Soonyoung sembuh tiga hari setelah Jihoon terakhir kali datang ke rumahnya untuk menjenguk. Dan selama tiga hari itu ia sama sekali tidak bertemu dengan Jihoon. Mereka hanya berkomunikasi lewat pesan singkat yang kadang dibalas dalam waktu yang lama oleh Jihoon. Soonyoung berasumsi jika kekasihnya itu tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya yang bertumpuk, karena ia tahu sebanyak apa tugas kuliah kekasihnya itu. Lalu, di hari pertama ia kembali masuk kuliah setelah enam hari absen karena demam, Soonyoung datang ke fakultas musik untuk menemui kekasihnya. Niat awalnya adalah memberikan kejutan untuk Jihoon yang sama sekali tidak ia beritahu kalau ia sudah sembuh dan sudah kembali kuliah.
Jihoon adalah orang yang tidak suka punya banyak teman. Lebih tepatnya temannya bisa dihitung jari, jadi Soonyoung agak kesulitan mencari Jihoon karena ia bingung harus bertanya pada siapa. Tapi kebetulan ia bertemu dengan senior Jihoon yang ia kenal. Namanya Kim Jonghyun. Soonyoung kenal Jonghyun ketika ia tak sengaja bertemu Jihoon yang tengah mengobrol di depan pintu masuk fakultas musik, dan Jihoon pun langsung mengenalkan Jonghyun pada Soonyoung.
"Hyung!" panggil Soonyoung, membuat Jonghyun yang tengah sibuk dengan ponselnya menoleh.
Pemuda itu tersenyum kearah Soonyoung yang berjalan menghampirinya.
"Hai, Soonyoung." Sapa Jonghyun. "Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"
"Aku baru sembuh sakit, dan ini hari aku baru masuk kuliah lagi." Jawab Soonyoung.
"Benarkah? Lalu keadaanmu sudah baik?"
Soonyoung mengangguk, "Aku sudah sangat baik, hyung."
"Oh iya," kata Soonyoung lagi. "Hyung lihat Jihoon?"
Jonghyun mengangguk, "Aku tadi berpapasan dengannya. Dia ke ruang kesehatan bersama seseorang, tapi aku tak kenal. Coba kau cek."
Soonyoung mengangguk sambil tersenyum, "Terima kasih, hyung. Aku pergi dulu. Lain kali kita mengobrol lagi."
"Baiklah."
Setelahnya Soonyoung pergi menuju ruang kesehatan di lantai dua gedung fakultas musik. Soonyoung sedikit berlari karena ruang kesehatan berada di ujung koridor.
Ketika ia sampai, Soonyoung langsung membuka pintu tanpa mengetuk. Ia membuka pintu sangat pelan, takut mengganggu orang yang ada di dalam. Tapi ketika ia masuk, ruangan tersebut sepi, hanya ada suara dua orang tengah bicara. Dari suaranya, keduanya adalah laki-laki, karena penasaran, Soonyoung pun melangkah semakin masuk ke ruang kesehatan tersebut. Dan apa yang ia lihat setelahnya, membuatnya cukup tercengang. Langkahnya terhenti begitu saja dan tubuhnya membeku. Raut wajahnya mengeras dan tanpa sadar ia mengepal kedua tangannya.
Disana, ia melihat Seokmin tengah memeluk erat kekasihnya, Jihoon. Dan Jihoon sama sekali tidak berontak atau berusaha melepaskan diri. Lalu dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun Soonyoung berjalan menghampiri keduanya.
"Lee Jihoon," Soonyoung memanggil Jihoon dengan nada suara dingin.
Mendengar suara yang familiar memanggil namanya, Jihoon sontak langsung melepaskan pelukan Seokmin lalu membalikkan tubuhnya. Mata Jihoon membola ketika melihat sosok Soonyoung yang seharusnya ada di rumah karena sakit, sekarang berdiri di hadapannya, menatapnya dengan tatapan marah sambil mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Soo-Soonyoung.." kata Jihoon berbisik.
Tak hanya Jihoon, Seokmin pun juga terkejut dengan kehadiran Soonyoung disini.
"Apa yang aku katakan untuk tidak mendekatinya, Ji?" tanya Soonyoung sambil menatap tajam Seokmin.
Jihoon menunduk. Sekarang ia benar-benar ketakutan karena kekasihnya tengah marah. Mungkin memang Soonyoung adalah orang yang ramah dan ceria, suka bercanda dan melucu, tapi jika Soonyoung sudah marah dan kecewa, pemuda itu akan menyeramkan. Jihoon sudah pernah melihat Soonyoung mengamuk sekali ketika mereka sekolah dulu, dan setelahnya Jihoon tak mau membuat Soonyoung marah karena sangat menakutkan.
"Ma-maaf, Soon. A-aku-"
Jihoon belum selesai bicara tapi tangan Soonyoung mendorongnya untuk minggir. Kemudian pemuda itu mendekat kearah ranjang dimana Seokmin berada. Merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, Jihoon buru-buru menarik tangan Soonyoung. Tapi pemuda itu langsung melepaskan tangan Jihoon.
"Cukup aku melihat kelakuanmu selama ini." Kata Soonyoung pada Seokmin. "Harusnya kau sudah tahu kalau Jihoon memiliki kekasih, dan itu aku. Dan harusnya juga kau tahu diri untuk tidak mendekati kekasihku."
Seokmin menelan ludah susah payah karena merasakan tatapan tajam Soonyoung benar-benar menyeramkan.
"Soonyoung, sudah." Kata Jihoon sambil menarik tangan Soonyoung agar menjauh.
"Diam, Ji!" seru Soonyoung, membuat Jihoon tersentak dan melepaskan tangan Soonyoung.
Soonyoung kembali menatap Seokmin yang belum berani membuka suara. Dan tiba-tiba saja Soonyoung menarik Seokmin hingga turun dari ranjang dan memukul wajahnya hingga pemuda itu terjatuh ke lantai ruang kesehatan. Jihoon memekik karena terkejut dengan sikap Soonyoung.
"Itu untuk peringatan sekaligus untuk sikapmu yang seenaknya memeluk kekasihku." Kata Soonyoung.
Jihoon berjongkok di dekat Seokmin. Ia menarik dagu pemuda itu agar menghadapnya, lalu ia tersentak karena darah segar mengalir di sudut bibir Seokmin yang sedikit robek. Jihoon berdiri dan menghadap Soonyoung, menatap kekasihnya dengan marah.
"KENAPA KAU MEMUKULNYA, KWON SOONYOUNG?!" Jihoon berteriak marah.
Soonyoung mengernyitkan dahi, "TENTU SAJA AKU HARUS! DIA SUDAH BERANI MEMELUKMU!" Soonyoung balik berteriak.
"TAPI KAU BERLEBIHAN!"
Soonyoung menatap Jihoon tak percaya, "OH! JADI KAU MEMBELANYA?! KAU SUKA DIA MEMELUKMU, BEGITU?!"
Entah mendapat kekuatan dari mana, tiba-tiba saja Jihoon menampar pipi Soonyoung. Semuanya terjadi sangat cepat bahkan tanpa Jihoon sendiri sadar. Lalu beberapa detik kemudian Jihoon berjalan mendekati Soonyoung berusaha memegang pipi kekasihnya yang sudah ia tampar. Tapi Jihoon tersentak karena Soonyoung mundur selangkah menjauhinya.
"Jadi begitu, Ji." Kata Soonyoung pelan sambil menunduk.
Kemudian pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatap Jihoon, "Baiklah, aku akan membiarkan kalian berdua seperti yang kau mau. Aku pergi."
Dan setelah mengatakan hal itu Soonyoung benar-benar pergi meninggalkan Jihoon dan Seokmin.
~oOo~
Soonyoung mengendarai motornya seperti orang kerasukan. Ia tak peduli akan mendapat kecelakaan atau ditangkap polisi. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah menenangkan diri. Ia bahkan rela meninggalkan kampus dan membolos kuliah. Ia tak peduli lagi.
Soonyoung sampai di sungai Han. Ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi panjang disana dengan seplastik bir yang ia beli di mini market. Memang ini masih terlalu siang untuk minum, tapi Soonyoung tidak peduli.
Soonyoung menatap lurus, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di sungai Han sambil meneguk bir kaleng di tangannya.
Tiba-tiba
"Soonyoung?"
Sebuah suara yang memanggilnya dari arah belakang membuat Soonyoung menoleh. Ia terkejut ketika tahu siapa yang memanggilnya.
Itu Jun. Dan dia bersama seseorang entah siapa, Soonyoung baru melihatnya.
Jun menghampiri Soonyoung dan berdiri di hadapan pemuda yang masih setia duduk di kursi panjang sambil memegang kaleng bir di tangannya.
"Sedang apa kau disini? Kukira kau pergi kuliah." Kata Jun.
Lalu mata Jun tak sengaja melirik kaleng bir di tangan Soonyoung dan juga plastik mini market di sebelah Soonyoung yang penuh dengan bir.
"Kau minum?!" seru Jun.
Soonyoung tidak menjawab pertanyaan Jun. Matanya fokus pada sosok pemuda disebelah Jun yang tangannya di genggam erat oleh sepupunya itu.
"Dia siapa, Jun?" Soonyoung justru malah bertanya bukannya menjawab pertanyaan Jun.
Jun melihat kemana arah pandangan Soonyoung.
"Kekasihku." Jawab Jun.
"Oh jadi ini yang namanya Minghao." Kata Soonyoung. "Halo, aku sepupu Jun, kau pasti sudah sering mendengar namaku dari Jun, kan? Jadi kurasa aku tidak perlu mengenalkan diriku lagi."
Pemuda bernama Minghao itu tersenyum canggung karena merasa tak enak dengan situasi sekarang. Pasalnya ia bertemu dan dikenalkan pada sepupu Jun saat pemuda itu tengah minum sendirian dengan wajah yang...hem...frustasi?
"Sudah jangan mengalihkan pertanyaanku! Cepat jawab! Apa yang kau lakukan disini dengan berkaleng-kaleng bir?!" seru Jun.
Soonyoung melirik sepupunya, "Aku sedang ingin sendirian, Jun. Jadi kumohon jangan ganggu aku dulu dengan pertanyaanmu itu. Aku akan cerita jika aku mau dan sekarang aku tidak mau menceritakan apapun padamu, apalagi dalam situasi kau tengah kencan."
Jun menghela nafas. Ia tahu, bahkan tanpa Soonyoung beritahu kalau pemuda itu sedang memiliki masalah. Hanya saja Jun tidak tahu masalah apa yang pemuda itu miliki sekarang dan apa penyebabnya. Yang Jun bisa katakan adalah masalah ini serius karena Jun tahu kalau Soonyoung tidak terlalu suka minum walaupun ia bisa. Soonyoung tak akan minum jika tidak ingin.
"Kita bicarakan ini di rumah." Kata Jun.
Soonyoung hanya mengangguk sebelum kembali meminum bir di tangannya.
Kemudian Jun mengajak kekasihnya untuk pergi dan membiarkan Soonyoung sendirian karena memang pemuda itu sepertinya butuh ruang untuk sendirian sekarang.
Jun tengah makan siang bersama kekasihnya di sebuah restoran ketika ponselnya berdering. Pemuda itu pun mengangkat telepon yang masuk dan menerimanya di hadapan kekasihnya yang tengah menyuap makanan.
"Halo?"
"Jun." Suara Jihoon terdengar di seberang telepon.
"Oh, Jihoon. Ada apa, Ji?"
"Maaf aku bertanya ini, tapi apakah kau sedang bersama Soonyoung?"
Jun mengernyitkan dahi. Ia bingung kenapa Jihoon menanyakan hal ini padanya. Apa jangan-jangan masalah Soonyoung berkaitan dengan Jihoon?
Lalu kalaupun iya, Jun bingung apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Jihoon dimana Soonyoung? Tapi Soonyoung akan marah padanya nanti karena pemuda itu sudah bilang kalau ia ingin sendirian.
Setelah menghela nafas panjang Jun menjawab,
"Aku tidak sedang bersamanya." Jawab Jun.
"Lalu apa kau tahu dimana dia?" tanya Jihoon.
"Aku tahu, tapi kurasa kau jangan menemuinya dulu, Ji."
Tak terdengar jawaban dari Jihoon, jadi Jun melanjutkan,
"Aku tidak tahu ada masalah apa antara kau dan Soonyoung, yang pasti tolong biarkan dia sendirian untuk sekarang."
Jihoon tak menjawab lagi, membuat Jun sedikit merasa bersalah pada pemuda itu.
"Ji?" panggil Jun.
"I-iya, ba-baiklah aku...tidak akan mengganggunya dulu...ya..." kata Jihoon.
Kemudian telepon di putus oleh Jihoon. Jun benar-benar diliputi rasa bersalah. Walaupun samar ia masih bisa mendengar kalau suara Jihoon bergetar. Bisa Jun tebak kalau pemuda itu hendak menahan tangis.
Setelah meletakkan ponselnya diatas meja, Jun kembali melanjutkan makannya.
"Itu siapa, ge ?" tanya Minghao ketika Jun tengah mengunyah makanannya.
"Kekasih Soonyoung." Jawab Jun sekenanya setelah menelan makanannya. "Hao-ya, apa yang harus aku lakukan? Aku merasa tidak enak padanya."
Minghao menatap Jun bingung, "Memangnya apa yang dia katakan?"
"Dia bertanya dimana Soonyoung sekarang. Aku ingin mengatakan dimana Soonyoung, tapi aku tahu kalau Soonyoung sedang butuh waktu untuk sendiri." Jelas Jun. "Dan kenapa juga aku harus berada ditengah-tengah pasangan ini? Buat pusing saja."
Minghao tersenyum sambil menggenggam sebelah tangan Jun, "Nanti saja gege bicarakan dengan Soonyoung, sekarang ayo habiskan makannya."
Jun menghela nafas kemudian mengangguk. Setelahnya Jun dan Minghao kembali melanjutkan makan siang mereka yang terhenti sebentar.
Sorenya, setelah mengantar Minghao pulang, Jun langsung tancap gas menuju rumah setelah menelepon Soonyoung untuk bertanya dimana dia sekarang. Dan ketika Soonyoung menjawab kalau ia berada di rumah, Jun segera mengendarai mobilnya pulang.
Sampai di rumah, Jun segera pergi ke kamar Soonyoung dan menemukan si pemilik kamar tengah merebahkan diri di ranjang dengan wajah tertutup bantal. Plastik mini market berisi bir yang tadi ia lihat ketika bertemu Soonyoung di sungai Han sekarang berada di lantai kamar pemuda sipit itu dengan isinya yang sudah berkurang setengah. Bisa Jun bilang kalau Soonyoung sudah minum sekitar 4-6 kaleng bir.
Jun menarik paksa bantal yang berada diatas wajah Soonyoung. Soonyoung yang tadinya tengah memejamkan mata berusaha untuk tidur, kembali membuka matanya. Ia menatap Jun yang sudah duduk di tepi ranjangnya.
"Kau sudah pulang." Kata Soonyoung. "Cepat sekali kencannya."
Jun menghela nafas, "Aku tidak sedang ingin membicarakan soal kencanku. Aku disini untuk membicarakan soal masalahmu."
Soonyoung mengalihkan pandangannya dari Jun ke langit-langit kamarnya.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan cerita ketika aku ingin." Balas Soonyoung.
"Aku tahu apa yang membuatmu begini." Kata Jun. "Jihoon lagi, kan?"
Soonyoung melirik Jun dengan tatapan 'bagaimana-kau-bisa-tahu'.
"Sekarang aku yakin kalau kau itu cenayang." Kata Soonyoung.
"Aku bukan cenayang dan aku tidak bisa meramal." Balas Jun. "Tadi Jihoon meneleponku, dia menanyakan keberadaanmu."
Sekarang Soonyoung merubah posisinya menjadi duduk dan seluruh atensinya tertuju pada Jun. Ia tidak menyangka jika Jihoon akan mencarinya hingga bertanya pada Jun.
"A-apa yang kau katakan padanya?" tanya Soonyoung.
"Aku bilang untuk tidak menemuimu dulu." Jawab Jun.
Soonyoung mendesah lega mendengar jawaban Jun. Ia kira Jun akan memberitahu keberadaannya karena memang setelah pergi meninggalkan Jihoon di ruang kesehatan tadi, Soonyoung tidak menjawab telepon ataupun membalas pesan dari Jihoon.
"Terima kasih tidak memberitahu Jihoon." Kata Soonyoung.
"Tapi kau berhutang cerita padaku."
"Nanti saja ketika aku ingin."
"Apa masalah kalian kali ini sangat serius sampai kau menghindarinya?"
"Aku hanya sedang ingin sendiri, Jun." Jawab Soonyoung. "Aku harus menenangkan pikiranku sebelum membicarakan masalah ini dengan Jihoon."
Tidak perlu penjelasan lebih lanjut, Jun sudah bisa menebak kalau masalah Soonyoung dan Jihoon kali ini sangat serius. Dan akan lebih baik jika Jun tidak terlibat lebih jauh karena ini semua adalah masalah mereka berdua.
"Cepat selesaikan masalah kalian." Kata Jun seraya berdiri dari duduk.
Soonyoung hanya diam, tidak menjawab. Sementara Jun, ia berjalan menuju pintu dan membuka kembali pintu tersebut. Tapi sebelum keluar, Jun kembali mengatakan sesuatu,
"Dan kau harus tahu, Jihoon hampir menangis ketika meneleponku tadi."
Setelahnya Jun benar-benar keluar dari kamar Soonyoung, meninggalkan Soonyoung yang masih terduduk di tengah ranjangnya, sibuk dengan pikirannya sendiri.
~oOo~
"Aku pulang!" terdengar suara Seungcheol dari arah pintu depan.
Sekarang baru pukul 6 sore dan Seungcheol sudah pulang karena kebetulan seluruh pekerjaannya sudah selesai dan ia bisa pulang lebih awal.
Seungcheol langsung pergi ke dapur karena hidungnya mencium bau masakan. Dan ia menemukan Ibunya tengah memasak.
"Harum sekali." Kata Seungcheol. "Apa yang Ibu masak?"
"Kimchi jjigae." Jawab Ibunya.
"Oh ya bu, aku lihat sepatu Jihoon di depan. Dia sudah pulang kuliah?"
Ibunya mematikan kompor lalu membalikkan tubuhnya menghadap Seungcheol. Seungcheol melihat raut wajah Ibunya yang tampak khawatir langsung mengerutkan dahi.
"Jihoon sudah kembali sejak pukul 2 siang tadi." Jawab Ibunya.
"Tidak biasanya. Dia sakit?" tanya Seungcheol.
"Itu dia yang Ibu tidak tahu. Pulang tadi Jihoon tampak sangat lesu, Ibu sudah bertanya apa dia sakit, dan Jihoon bilang kalau ia baik-baik saja. Tapi setelahnya dia langsung mengurung diri di kamar. Ibu tidak tahu apa Jihoon sudah makan atau belum. Ibu sudah mencoba bicara padanya tapi Jihoon sama sekali tidak mau keluar dari kamarnya." Jelas Ibunya. "Cheol-ah, coba kau bicara dengannya."
Seungcheol mengangguk.
Setelah berganti pakaian dengan pakaian rumah, Seungcheol pergi ke kamar Jihoon. Dengan perlahan ia mengetuk pintu kamar Jihoon.
"Ji, ini aku." Kata Seungcheol. "Boleh aku masuk?"
Tidak ada jawaban. Seungcheol pun kembali mengetuk pintu kamar Jihoon.
"Jihoon-ah, ayolah biarkan aku masuk."
"A-aku lelah, hyung. Aku ingin istirahat." Jihoon akhirnya menjawab. Tapi bohong jika Seungcheol tidak tahu kalau suara Jihoon bergetar.
"Biarkan aku masuk dan bicara denganmu." Kata Seungcheol.
"A-aku lelah, hyung." Balas Jihoon.
"Kau kira bisa membohongiku begitu saja? Aku ini sepupumu, jadi aku bisa tahu kalau kau tengah bohong sekarang." Kata Seungcheol. "Buka pintunya dan biarkan aku masuk."
Jihoon tidak menjawab.
Seungcheol menghela nafas, "Ji, jangan sampai aku mendobrak pintu ini."
Setelah Seungcheol berkata demikian, beberapa detik kemudian kunci pintu kamar Jihoon terbuka. Seungcheol pun langsung membuka pintu kamar Jihoon dan masuk kesana. Ia menghampiri Jihoon yang duduk di lantai sambil bersandar pada tepi ranjangnya.
"Apa yang kau lakukan mengurung diri di kamar? Kau membuat Ibu khawatir." Kata Seungcheol seraya mendudukkan dirinya di sebelah Jihoon.
Tak terdengar jawaban dari Jihoon. Sadar kalau sepupunya itu tidak menjawab, Seungcheol menoleh untuk melihat wajah Jihoon, dan terkejut ketika melihat jejak air mata di wajah Jihoon, bahkan ia baru sadar kalau mata Jihoon sembab.
"Kau habis menangis?!" seru Seungcheol.
Jihoon buru-buru menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya dari Seungcheol. Tapi Seungcheol lebih cepat, pria itu menahan dagu Jihoon lalu menariknya agar menghadap kearah Seungcheol.
"Katakan apa yang terjadi." Kata Seungcheol.
"Tidak ada." Jawab Jihoon.
"Jangan berbohong padaku, Ji." Kata Seungcheol lagi. "Kau bertengkar dengan Soonyoung?"
Jihoon menggeleng.
"Aku tidak akan melakukan apapun pada Soonyoung kalau kau menceritakan semuanya padaku. Tapi kalau kau tidak mau jujur, biar aku yang menanyakannya sendiri pada Soonyoung."
Jihoon membulatkan matanya lalu menggeleng kuat.
"Jangan, hyung!" seru Jihoon.
Seungcheol menghela nafas, "Kalau begitu ceritakan apa yang terjadi."
"Tapi hyung janji untuk tidak melakukan apapun pada Soonyoung. Ini masalahku dengannya, biarkan aku dan dia yang menyelesaikannya." Kata Jihoon.
Seungcheol sebenarnya tidak mau berjanji. Melihat sepupu kesayangannya begini saja Seungcheol sebenarnya ingin menghajar Soonyoung, tapi karena Jihoon sendiri yang meminta, mau tak mau Seungcheol menganggukkan kepalanya.
"Baiklah." Jawab Seungcheol.
Setelah mendengar jawaban Seungcheol, Jihoon akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Soonyoung. Semuanya tanpa terkecuali.
~oOo~
Soonyoung meninggalkan rumah ketika jam makan malam. Ia bilang akan pergi sebentar tapi nyatanya ia melarikan diri ke studio tari tempat biasa timnya latihan. Soonyoung adalah ketuanya, sudah pasti ia tahu jadwal latihan timnya sendiri, dan Soonyoung tahu kalau mereka tidak ada jadwal latihan hari ini, jadi Soonyoung bebas memakainya untuk dirinya sendiri.
Soonyoung bisa minum alkohol, hanya saja dia bukanlah peminum yang kuat. Soonyoung biasanya hanya minum 2-3 kaleng bir atau 1 botol soju, itu pun ia sudah mulai mabuk. Jadi ketika ia punya masalah, Soonyoung lebih suka menenangkan diri dengan menyendiri di studio tari, menggerakkan tubuhnya hingga ia melupakan masalahnya sendiri.
Seperti perkiraannya, studio tari itu kosong. Dan ketika ia masuk, Soonyoung segera menutup rapat-rapat pintu studio. Kemudian Soonyoung langsung menyalakan lagu dari ponselnya yang tersambung ke speaker besar disini. Ketika lagu mulai terdengar, Soonyoung dengan refleks menggerakkan tubuhnya sambil menatap pantulan bayangannya sendiri pada cermin di hadapannya.
Semakin larut malam, semakin menggila gerakan Soonyoung. Peluh sudah menetes satu per satu dari ujung kepalanya tapi Soonyoung tidak berhenti. Ia terus menggerakkan tubuhnya sambil menatap pantulan bayangannya sendiri di cermin.
Satu yang Soonyoung tidak tahu. Jun ada disana. Entah karena terlalu fokus hingga tak menghiraukan sekitarnya, Soonyoung sama sekali tidak tahu Jun masuk ke studio dan memperhatikannya sejak tadi dari sofa panjang yang ada di pojok dekat dengan pintu masuk. Jun sebenarnya ingin menghentikan Soonyoung karena ia khawatir sepupunya itu akan kembali sakit, tapi mengingat bagaimana frustasinya Soonyoung hari ini, Jun akhirnya hanya memperhatikan tanpa bersuara. Ia membiarkan Soonyoung melepas frustasinya sampai puas.
Tepat pukul 2 dini hari, lagu yang mengalun keras sejak tadi berhenti. Soonyoung jatuh berlutut dengan peluh menetes dari ujung rambutnya yang basah ke lantai studio sementara Jun masih disana, duduk manis memperhatikan Soonyoung. Tak lama setelahnya, tiba-tiba terdengar isakan pelan.
Soonyoung menangis.
Jun menghela nafas kemudian berdiri dari sofa dan menghampiri Soonyoung. Pemuda Cina itu berjongkok di hadapan Soonyoung sambil menyodorkan sebuah handuk kecil, membuat Soonyoung mengangkat kepalanya dan menatap Jun.
"Ke-kenapa kau di-disini, Jun?" tanya Soonyoung.
Jun mengedikkan bahunya, "Entahlah, mungkin aku terlalu khawatir padamu. Ya, anehnya kenapa juga aku harus sekhawatir ini pada sepupu seidiot kau."
Soonyoung mengambil handuk kecil yang disodorkan Jun padanya kemudian ia mengelap wajahnya yang basah dan lengket karena keringat bercampur air mata. Soonyoung lalu duduk bersandar pada salah satu pilar dengan wajah yang disembunyikan diantara kedua lututnya. Jun mendekat dan duduk disebelah Soonyoung, memandang lurus kearah cermin yang memantulkan bayangan mereka berdua.
"Sebenarnya aku heran, apa yang membuatmu bertengkar dengan Jihoon." Kata Jun. "Kau belum menceritakan apa-apa, jadi aku tiba bisa membantu."
Soonyoung mengangkat kepalanya, "Ini...agak rumit." Balas Soonyoung.
"Ceritakan dan mungkin saja aku bisa membantumu."
Soonyoung menyerah. Ia tadinya tidak mau menceritakan masalah ini pada Jun dan ingin menyelesaikan semuanya berdua dengan Jihoon karena bagaimana pun juga ini adalah masalah mereka berdua. Tapi sepertinya Soonyoung tidak bisa. Akhirnya ia pun menceritakan kejadian hari ini yang ingin sekali Soonyoung lupakan.
~oOo~
Besok paginya Jihoon sama sekali tidak ingin bangun dari ranjangnya. Bukan karena ia malas, tapi karena tubuhnya sangat lemas. Alarm ponselnya sudah berdering sejak tadi, tapi Jihoon sama sekali tidak bisa bangkit untuk sekadar meraih ponselnya dari atas nakas untuk mematikan alarm tersebut. Ia yakin, dalam beberapa menit atau mungkin detik, Seungcheol akan datang ke kamarnya dan menyuruhnya untuk cepat ba─
"Lee Jihoon, cepat bangun!" seru Seungcheol seraya membuka pintu kamar Jihoon.
─ngun.
Benar kan?
Seungcheol duduk di tepi ranjang Jihoon, "Ayo bangun, pemalas." Kata Seungcheol.
Jihoon menggeleng.
"Kau mau bolos kuliah karena si bodoh itu?" tanya Seungcheol.
"Bukan." Jawab Jihoon dengan suara parau. "Aku lemas sekali hari ini."
Seungcheol pun buru-buru meletakkan telapak tangannya pada dahi Jihoon.
"Kau hangat." Kata Seungcheol.
"Tentu saja aku hangat! Kalau aku dingin, aku mati!" seru Jihoon gemas. "Serius, hyung, aku tidak bisa kuliah hari ini."
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke dokter." Kata Seungcheol kemudian.
Jihoon menggeleng, "Hyung kerja saja, aku akan pergi dengan bibi." Jawab Jihoon.
"Kau kurang beruntung, pemalas. Ibu pagi-pagi sekali tadi sudah pergi ke rumah bibi Nam di Suwon."
Jihoon menghela nafas panjang. Ia harus ke dokter untuk memeriksakan penyakitnya, tapi ia tidak mau merepotkan Seungcheol. Bagaimana pun juga Seungcheol harus pergi ke kantor.
Dalam situasi seperti ini, biasanya Seungcheol akan menelepon Soonyoung dan memintanya menemani Jihoon ke dokter, dan Soonyoung pasti dengan senang hati membolos kuliah demi Jihoon. Tapi sekarang karena Soonyoung dan Jihoon tengah bertengkar, Seungcheol tidak bisa meminta tolong padanya.
"Kalau begitu, aku telepon Jisoo saja, ya?" tawar Seungcheol.
Jihoon menggeleng lagi, "Jisoo hyung juga punya pekerjaan." Balas Jihoon. "Ambilkan ponselku, hyung."
Seungcheol mengambil ponsel Jihoon dari atas nakas dan memberikannya pada pemiliknya. Jihoon kemudian sibuk mencari sesuatu di ponselnya.
"Ini." Kata Jihoon seraya menyerahkan ponselnya pada Seungcheol.
Seungcheol menerima ponsel Jihoon dan menatap layarnya. Disana tertera kontak seseorang dengan nama 'Jeon Wonwoo'.
"Telepon saja dia." Sambung Jihoon.
"Baiklah, kalau temanmu ini tidak bisa juga mengantarmu, aku akan telepon Jisoo."
Kemudian Seungcheol keluar dari kamar Jihoon untuk menelepon, meninggalkan Jihoon yang masih tiduran di ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga ujung dagu. Tak lama kemudian Seungcheol kembali masuk ke kamar Jihoon.
"Temanmu tidak bisa mengantar karena harus ujian." Kata Seungcheol. "Sudahlah, biar Jisoo saja yang mengantarmu."
Jihoon kembali menggeleng, ia kembali mengacak-acak kontak di ponselnya hingga terhenti pada satu nama. Yoon Jeonghan.
Jihoon ingat siapa Yoon Jeonghan. Teman Soonyoung yang pemilik salon itu. Jihoon hendak menyuruh Seungcheol untuk menelepon Jeonghan, tapi ia takut kalau Jeonghan tengah sibuk di salon. Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan membiarkan sepupunya itu menelepon kekasihnya.
"Ah, begitu...ya, tidak apa-apa...hem...biar aku saja yang mengantarnya...jangan khawatirkan aku...ya, sayang...iya sampai jumpa nanti malam."
Jihoon melirik Seungcheol yang baru saja selesai menelepon.
"Kurasa memang harus aku yang mengantarmu." Kata Seungcheol.
Jihoon tidak menjawab dan malah menyerahkan ponselnya pada Seungcheol. Seungcheol menerima ponsel Jihoon dan melihat layarnya. Disana tertera kontak bernama 'Yoon Jeonghan'.
"Kau mau aku menelepon orang ini?" tanya Seungcheol. "Kau kenal dengannya?"
"Kalau aku tidak mengenalnya, tidak mungkin kontaknya ada di ponselku." Jawab Jihoon.
"Baiklah, ini yang terakhir." Kata Seungcheol. "Kalau dia tidak bisa juga, kau tidak boleh menolak untuk aku antar."
"Iya, berisik." Balas Jihoon.
~oOo~
Jeonghan menyilangkan tangannya di depan dada. Salonnya baru akan buka pukul 10, tapi ada tamu tak diundang datang sepagi ini, membuat Jeonghan menggelengkan kepalanya.
Ia tengah bersih-bersih bersama dua karyawannya ketika pintu salonnya di ketuk pelan. Jeonghan yang kebetulan sedang berada tak jauh dari pintu masuk, langsung menoleh dan ia agak terkejut ketika melihat sosok Kwon Soonyoung berdiri di depan pintu masuk salonnya. Selama ini Soonyoung tak pernah datang ketika salonnya belum mengganti papan tulisan 'Close' di depan pintu menjadi 'Open', tapi entah kenapa hari ini pemuda sipit itu datang ke salonnya sepagi ini.
"Ada apa? Aku belum buka, Soon." Kata Jeonghan.
"Aku ingin bicara dengan hyung." Jawab Soonyoung.
"Kau tidak lihat? Aku sedang bersih-bersih. Kita bisa bicara setelah aku selesai."
"Akan aku traktir sarapan."
Jeonghan menghela nafas, "Tidak bisa, Kwon Soonyoung." Kata Jeonghan. "Tunggu aku 20 menit dan aku akan bicara berdua denganmu."
"Oh ayolah, hyung, disana bahkan ada dua karyawanmu."
"Lalu membiarkan mereka membersihkan salon ini berdua? Tidak, Soon. Aku bukan atasan yang jahat. Tunggu aku selesai atau kau pergi."
Soonyoung menghela nafas, "Baiklah, 20 menit, tidak lebih." Balas Soonyoung.
Kemudian Soonyoung berjalan menuju motornya yang ia parkirkan tak jauh dari salon Jeonghan, sementara Jeonghan kembali masuk ke salonnya, melanjutkan bersih-bersih yang tertunda karena Soonyoung.
Baru 5 menit Jeonghan kembali ke salon, pemuda cantik itu kembali keluar dari salon, kali ini dengan agak terburu-buru berjalan menuju mobilnya. Soonyoung yang melihat itu langsung berlari menghampiri Jeonghan tepat sebelum pemuda itu membuka pintu mobilnya.
"Hyung!" seru Soonyoung seraya menghentikan tangan Jeonghan yang hendak membuka pintu mobilnya.
"Hyung mau kemana?" tanya Soonyoung.
"Aku harus pergi sekarang. Kita bicara nanti." Balas Jeonghan sekenanya kemudian membuka pintu mobilnya dan masuk.
Jeonghan kemudian menyalakan mobilnya dan pergi tanpa menghiraukan Soonyoung yang memanggilnya.
TBC
Author's Note(s) :
1. Maafin aku! Maaf karena updatenya lama. Aku bukannya malas. Aku sibuk dua minggu terakhir sama tugas kuliah plus aku ngestuck pas ngetik chapter ini. Sumpah, sulit ngebangun feeling buat chapter ini. Semoga chapter ini gak mengecewakan kalian yang sudah menunggu ff ini ya:")
2. Akhirnya bisa bikin konflik juga, walaupun masih ringan banget. Tapi bikin ini aja aku harus muter otak, bahkan berulang kali revisi udah kayak bikin skripsi:(
3. Disini ada moment Junhao:) Aku seneng akhirnya Minhao muncul juga walaupun gak banyak:) Dan Jeonghan muncul lagi! Yeaayy! Oh iya, maaf ya buat Wonwoo aku belum bisa munculin dia lagi. Gatau anaknya kemana hehe :) Tapi nanti akan ada saatnya Jeon Wonwoo muncul kok, coming soon:))
3. Maafin aku ya, para pengabdi Seokmin, disini Seokmin aku nistain:( Dan buat pada readers-nim, jangan hakimi Seokmin dulu yah, dia tidak sejahat itu kok. Dia gak maksud bikin Jihoon sama Soonyoung bertengkar, seriusan deh:( Jadi tolong jangan hakimi dia:((
4. Pelakor (baca:Yebin) akan muncul di chapter depan:) Siap-siap ya buat yang mau lampiasin marah, silahkan di chapter depan:))
5. Curhat dikit ya, sebenernya chapter ini udah selesai dari minggu lalu. Aku tadinya mau update ini hari senin kemaren, tapi gara-gara ada berita duka Jonghyun SHINee, mood aku turun drastis. Aku nangis 3 hari dan baru bisa pulihin mood aku lagi hari Kamis kemaren. Karena aku mau update ini barengan sama ff sebelah, jadi aku pending sampe ff sebelah selesai. Dan di chapter ini ada Jonghyun kan ya, klarifikasi ya, Jonghyun disini itu Kim Jonghyun Nu'est aka JR. Namanya sama sih ya sama Jonghyun SHINee, akunya jadi baper lagi :'( kalo diantara readers aku ada Shawol, aku sebagai Carat ikut berduka ya:( Aku juga sedih bahkan sampe nangis 3 hari:( Semoga kalian tetap kuat dan sabar, kalian masih punya 4 alasan untuk tetap bahagia:) Masih ada Onew, Key, Minho, sama Taemin:)) Semangat terus ya, jangan sedih lagi:)))
Oke, seperti biasa tinggalin review buat author yang banyak kekurangan ini:)
Aku sayang kalian semua~thankseu:*
