Break the Ice

·

·

Naruto © Mashashi Kishimoto

·

Break the Ice

·

Genre : Romance, Hurt/Comfort

·

Disclaimer : This story is original comes from my mind

·

Rated : T

·

Sakura

·

Summary : "Jangan dekat-dekat dia nanti kau membeku" / "Sakura Haruno sudah mati" / "Brengsek!" / Sasuke, murid pindahan dari Oto tertarik pada gadis yang disebut Manusia Es yang sebangku dengannya. Sayangnya, gadis itu sudah kehilangan hatinya sejak lama

·

·


Gaara Sabaku dan Sasori Akasuna


Autumn

Sunday, November 3, 2013

Sakura's room, Haruno's Mansion

4.12 PM

Sakura sibuk memilih-milih baju yang akan dibawanya ke Karibia ketika Ayame memasuki kamarnya diikuti Tsunade. Sakura memandang Tsunade datar sebelum kembali berkutat dengan barang-barangnya. Tsunade Senju menghela nafas dan duduk di ranjang Sakura. Banyak sekali perubahan yang dirasakannya pada diri keponakan kesayangannya itu setelah kematian Mebuki.

"Kau yakin tidak akan menggunakan penerbangan yang sama denganku?" tanya Tsunade, entah sudah berapa kali wanita itu membujuk Sakura untuk ikut menaiki jet pribadi Grup Haruno.

Sakura menggeleng. "Aku tidak mau, bibi. Pastikan saja Gekko-san, Namiashi-san dan Uzuki -san tidak memperlakukan aku seperti Haruno disana" jawab Sakura.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau malu memakai nama Haruno, tapi baiklah" kata Tsunade. "Salah seorang temanku melihat pertunjukanmu beberapa hari yang lalu dan menawarkan untuk merekrutmu di agensinya".

"Aku tidak mau" jawab Sakura singkat, bingung memilih antara sweater rajut abu-abu polos atau sebuah sweater putih tipis bergaris hitam di kedua lengannya.

"Kenapa? Suaramu bagus. Sayang kalau di sia-siakan.." kata Tsunade. "..dan pilih yang warna putih. Disana panas".

"Aku tinggal di keluarga Haruno bukan untuk menjadi penyanyi, bibi".

"Baiklah, baiklah. Aku tahu" Tsunade menyerah. "Oh, sekolah patner kita kali ini adalah Sunagakure Gakkuen. Aku tahu kau akan senang dengan berita ini".

Sakura memandang Tsunade dengan tatapan tidak percaya. "Benarkah? Kalau begitu...apa Sabaku siblings akan datang?"

Tsunade mengangguk dan anggukan itu sukses membuat Sakura mengharapkan banyak hal.

School trip-Day 1

Monday, November 4, 2013

Public Parking; Bus; Plane

Konoha Gakkuen

6.15 AM

Lima buah bus eksekutif yang sejak semalam diparkir di halaman Konoha Gakkuen mulai menarik perhatian sejak pagi. Di samping bus-bus mewah itu berbaris para siswa dari tiap kelas. Beberapa siswa dari tingkat sepuluh dan dua belas berkerumun di beberapa titik, sekedar melihat—untuk Sasuke, Naruto dan beberapa siswa populer, fans mereka seperti melakukan ritual pelepasan—kepergian para siswa tingkat sebelas.

Kelas Sakura termasuk kelas yang paling terkenal mengingat semua siswanya merupakan siswa elite yang pastinya menarik banyak perhatian. Sejak pertunjukan di festival sekolah, Sakura menarik banyak perhatian dan menjadi pusat iri hati para siswi. Setiap pagi, ia menemukan beberapa surat cinta terselip di loker sepatunya atau kado-kado kecil yang pasti berakhir di tong sampah. Gadis itu sadar betul kalau kedatangan Sasuke Uchiha membawa banyak perubahan pada dirinya. Baik dan buruk.

"Baik. Aku akan membagi tempat duduk sesuai dengan absen" kata Ibiki santai. Sasuke langsung nyengir kuda mendegar penuturan guru menyeramkan itu. Pasalnya, namanya dan nama Sakura saling berendengan, membuat kesempatan mereka duduk sebangku lumayan besar. Laki-laki yang hari itu memakai sweater rajut warna abu-abu tua itu bersiul-siul senang, membuat Shikamaru yang berdiri di belakangnya agak merinding.

Bus yang digunakan Konoha Gakkuen dalam perjalanan mereka adalah bus khusus buatan perusahaan mobil Haruno di Kanada. Bus itu berkapasitas dua puluh orang dengan sepuluh pasang kursi. Di bagian belakangnya, ada sebuah pantry kecil yang menyediakan kopi dan makanan selama perjalanan. Bus ini juga dilengkapi satu toilet untuk laki-laki dan perempuan serta ruang kesehatan kecil. Selama perjalanan, asisten sopir bus akan menyetel lagu-lagu klasik agar penumpang merasa rileks dan tidak mabuk darat.

"Sakura akan duduk dengan Sasuke Uchiha" kata Ibiki. "Sekarang semuanya bisa naik!"

Sasuke menoleh ke berbagai arah, mencari Sakura ketika gadis itu ternyata ada di depannya. Gadis itu tampak cuek dengan pakaian casual ada perubahan berarti dari air muka Sakura setelah mendengar pemberitahuan Ibiki, membuat Sasuke sedikit kecewa.

Bus mulai berjalan ketika Sakura memasang headset di telinganya, memutar lagu-lagu hiphop yang mulai menulikan pendengarannya. Gadis itu sama sekali tidak peduli pada fakta bahwa Sasuke duduk di sampingnya. Meski begitu, Sakura menyadari kalau Sasuke terus saja membuat gerakan-gerakan tidak berarti selama perjalanan. Perlu waktu satu jam untuk sampai di bandara dan sembilan jam perjalanan menggunakan pesawat hingga mereka sampai di Karibia.

"Apa ada yang bisa ku bantu?" tanya salah seorang pelayan di bus.

"Segelas espresso" kata Sakura sebelum kembali memandangi jalanan.

"Bagaimana dengan anda, Tuan?" tanya pelayan itu lagi, kali ini pada Sasuke.

"Sama" jawab Sasuke singkat. Pelayan itu mengangguk mengerti sebelum berjalan ke pastry.

Sasuke melirik Sakura yang masih membuang muka ke arah jendela. Ia menghela nafas, membuang rasa gugup yang mendadak menyerangnya, membuat perutnya terasa mulas. Sejak peristiwa penculikan Sakura tempo hari—dimana Sasuke mendadak memanggulnya pergi karena mendengar percakapan teman sekelas mereka—Sakura tampak mengabaikan Sasuke lebih dibanding sebelumnya. Hal ini mau tidak mau membuat Sasuke makin frustasi.

"Sakura..." panggil Sasuke pelan, gugup.

"..."

"Kau masih marah?" tanya Sasuke.

"..."

"Hei..."

Sakura menoleh, memandangi Sasuke dengan death glare terseramnya yang ternyata tidak berefek apa-apa pada Sasuke.

"Dengar, Uchiha, bisakah kau bersikap seolah kita tidak saling mengenal, huh?"

"Kenapa aku harus melakukan itu?"

"Karena aku tidak menyukaimu"

"Aku tidak memintamu menyukaiku"

"Tapi semua tingkah lakumu membuatku muak!" bentak Sakura, tidak peduli pada pandangan teman-teman sekelasnya. "Bersikaplah seolah kau dan aku tidak pernah saling bicara atau mengenal. Aku punya banyak hal yang harus dilakukan dibanding menanggapi kegilaanmu!"

"Aku tidak mengerti..."

"Hah?"

"Aku tidak mengerti! Kau menolakku, lalu kau menghindar dariku. Adakah hal yang salah dari menyukaimu? Towa Asakura juga menyukaimu, Rock Lee juga menyukaimu, Hayato Kuroda juga menyukaimu tapi kau tidak menghidar dari mereka seperti aku!"

Sakura memutuskan bungkam, bicara lebih lanjut akan membuatnya lepas kendali. Gadis itu menerima espresso yang dipesannya dengan cepat sebelum kembali melanjutkan kegiatan berdiam dirinya. Sasuke meremas rambutnya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya dan membiarkan espressonya mendingin tanpa berniat meminumnya.

Siapa sangka ternyata tempat duduk di pesawat juga diatur hingga Sakura harus terjebak bersama Sasuke selama sembilan jam ke depan. Beruntung mereka memiliki Naruto Namikaze di Konoha sehingga ayahnya, Minato Namikaze bersedia mensponsori kegiatan ini dengan menyediakan sebuah pesawat high class kebanggaan maskapai Namikaze.

Sakura menyamankan dirinya di kursi pesawat sambil membaca sebuah novel yang perlahan-lahan membuatnya mengantuk. Sebelum sempat mengatur posisi kursinya, Sakura jatuh tertidur dengan kepala menggantung tidak nyaman. Hal ini membuat Sasuke—yang sejak tadi curi-curi pandang padanya—merasa kikuk, bingung pada apa yang harus seorang laki-laki gantleman lakukan pada saat seperti ini. Beruntung, Mikoto Uchiha adalah penggemar drama cengeng. Jadi, meski malu mengakui ini, Sasuke akan mengikuti adegan di drama—sekali ini saja.

Dengan canggung, tangannya meraih sisi wajah Sakura dan memposisikan agar kepala gadis itu bersandar di bahunya yang lebar. Sasuke sudah mempertimbangkan banyak hal, seperti apakah ia cukup kurus hingga Sakura bisa merasa sakit bersandar pada bahunya dengan tulang yang menonjol. Laki-laki itu juga mulai menilai bau badannya sendiri. Sakura tidak akan terganggu, kan? Lagipula Sasuke bukan tipe laki-laki berbau tidak enak—cenderung wangi musk.

"Kulihat kau menikmati ini, Sasuke" ujar Shikamaru yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Laki-laki itu memang duduk di depannya, dan kaleng soda di tangan Shikamaru menjelaskan kenapa dia tiba-tiba muncul di samping Sasuke seperti hantu.

"Hn," jawab Sasuke datar. Meski begitu, ekspresinya menunjukkan kalau ia benar-benar menikmati keadaan ini.

Dari jarak sedekat ini, Sasuke bisa mencium wangi shampo Sakura dengan jelas. Wangi cherry, cocok dengan image Sakura di matanya. Wajah tertidur gadis itu juga tampak lucu. Seolah membuat Sasuke tidak percaya kalau Sakura—yang selalu berwajah datar dan dingin—bisa membuat wajah setenang itu.

Dalam tidurnya, Sakura bermimpi kalau ia berada dalam sebuah ruang yang gelap dan pengap. Ia terus menunduk tanpa berani melihat sekitarnya. Entah kenapa, ia merasa takut dan kedinginan. Rasanya seperti terjebak dalam sebuah kotak pendingin. Sakura menggigil, tubuhnya tidak mau berhenti bergetar, membuat ia bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya.

Sasuke memandang Sakura yang tampak tidak nyaman. Gadis itu memegang lengan Sasuke dengan tangannya yang gemetar seolah mencari kekuatan. Keningnya berkerut dan ia terus bergumam, mau tidak mau membuat Sasuke cemas. Secara refleks, Uchiha muda itu mengalungkan tangannya di sekeliling bahu Sakura dan menepuk kepala gadis itu seolah menenangkannya. Di dalam mimpinya, Sakura tiba-tiba merasa hangat. Rasanya seperti dipeluk. Setelah dipeluk Sasuke, Sakura mulai berhenti bergumam dan tenggelam dalam tidur yang lebih nyenyak.

Ah, Sasuke—yang biasanya selalu berpikir logis—berharap waktu berhenti sebentar saja.

Tepat lima belas menit sebelum pesawat mereka landing, Sakura terbangun. Bangunnya Sakura secara tiba-tiba membuat Sasuke dengan cepat menarik lengannya yang tadi dipakainya memeluk Sakura. Ia menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal hanya untuk menghilangkan kegugupan. Sakura menggeliat, ia tidur terlalu nyenyak sampai lupa waktu.

Di kursi yang lain, Karin sedang berusaha mati-matian menahan gejolak untuk menusukkan pisau steaknya ke perut Sakura. Ia tak bisa berhenti menggertakkan gigi, membuat teman sebangkunya mendadak merinding.

Sakura Haruno...tunggu tanggal mainnya! Batinnya kesal.

Sunday, November 3, 2013

Private Airport

Haruno Group's Private Island

4.00 PM

Pulau pribadi keluarga Haruno adalah sebuah pulau kecil indah yang berada di tengah lautan di kepulauan Karibia. Perbedaan waktu antara pulau ini dengan Konoha bisa mencapai 14 jam. Oleh karena itu, ketika mereka sampai, di pulau itu masih hari minggu. Banyak yang mengalami jetlag karena hal ini.

Pulau itu dijaga dengan penjagaan ketat dan dirawat oleh pengelola terpercaya Grup Haruno. Pulau ini secara alami berada diluar batas negara manapun dan dibeli secara resmi oleh keluarga Haruno.

Pulau pribadi itu dilengkapi dengan mata air panas alami, sungai kecil yang bermuara langsung ke pantai dan hutan luas yang dirawat oleh pegawai Haruno Grup. Terdapat sebuah landasan pesawat di sisi kanan pulau berbentuk hampir bulat itu. Haruno Grup sepertinya merogoh kocek cukup dalam untuk mendapatkan pulau ini. Pulau yang diberi nama Haruno's Heaven itu memiliki sebuah jalan utama yang menghubungkan antara landasan pesawat dengan villa milik keluarga Haruno.

"Kudengar Haruno Grup membeli pulau ini seharga lima ratus juta yen," celetuk seorang laki-laki yang berjalan di depan Sasuke.

"Dengan kedudukan keluarga Haruno sekarang, sih, aku tidak heran" timpal teman laki-laki tadi. "Omong-omong, kau lihat tidak, Si Sakura itu" sekarang dia menunjuk Sakura yang berjalan santai dengan headset di telinganya.

"Iya, kenapa?" tanya yang bicara pertama kali tadi.

"Dia benar-benar cantik kalau pakai baju casual begitu, ya?"

Mata Sasuke melebar, percampuran antara marah, kaget, kesal dan berbagai emosi lain yang tidak biasanya hinggap padanya. Dengan cepat, ia menoleh ke arah yang tadi diperhatikan oleh kedua laki-laki (yang di mata Sasuke tampak seperti pervert karena menilai penampilan seorang wanita—dan parahnya lagi wanita yang mereka nilai adalah Sakura) itu. Sakura memang tampak cantik hari ini—dia selalu cantik setiap saat, sebenarnya. Rambut Sakura hari ini ditutupi topi sport warna putih yang memperkuat kesan cueknya. Gadis itu sebenarnya hanya memakai atasan warna peach tidak berlengan yang mirip blouse dan jeans putih panjang yang sobek di bagian lutut serta sepatu converse putih. Entah kenapa, bagi Sasuke, kesan cuek yang dipancarkan Sakura justru menjadi daya tarik terkuat gadis itu.

Perlu waktu lima belas menit untuk sampai di villa dimana mereka akan menginap. Beberapa mini bus menjemput siswa Konoha Gakkuen sementara barang-barang mereka di mobil angkut lain. Ketika pertama kali melihatnya, Sasuke merasa takjub melihat bangunan di depannya. Well, harus ia akui kalau keputusan Haruno Grup untuk menunjuk Hidan Aburame—seorang arsitek terkenal—untuk merancang bangunan ini sangatlah tepat.

Villa keluarga Haruno—lebih tampak seperti sebuah kastil—adalah sebuah bangunan berbentuk 'Z' dengan halaman belakang yang luas dan beralaskan rumput hijau yang dipangkas rapi dan tanaman hias disekelilingnya. Setelah melewati gerbang utama, Sasuke dikejutkan dengan lantai marmer putih yang berfungsi sebagai lapangan parkir mini bus mereka. Bangunan itu sendiri terbagi menjadi tiga bagian. Bangunan utama adalah bangunan terbesar dari bangunan lain dan berfungsi sebagai pusat kegiatan mereka. Dua bangunan lain akan digunakan sebagai tempat menginap.

"Baiklah, setelah ini kalian boleh melihat annoucement board di main building dan mengecek di kamar mana kalian ditempatkan. Setelah itu, silahkan bereskan barang-barang kalian dan berkumpul di ball room. Jangan lupa untuk memakai seragam kalian karena opening ceremony akan dimulai!" jelas seorang guru berambut coklat tua panjang bermata tajam.

"Baik, Kurenai-sensei" jawab para murid ogah-ogahan.

Rombongan siswa itu kemudian bergerak dalam sebuah formasi padat menuju main building. Sakura memandang lekat-lekat bangunan itu, mencoba meresapi kerinduannya pada tempat bersejarah bagi keluarganya. Saat ia masih kecil dulu, ayah dan ibunya sering membawanya ke tempat ini setiap liburan musim panas. Biasanya, keluarga Tsunade juga ikut berlibur bersama mereka, jadi Sakura sering bermain dengan Nawaki, anak Tsunade.

Sakura masih ingat struktur bangunan villa itu meski ia sudah lama sekali tidak mengunjungi pulau ini. Ada lima puluh delapan kamar kosong disini, satu music room, satu dinning room, sebuah bangunan kecil di sayap kanan bangunan yang berfungsi sebagai staff room dan dapur, sebuah library, kolam renang besar di kanan bangunan dan ball room di lantai bawah main building yang mampu menampung lima ratus orang. Sakura mendesah, ia ingat dulu ayahnya membangun villa ingin juga agar bangunan ini bisa berfungsi sebagai tempat pesta.

"Lihat, Sakura -san, kita sekamar!" seru Hinata sambil menunjuk board.

Sakura ikut membaca pengumuman di board tepat di tempat yang Hinata tunjuk dan menemukan namanya. Mereka ada di kamar 4, kalau tidak salah itu di main building, di lantai dua. Sakura mengangguk-angguk yakin. Sementara itu, matanya sibuk membaca dua nama lain yang akan ada di kamar yang sama dengan mereka. Matsuri Uemi dan...Te—

"Lama tidak jumpa, Sakura" sapa seorang gadis yang tiba-tiba menepuk pundaknya. Sakura menoleh, menemukan seorang gadis berambut kuning berkuncir empat berdiri di belakangnya.

"Temari!" seru Sakura, tidak sadar kalau suaranya membuat orang-orang di sekitarnya menoleh, termasuk Sasuke. Wajah Sakura masih saja datar meski matanya agak melebar, menandakan ia kaget dan bahagia, menemukan sahabat Suna-nya hadir disini.

"Firasat Gaara ternyata benar, ya" gumam gadis bernama Temari tadi sambil tersenyum.

"Gaara juga disini?" tanya Sakura. Tampaknya kedua orang itu mulai melupakan keberadaan orang lain di sekitar mereka. Sakura menunduk, menggigit bibirnya mendengar nama Gaara. Ada urusan yang belum selesai diantara mereka berdua dan Sakura tak tahu harus menghadap laki-laki itu dengan wajah seperti apa.

Temari mengangkat bahunya, "Tentu saja, Kankurou juga" jawab Temari.

Sakura mengangguk, "Aa" gumamnya menimpali.

"Kenapa tidak ke kamar sekarang nona Ha—" Temari belum sempat melanjutkan kata-katanya karena Sakura langsung menutup mulut Temari dengan kedua tangannya. Gadis berkuncir itu menaikkan satu alisnya seolah mencari penjelasan.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya sambil memperhatikan kepergian Sakura, Hinata dan gadis berambut pirang tadi. Pertanyaan-pertanyaan tentang siapa gadis itu berputar-putar di kepalanya seperti gasing. Membuatnya pusing. Berusaha tak mau terlalu memikirkan itu, Sasuke memandang annoucement board lagi dan mengecek kamarnya.

Gaara Sabaku dan Kankurou Sabaku? Batinnya, melihat nama-nama teman sekamarnya.

Sasuke berusaha tak mau ambil pusing dan segera membawa barang-barangnya ke kamar 25.

Free time

Room 4

Main building, 2nd Floor

Haruno's Private Villa, Haruno's Heaven

Sakura dan Temari duduk di kamar mereka sementara Matsuri belum datang dan Hinata sedang mandi. Putri Hyuuga itu memang gemar mandi. Temari mengangguk mengerti setelah Sakura menjelaskan kalau ia merahasiakan keluarganya di akademi Konoha.

"Well, aku tidak akan bertanya padamu kenapa kau merahasiakan nama keluargamu karena kau pasti punya alasan sendiri" kata Temari bijak. Sakura menghela nafas lega. Temari dan kedua adiknya, Kankurou dan Gaara adalah teman dekat Sakura saat mereka masih kecil dan sama-sama tinggal di Suna. Untuk mengurusi cabang perusahaannya, Kizashi Haruno kerap berpindah kota. Saat Sakura berumur sebelas tahun, mereka menetap di Suna selama tiga tahun untuk mengurusi Departement Store yang baru di bangun. Mebuki, ibu Sakura, juga menjadi kepala rumah sakit selama beberapa waktu di sana.

"Setidaknya ayo kita bertemu Gaara dan Kankurou. Mereka pasti merindukanmu. Kau, sih, tahu-tahu pindah dua tahun lalu" gerutu Temari agak kesal. Sakura tersenyum tipis sambil mengangguk. Meski ragu, gadis itu ingin bertemu sahabat-sahabat lamanya. Sekedar melepas rindu. Urusan dengan Gaara, biar nanti dia selesaikan. Masih banyak waktu bagi mereka disini, pikirnya.

"Apa Sasori-kun datang kesini?" tanya Sakura. Gadis itu rupanya juga mengharapkan kehadiran satu lagi teman lamanya.

Temari mengangguk. "Kudengar dia jadi perwakilan dewan alumni tahun ini" jawab Temari.

Sasori Akasuna adalah orang yang sudah dianggap Sakura seperti kakaknya sendiri. Laki-laki yang sekarang kuliah di Nanyang Academy of Fine Arts atau NAFA di Departemen Seni Rupa ini sekarang juga bekerja menjadi seorang pemahat patung. Bulan lalu, pameran kelimanya berhasil menggaet penghargaan sebagai pameran patung terbaik tahun ini. Dia juga yang mengajari Kankurou Sabaku, adik Temari, cara memahat patung.

Temari memandang Sakura yang tampak bahagia meski wajahnya datar-datar saja. Gadis itu banyak menerima kabar Sakura dari Ino Yamanaka, salah satu sahabat Sakura yang juga cukup dekat dengannya—mengingat keluarga mereka ternyata kolega. Temari tahu kalau masih banyak hal yang disembunyikan Sakura dan Ino adalah kuncinya, tapi ia tidak ingin memaksa mereka menjelaskan apapun. Yah, ia tidak mau mencampuri urusan orang lain yang tidak seharusnya ia campuri.

Opening Ceremony

Ball Room Haruno's Private Villa

Haruno's Heaven

Setelah Hinata selesai mandi, Sakura, Hinata dan Temari segera bergegas menuju ball room yang berada tepat di bawah kamar mereka. Seragam musim panas sudah menempel di tubuh mereka. Ball room itu disulap menjadi tempat upacara pembukaan school trip. Sekali lagi, siswa Konoha dan Sunagakure Gakkuen dibuat takjub oleh tata ruangan villa ini. Karpet beludru merah bercorak emas, lampu keemasan yang menggantung di empat sisi langit-langit dan meja-meja undangan membuat kesan mewah dari Haruno's Heaven terasa kental. Tiap meja berisi lima kursi yang masing-masing dibalut kain putih berhiaskan pita emas.

Keluarga Haruno memang tidak main-main tampaknya!

Sakura dan Hinata ditarik Temari ke arah kursi Gaara dan Kankurou tepat di tengah ruangan. Kedua Sabaku muda itu tampak tidak terkejut pada kedatangan Sakura karena mereka memang sudah tahu kalau Sakura sekolah di Konoha Gakkuen. Hinata sendiri kebingungan karena dia berada di meja yang sama bersama tiga orang asing yang tidak dikenalinya.

Gaara memandang Sakura dengan tatapan datar tapi hangat miliknya, membuat gadis itu sedikit salah tingkah. Kilasan-kilasan masa lalu tiba-tiba datang ke memori mereka berdua. Canggung, itulah yang mereka rasakan, meski mereka sama-sama berusaha menyembunyikannya.

"Wah! Sakura! Kau makin cantik saja!" komentar Kankurou sambil menepuk pelan kepala Sakura. Wajahnya yang tampak bersih dari tattoo garis miliknya membuat Sakura nyaris tidak percaya kalau dia adalah Kankurou Sabaku.

"Jangan seenaknya pegang kepala orang" komentar Gaara sambil menyingkirkan tangan Kankurou dari kepala Sakura. Sakura diam menunduk, membiarkan Gaara menyingkirkan tangan kakak laki-lakinya dari kepala Sakura. Kelima orang itu kemudian duduk melingkar dengan posisi Sakura diapit Hinata dan Gaara.

"Oh, kenalkan, ini Hinata Hyuuga" kata Temari. "Hyuuga-san, itu yang tidak punya alis, namanya Gaara. Dan yang ini namanya Kankurou" Temari menunjuk Gaara dan Kankurou bergantian.

"Mereka berdua adik Temari" kata Sakura.

Hinata menundukkan kepalanya tanda hormat. "A-aku Hi-Hina-Hinata Hyu-Hyuuga" gagap Hinata. Kebiasaannya kambuh kalau berhadapan dengan orang asing.

"Salam kenal" sapa Gaara dan Kankurou nyaris bersamaan.

Di sisi yang lain, bersebrangan dengan kursi Sakura, duduk Sasuke, Naruto, Sai, Shikamaru dan seorang laki-laki bertubuh gempal bernama Chouji Akimichi—sahabat Shikamaru. Mata Sasuke menatap Sakura tajam seperti seekor elang sedang mengintai mangsa. Ia tiba-tiba geram sekali melihat siswa Sunagakure yang tidak dikenalnya—tapi tampaknya dikenal Sakura—memegang kepala gadis itu seenaknya.

Sasuke saja belum pernah!

Ehm!

"Kalau kau memandanginya terus begitu nanti dia menoleh, lho" celetuk Shikamaru pelan tapi cukup untuk didengar Sasuke yang duduk di sampingnya.

"Kenapa, Shika?" tanya Naruto dengan segelas lemonade di tangannya.

"Hanya bicara sendiri" jawab Shikamaru asal, padahal ia bicara pada Sasuke.

Sasuke berdecih pelan meski pada akhirnya ia berhenti memandangi Sakura. Shikamaru ada benarnya juga, tapi Sasuke penasaran—sedikit (read: sampai mati)—tentang siapa laki-laki yang seenaknya menyentuh Sakura tadi.

Opening ceremony berjalan dengan lancar. Kizashi Haruno selaku sponsor terbesar acara ini tidak bisa hadir dan tampaknya—sejauh yang Sasuke perhatikan—Sakura tidak peduli. Gadis itu tampak hanyut dalam obrolan santai bersama siswa Sunagakure bertato 'Ai' di dahi. Cih, norak sekali. Dia itu haus kasih sayang atau bagaimana?

Sasuke memandang podium acara dimana para undangan duduk berjejer. Matanya behenti pada seorang pria berjas abu-abu yang sedang mengobrol dengan pria berambut merah di sampingnya. Itachi Uchiha. Sebelumnya, anikinya itu sudah memberitahu Sasuke kalau dirinya diundang menjadi perwakilan alumni untuk Konoha Gakkuen bersama keempat temannya.

"Baiklah, setelah ini para siswa diharapkan tetap di ruangan untuk mendengarkan pengumuman kelompok school trip" kata guru berkuncir, Iruka.

Sambil menunggu pengumuman, Sakura menyandarkan tubuhnya di kursi ketika seorang pria tiba-tiba berdiri di sampingnya. Pria itu mungkin sepuluh senti lebih tinggi dibanding Sakura. Pria itu memakai kemeja putih panjang yang digulung sampai siku dengan rompi hitam dan jeans hitam. Rambut merahnya—sejauh yang Sakura ingat—memang acak-acakan dan sedikit lusuh.

"Sasori-nii!" seru Sakura kegirangan, memeluk laki-laki itu secara spontan.

Beberapa mata di sekitar langsung menoleh ke arah datangnya suara, termasuk Sasuke. Mata Uchiha muda itu membelalak kaget dan dadanya bergemuruh ketika melihat Sakura berpelukan dengan pria yang tadi mengobrol dengan anikinya. Bisik-bisik mulai terdengar, tentang bagaimana Sakura bisa mengenal—bahkan tampak sangat dekat—dengan laki-laki tampan yang duduk di bangku dewan alumni tadi.

"Ah, lama sekali tidak bertemu, ya?" kata Sasori sambil tersenyum manis. Tangannya ia gunakan untuk mengusap pelan kepala Sakura, berusaha menunjukkan kasih sayangnya lewat sentuhan. Sakura mengangguk, masih dalam posisi memeluk Sasori.

"Kau sedang libur?" tanya Gaara yang masih duduk di kursinya. Meski tampak terganggu, Gaara berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya mengingat Sasori sudah dianggap Sakura seperti Aniki-nya sendiri.

Sasori mengangguk. "Sabaku siblings ada disini juga, ternyata" kekehnya.

Sakura perlahan melepas pelukannya. "Kau jahat sekali tidak mengabariku" ketusnya.

"Aku kan mau memberi kalian surprise" kilah Sasori.

Surprisenya gagal. Batin Sabaku siblings.

Sasuke masih duduk di kursinya, kali ini tatapan tajamnya ia arahkan pada pria yang tadi dipeluk Sakura yang sekarang duduk di kursi mereka setelah Hinata mohon diri. Gadis indigo itu tampak menghampiri Ino yang sejak tadi memberi isyarat padanya untuk mendekat. Tatapan tajam Sasuke berubah dari tatapan ingin tahu—yang dilemparkannya ke Sakura—menjadi tatapan haus darah—ke arah Sasori.

"Oi, Teme, Sakura kelihatannya dekat sekali dengan mereka, ya?" tanya Naruto.

"..." Sasuke masih fokus memandangi Sasori. Jika tatapan adalah pisau, maka Sasori pasti sudah mati dengan ratusan pisau tertancap di tubuhnya.

Sai, Choji dan Shikamaru yang mendengar pertanyaan Naruto jadi menoleh ke arah meja Sakura. Bukan hanya mereka, beberapa siswa juga memandangi meja Sakura dengan tatapan ingin tahu dan iri. Iri karena entah kenapa gadis tidak bersahabat seperti Sakura bisa menarik banyak laki-laki tampan. Sasuke, laki-laki bertato 'Ai' dari Suna dan sekarang salah seorang dewan alumni.

"Iya, Sasuke. Tadi saja pandang-pandangan dengan orang ber-tattoo itu. Sekarang pelukan dengan dewan alumni" komentar Choji sambil tetap memakan keripik kentangnya.

Shikamaru yang sebenarnya tidak tertarik dengan kegiatan memandang-meja-sebelah yang sudah sejak tadi ditekuni Sasuke, ikut menoleh juga. Pandangannya terkunci pada gadis berkuncir empat yang sebenarnya tidak dikenalinya. Gadis itu seperti memiliki magnet yang membuat Shikamaru Nara betah berlama-lama memandanginya. Setelah beberapa menit mengamati gadis itu, Shikamaru mengalihkan pandangannya pada laki-laki dewasa berambut merah yang tadi 'katanya'—karena Shikamaru tidak memperhatikan sama sekali—dipeluk Sakura.

"Ah, itu Sasori Akasuna" celetuk Sai tiba-tiba.

Empat kepala lantas langsung menoleh pada pemuda pucat itu.

"Sasori Akasuna? Rasanya aku pernah mendengar namanya.." gumam Naruto, menaruh jarinya di dagu tanda ia sedang berpikir.

"Dia itu pemahat patung yang sekarang disebut-sebut paling terkenal di Jepang" kata Shikamaru menjawab pertanyaan di kepala teman-temannya. "Bulan lalu, pameran patungnya di China dikunjungi dua juta orang dalam seminggu".

Sasuke menelan ludahnya, begitu juga dengan ketiga temannya yang lain. Tidak bisa dipungkiri, Sasori Akasuna adalah tipe laki-laki ideal. Tampan—dengan wajah baby face, kaya dan berbakat. Dibandingkan dengan anak high school seperti mereka, sih, jauh. Benar-benar bukan jenis laki-laki yang kau inginkan untuk jadi rival-mu.

Kan, Sasuke?

"Lalu yang rambutnya merah dan ber-tattoo itu?" tanya Choji.

"Ah, itu, sih Gaara" celetuk Naruto. "Putra dari Nagato Sabaku yang katanya akan melanjutkan posisi ayahnya sebagai pemimpin Suna".

Naruto menoleh ke arah Sasuke. "Bukannya kau sekamar dengan mereka, Sasuke?"

Sasuke mengangguk. "Tapi dia tadi tidak kelihatan di kamar" jawab Sasuke.

Naruto hanya ber'oh' ria menanggapi Sasuke.

"Oh, anak yang dipuji-puji sewaktu pertemuan pemimpin daerah itu, ya?" tanya Shikamaru yang dibalas anggukan Naruto. Tentu saja Naruto tahu, mengingat ayahnya pernah menjabat sebagai pemimpin sementara Konoha.

"Tampaknya kau harus berusaha lebih keras lagi, Sasuke" kata Sai diiringi senyum palsunya.

"Iya, Teme. Mereka tampan, yah meski masih tampanan aku, sih" timpal Naruto. "Kaya, berbakat, dan poin plus-plusnya adalah...mereka akrab dengan Sakura".

Sasuke menelan ludahnya lagi. Ia ingin sekali merobek mulut Naruto dan Sai sekarang juga, tapi yang mereka katakan memang benar. Sebagai pewaris perusahaan Uchiha—karena Itachi memilih jadi dokter—Sasuke memang lebih kaya dibanding Sasori. Tapi untuk saat ini, ia bukan siapa-siapa. Kekayaannya adalah hasil keringat orangtuanya, bukan dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya, Sasuke Uchiha merasa...ia tak memiliki apapun.

Di meja lainnya, lima meja dari Sasuke, gadis berambut scarlet memandangi Sasuke dengan tatapan tak bisa ditebak. Antara marah, kesal dan sedih. Ia sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Sasuke tanpa berniat melewatkan gerakan sekecil apapun yang dilakukan laki-laki itu. Karin tahu dengan jelas kalau Sasuke sejak tadi memperhatikan Sakura dan itu membuatnya kesal sekali. Tapi bukan saatnya memberi Sakura peringatan di tengah keramaian begini. Apalagi Tsunade Senju, bibi Sakura sedang duduk di panggung, menyaksikan acara pembukaan.

Setelah lama ditunggu-tunggu, seorang wanita berambut lavender berdiri di podium sambil memegang lembaran kertas. Anko Mitarashi, guru Fisika, mulai mengarahkan mikrofon ke mulutnya dan membacakan nama-nama siswa yang terbagi ke dalam dua puluh lima kelompok. Satu kelompok terdiri dari empat laki-laki dan 4 perempuan yang masing-masing diambil dari tiap sekolah,

"Kelompok 14 diisi oleh Sakura, Sasuke Uchiha, Hinata Hyuuga, Shikamaru Nara, Temari Sabaku, Gaara Sabaku, Matsuri Uemi dan Kankurou Sabaku" jelas Anko.

Sakura menoleh ke arah Sabaku siblings dan menemukan laki-laki bernama Gaara tadi tersenyum ke arah Sakura, membuat Sasuke yang sejak tadi memperhatikan gadis merah muda itu mencak-mencak sendiri. Sementara itu, Shikamaru menarik sudut-sudut bibirnya membentuk seringaian kecil sambil mengamati Temari. It will be very interesting, pikirnya.

Di sisi lain, Ino Yamanaka dan Hinata Hyuuga terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing di meja yang terletak agak jauh dari meja Sakura. Ino memandang Sakura dengan tatapan teduh, lega karena sahabatnya itu tampaknya masih terbuka pada Sabaku siblings yang merupakan teman lama mereka. Sementara Hinata, tatapannya terkunci pada Namikaze muda yang saat ini sedang sibuk memakan cake yang tersaji di meja si kuning itu.

"Kelompok 18, Ino Yamanaka, Shion Sakakibara, Naruto Uzumaki, Kiba Inuzuka, Ai Kirishima, Tarumi Ouji, Ken Shinjuu, Mei Kisaki" kata Anko, mengumumkan kelompok Ino.

Naruto membelalakkan matanya tidak percaya. Laki-laki itu berharap ada yang salah dengan pendengarannya, sehingga fakta kalau ia sekelompok dengan nenek sihir (read: Shion) itu tidak benar. Selain Naruto, Hinata juga kaget. Gadis itu memandang Naruto dengan tatapan sayu lalu berganti melirik Shion yang mengembangkan senyum bahagia. Hinata mendesah pasrah, tidak ada gunanya selalu melirik laki-laki itu sekarang. Shion bisa saja berbuat hal-hal yang tidak baik padanya. Hinata bersyukur kalau ia sekelompok dengan Sakura sekarang ini.

"Rasakan, Dobe" gelak Sasuke, menahan tawa. Semua orang bisa menilai kalau Naruto tidak puas dengan hasil pembagian kelompok ini ketika melihat wajah pucatnya. "Nilai plusnya, setidaknya ada Kiba dan si Yamanaka di kelompokmu".

Pemuda berambut blonde itu menghela nafas pasrah. School tripnya akan berubah jadi neraka. Setidaknya itu yang ia pikirkan.


to be continued..


Hello guys! long time no see :)

Maaf atas update yang sangat sangat sangat sangat terlambat. Sejujurnya aku baru mulai nulis lagi setelah melalui semester 3 yang sumpah-berat-banget-gak-bohong. Aku mau berterima kasih untuk yang sudah ngirimin inbox dan mengingatkan aku hehe. Maafkan untuk typo-typonya. Dan sebagai penebus kesalahan aku, hari ini aku akan update 2 CHAPTER SEKALIGUS. Seneng gak? Hahahaha.

Balasan review akan aku berikan di chapter selanjutnya ya. Terima kasih sudah membaca! :)

Lots of love,

Heeimadictator