Sepanjang perjalanan Itachi terus diam, pikirannya saat ini begitu kacau. Tidak tahu harus berbuat apa, segala hal yang sudah dia upayakan agar jati dirinya tidak ketahuan sia-sia belaka. Kurama, pemuda biasa itu mengetahui segala hal tentang kehidupannya semasa Itachi masih atau menjadi pewaris keluarga Uchiha. Itachi risau akan hal ini, Naruto berjalan di samping pemuda itu mengetahui ada sesuatu yang terjadi pada Itachi semenjak pemuda itu keluar dari rumahnya.

"Ada apa, Itachi?"

Itachi berusaha menekan kegundahan hatinya saat ini "Tidak ada apa-apa."

Naruto menghentikan langkah Itachi, memegang erat jemari pemuda yang lebih tinggi itu dan menatap manik onyx Itachi "Benarkah?"

Itachi mengalihkan pandangannya "Iya."

Pegangan erat Naruto mengendur mengetahui Itachi menghindari tatapannya, hati Naruto sedikit sakit mendapati hal ini. Dia merasa Itachi tidak mempercayai dirinya untuk menanggung beban yang sama padanya. Naruto harus melakukan sesuatu pada Itachi, dia tidak ingin hubungan mereka berakhir hanya karena tidak memiliki rasa saling percaya.

Ditarik lah kerah kemeja Itachi, mengharuskan pemuda tinggi itu menunduk sedikit dan tanpa ia duga sang penarik menempelkan bibir mungilnya di bibir miliknya. Mata Itachi membulat, dia merasakan bahwa Naruto menginginkan dirinya agar tidak terpuruk lagi. Ciuman itu begitu singkat namun memiliki arti penting untuk Itachi. Naruto melepaskan ciuman singkatnya, menatap manik Itachi langsung "Aku sudah mengatakannya bukan?"

Naruto membawa kepala Itachi ke perpotongan lehernya, memeluk erat tubuh Itachi "Aku akan selalu melindungi apapun yang terjadi jadi tolong bersenderlah padaku."

Itachi menangis, ini pertama kalinya ada seseorang yang mengetahui kegundahan hatinya. Dia terlalu lemah untuk Naruto tapi perlakuan dan perkataan Naruto untuknya saat ini telah memperkuatnya. Dalam hatinya, Itachi berjanji dia akan melindungi hubungan mereka apapun caranya.

Itachi membalas pelukan Naruto, semakin dalam kepalanya di perpotongan leher Naruto. Wangi citrus Naruto cukup menenangkan dirinya "Arigatou." Ucap Itachi di sela-sela tangisnya.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Rate : T.

Pair This Chapter: ItaNaru, SasuNaru, ItaShi (Friendship) and ItaSaku.

Genre : Romance. Family and Drama

Warning : There is content Slash, Yaoi, BoyxBoy, Boys Love, AU, Ooc, Oc, and Typo so don't blame me cause I have warned you.

.

.

Sakura menatap pantulan dirinya sesekali mata jade hijaunya melirik smartphone yang teronggok di atas meja rias di ruangan tersebut. Raut cemas tak dapat di sembunyikan dari wajah cantiknya. Percuma riasan yang sudah di tata sedemikian cantiknya di wajah putih mulusnya itu kini sia-sia saja, Sakura memang seorang gadis cantik bersuara emas itu yang di katakan para fansnya namun dia juga seorang manusia biasa dimana dirinya tak dapat menyembunyikan segala perasaannya untuk saat ini apalagi berkaitan dengan sang kekasih hati atau mungkin bisa dapat di katakan sang calon kekasih hati.

Uchiha Sasuke.

Anggota Akatsuki, sebuah band ternamaan yang sedang naik daun beberapa tahun belakangan ini berkat sebuah single yang baru pertama kali keluar langsung melejit di setiap chart musik di acara musik di negara bunga sakura tersebut. Pemuda yang sama umurnya itu tak pernah lagi menghubunginya dengan alasan sibuk tur keliling kota bersama anggota Akatsuki lainnya. Sakura mengerti atas hal itu, dirinya juga mengalami hal serupa dengan Sasuke. Dimana dia harus di sibukan dengan berbagai jadwal acara on air ataupun off air di negara tercintanya ini namun sekalinya dia sesibuk itu, gadis bersurai buble gum itu akan selalu bisa membalas pesan dari Sasuke dulu dan Sasuke pun juga selalu menyempatkan diri untuk berbalas pesan dengan Sakura.

Namun itu dulu, sekarang segalanya berubah. Sasuke bukan lagi pemuda yang di kenal Sakura beberapa bulan belakangan ini. Pemuda itu berubah menjadi Sasuke yang dulu, Sasuke yang dingin, cuek dan tidak berperasaan lagi. Sakura menyadari perubahan ini dan hatinya mulai tidak bisa tenang. Di hati kecilnya berbisik jika Sasuke hanya mempermainkan perasaannya namun ego gadis bermarga Haruno itu terus menyangkalnya.

Sakura saat ini hanya bisa berharap hati kecilnya ini salah karena jika benar terjadi maka dia telah menjadi seorang gadis bodoh yang sudah meninggalkan sang mantan hanya demi janji manis seorang pemuda bernama Sasuke.

Tak mau perasaannya di gantung seperti ini, Sakura mengambil Smartphone bermotif punggung seorang gadis berkepang itu hanya untuk mengetikan sebuah kalimat untuk sang pujian hati.

Subjek : Ayo bertemu !

From : Sakura

To : Sasuke

Sas aku kangen padamu. Bisakah kita bertemu sebentar?

Send

Senyum lega terpatri di wajah Sakura. Dia sudah agak tenangan dengan mengirimkan pesan tersebut Sakura berharap Sasuke segera membalas pesannya. Ditaruhnya kembali smartphonenya tersebut di atas meja rias yang di penuhi oleh beberapa alat make up, sambil menunggu balasan Sakura menambahkan lagi blush on berwarna agak ke merah mudaan itu di wajah putihnya berusaha mengalihkan berapa lama waktu yang harus dia lewati hanya untuk sebuah balasan. Tak perlu waktu lama sebuah getaran dari smartphonenya itu mampu mengalihkan perhatian Sakura.

Subjek : Re; Ayo bertemu !

From : Sasuke

To : Sakura

Maaf aku sibuk ! Tidak bisa bertemu sekarang.

Wajah Sakura berubah muram, senyuman yang tadinya terpatri kini memudar. Sakura tak menyangka undangannya lagi-lagi di tolak oleh Sasuke untuk kesekian kakinya. Sakura cukup bersabar menghadapi hal ini selama ini tapi kesabarannya juga ada batasnya. Ujung mata jadenya terasa berat, gadis itu tahu kalau dia sudah tidak bisa menahannya lagi dan lelehan sebutir air mata itupun terjatuh juga melewati make up yang sudah di goreskan di atas wajahnya itu.

"Sakura."

Panggilan itu mereflekskan tangannya untuk mengambil selembar tissu yang ada di atas meja hanya untuk menyembunyikan air matanya dari orang yang memanggilnya itu.

"Ada apa?" Tanya Sakura tanpa menoleh hanya melihat dari pantulan kaca meja rias di hadapannya itu.

Seorang wanita membawa walkie talkie, berkacamata agak besar dan rambut hitamnya yang tergelung tak rapi itu hanya memperlihatkan sebagian badannya sisanya berada di luar ruangan sementara milik Sakura mengerutkan dahinya "Apa kau sudah siap?"

"Ya, sebentar lagi aku hanya perlu beberapa menit untuk menyempurnakan penampilanku."

Wanita berkacamata itu tersenyum menerima balasan sopan dari Sakura "Baiklah kalau begitu aku akan menunggu di luar, acara akan di mulai beberapa saat lagi aku harap kau cepat."

Sakura mengangguk dan pintu tertutup. Segera saja Sakura merapikan dandanannya dan mulai menampilkan senyuman palsunya. Ketika yakin semuanya sempurna Sakura mulai bangun dan berjalan keluar ruangan tersebut meninggalkan smartphonenya tergeletak di atas meja rias tersebut.

.

.

"Beginilah susunan konser kita."

Sasuke tidak mendengarkan, pikirannya melayang kemana-mana. Tentang hubungan Itachi dengan Naruto, pemuda yang sudah menjungkar balikan kehidupannya belakangan ini. Hal ini menyebabkan instruksi sang leader Akatsuki tak di perhatikan. Shisui sedikit tersinggung atas sikap Sasuke. Tak sopan dan menganggap remeh sang leader begitulah pikiran Shisui.

"Ehmmm."

Deheman tersebut mampu membalikan kesadaran Sasuke.

"Maaf."

"Aku mengerti jika kau sedang memikirkan tentang gosip yang beredar tapi tolong fokus untuk sekarang, Sas."

"Oke."

Jawaban singkat itu membuat kedua pemuda lainnya yang mendengarnya mendengus tidak suka. Sasuke menyipitkan matanya.

"Apa ada masalah?"

Nagato dan Sasori tersenyum meremehkan "Tidak ada."

"Oke kalau begitu rapat ini kita lanjutkan." Suara tegas Shisui begitu kencang, sanggup membuat ketiga pemuda lainnya terdiam mendengarkan "Siapa di antara kita yang akan berduet dengan penonton saat break di konser nanti?"

Nagato menggeleng menolak, tidak mungkin seorang drummer berduet dengan seorang penonton bagaimana keduanya harus menyesuaikan satu sama lain. Mata Shisui melirik dua pemuda lainnya "Jadi siapa di antara kalian yang akan berduet dengan penonton?"

"Aku."

Sasuke dan Sasori saling menatap, begitu mengetahui keduanya menjawab bersamaan.

"Kenapa kau ingin ikut? Apa kau tau penonton akan kesulitan jika di iringi dengan alat musik bass seharusnya kau memikirkan hal itu, Pangeran dingin."

Sasuke cuek akan sindirian Sasori "Siapa yang bilang aku akan mengiringi penonton dengan bass?"

"Terus bagaimana kau akan mengiringinya?"

"Tentu saja dengan gitar."

"Apa?" Sasori berdiri, matanya menyalang ke Sasuke "Itu posisiku." Jari terancung ke Sasuke "Apa kau ingin mengambil posisiku setelah posisi Itachi kau rebut, hah?"

"Sasori berhenti." Shisui menegur.

"Tidak, aku tidak akan berhenti Shisui." Ucap Sasori memandang Shisui lalu kembali menunjuk Sasuke yang diam seribu bahasa "Jangan mentang-mentang kau merasa sudah menggantikan Itachi seenaknya saja kau bertingkah seperti ini."

Sasuke terdiam, Sasori masih melanjutkan segala hal yang di pendamnya. Apapun itu mulai dari sikap dan kelakuan Sasuke selama ini pada mereka terutama Itachi "Kau tidak akan pernah bisa menjadi Itachi, kau hanyalah seorang pengganti Itachi di keluarga Uchiha."

BRAK

Semua menoleh ke asal suara, raut wajah Sasori memucat mengetahui asal suara tersebut. Di ujung meja lonjong tempat mereka berunding, berdiri Shisui menatap tajam Sasori untuk diam. Di sisi lain sang korban makian Sasori berdiri, bersiap meninggalkan ruangan tersebut.

"Kau mau kemana?"

Sasuke tidak menoleh pada suara baritone tersebut, masih melenggang pergi "Sasuke aku tanya kau mau kemana?" Shisui sudah habis kesabaran menangani anggota Akatsuki ini.

Sedikit menoleh ke arah Shisui "Mencari udara segar daripada satu ruangan dengannya." Setelah itu pintu ruangan tertutup.

Shisui menghela nafas, menatap pintu kaca yang sudah tertutup itu. Mengalihkan perhatiannya kepada si pemuda pemilik surai merah bata tepat di kanan dirinya "Sasori."

"Maaf."

Ucapan lirih itu seolah menjadi obat mujarab penurun emosi Shisui. Tidak ada lagi suara baritone tegas dari pemuda Uchiha itu yang ada kini hanya sebuah tatapan lembut dari Shisui.

"Kenapa tadi kau kehilangan kontrol seperti tadi, Sas?"

Sasori menunduk, Shisui menunggu jawaban sang Akasuna. Shisui tahu Sasori tidak akan kehilangan kontrol dirinya jika tanpa ada penyebabnya. Nagato diam seribu bahasa menunggu masalah ini selesai.

"Aku iri padanya."

Shisui menukikan alisnya "Apa maksudmu?"

"Aku tahu hal ini pasti akan terjadi jika dia terus berada di band ini."

"Nagato, jelaskan."

Shisui menatap bingung kedua temannya itu sambil menunggu penjelasan, Nagato menghela nafas "Sasuke, dia mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian seseorang seperti fans kita dan Sakura."

Shisui terkekeh geli, dia tak menyangka temannya mempunyai pikiran seperti itu "Kalian salah."

Nagato dan Sasori menatap Shisui.

"Kalian tidak mengenal Sasuke sebenaranya, dia hanya seorang pemuda kesepian tanpa adanya cinta."

Shisui menatap balik kedua temannya itu, tersenyum lirih "Terkadang aku kasihan pada masa lalunya bahkan Itachi merasa bersalah atas hal itu."

Suasana menjadi hening ketiganya larut atas pikirannya masing-masing. Shisui lah yang pertama menyadari keheningan yang terjadi di antara mereka. Selembar kertas di angkat dan di bentuk menyerupai tabung panjang lebar lalu sedikit di pukul ke atas meja, menyadarkan Nagato dan Sasori.

"Ayo kita lanjutkan rapat ini."

"Tapi bagaimana dengan Sasuke? Dia akan kesulitan mengenai susunan lagu-lagu yang akan kita suguhkan."

Shisui menatap pintu kaca buram tempat Sasuke melaluinya "Aku akan memberitahukannya nanti."

Sasori dan Nagato mengangguk diam, tak ingin mengusik sang Uchiha.

Sementara itu sepanjang lorong berderetkan beberapa pintu kaca dan dinding berwarna yellow soft, sepatu kets Sasuke menapaki lantai marmer berwarna gelap kontras dengan warna dindingnya. Mood Sasuke menjadi buruk akibat sikap kekanakan Sasori.

"Cih dasar childish." Umpat Sasuke.

Getaran pelan di rasakan oleh sang pemilik, Sasuke mengambil dan membaca pesan yang baru saja masuk. Mood Sasuke semakin memburuk begitu mengetahui isi pesan tersebut, jari-jarinya cepat membalas pesan itu berharap sang pengirim pesan tidak akan menganggunya sementara waktu. Dimasukan kembali ponselnya ke dalam saku dan melanjutkan perjalanannya keluar dari tempat tersebut.

.

.

Malam begitu larut, udara semakin dingin dan lembab. Orang-orang memakai baju hangat dua kali lipat dari siang hari. Suhu di jepang memang sangat ekstrem belakangan ini, di siang hari bisa begitu panas dan begitu matahari berganti bulan suhu malah semakin dingin. Itachi mengusap-usapkan tangannya, mencari kehangatan. Jaket di rapatkan oleh sang pemilik sementara kaki jenjang miliknya di hentak-hentakan. Itachi sedikit menyesal menolak penawaran Naruto untuk menemaninya di malam yang cukup dingin ini di halte bus yang ternyata cukup sepi. Kehadiran pemuda itu mungkin cukup mengalihkan rasa dingin malam ini dan mungkin saja mereka dapat semakin dekat lagi, tapi semua itu hanya bisa di selali oleh hati kecil Itachi.

Suara deruman kendaraan menghentakkan Itachi. Di depannya terdapat sebuah bus hijau keputihan di bawahnya. Pintu terbuka menampilkan sang supir memegang setir dan menoleh ke arah Itachi. Udara dingin mengharuskan Itachi untuk tidak membuang-buang waktu berdiri di arena publik seperti halte bus tempat dia menunggu beberapa menit lalu. Melangkah masuk, menempelkan tiket elektrik di sebuah benda di samping sang supir sebagai alat pembayaran di bus tersebut. Onyx itu mencari tempat duduk dan memilih sebuah tempat di pojokan belakang bus.

Disadarkannya bahu bidang Itachi pada kursi berbusa tipis itu, mata meminta untuk di pejamkan sebentar dan sang pemilik mengizinkannya. Udara dingin dan sepi di bus itu menjadi pendukung mata Onyx Itachi terpejam. Suara deru mesin bus seolah menjadi senandung tidur untuk Itachi. Kelopak itu akan benar-benar tertutup jika saja sebuah getaran di saku celana tidak menginterupsi kegiatan tidur Itachi.

"Moshi-Moshi." Tanpa melihat nama kontak, Itachi menjawab dengan mata setengah tertutup, terlalu lelah.

'Ini aku.'

Itachi menjauhkan ponselnya dan melihat nama temannya terpampang di layar "Ada apa, Shisui?"

'Kau ada dimana?' Bukannya menjawab, lawan bicara Itachi malah melontarkan sebuah pertanyaan.

"Di bus menuju ke apartemenku, kenapa?"

'Aku ingin kita bertemu di apartemenmu.'

"Oke, aku tunggu." Itachi mengiyakan, dia terlalu lelah untuk sekedar menolak kunjungan Shisui.

Kembali mata Itachi terpejam setelah pembicaraan mereka berhenti oleh pemutusan sepihak Itachi.

.

.

Langit gelap di atas kepala Itachi menemani setiap langkah kaki pemuda Uchiha itu pergi. Tidak ada bintang bersinar bertebaran di langit di karenakan polusi menutupi sinar di langit malam itu. Itachi menengadahkan kepalanya berharap paling tidak ada satu bintang bersinar malam itu namun harapannya harus hilang entah kemana.

"Itachi."

Kepala itu mengalihkan perhatiannya kepada sosok pemuda berdiri di depan pintu apartemennya, Itachi menghampiri sosok itu dan dia langsung di sodorkan beberapa plastik yang di bawa oleh sosok itu.

"Bantu aku membawanya ke dalam."

Tanpa membantah Itachi membantu membawakan beberapa kantung plastik di tangan pemuda di sampingnya itu sambil membuka pintu apartemennya, mereka berdua segera merasuk masuk ke apartemen. Itachi menaruh plastik di tangannya ke meja kecil yang berhadapan dengan sebuah televisi lalu melenggang pergi ke dapur mengambil beberapa gelas beserta mangkuk untuk wadah belanjaan temannya itu sedangkan temannya itu sedikir melempar plastik di tangan ke meja yang sama dimana Itachi menaruh plastiknya.

Itachi menaruh gelas dan mangkuknya di atas meja menata benda-benda itu beserta menaruh makanan dan membuka botor minuman untuk siap di minum. Begitu semua telah tersaji, Itachi mendapati sang sahabat sedang menyalakan televisinya dengan remote yang ada di atas meja.

"Ada apa, Shisui?"

Sang sahabat tak menjawab malah mengambil salah satu botor minuman di atas meja yang sudah di bukakan Itachi, menuangkan isinya ke gelas kecil, meneguknya dengan sekali tegukan. Sekali lagi Shisui melakukan hal sama hingga beberapa kali. Itachi hanya dapat melihat sahabat sekaligus sepupunya itu menghabiskan setengah botor bir yang di bawa oleh pemuda itu. Itachi tidak ingin melihat saja dia pun memutuskan bergabung dengan Shisui. Keduanya terus saja minum minuman keras tersebut dan terdiam dalam kelarutan pikiran mereka.

"Sasori dia berseteru dengan Sasuke."

Shisui akhirnya berbicara, Itachi diam mendengarkan.

"Sasori marah pada Sasuke karena Sasuke ingin berduet dengan salah satu penonton dengan gitar di konser kita minggu ini."

Shisui menuangkan minumannya di gelas kecilnya yang kosong dan menegukanya.

"Sasori terus saja menjelekan Sasuke sampai mengatakan kalau adikmu tidak akan pernah menjadi sepertimu dan aku malah diam saja melihat adik sepupuku di perlakukan seperti itu."

Shisui melirik Itachi yang tidak menampakkan raut kesal ataupun marah pada dia.

"Aku sudah tau jika Sasori cepat atau lambat akan berbuat seperti itu."

"Apa maksudmu?"

Itachi menggoyang gelas kecilnya, menatap batu es kecil di dalam gelas tersebut "Sasori memang seorang pendiam dan cukup mampu bisa mengontrol dirinya tapi dia juga lah seorang manusia yang cepat atau lambat akan mengeluarkan segala unek-uneknya dan adik kecilku terlalu sial telah mendapatkan dampak dari penumpukan masalah Sasori selama ini."

"Tidak kusangka kau akan berkata seperti itu." Shisui terkikik geli.

Itachi memutar matanya, tidak memperdulikan Shisui di sampingnya yang tengah terkikik geli hanya karena dia berkata seperti itu.

Tawa renyah Shisui berhenti "Hei." Shisui menaruh lengannya di pundak Itachi, menatal wajah datar Itachi "Kau berubah, Itachi."

Itachi menyecapi minumannya, menunggu Shisui melanjutkan kata-katanya.

"Kau bukan lagi Itachi yang dulu."

"Aku yang dulu seperti apa?"

"Kau yang dulu adalah seorang kakak yang akan melakukan apapun demi sang adik tercintanya walaupun dirinya sendiri terluka."

Itachi tertawa renyah "Berarti aku yang dulu terlalu bodoh."

Shisui mengangguk setuju.

"Jadi apa yang telah membuatmu berubah, wahai sahabatku?"

Itachi diam, menatap lurus ke depan dimana layar televisi menayangkan sebuah realiti show "Hanya ingin memperjuangkan sesuatu yang tidak akan kulepaskan lagi sekalipun Sasuke memintanya."

"Ooh I see... Apa kau berubah karenanya?"

"Ya."

"Siapa namanya?" Shisui penasaran nama orang itu.

"Uzumaki Naruto dan dia seorang pemuda."

Shisui tersedak minumannya, kembali tertawa renyah "Jadi sekarang kau merubah orientasi sexmu?"

"Tidak, aku masih suka perempuan hanya kepada dia saja aku berubah." Aku Itachi serius.

"Wow dia pasti begitu spesial hingga bisa membuatmu seperti ini, Tachi."

"Ya dia sangat spesial, begitu spesialnya sehingga aku takut orang-orang menemukannya dan mengambilnya dariku."

Shisui menatap langsung Itachi, menunjuk Itachi dengan jari telunjuknya ke dada bidang tersebut "Kau tidak harus takut, kau harus percaya bahwa dia akan selalu ada disisimu walaupun jika nanti ada seseorang yang ingin merebutnya, kau hanya perlu mempertahankannya dengan kekuatanmu itu."

Shisui kembali mengisap minumannya.

"Kau benar Shisui, aku harus percaya padanya."

Senyum terkembang "Terima kasih, Shisui."

"Sama-sama."

Keduanya terlarut dalam nikmatnya minuman malam itu.

.

.

Langit bersinar cerah sama dengan pemilik senyuman paling lebar di konoha. Kaos putih dengan luaran kemeja kotak-kotak orange putih serta jeans belel mampu menaikan rasa percaya diri Naruto. Sedikit berputar di depan cermin seukuran dirinya, mengambil sedikit gel untuk merapikan surai kuning kelewat cerah, Naruto siap untuk pergi melihat konser band kesukaannya. Di sambarnya tas selempang berwarna gelap itu lalu berlari keluar dari kamarnya.

Menma menghentak-hentakan kakinya tidak sabaran kaos hitam bertuliskan I'm Free Now menjadi pilihan pemuda bersurai hitam itu dan celana kehijauan dengan banyak kantong membungkus rapi kaki jenjangnya, di tambah beberapa hiasan di lengannya seperti tali berwarna gelap melingkar dan jam tangan berwarna serupa pakaian yang di pakainya. Cukup simple tapi mampu membuat beberapa orang melirik pemuda Uzumaki tersebut.

Naruto muncul di depannya dengan tas yang sudah di jinjingnya. Menma bersidekapkan lengannya di depan dadanya. Sedikit kesal atas keterlambatan pemuda itu dalam urusan bersiap-siap.

"Kau lama Naru."

"Gomen Menma tadi aku bingung harus memakai apa."

Menma jengah mendengarnya, dia cukup mengetahui rasa antusias adiknya itu menonton konser band favoritnya. Dia bisa membayangkan seberapa berantakan kamar Naruto dengan baju-baju berserakan di dalam kamar hanya untuk mendapatkan penampilan terbaiknya.

"Ya.. ya.. terserah apa katamu, Naru." Menma melihat jam tangannya "Ayo kita berangkat." Menarik tangan Naruto keluar dari rumah sambil berteriak memberitahukan Kurama bahwa mereka akan pergi.

Di luar Shikamaru berdiri menunggu saudara kembar Uzumaki itu. Mata malas melirik keduanya, menguap dan menggaruk kepalanya sambil berbalik memunggungi mereka.

"Kalian lama."

Singkat, itulah komentar Shikamaru untuk keduanya. Menma kesal mendapatkan komenan singkat pemuda Nara itu. Melepaskan tangan Naruto, pemuda Uzumaki itu berjalan menyamai langkah Shikamaru, meninggalkan Naruto di belakang.

"Hei bukan aku yang lama tapi itu Naru."

"Terserah."

Shikamaru kembali menguap, meletakan tangannya ke belakang kepalanya.

"Hei Nara lihat aku jika aku sedang bicara."

"Merepotkan."

"Heiiii."

Menma terus saja mencari perhatian Shikamaru terhadapnya. Naruto dari belakang hanya bisa geleng-geleng kepala sambil sesekali tertawa renyah.

.

.

Itachi bangun dari tempat tidurnya, aktifitasnya kembali seperti biasa. Makan, jalan-jalan untuk mendapatkan inspirasi menciptakan sebuah lagu dan kembali tidur. Itulah aktifitas sehari-harinya. Tangan mencari-cari sebuah benda di meja nakas di samping tempat tidurnya, begitu merasakan benda itu Itachi memeriksanya. Beberapa pesan masuk memenuhi inboxnya, di bukanya terlabih dahulu satu pesan dari orang yang sudah seenaknya itu menempati ruang hatinya saat ini.

From : Naruto

To : Itachi

Subjek : Nonton konser

Hei Tachi aku akan pergi nonton konser bersama Menma dan Shikamaru hari ini. Kau tahu aku tak sabar menonton Akatsuki, apalagi melihat Shisui bernyanyi rasanya... tak dapat aku jabarkan XD

Kau jangan cemburu yaa kalo nanti aku teriak-teriak nama Shisui di konser itu. Karena cintaku hanya untukmu kok hehehehehe...

Pssst.. aku mungkin akan lama membalas pesanmu. Love you :*

Itachi tersenyum geli melihat antusiasnya Naruto dalam menonton band Akatsuki yang tak lain dan tak bukan adalah bandnya di masa High School dulu. Dia memang melarang Naruto untuk bernyanyi tapi dia tak akan mengekang kebebasan Naruto dari apa yang di sukainya termasuk menyukai band yang di gawangi teman-teman High Schoolnya.

From : Itachi

To : Naruto

Subjek : Re; Nonton konser

Cemburu? Tidak akan karena aku percaya padamu.

Bersenang-senanglah hari ini Naru dan aku menunggu ceritamu tentang pengalamanmu menonton konser band favoritmu itu.

Pssst... aku tidak masalah kau membalas lama dan Love You too :*

Send

Seusai mengirimkan pesan itu, Itachi membaca pesan dari teman-teman di Akatsuki yang isinya hampir sama mengharapkan Itachi untuk melihat penampilan mereka. Itachi pun membalas setiap pesan sama untuk semuanya yakni dia tidak akan pernah datang ke konser tersebut.

Selesai membalas semua pesannya Itachi bersiap melangkahkan kakinya ke kamar mandi, sebuah getaran menghentikan niatnya di ambil kembali ponselnya dan membaca sebuah pesan dari seseorang yang tak pernah di sangkanya akan mengirimkan pesan untuknya.

From : Sakura chan

To : Itachi

Subjek : Meet up

Bisakah kita bertemu sore ini? Jika kau bersedia aku tunggu di cafe biasa jam 4 sore.

Itachi melirik jam dinding di kamarnya masih ada 2 jam lagi untuknya bersiap bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Di ketikan beberapa balasan positif untuk Sakura, meletakan kembali ponselnya dan melenggang pergi ke kamar mandi, meneruskan niatnya siang itu.

.

.

Sakura berdiri sambil sesekali melirik jam tangan kecil kulitnya. Harap-harap cemas di rasakan gadis bersurai buble gum itu. Tas kecil berada di genggamannya sedikit kusut akibat kecemasan gadis cantik itu. Mata jadenya tertutup oleh sebuah kacamata coklat berbentuk mata kucing. Jaket bulu coklatnya di rapatkan, berusaha menghangatkan badan mungilnya.

"Sudah lama?"

Sakura menengok menghadap orang yang di tunggunya. Senyuman kecil di perlihatkan demi menyambut sosok pemuda di hadapannya saat ini.

"Tidak hanya sedikit dingin untuk jam sekarang."

"Ooh.. Oke."

Sosok itu melangkah masuk ke dalam cafe, melewati Sakura yang sudah berdiri disana hampir 30 menit lalu. Sakura mencelos mendapatkan perlakuan dingin sang mantan padahal dulu jika mereka masih sepasang kekasih, pemuda itu pasti akan menggandeng tangannya berusaha menyalurkan kehangatan kepadanya. Betapa indahnya kebersamaan mereka dulu.

Menggelengkan kepalanya, berusaha menghapus segala kenangan indah itu. Sakura memasuki cafe tersebut, terlihat pemuda berkemeja putih dengan kancing atas sedikit terbuka memperlihatkan pangkal leher seksinya di sertai sebuah jaket tebal hitam berbahan lembut memerangkapkan tubuh kekar pemuda itu. Sebuah kalung bertengger, menghiasi leher yang sedikit terbuka dan untuk celanannya begitu simple yakni sebuah celana jeans hitam panjang ketat. Pemuda itu berbicara dengan salah satu pelayan untuk mencarikan tempat buat mereka.

"Itachi."

Pemuda itu menoleh, menghentikan pembicaraan dengan sang pelayan, Sakura mendekat.

"Bagaimana kalau kita melihat koleksi buku mereka? Bukannya sudah lama kita tidak melihatnya?"

Itachi terdiam, memikirkan ajakan mantannya itu. Sakura diam-diam sudah memeluk lengan Itachi erat "Ayolah Itachi." Ajak Sakura manja menarik lengan kekar itu untuk mengikutinya.

Itachi tidak bisa melawan, Sakura bagaikan sebuah rubah yang dapat membuatnya mematuhi segala keinginan gadis tersebut.

.

.

Keadaan begitu sesak di dalam stadion mini khusus pergelaran semacam konser hari itu. Naruto harus berusaha melewati barisan berdesakan hanya untuk mencapai tempat duduknya yang lumayan jauh dari pintu masuk. Beruntung lah ada Menma dan Shikamaru yang siapa siaga menjaga dirinya dari tangan di sekitar mereka.

Ketiga pemuda itu menghela nafas lelah mereka, Mengusap pelu di pelipis mereka dan sedikit merilekskan tubuh tegang mereka melawan arus manusia di luar dan dalam stadion mini itu. Naruto melihat panggung besar di hadapannya, dua layar besar di masing-masing sisi panggung masih berupa layar putih belum menampakan sesuatu sama dengan panggungnya kosong dan hanya berisi beberapa kru mengecek sana sini.

"Kapan konsernya di mulai, Menma?"

Menma membuka brosur yang di dapatkannya di depan pintu masuk tadi. Shikamaru di sisi kiri Menma sudah menyenderkan badannya ke kursi empuknya, Naruto di sisi kanan Menma menggelengkan kepalanya melihat mata tertutup pemuda Nara itu.

"Sekitar 30 menit lagi, Naru."

"Aaah lama sekali kalau begitu kita agak berlama-lama saja tadi di jalan." Kelu Naruto.

"Iya seharusnya tapi kita akan semakin kesulitan masuk kesini, kau tadi merasakannya bukan? Bagaimana ramainya di depan pintu masuk tadi? Aku tidak mau lagi mengalami hal itu."

Menma memasang wajah horornya begitu mengingatkan perjuangan mereka ke tempat duduk mereka saat ini. Naruto nyengir kuda mengetahui betapa kesal saudara kembarnya ini.

"Menma."

Menma menoleh dan mendapati Naruto sudah menghadiahinya sebuah kecupan di pipi kanannya. Semburat merah sedikit menghiasi pipi Menma.

"Terima Kasih, Nii san."

"Hmmm Sama-sama."

Menma menengok ke sebelah kirinya, menghindari Naruto. Menma terlalu senang mendapati Naruto mencium pipi kanannya.

Tak lama mereka mungkin sekitar 30 menit kemudian di atas panggung muncul empat orang pemuda yang sudah lama di tunggu oleh semua penonton. Suara bass terdengar pertama disusul suara gitar dan di ramaikan dengan gebukan suara drum lalu suara merdu itu terdengar, suara dari sang vokalis yang memakai kaos ketat hitam, celana denim hitam dan jam tangan hitam. Konser hari itu sang vokalis memakai konsep black. Ketiga pemuda lainnya tak jauh berbeda. Semua memakai baju berwarna hitam namun di selingi dengan warna putih.

Suasana menjadi ramai dengan kemunculan ke empatnya yang tiba-tiba itu. Ada yang berteriak memanggil nama mereka, ada juga yang berdiri sambil menyanyikan lagu yang di lantunkan seperti Naruto dan masih ada yang tetap tertidur walaupun keadaan sudah berubah menjadi ramai seperti itu. Penampilan mereka mengguncang tempat itu dalam waktu singkat.

.

.

"Apa kau puas melihat-lihat, Sakura?"

Gadis itu membalikan badannya dari beberapa tumpukan buku-buku di rak tinggi di lantai dua cafe berkonsep 'Ayo membaca' itu. Sebuah buku telah di ambil sang gadis bersamaan pertanyaan dari pemuda di sampingnya itu.

"Ya."

Itachi memutar matanya, lelah.

"Kalau begitu selesaikan urusan kita secepatnya."

Sakura tertawa ringan "Kenapa? Bukannya sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua, hm?" Sakura mendekat, menaruh salah satu tangannya di dada Itachi, mengusap pelan dada bidang sedikit otot itu.

Sakura rindu kehangatan pemuda di depannya itu. Sedikit menggoda tentu tidak akan menjadi masalah, bukan? Karena itu lah Sakura semakin mendekatkan dirinya, ingin sekali merasakan pelukan sang mantan. Itachi memejamkan matanya, menahan segala godaan Sakura.

"Sakura hentikan."

Itachi mendorong tubuh mungil Sakura agar terlepas darinya. Sakura sedikit tersentak mendapatkan perlakuan Itachi. Dalam hati kecilnya, dia tidak menerima penolakan Itachi.

"Lebih baik kita jangan terlalu dekat Sakura."

"Kenapa?"

"Karena kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa selain sebatas teman."

Teman, eh?

Sakura tersenyum miring mendengar kata itu. Apakah Itachi sudah berhasil melupakannya? Sakura tak menyadari Itachi telah membalikan badannya dan hanya menyisakan bagian punggung untuk Sakura lihat. Secara pasti Itachi mulai pergi.

"Teman, eh? Apa kau lupa kalau aku pacarmu?"

Langkah Itachi berhenti.

"Kenapa? Apa kau tidak ingin mengakui hubungan kita di hadapan orang-orang, eh?"

Beberapa orang di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, orang-orang itu tentu saja mengenali siapa gadis yang sedang berdiri di dekat rak buku itu. Mereka tidak bodoh untuk tidak mengenali sang gadis idola hanya karena mata jadenya tertutup oleh sebuah kacamata kecoklatan itu.

Itachi tak tahan atas bisik-bisik di sekitar mereka. Di balikkannya badan tinggi itu, berjalan menuju Sakura dan menyeret Sakura dalam hitungan detik. Itachi akan membuat perhitungan pada gadis ini tapi tidak di tempat seperti ini.

Sakura meringis sakit pada pergelangan tangan dan pantatnya karena sang pemuda melemparkan dirinya di atas sebuah kursi kayu lembut. Itachi mengambil tempat di hadapannya, memesan sebuah kopi untuknya dan segelas lemon tea untuk Sakura.

"Jadi ada apa? Kenapa kau mengatakan hal itu disini?"

Keduanya duduk berhadapan di sebuah cafe di lantai satu paling pojok yang dapat melihat pemandangan di luar.

"Aku hanya iseng, Tachi."

Sakura menjawab santai, melemparkan senyum termanis. Itachi muak terhadap wajah palsu gadis itu.

"Iseng bukanlah jawaban Sakura? Aku tahu kau ada masalah dengan Sasuke dan kau ingin melampiaskannya padaku, bukan?"

Senyuman itu pudar, tebakan Itachi benar.

"Ya dan aku hanya ingin ada orang yang menemaniku saat ini."

"Maaf tapi aku tidak bisa." Tolak Itachi tegas.

Sakura dapat melihat pancaran sinar kehidupan di mata Itachi setelah lama menghilang. Gadis itu mengerti bahwa pemuda di hadapannya telah berubah, Itachi telah mendapatkan seseorang yang di cintainya.

"Siapa dia?"

"Apa maksudmu?"

Sakura tersenyum nakal "Siapa lagi? Tentu saja orang yang telah membuatmu berubah."

Itachi membuang mukanya, menghadap beberapa mobil lalu lalang di depan cafe itu. Menaruh dagu di tangannya "Kenapa kau dan Shisui dapat mengetahuinya?"

"Karena kami mengenalmu."

Kembali menatap Sakura "Kau tidak mengenalku Sakura kalau benar kau mengenalku maka kau tidak akan selingkuh dengan Sasuke."

Rasa bersalah merasuki pikiran Sakura "Justru karena aku mengenalmu aku harus meninggalkanmu."

"Kenapa? Aku sangat mencintaimu waktu itu."

Sakura memajukan badannya, hampir mendekati Itachi "Karena kau tidak mencintaiku, kau hanya kagum pada sosokku."

Sakura menunjuk dada Itachi "Disini sudah terdapat seseorang melebihiku jauh sebelum kita mengenal satu sama lain dan kau hanya menyangkal perasaan itu hingga saat ini."

Minuman pesanan mereka datang. Sakura mengambil dan mengaduk-aduk lemon teanya sedangkan Itachi sudah menyeruput kopi hitamnya.

"Aku tidak ingin tersakiti dari perasaanmu itu, Itachi."

Sedikit menyicipi lemon tea "Karena itu aku meninggalkanmu dan memilih Sasuke karena dia membuatku nyaman ketika bersamanya."

Lagu Mighty Long Fall terdengar, mungkin di nyalakan oleh salah satu pegawai cafe untuk meramaikan suasana di cafe tersebut. Itachi dan Sakura, keduanya masih terdiam sejak pernyataan Sakura pada Itachi.

.

.

Konser masih berlangsung, suasana semakin panas. Beberapa orang makin menggila di bawah senandung lagu yang di mainkan oleh Akatsuki. Suara serak Shisui mampu membuat penonton terbuai. Musik mereka mungkin beraliran agak ngerock namun lirik yang di nyanyikan bisa merasuk ke dalam hati para fans.

Naruto berteriak menyanyikan lagu kesukaannya terutama ketika Shisui melangkah maju ke depan panggung sedikit meloncat, memuaskan para fans Akatsuki. Menma menganggukan kepalanya mengikuti irama lagu, Shikamaru diam menatap panggung tidak terlalu minat menonton band yang katanya sedang terkenal tersebut.

Lagu telah selesai, anggota Akatsuki menuruni panggung. Dua orang pembawa acara datang membawa selembar kertas contekan berisi konser tersebut. Para fans berteriak memanggil-manggil para anggota Akatsuki berharap di notif oleh ke empat pemuda itu. Dua host kesulitan menenangkan para penonton. Naruto, Menma dan Shikamaru terkikik geli melihat raut dua host saat menenangkan para penonton.

"Tenang.. tenang saja Akatsuki akan kembali bersama kita di atas panggung bersama dengan salah satu dari kalian."

Pernyataan itu cukup bisa menenangkan para penonton, semuanya begitu penasaran atas apa yang di maksudkan oleh dua host di atas panggung tersebut.

"Apa kalian masih mempunyai tiket masuk konser Akatsuki?"

Para penonton berteriak 'Tentu saja.' Kepada dua host tersebut.

"Ara aku lihat kalian semua penasaran bukan kenapa kita menanyakan hal ini?"

"Tentu saja, baka." Naruto berseru bersama semua penonton lainnya. Menma menutupi wajahnya malu melihat kelakuan Naruto.

Dua orang kru panggung membawa sebuah kotak berisi bola-bola bertuliskan angka ke atas panggung. Para penonton dan Naruto penasaran setengah mati atas kehadiran benda tersebut di atas panggung. Salah satu host berdiri di samping benda tersebut sambil menepuk pelan benda itu.

"Kita akan memutar benda ini untuk mendapatkan beberapa angka yang akan tersusun menjadi delapan angka di tiket kalian."

Salah satu host ikut menimpali "Dan bagi pemilik angka itu akan berhak berduet dengan anggota Akatsuki."

Semua penonton langsung heboh mendengarnya, Naruto salah satunya. Dia begitu bersemangat menunggu benda dengan mesin berputar itu menghasilkan angkanya. Salah satu host pun memencet tombol menghasilkan beberapa angka berputar di dalamnya lalu host lainnya pun memencet tombol lain untuk berhenti. Beberapa bola keluar menghasilkan susunan angka.

"8..4..9..2..2..7..1..8."

Naruto menunduk lesu, bukan angkanya yang di panggil padahal cuma beda angka terakhir saja.

"Ayo yang memiliki tiket itu di harapkan ke atas panggung atau untuk bagian belakang bisa menghampiri salah satu kru kita yang telah bersiap di belakang kalian."

Bisik-bisik mulai ramai disana pasalnya belum ada yang mengaku mempunyai nomor tersebut. Sebuah tiket tersodor di depan Naruto. Pemuda itu menoleh melihat Menma menyodorkan tiketnya.

"Kau pakai saja tiketku untuk bisa berduet dengan Akatsuki."

"Tunggu jadi nomormu yang.."

"Iya dan sebaiknya kau cepat membawanya ke mereka sebelum mereka kembali memutar benda itu." Tunjuk Menma.

Naruto mengambil sodoran tiket itu "Terima kasih, Menma." Lalu meninggalkan saudara kembarnya dan Shikamaru untuk mendatangi salah satu kru yang tidak jauh dari tempatnya berada.

Kru itu memeriksa tiket Naruto terlebih dahulu lalu membawa Naruto ke sebuah lorong panjang yang ujungnya berisi beberapa orang mondar-mandir kesana sini. Kru itu menghampiri seseorang sambil menunjuk dirinya. Kru itu bersama orang itu mendatanginya, orang itu terlihat tua dari orang-orang disana.

"Apa kau pemilik tiket itu?"

Naruto mengangguk.

"Siapa namamu?"

"Uzumaki Naruto."

Orang itu merangkul pundak Naruto, membawa dia di pinggir panggung "Naruto kau akan naik kesana dan berduet dengan salah satu anggota Akatsuki, apakah kau senang?"

"Tentu saja."

Orang tua itu tertawa mendapati antusias pemuda blonde itu.

"Bagus... Kalau begitu naiklah."

Naruto menunggu salah satu kru memberitahukan ke kedua host itu. Kedua host itu pun melirik dirinya yang sudah berdiri di pinggir panggung yang tak terlihat. Keduanya mengangguk dan kru pun pergi ke arah Naruto.

"Bersiaplah, Nak."

Kedua host itu pun memberitahukan para penonton, pemenang dari tiket yang tadi di undi. Ada beberapa seruan kecewa dari para penonton namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk melihat duet seorang amatiran dengan salah satu bintang di atas panggung. Sebuah tanda dari host di tunjukan kepada Naruto untuk segera mengenalkan dirinya. Naruto melangkahkan kakinya, beratus-ratus pasang mata melihatnya dari berbagai arah. Rasa gugup melanda pemuda pirang itu.

"Nah nak kemarilah."

Naruto menuju ke dua host di tengah panggung. Salah satu host itu merangkul pundak Naruto "Siapa namamu, nak?"

"U-uzumaki Naruto." Jawab Naruto gugup.

Satu host tertawa menangkap kegugupan Naruto, lainnya menepuk punggung Naruto "Tenang saja, kami tidak akan memakanmu apalagi anggota Akatsuki nanti."

Naruto mengangguk, menghilangkan rasa gugupnya.

"Kalau boleh tahu siapa yang ingin kau ajak duet?"

"Tentu saja, Shisui."

Jawaban cepat Naruto kembali mengundang tawa salah satu host itu dan juga beberapa penonton.

"Sayang sekali nak, Shisui tidak bisa menemanimu berduet karena kau tahu bukan dia harus mengistirahatkan suaranya sebentar."

"Tapi tenang saja ada anggota lain yang akan menggantikannya." Sahut salah seorang host.

Naruto kembali mengangguk.

Beberapa kru kembali menata beberapa alat yang di persiapakan untuk duet seperti kursi tinggi dan dua mike serta sebuah gitar di taruh di dekat salah satu kursi tinggi yang sudah di siapkan sebelumnya.

Kedua host itu mendapatkan sebuah isyarat dari seseorang di belakang panggung.

"Wahai anggota Akatsuki kemarilah." Panggil salah satu host itu.

Sesosok pemuda muncul, wajah dingin yang biasa di tampilkan berbeda pada malam itu. Wajah itu sedikit melembut ketika menatap pemuda blonde di samping salah satu host lainnya. Beberapa orang berteriak mengetahui bahwa Sasuke lah yang akan menjadi partner duet Naruto. Pemuda berusia setahun lebih tua dari Naruto itu melangkahkan kakinya ke tengah panggung dimana sang pemeran utama berada.

"Ini dia Uchiha Sasuke yang akan berduet denganmu, nak."

Naruto tak tahu harus berkata apa, dia tak mengharapkan bahwa pemuda dingin inilah akan menjadi partner duetnya. Pemuda yang terkenal atas beberapa pemberitaan kontrovesionalnya dengan beberapa artis salah satunya artis satu menejemennya yaitu Haruno Sakura.

"Kalian akan menyanyikan apa?"

"Terserah dia." Tunjuk Sasuke pada Naruto.

Kedua host menunggu jawaban Naruto.

"Bagaimana kalau single pertama kalian dulu?"

"Oke."

Sasuke mulai menyetel gitarnya di sebuah bangku tinggi, kedua host menunggu Sasuke selesai menyetel gitar. Begitu selesai keduanya langsung melenggang pergi. Naruto duduk di kursi tinggi lainnya dengan memegang mike di hadapannya, tegang.

Petikan gitar terdengar lembut, jari-jemari Sasuke begitu lihai memetikan gitar itu, seolah telah menjadi gitaris profesional. Beberapa nada awal di petikan, Naruto mendengarkannya baik-baik dan berfokus pada nada-nada tersebut. Begitu yakin akan kesempatan dimana dia bernyanyi, suara merdu itu keluar dengan sendirinya.

Kawaribae shinai itsumo no kyoushitsu ni

Kakegae no nai taisetsuna nakama ga iru

`Kyūshoku no pante doushite

Kon'nani pasa tsuiteru ndarou!?

Son'na ko to iiaeru no mo

Mousukoshi de owatte shimaundane

Kawatte ~

Suara Naruto melengking tinggi.

ikou ze

Yaritai koto mada mitsukaranakute mo

Waratte ~

Lagi suara Naruto melengking tinggi, mampu membuat beberapa penonton berdecak kagum.

iyou ze

Oretachi wa oretachi o sotsugyou shinaikara

Suara petikan gitar Sasuke mengambil alih, di tunjukannya permainan gitarnya kepada para penonton. Naruto dan Sasuke begitu menikmati duet mereka saat ini. Suara merdu Naruto kembali melantunkan lirik-lirik lagu itu.

Konogoro mama wa kosodate houki-chū

Papa wa kan'you to rikai no puritendā

Dakara sutingurei narashite

Omaera to asa made katatte

Son'na toki ga eien ni

Tsudzuku to ii na to omotte iru nda

Kawatte ~ ikou ze

Dousenara ichi kara nurikaete shimaouka

Naite mo ~ ii nda ze

Keduanya saling bertatapan menghayati lagu mereka, menikmati setiap penampilan mereka di atas panggung.

Oretachi wa oretachi o sotsugyou shinaikara

Sasuke kembali memetikan gitarnya kencang, nada-nada yang mengalun sengaja di buat seapik mungkin sebagai penutup penampilan mereka. Segenap hati, Sasuke memainkan gitar itu.

Suara gitar menghilang, keduanya kelelahan. Mereka menunggu feedback dari para penonton yang sampai saat ini tidak memberikan responnya. Tak lama sebuah tepuk tangan terdengar di susul tepuk tangan meriah lainnya. Naruto dan Sasuke tersenyum melihatnya, ada beberapa penonton berteriak meminta kembali mereka berduet. Kedua host kembali ke atas panggung bersama beberapa anggota Akatsuki lainnya yang memancarkan sinar kagum pada Naruto dan Sasuke.

"Tadi itu luar biasa sekali."

"Kalian berdua hebat."

Puji dua host itu, anggota Akatsuki lainnya bertepuk tangan untuk mereka berdua. Shisui maju menghampiri Naruto, melemparkan senyuman dan tatapan kagum pada pemuda blonde itu.

"Suaramu bagus."

Naruto bersemu, dia tak menyangka bisa berhadapan langsung apalagi berbicara kepada idolanya. Dua orang anggota Akatsuki lainnya beserta host lainnya terkikik geli bagaimana imutnya ekspresi Naruto.

"Shisui, pemuda ini merupakan fansmu."

"Benarkah?"

Naruto mengangguk.

"Wow aku tidak menyangka mempunyai fans bersuara bagus sepertimu kalau begini aku harus terus berlatih agar tempatku tidak tergantikan olehmu."

Beberapa orang di atas panggung dan para penonton tertawa.

"Aku tidak sebagus itu, Shisui san."

"Jangan panggil aku seperti itu, kau bisa panggil aku Shisui tanpa embel-embel san."

"Shisui."

Shisui tersenyum bangga, ditepuknya puncak kepala Naruto "Apa kau ingin tanda tangan kami?"

Mata Naruto membulat, tidak percaya "Hontou ni?"

"Iya." Shisui menatap anggota Akatsui lainnya "Apa kalian mau memberikan dia tanda tangan kita?"

Semua mengangguk setuju termasuk Sasuke yang sudah menaruh gitar. Para penonton berteriak iri atas keberuntungan pemuda blonde itu. Salah satu kru memberikan sebuah spidol kepada Shisui. Sang vokalis mengernyitkan dahinya "Hei dimana kita tanda tangan kalau tidak ada kertasnya?"

"Maaf Shisui san kita tidak punya."

Shisui mengalihkan pandangannya ke arah Naruto "Nak maaf kita sepertinya tidak bisa memberikan tanda tangan kita padamu?"

Raut wajah Naruto berubah muram, Pemuda di samping Naruto menyadari kekecewaan dalam diri pemuds blonde itu. Otaknya berpikir keras menatap spidol, Shisui dan Naruto lalu ide itu muncul.

"Hei." Suara baritone mengambil perhatian seluruh orang disana, Sasuke menunjuk spidol dan mengarahkannya ke kaos putih yang di pakai Naruto "Bagaimana kalau kita menandatangi kaos putih pemuda ini?"

"Baiklah."

Naruto senang akan ide itu, segera dia buka kemeja kotak-kotak warna orangenya untuk meleluasakan para anggota Akatsuki menanda tangani kaos putihnya. Shisui sebagai idola Naruto maju terlebih dahulu, menggoreskan spidol hitam itu di bagian kaos putih Naruto. Sasori dan Nagato menodai kaos bagian tangan kiri dan kanan Naruto di sertai nama mereka. Goresan terakhir dari Sasuke di belakang tubuh Naruto, pemuda bertitle kontrovesional itu mendekatkan dirinya ke tubuh pemuda blonde itu. Di ciumnya dalam-dalam aroma citrus di sekitar bagian leher Naruto, Sasuke menikmati aroma tersebut. Begitu menenangkan, kesempatan ini tidak akan Sasuke sia-siakan.

Bulu kuduk di leher Naruto meremang, pemuda itu dapat merasakan hembusan nafas Sasuke di belakangnya "Gomen, apa sudah selesai?"

"Sudah." Goresan spidol terkahir telah terukir, Sasuke terpaksa menjauh dari Naruto.

Pemuda blonde itu kembali memakai kemeja kotak-kotaknya tanpa di kancing. Menunjukan senyuman lima jarinya pada semua anggota Akatsuki dan tentu saj berterima kasih. Salah satu host menuntun Naruto turun dari panggung namun sebuah suara menahan langkah kakinya.

"Siapa namamu?"

Naruto berbalik mendapati Shisui menanyakan namanya.

"Uzumaki Naruto."

Setelah itu Naruto kembali melanjutkan tujuannya. Shisui memandang punggung pemuda blonde itu dengan mengernyitkan dahinya berusaha mengingat nama yang pernah di dengarnya beberapa hari lalu.

Naruto?

Siapa pemuda itu?

.

.

Suasana malam di kota besar begitu ramai. Lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi di kota besar itu menjadi penghias bagi masyarakat di pinggiran. Sebuah mobil bertengger di pinggir sungai, dimana gedung-gedung tinggi berderet. Dua sosok terlihat di samping mobil yang tengah terparkir itu, salah satu dari sosok itu menggosokkan telapak tangan berusaha mencari kehangatan.

"Ini."

Sepasang sarung tangan di sodorkan kepada sosok itu. Surai buble gum bergoyang akibat tolehan kepala ke arah sang pemberi.

"Tidak, terima kasih."

Sarung tangan itu kembali ke saku sang pemberi.

"Kalau begitu masuk lah ke dalam mobil agar kau tidak kedinginan."

"Aku tidak mau, aku masih ingin melihat keindahan kota ini bersamamu."

Itachi diam, tatapannya lurus ke depan.

"Itachi."

"Hmm?"

"Sasuke tidak benar-benar mencintaiku, kan?"

Itachi menarik nafasnya, rasanya begitu berat memberitahukan kejujuran pada gadis itu "Iya, Sasuke tidak mencintaimu."

Sakura merasakan di pelupuk matanya terasa berat berisi air mata yang akan segera tumpah ruah. Tangan gadis itu meremas jaket kulit coklat miliknya. Surai buble gumnya menyembunyikan sepasang mata jade indah.

"Itachi."

"Ya?"

"Bolehkah aku memelukmu?"

Itachi tidak bisa menolaknya dia tahu gadia di sebelahnya sedang membutuhkan seseorang untuk menenangkannya, Sakura memang sudah menyakiti dirinya tapi bukan berarti dia harus meninggalkan orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu menerima kenyataan ini.

"Kemarilah."

Gadis itu langsung melubruk badan tinggi besar Itachi. Suara tangis teredam namun masih dapat terdengar. Pelukan Sakura begitu erat pada tubuh pemuda Uchiha itu. Itachi pun membalas pelukan itu dengan menyamankan diri Sakura di sisinya. Sungguh mereka berdua sesungguhnya masih rindu pada saat dimana mereka menyamankan diri satu sama lain.

Di tengah rasa kenyamanan itu, terbesit sosok pemuda blonde di pikiran Itachi. Rasa nyaman berubah menjadi kecemasan, pelukan yang semula di balas oleh pemuda itu terganti oleh lepasan sepasang tangan. Sakura dapat merasakan Itachi melepaskan pelukan dirinya, rasa nyaman itu berubah menjadi senderan tubuh sang gadis idola. Tangis Sakura menjadi keras mengetahui penolakan ini.

"Sakura, tolong lepaskan."

"Kumohon sebentar saja, biarkan aku merasakan pelukanmu untuk terakhir kalinya."

Itachi tidak bisa berbuat apa-apa, di biarkannya tubuh Sakura memeluk dirinya. Keduanya tetap dalam posisi seperti itu hingga tidak menyadari ada sepasang melihat moment tersebut.

.

.

.

TBC