GUARDIAN & ANGEL

(Chapter 10)

Cast: Super Junior members and others

Disclaimer: Super Junior belongs to SME, and the members belong to themselves EXCEPT HENRY, He is MINE (gaploked by Strings –hey, aku juga strings!)

Warning: genderswitch (so NO YAOI), OOC, Sci-fi, penuh imajinasi abal, typos, dan sodara-sodaranya..

Aku masih duduk sambil menunduk. Rasanya sangat tak nyaman disaat namja itu masih berbicara dengan appa tapi aku hanya menunduk dan menjawab beberapa pertanyaannya dengan sekadar 'hnn' atau 'eum'. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tak menyukainya. Aku tak ingin ditunangkan dengan namja yang entah datangnya dari mana. Aku hanya mau bertunangan dengan Kangin. Egois memang. Tapi inilah cintaku...

Untuk kali ini, aku berharap bisa membaca pikiran Kangin. Kuharap bisa berbicara dalam pikiran dengan Kangin lagi.

Tapi akibat perasaan yang kami miliki, Kangin tak lagi dapat membaca maupun berkomunikasi dalam pikiran denganku.

"Leeteuk ssi, bagaimana kalau nanti malam kita makan malam? Saya yang traktir," ucap namja itu. Aku tak ingat siapa namanya meskipun ia sudah berkali-kali dipanggil dan memperkenalkan diri padaku.

Seramah apapun ia, sebaik apapun dia, sekaya apapun dia, sesempurna apapun dia, aku tak tertarik.

Dia bukan Kangin, dan kurasa itu alasan yang kuat untuk menolaknya. Namun aku tahu diri, jadi aku akan menurutinya untuk beberapa waktu saja.

Namun bukan malam ini.

"Terima kasih. Tapi besok saya masih ada sekolah dan saya harus mengerjakan tugas-tugas sekolah saya," tolakku dengan halus. Kupaksakan senyum semanis dan sedikit ekspresi menyesal agar terlihat seperti aku sangat tak suka untuk menolaknya.

"Ah, saya sampai lupa kalau Leeteuk ssi masih sekolah! Wajah anda yang begitu dewasa membuat saya mengira anda sudah kuliah," ucapnya menyanjungku, tapi di telingaku itu terdengar seperti menghina! Dewasa? Maksudnya pasti wajahku terlihat tua untuk seorang siswa SMA kan? Hah, dasar muka dua!

Padahal aku belum mengenalnya lebih jauh tapi aku sudah menghinanya seperti itu. Sangat tak baik. Sangat tak dewasa, kalau itu maksudnya.

"Ah, terima kasih. Appa, bolehkah aku masuk kamar sekarang? Aku ingin mulai mengerjakan tugas dan PR-Prku," pamitku pada appa. Tentu saja karena ini berhubungan dengan sekolah, appa langsung mengijinkan.

Baru juga 10 menit duduk di ruang tamu, aku sudah melenggang masuk kedalam kamarku. Kangin yang dari tadi hanya dibelakangku pun diam saja.

CKLEK

BLAM!

Aku membanting pintu kamar. Cukup kesal karena perlakuan appa yang tiba-tiba memperkenalkan seseorang padaku sebagai tunanganku. Padahal kan aku tak pernah setuju soal pertunangan itu. Ah, ani. Justru appa tak pernah menyinggung acara pertunangan ini padaku!

BRUK

Aku menjatuhkan diri di kasur. Kepalaku kubiarkan menggantung di pinggiran kasur. Bila maju sedikit lagi, helaian puncak kepalaku akan jatuh.

Aku mulai berpikir sendiri lagi

Salahkah bila aku hanya mencintai Kangin? Salahkah bila Kangin mencintaiku?

Memang akibatnya aku dan Kangin tak lagi dapat berkomunikasi dalam pikiran. Bahkan appa menyuruh Kangin untuk melupakan perasaannya padaku agar posisi bodyguard didirinya tak lepas dariku.

Aku bahkan berbohong pada appa sekarang. Kubilang tadi akan mengerjakan tugas kan? Kenyataannya aku malah hanya tiduran tak jelas.

Aku memejamkan mata. Mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya agar pikiranku sejernih udara diluar. Oh ayolah, Seoul sudah tak sejernih dulu.

"Nona, makan malam sudah siap," suara Kangin begitu dekat. Ia berada tak jauh dariku. Kalau aku tak salah duga sih ia ada di atasku..

Kubuka mataku perlahan. Hal pertama yang aku lihat bukanlah langit-langit kamar melainkan mata sipit milih Kangin. Aku tersenyum.

"Ne, chagiya," ucapku lembut.

Kangin tiba-tiba mengecup keningku. Aku yang tiba-tiba dapat serangan seperti itu hanya diam namun sambil membelalakkan mata.

"Jangan sekali lagi memanggil saya dengan sebutan itu. Kita belum resmi berpacaran. Kita hanya saling menyukai, tak lebih,"

DEG

Apa-apaan maksud Kangin barusan? Mejatuhkanku setelah aku terbang terlampau tinggi?

Aku memutar badanku sehingga kami bertatapan langsung. Ia cukup kaget melihat aku tiba-tiba memutar badan dan menatapnya dengan garang.

"Kangin! Apa maksudmu? 'Hanya saling menyukai, tak lebih'? Kau tak tahu seberapa bahagianya aku setelah tahu kau juga mencintaiku, hnn? Kau tak tahu bhwa saat itu aku seperti sedang melayang? Kau tak tahu bahwa saat itu aku tak ingin melepaskan tagutan liar dan kasarmu itu, hnn?" aku mulai berteriak membentaknya. Dia malah tersenyum hangat.

"Tentu saya tahu, karena saya juga begitu. Namun karena tuan belum menyetujui perasaan saya terhadap anda, saya tidak bisa membuat keputusan untuk menjalin hubungan dengan anda melebihi dari seorang bodyguard terhadap masternya."

Appa.

Masih saja itu alasannya.

"Appa itu masalah nanti..."

"Bagaimana bisa nanti? Kalau restu dari calon ayah mertua saja tidak dapat, bagaimana bisa lancar hubungan kita nanti?"

OMO

Mertua?

"Ya, Kangin! Itu terlalu jauh," ucapku malu sambil mendorongnya pelan. Tentu saja ia tak goyah. Aku yeoja dan dia namja. Apa lagi kekuatannya bila diukur sekitar sepuluh kali lipatnya kekuatanku.

"Tapi memang itu yang aku pikirkan," ucapnya sambil menahan kedua tanganku yang mendorongnya barusan.

Aku bangun dari kubur #plak (ulangi!)

Aku bangun dari posisi tiduranku dan mulai duduk bersila. Kangin ternyata sedang berlutut disamping kasurku. Wajahnya yang menunjukkan kepenasaranpun ditujukan pasti padaku.

"Katakan padaku! Apa kau mencintaiku?"

Kangin terlihat ragu.

Ah, apa-apaan itu? Reaksi macam apa itu?

"Kangin! Jawab sekarang juga!"

"N-nona, saya..." jawabnya dengan terbata-bata.

"Astaga, Kangin.. Baru juga kau menyatakannya padaku beberapa jam yang lalu di laboratorium! Kenapa dalam waktu kurang dari lima jam bisa membuatmu ragu pada keputusanmu?"

"Bukan itu masalahnya nona. Saya benar-benar mencintai anda, tapi haruskah membentak seperti itu?"

Wajahku memerah.

"A-aku tadi membentak ya? Mianhe, aku terlalu bersemangat..."

Dia terkekeh pelan.

"Tentu saja. Nona memang orang yang bersemangat. Sekarang, tidurlah. Kau tak mau terlambat untuk sekolah besok kan?"

Aku menggeleng. Kangin mendorong pelan tubuhku hingga terposisikan benar untuk tidur. Terlampau pelan hingga tak seperti dia saja. Seelah aku benar-benar nyaman diatas bantal, Kangin memandangku dengan lembut lagi.

"Selamat tidur nona,"

Kangin mulai beranjak dari kasurku.

Baru juga beberapa jam menyadari perasaan masing-masing, aku dan Kangin bisa jadi sedekat ini. Rasanya sangat menyenangkan mengucapkan 'aku mencintaimu', 'aku menyayangimu', 'kau milikku', dan semua ucapan-ucapan itu tanpa takut bahwa dia tidak menyukainya. Tapi aku ingin Kangin disampingku. Egois memang, tapi kapan sih yeoja tak menjadi posesif terhadap sesuatu yang barusaja menjadi miliknya?

Aku menggenggam tangan Kangin yang bila sepersekian detik lagi kubiarkan pergi akan benar-benar lepas sentuhannya dari tubuhku. Kangin menatapku dengan wajah heran.

"Nona?"

Aku meneguk ludah. Astaga, aku tak memikirkan akibatnya. Aku hanya menuruti insting dan saat ini aku tak tahu harus berbuat apa. Memintanya duduk disampingku? Menemaniku sampai aku tertidur? Menyanyikan lullaby untukku? Mengecup dahiku sebelum tidur?

"Jangan tinggalkan aku."

AH! PABO!

Kenapa malah berkata seperti itu? Aduuuh, ingin sekali aku menjambak rambutku dan mengucek-ucek wajahku karena kebodohanku yang tak kunjung memudar ini...

Dia terkikik pelan.

"Saya takkan pernah meninggalkan anda. Saya hanya mengambil kursi di seberang sana," ucapnya sambil menunjuk kursi yang terletak dibawah meja riasku.

Astaga. Aku tak tahu perasaan apa ini tapi ini seperti pemcampuran senang, bahagia, puas, dan kesal. Kesal karena ia menertawakanku.

"Kau tahu, aku takkan pernah meninggakanmu meskipun jarak dan segala masalah keduniawian memisahkank kita. Karena hanya satu yang bisa memisahkan kita, kematian."

"Kangin! Aku paling tak suka membicarakan kematian!"

"Tapi aku suka. Karena aku pernah sekali hampir mendekati ambang hidup itu kalau saja tak ada tim dari tuan yang menyelamatkan hidupku dan memberiku lengan serta mata mekanik ini. Tuan dan timnya sangat penting bagiku karena tampa mereka aku takkan bisa hidup, karena itu aku tak bisa berkata tidak pada setiap keinginan mereka."

Aku jadi teringat kata-kata appa tadi. Kangin harus berhenti menyukaiku kalau tidak ia akan selamanya tak bisa membaca pikiranku dan itu sangat mengganggu hubungan kami. Tapi bila ia berhenti menyukaiku, bahkan aku yang lebih terganggu.

"Kalau begitu aku tak penting?"

"Ani. Nona penting, penting sekali dalam hidup saya. Namun kalau bukan karena jasa mereka saya takkan bisa bertemu yeoja spesial seperti nona. Jadi kalian sama-sama pentingnya untuk saya."

"Tapi kau harus memilih Kangin! Kalau kau memilih aku, tetaplah menyukaiku apapun yang terjadi. Kalau kau memeilih mereka, lakukan yang mereka mau. Keuntungannya sih tetap sama, kita masih bisa bersama. Tapi bila pilihan pertama yang kau ambil, hidup kita takkan semulus sebelumnya."

"Baiklah, akan kupikirkan itu nanti, Nona. Sekarang tidurlah. Aku akan selalu disebelah nona," ucapnya sambil menggenggam tanganku. Dan secara perlahan aku mulai terjun kedalam dunia mimpiku.

.oOo.

Putih. Semuanya putih.

Mimpiku malam ini tak seperti biasanya. Semuanya terlihat putih sekali. Aku mencoba mengerjap-kerjapkan tanganku, tapi aku tak menemukan kehangatan yang kucari. Kehangatan dari tangan Kangin.

"Kangin?"

Aku mulai berteriak kesegala arah untuk mencari keberadaannya. Kuputar engsel leherku kearah kanan dan kiri. Dan hasilnya, NIHIL

"KANGIIIIN!"

Dia sudah berjanji takkan pernah meninggalkanku. Mengapa sekarang ia pergi? Bahkan dalam mimpiku pun ia tak boleh pergi!

Ehm. Terdengar egois sekali ya? Tapi Kangin sudah berjanji padaku, dia takkan meninggalkan, eh? Siapa itu?

Ada seseorang di seberang sana. Tak terlalu jelas karena visualku terhalang terangnya putih, berjalanlah aku mendekat padanya. Mataku serasa ingin buta saja melihat pancaran terangnya warna putih itu.

"Annyong hasimnika? Nugu seyo?" tanyaku sopan namun tak dijawabnya.

2 detik

4 detik

8 detik

Ih, ini orang budeg kalik ya?

"Annyong!" karena nggak sabar aku mulai membentak.

"Nona..."

Suara ini, suara Kangin. Hanya perasaanku atau ini adalah ilusi pendengaranku? Eh, bedanya apa?

"Nona, ini saya."

Ya, itu Kangin. Aku mulai mengambil langkah demi lankah mendekatinya. Namun setipa kali aku mendekat padanya, tiap langkah jadi seperti menarik beban yang dua kali lebih berat.

Tak butuh lebih dari 20 langkah aku sudha berada dua meter didepan Kangin. Satu yang mengejutkanku.

Tangannya hanya satu dan mata kanannya tertutup!

Persis dengan yang ada di cermin waktu aku ke kamar Kangin dulu.

"K-kangin, mengapa keadaanmu speerti ini?" tanyaku parau. Mengenaskan melihatnya seperti itu, speerti bukan dia saja.

"Nona, inilah aku tanpa peralatan keparat itu. Tak pernah anda ketahui sebelumnya kan peralatan itu sangat menyiksaku hingga aku selalu berharap mati saja. Namun bila aku mengat peralatan-peralatan sial itu digunakan untuk melindungimu, entah mengapa rasa sakit itu langsung aku lupakan begitu saja,"

Aku ... Entahlah. Aku tak tahu mau berkomentar apa. Rasanya sudah sangat sakit melihat ia tanpa peralatannya yang melengkapi tubuhnya itu. Namun mendengar penuturannya sendiri bahwa peralatan-peralatan itu menyiksa dirinya, itu jauh lebih mengiris urat tangisku. Aku tak memahami orang yang selalu disampingku, orang yang kucintai. Aku tak paham rasa sakit itu.

"Jadi, yang didalam cermin itu juga dirimu?"

Ia mengangguk.

"Saya akan selalu berada disekitar anda. Disaat anda sadar atau tidak. Disaat anda terjaga maupun tertidur. Disaat anda senang maupun sedih. Disaat anda tertawa maupun menangis. Karena..." ia membuka kerah piyamaku sehingga tato sayap tanda perjanjian kami terpampang jelas lalu mengecupnya pelan namun sanggup menggetarkan seluruh pembuluh darahku hingga aku merinding, "saya adalah guardian anda."

Diangkatnya wajah itu teoat didepanku. Matanya yang kecil namun mengandung banyak kelembutan memandang mataku dengan sangat tajam. Meskipun hanya satu, namun cukup menghangatkan seluruh tubuhku. Semua warna putih itu tertutup oleh wajahnya yang benar-benar terlihat penuh dimataku. Nafasnya yang berat mengenai bibirku dengan sangat lembutnya.

Kulihat ia mulai menutup matanya secara perlahan bersamaan dengan semakin cepatnya deru nafas yang menari dibibirku. Kehangatan kulinya semakin terasa saat kutahu hanya tinggal berjarak kurnag saru 1 centimeter lagi kedua bibir kami.

Akhirnya, kedua bibir tipisnya itu muai melumat pelan kedua bibirku yang sedikit terbuka untuk memudahkannya. Secara bergantian dan sangat lembut, dilumatnya perbagian dari bibirku. Bibir atas, kemudian bibir bawah. Begitu seterusnya. Tak ada nafsu, hanya perasaan rindu seakan kami terpisah ribuan tahun cahaya.

Aku tak melakukan pembalasan, hanya diam namun bukannya pasif. Aku masih menikmati permainannya yang begitu lembut, sangat memabukkan dan menyandu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu mulai menyapu bibir bawahku dnegan sangat lembut. Lidahnya.

Aku masih menutup mataku dan mulai menikmati permainan lidahnya didalam mulutku. Meskipun ini mimpi, tapi rasanya terlampau nyata untuk sebuah ilusi kehidupan. Semuanya terlampau nyata. Sentuhan di bibir, mulut, pipi, hidung, tangan yang menahan pinggangku, pundak yang menyentuhku, semuanya terasa terlampau nyata.

Bulu matanya mengerjap-kerjap pelan. Saat aku membuka mataku, aku sadar bahwa aku sudah terbangun dan kembali kedunia nyata. Namun aku tak menyesal karena sudah kembali ke dunia nyata karena baik mimpi maupun di dunia nyata, Kangin masih tetap menciumku dengan penuh kelembutan.

Ia mengangkat kepalanya dan memutuskan pagutan kedua bibir kami.

"Selamat pagi, Nona," katanya sambil menatap kedua mataku dengan lembut.

"Pagi, Kangin. Kae selalu melakukan itu untuk membangunkanku?" godaku.

"Ani. Ini untuk pertama kalinya."

Kangin beranjak ari tempat tidurku dan berdiri sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut tangan kanannya itu dnegan wajah penuh senyum.

"Ah! Teuki-ya sudah bangun? Cepatlah berkemas, Donghae ssi tak lama lagi akan datang menjemputmu untuk berangkat ke sekolah," ucap umma dari puntu depan kamarku.

Aku menatap Kangin, "Siapa itu Donghae ssi?"

"Loh, dia kan namja yang akan ditunangkan dengan Nona. Masak Nona nggak ingat?" aku menggeleng. Aku terlalu malas mengingat namanya.

"Ya sudahlah. Sekarang Nona bersiap saja. Saya akan turun membantu membuatkan sarapan," ucapnya dibalas dengan anggukanku.

.oOo.

Aku sudah siap dengan seragamku dan sarapan pun sudah siap kusantap. Baru juga tiga suap nasi goreng, tiba-tiba ada suara bel berdentang. Sepertinya mulai hari ini aku harus mau terbiasa kedatangan tamu jam segini.

Umma dengan penuh semangat membuka pintu dan mempersilakan namja itu duduk disampingku untuk sarapan bersama.

"Selamat pagi Leeteuk ssi," ucapnya sopan dengan sanyum yang , oke lah, menawan. Aku tak bisa memungkirinya. Meskipun aku sudah punya Kangin, tetap saja untuk masalah ini aku tak bisa buta. Wajahnya ternyata lembut juga kalau dilihat dari dekat.

"Selamat pagi...," aku terdiam sebentar. Gila, aku lupa NAMANYA!

"Donghae ssi," lanjut Kangin yang berdiri dibelakangku. Ah, iya. Namanya Donghae-ssi.

"Selamat pagi juga, Kangin ssi," ucapnya sambil tersenyum ramah pada Kangin.

Kulihat namja ini tak buruk juga. Tutur katanya lembut dan segala perilakunya tak menunjukkan orang kasar. Dilihat dari pakaiannya, kuyakin dia sudah berpenghasilan sendiri dan sukses. Tapi Kangin ku tetap yang lebih sempurna dimataku.

"Leeteuk ssi. Mari saya antar ke sekolah. Kangin ssi juga saya rasa lebih baik ikut."

"Bukan lebih baik, tapi memang harus. Bahkan akan saya pertaruhkan nyawa saya untuk tetap bisa didekat Nona." Aku blushing.

"Haha, bodyguard yang setia. Andai saya juga punya. Jangmonim, saya berangkat mengantar mereka terlebih dahulu."

Jangmonim? Itu kan panggilan untuk ibu mertua dari pihak perempuan? Dia sudah begitu optimis untuk menjadi suamiku, hn?

"Annyong umma," ucapku.

"Ne, annyong yorobeun. Hati-hati ya menyetirnya, Donghae ssi!" ucap umma dnegan sangat ceria.

.oOo.

"Anak-anak, ini adalah surat persetujuan orang tua untuk Study Tour ke Mokpo. Serahkan pada orang tua kalian dan serahkan pada saya besok. Kalau tidak, jangan harap kalian bisa ikut."

Study tour? Mokpo? Tempat itu nggak buruk-buruk amat. Kuharap umma dan appa memperbolehkan aku dan Kangin ikut.

"Nona, Nona ikut?" tanya Kangin.

"Aku sih pingin ikut. Kota itu kan terkenal dnegan ikan-ikannya. Aku juga penasaran dengan Jembatan Gantung yang terkenal itu," ucapku semangat.

"Baiklah, kalau Nona ikut, saya juga ikut."

"Tentu saja. Kau harus selalu ikut denganku," ucapku sambil menggandeng lengannya. Kami pun tertawa bersama. Menanti waktu petang tiba dan umma menandatangani surat kami dibawah kotak tanda SETUJU.

*TBC

*Kotak curhat author*

Ternyata bikin FF itu susah. Banyak banget gangguannya dari FB, twitter, Hello, me2day, deviantart, (semua akun lu aja chan disebutin ==') haha

Terus juga aku lagi main game Angry Bird. Udah level pertengahan (lu pikir sekolah, chan? ==') makanya eman kalo nggak aku terusin. Hehe

Oia, setelah aku perhitungkan pake sempoa (plak) akhirnya aku memutuskan cast disini adalah HaeHyuk! Alias Hae seme, Hyuk yeoja. Tapi sabar yah, Hyuknya lama banget nongolnya. Hehe.

Tapi pada gerasa nggak? Kayaknya ni FF makin lama makin ngelantur deh ceritanya... Harus ditamatin secepetnya! #plak hehe

Yaudah deh, aku mau ngelanjutin game Angry bird nya dulu. Kalo level 2 udah komplit, baru aku lanjutin yang chapter 11 nya. Hahaahahha #epil #upil #plak XD