Salju putih khas musim dingin sudah mencair dan digantikan oleh mekarnya kelopak-kelopak bunga sakura khas musim semi. Pohon-pohon yang awalnya tidak berdaun sekarang sudah hidup kembali. Hewan-hewan juga sudah keluar dari tempat berhibernasinya untuk menikmati musim semi. Suara cicitan burung kecil juga menambah indah suasana.
Tidak terasa tahun sudah berganti dan sekarang anak-anak Akashi sudah berusia enam tahun. Sesuai dengan standar pemerintah Jepang, anak berusia enam tahun sudah bisa disekolahkan di SD. Sebagai Ayah yang baik, Akashi sudah memilihkan sekolah bagus untuk anak-anaknya. SD Teiko menjadi pilihan sang Ayah untuk keempat anaknya tersebut. Selain karena mutu sekolah yang bagus, letaknya juga tidak terlalu jauh dari rumah. Setengah jam berkendara, mereka sudah sampai di sekolah yang dimaksud.
"Uhh.. Papa-cchi, aku mau pipis dulu-ssu." Ryouta melepaskan ranselnya dan berlari menuju kamar mandi. Sudah lima kali ia ke kamar mandi karena alasan yang sama.
Sebagai Ayah yang baik, Akashi memutuskan untuk mengantar anak-anaknya pergi ke sekolah untuk pertama kalinya. Selama ini anak-anaknya home schooling sehingga mereka tidak pernah pergi ke sekolah sungguhan. Wajar saja mereka gugup.
"Selama aku punya ini, semuanya akan berjalan lancar, nanodayo." Shintarou mengelus boneka pandanya dengan sayang. Ia tidak mempedulikan saudara-saudaranya karena ia juga gugup.
Kalau Atsushi, jangan tanya apa yang anak itu perbuat. Selama ada snack, ia akan baik-baik saja. Sedangkan Daiki sedang mengingat-ingat perkalian yang ia pelajari saat home schooling dulu.
Kuroko yang melihat tingkah anak-anak yang ia asuh itu hanya bisa tersenyum geli. Ia jadi ingat saat ia masuk SD untuk pertama kalinya ia tidak mau melepaskan rok yang Ibunya kenakan karena takut. Apalagi ia adalah anak pemalu dan tidak pandai bergaul semasa TK dulu.
Akashi yang melihat pola tingkah anak-anaknya hanya menggeleng pelan. Setelah Ryouta kembali dan memakai ranselnya lagi, Akashi membuka suaranya, "Jangan tegang begitu. Ini hanya sekolah. Kalian pasti bisa. Seorang Akashi selalu menghadapi masalah dengan kepala dingin dan penuh pecaya diri."
Mendengar pidato singkat dari Papa mereka, keempat anak laki-laki itu mengangguk dengan mantap. Benar apa yang dikatakan Papanya, mereka adalah Akashi walaupun tidak sedarah, tapi mereka menyandang marga Akashi, jadi mereka tidak boleh mengecewakan Papa mereka.
"Sekolah itu menyenangkan. Kalian bisa mendapatkan teman disana." Kuroko menyambung perkataan Akashi barusan dengan nada datar dan wajah minim ekspresi. "Disana kalian akan menemukan hal-hal yang tidak pernah kalian temui di rumah."
Itu adalah kalimat yang pernah Ibunya katakan ketika ia pertama kali masuk SD.
"Kami sudah siap~" Keempat anak itu mengucapkannya secara serentak.
.
.
.
Tetsu-nanny!
Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Genre :
Romance/Family
Rated :
K+
Warning :
AU, OOC, Typo(s), gaje, alur kecepatan, humor garing, shounen-ai, chibi!GOM (minus Akashi), dan kekurangan lain sehingga tidak bisa disebutkan satu-satu.
Happy Reading~
.
.
.
―Day 9―
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, SD Teiko dengan rumah kediaman Akashi hanya butuh waktu tiga puluh menit menggunakan kendaraan. Keluar kompleks perumahan elit tempat Akashi tinggal, berjalan selama dua puluh menit dan sampai. Beda cerita kalau jalan kaki tentunya.
Mobil merah yang dikendarai Mibuchi membelah jalanan kota Kyoto dan berhenti di sebuah gedung sekolah megah yang didominasi oleh warna putih. Pintu gerbang sekolah sudah terbuka dan banyak orang yang memasuki sekolah tersebut. Kebanyakan adalah anak-anak orang kaya yang menggunakan mobil untuk berpergian. Anak-anak SD yang memakai seragam kemeja biru dengan blazer putih memasuki sekolah tersebut. Ada yang ditemani oleh orangtua mereka mengingat ini adalah kali pertama mereka masuk sekolah.
Keempat anak berbeda warna rambut itu keluar dari mobil bersama Kuroko.
"Aku akan pulang dengan bis. Terima kasih atas tumpangannya." Kuroko menunduk sedikit ketika kaca jendela penumpang depan terbuka dan menampilkan wajah seorang Akashi Seijuurou.
"Langsung pulang, jangan keluyuran." Peringat Akashi kepada pemuda berambut biru muda tersebut.
"Ha'i!" Dengan itu mobil merah yang muat untuk banyak orang melesat pergi untuk mengantar Akashi pergi bekerja. Setelah ini Akashi harus mencari supir pribadi untuk anak-anaknya supaya ia tidak terlalu repot untuk pergi bekerja.
"Sei-chan perhatian sekali dengan Kuro-chan~" Goda Mibuchi sepanjang perjalanan menuju kantor.
"Biasa saja." Akashi membalasnya dengan malas sambil menatap keluar jendela. Suasana kembali hening.
"Bukan maksudnya menyinggung sih," Mibuchi memecahkan keheningan yang tercipta sambil melirik bosnya itu, "sepertinya Sei-chan memang benar-benar perhatian dengannya sejak insiden ia jatuh sakit. Jangan-jangan Sei-chan suka dengan Kuro-chan lagi?"
"Aku tidak menyukainya." Akashi membalas acuh tak acuh. Memangnya kenapa dengan menyuruh pemuda belia itu langsung pulang? Kalau dia diculik bagaimana? Bisa panjang urusannya nanti. Belum lagi bertanggung jawab kepada orangtuanya.
"Hmm.." Mibuchi menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Walaupun dikatakan seperti itu Mibuchi yang bekerja untuk Akashi selama bertahun-tahun tentu sudah tahu tabiat bosnya. Dan seperti yang sudah ia katakan tadi, Akashi benar-benar perhatian pada Kuroko. Mungkin Akashi tidak sadar melakukannya.
Kembali pada Pasukan Pelangi dan Kuroko. Kelimanya berjalan masuk ke gedung sekolah tersebut. Sebagai wali yang baik, Kuroko mengantar anak-anak asuhnya ke kelasnya. Ada banyak orangtua yang melakukannya juga, tidak hanya ia seorang.
"Shin-chan, At-chan, Ryou-chan, Dai-chan, Tetsuya-san!" Panggil sebuah suara yang sangat familiar. Mereka dapat melihat Momoi dalam balutan seragam Teiko dengan rok berwarna hitam berlari ke arah mereka. Di belakangnya seorang wanita yang mirip dengan Momoi berjalan bersama suaminya.
"Ah, kau pasti Kuroko Tetsuya, babysitter yang dipekerjakan Akashi-san." Sang wanita memulai percakapan ringan, "Terima kasih sudah menjaga Satsuki untuk kami. Kami selalu sibuk dengan pekerjaan hingga harus meninggalkannya di rumah."
"Bukan masalah bagiku, Momoi-san. Sudah tugasku menjaga anak-anak. Lagipula Momoi-chan adalah anak yang baik dan manis. Dia benar-benar dekat dengan yang lainnya." Kuroko membalas dengan sopan perkataan dari wanita yang merupakan Ibu dari Momoi Satsuki.
"Bagaimana kalau kita berjalan bersama menuju kelas? Aku melihat nama keempat anak Akashi-san di kelas yang sama dengan putriku." Kepala keluarga Momoi mengusulkan dan sekarang gerombolan manusia itu berjalan menuju sebuah kelas yang terletak di lantai dua.
Kelas itu sudah dipenuhi oleh anak-anak beserta orangtua mereka. Ada yang masih bermanja-manja dengan Ibunya dan ada pula yang menangis karena tidak mau ditinggal pergi karena ini lingkungan baru. Anak-anak memang polos dan naïf, makanya Kuroko senang menjaga anak-anak.
Sekelompok orang itu memasuki ruang kelas tersebut dan anak-anak berseragam Teiko itu langsung mencari tempat duduk untuk mereka. Setelah duduk dengan manis, kedua orangtua Satsuki mencium pipi putri semata wayang mereka dan pergi dari sana. Kuroko hanya mengelus kepala empat anak itu sebelum menyemangati kelima anak asuhnya untuk belajar dan berteman di hari pertama mereka sebelum pergi dari tempat itu.
Ketika semua orangtua dan wali sudah keluar, seorang pria tampan berambut hitam dengan tanda hitam kecil di bawah matanya. Ia memperkenalkan diri sebagai wali kelas dari kelas tersebut.
..
…
..
Sesuai dengan perintah Akashi, Kuroko pulang menggunakan kendaraan umum bernama bis. Ia turun di halte dekat komplek perumahan tempat Akashi tinggal sebelum berjalan kaki menuju rumah megah tersebut. Ia melewati pos penjaga kompleks tanpa banyak mengalami kendala. Sebenarnya sih ia langsung menerobos saja karena sepertinya satpam yang berjaga tidak menyadari keberadaannya. Entah untung atau rugi untuknya.
Kuroko yang belum pernah keluar dari sangkar emas yang merupakan rumah Akashi hanya bisa memandangi rumah-rumah yang ada di komplek tersebut. Selama ini ia hanya melihat lewat kaca mobil saja, tapi kalau dilihat dengan mata kepala sendiri rasanya menjadi lebih wow walaupun wajahnya masih datar sih.
Rumah-rumah disana rata-rata bertingkat dua dan memiliki halaman yang luas. Kuroko seperti anak desa nyasar di komplek perumahan itu. Selama tiga puluh menit ia berjalan di komplek perumahan itu. Pohon-pohon tinggi dan jogging track disediakan disana. Tidak lupa dengan sebuah taman kecil untuk anak-anak bermain. Kuroko juga melewati sebuah danau buatan yang digunakan untuk bersantai.
Akhirnya ia sampai di rumah megah milik Akashi. Satpam yang sudah mengenalnya langsung membukakan pintu dan menyapanya.
"Terima kasih, Tanaka-san." Pria parubaya itu membalas Kuroko dengan senyum sebelum kembali menutup pintu gerbang.
Kuroko kembali menatap jalanan panjang yang terhampar di depannya. Ia tidak pernah menyangka jalanan menuju rumah yang ada di tengah lahan luas itu sangatlah panjang. Untungnya sekarang adalah musim semi jadi kondisi tidak terlalu panas. Bunga-bunga sakura berguguran dan terbawa angin musim semi. Dengan santai Kuroko berjalan sambil menikmati keindahan rumah majikannya itu.
Sesampainya di dalam rumah megah itu Kuroko merasa ada yang kurang.
"Rasanya rumah ini sepi sekali tanpa anak-anak." Gumamnya entah pada siapa.
Karena merasa bosan dan kurang kerjaan, Kuroko memutuskan untuk membuka laptop dan memulai kuliah onlinenya. Ingat ia ini masih berstatus mahasiswa di bidang sastra Jepang. Ia juga harus belajar walaupun harus dari rumah.
..
…
..
Berbeda dengan Kuroko yang berkutat dengan laptopnya untuk menimba ilmu, anak-anak asuhnya sekarang sedang duduk manis di kursi mereka sambil memerhatikan guru tampan yang sedang mengajar. Guru itu terlihat muda dan murah senyum. Tampan lagi.
"Bagaimana kalau sensei atur tempat duduk kalian?" Tanya guru tampan tersebut sambil tersenyum kepada murid-murid kecilnya itu.
"Ha'i!" Korus khas anak-anak mengiyakan perkataan guru mereka.
"Baiklah mari sensei lihat." Guru tampan tersebut mengambil absensi dan mulai memanggil nama murid-muridnya satu persatu, "Akashi Atsushi."
Seorang murid dengan tubuh besar untuk anak seusianya dan rambut ungu mengangkat tangan. Melihat itu sang guru tampan menyuruh anak yang bersangkutan duduk di belakang karena takut tubuhnya yang besar itu menghalangi anak yang ada di belakangnya.
"Akashi Daiki." Guru tampan itu melihat seorang anak laki-laki dengan kulit yang agak gelap dan rambut biru gelap mengangkat tangannya. "Kau duduk dengan.. Sakurai Ryo."
Seorang anak dengan rambut cokelat berdiri dan duduk di sebelah Daiki. Ia menunduk sambil meminta maaf berkali-kali. Sedangkan Daiki hanya bisa memandang aneh anak yang menjadi teman sebangkunya itu. Padahal ia tidak melakukan apapun, kenapa anak ini meminta maaf kepadanya? Apakah ia sesangar itu? Padahal ia merasa masih unyu-unyu kok.
"Akashi Ryouta." Guru tampan itu melihat seorang anak laki-laki pirang yang manis sedang mengangkat tangan sambil tersenyum lebar. "Duduk dengan Momoi Satsuki."
"Yeay, duduk dengan Momoi-cchi~" Keduanya langsung berpelukan.
Guru tampan itu tersenyum melihat tingkah anak didiknya. Sepertinya keduanya sudah saling mengenal. Selanjutnya, "Akashi Shintarou."
Seorang anak laki-laki berambut hijau dengan kacamata mengangkat tangan. Dia terlihat pintar dan tenang. Tidak seperti anak-anak seusianya. "Duduk dengan Takao Kazunari."
"Yahoo! Shin-chan!" Anak berambut hitam dengan suara cempreng menghampiri Shintarou dan duduk di sebelahnya.
"Jangan panggil aku begitu, nanodayo." Shintarou menegakkan kacamatanya. Menurutnya Takao adalah tipe orang yang SKSD dapat dilihat dari caranya berbicara pada Shintarou yang akrab padahal baru pertama kali bertemu.
"Ehh~ Tapi kita 'kan bakal jadi teman sebangku. Kenapa tidak boleh?" Takao bertanya dengan polos sambil menatap anak laki-laki yang menjadi teman sebangkunya itu.
"Panggil saja Shintarou." Shintarou menatap tidak suka pada anak yang bernama Takao Kazunari itu.
"Tapi itu kepanjangan~" Rengek si surai hitam sambil memanyunkan bibirnya dengan imut.
Guru tampan tersenyum lagi melihat itu. Ketika ia melihat buku absensi ia baru menyadari bahwa empat anak pertama mempunyai marga yang sama. Akashi.
Jadi mereka saudara ya? Pikir si guru tampan sambil melihat keempat anak yang memiliki marga sama itu. Tapi kok nggak mirip ya?
Tunggu, guru tampan itu melihat sekelilingnya lagi, kok namanya familiar.
"Sensei, aku belum dipanggil!" Seorang anak perempuan mengangkat tangannya dan guru tampan itu kembali kepada pekerjaannya.
Setelah mengabsen dan mengatur denah tempat duduk, sekarang kelas yang dibimbing oleh guru tampan itu memasuki pelajaran. Pelajaran yang diajarkan guru tampan itu adalah matematika. Tahap yang mudah tentunya seperti tambah-tambahan, kurang-kurangan, kali-kalian, dan bagi-bagian.
Semua murid mencatat pelajaran yang mereka terima hari itu dengan antusias. Walaupun ada dua anak yang tertidur selama pelajaran, guru tampan tetap sabar mengajar anak-anak usia enam tahun itu. Terkadang ia bertanya tentang soal matematika kepada murid-muridnya dan dijawab dengan antusias oleh mereka.
Bel istirahat berbunyi dan semua murid berhamburan keluar. Khusus anak-anak kelas satu SD, mereka semua memilih untuk duduk di dalam kelas sambil memakan bekal buatan Mama. Mereka saling berkenalan satu sama lain.
"Shin-chan, boleh bagi bekalnya nggak?" Tanya Takao yang duduk di sebelah Shintarou.
Sekarang mereka semua duduk berkelompok yang terdiri dari Pasukan Pelangi, Takao Kazunari, dan Sakurai Ryo. Mereka semua memakan bekal mereka dengan nikmat. Sesekali mereka bercengkerama dan terkadang Takao dan Ryouta menjahili Shintarou. Mereka terlihat seperti anak SD yang sedang saling tukar bekal sekarang.
Berkebalikan dengan suasana hangat pertemanan yang tercipta di antara murid baru, di pojokan kelas terdapat sekelompok murid dengan usia yang sama dan kelas yang sama memandang kelompok anak-anak yang berusaha berteman itu dengan tatapan nakal.
"Oi, Hanamiya, mereka berisik, ya." Seorang anak dengan rambut hitam dengan tatapan kosong bertanya kepada seorang anak laki-laki berambut hitam lainnya yang mencapai pundaknya.
Anak yang dipanggil Hanamiya itu tersenyum jahat, "Bagaimana kalau kita membuat mereka diam?"
Semua anggota kelompoknya mengangguk setuju sambil tersenyum jahat layaknya anak-anak pem-bully di sekolah-sekolah, kecuali satu anak yang malah tertidur.
"Oi, Kentaro, bangun!" Anak berambut cokelat mengguncangkan tubuh anak kecil itu.
"Hah, ngapain?" Dengan muka polos anak yang dipanggil Kentaro itu bertanya balik. Anak yang diketahui bernama Kentaro Seto itu masih belum sadar dengan kondisi sekelilingnya.
Di sisi lain, Hanamiya dan kedua temannya yang lain sudah menghampiri anak-anak yang mengumbar kebahagiaan persahabatan itu. "Oi, kalian berisik tahu gak?"
Pasukan Pelangi yang memiliki dua orang tambahan menoleh ke arah sumber suara dan melihat Hanamiya Makoto, teman sekelas mereka, menggertak dengan menaikan kakinya ke atas kursi.
"Ini 'kan jam istirahat, jadi wajar saja kalau berisik-ssu." Ryouta mencibir Hanamiya dan membuat yang dicibir tersinggung.
Hanamiya menggerakan kepalanya seperti member aba-aba kepada dua orang anak buahnya. Dua anak buahnya, Kazuya Hara dan Hiroshi Yamazaki, melemparkan sepotong keju yang berasal dari roti isi Kazuya kepada Momoi.
Point blank.
Keju itu mengenai rambut Momoi.
Semua orang menatap Momoi yang terdiam.
"Beraninya kalian.." Momoi menggeram dan melempar balik keju tersebut ke muka Yamazaki yang menjadi pelaku pelemparan.
Dengan penuh inisiatif Hanamiya mengambil botol saus tomat yang ia bawa untuk mengusili guru dan menyemprotnya ke arah Pasukan Pelangi. Tidak mau kalah, Daiki mengambil keju cair yang seharusnya dituangkan ke spaghetti-nya dan menyemprotkannya ke muka Hanamiya. Daiki tersenyum penuh kemenangan ketika Hanamiya bungkam karena keju cair.
"Grrr.." Hanamiya menggeram dan berteriak, "This is war!"
Dengan itu peperangan antara anak-anak kelas satu dimulai.
"Hei, hei, kenapa tidak ajak-ajak?" Datanglah anggota lain bernama Kentaro Seto dan Kojiro Furuhashi.
Sebuah gunting melayang dan mengenai tembok belakang tempat Hanamiya dan kawan-kawan berdiri. Kelima anak itu berdiri mematung. Mereka melirik gunting yang tertancap di tengah-tengah mereka kemudian melirik si pelempar yang merupakan Shintarou.
"Beraninya kau mencari ribut dengan kami." Dengan aura kepemimpinan, Shintarou mengatakan hal itu. "Akan kubuat kalian menyesal telah menantang kami."
Shintarou berdiri di depan sambil menegakkan kacamatanya dengan keren sedangkan di belakangnya berjejer saudara-saudaranya serta Momoi. Mereka bagaikan Power Rangers sungguhan.
"Uoohh! Shin-chan keren!" Takao menyemangati teman sebangkunya itu sedangkan Sakurai mulai panik dan meminta maaf kepada siapa saja.
"Heh~" Hanamiya menarik ujung bibirnya dan mengatakan, "Kuterima tantangan kalian bocah ingusan."
Dan peperangan tidak mungkin dapat dihindari lagi.
..
…
..
Prang!
Bug!
Buagh!
Jduk!
Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat belajar mengajar sekarang sudah kacau balau dengan berbagai peralatan yang hancur berkeping-keping. Meja serta kursi dibuat menyerupai benteng pertahanan dua kubu. Kubu Pasukan Pelangi yang terdiri dari Pasukan Pelangi plus Takao dan Sakurai, sedangkan kubu Cari Ribut terdiri dari Hanamiya Makoto dan teman-temannya. Sedangkan murid-murid lainnya berlindung di tempat yang aman seperti di bawah meja guru dan di dalam lemari. Mereka semua menonton pertarungan antara dua kubu yang terbentuk di kelas mereka.
"Masih belum menyerah juga kalian, nanodayo." Shintarou selaku ketua menggeram. Sayang sekali ini bukan rumahnya. Kalau mereka sedang berperang di rumahnya, sudah dapat dipastikan kubu Cari Ribut akan kalah.
Kubu Pasukan Pelangi sekarang sedang kekurangan pasokan amunisi untuk menyerang. Mereka sedang berunding mengenai jalan keluar. Sedangkan kubu Cari Ribut sedang menunggu salah satu anggota kubu Pasukan Pelangi untuk keluar dan menyerang mereka dengan balon yang diisi cat. Sengaja disiapkan oleh Kentaro dari rumah untuk tujuan ini.
Dasar anak-anak, di sekolah bukannya belajar malah tawuran.
"Oke!" Suara cempreng yang berasal dari kubu Pasukan Pelangi terdengar dan mereka semua bangkit berdiri dari benteng yang mereka buat.
Brak!
Brak!
Brak!
Baru saja kubu Pasukan Pelangi berbalik, mereka sudah dihantam oleh balon isi cat warna-warni kubu Cari Ribut. Sekarang mereka belepotan cat warna-warni. Sakurai kembali meminta maaf dan Daiki sekarang urat kesabarannya sudah habis.
"Shintarou, jangan halangi aku! Aku akan menghajar mereka semua!" Jiwa preman Daiki keluar namun dari belakang Momoi dan Ryouta menahannya agar tidak lepas.
"Cih!" Shintarou mengambil kotak maibou yang Atsushi bawa dan melemparnya ke arah kubu Cari Ribut dengan gaya pebasket profesional.
"Maibou-chin~" Atsushi menatap nanar kotak maibou yang melayang di udara tersebut.
Buk!
"Aw! Apaan nih?!" Yamazaki mengelus kepalanya yang terkena sesuatu. Ia melihat sekotak maibou di lantai. "Cih!" Dan menginjaknya karena kesal.
Shintarou menarik salah satu ujung bibirnya ketika mendapatkan reaksi yang diinginkannya. Sekarang tinggal―
"Maibou-chin!" Atsushi menggeram marah karena makanan ringannya diinjak seperti itu. Dengan kekuatan titan yang dimilikinya ia mengangkat kursi dan melemparnya ke arah kubu Cari Ribut.
"AWAS!" Kazuya berteriak memperingatkan teman-temannya untuk menyelamatkan diri dari titan yang mengamuk.
"Tidak akan kumaafkan kalian telah menginjak maibou-chin!" Atsushi melempar segala hal yang ia lihat ke arah kubu Cari Ribut.
"This is Spartan!' Teriak Daiki dan peperangan selama jam istirahat itu kembali berlanjut.
Prang!
Sebuah tongkat baseball terlempar keluar dari ruangan yang diisi anak kelas satu tersebut. Diikuti beberapa barang lainnya. Takao yang badannya kecil menyelinap keluar untuk mengambil amunisi yang dapat ia temukan. Sedangkan di dalam kelas sudah bagaikan kapal pecah.
"Shin-chan~" Takao meneriakkan nama teman sebangkunya itu, "Aku bawa ini loh~"
Dengan bangga Takao menunjukkan setoples jangkrik yang ia dapatkan dari lab biologi sekolah.
"Lepaskan saja, nanodayo." Perintah Shintarou dan Takao melepaskan jangkrik-jangkrik itu keluar. Daiki mengambil salah satu jangkrik dan memasukannya ke dalam baju Kentaro. Yang menjadi korban sekarang berlari mengitari kelas sambil meminta bantuan untuk mengeluarkan jangkrik tersebut.
Di sisi lain, Atsushi sedang berhadapan dengan Yamazaki yang telah menginjak maibou-nya tercinta. Yamazuki menatap anak yang lebih besar darinya itu dengan tatapan mengejek. Ia mengatai Atsushi dan akhirnya Atsushi mengangkat anak yang lebih kecil darinya itu dan memasukannya ke dalam tempat sampah yang cukup besar di dalam kelas.
Hanamiya yang melihat dua anak buahnya sudah dilumpuhkan, ia melirik Kojiro dan berbicara dengan telepati. Kojiro mengangguk setelah menerima perintah Hanamiya.
"Heh~ Kalian kira kalian bisa mengalahkan kami? Jangan bercanda." Hanamiya berdiri di atas meja dan mengompori Pasukan Pelangi, sedangkan Kojiro keluar kelas untuk menjalankan misi dari Hanamiya.
"Jangan banyak bacot kau! Sini turun dan lawan aku!" Daiki membalas sambil menaiki meja yang berbeda. Jika ini adalah anime atau manga, mungkin latar yang ada saat ini adalah ombak besar diselingi petir.
Srak!
Pintu ruang kelas terbuka dan menampilkan seorang Kojiro dengan tabung yang berisi cairan berwarna ungu di dalamnya. Diduga ia mengambilnya dari lab kimia sekolah.
"Cairan ini berbahaya. Kalau jatuh akan meledak. Menyerahlah kalian." Dengan senyum sombong Hanamiya menantang Pasukan Pelangi. Yang ditantang menjadi was-was. Kalau jatuh dan meledak, mereka semua akan menjadi korban.
Pltak!
Prang!
Dengan tidak elitnya Kojiro terjatuh ke belakang karena seseorang menyentilnya dengan karet dan mengenai keningnya. Alhasil tabung yang ia pegang terjatuh dan―
KA BOOM!
Ruang kelas itu meledak dan dipenuhi dengan asap ungu.
Alarm kebakaran yang dipasang di setiap kelas berbunyi dan air yang harusnya digunakan untuk memadamkan api keluar dari pancuran. Semua anak basah kuyup dan asap ungu tersebut mulai surut perlahan-lahan.
Srak!
"APA-APAAN INI?!" Guru tampan yang menjadi wali kelas mereka membuka pintu dan berteriak dengan tidak elitnya. Wajahnya yang tampan hanya bisa memasang tampang tidak tampan ketika melihat kelas yang seharusnya ia bina kacau balau begini.
Sang guru tampan pingsan di tempat.
"SENSEI!" Teriak semua anak yang ada disana.
..
…
..
Kuroko menutup novel kedelapannya hari itu. Sekarang ia berada di perpustakaan kediaman Akashi. Biasanya kalau ia sedang bosan, ia akan membaca di perpustakaan milik Akashi yang luasnya tidak terkira itu. Bahkan ada karya literatur klasik dalam bahasa Inggris disana.
Ia bangkit berdiri dari posisi duduknya di lantai guna mencari novel lainnya, tapi sebuah suara cempreng khas telepon terdengar olehnya. Dengan berat hari Kuroko keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju ruang tengah dimana telepon sedang berdering dengan tidak sabaran.
Ketika sampai di ruang tamu, Kuroko hanya menatap telepon itu sambil berharap supaya telepon itu berhenti. Ia baru ingat ini bukan rumahnya jadi tidak mungkin ia seenaknya mengangkat telepon, 'kan?
Ketika telepon itu berhenti berdering, Kuroko menghela nafas lega. Namun belum sampai lima detik, telepon itu kembali berdering. Karena berisik Kuroko mengangkat telepon itu.
"Moshi moshi." Sapanya kepada si penelepon.
"Moshi moshi. Apa ini rumah keluarga Akashi?" Tanya si penelepon yang dapat dipastikan adalah seorang laki-laki.
"Iya, betul. Ada yang bisa dibantu?" Dengan nada monoton Kuroko membalas. Ia berharap telepon itu bukanlah telepon penting untuk Akashi sendiri karena ia tidak tahu harus membalas apa jika seperti itu.
"Apa Akashi-san ada di rumah?" Tanya pria itu lagi.
"Maaf, Akashi-san tidak ada di rumah. Ia sedang bekerja. Kalau ada pesan mungkin bisa saya sampaikan kepadanya nanti." Kuroko membalas dengan nada sopan.
"Tapi ini penting." Desak pria itu.
"Ini dari siapa? Memangnya ada apa?" Kuroko bertanya bertubi-tubi karena pria yang menjadi lawan bicaranya ini sangat bertele-tele.
"Saya kepala sekolah SD Teiko dan anak-anaknya terlibat masalah di sekolah."
Kuroko menepuk keningnya setelah mendengar kalimat itu. Baru hari pertama sekolah sudah terlibat masalah. Memangnya mereka ngapain sih?
"Masalah apa kalau saya boleh tahu?" Kuroko berusaha mengorek informasi.
"Anda sendiri siapa?" Sang kepala sekolah bertanya.
"Saya pengasuh mereka." Singkat, padat, dan jelas.
"Bisakah Anda meminta Akashi-san untuk datang ke sekolah sekarang? Ada yang inign saya bicarakan dengannya." Dengan itu sambungan telepon terputus.
Kuroko menghela nafas sambil mengurut dada. Ia mengeluarkan ponsel flip-nya kemudian segera menguhubungi nomor bosnya itu. Ia tidak tahu apa reaksi Akashi nanti.
Tut. Tut. Tut.
"Ada apa, Tetsuya?" Suara Akashi dapat terdengar jelas oleh Kuroko.
"Tadi saya menerima telepon dari kepala sekolah SD Teiko dan Beliau mengatakan bahwa anak-anak Anda terlibat masalah. Anda diminta menemuinya sekarang."
Hening.
Kuroko dapat mendengar suara Akashi yang menyuruh Mibuchi untuk menyiapkan mobil, "Kau pergi ke SD Teiko sekarang."
Dengan itu sambungannya terputus.
Kuroko kembali menghela nafas. Ia hanya bisa berdoa agar anak-anak asuhnya tidak terlibat tawuran.
..
…
..
Kuroko berlari menuju SD Teiko setelah diturunkan di halte bis dekat sana. Dengan nafas terengah-engah ia sampai di gerbang sekolah dasar tersebut. Ia juga melihat Akashi yang baru turun dari mobil sedan hitam yang biasa ia gunakan untuk pergi ke kantor. Kuroko menyapa bosnya itu dan keduanya memasuki sekolah dasar tersebut.
Guru-guru dan murid-murid disana melihat ke arah mereka ketika keduanya berjalan di koridor sekolah yang seharusnya sepi namun sekarang menjadi ramai. Lebih tepatnya semua perhatian itu ditujukan kepada Akashi sedangkan Kuroko.. paling ia dilupakan seperti biasa.
Ketika sampai di sebuah ruangan dengan papan nama kepala sekolah terletak di atas pintu, Akashi mengetuk pintu tersebut dan setelah diperbolehkan masuk keduanya memasuki ruangan tersebut. Ruangan tersebut dipenuhi dengan berbagai piala dan pigura-pigura foto menandakan bahwa Teiko merupakan sekolah yang sering menyabet gelar di berbagai lomba.
"Apakah Anda Akashi Seijuurou-san?" Tanya seorang pria di akhir empat puluh kepada Akashi. Pria itu berambut putih dan mengenakan pakaian khas guru.
"Ya." Akashi menjawab sambil menyamankan posisinya di kursi yang ada di hadapan kepala sekolah tersebut. Yang memisahkan keduanya adalah sebuah meja guru yang dipenuhi berkas yang tersusun rapi. "Jadi ada apa dengan anak-anak saya?"
Pria parubaya tersebut menelan ludah ketika merasakan aura Akashi yang meneriakan kepemimpinan yang absolute sebelum memulai sesi pertemuan orangtua murid dengan guru.
"Jadi begini," Sang kepala sekolah memulai, "anak-anak Anda terlibat perkelahian dengan teman sekelasnya."
Hening.
Tidak ada yang membuka suara sampai pada akhirnya Kuroko menunjukkan eksistensinya di ruangan tersebut, "Berkelahi bagaimana? Mereka baru berusia enam tahun." Ujarnya kalem.
Mata kepala sekolah itu membelalak ketika mendapati ada seorang pemuda duduk di samping Akashi. "Sejak kapan?"
"Dia datang bersamaku." Akashi menyela perkataan sang kepala sekolah, "Apa maksud Anda dengan perkelahian disini?"
Kepala sekolah tersebut berdehem, "Sepertinya teman-temannya memprovokasi mereka terlebih dahulu sehingga mereka terbawa suasana dan akhirnya terlibat perkelahian."
"Seberapa parah kerusakannya?" Akashi bertanya. Mengingat anak-anaknya yang telah berhasil mengusir para babysitter sebelum Kuroko dari cara normal sampai yang tidak normal. Akashi tidak yakin kata kapal pecah cocok untuk mendeskripsikan arena perkelahian anak-anaknya tersebut.
"Mereka menghancurkan properti sekolah, mengambil jangkrik dari lab biologi, dan mengambil bahan kimia berbahaya dari lab kimia yang berakhir pada meledaknya ruang kelas mereka dengan asap ungu mengepul." Kepala sekolah mendeskripsikan dengan sabar padahal aslinya ia sudah menangis di dalam hati.
Hening lagi.
Akashi tahu anak-anaknya memang kreatif, tapi sampai seperti ini? Apa pula yang melatarbelakangi terjadinya perkelahian tersebut?
Di sisi lain Kuroko hanya bisa cengo saja walaupun wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi yang berarti. Sejak awal bertemu, ia tahu anak-anak asuhnya itu hiperaktif dan ia penasaran sekarang bagaimana kondisi medan perang mereka sekarang setelah mendengar penjelasan sang kepala sekolah.
"Dan dimana anak-anak itu sekarang?" Kuroko bertanya mendahului Akashi yang hendak bertanya pertanyaan yang sama.
"Mereka masih ada di kelas mereka dengan wali kelas. Hanya tersisa mereka sekarang karena hampir semua murid sudah dijemput." Kepala sekolah tersebut memijat pelipisnya. Ia migraine mendadak.
"Kami akan menjemputnya." Akashi langsung berdiri dan berjalan menuju pintu keluar tanpa menunggu persetujuan dari kepala sekolah.
"Ah, Akashi-san.." Kepala sekolah itu sedikit terbangun dari posisi duduknya ketika melihat Akashi melenggang keluar dengan seenak jidat dari ruangannya.
"Kami akan membicarakannya dengan anak-anak. Terima kasih sudah memberitahu kami." Kuroko bangkit berdiri dan menunduk sebelum pamit undur diri dari tempat itu.
"Ah, tunggu!" Kuroko menoleh ke arah kepala sekolah tersebut, "Apa kau Ibu dari keempat anak itu?"
Kuroko menatap kepala sekolah tersebut dengan tatapan bingung. Memangnya ia terlihat seperti Ibu keempat anak itu ya?
"Bukan. Aku pengasuh mereka. Permisi." Kuroko keluar dari ruangan tersebut.
"Padahal aku kira dia istrinya Akashi-san." Kepala sekolah itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Di koridor sekolah Teiko, Kuroko akhirnya mampu mengejar bosnya itu dan memimpin jalan menuju ruang kelas Pasukan Pelangi. Ketika pintu dibuka, terlihatlah situasi yang dapat menyaingi medan tempur Perang Dunia Kedua. Barang-barang tercecer dengan bentuk yang sudah tidak dapat dikenali sedangkan di tengahnya terdapat empat orang anak berbeda warna rambut sedang duduk sambil cemberut.
"Papa/Papa-chin/Papa-cchi/Papa!" Panggil keempat anak tersebut setelah melihat sosok Papa mereka di pintu masuk kelas mereka.
Akashi yang melihat pemandangan menyerupai Perang Dunia Kedua di hadapannya mulai mengeluarkan aura setannya dan membuat keempat anaknya merinding disko. Mau anak atau bukan, kalau sudah begini mana bisa Akashi menahan kemurkaannya.
"Anda pasti Akashi-san." Sosok guru tampan yang merupakan wali kelas mereka membuka suara ketika merasakan aura tidak nyaman dari pria berambut merah darah di hadapannya dan keempat anak yang memanggilnya Papa tersebut.
"Ya." Akashi menjawab dengan nada dingin dan menusuk. Auranya masih memancarkan kemurkaan Raja Setan. Bahkan mungkin sekarang sudah ada background Raja Setan sedang murka di belakangnya.
"Himuro-san?" Suara Kuroko yang eksistensinya dilupakan selama ini terdengar dan membuat Pasukan Pelangi memasang tampang mewek minta pertolongan kepadanya.
"Kuroko-kun?" Guru tampan yang dipanggil Himuro oleh Kuroko langsung melihat ke belakang Akashi. Disana berdiri seorang pemuda yang sangat ia kenali. "Sudah lama tidak bertemu."
"Doumo." Kuroko menunduk sedikit kepada kakak dari teman baiknnya tersebut.
"Tetsuya, kau mengenalnya?" Masih dengan tatapan membunuh, Akashi melirik Kuroko yang sepertinya tidak terpengaruh sama sekali. Antara tidak terpengaruh atau sudah kebal.
"Dia adalah kakak dari teman baikku. Kami mengenal satu sama lain." Kuroko menjawab seadanya. Tidak mau bertele-tele jika Akashi sudah masuk ke dalam mode yandere.
"Kau berbicara padanya. Aku akan berbicara dengan anak-anak." Pandangannya tertuju pada empat anak laki-laki yang sudah berdoa di dalam hati supaya mereka masih bisa melihat dunia besoknya.
"Ha'i!" Kuroko berjalan menuju Himuro Tatsuya, nama lengkap guru tampan itu.
"Dan kalian.." Akashi menggantungkan kalimatnya. Pasukan Pelangi menelan ludah mereka. Selamat tinggal dunia.
Sementara Akashi berbicara dengan keempat anaknya, Kuroko dan Himuro sedang berbicara layaknya teman lama kembali bertemu.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini. Taiga memang sudah bilang kau bekerja di Kyoto, tapi tidak menyangka dunia sesempit ini." Wajah tampan milik Himuro mengulaskan senyum layaknya seorang kakak yang baik walaupun Kuroko dapat mendeteksi kelelahan disana.
"Himuro-san, sebenarnya apa yang terjadi dengan anak-anak asuhku itu?" Matanya melirik keempat anak yang sedang duduk di hadapan Ayah mereka. Mereka hampir menangis sekarang.
"Mereka bertengkar dengan teman mereka dan inilah hasil karyanya." Himuro melihat sekelilingnya, "Ketika aku mendengar cerita Taiga bagaimana nakalnya mereka ketika mengerjaimu dulu, aku benar-benar tidak menyangka kau bisa selamat dari jebakan mereka waktu itu setelah melihat ini semua."
"Percayalah padaku Himuro-san, aku juga bingung kenapa aku bisa selamat waktu itu. Malah sampai berhasil menjadi babysitter mereka." Kuroko mengatakan hal itu dengan wajah minim ekspresi khasnya.
"Kau ini memang natural dari dulu." Himuro menepuk kepala Kuroko yang disambut dengan ekpresi kesal dari si empunya kepala. "Well, tidak banyak yang bisa dibicarakan tentang mereka. Lebih tepatnya tidak tahu harus memulai darimana. Tapi yang aku tahu adalah kau harus menyelamatkan anak-anak asuhmu sekarang."
Ketika melihat ke arah yang Himuro tunjuk, ia dapat melihat Akashi hanya diam sambil menatapi anak-anaknya dengan tatapan mengintimidasi. Kuroko menghela nafas dan berjalan menuju bosnya itu.
Ini akan menjadi hari yang panjang, pikirnya.
―To Be Continued
Thanks to : SasagiiRokusai, Oranyellow-chan, Lily, Shawokey, leinalvin775, mao-tachi, IzumiTetsuya, Kuroi Kanra, Arruka Terlucky-nanodayo, sagami nanao, yolandaashari, hinamorilita-chan, RinZura, TKsit, Hikari Kyuu, Noo Na Tsu, aka. aika, aeon zealot lucifer, L, Kuroyuuki Tetsuya, Yuu, Tetsuya Ran, sapphire always for onyx, Mei Terumi, isjkmblue, Harumia Risa, tetsuya kurosaki, miss horvilshy, Akari Kareina, ichi Ten-ku, Akihiko Fujiwara, Akashi lina, Sei, thalita. claluchuchachachuke, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Hyra Z, macaroon waffle, kireimozaku, 3nd4h, ELLE HANA, Rini Desu, miyu aka, daun salak, Shimotsuki Mika, kim. ariellink, Tachibanacchi, Kurotori Rei, kuro15fe, no name, AulChan12, efi. astuti. 1, KihyunAO, Hanah-chan, Ai akina, alysaexotans, Kris hanhun, Sawada Shinji, autumngirl2309, onew, kjhwang, Yuuhi, purikazu, Yuuki Kanazawa, May Angelf, Vee Hyakuya, luviz hayate, Jasmine DaisynoYuki, Erucchin, eminchoi99, Apple-chan, Katoumichi, versetta, Guest Liwat, Reader 9's, The Greatest Archer, ShaRea, Rhyno Raimory Rain, shin-chan, adinchii, Guest, Didi822; Yang sudah follow dan fave cerita ini; Dan kamu yang lagi baca cerita ini sekarang.
Author Note :
Saya tahu saya php TAT maafkan saya /sujud/ Seharusnya di minggu kedua bulan Mei saya update. Eh malah ngaret jadi akhir bulan -_- Lain kali saya nggak mau janji lagi ah mengenai update /kapok
Btw, hari ini AkaKuro resmi nikah loh~ Fans mereka di Jepang membuatnya dan dunia sedang merayakan AkaKuro Wedding Day hari ini (30 Mei). Semoga mereka makin langgeng dan sweet. Tidak lupa fans mereka semakin banyak. Amin.
Ketika saya melihat review dari kalian semua, saya merasa bahagia dan senang sekaligus berpikir "error 404" karena jumlahnya pas 404 ._. Maklum sedang kumat karena kelelahan dan belum minum obat (baca: asupan) selama beberapa hari.. Entahlah saya sudah lupa kapan terakhir baca juga ;A;
Oke, rambling-nya banyak juga. Yang paling penting adalah kalian mereview karena setiap baca review kalian adalah bahan bakar saya :*
