Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: Birdy-Skinny Love, Shelter, People Help the People, Electroboyz feat Hyorin-Ma Boy 2, Miryo feat Sunny (SNSD)-I love You I Love You, Gummy-As a Man, Boa-Only One, Owl City-The Saltwater Room, Rookiez is Punk'd-Song for, Ed Sheeran- Cold Coffee, Lego House, Kasey Musgraves- Merry Go'Round, JYJ-In the Heaven…Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Hii readers-san! Akhirnya chapter 10 diupdate juga! Hihihiih…sebelumnya gomen ne, di chapter ini adegan Ichirukinya dikit nih . Tapi ada chara baru muncul disini…Guess who? Wkkwkwk Trus, maaf ya kalau penjelasan cerita disini terkesan biasa saja, karena mood dan emosi author yang terus bertabrakan *apa sihh?* Hope u enjoy the story! Dan author tidak berhenti-hentinya berterima kasih kepada para readers dan reviewers yang terus meningkat! Hontou ni arigatou gozaimasu! XD Dan bagi para reviewers yang selalu mendukung, juga memberi kritik dan saran! Review kalian sungguh memberiku semangat untuk tetap menulis! Juga yang sudah me-fave dan me-alert fic ini, terima kasih banyakkk~

Oc, sudah dulu curhat authornya..hehehehe, kepanjangan ini ^^;… happy reading all~

~000*000~

Chapter 10 : Autumn Scene One

Haahhh..lagi-lagi aku mendesah, membuat beban di tubuhku semakin terasa. Aku duduk bersandar ke meja counter sambil melihat langit-langit yang terasa suram di sore ini. Cuaca mendung, tidak ada matahari. Tidak ada orange. Hanya kejanggalan yang terasa, di relung hatiku sekaligus memenuhi atmosfer café. Musim panas yang sudah lama berganti menjadi musim gugur, membuat pengunjung café kembali ke titik awal—tidak sepi sekaligus tidak ramai. Hal tersebut membuatku merasa sedikit rileks, tidak perlu melakukan pekerjaan yang menyita hampir seluruh waktuku sepanjang sore dan membuat badan pegal-pegal. Hanya saja…sumber dari segala kesibukan rutinitasku tidak tergantikan sepenuhnya sekarang. Membuatku menatapi langit-langit café sungguh terasa tragis, menyedihkan. Keberadaan Ichigo beberapa hari, mungkin minggu, tidak mengisi kekosongan counterku seperti biasanya. Bahkan, pesan singkat yang sengaja kukirim hampir setiap malamnya tidak bisa membuatku merasa puas seluruhnya. Kadang dia tidak membalas pesanku, walaupun sebagian besarnya berusaha dibalasnya dengan mengetikan kata 'maaf' di setiap pesannya. Apa dia sedang memiliki kesibukan lain? Tapi apa? Haruskah kutanyakan langsung pada Ichigo? Tunggu… mungkin itu bisa menganggu waktunya. Apa mungkin dia…menghindariku? Tidak tidak… harus kusingkirkan pertanyaan itu ke sudut belakang kepalaku—menjauhkannya sejauh mungkin dari kemungkinan yang ada.

"Ku-chi-ki Ru-ki-aaa!"

Langsung kutegakkan tubuhku, begitu mendengar namaku dipanggil dengan nada yang tidak biasa. Ya.. Rangiku-san lah yang selalu menyenandungkan namaku sesuka hatinya, kadang membuat mataku melirik tajam padanya sebagai tanda pertidaksetujuanku.

"Rangiku-san," balasku malas, tidak beranjak dari posisi dudukku. "Ada apa?"

"Kau sedang melihat apa di langit-langit? Mencari kecoak?" tanyanya dengan wajah polosnya, membuatku mengernyit ngeri.

"Kecoak tidak menempel di langit-langit, Rangiku-san," balasku sengit, sedikit bergidik bila ada kecoak yang benar-benar menempel di atas sana dan tiba-tiba saja jatuh ke arah mukaku. Sungguh menjijikan!

Rangiku-san tersenyum geli dan mengambil tempat duduk yang biasa Ichigo tempati, membuatku sedikit menatap miris. Rasanya…sungguh aneh tempat Ichigo sekarang digantikan dengan wanita seksi berambut pirang yang memiliki ukuran dada tidak wajar. "Kalau begitu, kau sedang memikirkan apa?"

Aku terdiam mendengarkan pertanyaannya, lebih tepatnya berpikir. Entahlah, pikiranku sedang tidak menentu saat ini. Disaat dibutuhkan untuk berpikir, tiba-tiba saja benakku terasa kosong dan seperti mau melayang—membuat tubuhku terasa sangat ringan. Disaat sedang termenung, segala jenis pikiran langsung bercampur aduk dalam benakku. Ingin sekali rasanya aku membenturkan kepalaku ke dinding batu.

"Ichigo!"

"Hah?" teriakku, hampir menyamai suara tinggi Rangiku-san. Aku berusaha melirik ke balik tubuh Rangiku-san, tapi mendapati wajah menyebalkan wanita seksi itu menyeringai lebar padaku. Dia…menipuku?

"Rangiku-san!" protesku kesal, sudah dikerjai olehnya. Dan sekarang aku merasa sangat kesal terhadap diriku sendiri. Sebegitu sensitifkah aku dengan nama si kepala orange itu?

"Lihat! Tebakanku tepat, bukan?" Rangiku-san terlihat sangat antusias, mendorong badannya maju ke arah meja counter—menggunakan kedua tangannya…ditambah aset besarnya itu…sebagai tumpuan di meja. "Kau merindukan Kurosaki-kun, bukan?"

Sekarang wajahku terasa panas, kesal bercampur malu. "Ti..tidak.. aku hanya—"

"Kau benar-benar tidak bisa jujur ya, Rukia?" kata Rangiku-san, menatap prihatin padaku. Dia ikut mendesah dan kembali menyenderkan tubuhnya pada punggung kursi. "Kurosaki yang tidak mengunjungi café ini benar-benar membuat suasana terasa sangat sepi. Tidak seru!"

Apa yang kaumaksud tidak seru itu, hah? Selain mengerjai dan menyudutkanku di depan Ichigo…

"Kau tidak menghubungi kekasihmu itu, Rukia?"

"Aku…. tidak mau menganggunya…dan… dia bukan kekasihku, Rangiku-san. Harus berapa kali aku menjelaskannya padamu, sih?" omelku sambil melipat kedua tanganku di depan dada.

"Terserah padamu saja, Rukia-chan," balas Rangiku-san memberikan tatapan aneh padaku. "Kenapa kau tidak mengunjunginya saja ke sekolah? Sekedar berkunjung tidak apa, kan?"

Berkunjung ke sekolahnya? Sekolah Ichigo? Mungkin…itu ide bagus. Mengirim pesan dan tidak mendapat kepastian darinya memang membuatku semakin tidak bisa diam saja. Aku hanya ingin tahu, apa yang sedang dikerjakannya sekarang. Apa yang membuat Ichigo tidak berkunjung ke café beberapa waktu ini.

"Memberinya kejutan memang ide yang bagus!" seru Rangiku-san sambil menangkupkan kedua tangannya gembira.

"Heh?!" kataku tidak percaya. Mungkin..lagi-lagi aku terjebak oleh wanita licik satu ini. Dia selalu saja bisa memojokkanku, kapan saja dia mau.

"Berjuanglah Rukia! Kau tahu, aku selalu mendukungmu!"

"Berjuang apanya?" celetuk Yumichika memelototi Rangiku-san sambil berkacak pinggang. "Apa yang kalian lakukan disini, sementara aku sibuk melayani para tamu yang datang? Terutama kau, Matsumoto!"

"Hehhh…Aku kan hanya istirahat sebentar, memangnya tidak boleh?" balas Rangiku-san, memperlihatkan tatapan polosnya.

"Ini bukan jam istirahat!" omel Yumichika, membuatku terbangun dari dudukku dan mulai mengambil kesibukanku—setidaknya menghindar dari kedua orang merepotkan ini.

(..)

(..)

(..)

Mengetik? Tidak. Mengetik? Tidak. Mengetik?

Kubanting hpku ke atas kasur dan mengernyit kesal. Mengetik pesan pada Ichigo serasa mencabut paku yang menancap pada batang pohon dengan tangan kosong—sungguh sangat sulit. Akhirnya aku menyerah, membiarkan hpku tergeletak begitu saja, terbaring di ranjang bersama si kelinci putih yang masih setia bergelantungan disana. Kulirik Ichigomu—boneka anjing laut pemberian Ichigo—seperti menatapku penuh tanya. Kuraih tangan mungilnya dan mendekapnya erat dalam pelukanku. Ahhh…rasanya sulit sekali untuk menjalani hari-hari membingungkan ini. Apalagi, setelah perlakuan Ichigo padaku…membuatku merasa tenang dan aman. Bahkan, dia sempat menggendongku seperti seorang putri dari negeri dongeng, memelukku, mencium keningku, mencium bibir—

Kubenamkan wajahku pada Ichigomu sambil berteriak sekeras-kerasnya—teredam dalam tubuh putih empuknya. Mukaku terasa panas, kembali memerah tanpa sengaja. Ini semua karena pikiranku yang mulai melantur ke sembarang arah. Mengingat lagi kejadian malam itu, yang sekarang tidak lagi kusesali sepenuhnya. Napasnya yang berhembus lembut di wajahku, tangannya yang besar dan kuat menyentuh pipiku, dan terakhir…bibirnya menyentuh bibirku lembut.

"Ichigomu…bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" rintihku frustasi sambil terus mendekap anjing laut besar ini tanpa rasa bersalah akan merusaknya sekalipun. "Bolehkah aku memikirkan hal bodoh seperti ini?"

Kubaringkan tubuhku ke atas ranjangku, kembali menatapi langit-langit sambil membayangkan kejadian yang bisa dibilang telah merubahku. Tidak sepenuhnya merubah diriku, tapi tetap saja sangat berpengaruh bagiku. Sekarang aku memiliki hal berharga lain dalam hidupku, selain Chappy dan pohon sakura teman setiaku. Ichigo…ya… si rambut orange keras kepala itu sudah mempercayakan dirinya untuk menjadi penopangku. Sungguh, membuat beban di pundakku—yang sudah begitu lama terdiam disana—terangkat sebagian karena kehadiran Ichigo. Masa lalu yang seharusnya tidak bisa dirubah, entah bagaimana caranya Ichigo perlahan bisa memperbaikinya. Memori-memori yang menghantuiku hampir setiap malam, tergantikan oleh senyum hangatnya yang diberikan untukku. Tangannya menopang tubuhku sigap, memberikan kehangatan yang belum pernah sebelumnya kudapatkan. Bahunya menjadi sandaranku,bahkan menjadi tempat air mataku terjatuh tanpa beban. Semuanya…diberikan kepadaku tanpa paksaan. Tapi, dia mengharapkan balasannya dariku, yaitu perasaanku sendiri. Perasaan yang sudah tertutup rapat ini, bisakah kuberikan pada Ichigo sepenuhnya. Bisakah dia membuka gembok yang telah terkunci sempurna di dalam diriku ini?

Memori masa lalu kembali muncul dalam benakku. Tatapan mengerikan darinya, saat dia mendorongku, saat aku melawannya balik dengan mendorong tubuhnya, saat tubuhnya terjatuh dari tangga…dan tatapan-tatapan tajam itu yang menusukku setajam belati. Kugelengkan kepalaku dengan cepat, berusaha menghapus ingatan mengerikan itu dari benakku, kembali memeluk boneka ini dalam dekapanku. Yang harus kuingat sekarang adalah Ichigo, hanya Ichigo… Matanya yang indah menatapku lembut, seperti menghipnotis agar terus menatapnya balik. Senyumnya yang tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan keindahan apapun. Ichigo…

"Aku benar-benar bodoh, Ichigomu..Memang sudah seharusnya aku bergantung pada Ichigo, bukan?"

(..)

(..)

(..)

Dan sekarang disinilah aku berdiri, gerbang Athletic Society High School Karakura. Aku termangu diam, menatap gerbang yang sudah terbuka lebar, seakan sudah menyambutku daritadi untuk segera melangkahkan kakiku masuk. Aku sudah membulatkan tekadku untuk hari ini, tidak mungkin untuk mundur lagi, kan? Kau harus kuat, Kuchiki Rukia! Musim gugur yang sendu ini tidak bisa merobohkan tekad kuatmu!

Kulangkahkan kakiku lebar-lebar, menapaki jalan yang sudah seperti terbuat untukku. Mengikuti alur yang sudah kukenal tidaklah sulit, ya kecuali menemukan beberapa pasang mata yang menatapmu sinis. Beberapa orang siswi sekolah lain menatapku tajam, seperti merendahkan atau apalah itu. Aku sama sekali tidak peduli dengan sikap intimidasi mereka, yang penting aku bisa menemui Ichigo hari ini. Menapaki jalan yang seperti jalan setapak ini, membawaku ke sebuah area trek lari yang dikelilingi jeruji besi. Disana beberapa siswi menanti sesuatu yang tidak diduga mereka sebelumnya.

"Dimana Kurosaki-senpai, ya?"

"Grimmjow-senpai juga tidak ada."

"Mungkin mereka tidak masuk hari ini?"

"Apakah mereka bolos latihan? Bohong!" Suara mereka yang memekikkan telinga itu sudah menjawab semua pertanyaanku.

Hmmm..jadi Ichigo tidak ada disini ya.. Berarti tempat itulah yang menjadi area berlatihnya sekarang. Kulangkahkan kakiku lagi, menuju lapangan belakang sekolah yang menjadi tempat pertemuanku dengan Ichigo saat musim semi. Di samping pohon sakura besar yang menarik perhatianku saat itu, kutemukan Ichigo yang sedang berlatih sendirian disana—membuatku hampir tercekat napasku sendiri. Sekarang aku baru menyadari, betapa para siswi itu mengagumi sosok Ichigo. Dirinya yang berjuang begitu keras saat berlari benar-benar membuat mata tidak bisa berkedip, benar-benar keren.

Kutemukan pohon sakura yang sudah tidak berbunga di belokan terakhir menuju lapangan rahasia itu. Untunglah lapangan ini jauh dari perhatian orang-orang, membuatku semakin bersemangat untuk bertemu Ichigo. Tidak ada orang yang menganggu sungguh meringankan sedikit bebanku. Benar-benar tidak terbayang begitu para siswi itu menemukan tempat ini. Itu bisa membuatku bahkan Ichigo terserang sakit kepala mendadak.

Kutautkan jari-jariku pada pagar besi, memperhatikan lapangan sambil merasakan angin sejuk yang berhembus kencang. Kulangkahkan kakiku, hampir meloncat-loncat sambil menyenandungkan lagu Chappy kesukaanku. Niat untuk mengejutkan Ichigo membuatku tersenyum lebar, membayangkan wajah kagetnya melihatku disini sambil menyanyikan lagu Chappy kesukaanku. Tidakkah itu akan membuatmu terusik, Kurosaki Ichigo?

Kulangkahkan kakiku menuju bangku-bangku batu yang sudah tidak terpakai di samping lapangan trek. Sosok seseorang menarik perhatianku, sedang terbaring terlentang di atas bangku panjang, wajahnya tertutupi oleh jaket olahraga. Ichigo kah? Ah..niatku untuk mengagetkannya semakin besar. Kusenandungkan lagu Chappy semakin keras, sambil terus melangkah menuju sosok yang sedang terbaring itu. Tidak ada respon. Kuberhentikan langkahku, beberapa kaki dari jaraknya terbaring diam tak bergerak. Apa dia tidak mendengarkan nyanyian indah Chappyku? Aku mengendap-endap menuju tempatnya, berusaha tidak menciptakan suara dari langkah yang kuambil.

Sekarang aku sudah berdiri di sampingnya, memperhatikan tubuhnya yang masih terdiam tak bergerak. Kukerutkan alisku bingung, menerka apa orang dihadapanku ini masih hidup? Tentu saja bodoh! Dasar Kuchiki Rukia bodoh!

Kutarik napas dalam-dalam, sebelum memulai lagi lagu Chappy yang sejak tadi kusenandungkan. "Chachachacha..chachalata...chahaha…chaha—"

"Berisik!" tiba-tiba sosok itu berdiri, membuatku kaget setengah mati. Napasku tercekat begitu melihat wajah itu tersingkap dari jaket olahraga yang menutupinya, membuat langkahku goyah hingga terjatuh terduduk di atas rumput. Rambut biru…mata biru terang…wajah sangar…

"Siapa kau? Berani-beraninya mengganggu tidurku!" katanya kesal, dengan suara menggema di lapangan kosong ini. Tubuhku benar-benar lemas sekarang, membuatku tidak bisa berdiri dan segera kabur dari sini. Dia…bukan Ichigo…

Mata biru terang itu menatapku balik, memperhatikanku yang masih terduduk diam di bawahnya, "Onna?" tanyanya bingung dan tiba-tiba berjongkok di depanku, membuatku semakin bergidik ngeri. "Apa yang kau lakukan disini?" suaranya melembut, tidak segarang tadi—seperti auman panther.

Aku membuka mulutku, tapi tidak ada yang keluar dari sana. Hanya termangu menatap wajahnya yang semakin dekat menatapku. Tanganku menggenggam rumput-rumput liar di sekelilingku dengan gemetar, hampir membuat rumput-rumput tidak bersalah itu tercabut dari akarnya.

"Kau bukan murid dari sini..hmm.. Society High School, ya?" Dia mulai memperhatikan seragam yang kupakai, dari bawah ke atas dan matanya kembali terpaku menatap mataku. "Kau terluka?"

Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat dan berusaha berdiri dari dudukku— setengah malu dan setengah takut. Bagaimana mungkin aku bisa seceroboh ini? Salah mengira laki-laki sangar berbadan besar ini adalah Ichigo? Apa penglihatanku mulai kabur?

Tiba-tiba saja kakiku terasa lemas lagi, belum sampai aku berdiri sepenuhnya. Tangan itu dengan sigap menahan tubuhku, memelukku dalam dekapannya dan mengangkat…ku? Napasku kembali tercekat hebat sambil terpaku diam menatapnya bingung. Kedua tangannya melingkar erat di sekeliling tubuhku, dengan mudahnya mengangkat tubuhku dalam gendongannya. Dia mendudukkanku di bangku batu yang dipakainya tidur tadi. Wajahku benar-benar terasa panas, memerah tidak karuan. Apa dia tidak seburuk yang kupikirkan tadi?

"Apa yang kaulakukan disini?" tanyanya lagi, sambil berjongkok di depanku. Sekarang tingginya lebih pendek dariku, menatapku dari bawah dengan tatapan bertanya ingin tahu. Alisnya bertaut tajam, bertemu di tengah dahinya seperti milik Ichigo.

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha memproses otakku yang mulai panik. "A..aku..mencari..Ichigo," bisikku sedikit takut, memundurkan tubuhku spontan—sedikit menjauhinya.

"Hah? Ichigo?"

"Rukiaaa!" teriakan itu membuatku bergidik kaget, membuatku berpaling segera ke arah sumber suara. Ichigo berlari kencang sambil membawa botol minum di tangannya, matanya terlihat sangat panik. Laki-laki di depanku ini menatap Ichigo bingung, masih terdiam dari posisi jongkoknya.

"Grimmjoww! Apa yang kaulakukan pada Rukia?!" Tanya Ichigo panik. Laki-laki sangar di depanku ini—yang bernama Grimmjow—bangun dari posisinya dan bediri menantang di depan Ichigo. Dia…lebih tinggi dan lebih besar dari Ichigo. Seharusnya, aku bisa menyadarinya sejak awal.

"Hah? Perempuan ini? Aku hanya menolongnya," jawab Grimmjow-san santai, tidak menanggapi serius kata-kata Ichigo.

Menolong darimana? Kau membuatku hampir terkena serangan jantung mendadak!

"Rukia, kau kenapa? Tidak apa-apa?" Ichigo terlihat panik, segera duduk di sampingku sambil memandangku risih. "Kau terluka?"

"Dia hanya jatuh terduduk tadi. Kau tidak perlu sepanik itu, Ichigo," celetuk Grimmjow-san sambil berjalan menjauh dan mendesah panjang.

Ichigo menghiraukan perkataan Grimmjow-san, masih menatapku bingung sambil mengelus kepalaku lembut—membuat wajahku kembali terasa panas. "Aku..tidak apa-apa, Ichigo. Kau tidak perlu panik."
Ichigo mendesah lega, tapi kerutan di dahinya belum kunjung hilang. "Apa..yang Grimmjow lakukan padamu?" bisik Ichigo, berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar oleh si rambut biru itu.

Sekarang aku merasa sangat tidak tenang dengan keberadaan Ichigo yang kian mendekat, hingga bahu kami saling bertubrukan. Napas hangatnya begitu terasa menyapu wajahku. "I..itu.." ucapku kikuk, berusaha untuk tenang dan menggali-gali lagi ingatan beberapa menit yang lalu. "Aku..salah mengira..kalau Grimmjow-san adalah dirimu…Ichigo."

Ichigo terdiam sesaat, berusaha untuk mengerti apa yang sedang kubicarakan. "Lalu?"

Aku menelan ludahku, berusaha berpaling dari tatapan Ichigo yang semakin mendekat. "Aku..berencana untuk..mengagetkanmu…tapi karena salah orang, Grimmjow-san yang sedang tertidur jadi terbangun…"

Ichigo tersenyum geli, mengalihkan tatapannya pada Grimmjow-san yang sedang melakukan pemanasan. Grimmjow-san yang menyadari sedang ditatap oleh Ichigo, membalasnya dengan tatapan tajam—merasa terganggu. "Apa? Kalau kalian mau bermesraan jangan disini, cari tempat lain!"

"Hah?!" tiba-tiba aku berteriak kaget dan langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku. Grimmjow-san menatapku geli, sambil berjalan santai ke arahku.

"Nah, itu suaramu bisa keluar, nona," kata Grimmjow-san yang sekarang berdiri di depanku, menjulang tinggi. Dia menundukkan tubuhnya, berusaha menyamai tinggiku yang masih terduduk disini, membuatku mengernyit kaget dan refleks menarik tangan Ichigo.

"Grimmjow, kau menakutinya!" protes Ichigo, menatap tajam Grimmjow-san.

Grimmjow-san menghiraukan Ichigo, masih menatapku—kembali meneliti. Mata biru mudanya benar-benar indah…walaupun, masih lebih indah hazel-orange terang milik Ichigo. "Jadi…seleramu itu seperti ini?" tanya Grimmjow-san, berpaling pada Ichigo.

"'Seperti ini' apa maksudmu?" Ichigo terlihat kesal menanggapi perkataan Grimmjow-san, menarikku mendekat pada tubuhnya—merangkul bahuku.

"I..Ichigo!" protesku kaget, berusaha mendorong tubuhnya menjauh dariku, tapi tidak bisa. Tiba-tiba Grimmjow-san tertawa terbahak-bahak, membuatku melotot kaget.

"Kenapa kau ini?!" tanya Ichigo tidak sabaran.

"Kalian benar-benar pasangan yang aneh! Dan kau nona kikuk, siapa namamu tadi?"

"Eh?"

"Jangan berani-beraninya kau—" kata-kata Ichigo terpotong oleh teriakan nyaring yang memanggil nama Ichigo. Spontan kami bertiga menoleh ke arah sumber suara itu, mendapati seorang gadis yang sedang berlari kemari sambil melambaikan tangannya. Apa itu salah satu fans Ichigo? Apa sekarang tempat latihan rahasia ini sudah diketahui oleh fans-fans cerewetnya itu?

Tiba-tiba jantungku terasa seperti terpalu, tertekan begitu melihat rambut pink-maroon yang tertiup angin itu semakin mendekat. Itu..bukan fans Ichigo…itu.. Riruka?

"Ichigo! Ah! Grimmjow!" kata Riruka berubah sinis menatap Grimmjow-san, seperti tertanggu.

"Kau berisik sekali, kepala pink!" balas Grimmjow sengit, tidak segan-segan memelototi Riruka.

"Aku kemari untuk menemui Ichigo, bukan menemui kamu—" perkataan Riruka berhenti begitu melihatku di samping Ichigo. Dia melotot kaget sambil menunjukku dengan telunjuknya tegas. "Ru..Rukia!"

Aku kembali meringkuk, memegang erat lengan Ichigo di sampingku. Jantungku kian berdebar semakin kencang, sementara masa lalu itu kembali menghantuiku sekarang. Entahlah…perasaan bersalah bercampur kesal, malu, terintimidasi, begitu pekat terasa dalam diriku, membuat seluruh tubuhku kembali bersiaga pada ancaman yang mendekat. Datang kemari untuk menemui Ichigo bukanlah hal yang baik…ternyata…

"Bagaimana kau bisa ada disini….di—" Riruka menatap tajam padaku yang sedang terduduk di samping Ichigo. Lengan Ichigo merangkul bahuku untuk mendekat padanya, membuat tatapan Riruka berubah semakin ganas. "Di…samping Ichigo. Apa-apaan kau ini?!"

"Riruka!" tegur Ichigo. Terasa penekanan yang berbeda pada suaranya. Belum pernah aku melihatnya seperti ini, mengeluarkan suara sedalam itu—terdengar sangat tegas dan kuat. Apalagi yang ditegurnya sekarang adalah Riruka, seorang perempuan, bukan laki-laki.

Riruka berjengit ngeri dari posisinya berdiri. Tangannya terkepal begitu erat di kedua sisi tubuhnya. "Ta….tapi..Ichigo! Dia…wanita itu.. sudah pernah kukatakan sebelumnya, bukan?" jelasnya berusaha tidak menekankan suaranya pada Ichigo. "Dia tidak seperti yang kau perkirakan, Ichigo. Wanita ini bisa menipumu! Aku hanya tidak mau kau terluka dan—"

"Cukup, Riruka," potong Ichigo tidak sabaran. "Dia datang kemari untuk menemuiku, jadi kau tidak perlu ikut campur, bukan? Lagipula, aku hanya mempercayai apa yang kulihat dengan kedua mataku sekarang. Rukia adalah temanku, dan aku mempercayainya. Jadi, berhentilah dengan omong kosongmu itu."

Riruka terlihat semakin kesal, kembali menatapku tajam sambil berusaha berpikir keras. Grimmjow-san hanya terdiam sambil bersiul ringan, tidak merasa terganggu dengan suasana tegang yang mulai terbentuk sekarang. Dan aku..merasa kecil dihadapan Ichigo. Seharusnya, aku bisa membalas apa yang Riruka katakan, bukan Ichigo yang selalu membelaku seperti ini. Sungguh bodoh! Kenapa suaraku tidak bisa keluar disaat yang kubutuhkan sekarang?!

"Apa perlu aku membawa bukti kepadamu, Ichigo?" ucap Riruka yang berubah tenang tiba-tiba, namun senyum lebar di wajahnya mulai terlihat. "Apa perlu aku membawa Makoto-san kemari, hah?"

"Ki..Kibune-san?" ucapku tergagap, mendengar nama itu yang kembali menguatkan memori masa laluku. Tubuhku bergidik ngeri, ketika tangan kurusnya mencengkram pundakku kuat, ketika aku berusaha meronta dan mendorong tubuhnya menjauh, ketika tubuhnya terjatuh ke belakang dan membentur anak-anak tangga yang berderet tinggi, ketika…matanya menatapku kaget sekaligus..dendam?

"Betul, Rukia! Kibune Makoto! Laki-laki yang telah kaupermainkan—"

"Cukup Riruka!" bentak Ichigo membuatku terkejut setengah mati. Tangannya merangkul pundakku kuat, hampir seperti mencengkram. Matanya terlihat semakin tajam menatap Riruka, membuat gadis itu semakin terpojok. "Hentikan kata-katamu itu! Dan jangan pernah mengganggu Rukia lagi! Atau kau akan berurusan denganku!"

Ichigo menarikku berdiri, sedikit dengan paksaan dan melangkah menjauhi lapangan. Tubuhku tidak bisa menolak tenaga besarnya, mengikuti langkah lebarnya yang diiringi si cahaya senja—meninggalkan Riruka yang masih terpatung disana, terlihat ketakutan bersama Grimmjow-san yang sama sekali tidak memprotes, terdiam sambil tersenyum lebar yang tidak kumengerti apa maksudnya.

(..)

"I..Ichigo..tunggu.." ucapku sambil terengah-engah kelelahan, mengikuti langkah cepat Ichigo yang menyeretku. Ichigo sama sekali tidak bergeming, masih terus melangkah lebar tanpa mempedulikan ocehanku. Apa dia marah? Apa dia mulai…kecewa padaku?

Tiba-tiba langkahnya terhenti, menarikku untuk duduk di bangku taman belakang sekolah. Sepi sekali disini, sama sekali tidak ada orang yang melewati daerah ini. Apa mungkin..Ichigo sengaja memilih tempat sepi untuk memulai..interogasiku? Ichigo berlutut di depanku, seperti meniru posisi Grimmjow-san tadi. Kedua tangannya memenjarakan tubuhku, membuatku semakin gugup untuk menatap matanya.

"Rukia," panggilnya lembut, tidak menunjukkan kemarahan yang terlihat sebelumnya. Tatapannya melunak, menatapku kembali dengan kelembutannya.

"Maaf, Ichigo..aku—"

"Kenapa kau meminta maaf?" tanyanya balik, membuatku terbungkam diam. "Riruka lah yang seharusnya meminta maaf."

Mataku terbelalak kaget, melihat sikap Ichigo yang sama sekali tidak terusik dengan masa laluku. Kisah kelam yang mulai kembali muncul ke permukaan…diungkap oleh Dokugamine Riruka. "Ichigo?"

"Dia..sudah berkata seenaknya seperti itu, menyudutkanmu yang seharusnya tidak boleh dilakukannya. Aku..benar-benar kesal!"

Ichigo memihakku, tanpa syarat. Membuatku terharu sekaligus..lega. Dia benar-benar mempercayaiku sepenuhnya. Seperti janjinya padaku, untuk selalu bergantung padanya. "Ichigo…"ucapku ragu, mengulurkan tanganku untuk menyentuh pipinya, membuat wajahnya yang menunduk untuk kembali menatapku. "Terima kasih…terima kasih karena kau selalu mempercayaiku, Ichigo. Dan, maaf…aku belum bisa menceritakannya padamu, tentang masa laluku…yang Riruka katakana tadi..aku.." kata-kataku berubah bergetar, menahan rasa takut sekaligus kalut. Bagaimana caranya aku menjelaskannya pada Ichigo?

Ichigo meraih tanganku dari pipinya dan mengecupnya lembut, membuatku bergidik kaget. Wajahku memanas dengan cepat, melihat matanya yang kembali melirikku lembut. "Jangan meminta maaf, Rukia. Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Aku bisa menunggu…"

Walaupun itu pasti sakit, bukan? Menunggu bukanlah hal yang bisa berkompromi dengan perasaanmu. Dan, lagi-lagi kau harus merasakan sakit yang seharusnya tidak perlu kau rasakan. Tapi, kenapa kau terus menerus membuatku seperti ini, merasakan kenyamanan yang seharusnya tidak pernah kudapatkan. Kau terus melarangku untuk meminta maaf padamu, ikut menanggung bebanku, terus mengikutiku walaupun jalan yang kaupilih ini mungkin salah…

Aku mengangguk pelan, berusaha menahan airmataku menetes—memperlihatkan kelemahanku. Aku tidak mau lagi selalu bergantung pada Ichigo, yang ikut merasakan bebanku yang tidak perlu ditanggungnya. Aku harus kuat. Aku adalah Kuchiki Rukia, adik dari Kuchiki Byakuya yang memiliki sikap tegas dan tidak mudah untuk menyerah. Aku harus bisa menghadapi masa laluku, walaupun hanya seorang diri sekalipun.

"Rukia!" tiba-tiba kedua tangan Ichigo menepuk pipiku keras, membuatku kaget sekaligus merasakan sakit di kedua pipiku.

"Tawake! Jangan memukul pipiku!" teriakku kesal sambil mengelus pipiku yang pasti terlihat merah. Ichigo tertawa terbahak-bahak melihatku melotot padanya. Dia bangun dari posisinya, yang membuatku semakin menahan napas karena mendekatkan wajahnya tiba-tiba. Kedua tangannya kembali menekan kursi taman di kedua sisiku—kembali memenjarakanku—sambil memajukan tubuhnya ke arahku, hingga muka kami sejajar sekarang. "Apa perlu kucium untuk menyembuhkan pipimu?" godanya yang membuat jantungku berdetak kencang. Apa dia bilang barusan? Me..mencium…pipiku?

Ichigo memajukan wajahnya, berusaha mencium pipiku. Dengan cepat kutendang tulang keringnya kuat-kuat, membuat tubuhnya kembali tertarik ke belakang dan terjongkok di bawah, tersentak kesakitan.
"Rukia! Kau ini…sakit sekali, tahu?!" Ichigo mengernyit kesakitan sambil mengelus tulang keringnya.

Aku mendengus kesal, sekaligus tersenyum lebar—puas dengan apa yang sudah kuperbuat untuk mengatasi si kepala orange ini. "Rasakan! Itu akibatnya karena kau sudah menggoda Kuchiki Rukia!"

Ichigo menatapku bingung, mengerutkan kedua alisnya. Sementara aku masih tersenyum lebar dan berusaha untuk berdiri, pulang secepatnya.

Lagi-lagi tangan Ichigo menahanku dengan cepatnya, membuatku kembali terduduk ke posisi awalku. "Kau mau kemana?" tanyanya. "Bukankah kau datang kesini untuk menemuiku, Kuchiki Rukia?"

Aku terdiam, memelototi mata hazel-orange terang ini dengan tatapan tajam. Memang itulah tujuan awalku kemari, menemui Ichigo. Tapi…sekarang sudah waktunya aku harus pulang. "Ini sudah sore, aku harus pulang."

"Aku akan mengantarmu," balasnya cepat sembari menarik tanganku untuk berdiri dan mengikutinya melangkah lagi.

"A..aku bisa pulang sendiri!" protesku, berusaha melepaskan genggamannya.

"Kau berhutang banyak padaku, jadi mengantarmu pulang kuhitung sebagai bayarannya!"

"Ba..bagaimana bisa?!"

"Atau kau mau aku cium, sebagai ganti bayarannya?" tanya Ichigo, menatapku dengan tatapan menggodanya, tangannya meremas tanganku erat. Wajahku kembali memerah, karena ulah menyebalkan si bodoh ini! Kupalingkan wajahku sambil menggerutu kesal, menyerah pada sikap keras kepalanya. Ichigo kembali melangkah santai dan sekarang diiringi dengan senandungan anehnya yang kembali memicu kekesalanku—tapi dengan terpaksa aku tidak bisa melawan…

*(((to be continued…)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note :

Boneka anjing laut pemberian Ichigo muncul disini, dan namanya adalah Ichigomu! Ichi diambil dari nama Ichigo dan gomu yang berarti penghapus...^^; Kenapa penghapus? Karena bonekanya empuk seperti penghapus *plakk! author maksa!* Entah kenapa author kepikiran nama itu...terlintas aja di otak..hahahahha

Yeyy! Grimmjow akhirnya muncul di chapter ini, si panthera biru! (one of my favorite characters) Hihihihi.. Disini dia tidak punya perasaan apapun pada Rukia, juga bukan menggoda Rukia.. Itu memang sifat alami Grimmjow, kok, ga ada maksud lain..hahhahah XD

Ada yang tahu Kibune Makoto? *plakk! Malah nanya lagi* Dia hanya muncul di Anime Bleach saja, di cerita selingan setelah Ichigo melawan Grimmjow di Hueco Mundo. Si kacamata alim yang sebenarnya termasuk dalam peran antagonis disana, karena itu, aku pikir dia cocok buat meranin pacar Riruka di masa lalu. Kalau ada readers yang belum pernah liat atau mungkin lupa, bisa search di google ya ^^

Dan...lagi2 ending ngegantung..Rukia belum sempat menjelaskan kenapa dia datang mencari Ichigo kan? hahahhaa..chapter depan deh bakalan aku kasih penjelasannya..gomen ne~

Balasan untuk anonymous and no-login reviewers :

Qao : Makasih sudah review ya~ hhehehe.. gapapa, panggil Eagle aja juga boleh..XD Eh? Gapapa kok, justru ak seneng kamu udah menyempatkan diri mereview fic ini! Ureshii~ Hehehe…makasih lagi udh suka fic aku ya, bagus deh mudah dimengerti walaupun pasti ada aja ya yang bikin bingung ^^; Oh..Rukia bilang dia udah menyakiti Ichigo? Itu sebenarnya cumin perasaannya saja kok, dia ngerasa Ichigo pasti kecewa kalau mengetahui masa lalu Rukia. Tapi ga juga kan? Udah kejawab di POV Ichigo nih..hihihi Tentang kata-kata Ichigo untuk tidak menyerah kedua kalinya itu, maksudnya tentang ibunya Ichigo. Masih inget tentang scene yang diceritakan si lentik Yumichika? Nah..ada kan yang Ichigo terlihat murung di depan makam ibunya..Ini sebenarnya berkaitan sama masa lalu Ichigo sih, cuman kayanya belum bisa aku kasih tau disini..gomen ne~ Hehhehe..memang ngebuat POV orang itu ga gampang, ini juga sebenarnya masih belum bagus loh T0T, dibandingkan senpai2 senior di fandom ini..Masih banyak kesalahan n kekurangan yang aku buat…hihiihihi.. Kado untuk Rukia? Wkwkkw betulan aku lupa loh sama ultah dia, untung kamu mengingatkan! Kadonya ini aja deh buat Rukia, lagi2 perasaan Ichi buat Ruki . *maksa banget* Makasih semangatnya ya XD

Mikyo : Makasih udah review ya~ hehhe..Makasi banyak buat semangatnya XD dan ini udah update~ hihihii baguslah kalau bisa mengerti perasaan Ichigo..ureshii~ hhhahaha

Oce~ Segitu aja dariku..lanjut ke chapter depan ya~ ditunggu review kalian ya XD

Kalau ada pertanyaan dan ketidakjelasan dari chapter ini, bisa ditanyakan langsung lewat PM and review..^^ Jaa ne~