Now

Hal pertama yang mungkin dilihat oleh Dean Winchester saat ia membuka matanya setelah tidur selama seharian di rumah sakit adalah wajah Castiel Novak yang sembab oleh air mata dan kantung mata yang terlihat jelas di wajahnya itu. Ia menjulurkan tangannya, untuk menggapai Cas yang tengah duduk di sampingnya.

"Cas.."

Cas, yang sudah berjaga selama seharian penuh di situ, segera mendekat ke arah kasur Dean. Wajahnya yang awalnya putus asa terlihat kembali bersemangat karena Dean bangun. Hatinya tersentuh melihat wajah Dean yang begitu pucat, dan lemah.

"Hey, Dean." Cas mengelus rambut Dean dan menggenggam tangannya yang pucat. "Aku mengkhawatirkanmu selama ini."

"Di mana kita sekarang?"

"Seattle. Kau tidur seharian kemarin, dan itu membuatku ketakutan."

Dean terkekeh pelan. "Tidak ada yang datang menjengukku?"

"Uh, biar kuingat―" Cas terdiam sejenak. "Sam dan Jess kemarin datang, dan Bobby serta Gabriel juga kemari, tapi kau masih tertidur, dan tidak ada yang tega untuk membangunkanmu."

"Bagus."

Percakapan mereka terhenti karena seorang perawat masuk ke dalam kamar mereka, membawa sebaki nampan berisi sarapan pagi untuk Dean. Wanita berambut merah pendek itu menyeringai lebar pada Dean, dan mengangguk pada Cas. Sambil menyenandungkan lagu 'Walking on Sunshine', ia meletakkan nampan itu di meja sebelah Cas, dan berdiri memperhatikan Dean dari situ.

"Lihat siapa yang sudah terbangun sekarang!"

Cas tertawa geli, dan ia menoleh pada Dean yang menatapnya dengan pandangan kebingungan.

"Oh, aku lupa memperkenalkannya padamu. Dean, ini Charlie Bradbury. Jika kau butuh teman mengobrol, minta ia datang kemari dan ia akan mengoceh padamu tentang Comic Con dan film selama 2 jam penuh."

"Diamlah." Charlie pura-pura meninju bahu Cas dengan jenaka dan tertawa. Ia menatap Dean sambil tersenyum lebar. "Kau beruntung mempunyai pacar seperti Cas."

Dean tersenyum, dan mengangguk. "Aku tahu."

"Well, aku harus kembali ke pos-ku. Masih banyak yang membutuhkanku. Jika kalian membutuhkan sesuatu, tekan saja tombol di sisi pintu ini dan aku akan segera ber-apparate ke sini."

Setelah Charlie pergi, Dean kembali bersandar di tempat tidurnya. Ia memegangi kepalanya, raut mukanya terlihat pucat.

"Ugh, kepalaku.."

"Tidak apa-apa." Cas menggenggam tangan Dean dengan lembut. "Kata dokter, itu efek samping dari obat yang kau konsumsi. Akan hilang dengan sendirinya nanti."

Dean menghela nafasnya dalam-dalam. Air matanya tiba-tiba saja menetes, membuat Cas kebingungan.

"Cas, a-a-aku minta maaf.. Aku mengecewakanmu selama ini. Aku tidak pernah menjadi pasangan yang baik untukmu, dan aku selalu merepotkanmu. Aku meninggalkan begitu saja, membuat hidupmu tanpa pengharapan. Dan tiba-tiba saja aku kembal padamu, dan kau menerimaku begitu saja di dalam kehidupanmu. A-aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu untukku selama ini.."

"Sssh, tidak apa-apa, Dean.." Cas mendekat dan memeluk Dean, yang segera menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya. "Kita semua pasti pernah berbuat salah, dan kesalahan-kesalahan itu pasti bisa dimaafkan. Aku selalu memaafkanmu, Dean."

"Aku.. ketakutan. Aku takut.. kau tidak mau menerimaku lagi.. seperti dulu.."

"Lihat aku."

Dean menatap Cas dengan enggan, matanya yang hijau berkaca-kaca. Tidak ada lagi sinar kebahagiaan di matanya, seperti yang biasa Cas lihat seperti dulu.

"I missed you so much, Cas.."

"I missed you too." Cas menggenggam tangan Dean erat-erat, dan menyentuh pipinya dengan lembut. "I missed you, too."

Dean mengangguk, dan kembali menyandarkan kepalanya di bantal di belakangnya. Ia menggigit bagian bawah bibirnya, seolah ia menahan dirinya untuk mengatakan sesuatu.

"Aku tahu.. aku menyakitimu perlahan, Cas.. Dan kurasa.. kurasa, aku memutuskan.. Kalau kau akan lebih baik tanpaku.."

"Kita masih muda saat itu, Dean. Dan dunia menginginkan banyak hal dari kita."

"Dan kurasa.." Nafas Dean terdengar semakin berat. "Ini adalah.. hukuman dari Tuhan.. karena aku meninggalkanmu dulu―"

Ia tercekat, terengah-engah seperti kehabisan oksigen. Cas segera panik, dan hampir saja menekan tombol di sisi pintu kamar itu ketika Dean meraih lengan bajunya.

"Aku baik-baik saja!" Ia memaksa. "Aku baik-baik saja.."

Serangan itu perlahan berhenti, dan Dean kembali tenang. Genggamannya terlepas dari lengan baju Cas, dan ia memejamkan matanya, mencoba untuk kembali bernafas dengan normal.

"Kalau kau memanggil Charlie.. Ia akan memberiku lebih banyak.." Dean menganggukkan kepalanya ke arah IV di sampingnya.

"Kau akan mengantuk?" Dean mengangguk.

Cas mengerutkan dahinya. "Kau harus beristirahat. Kau membutuhkannya."

"If you love me.. let me go.."

Cas memandang Dean dengan bingung, sementara Dean tersenyum kecil, dan ia perlahan memejamkan matanya. Nafasnya kembali teratur, sementara Cas memperhatikannya dari sisi tempat tidurnya. Ia terlihat sangat rapuh, pikir Cas dengan sedih.

Pintu kamar terbuka, Charlie muncul dengan senyum lebar. Senyumnya memudar ketika ia melihat Dean tertidur dengan tenang. Cas melihatnya datang, dan ia menganggukkan kepalanya ke arah IV di samping tempat tidur Dean.

"Kurasa ia membutuhkan morfin lebih.."

Charlie mengangguk mengerti. "Aku akan mengambilnya."

Ia keluar, dan Cas kembali sendirian bersama Dean. Ia memperhatikan Dean yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Wajah yang dulunya begitu bersemangat, sekarang menjadi pucat dan tanpa pengharapan sama sekali. Tangannya mengecil, sekecil tongkat kayu yang biasa ia pakai untuk menopangnya saat ia berjalan.

If you love me let me go..

Dean, pikir Cas dengan sedih, sambil beranjak dari kursi tempat ia duduk tadi. Aku mencintaimu, tapi aku tidak mau membiarkanmu pergi meninggalkanku sendiri di dunia ini..


Sam mengunjungi mereka keesokan harinya. Ia tahu itu adalah momen yang sangat langka, melihat Dean yang saat itu terbangun. Sam menarik sebuah kursi, dan duduk di samping tempat tidur kakaknya.

"Hey, Dean.."

Dean berusaha keras untuk tetap membuka matanya, selagi adik kesayangannya datang mengunjunginya.

"Senang bisa melihatmu lagi." Sam tersenyum. Cas datang, dan berdiri di samping tempat tidur itu. Tangannya mengelus rambut hazel Dean dengan lembut.

"Belakangan ini ia jarang terbangun. Kau datang di saat yang tepat, Sam." Cas mencoba untuk tersenyum, tapi hanya sebuah senyuman lemah yang tampak di wajahnya.

"Ia terlihat sangat panas." Sam menyentuh dahi dan pipi Dean yang memerah karena demam tinggi.

"Sebenarnya itu normal," Cas menyentuh tangan Dean yang sedingin es. Ia berusaha agar air matanya tidak tumpah di hadapan Sam. "Dan itu juga normal untuk tangannya yang sedingin ini."

"Aku senang kau terbangun saat ini." Sam menggenggam tangan kakaknya dengan lembut. "A-aku ingin meminta maaf padamu, atas semua kekasaranku selama ini.."

Mata Dean berkaca-kaca dan ia menatap adik semata wayangnya dengan sedih. "Bitch."

Senyum kecil muncul di wajah Sam saat ia mendengar kakaknya mengatakan hal itu, sementara air mata membanjiri matanya dan menetes melalui pipinya.

"Jerk."

Dean kembali tertidur sesaat setelahnya. Sam akhirnya meninggalkan mereka, setelah memeluk kakaknya untuk yang 'terakhir kalinya'. Cas memperhatikan Dean untuk yang sekian kalinya. Matanya terpejam, tapi ia masih terbangun.

"I love you, Dean. I love you so much. Jangan tinggalkan aku, belum saatnya―"

"I' y'u l'v' me l't me go."

Cas menggelengkan kepalanya. Cas bersumpah ia pernah mendengar kata-kata itu di suatu tempat. Ia mengernyit, beranjak dari samping Dean, dan menuju jendela kamarnya. Ia menjulurkan kepalanya ke luar, dan menatap kota Seattle di sekelilingnya untuk melepas penatnya selama ini.

Apakah itu yang Dean inginkan darinya? Merelakannya untuk pergi dari dunia ini untuk selamanya?

"Cas.."

Dean membuka setengah matanya, saat melihat Cas datang menghampirinya. Ia meraih tangan Cas, dan menggenggamnya.

"Kau ingat.. Ketiga bintang.. di tepi danau itu?"

Cas mengangguk penuh pengertian. Ia menarik sebuah kursi dan menempatkannya di samping tempat tidur Dean. "Tentu, aku ingat."

Dean terbatuk, matanya berkaca-kaca."Jika aku sudah.. pergi nanti―"

Ia berhenti sebentar. Tangannya yang sedingin es gemetar, menggenggam tangan Cas dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya.

"Lihatlah ke langit malam.. Aku akan menjadi.. bintang ketiga.. di sebelah kanan.. Mengawasimu dari atas sana.."


Waktu terasa berlalu begitu cepat. Mata hijau Dean yang berkaca-kaca selalu terlihat setengah terpejam, setengah terbuka, menatap ke arah dinding putih di hadapannya. Beberapa kali di malam hari, Charlie harus datang untuk memeriksa IV di sampingnya. Cas memaksa matanya untuk tetap terbuka untuk melihat Charlie menyentuh tangan Dean, dan ia tahu saat Charlie membalikkan badannya ia sedang mengusap air mata di wajahnya.

"Bolehkah aku duduk di sampingnya?" Cas memecah keheningan di kamar itu. Charlie mengangguk. Cas menarik sebuah kursi kecil dan menempatkannya di samping tempat tidur Dean, seperti biasanya. Ia mengelus pipi Dean, yang semakin lama terlihat semakin kurus.

"Ia akan pergi sebentar lagi," ujar Charlie, suaranya pecah. Cas tidak berkata apa-apa. Ia menyelipkan tangannya di antara jari-jari tangan Dean yang kaku, menggenggamnya dengan lembut.

Charlie berdiri di ujung tempat tidur, memperhatikan mereka berdua. "Aku minta maaf, Cas, atas keadaannya.."

"Kau tidak perlu minta maaf.." Cas menggelengkan kepalanya, mendengarkan suara langkah kaki Charlie yang perlahan meninggalkan kamar itu.

Keheningan meliputi kamar itu, diselingi suara mesin yang menunjang nafas Dean. Cas mendapati mulutnya terbuka, tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Dean, seperti yang biasa mereka lakukan dulu.

"Semua akan baik-baik saja, Dean," ujarnya, menahan tangis. Suara mesin kembali terdengar saat Dean bernafas denga berat. "Semua baik-baik saja. Kau tahu. Kau tahu aku selalu mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Tidak apa-apa untuk merelakanmu pergi sekarang."

Cas kembali menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menghentikan tangisannya. Charlie sebelumnya berkata padanya, kalau pendengaran adalah indera terakhir yang masih bekerja dengan baik. Tetaplah berbicara padanya. Ia bisa saja sedang ketakutan, atau khawatir.

"Jangan takut, Dean," Cas terisak. "Kau melakukannya dengan baik. Sangat baik."

Ia berpikir, mencari sesuatu di dalam otaknya, berusaha mengingat sesuatu. Dan tiba-tiba saja ia teringat akan wajah Dean yang menatap padanya.

"Benarkah, kau tidak bercanda?"

"Apa?" Dean meninju bahu Cas perlahan, pipinya memerah karena malu.

"Kau menyukai lagu itu?"

"Aku hanya― Taylor Swift, ia keren." Ia terkekeh, dan menyandarkan kepalanya di bahu Cas. "Aku tidak tahu, lagu itu membuatku menjadi lebih emosional, dan anehnya, membuatku merasa lebih tenang."

Cas pasti pernah mendengar lagu itu. Lagu yang pernah dinyanyikan Gabriel untuknya sebelum ia tidur dulu. Lagu yang selalu digumamkan oleh Dean sebelum ia tetridur di samping Cas. Lagu yang setiap hari selalu ia putar di turnover saat mereka masih bersama.

"Kau ingat lagu itu?" Cas berbisik dengan lembut di telinga Dean. "Kau ingat itu?"

Dean bernafas jembali dengan berat, dan Cas mempererat genggaman tangannya. Ia melihat tangan mereka yang saling menggenggam satu sama lain, dan ia tidak tahan untuk melakukannya lagi untuk yang terakhir kalinya.

"I remember tears streaming down your face, when I said 'I'll never let you go'," Cas mulai menyanyi. "When all those shadows almost killed your light, I remember you said, 'Don't leave me here alone'.." Ia mempererat genggaman tangannya, menutupi tangan Dean yang sedingin es.

"But all that's dead and gone―" Dean tersentak, dan mulai kesulitan untuk bernafas. Matanya terbuka lebar, tanpa focus ke suatu titik. Cas memejamkan matanya, air matanya mengalir melewati pipinya. "―and passed tonight."

Dean berhenti bernafas sepenuhnya.

Cas bisa merasakan detak jantung Dean satu kali, lalu ada jeda panjang setelah detak pertama itu. Detak lain kemudian muncul. Dean tidak bergerak sama sekali. Cas sudah berjanji untuk merawatnya. Ia berjanji untuk selalu merawatnya hingga detik terakhir hidupnya.

"Semua baik-baik saja, Dean," suaranya bergetar. "Tenang saja ― just close your eyes, the sun is going down.."

Cas menyanyi, dan mesin di samping Dean berbunyi dengan nyaring, dan Cas harus menyanyi lebih meras agar Dean bisa mendengarnya. Ia mendekatkan wajahnya sedekat yang ia bisa, menyandarkan wajahnya di pelipis Dean, berharap agar Dean mendengarnya bernyanyi.

"You'll be alright, no one can hurt you now.."

"Come morning light," Cas melanjutkan nyanyiannya dengan suara yang perlahan tidak terdengar lagi., suara mesin itu semakin nyaring. Ia memejamkan matanya, membiarkan air matanya membasahi kaus putih yang dikenakan Dean. "You and I'll be safe and sound.."

Dean menghembuskan nafas terakhirnya, dan perlahan membuka kedua matanya. Ia tersenyum, dan terlihat sangat tenang dan damai. Tapi Cas menyadarinya.

Dean sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Author's Note:

Hey guys! Cedric baru sempet update sekarang karena cedric lagi UTS ughh sebelum ada yang nanya, gaya penulisan chapter ini emang agak mirip sama Twist and Shout, tapi bukan berarti cedric copas -" anyway, ini bukan chapter terakhir, so just wait haha