan jiwanya. Ia dibesarkan dalam lingkungan militer yang keras dan kaku. Namun, kehadiran wanita cantik yang masih berada dalam pelukannya ini memberikan kesan baru. Seolah sang istri adalah penyeimbang dalam kehidupannya. Ia tak berfirasat apa-apa saat pertemuan pertama mereka dulu. Tak menyangka kalau Sakura akan menjadi bagian dari hidupnya.
Suhu di luar semakin dingin karena salju kembali turun. Tak masalah, ia sama sekali tak terganggu dengan hawa dingin. Saat ini yang ia rasakan hanyalah kehangatan. Terutama hatinya.
Hatinya yang tak pernah terisi kini terasa penuh, hatinya yang biasanya dingin kini menghangat. Ia tak lagi merasa kosong.
Sesungguhnya, Sasuke sedikit takut untuk menyentuh istrinya sendiri, walaupun sebelumnya secara gamblang ia telah mengutarakan keinginannya untuk memiliki sang dara secara utuh. Ia takut tak bisa menahan diri karena sudah terlalu lama sejak terakhir kali ia menyentuh tubuh perempuan. Entahlah, ia sendiri sudah lupa kapan, mungkin sembilan atau sepuluh tahun yang lalu. Tubuhnya sendiri bisa dibilang cukup menakutkan dengan begitu banyak bekas luka sisa perang. Mungkin saja Sakura tak bisa menerimanya. Dan lagi, ia takut jika Sakura menjadi pelampiasan emosinya yang selama ini terpendam.
Nyatanya ia salah. Saat pertama kali melihat senyuman di wajah gadis itu, Sasuke tahu kalau ia tak akan pernah bosan dengan wanitanya. Saat pertama kali Sasuke menatap mata hijau itu dari dekat, ia tahu kalau gadis itu lebih kuat dari yang dibayangkannya. Mata itu menyiratkan kekuatan dan ketegaran. Saat pertama kali ia menyentuh bibir itu, Sasuke tahu kalau sudah tak mungkin baginya untuk melepaskan Sakura. Saat pertama kalinya tubuh mereka menyatu, saat itu Sasuke tahu kalau Haruno Sakura memang diciptakan untuknya. Dan saat percintaan mereka memuncak, Sasuke tahu kalau semua yang mereka lakukan, semua yang mereka lewati bersama, bukan hanya sekadar hasrat semata.
.
.
.
.
.
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by Morena L
Main chara: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Karin, Senju Tobirama
Warning: AU, OOC, typo, DLDR, rated M untuk konflik dan bahasan yang berat
.
.
.
.
.
.
.
Sementara Sasuke sedang mandi, Sakura memandangi tumpukan salju putih dari jendela kamarnya. Hujan salju semalam telah reda, menyisakan salju menumpuk tebal di pekarangan dan atap. Pepohonan juga ikut berubah warna menjadi putih.
Putih yang damai.
Wanita muda itu lalu ke luar dari kamarnya, menuju ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Sesampainya di dapur, ia menyapa Ayame yang sedang mencuci piring. Sakura mulai menimbang-nimbang, berpikir akan membuat sarapan apa di pagi hari.
"Anda sepertinya senang sekali," kata Ayame yang sedari tadi memperhatikan majikannya.
"Eh! Haha ... ti-tidak juga." Ia menjadi gelagapan. Rona bahagia memang terpancar dengan sangat jelas di wajahnya. Bahagia yang lebih dari biasanya. "Lupakan saja," sambungnya kikuk.
Sakura sangat bersyukur karena ia yang lebih dulu bangun saat fajar menjelang. Ia pasti salah tingkah seandainya tadi Sasuke yang lebih dulu bangun. Rasanya ia tak dapat menahan malu kalau mendapati mata kelam itu menatapnya yang baru saja bangun setelah percintaan mereka semalam.
Karin benar, pengalaman pertama akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan karena Sakura berani bersumpah ia tak akan bisa melupakan saat-saat di mana ia memberikan kesuciannya pada sang suami. Ada rasa bangga di dalam hati Sakura, karena pria yang mengambil harta berharganya itu adalah pria yang telah resmi menikahinya.
Ia sama sekali tak takut pada banyaknya bekas luka yang ada pada tubuh suaminya. Luka-luka itu adalah bukti sahih betapa pemberaninya sang suami. Bagi Sakura, Sasuke dengan bekas-bekas lukanya adalah objek paling gagah yang pernah ia lihat. Menyentuh bekas-bekas luka itu semalam, terutama luka sabetan pedang yang memanjang pada punggungnya malah membuat Sakura merasa sangat terhormat karena ia diberi kesempatan untuk menjadi istri seorang pejuang. Tingkah laku Sasuke memang kaku dan jarang bicara, tapi pria itu selalu memperlakukannya dengan baik. Sasuke bukanlah orang yang tak peduli, dia hanya orang yang tenang dan penuh perhitungan. Rasanya ia sudah mengambil langkah tepat dengan bersedia menjadi istri Uchiha Sasuke.
oOo
Kimimaro mengamati rumah berwarna putih dengan halaman luas yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Rimbunan perdu membantu menyamarkan keberadaannya. Suhu yang dingin sama sekali tak menyurutkan niatnya untuk mengintai.
Haruno Sakura ada di dalam sana. Bersama pria lain yang sekarang sudah menjadi suaminya. Kimimaro masih menekankan dalam otaknya kalau Sakura bukanlah tipe orang yang suka mengingkari janji. Mereka telah saling berjanji untuk memperbaiki hubungan mereka setelah Kimimaro kembali ke Tokyo. Ia masih tak mengerti sebenarnya apa yang menyebabkan kekasihnya itu kini menjadi istri Uchiha Sasuke.
.
"Aku tak ingin kehilanganmu," lirih Kimimaro.
"Tapi, kau mengkhianatiku," balas Sakura tak kalah lirih. Air muka gadis itu seperti sedang mendung, sangat muram.
"Aku mencintaimu. Sungguh," ujar Kimimaro lagi seraya berlutut di hadapan Sakura, "beri aku satu kesempatan lagi."
Sakura menghela napas dengan penuh beban. Mereka sudah menjalin hubungan cukup lama. Perjalanan kisah kasih mereka pun dilalui dengan cukup berat. Hubungan ini tak direstui oleh orangtua Kimimaro. Bahkan, diam-diam mereka menjodohkannya dengan putri dari keluarga lain. Tak ingin mengecewakan orangtuanya, Kimimaro menjalani perjodohan itu tanpa sepengetahuan Sakura. Bangkai yang disembunyikan suatu saat baunya akan tercium juga. Begitu pula dengan kabar pertunangannya yang akhirnya sampai ke telinga Sakura. Gadis itu begitu marah dan memutuskan hubungan mereka. Pihak keluarga perempuan yang tahu kalau ternyata Kimimaro diam-diam memiliki kekasih pun juga ikut memutuskan tali pertunangan. Keadaan menjadi serba salah.
Bisa saja Sakura memberikannya satu tamparan. Tapi, terlalu marah malah membuat gadis itu diam. Senyumnya yang biasa membawa keceriaan tak lagi ia tunjukkan.
"Aku tak ingin kehilanganmu, kumohon," seru pria itu lagi.
"Tetap saja kau akan pergi ke Kobe."
"Sakura, aku berjanji akan memperbaiki semuanya saat kembali ke sini. Kumohon, beri aku satu kesempatan."
Kimimaro tahu kalau Sakura adalah gadis yang pemaaf. Kesempatan keduanya telah ia dapatkan saat Sakura menganggukan kepala.
.
Maka di sinilah Kimimaro sekarang, di tengah hamparan salju, di balik rimbunan perdu, di tengan suasana dingin, menatap ke arah pintu rumah yang baru saja terbuka. Menunjukkan bunga musim seminya yang ke luar bersama seorang anak kecil dan seorang pria berseragam militer. Sakura melambai bahagia pada sang pria, lalu masuk kembali bersama dengan si kecil. Pemandangan yang masih belum bisa ia terima.
.
.
.
oOo
.
.
.
Baru saja tadi malam Karin mendapatkan sebuah kebahagiaan, kini ia harus kembali memendam kekesalannya. Yuuhi Kurenai, si monster, ada di rumahnya, berbicara sambil sesekali tertawa. Karin yang baru bangun tidur mengintip dari balik tangga. Tobirama tampak begitu santai berbincang dengan wanita itu.
Karin berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan emosi mendidih. Untuk apa lagi wanita itu datang ke sini? Ia pikir pertemuan mereka dulu adalah yang pertama dan terakhir. Tapi yang paling membuat Karin tak habis pikir adalah kenapa Tobirama bisa seakrab itu dengannya? Karin tak tahu kalau Tobirama bisa seramah itu dengan seorang perempuan. Bahkan ia memberikan senyumnya untuk Kurenai!
"Dia sering memarahiku dan wanita itu malah mendapat perlakuan ramah darinya?" umpat Karin tak percaya. Semakin lama langkahnya menjadi semakin cepat. Emosinya semakin tak terbendung.
Bukan hanya marah bercampur kesal, tapi ia juga takut. Masih terngiang di benaknya saat ia menanyakan perihal Kurenai dulu. Bukannya penjelasan yang di dapat, tapi perlakuan kasar. Malam itu adalah malam paling menyakitkan untuknya. Pria itu menggagahinya tanpa ampun, hubungan intim mereka begitu kasar dan keras. Hukuman yang Karin dapat malam itu benar-benar membuatnya kapok untuk melawan Tobirama.
Anehnya, pada malam berikutnya. Pria itu memperlakukannya dengan begitu berbeda. Pria itu jadi begitu lembut saat bercinta dengannya, memperlakukannya seolah ia akan hancur kalau sedikit saja diberi perlakuan kasar. Saking lembutnya sampai berkali-kali Karin merintih dan mengerang karena ia begitu menikmati permainan Tobirama.
Oh, sial! Wajahnya mulai memerah lagi. Karin memerintahkan otaknya untuk kembali fokus pada Yuuhi Kurenai. Pikirannya ini suka sekali berputar ke mana-mana kalau sudah menyangkut Tobirama. Yang membuatnya sakit hati saat malam di mana Tobirama menghukumnya itu adalah Kurenai—si penyihir wanita. Kalau bukan karena Kurenai, ia pasti akan sangat menikmatinya, pada dasarnya Karin menyukai semua yang dilakukan Tobirama, baik lembut, keras, mau pun yang kasar.
Benar saja, wajahnya sudah semakin merah.
"Oh, Karin, ada apa denganmu?" gerutunya pada diri sendiri.
oOo
Hampir dua jam ia seperti orang gila di kamar, namun Tobirama tak kunjung datang. Apa saja yang mereka bicarakan sampai selama ini, sih? Karin ingin mengintip lagi dari balik tangga, tapi niatnya itu kembali diurungkan. Ia sudah ketahuan tadi, dari lirikan mata lelaki itu saja, Karin tahu kalau persembunyiannya sudah ketahuan.
Langkahnya yang seperti laju kereta itu terhenti saat Tobirama menutup pintu. Dipandanginya pria itu seperti singa betina yang sedang murka.
"Kenapa? Cemburu?"
Karin membuang muka. Ck. Tak ada yang bisa ia sembunyikan dari pria itu. Satu kali lihat saja maka semuanya langsung ketahuan.
"Lain kali kalau mau mengintip jangan di tangga," bisik pria itu di telinga Karin. Seperti mengejek karena dengan begitu mudahnya ia tahu apa yang Karin lakukan.
"Kau mengejekku?" Didoronganya pria itu sampai jatuh di atas tempat tidur besar mereka. Dengan gaya yang sangat sensual, ia merayapi kaki Tobirama. Lalu, menduduki pinggang lelaki itu. Tobirama sendiri hanya menyeringai tipis, menebak-nebak akan apa yang ingin dilakukan Karin.
"Bertemu kekasih lama memang menyenangkan, ya," ujarnya sambil membuka sabuk celana pria itu.
Lelaki itu mengerutkan alisnya.
"Sama menyenangkannya dengan melihat Neji beberapa kali."
Ini mulai berbahaya, karena wajah Tobirama mulai sedikit mengeras.
Gadis berambut merah itu mulai membuka satu persatu kancing baju lelaki yang berada di bawahnya. Ia melakukannya dengan begitu pelan.
"Apa kau masih terus teringat padanya?" satu kancing baju terlepas.
"..."
"Tak bisakah dia menjauh saja?" kancing kedua menyusul. Suasana di dalam ruangan semakin panas. Ah, tidak, hawa di antara mereka berdualah yang memanas. Bulir keringat sudah mulai bermunculan di dahi Karin. Tobirama masih belum bereaksi apa-apa. Tapi, Karin tahu kalau dia berhasil memberikan pancingan, ia dapat menangkap napas Tobirama yang sedikit memburu. Dari celah kemeja yang terbuka ia memasukkan tangannya. Mengelus sebentar tubuh pahatan dewa itu.
"..."
Terus Tobirama mendiamkan semua pertanyaan Karin sampai semua kancing pada kemejanya terlepas. Wanita muda berambut merah itu menyapukan tangannya pada dada bidang itu, pada perut yang terbentuk dengan sempurna. Ia sedikit memundurkan tubuhnya, menatap lapar pria itu saat jemarinya mulai membuka kancing celana lelaki itu dan dengan begitu pelan menurunkan resletingnya. Kembali ia mengusap perut pria itu, memanfaatkan kesempatan karena selama ini ia tak pernah berada di atas.
Tobirama terkekeh pelan, masih membiarkan wanita itu bermain-main. Rupanya, tak buruk juga memberikan sedikit kesempatan pada Karin untuk memegang kendali sebelum nanti ia menunjukkan siapa yang sebenarnya berkuasa di antara mereka.
"Apa yang kautertawakan?" Karin mulai mencium perut pria itu, naik ke atas, semakin ke atas, terus ke atas. Pria itu memejamkan matanya saat wanita yang berada di atasnya itu memberi kecupan liar di lehernya. Ia merasakan sedikit perih, sepertinya kali ini Karin berhasil membuat tanda pada lehernya. Benar saja, wanita itu menyeringai puas melihat hasil karyanya pada leher Sang Adam. Sampai detik ini, Tobirama belum berbuat apa-apa, masih membiarkan Karin melakukan segala hal yang diinginkan wanita itu. Pengalaman berkali-kali menghabiskan malam—kadang pagi atau siang—dengannya membuat wanita ini cepat belajar, membuatnya tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Tobirama, dan bagaimana cara paling ampuh memancing Tobirama untuk lebih mendominasi lagi.
Hanya dengan sekali gerakan saja, kini posisi mereka berbalik. Lelaki itu berada di atas, sepertinya saat ini ia kembali memegang kendali. "Kecemburuan membuatmu menjadi liar begini? Menarik." Suaranya yang begitu tenang malah membuat tubuh Karin semakin panas. Oh, dia butuh pria ini sekarang.
"Menyalahkanku? Bukankah kau menyukainya?" pancing Karin. Ia sengaja mengarahkan jemarinya, menyentuh tanda-tanda kemerahan yang baru saja ia ciptakan di leher Tobirama.
"Aku lebih suka menandai. Kalau ada yang mencoba menandaiku, maka aku harus membalasnya berkali-kali lipat."
Karin menahan dada pria itu yang mulai bergerak turun. "Sabar, Sayang, bukankah siang ini kau punya banyak pekerjaan?" ujar Karin berusaha memperlama aksi Tobirama.
Pria itu tersenyum sinis. "Aku yang mengatur pekerjaanku, bukan pekerjaan yang mengaturku."
Wanita itu tersenyum puas. Ia mengangkat tubuhnya saat gaun tidurnya dilepas. Aktivitas kali ini dipastikan akan sangat lama, menguras tenaga, menghasilkan banyak desahan bahkan teriakan. Dan yang pasti, akan membuat Karin memohon-mohon.
.
.
.
oOo
.
.
.
Siap tak siap, Sakura harus menghadapinya sekarang. Undangan ini sebenarnya ditujukan untuk ayah mertuanya, namun karena beliau sedang sakit dan kakak iparnya, Itachi, sedang ada urusan di luar kota, maka mereka berdualah yang pergi menggantikan. Dirinya dan Keluarga Kaguya bukanlah sesuatu yang asing. Ia pernah beberapa kali bertemu dengan keluarga Kimimaro. Tanpa perlu dijelaskan secara eksplisit pun ia tahu kalau mereka tidak menyukainya.
"Kau tak sehat?" tanya Sasuke.
"Aku baik-baik saja." Sakura memamerkan senyumnya untuk meyakinkan sang suami. Ia tak ingin pria itu tahu keresahan hatinya. Sakura sudah memutuskan untuk menyelesaikan smeuanya malam ini. Ia tak ingin memperumit situasi dengan membiarkan kondisi ini terus belarut-larut. Sakura akan menemui Kimimaro untuk menjelaskan semuanya, ia harap pria itu bisa mengerti.
Sang pemilik rumah, ayah dari Kaguya Kimimaro, sekali lagi harus terkejut melihat sosok yang sejak dulu tidak ia sukai. Perempuan yang dianggapnya tidak sepadan dengan keluarganya. Haruno Sakura datang bersama suaminya, Uchiha Sasuke. Lelaki paruh baya itu seolah lupa kalau Sakura kini merupakan bagian dari Uchiha. Ia menggandeng lengan suaminya yang mengenakan seragam kebesarannya di militer. Tamu yang hadir tampak menyapa pasangan pengantin baru itu. Pemimpin Kaguya itu juga sudah mendengar kalau Uchiha Sasuke menikahi istrinya pada bulan Oktober kemarin.
Sama halnya dengan sang ayah, Kimimaro tampak terkejut melihat Sakura datang bersama suaminya. Sakura tampak cantik dengan kimono berwarna hijau yang dikenakannya. Dadanya dipenuhi api cemburu saat melihat betapa mudahnya Sakura memamerkan senyuman. Apalagi saat ia menatap sang suami, seolah ada pandangan penuh kekaguman di sana. Semudah itukah Sakura menggantikan tempatnya dengan lelaki lain?
"Selamat datang, Uchiha-san," sapa Kimimaro. Pria itu memperhatikan perubahan air muka Sakura. Matanya sedikit memicing tajam saat menangkap bayangan Sakura yang mempererat gandengan pada lengan suaminya.
"Kaguya-san," balas Sasuke.
"Istri Anda?" ia sengaja bertanya, membuat sosok wanita yang berada di antara mereka semakin kikuk.
"Hn."
"Istri Anda sangat beruntung kalau begitu," ujar Kimimaro dengan senyum yang dibuat-buat.
"Tidak. Aku yang beruntung." Jawaban itu membuat Sakura dan Kimimaro terperangah. Wanita dengan rambut sewarna kelopak Sakura itu menatap suaminya takjub. Walaupun mengucapkan dengan ekspresi datar, namun perkataannya sarat akan makna. Sekali lagi, Sakura merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
oOo
Sasuke tak begitu menikmati suasana pesta. Ia memang tak suka pada keramaian. Uchiha Bungsu ini lebih suka menghabiskan waktu mengurusi pekerjaannya, atau menghabiskan waktu bersama keluarganya di rumah. Ia tak begitu suka suasana seperti ini, keadaan mengharuskannya bertemu dan berbincang dengan banyak orang—apalagi jika topik perbincangannya adalah hal yang tak ia sukai.
Lelaki itu menurunkan kepalanya saat Sakura hendak berbisik sesuatu. Istrinya itu memberi tahu kalau ia ingin ke kamar kecil. Sasuke mengangguk dan membiarkan wanita itu pergi. Untung saja ada Sakura jadi ia tak begitu bosan. Dulu, saat Shikamaru masih hidup, mereka berdua selalu memilih tempat di pojok ruangan. Tujuannya sudah pasti untuk menghindari keramaian.
oOo
Saatnya menuntaskan segalanya. Sakura melihat Kimimaro yang meninggalkan ruang pesta. Gadis itu berbisik pada Sasuke, seolah berpura-pura hendak ke toilet. Ia ingin menyelesaikan semuanya sesegera mungkin.
"Kimimaro." Panggilannya membuat langkah pria itu terhenti. Sakura menguatkan hatinya saat pria itu berbalik dengan tatapan penuh amarah. "Kita harus bicara."
"Ya," balas Kimimaro tajam. "Kita memang harus bicara."
Mereka berdua berpindah ke ruangan lain yang sepi. Tak ada seorang pun, hanya berdua. Sakura mengembuskan napas. Ia sudah mantap untuk menyelesaikan apa yang belum selesai di antara mereka.
"Kau pasti sudah tahu kalau aku telah menikah—"
"Dan mengkhianati janji kita?" potong Kimimaro.
"Saat itu aku dalam keadaan yang tak bisa menolak—"
"Sudah kuduga, kau pasti di bawah tekanan," potong lelaki itu lagi.
"Jangan memotong perkataanku," tegur Sakura. Bagaimana ia dapat menjelaskan kalau perkataannya selalu disela?
"Aku ingin menyelesaikan semua yang pernah ada di antara kita. Maafkan aku," ujar Sakura sambil menunduk, "aku sudah bersuami sekarang, jadi kuharap kau melupakan semua yang pernah ada di antara kita."
"Kau memintaku untuk melupakan semuanya?" Kimimaro menggeleng tak percaya. "Semudah itu!? Tak kusangka kau perempuan seperti ini. Kupikir kau bermartabat, tapi kau sama rendahnya dengan para pelacur!"
Sakura tertegun. Kimimaro ... menghinanya?
"Kenapa? Dia lebih kaya dariku? Keluarganya lebih terhormat dariku?" lelaki itu tertawa sinis. "Aku curiga, mungkin saja kau yang merayunya. Tak kusangka perempuan yang kusangka punya prinsip bisa serendah ini."
Tubuh Sakura gemetar.
Kimimaro semakin dikuasai emosi.
"Tak heran kau mau menikah dengan pengecut yang kalah perang seperti itu!"
Mata pria itu membelalak seiring dengan bunyi yang cukup memekakkan telinga. Pipinya panas, perih.
Sakura tak memedulikan sakit pada tangan kanannya yang baru saja menampar Kimimaro. "Aku tak peduli kalau kau menghinaku. Tapi, jangan coba-coba menghina suamiku! Dia sudah berjuang demi negara ini, dia mengorbankan tenaga, keringat, dan darah!
"Kau bilang suamiku pengecut? Dia bertarung di garis depan melawan tentara musuh, sedangkan kau? Memberi tahu orangtuamu perihal hubungan kita saja kau tak berani! Siapa yang pengecut di sini!?"
"Sakura."
"Aku tidak akan menjadi milik orang lain kalau kau berusaha mempertahankanku. Tapi, yang kaulakukan malah diam-diam menerima pertunangan dengan gadis lain karena tak bisa melawan ayahmu. Saat hubungan kita ketahuan pun kau lebih memilih pergi ke luar kota, membantu bisnis ayahmu, dan menyenangkan beliau. Kau tidak pernah sekali pun menjadikan aku sebagai prioritas utamamu.
"Kalau kau sungguh-sungguh menginginkanku, kau pasti akan terus memperjuangkanku. Tadinya aku merasa bersalah, tapi sekarang tidak lagi. Hubungan kita rapuh sejak awal. Kita tidak punya fondasi yang kuat untuk mepertahankan hubungan ini. Sekarang aku baru sadar, sebenarnya kita sudah berakhir sejak lama. Sejak kau tak pernah menunjukkan usaha untuk mendapatkan pengakuan dari orangtuamu. Aku selalu bersabar dengan hubungan diam-diam kita. Tapi kau, kau yang menghancurkan segalanya dengan menerima pertunangan dengan gadis lain. Sendainya kita memulai kembali dari awal pun hubungan ini tak akan berhasil."
"Sakura."
"Aku mencintai suamiku. Kuharap kau mau mengerti." Telak menghujam jantung. Tepat sasaran.
Kimimaro membatu. Ia tak bisa berbuat apa-apa saat Sakura meninggalkannya. Telinganya tak salah dengar, kan? Sakura mengatakan kalau dia mencintai suaminya? Benarkah mereka memang sudah berakhir? Kata-kata Sakura tadi mengiris-iris hatinya. Seketika ia menyesali reaksi bodohnya akibat terpancing emosi tadi. Jujur saja, ia sangat cemburu pada Uchiha Sasuke sehingga mengeluarkan kata-kata yang ia sendiri tidak tahu asalnya dari mana. Ia hanya mengemukakan semua yang ada dalam hatinya tanpa berpikir panjang. Akibatnya memang sungguh sangat fatal. Sakura menjadi sangat murka dan berbalik memojokkannya.
.
.
.
oOo
.
.
.
Karin memainkan jarinya pada dada Tobirama. Ia begitu malas untuk beranjak dari tempat tidur, masih ingin berlama-lama dalam dekapan pria itu.
"Minta diserang lagi?"
Karin tertawa kecil. "Cukup untuk hari ini, Tobi."
Karin sangat menikmati permainan Tobirama yang begitu mendominasinya tadi. Ia suka saat melihat wajah kepuasan Tobirama, terlebih jika itu karena dirinya. Awalnya, Karin tak pernah berpikir kalau ia akan sanggup mengimbangi lelaki itu. Kenyataannya, ia sudah meremehkan dirinya sendiri. Ia sanggup mengimbangi semua perlakuan Tobirama. Karin bahkan tak tahu dari mana datangnya kekuatan yang membuatnya terus bisa beradaptasi dengan Tobirama yang semakin hari semakin menuntut.
"Kau pernah ke mana saja?"
"Dalam negeri atau luar negeri?"
"Luar negeri."
Tobirama berpikir sejenak. Ia sudah pergi ke berbagai negara selama beberapa tahun terakhir. Bertemu dengan banyak orang dan membangun relasi bisnis. "Aku paling suka Uni Soviet. Mereka tegas dan wanita-wanitanya sangat cantik."
Karin mencubit lengan lelaki itu. "Sudah berapa banyak wanita yang kaukencani?"
"Aku tak pernah menghitungnya."
Mengingat perkataan Tobirama dua malam yang lalu, Karin berpikir lagi. Mungkinkah ia adalah orang yang dipilih Tobirama untuk berkomitmen seumur hidup? Sungguh tak terduga, seorang petualang seperti Senju Tobirama ingin berhenti dan membangun keluarga. Bisa saja itu dirinya, bisa saja juga orang lain. Kurenai misalnya. Atau bisa siapa saja. Pria ini tinggal memilih. Sekali ia menentukan pilihan, maka ia pasti akan mendapatkan pilihannya. Yang pasti, wanita yang akan dipilihnya nanti sudah tentu tak akan menolak. Wanita bersuami pun pasti akan menceraikan sang suami jika sebagai gantinya dia mendapatkan Tobirama.
"Apa yang kaupikirkan?"
"Tak ada. Aku hanya ingin menikmati waktuku saja." Karin lalu menyibak selimut, bangkit dari tempat tidur. Ia meraih kemeja Tobirama untuk menutupi tubuhnya. "Aku mau mandi. Mau ikut?"
Tobirama menggeleng, membiarkan Karin menghilang di balik pintu kamar mandi.
Di dalam kamar mandi tiba-tiba ia merasa mual. Ini pasti karena terlambat makan. Sejak tadi ia memang tidak beranjak dari sisi Tobirama. Makanan yang masuk ke perutnya hanya makanan saat sarapan.
Akhir-akhir kondisinya memang tak sehat. Belum lagi ia belum mendapat tamu bulanannya, padahal dia sudah telat hampir dua minggu.
Karin terhenyak.
Ia menatap bayangannya di cermin dengan gugup. Ia sudah telat hampir dua minggu, kemarin tiba-tiba ia meminum kopi hitam kesukaan Tobirama, dan sekarang ia merasa mual. Tidak mungkin. Mereka sejak awal bermain aman. Walaupun Tobirama tak pernah mengenakan pengaman, tetapi Karin rutin meminum obat pencegah kehamilan.
Tidak. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri. Ia pasti telat karena banyak pikiran akhir-akhir ini. Karin pernah mendengar kalau terlalu lelah juga mempengaruhi kondisi tubuh. Rasa mualnya sekarang pasti karena ia terlambat makan. Ya, pasti karena itu.
Rasa gugupnya semakin tak terbendung saat pintu kamar mandi diketuk dari luar.
"Ya, Tobi?"
"Aku berubah pikiran, buka pintunya," ujar lelaki itu dari luar.
Karin kembali menatap cermin. Ekspresi gugupnya tercetak jelas sekarang. Tidak boleh. Tobirama tak boleh menyadari kekalutannya. Jika dia tahu Karin sedang menyembunyikan sesuatu, ia pasti akan segera menemukan jawabannya. Tobirama bukanlah orang yang mudah untuk dibohongi. Pria itu dapat dengan mudah menemukan kejanggalan yang berada di sekitarnya.
"Sebentar," timpal Karin. Ia berusaha memberikan ekspresi sewajar mungkin sebelum membuka pintu kamar mandi.
oOo
"Kau sakit?" tanya Tobirama saat mereka sedang menikmati makan malam.
Karin hanya menggeleng.
"Besok periksalah ke dokter."
"Aku tidak apa-apa," jawab Karin.
"Lebih baik memeriksa lebih dini. Kalau kau tidak sakit, ya, tidak apa-apa, tapi kalau kau sakit?"
Karin begitu terharu mendengar semua ucapan Tobirama.
"Kenapa menangis?" pria itu menyatakan kebingungannya.
"Tidak, tidak apa-apa, mungkin hormonku sedang tidak stabil," jawab Karin seadanya.
Tobirama mengernyitkan keningnya. Ia tak terlalu memahami masalah yang menyebabkan emosi perempuan berubah dengan begitu cepat. Karin sendiri hampir mengumpat karena tiba-tiba menangis. Ia sendiri juga tak tahu kenapa air matanya keluar tanpa bisa dicegah. Ayolah, dia bukan gadis yang cengeng. Ia tak gampang menangis, lalu kenapa hanya karena Tobirama menyuruhnya ke dokter ia sampai menitikkan air mata?
.
.
.
Tbc
A/N:
Akhirnya fict ini di-update lagi. Ga terasa fict ini bentar lagi tamat. Yoo, 3 chapter lagi tamat hehe semoga terlihat ya perubahan pada masing-masih chara dari chapter 1-10 ini.
Balas review dulu, yang login cek PM ya
Dita love sasusaku: yosh, udah lanjut
Pra: makasih, udah lanjut nih ;)
Mysaki: makasiiiihhh, iya sekarang lagi demen bikin lime aja hehe
Ara-chan: makasih, huhu belum tahu TobiKarin hepi/sad #dilempar
Uchihayhukacherry: wah udah nunggu dedeknya Kenichi aja hehe
Rainy de: keluarganya Kimi udah kenal Sakura
Harakim98: makasih :3
Aszriel: tengkyu nee-chan
Ac.y: makasih. Baik Sasusaku dan tobikarin, ga ada yang lebih diutamain di fict ini hehe kedua pasangan ini posisinya seimbang.
Sasusakulovers: makasih :D
Riatokid: semua tergantung bang Tobi sih TT ho'oh, akhirnya sasusaku ngelakuin yang iya2 juga hehe
Lynn Sasuke: aku lagi malas bikin lemon soalnya hehe
Ayuzawa uchiha: udah apdateee ;)
Zombie: makasihhh ini udah update
R: ga kok, duo kaguya kemarin datang karena ada urusan sama papa fugaku. Naruhinaneji mungkin dijelasin dikit di akhir nanti, fict ini hanya fokus ke Sasusaku dan Tobikarin aja soalnya hehe
Monichan: makasih :3
Hachiko desuka: udah ga sabar nunggu dedeknya Kenichi ya? Kalau gitu semangatin Sasu biar gencar bikinnya #hoi
Yuki: makasih ;)
Hans: makasih ;)
Tequilla: makasiiiih ;) ini udah update
Laura pyordova: wkwkw sepertinya banyak yang kaya kamu, pada nunggu kapan Sasuke dan Sakura ngelakuin malam pertama. Akhirnyua ya hehe ... ada waktunya kok buat Kenichi manggil mereka ayah dan ibu, tunggu aja ya ;) ihiiiiiy, udah mikirin aja masa depannya
Iis alfa: makasih ;)
Haruchan: silakan teriaaaak :3
Rika widdy: makasih ;)
Ria: bilang ke sasuke biar semangat bikin adiknya kenichi wkwkwk
Kuya: udah update ;)
Silent reader: makasih ;) udah update
Nurhyt: udah updateee ;)
Kazuran: Sasuke, tuh udah pada nunggu kapan sakura hamil #dilempar
Taca haruno: udah lanjut ;) btw, bukan aku yang bikin Morte III
Tamu bulanan: OK! Udah lanjut :D
Namiko mizuka: makasih, ini udah update :D
Btw, selamat Idul Fitri bagi readers yang merayakan ^.^
Saya tunggu tanggapannya untuk chapter ini, ya. Makasih semuanya :D
