"Iya, aku benar mengunjungi Jongin, kok." Kyungsoo berbalik badan. "Tapi sepertinya aku kelupaan sesua—ah!"
Prang!
Ponsel keluaran terbaru yang diproduksi sebuah perusahaan Amerika itu jatuh di lantai rumah sakit yang dingin. Layarnya yang tadi menyala terang kini gelap seperti langit malam yang mendung. Kyungsoo, orang yang sebelumnya memegang ponsel, hanya bisa menatapnya nanar. Masalahnya, ponsel itu milik Baekhyun yang baru tadi malam dipinjamkan padanya.
"Oh astaga, maafkan aku—"
Sementara itu, lelaki berkulit putih pucat di hadapan Kyungsoo yang tadi tidak sengaja bertabrakan dengannya kini melihatnya seolah ia adalah alien yang hanya akan muncul sekali seumur hidup.
"Ya Tuhan, Kyungsoo! Kami mencarimu ke mana-mana!"
Mata Kyungsoo melebar setelah kepalanya mendongak. "S-Sehun, aku—"
"Ayo, kau pasti merindukan Jongin."
"S-Sehun—"
"Jongin, Kyungsoo-mu datang!"
.
.
.
Title:
Broken Pieces
Main Cast:
Do Kyungsoo – EXO Kyungsoo
Kim Jongin – EXO Kai
Jung Soojung – f(x) Krystal
Kim Joonmyeon – EXO Suho
Genre: Romance, Drama
Rating: M
.
.
.
-CHAPTER 9-
"Jangan sentuh sesuatu yang bukan milikmu, bajingan!"
"Wanita itu menandatangani kontrak denganku, jadi aku bisa memperlakukannya semauku, kan?"
"Ingat istrimu, bodoh!"
"Jangan bawa-bawa istriku ke sini! Kyungsoo tidak lebih berharga dari Yixing!"
"Oh, jadi namanya Yixing? Ah, aku kasihan padanya. Suaminya kaya tapi tukang selingkuh."
Yixing bersandar di kepala ranjang. Matanya terpejam, tapi air mata terus mengalir dari sudut matanya. Kantung mata yang lumayan tebal terbentuk di wajah orientalnya, mungkin karena ia hanya tidur dua jam sebelum ini.
Percakapan Joonmyeon dan Chanyeol masih terbayang di ingatannya. Yixing bahkan masih bisa mengingat setiap intonasi yang meluncur dari bibir mereka. Tuhan, jika Yixing boleh jujur, Yixing masih sangat, sangat mencintai Joonmyeon.
"Kalau kau memang mencintai istrimu, kau tidak perlu mengganggu Kyungsoo, bodoh!"
"Sudah kubilang wanita itu juga ingin melakukannya!"
"Tapi ia sudah memintamu untuk mengakhiri semuanya, bukan? Kau yang tidak mengizinkannya pergi!"
'Kau yang tidak mengizinkannya pergi.'
Tok tok tok!
Terdengar tiga kali ketukan di pintu kamarnya. Mungkin itu Joonmyeon yang ingin minta maaf atau pelayan yang ingin meninggalkan troli yang dipenuhi makanan. Entah yang benar yang mana, tapi Yixing tidak ingin membuka pintu kayu yang membatasinya dari dunia luar untuk dua alasan itu.
"Yixing sayang, tolong buka pintunya. Kita harus bicara."
Tuh, kan. Yixing tahu itu suara Joonmyeon. Pria itu kira ia bisa membuka pintu kamar begitu saja mengingat ia punya kunci cadangannya, tapi Yixing cukup cerdas untuk tidak melepas kuncinya di sisi dalam. Mau seribu kali mencoba pun Joonmyeon tidak akan bisa memasukkan kuncinya ke dalam sana.
"Aku harus menjelaskan semuanya padamu, Xingie. Jangan menggugat cerai begitu saja, kumohon."
Semalam, sebelum mengunci pintu dan menyelubungi dirinya dengan selimut, Yixing menyelipkan kertas berisi aksara mandarin yang acak-acakan dari sela pintu. Isinya dua kalimat sederhana yang menyatakan Yixing ingin berpisah dengan Joonmyeon.
Brak!
Yixing bisa mendengar suara gebrakan dari pintu yang dipukul dengan keras oleh pria di balik sana.
"Aku salah, Xingie. Aku keterlaluan. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri karena telah menyakitimu seperti ini."
Setelah hening selama beberapa detik, giliran suara isak tangis yang masuk ke indra pendengaran Yixing. Yixing samar-samar mendengar suara Joonmyeon yang membisikkan kata 'aku keterlaluan' di sela-sela tangisnya. Wanita itu kemudian memilih untuk menutup seluruh dirinya lagi dengan selimut—tidak ingin terprovokasi oleh tingkah laku Joonmyeon pagi ini.
"Maafkan aku, Xingie. Maafkan aku."
Andai saja Joonmyeon tahu, Yixing sudah meneteskan air mata dua kali lebih banyak dari air mata yang pernah pria itu keluarkan seumur hidupnya.
oOo
Kyungsoo tidak pernah merasa secanggung ini sebelumnya. Ia tidak pernah ditatap dengan intens oleh tiga orang sekaligus, apalagi oleh Jongin, sahabatnya, dan wanita yang masih berstatus istrinya. Ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah saat sedang melakukan aksinya.
"Ng… H-Halo."
Kyungsoo mengangkat sebelah telapak tangan hingga ia berpikir bahwa ia pasti terlihat bodoh saat ini. Apalagi disertai sebuah cengiran yang terlalu lebar hingga bisa menyaingi cengiran idiot Chanyeol saat lelaki itu tertawa. Duh, Kyungsoo ingin pergi saja!
"A-Ah, ya. Selamat datang, Kyungsoo!"
Krystal sama canggungnya. Setelah berbagai hal yang terjadi sebelum ini, akhirnya ia dan Kyungsoo harus bertatap muka dalam momen dan tempat yang tidak tepat. Di kamar rawat Jongin saat pengadilan sedang memproses gugatan cerai yang diajukan lelaki itu.
Sementara Kyungsoo dan Krystal sama-sama terlihat seperti orang bodoh, Sehun malah celingak-celinguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Di sisi lain, Jongin melemparkan tatapan yang menyiratkan kata-kata 'kau harus membereskan semuanya' pada Sehun yang berdiri diantara dua wanita yang ada di ruangan itu.
"Ah, Krystal. Bisakah kau temani aku untuk membeli sesuatu? A-Aku kan belum tahu denah rumah sakit ini, jadi—"
"Baiklah." Krystal menjawab agak terlalu cepat, lalu beranjak dari sisi tempat tidur Jongin tanpa bertanya lebih lanjut. "Aku dan Sehun permisi dulu."
Mata Kyungsoo membulat melihat Krystal yang dengan mudahnya pergi meninggalkannya dengan Jongin, pria yang wanita itu cintai dan masih berstatus sebagai suaminya. Bukannya Jongin pernah berkata bahwa istrinya sama sekali tidak ingin bercerai?
"Ah, kami berdua sudah menyelesaikan urusan kami. Kau tidak perlu khawatir." Jongin menegakkan posisi duduknya. "Ayo sini, temani aku makan."
Mata Kyungsoo dapat melihat bahwa tangan kiri Jongin dibebat oleh kain—sepertinya tangannya itu patah. Wajah lelaki itu masih biru-biru akibat memar yang belum sepenuhnya sembuh. Tangan kanannya dimasuki selang infus dengan dua cairan berbeda—Kyungsoo tidak tahu bedanya apa. Singkatnya, Jongin terlihat… Menyedihkan.
"Hey, aku baik-baik saja." tangan kanan Jongin bergerak pelan untuk mengusak puncak kepala Kyungsoo yang kini duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya. "Tidak usah memasang muka sedih seperti itu."
"Kau seperti ini gara-gara aku, Jongin." Kyungsoo menunduk. "Maafkan aku."
"Sudah, jangan dibahas lagi." Jongin tersenyum tulus, membuat hati Kyungsoo merasa lebih hangat dengan melihatnya. "Ayo suapi aku!"
Kyungsoo tertawa kecil melihat Jongin mangap-mangap seperti ikan di dalam akuarium. Astaga, umurnya berapa, sih?
"Ayo Kim sajangnim, buka mulutmu."
Kyungsoo mengarahkan sesendok penuh bubur dengan lauk yang hanya mengisi seujung bagian sendok, membuat Jongin mengernyitkan dahi melihatnya.
"Tidak mau! Kebanyakan!"
Astaga. Kyungsoo melebarkan mata melihat Jongin yang mengerucutkan bibir dengan ekspresi cemberut. Lelaki itu merajuk hanya gara-gara sesendok bubur?
"Astaga Kim Jongin." Kyungsoo menatap Jongin dengan mata bulatnya yang lucu. "Kau ini ingin cepat sembuh, tidak?"
"Tapi itu kebanyakan buburnya, Kyungsoo." Jongin masih cemberut. "Sedikit-sedikit saja."
Aigo. Jika yang dihadapinya bukan Jongin, Kyungsoo pasti sudah melemparkan mangkuk bubur itu ke sudut ruangan.
"Baiklah. Sekarang cukup, kan, Tuan Kim yang terhormat?"
Jongin menahan tawa melihat Kyungsoo yang memegang sendok bubur dengan tatapan 'ayo cepat makan atau aku akan membunuhmu'.
"Oke, tapi cium aku dulu."
"Jongin!"
Tapi tetap saja, Jongin selalu bisa membuat Kyungsoo melakukan keinginannya. Setelah ditatap intens oleh Jongin, Kyungsoo akhirnya menyerah dan memberikan sebuah kecupan ringan—dan sedikit lumatan yang diawali oleh Jongin—agar lelaki itu mau makan.
"Tunggu. Mengapa bibirmu terasa lebih enak daripada bubur ini?"
"Yak, Kim Jongin!"
Sementara itu, di tempat lain, Sehun sedang memandangi latte art-nya dengan tatapan puas. Lalu, tangannya dengan cekatan memindahkan secangkir caramel macchiato yang sudah dihias oleh latte art berbentuk hati untuk bergabung dengan secangkir vanilla latte yang sudah duluan menempati baki. Tangannya mengambil dua keping biskuit kacang dari dalam toples, kemudian masing-masing biskuit ditaruh di tatakan gelas dari dua cangkir kopi tersebut.
"Macchiato-mu, nyonya."
Wanita itu tersenyum sekilas pada Sehun. "Terima kasih, Sehun-ssi."
Setelah mengajak Krystal keluar dari ruang rawat Jongin, Sehun malah membawa Krystal ke Kamong. Untuk menghilangkan stress yang dialami wanita itu, katanya. Krystal juga tidak menolak mengingat ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengganggu Jongin dan Kyungsoo lagi.
"Jadi, apa yang membuatmu berubah secepat ini?"
Sehun bukan orang yang senang berbasa-basi. Daripada menghabiskan waktu untuk bertanya hal yang tidak penting, lebih baik Sehun langsung ke inti masalah dan mendapat jawaban yang ia inginkan sesegera mungkin.
"Kau pasti curiga padaku, kan?"
Lelaki berkulit putih pucat itu terkekeh kecil. "Well, siapa yang tidak curiga jika kau berubah terlalu tiba-tiba?"
"Aku bingung harus menjelaskannya dari mana." Krystal menyesap kopinya sedikit. "Tapi aku pikir aku harus lebih memikirkan orang yang menyayangiku daripada orang yang aku sayangi."
Dahi Sehun mengernyit. "Maksudmu?"
"Ada satu orang temanku, namanya Minhyuk." mata Krystal menerawang jauh. "Aku mengabaikan perasaannya hanya karena aku terlalu memperhatikan orang yang aku sayangi."
"Ya, sebut saja Jongin."
Krystal terkekeh. "Tentu saja."
"Lalu?"
Wanita itu menyampirkan helai-helai rambutnya ke belakang telinga. "Ya, begitulah. Sepertinya akan lebih baik jika aku mundur saja. Toh nama yang Jongin sebut saat ia sadar adalah Kyungsoo, bukan aku."
"Ah." Sehun mengambil biskuit kacangnya, lalu menggigitnya sebagian. "Jadi kau setuju dengan perceraianmu dan akan hidup bersama temanmu itu?"
"Entahlah." Krystal tersenyum getir. "Aku tidak tahu di mana lelaki itu sekarang. Sepertinya ia sengaja ingin memutuskan kontak denganku."
Sehun merasakan hatinya berdenyut nyeri mendengar ucapan Krystal. Walaupun tindakannya selama ini seperti dilakukan di luar akal sehat, tapi Sehun tidak bisa menyangkal bahwa Krystal adalah wanita yang sebenarnya berjiwa rapuh. Ditinggal kekasih yang menghamilinya demi sebuah taruhan, diceraikan pria yang ia cintai untuk orang lain, lalu sekarang ditinggal orang yang menaruh perhatian lebih padanya.
Sehun tidak yakin ia bisa sekuat Krystal jika ada di posisi yang sama.
"Sabar, Krystal." Sehun menangkup tangan Krystal dengan sebelah tangan. "Semua akan baik-baik saja. Percayalah bahwa Tuhan masih menyayangimu."
Krystal mau tidak mau tersenyum mendengar perkataan Sehun. Sudah lama sekali ia tidak mendengarkan kalimat positif yang ditujukan padanya.
"Terima kasih, Sehun. Terima kasih banyak."
Pagi itu mereka habiskan untuk mengobrol ngalor-ngidul. Krystal tertawa lepas karena candaan-candaan Sehun yang kelewat garing. Wanita itu pikir Jongin adalah orang tergaring sedunia, tapi ternyata laki-laki itu punya saingan.
"Percayalah, aku begini karena Jongin."
"Ani. Jongin sama sekali bukan tandingan buatmu." Krystal menghabiskan biskuit kacangnya. "Kalau Jongin ada di level seratus, kau ada di level sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Separah itu."
Mereka tertawa lagi. Sehun bahkan sampai bertepuk tangan dan memukul-mukul meja karena joke-nya sendiri. Tanpa menyadari sekitar, mereka terus tertawa sampai sebuah suara menginterupsi.
"C-Chogi…"
Sehun dan Krystal refleks menoleh pada suara yang mereka dengar barusan.
"M-Minhyuk?"
oOo
"Kau tidak perlu melakukan tindakan sampai sejauh itu, sayang." Baekhyun mengganti perban yang membalut telapak tangan suaminya. "Lihat, tubuhmu jadi babak belur begini."
Semalam, Baekhyun hampir berteriak ketika melihat Chanyeol datang bersama Kyungsoo dengan luka yang menghiasi tubuhnya. Chanyeol bahkan harus dipapah oleh Kyungsoo dan supir pribadinya karena kakinya yang terkilir. Kyungsoo mengucapkan maaf berkali-kali karena wanita itu merasa Chanyeol terluka karena melindunginya.
"Aku tidak mengerti jalan pikiran manusia biadab itu, Baek." Chanyeol sedikit meringis ketika menggerakkan tangannya yang terasa kaku. "Aku rasa aku harus membalaskan dendam Jongin. Maaf karena membuatmu khawatir."
Tangan lentik Baekhyun mengelus surai lembut suaminya. "Tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu."
Chanyeol adalah orang yang sangat menghargai persahabatan. Ia tidak segan menyakiti siapa saja yang menyakiti sahabatnya, termasuk orang yang menyakiti Jongin. Jantungnya berpacu dengan cepat setelah tahu kronologis lengkap tentang apa yang terjadi pada Jongin dari Kyungsoo. Ia tidak percaya bahwa kakak sahabatnya bisa berbuat hal seburuk itu pada adiknya sendiri.
Jadi, sebelum membawa Kyungsoo ke rumahnya, Chanyeol mampir sebentar ke kediaman Joonmyeon dengan membawa pasukan. Hasilnya? Ia dan Joonmyeon sama-sama babak belur.
Tapi tak apalah. Setidaknya ia puas bisa menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan pada kakak sahabatnya itu.
Walaupun hal yang ingin ia sampaikan adalah beberapa tinjuan kasar.
"Tadi Kyungsoo menelponku. Katanya dia ingin menumpang di apartemen kita."
"Ya sudah, kau bisa minta tolong maid untuk merapikannya."
"Bukan itu masalahnya, Yeol." Baekhyun memainkan jemarinya. "Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Tadi kan ia bilang tidak akan menumpang lagi karena ingin menjaga Jongin."
Entah karena kepalanya sempat terkena pukulan tadi malam atau kata-kata Baekhyun yang terlalu rumit, tapi Chanyeol tidak bisa menangkap maksud Baekhyun dengan 'terjadi sesuatu'.
"Memangnya apa yang mungkin terjadi dengan Kyungsoo? Ia kan hanya ingin menjaga Jongin, Baek."
"Bukan Jongin masalahnya, tapi Krystal." Baekhyun terlihat lebih gelisah sekarang. "Bagaimana jika Krystal melakukan hal yang buruk padanya? Nomor yang ia pakai juga tidak aktif. Aku harus bagaimana?"
"Ah." otak Chanyeol akhirnya bisa mencerna kata-kata Baekhyun. "Kalau begitu, kita bisa menjenguk Jongin dan memastikannya sendiri."
"Sepagi ini?" Baekhyun menunjuk jarum jam yang menunjuk ke angka sembilan.
"Memangnya kenapa?"
Baekhyun menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Chanyeol. "Kau tahu aku malas mandi pagi-pagi. Dingin."
Chanyeol ingin tertawa mendengar perkataan istrinya. Jam sembilan ia sebut pagi? Bagaimana jika istrinya itu mandi jam enam pagi seperti Chanyeol?
"Kalau aku bantu kau mandi, mau?"
"Ih, Chanyeol!"
oOo
Kyungsoo melepas tangannya dari kepala Jongin setelah lelaki itu tidur dengan beberapa usapan lembut darinya. Bibirnya membentuk seulas senyum melihat Jongin yang tidur dengan damai dengan sebelah tangan yang masih memegang tangannya erat. Kyungsoo merunduk sedikit untuk memberikan kecupan di punggung tangan Jongin yang masih berkaitan dengan tangannya.
Tuhan begitu baik. Setelah semua yang terjadi pada dirinya dan Jongin, Tuhan masih memberi mereka kesempatan untuk bersama. Jongin sudah bercerita tentang Krystal yang akhirnya setuju dengan ide perceraian Jongin. Menurut Jongin, wanita itu berkata bahwa Ahreum tidak akan tumbuh di lingkungan yang bahagia jika ia memaksa Jongin untuk tetap bersamanya sementara lelaki itu ingin berpisah. Krystal juga akan lebih membuka hatinya untuk orang lain yang bisa menyayanginya juga Ahreum.
Sekarang Kyungsoo hanya perlu berpikir tentang Joonmyeon. Bagaimanapun juga, Kyungsoo tidak mungkin membenci Joonmyeon yang merupakan kakak kandung Jongin. Jika seandainya suatu hari Jongin berniat melamarnya, Kyungsoo tidak ingin terlibat masalah dengan kakak Jongin yang satu itu. Keadaannya pasti akan canggung sekali jika mereka tidak segera berbaikan.
Kyungsoo menarik tangannya perlahan dari tangan Jongin yang masih menggenggam tangannya. Kakinya melangkah menuju sofa yang ada di sisi lain ruangan. Barang-barang Krystal masih terlihat berantakan di sana, jadi Kyungsoo berniat merapikannya.
Tangan terlatih Kyungsoo melipat selimut, bantal, serta cardigan yang digunakan oleh wanita yang masih berstatus sebagai istri Jongin itu. Ia berniat untuk memasukkan barang-barangnya ke lemari penunggu pasien, namun lemari tersebut masih penuh oleh barang-barang Krystal. Ia tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak sopan, jadi Kyungsoo hanya menaruh tasnya di samping lemari.
Cklek…
"A-Annyeong haseyo."
Kyungsoo refleks membungkukkan kepala pada seorang wanita paruh baya yang memasuki ruang rawat Jongin.
"Kau… Apa kau wanita yang bernama Kyungsoo?"
Deg! Jantung Kyungsoo mendadak berdentum lebih cepat. Jangan-jangan…
"I-Iya."
"Wah, kebetulan sekali."
Wanita itu mendekati Kyungsoo. Astaga, kenapa harus hari ini? Kyungsoo tidak tahu harus berbuat apa jika ternyata wanita itu benar—
"Perkenalkan, aku ibunda Jongin."
oOo
Sudah dua hari sejak Yixing mengucap kata cerai pada Joonmyeon. Ia tidak lagi mengurung diri di kamar, tapi sikapnya terhadap Joonmyeon belum berubah. Laki-laki itu masih mengucapkan kata maaf berkali-kali, tapi Yixing tidak terlihat terpengaruh dengan kata-katanya.
Bukan hanya Yixing yang terlihat menyedihkan, Joonmyeon juga tidak kalah menyedihkan. Lelaki itu bahkan harus absen dari pekerjaannya hingga membuat Irene sakit kepala untuk mengatur ulang jadwal meeting. Nama Kyungsoo juga belum dicoret dari perusahaan sehingga posisinya kosong dan alur pekerjaan jadi terhambat. Pihak HRD menyarankan agar posisi Kyungsoo diganti, tapi Irene tidak sanggup mengatakan hal tersebut pada atasannya yang sedang dalam kondisi sangat tidak baik.
Joonmyeon baru sadar bahwa tindakannya untuk bermain dengan Kyungsoo di belakang Yixing adalah hal yang salah setelah mendapati istrinya menangis tanpa wanita itu sadari. Kadang-kadang, air mata Yixing jatuh ke atas meja makan saat wanita itu sedang menyuap sekerat daging atau sepotong kentang ke dalam mulutnya. Bahkan Joonmyeon pernah menemukan Yixing menangis saat ia sedang bermain piano dengan dengan tangga nada mayor dan tempo cepat.
Jika Joonmyeon diberi kesempatan untuk memilih, ia akan memilih untuk kembali ke masa lalu saat dirinya tidak mengenal Kyungsoo. Sungguh, Joonmyeon menyesal karena telah menyia-nyiakan kepercayaan Yixing yang tidak pernah luntur walaupun mereka sering terpisah jarak. Istrinya telah mempercayainya sebesar itu dan Joonmyeon merasa seperti orang bodoh karena telah merusak kepercayaan itu.
Kepercayaan yang mungkin tidak akan pernah kembali.
"Aku berani bersumpah demi Tuhan, Yixing. Kau adalah satu-satunya wanita yang kucintai. Percayalah padaku."
Hening. Yixing lebih memilih untuk pergi ke halaman belakang dan memberi makan ikan yang ada di kolam berukuran empat kali empat meter yang ada di sana. Tak ingin menyerah, Joonmyeon mengikuti Yixing ke sana.
"Yixing, kumohon jangan abaikan aku." Joonmyeon kali ini memeluk tubuh ringkih Yixing dari belakang. "Aku bisa gila."
"Jangan buat semuanya menjadi lebih sulit untuk kita."
Itu kalimat terpanjang yang pernah Yixing ucapkan selama dua hari terakhir. Biasanya, Yixing hanya akan membalas dengan gumaman singkat atau kata 'ya' dan 'tidak'.
"Aku masih bertahan di sini karena tidak ingin mengecewakan eommonim." Yixing melempar segenggam pelet ikan ke dalam kolam. "Kalau Jongin sudah menikah dan eommonim terlihat sudah siap, aku akan pergi."
"Tidak, Yixing." Joonmyeon mengeratkan pelukannya. "Kumohon, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika kau benar-benar pergi. Aku—"
"Kau bahkan tahu apa yang harus kau lakukan ketika kau sendirian di sini." tangan Yixing berusaha melepas dekapan Joonmyeon yang dirasanya terlalu erat. "Kau tidak akan kesulitan tanpa aku, jadi—"
"Kumohon, Yixing."
Joonmyeon sesenggukan di belakang tubuh istrinya. Jantungnya berdegup tidak normal membayangkan kemungkinan Yixing akan meninggalkannya sebentar lagi. Joonmyeon butuh tempat bersandar, tapi satu-satunya tempatnya bersandar kini memilih untuk pergi dari hidupnya.
"Sumpah, aku lebih baik mati daripada harus hidup dengan penyesalan seperti ini."
Hati Yixing berdenyut sakit mendengar perkataan Joonmyeon. Dalam kondisi seperti ini, posisi Yixing seperti serba salah. Jika ia memilih untuk tinggal, ia akan tersiksa karena trauma masa lalunya yang jadi kenyataan. Jika ia memilih untuk pergi, Yixing secara langsung menyakiti Joonmyeon yang masih mengharapkannya kembali—walaupun Yixing tidak bisa menjamin suaminya itu berkata jujur atau tidak.
Kenyataannya, apapun yang akan dipilih Yixing nantinya, dua-duanya akan menyakiti Joonmyeon. Masalahnya hanya ada pada waktu.
"Kau tidak akan bahagia kalaupun aku memilih untuk tetap tinggal di sisimu."
"Setidaknya itu lebih baik daripada aku tidak bisa melihatmu sama sekali."
"Kim Joonmyeon."
Yixing mati-matian menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Yixing masih mencintai Joonmyeon dan sungguh, ia tidak ingin berpisah dengannya. Tapi mungkinkah Joonmyeon akan mengerti situasi jika Yixing menceritakan semuanya?
She doubt it.
"Kau akan memilih untuk melepasku setelah aku menceritakan sesuatu. Ketiadaanku tidak akan berpengaruh banyak untukmu, percayalah."
At the end of the day, she decides to give it a try. The first and only explanation about her past.
oOo
"Aku tidak tahu kau sering minum kopi di sini."
Minhyuk, lelaki yang barusan menginterupsi obrolan Sehun dan Krystal, terkekeh kecil. "Aku tidak sengaja lewat sini."
Setelah menghilang berhari-hari, Minhyuk akhirnya muncul di hadapan Krystal tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Lelaki itu masih seperti hari-hari kemarin—kecuali rambutnya yang dicat dengan warna coklat mahogani. Senyum tidak luntur dari wajahnya, bahkan sekarang senyumannya terlihat lebih cerah dibandingkan sebelumnya.
Lelaki itu berkilah bahwa ia pergi ke Jepang untuk urusan pekerjaan. Minhyuk sengaja tidak mengabarkan kepergiannya karena lelaki itu ingin memberi surprise dengan memberitahu wanita itu ketika ia sudah dipastikan menandatangani kontrak dengan sebuah label rekaman ternama di Jepang. Sayang sekali Minhyuk membawa ponsel cadangannya sehingga tidak terdapat nomor Krystal di sana.
"Jadi, kau akan pindah ke Jepang?"
"Begitulah." Minhyuk tersenyum lebar. "Aku tidak menyangka kalau aku bisa dikontrak Avex secepat itu."
"Kau memang berbakat." Krystal balas tersenyum pada Minhyuk. "Selamat ya, akhirnya impianmu untuk berkarir di Jepang terwujud juga."
Krystal tahu bahwa Minhyuk ingin sekali berkarir di Jepang sejak mereka masih menginjak kelas empat SD. Yang wanita itu tidak tahu, Minhyuk tidak main-main dengan ucapannya untuk mewujudkan impiannya.
"Kau tahu, aku juga punya banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu."
"Ah, tentang Jongin?" Minhyuk tersenyum kecil. "Bagaimana keadaannya? Apakah kalian sudah baikan? Aku bisa membantumu jika kau ingin tetap bersama—"
"Jangan pura-pura tidak terjadi apa-apa, Hyukkie." Krystal tersenyum getir. "Aku sudah menyakiti perasaanmu dan kau bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelum ini."
Minhyuk tersenyum kalem. Diraihnya secangkir green tea latte dari atas meja, lalu kopi itu disesapnya perlahan.
"Jika aku bisa membuatmu bahagia dengan Jongin, aku akan bahagia untukmu." lelaki itu menatap dalam manik mata Krystal. "Aku merasa bebanku hilang setelah aku menyampaikan perasaanku tempo hari. Kau tidak perlu merasa bersalah, sungguh."
"Kau tahu sesuatu? Aku akan menjadi orang paling bodoh jika tidak membalas perasaanmu."
"Tidak, Soojungie. Aku lebih bodoh darimu, jadi lupakan saja. Aku—"
"Hyukkie."
Kali ini Krystal menggenggam tangan Minhyuk yang tersampir di atas meja. Minhyuk hanya bisa melebarkan mata melihat tangan wanita itu menggenggam tangannya erat dan mengusap-usap kulit tangannya dengan lembut.
"Kau tahu, survey mengatakan bahwa hidup dengan sahabat adalah salah satu pilihan dengan hasil terbaik." Krystal tersenyum menatap wajah Minhyuk yang terlihat penuh oleh pertanyaan. "Bukankah aku harus mencobanya?"
Minhyuk masih bengong menatap Krystal. "M-Maksudmu—"
"Apakah hatimu masih kosong?" Krystal menatap mata Minhyuk penuh harap. "Aku masih bisa mengisinya, kan?"
Oh Tuhan, mimpi apa Minhyuk semalam!
.
.
.
TBC
.
.
.
YHA akhirnya selesai juga ini chapter :')
Setelah notebook w harus nginep di tempat servis selama weekend (dan masih harus diservis sebenernya, damn it) akhirnya w bisa nyelesein ini. /sujud syukur/
Kyungsoo ama Jongin balikan lagi,Krystal udah sama Minhyuk, tinggal Joonmyeon ama Yixing. Sedikit lagi banget cerita ini bakal selesai.
Ehm, iya, ujungnya happy ending.
Mind to review?
