"Festival Musim Panas?", tanyaku penasaran.
"Ya, sepertinya mereka mengadakan itu di dekat sini~", kata Kano sambil memegang sebuah selebaran.
"Ayo kita pergi kesana bersama semuanya, Master!", ajak Ene dengan senang.
"Seto, festival musim panas itu apa?", tanya Mary ke Seto.
"Disana ada banyak stand makanan dan mainan! Dan juga kembang api!", jawab Seto senang. Mata Mary berbinar saat mendengar kata 'kembang api'.
"Yah, kenapa tidak? Sudah lama kita tidak pergi bersama-sama", kata Kido.
"Kalau begitu, ayo kita semua pergi memakai yukata!", perkataan Momo-chan membuat Kido terdiam.
"Y-Yukata..?", tanya Kido dengan wajah semerah tomat.
"Ahaha! Itu akan menarik, melihat Kido yang menggunakan yu—GAAHH!", Kano tergeletak di lantai sambil memegang perutnya dengan kesakitan. Aku melihatnya sebentar, dan mengambil selebaran yang masih dia pegang.
"Disini dikatakan kalau festivalnya.. Hari ini?", aku mengecek selebaran itu dua kali, dan tetap saja tidak berubah.
"Kalau begitu kita harus bersiap-siap! Megumi-san, tolong temani aku meminjam yukata!", kata Momo-chan sambil menarikku.
"Baiklah.."
"Kami kembali!", teriak Momo-chan senang sambil membawa beberapa yukata, dan aku membawa sisanya.
"Uh.. Kenapa kalian sudah memakai yukata?", tanya Shintaro.
Ya, itu benar. Saat aku menemani Momo-chan menyewa yukata, dia menyuruhku untuk langsung memakai yukata yang kupilih. Tentu saja awalnya aku menolak. Orang macam apa yang memakai yukata di siang hari?! Tapi karna Momo-chan keras kepala, akhirnya aku menyerah, untuk menghindari omelannya yang tidak berhenti. Dan apa yang kupakai sekarang? Yukata berwarna kuning dengan pola bunga berwarna ungu pucat. Apa yang Momo-chan pakai? Kalian bisa memakai imajinasi kalian sendiri, tapi bisa dipastikan kalau Momo-chan punya selera pakaian yang 'unik'.
"Jangan tanyakan itu, Shintaro. Aku sudah cukup menderita saat orang-orang melihatku dengan aneh, dan Momo-chan beruntung aku menunjukkan rute yang paling cepat kesini agar fansnya tidak mengejar kami..", aku berkata sambil menghela nafas.
"Baik..", Shintaro mengangguk dan melihat yukata yang Momo-chan bawa. Aku melihat Kano yang sedang berusaha membujuk Kido untuk memakai yukata.
"Ayolah Kido~! Kamu tidak ingin mengecewakan Mary-chan kan~?", tanya Kano sedikit menggoda sambil membawa sebuah yukata berwarna ungu dengan pola lingkaran hijau. Kido menggeleng, dengan wajahnya yang merah. Aku tidak tau kapan, tapi sekarang Kano sudah memakai yukata berwarna hitam.
"Betul itu, Kido. Aku juga sudah pakai, jadi kamu harus~", aku tersenyum kepada Kido yang menelan ludahnya. Aku dan Kano menyeret Kido bersama-sama ke kamar dan menutupnya.
Dari dalam kamar, bisa terdengar suara pukulan, bantingan benda, dan suara keras lainnya. Pintu terbuka bersamaan dengan Kano yang terlempar keluar, dan pintu tertutup lagi.
"Apa yang kalian lakukan?", tanya Shintaro.
"Terlihat menyenangkan, bukan begitu Master?", tanya Ene sambil tersenyum.
"Ahaha, bukan apa-apa~", jawab Kano senang. Beberapa menit kemudian, kembali terdengar teriakan Kido, tawa Megumi, dan beberapa suara keras benda yang jatuh.
"Apa Megumi-san dan Danchou akan baik-baik saja?", tanya Momo dengan nada sedikit 'khawatir'.
"Mereka hanya memakai yukata kan? Bukan masalah besar!", kata Seto optimis. Momo terlihat seperti dia menyadari sesuatu dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 5 sore.
"Ah! Kalau begini kita bisa telat! Ayo semuanya, cepat ganti pakaian!", kata Momo, dan semuanya menuju kamar untuk memakai yukata.
"Maaf telah menunggu!", aku keluar dari kamar, menggeret Kido yang tidak ingin keluar. Kido memakai yukata yang dibawa Kano tadi.
"Danchou! Kamu terlihat cantik!", puji Momo-chan sambil tersenyum. Kido tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya.
"Ya, dia terlihat seperti ogre, hanya kurang pemukul saja", kata Kano, tidak sadar apa yang dia bicarakan. Dan seperti hari-hari biasanya, Kano tergeletak di lantai bergumam kesakitan, dan Kido mengalihkan wajahnya yang merah karna malu, atau mungkin senang.
"Seto, bagaimana penampilanku?", tanya Mary. Dia memakai yukata berwarna pink dengan pola bunga sakura.
"Kamu benar-benar manis, Mary!", kata Seto dengan senang sambil mengacungkan jempolnya. Yah, ini juga biasa..
"Master, aku mendownload sebuah yukata!", kata Ene dari balik ponsel Shintaro. Dia memakai yukata mini skirt berwarna biru muda, dengan topeng rubah di kepalanya.
"Yukata ini memang sesuatu..", komentar Shintaro.
"Yah, itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan yukata Momo-chan", aku berkata sambil melihat Momo-chan yang memakai yukata mini skirt berwarna merah dengan pola bintang. Biasa saja? Tidak, kalau kamu melihat obinya yang bertuliskan yude tamago (telur rebus).
"Kenapa telur rebus?", tanyaku sambil sweatdrop. Yang lainnya ikut sweatdrop sambil menurunkan bahu mereka.
"Yah, tidak banyak waktu yang kita punya sekarang, jadi ayo pergi!", kata Kano bersemangat.
"Aku merasa ingin muntah..", kata Shintaro sambil menaruh tangannya di mulut.
Kami sampai di festival, tapi banyak orang berkumpul disana, membuat festival musim panas ini terlihat seperti lautan manusia. Dan kalau bersentuhan dengan orang, Kido tidak bisa menggunakan kekuatannya.
"Bisakah kita pulang sekarang?", tanyaku berharap.
"Kita sudah sampai disini. Sayang kalau langsung pergi..", kata Momo-chan, dan Kido mengangguk setuju.
"Yah, berdoalah agar fans Kisaragi-chan tidak melihatnya~!", kata Kano dengan senang. Kurasa dia menikmati ini..
"Baiklah—Eh? Dimana Seto dan Mary?", saat aku berbalik dan melihat sekeliling, aku tidak melihat mereka berdua dimana-mana.
"Sepertinya mereka bersenang-senang berdua..", kataku dengan tidak bersemangat.
"Kalau begitu, ayo kita juga menikmati festival ini!", teriak Momo-chan senang. Tapi, karna terlalu keras, semua orang melihat Momo-chan dan mulai berbisik. Kami melihat satu sama lain dengan gugup.
"Kita lari sekarang?", tanyaku kepada semuanya.
"Ya, ayo lari sekarang", kata Kido, dan kami langsung berlari dengan fans Momo-chan mengikuti di belakang.
"Megumi! Bisakah kamu memakai kekuatan matamu?!", tanya Shintaro, keringat bercucuran dari dahinya. Kita bahkan belum berlari selama 3 menit *sweatdrop*.
"Baiklah..", aku memakai kekuatan mataku untuk memprediksi jalan yang bisa kami lewati, tanpa para fans itu mengikutinya.
"Lewat sini!", aku berlari semakin cepat, dan yang lain mengikuti di belakang. Aku berbelok ke arah kiri, dan setelah itu berbelok lagi ke kiri, ke sebuah gang kosong. Kami bersender di tembok, berharap kalau fans Momo-chan tidak melihat kami. Setelah beberapa saat, suara hentakan kaki mereka menghilang, dan Kano mengintip keluar.
"Tidak ada fans.."
"Hah.. Kita bahkan belum bermain dimanapun..", kata Momo-chan kecewa. Yah, yang itu adalah salahmu, Momo-chan.
"Karna sudah begini, ayo kita cari tempat untuk menonton kembang api. Aku tau tempat yang bagus dan sepi", kataku sambil tersenyum kecil. Yang lainnya mengangguk setuju, mungkin karna terlalu capek setelah berlari dari orang-orang tadi.
Setelah beberapa menit berjalan dengan santai, kami sampai ke sebuah bukit. Disana lumayan tinggi, jadi kami bisa melihat kembang api dengan jelas. Baru saja sampai disana, terdengar suara ledakan kembang api, dan kami semua langsung melihat ke arah langit.
Berbagai kembang api dengan banyak warna menghiasi langit. Bintang-bintang yang bersinar dengan terang membuat pemandangan itu semakin cantik.
"Benar-benar cantik..", kata Kido dengan mata berbinar. Aku hanya tersenyum kecil melihat Kido yang bertingkah seperti anak-anak.
"Tidak sia-sia kita datang kesini!", kata Momo-chan senang. Kano hanya berdiam diri tanpa suara sambil melihat kembang api. Seakan teringat sesuatu, dia berbalik melihatku.
"Bukankah kita melupakan sesuatu?", tanya Kano sambil berusaha mengingat-ingat. Setelah mendengar ini, kami semua berusaha mengingat apa yang kami lupakan.
"Ah.. Dimana Shintaro dan Ene?", tanyaku baru sadar. Yang lainnya terlihat sadar dan berusaha memikirkan sesuatu.
"Kalau onii-chan pasti akan baik-baik saja kan?", tanya Momo-chan.
"Itu benar! Shintaro akan baik-baik saja, jadi lebih baik kita tidak khawatir!", kata Kido dengan sedikit memaksa.
"Ini pengalaman musim panas yang menyenangkan, dan kita harus menikmati waktu kita sekarang~", lanjut Kano sambil tersenyum, berusaha menahan tawa.
"Yah, kalau menurut kalian begitu, baiklah..", aku berkata sambil kembali melihat kembang api di langit. Dan kami semua menikmati malam musim panas ini, menghiraukan Shintaro yang mungkin sedang diganggu Ene entah dimana, dan Seto bersama dengan Mary yang pastinya sedang bersenang-senang di festival sekarang.
Author's Note : Terima kasih kepada semuanya yang telah mengikuti cerita ini dan sudah memberi review~
Tolong jangan berhenti membaca walaupun updatenya lama XD
Sampai jumpa lagi~!
-harukawaayame
