"Hah? Kau mengucapkan sesuatu, kak?"

Sasori tersentak dari lamunannya. Mencoba mengumpulkan fokus, ia menghirup dan menghembuskan napas dengan pelan beberapa kali. Ia berpaling pada Naruto yang duduk diseberangnya, dibatasi oleh sebuah meja, Sasori menampilkan cengirannya.

"Ah, tidak. Jadi, sampai mana kita tadi? Oh, ya, tentang Sasuke. Hmm," ucap Sasori diakhiri dengan gumaman. Pemuda bersurai merah tersebut tampak melipat kedua lengannya di depan dada, dan kembali membuka suaranya, "Kalau kau tahu di mana Sasuke sekarang, apakah kau tahu apa penyebab Sasuke pergi ke Amerika tanpa pemberitahuan apapun, terlebih di saat Sakura sakit seperti ini?"

Naruto menarik kembali tubuhnya, menyandarkan dirinya pada punggung kursi. Pemuda berambut pirang tersebut kemudian ikut melipatkan tangannya di depan dada. Wajahnya tampak berpikir keras. "Sayang sekali, mata-mata kepercayaan keluargaku belum mendapat informasi lengkapnya. Tapi, sepertinya Sasuke sedang terlibat urusan keluarga."

Sasori tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. Beberapa detik berselang, bunyi nyaring yang berasal dari smartphone flat hitam Sasori memecah keheningan. Kakak dari Haruno Sakura itu mencoba mengambil smartphone yang diletakkannya di dalam saku celana. Kedua alis senada dengan surai merahnya itu mengerut kala menatap nama pemanggil yang tertera dilayar ponselnya. Dengan ragu, ia mengangkat panggilan itu.

"Hal…"

Sasori tampak menjauhkan telepon genggam itu beberapa senti dari telinganya. Jelas sekali tergambar, jika seseorang diseberang telepon sedang berbicara dengan nada tinggi. Naruto terkekeh pelan saat melihat wajah Sasori yang berubah masam. Sembari menunggu selesainya percakapan Sasori dengan seseorang itu, Naruto memutuskan memanggil pelayan dan membayar semua tagihan makan siang mereka. Tak lupa juga, ia memesan satu porsi nasi kari lagi yang dibungkus untuk kemudian diberikan pada Ino.

"Hei, bukannya aku tidak ingin memberitahumu, tapi―"

"..."

"Ssh, makanya kau jangan meninggalkan Sakura jika tak ingin dia kenapa-napa!" Sasori mematikan sambungan telepon dengan amarah yang meletup-letup. Tidak ingin kembali diganggu oleh orang tersebut, Sasori kemudian mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam sakunya dengan gerakan kasar.

"Err, sepertinya kau sangat emosi, Kak Sasori. Memang siapa yang barusan menelepon?" tanya Naruto dengan nada heran. "Ah, terima kasih," ucap Naruto saat seorang pelayan membawakan sebungkus nasi kari pesanannya tadi.

Sasori dengan bersungut-sungut menjawab, "Hanya seorang manusia menyebalkan yang sangat protektif pada Sakura. Uh, padahal dia yang meninggalkan Sakura dan sudah beberapa bulan tidak memberi kabar, tiba-tiba menelepon dan marah-marah padaku karena lupa memberitahunya jika sakura masuk rumah sakit. Dasar, durhaka."

Seseorang yang protektif pada Sakura?

.

.

.


Our Story

Story © Asterella Roxanne 2014

Naruto is Masashi Kishimoto's | SasuSaku

Genre : Romance, Hurt/comfort, Little bit Drama | WARNING : AU, OOC, OC,Typo's maybe . | Jika ada kesamaan ide, itu bukanlah sesuatu yang disengaja. Murni dari pemikiran penulis |

.

.

X. Haruno Sakura


"Hanya seorang manusia menyebalkan yang sangat protektif pada Sakura. Uh, padahal dia yang meninggalkan Sakura dan sudah beberapa bulan tidak memberi kabar, tiba-tiba menelepon dan marah-marah padaku karena lupa memberitahunya jika sakura masuk rumah sakit. Dasar, durhaka," jawab Sasori bersungut-sungut.

Seseorang yang protektif pada Sakura?

Sasori kemudian bangkit dari duduknya, mengarahkan langkah kakinya menuju kasir. Namun, baru beberapa langkah yang ia ambil, gerakannya terhenti saat mendengar selaan Naruto. "Ah, semuanya sudah kubayar, kak. Tidak apa-apa, anggap saja traktiran dalam rangka perkenalan dariku. Haha."

"Terima kasih kalau begitu. Padahal rencananya aku yang mau mentraktirmu. Haha."

"Bukan masalah. Oh, ya, kak. Aku mau bertanya tentang seseorang yang meneleponmu tadi. Seorang manusia yang protektif dengan Sakura? Siapa?" tanya Naruto penasaran. Kedua pemuda itu kini melangkah beriringan keluar dari kantin rumah sakit menuju ruang rawat inap Haruno Sakura.

Sasori mengalihkan pandangannya ke Naruto, yang awalnya sibuk menatap suster-suster berlalu-lalang dengan atau tidak pasien di samping mereka, menaikkan satu alis ke atas. "Oh, dia itu ad―"

Ucapan Sasori terpotong akibat suara ponsel Naruto yang berdering nyaring. Untung saja, saat ini mereka sedang tidak berada di kawasan ruang intensif. Naruto segera mengambil ponselnya yang berada di saku celana, dan mendapati nama Ino di layarnya.

"Halo, Ino. Ada apa?"

"Na-Naruto! Sakura sudah sadar. Tapi, sepertinya ada yang aneh dengan Sakura. Aku sudah memanggil dokter. Kau cepatlah kesini bersama Kak Sasori!"

Sambungan telepon terputus begitu saja. Naruto sempat bengong beberapa detik, mencoba mencerna setiap perkataan tanpa jeda yang diucapkan gadis pirang tadi. Dan, setelah beberapa saat, dengan mengerahkan semua kemampuan kinerja otaknya untuk bekerja lebih cepat dari biasanya, Naruto tersadar dan segera berlari meninggalkan Sasori di belakang.

"Sakura sudah sadar! Cepat kembali ke ruang rawat inap Sakura," teriak pemuda itu, yang sukses mendapat delikan tajam dari semua penghuni rumah sakit. Tapi, sepertinya pemuda berambut jabrik itu tidak peduli. Malah ia menambahkan, masih dengan berteriak, "Ino bilang ada yang aneh dengan Sakura!"

Dan tanpa menunggu respon dari Haruno Sasori, Naruto langsung melesat secepat mungkin ke ruang rawat inap Sakura yang berada di lantai tiga. Beberapa saat setelah Naruto menghilang, barulah saudara kembar Haruno Karin tersebut bergerak perlahan melangkahkan kakinya, berubah sedikit lebih cepat, lebih cepat, dan kemudian berlari dengan sangat cepat.

BRAKK

Pintu ruang rawat inap yang memuat pasien bernama Haruno Sakura itu terbanting keras, Sasori masuk ke dalam dengan napas terengah-engah. Manik hazel-nya dengan liar mencari keberadaan adik bungsu tersayangnya. Di dekat ranjang adiknya berbaring, yang berada di sudut kiri dari pintu masuk dengan sebuah jendela di sampingnya, ada seorang dokter dan seorang suster sedang memeriksa keadaan gadis berhelai merah muda yang kini tampak pucat tersebut.

"Ba-Bagaimana ... bagaimana keadaannya dokter?"

"Setelah satu minggu tidak sadarkan diri, akhirnya Nona Haruno siuman. Untuk saat ini, tubuhnya masih dalam keadaan kaku dan dingin, diharapakan untuk tidak terlebih dahulu membuka jendela, dan tetap menyalakan pemanas ruangan dalam suhu yang sudah ditetapkan. Gejala lainnya, mungkin ia akan sering bicara melantur dan kebingungan ketika sadar." Sang Dokter melepas kacamata yang melekat di batang hidungnya yang mancung, memberi senyuman ramah kepada Sasori. "Saya akan menghubungi langsung Dokter Haruno untuk membahas kemungkinan selanjutnya. Saya permisi."

Setelah mengucapkan hal itu, Dokter yang memiliki surai senada dengan daun gugur tersebut segera melangkah keluar dari ruang rawat inap Sakura yang juga diikuti oleh sang suster. Sasori menghela napas, dan langsung mendudukkan dirinya di sebuah kursi tak jauh dari ranjang Sakura. Air mukanya kini terlihat lebih rileks dibandingkan beberapa saat lalu.

Naruto dan Ino saling melempar tatapan bingung. Raut panik masih tergurat di wajah keduanya. Dengan nada yang dibuat sepelan mungkin, Ino mencoba bertanya pada Sasori. "Kak Sa-Sasori ... sebenarnya, Sakura sakit a-apa, sih? Dia ... aneh."

Tanpa menoleh kepada sumber penanya, Sasori mengangkat tangan kanannya, menggaruk surai merah batanya yang terasa gatal, sembari menjawab pertanyaan yang diajukan Ino tadi. "Dia terkena Hipotermia."

"Hipotermia?" sahut Naruto dan Ino bersamaan.

Sasori mengangguk. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada seraya memejamkan kedua kelopak matanya. "Ya. Hipotermia. Suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Sakura, saat di bawa ke rumah sakit satu minggu yang lalu, divonis mengalami Hipotermia Akut. Tapi, syukurlah, akhirnya ia sadar."

Ino tampak tak percaya dengan penjelasan yang dikemukakan kakak sahabatnya itu. "Jadi, ia bertingkah aneh seperti tadi, termasuk gejala-gejala hipotermia, Kak Sasori?" tanya Ino lagi. Ia menatap khawatir sahabatnya yang kembali tertidur setelah diberi obat oleh suster beberapa saat lalu.

"Memangnya dia bertingkah seperti apa, Ino-chan?"

Kerutan di dahi Ino terlihat, menandakan jika gadis berambut pirang itu sedang mengingat kembali kejadian sesaat yang lalu. "Dia memanggilku ... ayam. Heh, meskipun aku tak suka, tapi aku lebih senang jika dipanggil Ino-babi daripada ayam, huh." Ino mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal, yang tak lama kemudian, gadis bermarga Yamanaka itu terkekeh pelan sembari menggenggam telapak tangan dingin dan kaku milik sahabatnya.

"Jadi, kau senang dipanggil Ino-babi, Ino? Kalau begitu, aku akan memanggilmu Ino-babi juga, haha," cetus Naruto dengan tawa menggelegar diakhir ucapannya. Sasori yang mendengar itu pun mau tak mau ikut tertawa geli, sedangkan gadis yang mereka tertawakan langsung mengubah air mukanya menjadi kesal dan sedikit menyeramkan.

"Panggilan itu hanya boleh diucapkan oleh Sakura, bodoh!"

Dan jitakan maut yang didaratkan oleh Yamanaka Ino pun mendarat mulus di atas kepala bersurai pirang jabrik Naruto.

oOo

Suasana kantin Konobi Academy saat jam istirahat, tidak pernah tidak ramai. Bak tempat pemberhentian terakhir semua jenis alat transportasi, semua siswa-siswi saling berhimpit-himpitan hanya untuk mendapatkan jajanan pengganjal perut mereka. Hinata Hyuuga, gadis bersurai indigo lembut yang panjangnya hampir mencapai pinggul, harus merelakan rambutnya yang indah itu berakhir menjadi berantakan hanya untuk tiga buah bungkus roti yakisoba.

Saat sudah cukup jauh dari keramaian, gadis itu tampak menghela napas lega. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya. Manik amethys itu bergulir, mengamati setiap sudut kantin Konobi Academy, yang sering disebut oleh para murid 'KonoFood', dan akhirnya menemukan dua sosok murid berbeda gender di arah jarum jam ketiga dari tempatnya berdiri.

Berlari kecil menghampiri teman-temannya, dalam jarak beberapa puluh meter, ia dapat melihat keadaan yang tak berbeda jauh dari dirinya menimpa kedua sosok itu. "Ah, Hinata-chan! Sini-sini," panggil Naruto, saat sosok Hinata tertangkap oleh manik sapphire-nya. Ino hanya tersenyum kecil, dan menyilakan Hinata untuk duduk di sampingnya.

"Wah, sepertinya butuh perjuangan yang sangat keras, ya, Hinata? Lihat, keringat di dahimu banyak sekali," ucap Naruto dengan nada takjub. Ia bahkan sedikit memajukan tubuhnya, untuk memberikan sedikit efek dramatisir dari ucapannya.

"Bodoh. Bukannya memberikan sapu tangan, atau langsung diseka saja, malah berkomentar seperti itu. Kau jadi cowok sama sekali tidak ada romantisnya," sindir Ino tajam. Naruto mengerucutkan bibirnya sebal, tidak terima dengan sindiran Ino terhadapnya. "Pantas saja, kau selalu ditolak banyak cewek."

"Ino-san," tegur Hinata. Ia jadi merasa tak enak jika kedua temannya itu sampai bertengkar. "Ah, i-ini, aku sudah belikan ro-roti yakisoba, ma-mari ki-ki-kita ma-kan," ajak Hinata. Dan memberikan masing-masing satu bungkus roti yakisoba kepada Naruto dan Ino.

"Ino jahat," gumam Naruto murung. Tanpa mengucapkan kata 'itadakimasu' seperti kebiasaannya, pemuda yang memiliki tanda lahir berupa garis-garis halus menyerupai kumis kucing segera menyantap ramen jumbonya.

Ino pura-pura tidak mendengar gumaman Naruto, dan Hinata hanya memasang senyum canggung. Keadaan hening menyelimuti mereka, hingga seseorang, tidak, lebih dari seorang, menganggu acara santap siang mereka.

"Yamanaka-san," panggil sebuah suara dari arah belakang Ino. Ino yang saat itu sedang menyeruput Strawberry Milkshake-nya hampir saja tersedak. Ia cukup kenal dan hapal dengan suara perempuan centil yang kentara sekali dibuat-buat itu.

Tanpa menoleh ke arah si pemanggil, Ino menyahut malas, "Ada perlu apa, nenek sihir?" Dengan penekanan dikata 'nenek sihir'. Mendengar itu, tentu saja Furukawa Shion sangat kesal. Tapi, karena ada sesuatu yang ia butuhkan dari Yamanaka Ino, ia berusaha keras untuk tidak terpancing nyala api yang disulut oleh Ino.

"Karena aku tidak suka berbasa-basi, jadi, to the point saja. Apa yang terjadi dengan Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke-kun selama seminggu ini? Mereka sama-sama absen, dan keterangan mereka pun ditutupi oleh semua guru. Kau pasti tahu sesuatu, kan, Yamanaka?" tanya Shion dengan nada mendesak. Kilatan dari iris lavender pucatnya tampak menajam.

"Apa pedulimu?" sahut Ino masih dengan nada tak acuh.

Shion menghela napas, para antek-antek yang mengikutinya pun tampak menahan kesal juga saat melihat kelakuan Ino. "Sasuke-kun adalah teman sebangkuku. Sudah sewajarnya, kan, aku harus tahu apa yang terjadi padanya. Jika terjadi sesuatu, mungkin aku bisa menolongnya."

"Dia kawin lari sama Sakura ke luar negeri."

"APA?!" Teriakan spontan Shion dan teman-temannya itu, sontak membuat mereka semua menjadi pusat perhatian di kantin. Naruto dan Hinata pun tidak bisa menyembunyikan kekagetan mereka. Satu kata yang bisa menggambarkan ekspresi mereka semua; shock.

"Bercanda." Ino tertawa keras saat melihat semua ekspresi tak elit Shion dan teman-temannya. Wajah Naruto yang shock dan Hinata yang membulatkan kedua bola matanya itu pun tampak lucu. Bahkan, saking tidak bisa menahan tawa itu, Ino samping membungkuk-bungkuk sembari memegang perutnya.

Mendengar tawa keras Yamanaka Ino, mereka semua akhirnya tersadar. Dengan wajah memerah, Shion membentak Ino. "Sialan kau, pirang busuk!"

"Haha, tidakkah kau sadar, dirimu pun juga pirang, Pirang Busuk! Haha," balas Ino, masih dengan tawanya. Sudut matanya pun kini tampak berair.

Shion geram, gadis itu tampak meredam emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-bukunya memutih. Gadis bermanik lavender pucat segera mengambil langkah seribu yang kemudian diikuti oleh antek-anteknya, pergi meninggalkan kantin, diiringi berbagai macam tatapan dari seluruh penghuni kantin.

Ino sudah tampak tenang dari ketawa hebatnya, ia mengambil dan langsung menyeruput hingga tandas minuman Strawberry Milkshake-nya. Ino segera berdiri, dan berniat meninggalkan kantin. Namun, belum satu langkah ia ambil, sebuah tangan kekar menahan lengannya.

"Kau mau kemana, Ino?" tanya Naruto.

Ino menghentikan aksinya, dan menatap Naruto. Satu senyum simpul tersemat di sudut bibirnya. "Ah, aku mau ke atap. Suasana hatiku sepertinya sedang memburuk." Ino menarik tangan Naruto, melepaskan tahanan pada lengannya. "Oh, ya, sebelumnya, maaf atas perkataanku yang tadi. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya, kok." Memutar kepalanya ke kanan, menatap Hinata. "Hinata, apa hari ini kau mau menemaniku menjenguk Sakura?" Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku.

Ino menganggukkan kepalanya, meneruskan langkahnya untuk meninggalkan kantin dengan lambaian tangan. Naruto mengamati Ino dengan tatapan yang tak terdefinisi.

oOo

"Pertemuan hari ini selesai."

Bunyi berderak yang ditimbulkan dari kursi yang didorong ke belakang, memenuhi ruang rapat itu. Kumpulan laki-laki borjuis tampak saling berjabat tangan disertai ucapan-ucapan basa-basi. Sang pemimpin rapat, dan juga termasuk laki-laki paling muda diantara semua orang yang berada di ruang rapat itu, masih terduduk di kursinya dan hanya memasang wajah datar yang terkesan dingin. Sama sekali tidak berniat ikut nimbrung ke dalam pembicaraan yang menurutnya tak penting itu.

Kabuto, sang sekretaris, dengan kedua bodyguard-nya, datang menghampiri Uchiha Sasuke. "Mr. Uchiha―"

Sebelum selesai menyampaikan perkataannya, ucapan Kabuto terlebih dahulu disela oleh tuannya. "Kapan aku kembali ke Jepang?"

Kabuto terdiam beberapa saat. Membenarkan frame kacamata beningnya, ia kemudian menjawab dengan aksen yang formal. "Akhir pekan ini. Bertepatan dengan kedatangan Tuan Madara, kakek Anda, ke New York. Setelah melakukan pembicaraan singkat dengan beliau tentang perusahaan ini, Anda sudah bisa kembali ke Jepang."

"Hn." Tanpa mengatakan apapun, Uchiha Sasuke meninggalkan ruang rapat tersebut, diiringi tatapan-tatapan heran para koleganya. Melihat itu, Kabuto hanya membungkuk sopan, sebagai permohonan maaf atas ketidaksopanan sang tuan.

"Sakura ..." Sedangkan Sasuke, hanya dengan menyebutkan nama gadis itu, rasa sesak atas kehilangan yang dialaminya kini, meskipun sedikit, tapi cukup membuatnya merasa tenang. Jari-jari kekar pemuda itu tampak merogoh saku jas hitam yang dikenakannya, mencari sebuah benda persegi panjang berlayar datar.

Setelah membuka screen lock pada ponselnya tersebut, kini terlihat, sebuah wallpaper yang menampilkan seorang gadis yang memakai dress lima sentimeter di atas lutut berwarna soft pink, bermotif bunga-bunga dan sedikit mengembang, sedangkan polos untuk bagian atas. Pita kecil di dada sebelah kanan, menampilkan kesan yang cantik. Ya, itu adalah foto yang ia ambil secara diam-diam saat kencan pertama mereka. Tapi, daripada semua itu, senyuman yang terukir manis itulah yang menjadi fokus utama Sasuke. Senyuman yang hanya dimiliki oleh Sakura.

Haruno Sakura. Gadis yang membuatnya benar-benar jatuh hati.

"Tunggu aku, Sakura ..."

oOo

Seorang pemuda menatap kesal handphone berwarna hitamnya itu. Sambungan telepon yang diputus secara sepihak oleh seseorang yang beberapa saat lalu ia hubungi, mau tak mau membuat mood-nya seketika memburuk.

Dihempaskannya benda persegi panjang itu ke atas meja, dan mendudukkan dengan kasar dirinya di sebuah sofa. Kerutan di dahinya semakin bertekuk berkali-kali lipat. Air mukanya tampak menampilkan ekspresi kekhawatiran yang berlebih. Tentu saja, hanya satu orang yang bisa membuatnya sedemikian gelisah. Hanya satu orang yang bisa membuatnya sedemikian khawatir.

Hanya seorang, yaitu si gadis cantik yang identik dengan bunga kebanggan Jepang.

"Sakura, tunggu aku ..."

.

.

TBC


A/N:

Hi, kembali bertemu denganku! Semoga tidak bosan ya, haha

Ah, mengenai sub judul, aku sama sekali buntu ide, jadi maaf kalo gak nyambung.

Dan maaf untuk sekali, aku tidak bisa membalas review kali ini, tugaass sekolah sudah menungguku :'( Di chapter berikutnya, pasti akan dibalas kok :') tehee

Kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada readers yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca fanfic abal buatanku ini. Terima kasih juga yang sudah fave, follow dan review. Ditunggu tanggapannya untuk chapter ini!

Sampai ketemu di chapter depan! Bye-bye :)

*yosh, selanjutnya; The faithfulness chapter 3 dalam tahap pengerjaan*

Asterella R. 17-11-14.