Ansatsu Kyoushitsu by Yusei Matsui sensei

Decision ( After time) by: Amaya Kuruta

Mengandung kehororan, keOOc-an yang nyata. Diharapkan membawa obat sesak nafas saat membaca.

Selamat menikmati ^^/

Chapter 10

" Huaaaaah… tidak kusangka rasanya akan seperti ini!" Keluh Okajima.

" Kukira kau fotografer terkenal sekarang." Ledek Maehara. Okajima melirik Maehara kesal.

" Itu tidak ada hubungannya dengan mengelilingi gunung ini, Maehara!" Muramatsu tertawa.

" Tapi menjadi fotografer itu berarti kau akan berlari kesana kemari mencari sudut yang tepat bukan?" Tanya Yoshida. Okajima hanya menggerutu pelan. Disudut lainnya, para wanita nampak sibuk bercerita. Entah bergosip atau hanya cerita biasa. Yang pasti saat itu mereka nampak semangat mendengarkan kisah Bitch senseinya.

" Hei, aku tak melihat Nagisa." Celetuk isogai. Disebelahnya, Maehara dan beberapa orang menoleh mencari sosok biru itu.

" Kau benar. Sejak dia mempertontonkan keahliannya membersihkan perabotan makan dengan tentakelnya, dia tak terlihat." Jawab Sugino.

" Tapi kau tau, aku berfikir, Nagisa akan jadi istri yang ideal! Bayangkan dia sangat terampil memasak dan membersihkan segala sesuatu sekarang!" Seru Maehara semangat.

" Hmm.. sepertinya aku harus memberitahu Hinata kalau kau berniat menikahi Nagisa." Isogai memasang kuda-kuda untuk bengkit dari tidurnya. Maehara dengan segera menahannya.

" Kau bisa membuatku terbunuh, Isogai!" Keluhnya. Para pemuda itu lantas tertawa geli. Nagisa memang menjadi topic yang cukup menarik untuk dibahas.

" Minna.." Suara renyah itu membuat semua kepala diruangan itu menolah. Lihat, yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan tengah berdiri diambang pintu sambil membawa sebuah gulungan, kabel, ditangannya. Isogai dan Kataoka – yang untungnya masih saja sigap seperti dulu- segera membantu Nagisa membawa barang-barang itu.

" Gezz.. harusnya kalian bisa sesigap mereka berdua." Gumam Bitch sensei.

" Mereka hanya terlahir seperti itu, Bitch sensei. Lagipula Nagisa bisa menggunakan tentakelnya. Iya kan?" Tanya Sugaya. Nagisa tersenyum kecil.

" Kau benar, Sugaya. Tapi sayangnya aku harus mengistirahatkan tentakelku dulu setelah berburu tadi." Jawabnya.

" Hee? Tentakel juga butuh istirahat?" Tanya Mimura. Nagisa hanya mengangguk.

" Tentu saja butuh. Karena tentakel bisa dibilang bukan bagian dari tubuhmu. Dia bisa marah kalau kau memaksanya bekerja." Jawab Itona datar. Nagisa mengangkat alisnya. Ia lupa dengan Itona yang pernah memiliki tentakel.

" Tapi Koro sensei sepertinya tak pernah lelah. Kecuali jika dia diserang dengan kecepatan yang sama dengannya sih." Koreksi Fuwa.

" Tidak.. tentu saja tidak, Fuwa-san." Kali ini Kayano menjawab. " Koro sensei tak akan kelelahan karena tentakel itu sudah menyatu dengan tubuhnya. Kalau kita ingin menggunakan tentakel sesuka hati, maka kita harus menerima resikonya."

" Resiko?"

" Um. Menukar tubuh kita ke bentuk yang lain." Jawab Itona.

" Nurufufufu~ kalian semakin berfikir kritis sekarang. Sensei bangga sekali." Koro sensei – yang entah sejak kapan- kini berdiri disamping Nagisa. Nagisa hanya tersenyum dan melanjutkan kegiatannya bersama Isogai dan Kataoka. Memasang beberapa layar dan kabel didepan kelas. Para murid mulai sibuk berdiskusi kembali. Saat itulah pintu terbuka. Karma menggaruk kepalanya dan melangkah mendekati Nagisa.

" Ne, Nagisa.. aku sudah mencari barang yang kau minta. Apa ini?" Tanya Karma. Nagisa menoleh dan tersenyum.

" Um. Dan kau memilih warna merah?" Tanya Nagisa. Kemudian kembali sibuk dengan kabelnya.

" Yah.. kurasa selain biru, kau akan cocok dengan warna merah. Ini adalah warna terbaik!" Nagisa mendengus setengah tertawa.

" Yah, meskipun aku lebih suka memakai hitam atau biru tua." Gumam Nagisa. Gumaman itu tidak pelan. Karma tersenyum mendengarnya.

" Kau tak pernah bilang kau suka warna hitam." Nagisa menarik kabel didepannya dan menoleh.

" Tapi ini akan kugunakan untuk menyusup, Karma-kun. Dan warna hitam adalah yang terbaik."

" Oh ayolah.. kau hanya belum mencobanya." Seringai Karma. Nagisa menghela nafas.

" Terserah kau saja." Ucapnya pasrah diiringi suara tawa Karma. Nagisa menyambungkan kabel terakhir dengan laptop didepannya.

" Nah, selanjutnya.." Nagisa bergumam sambil mengeluarkan Ponselnya. " Ritsu, kau bisa berpindah di laptopku bukan?" Tanya Nagisa. Ritsu muncul dan trsenyum.

" Tentu saja!" Jawabnya. Kemudian Nagisa membuka gulungan kertas ditangannya.

" Koro sensei, sudah siap." Lapor Nagisa.

" Nyunya? Sensei kira kau yang akan menjelaskannya." Nagisa mengerjapkan matanya dan tertawa kecil.

" Tidak, sensei.. kurasa sensei saja."

" Tapi Nagisa, kau yang lebih tau tempat itu." Nagisa mengangkat alisnya.

" Sensei, kita akan membahas rencananya. Aku hanya asistenmu dalam kasus ini. kau ingat?" Nagisa menolak. Koro sensei tertawa.

" Karena itulah aku memberimu perintah untuk menjelaskan rencananya. Lagipula pasti akan lebih mudah jika kau sekalian menjelaskan seluk beluk tempat itu. jangan khawatir, Ritsu akan membantumu." Jawab Koro sensei. Ritsu muncul di layar bewarna putih yang sudah terubung dengan laptop Nagisa.

" Hai'! serahkan padaku." Jawabnya. Nagisa tersenyum pasrah. Kemudian ia berjalan kearah meja guru dan mengetuk meja agar semua perhatian teralih kearahnya.

" Maafkan aku mengganggu keasyikan kalian, tapi kita akan mulai diskusinya." Ucap Nagisa. Para murid segera menempati tempat duduk masing-masing. Nagisa tersenyum kecil. Rasanya ia sedang menjadi guru disebuah sekolah.

" Seperti yang kita semua tahu, kita akan menyusup kedalam laboratorium bawah laut itu. tempat itu saat ini termasuk tempat yang keamanannya ketat. Tidak seperti dulu saat aku masih tinggal disana." Nagisa memberi jeda dalam ucapannya. Kemudian ia menoleh kearah layar dibelakangnya. Ritsu menampilkan grafik bangunan itu.

" Kalian bisa lihat, pintu masuk kearah lab itu sangat tersembunyi. Jika kalian melihat, dari luar itu hanya sebuah mercusuar biasa. Jadi, jika kita tiba-tiba berada di tempat itu, sudah pasti akan sangat mencurigakan. Kita bahas tehnisnya nanti dulu. Sekarang, Ritsu akan menjelaskan seluk beluk tempat itu." Nagisa mempersilahkan.

" Hai'! setelah menyusup kedalam jaringannya, tempat itu memang bukan tempat yang dulu. Namun tidak berubah total. Hanya ada beberapa ruang yang berubah fungsi." Ritsu menjelaskan. Kemudian ia menampilkan lorong-lorong dan beberapa ruangan didasar lautan itu. sesekali ia menampilkan gambar yang berhasil ia tangkap. Dan salah satunya adalah gambar Asano yang terkulai lemas diatas sebuah balok – yang tak bisa diilang tempat tidur- panjang. Nagisa bisa melihat Okuda melebarkan matanya. Sedangkan Karma menyipitkan matanya.

" Nah, jadi tujuan kita adalah menyusup keruangan ini." Nagisa menujuk sebuah ruangan tempat Asano disekap.

" Sepertinya kita tak bisa bergerak bersamaan. Akan sangat menyulitkan jika terlalu banyak orang." Isogai mengusap dagunya. Nagisa mengangguk setuju.

" Karena itu, kita butuh strategi dan pembagian tugas. Dan kutegaskan, aku bukan ketua dari misi ini. jadi, menurut kalian, siapa yang akan memimpin pergerakan ini?" Tanya Nagisa.

" Hm? Bukankah kita masih punya Karasuma sensei?" Tanya Maehara.

" Sayangnya, Karasuma sensei sudah punya tugas sendiri dalam pengepungan ini. dia akan membawahi bawahannya sendiri. Yah.. kita akan tetap menerima komando darinya. Tapi untuk taktik dan strategi, kitalah yang menentukan." Terang Nagisa. Para murid nampak berfikir.

" Hmm.. kalau untuk mengatur strategi dan menggerakkan sejumlah orang dalam permainan macam ini.." Hinata mengernyit mendengar komentar Maehara. Permainan?

" Karma. Kurasa dia orang yang tepat." Celetuk Itona dari belakang sana.

" Haah?" Karma menoleh malas.

" Um! Benar! Kurasa Karma akan sangat cocok untuk tugas itu." Seru Isogai.

" Kenapa tak kau saja, Isogai?" Tanya Karma. Isogai tertawa.

" Kau bisa mengandalkanku untuk tugas lain, ketua!" Jawab Isogai. Nagisa tersenyum. Karma yang memang seorang birokrat dan pandai menggerakkan dari balik layar. Kenapa tidak?

" Baiklah, sepertinya semua setuju kau yang memimpin, Karma-kun." Ucap Nagisa. Karma hanya memberi tatapan malasnya.

" Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika kalian harus bekerja keras untuk semua rencanaku." Jawaban Karma sukses membuat tim Terasaka bersin. Entah kenapa seketika mereka berfirasat buruk. Kecuali Itona tentunya.

" Nah, akan kuberikan datanya padamu nanti, Karma-kun. Kau bisa menyusun rencananya dengan data yang sudah kukumpulkan ini. sekarang, kita harus bersiap-siap untuk melanjutkan latihan kita. Karasuma sensei akan datang dalam waktu sepuluh menit. Dan Karma-kun, mungkin kita harus berdiskusi tentang kelompok dan tugas mereka. Jadi, kau tak keberatan untuk melewatkan jam latihan bukan?" Tanya Nagisa. Karma mengangkat bahunya.

" Ok~ tapi kurasa kau harus bertanggung jawab jika aku menjadi lebih lamban atau lebih lemah dari mereka." Jawab Karma. Nagisa tertawa datar. Rapat itu ditutup dan para murid yang masih mengeluh lelah – Okajima bahkan bersumpah punggungnya mengalami penuaan dini- dengan enggan beranjak untuk mengganti pakaian mereka. Nagisa sendiri membereskan segala macam perlengkapan hasil rapat tadi. Karma melangkah mendekati biru muda.

" Jadi, kita akan membahas ini dimana?" Tanya Karma. Nagisa menoleh.

" Hmm.. aku hanya punya pilihan diruang kelas ini, Karma-kun. Ada ide?" Tanya Nagisa. Karma terdiam sejenak sebelum tersenyum.

" Ok~.setelah kau bereskan barang-barang ini, kita akan pergi untuk membahas beberapa hal itu ditempatku." Nagisa menatap karma heran. 'ditempatnya'?

9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Angin semilir memainkan rambut Nagisa. Karma tersenyum sembari melirik gadis disebelahnya yang nampak tengah mengagumi tempat itu.

" aku tak pernah tau bahwa digunung ini ada tempat seperti ini." Gumam Nagisa. Karma tertawa.

" Kau hanya kurang membolos saat itu, Nagisa. Kau terlalu rajin." Jawab Karma. Nagisa mendengus.

" Aku ingat kau pernah memanggilku pemalas, Karma-kun." Ujar Nagisa. Karma cepat-cepat mengernyit.

" Kapan?" Tanyanya. Nagisa tersenyum.

" Saat kita merebutkan kenyataan tentang nyawa Koro sensei." Jawab Nagisa. Karma nampak berfikir kemudian menjentikkan jarinya.

" Hm.. aku ingat." Jawabnya. Kemudian mereka mulai berdiskusi tentang rencana penyusupan dengan membagi tim, sampaimenentukan anggota dalam setiap kelompok. Tiga puluh menit kemudian, keduanya sudah selesai dengan diskusi itu. Nagisa membaca ulang kertas ditangannya sedangkan Karma memilih berbaring menikmati semilir angina. Matanya terpejam. Nagisa memperhatikan wajah itu dan tersenyum. Kemudian ia mulai membaca kertas itu lagi.

" Hmm.. sejauh ini, kurasa tak ada masalah." Nagisa memperhatikan kertas ditangannya.

" Kau yakin tak ingin sekelompok dengan Okuda-san?" Tanya Nagisa. Karma yang tengah berbaring membuka matanya. Kemudian duduk dan menatap manik biru Nagisa.

" Tidak. kenapa kau bertanya?" Tanya Karma. Nagisa tersenyum.

" Karma-kun, sejauh ini yang mereka manfaatkan jelas kau, Okuda-san dan Asano-kun. Maksudku, kau bisa melindunginya kalau kau bersamanya." Jelas Nagisa.

" Kau mau bilang bahwa Okuda butuh perlindungan dariku?" Nagisa mengerjapkan matanya.

" Tidak. maksudku aku yakin dia kuat. tapi, bukankah akan lebih aman begitu?" Tanya Nagisa. Karma meraih kertas ditangan Nagisa dan membacanya lagi.

" Tidak. dia sudah dikelilingi oleh Isogai, Maehara dan Terasaka. Kurasa mereka sudah cukup membantu." Jawab Karma. " Hmm.. biar kubaca lagi.. Tim A akan bertugas memudahkan penyusupan. Tim B akan bertugas mengalihkan perhatian dan Tim C akan bertugas membawa asano keluar." Karma mengalihkan pandangannya kearah Nagisa.

" Kau yakin tidak akan ikut tim C?" Tanya Karma. Nagisa tersenyum.

" Tidak. aku akan tetap di tim B."

" Jadi kau ingin satu kelompok denganku, hm?" Nagisa tertawa.

" Karma-kun! Kau masih bisa bercanda disaat seperti ini?" Ucap Nagisa. Kemudian Nagisa terdiam.

" Tapi.. kurasa kau harus masuk di tim C, Karma-kun." Nagisa menengadah. " Maksudku, Tim C butuh orang untuk mengawal mereka keluar. Aku tidak meragukan kemampuan mereka. Hanya saja, kau adalah pengatur strategi. Dan menempatkanmu di tim paling beresiko akan nampak sangat salah. Kau bisa terlibat bahaya. Dan itu berarti mengancam semuanya."

" Karena itu aku menawarkanmu mengawal mereka, Nagisa."

" Tidak, Karma-kun. Kau yang harus bersama mereka sampai akhir. Maksudku, jika aku bersama tim C, mereka akan mengejar Tim C! karena aku ada disana. Kau ingat betul siapa target mereka sebenarnya bukan?" Nagisa mencoba mengingatkan.

" Nagisa, justru karena kaulah target mereka sebenarnya, kau harus menjauhi mereka. Atau kau bisa-"

" Aku bisa membahayakan kalian." Potong Nagisa. Karma terdiam.

" Dengarkan aku, Karma-kun. Misi kita adalah membawa Asano keluar dari tempat itu. dan kalau aku ikut bersama tim C yang akan membawa asano, kemungkinan gagal itu akan membengkak. Karena jika mereka menemukanku, mereka tak akan segan-segan bertindak. Dan jika begitu, maka Tim C dan asano jelas dalam masalah besar. Karena itu, izinkan aku menjadi pengalih untuk misi ini." Tegas Nagisa. Karma mengernyit.

" Nagisa, kau membuat Tim B hanya tinggal kau seorang. Kau mengusirku dari tim B, kau tau?" Nagisa kembali tertawa.

" Aku tidak mengusirmu, Karma-kun. Aku hanya menempatkanmu ditempat yang benar." Jawab Nagisa. Karma terdiam dan menatap kertas ditangannya.

" Hhh.. kalau diingat, aku belum pernah meminta maaf padamu ya, Karma-kun." Karma menoleh dan menemukan Nagisa tengah tersenyum kearahnya.

" Gomennasai. Karena aku, kalian jadi harus kesusahan begini. Semuanya jadi berantakan. Maafkan aku, Karma-kun." Nagisa menekuk lututnya. Kemudian meletakkan dagunya diatas lutut. Membiarkan angin memainkan rambutnya. Manik biru itu menatap lurus kedepan. Karma memperhatikan gadis biru itu dalam diam. Kenapa pula Nagisa harus minta maaf? Bagi Karma, ini sama sekali bukan salah Nagisa. Ini bisa menjadi salah siapapun. Tapi Karma tak ingin menyalahkan siapapun. Karena pasti itu akan berujung pada takdir. Wajah mungil itu nampak teduh. Entah kenapa Karma merasa hatinya gaduh. ia tak ingin Nagisa menjadi pengalih seorang diri. Tapi Nagisa benar, ia harus menjadi pengalih. Karena Nagisa sungguh akan menjadi pengalih yang tepat. Lantas? Lantas apa yang akan dilakukan gadis itu? Pikiran Karma kusut. Ia mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. ia takut. Tentu saja! Ia takut mereka akan mendapatkan Nagisa. Karena jujur saja, bagi Karma ini seperti memakan umpan mereka. Bukankah mereka menahan asano karena mereka ingin Nagisa datang kepada mereka? Dan Karma tau, tepat saat Asano berhasil dikeluarkan, sudah pasti mereka akan melepaskan Asano dan membuat Nagisa sibuk. Dan lagi-lagi Nagisa benar. Terlalu berbahaya jika Karma menempatkan teman-temannya dalam tim yang sama dengan Nagisa. Tapi Nagisa tentu tidak bisa sendirian bukan? Bagaimana jika mereka bermain curang dan membawa Nagisa lagi? Bagaimana jika Nagisa harus menghilang lagi? Demi apapun, Karmalah yang bertanggung jawab dalam misi ini. dan Karma yakin ia sendiri tak mau Nagisa menghilang lagi.

" Jangan terlalu memikirkannya, Karma-kun." Tegur Nagisa pelan. Karma tersentak.

" Hee~ kau menyuruhku untuk tidak berfikir sedangkan dalam situasi ini, kau bisa aja terlibat bahaya?"

" aku sudah sangat sering terlibat bahaya, Karma-kun." Jawab Nagisa cepat.

" Aku bahkan seorang pembunuh. Pekerjaan itu bukan pekerjaan biasa." Lanjutnya. Karma tau. Sangat tahu bagaimana berbahayanya menjadi seorang pembunuh.

" Ne, Nagisa.. kau tak berniat memainkan permainan mereka bukan?" Tanya Karma. Nagisa menoleh.

" Karma-kun, kadang kita harus menjalankan kemauan lawan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan." Karma menoleh

" Kau berniat menyerahkan dirimu?" Tanyanya.

" Tergantung. Tapi opsi itu 70% bisa terjadi." Jawab Nagisa.

" Kau gila?! Lantas untuk apa kita bekerja sama seperti ini?"

" Tentu saja untuk mendapatkan Asano kembali, Karma-kun." Jawab Nagisa.

" Tapi kau.. Nagisa, dengarkan aku. Kau menyerahkan dirimu dan kami membawa Asano keluar. Setelah itu apa yang akan kau lakukan?" Nagisa terdiam.

" Aku.. yang pasti aku akan memastikan kalian keluar dengan selamat terlebih dahulu." Jawab Nagisa. Karma menatap Nagisa tak percaya.

" Kau bahkan tak punya rencana!" Keluh Karma. Nagisa terdiam.

" Karma-kun.. akhir-akhir ini aku berfikir.. kenapa mereka menginginkanku sebagai kelinci percobaannya? Aku tidak pernah tau apa alasannya. Koro sensei pernah bilang. Bahwa cara membunuhku masih diliputi rasa putus asa. Dan kurasa aku belum bisa membuangnya. Aku hanya tak ingin kalian merasakan apa yang sudah pernah kurasakan. Kau bisa membayangkannya.. bagaimana jika salah satu dari kalian tertangkap dan dijadikan kelinci percobaan oleh mereka? Bagaimana keluarga mereka? Bagaimana kehidupan kalian yang sudah kalian bangun selama ini?" Nagisa memainkan jarinya. Karma menatap gadis biru itu geram.

" dan kau ingin bilang bahwa kehidupanmu bukanlah hal yang penting?" bentak Karma. Nagisa menghela nafas dan menoleh.

" Dibandingkan melihat nyawa kalian terancam? Ya." Jawab Nagisa tegas. Karma terdiam. Ia bisa merasakan kemarahan mulai memuncak.

" Hentikan bersikap bodoh, Nagisa. Misi ini jelas memiliki tujuan. Dan aku ingat kita tak berniat melakukan pertukaran apapun dalam misi ini. aku akan memastikan bahwa kau tak akan menyerahkan dirimu!"

" Dan kenapa kau sangat marah?" Tanya Nagisa.

" Tentu saja! Kau pikir siapa kau untukku?" Tanya Karma. Nagisa terdiam. Ia menatap manik pucat itu dalam. Siapa dia? Siapa dia untuk seorang Akabane Karma? Siapa dia untuk si rambut merah yang nyaris sempurna itu? Nagisa tersenyum kecil.

" Karma-kun, aku tau kau melakukan ini semua karena aku adalah temanmu. Dan akupun melakukan ini semua karena kalian adalah temanku." Nagisa bangkit dari duduknya. Ia menatap lurus hamparan hijau dibawahnya.

" Mungkin aku sudah keterlaluan. Maafkan aku. Tapi aku tak akan mundur, Karma-kun. Aku akan berusaha membuat kita semua selamat. Termasuk diriku. Tapi.." Nagisa menghentikan ucapannya dan menatap Karma yang juga tengah melihat kearahnya.

" Berjanjilah Karma-kun.. jangan cegah aku jika dengan menyerahkan diriku itu berarti bisa menyelamatkan yang lain. Kau harus memikirkan nyawa teman-teman terlebih satu nyawa tidak akan sebanding dengan belasan nyawa lainnya bukan?" Karma terdiam. Ia bisa menangkap point dari ucapan Nagisa. Karma bangkit dari duduknya dan berdiri didepan Nagisa. Nagisa benar. Ia harus mencari nilai maksimalnya. Tapi Karma tak ingin mengakui itu. ia berjalan dan berlalu dari hadapan Nagisa tanpa membalas ucapan Nagisa. Tidak. karena otaknya terasa lebih mengerti sekarang. Bahwa satu nyawa yang tengah menjadi perdebatan mereka saat itu, bahkan bernilai seribu nyawa untuk seorang Akabane Karma

9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Malam itu bukit kelas 3-E nampak ramai. Para murid tengah duduk dibawah balutan langit yang menghitam dan bertaburan bintang. Sebuah api unggun besar menyala ditengah-tengah mereka. Masing-masing bercerita tentang apa saja yang pernah mereka alami dalam jarak 8 tahun itu. Nakamura bahkan berniat menceritakan proses persalinan yang ia jalani saat melahirkan putrinya, Hoshi. Nagisa duduk disebelah Koro sensei. Tangannya sibuk memainkan ujug syal merah yang ia lilitkan dilehernya. Nampak bosan. Koro sensei melingkarkan tentakelnya di pundak Nagisa. Kemudian Nagisa bisa merasakan sesuatu memasuki telinganya.

" Nah, katakan apa yang terjadi antara kau dan Karma-kun?" Suara senseinya terdengar. Nagisa menoleh kearah senseinya yang sedang menanggapi tawaran dari Hazama tentang Koro sensei menjadi bahan percobaannya untuk sebuah kutukan baru yang ia dapat beberapa hari yang lalu. Nagisa tertawa datar.

" Tidak ada, kurasa." Gumam Nagisa. Koro sensei terdiam. Kemudian ia bangkit dan memohon diri sebentar. Ia memberi isyarat pada Nagisa agar mengikutinya. Nagisapun berdiri dan mengikuti Koro sensei. Tanpa ia tau, sepasang manik mercury menatap punggung mungilnya. Sebenarnya Karma bisa saja menyelinap dan mengikuti kedua makhluk itu. toh sudah menjadi kebiasaan sejak SMP ia menghilang dari kelas. Tapi kali ini Karma menahan diri. Karma masih tidak bisa menerima opini Nagisa. Dan sayangnya ia tak bisa mengucapkan sangkalannya. Nagisa berjalan menatap punggung senseinya itu. ia tersenyum kecil. Senseinya itu selalu menjadi tempat Nagisa mengutarakan segalanya. Koro sensei melompat dan mendarat diatas atap sekolah. Nagisa menatap sosok kuning itu sweatdrop.

" Fufufufu.. kita bicara disini saja, Nagisa." Ajak Koro sensei. Nagisa mengeluarkan tentakelnya dan menjejakkannya dibumi. Kemudian tentakel itu menahan dan mengangkat tubuh mungilnya. Nagisa mendarat dengan sukses diatas atap sekolahnya. Kemudian ia mengambil tempat disebelah Koro sensei. Koro sensei dengan cepat menyiapkan meja dan teh hangat diatasnya. Ia juga mengambilkan selembar selimut lembut dan menyampirkannya di bahu Nagisa.

" Terimakasih, sensei." Ucap Nagisa sambil membenkan letak selimutnya. Kemudian keduanya terjebak hening beberapa saat.

" Bagaimana rapatmu dengan Karma-kun?" Tanya Koro sensei akhirnya.

" Lancar. Kami sudah membagi kelompok untuk misi ini." Jawab Nagisa sekenanya.

" biar sensei tebak. Kau dan Karma-kun satu kelompok, benar?" Nagisa tertawa.

" Tadinya." Jawab Nagisa singkat.

" Tadinya?" Koro sensei menatap Nagisa heran.

" Um. Kami menjadikan 3 tim dalam misi ini. tim A bertugas memudahkan jalannya penyusupan."

" Hmm..hmm.. harus mengalihkan perhatian dipintu masuk."

" Um. Dan tim B bertugas untuk mengalihkan perhatian lawan didalam." Koro sensei menoleh.

" Tapi itu akan jadi tugas yang berbahaya sekali." Nagisa tersenyum.

" Aku tau. Maksudku, kami tau."

" Siapa saja?" Tanya Koro sensei.

" huh?"

" Siapa saja yang berada di Tim B?" Tanya Koro sensei lagi. Nagisa terdiam sejenak. Perlahan ia menarik nafas dan menghembuskannya.

" aku dan Karma-kun sudah berdiskusi tentang ini. maksudku, dalam misi ini aku sama sekali tak ingin siapapun dari mereka terlibat bahaya. Karena itu.."

" Karena itu tim B hanya ada kau dan Karma-kun. Benar?" Tebak Koro sensei. Nagisa tersenyum.

" Tidak sensei.. Karma-kun adalah ahli strategi kami. Jadi dia sama sekali tak boleh terlibat bahaya." Jawab Nagisa. Koro sensei terdiam.

" Jadi sekarang hanya tinggal kau saja di Tim B?" Nagisa mengangguk. Kemudian gadis biru itu menghela nafas dan menatap malam berbintang diatasnya.

" Lagipula, jika aku yang menjadi umpan, Tim C akan dengan mudah mengeluarkan Asano dari sana." Lanjut Nagisa. Koro sensei tersenyum dan menepuk kepala Nagisa. Ia mengusap rambut biru itu dan ikut menengadahkan kepalanya.

" Nagisa, sensei selalu mengingatkanmu tentang visimu yang harusnya tak boleh dimiliki hitman manapun." Nagisa tertawa kecil.

" Aku tau sensei. Tapi aku belum bisa menghilangkannya." Sela Nagisa.

" Kau harus. Coba fikirkan, Nagisa. Kau bisa saja menjadi umpan yang bagus. Bahkan sensei bisa memperkirakan keberhasilan misi ini mencapai 100% jika kau yang menjadi umpannya. Tapi kau melupakan satu hal. Orang yang mengutusmu sama sekali tak ingin melakukan pertukaran apapun. Ingat, kau hanya menjalankan misi yang diberikan Karasuma. Bukan menjalankan misimu sendiri, Nagisa." Koro sensei mengingatkan. Nagisa terdiam.

" Nagisa, kami semua tentu tak ingin mengorbankan siapapun diantara kalian. Sehebat apapun kalian, selihai apapun kalian. Karena itu, jangan pernah memonopoli permainan dengan alasan keselamatan mereka. Kau juga harus memikirkan dirimu sendiri."

" sensei, aku sudah memikirkannya. Maksudku, aku tidak ingin mereka semua terlibat bahaya hanya karena-"

" Sensei mengerti. Tapi kau tak pernah tau, Nagisa." Potong Koro sensei. Nagisa menatap senseinya bingung.

" Kau tak pernah melihat wajah mereka yang sedih saat kau menghilang 8 tahun yang lalu bukan? Bahkan sensei baru menemukan diri mereka yang sempat mereka buang karena merasa bersalah atas hilangnya dirimu beberapa minggu yang lalu." Nagisa terhenyak. ia.. tak pernah memikirkannya.

" Nagisa, bagi mereka kau berharga. Sensei tak ingin melihat mereka seperti itu lagi. Kalau kau ingin membuat mereka bahagia, maka kau harus mengubah misi pribadimu. Misimu bukan lagi membuat mereka selamat separah apapun kondisimu. Tapi bagaimana caranya setelah misi itu berakhir, kalian semua akan bertemu kembali ditempat ini untuk mengadakan pesta keberhasilan. Bagaimana? Itu lebih menyenangkan bukan?" Nagisa terdiam. Kemudian ia tersenyum.

" Um, sensei. Maafkan aku." Jawab Nagisa.

" Nah, kalau kau sudah mengerti, sensei harap kau tidak bertindak gegabah. Dan sebagai partner kerjamu kali ini, sensei memerintahkan agar kau kembali ketempat ini setelah misi itu. dan sensei akan bergabung denganmu dalam misi ini." Ujar koro sensei. Nagisa kembali tersenyum.

" Hmm.. oh ya.. sensei lupa. Tadi Maehara dan beberapa anak laki-laki mendatangi sensei dan menanyakan apakah sensei punya fotomu dalam balutan gaun atau foto saat kau sedang bertugas dengan Irina sensei." Nagisa mengernyitkan matanya.

" Untuk apa mereka menanyakan itu?" Tanyanya. Koro sensei berubah warna menjadi merah muda.

" Entahlah, tapi sepertinya kau memiliki pesona yang membutakan mereka. Nagisa mendengus setengah tertawa. Pipinya merona.

" Kau membuatku terdengar seperti Maehara saat kita masih sekolah, sensei." Keluhnya. Koro sensei mengeluarkan suara Nurufufufu-nya dan terus menggoda Nagisa. Dibawah sana, ditengah-tengah keramaian para murid kelas 3-E, Karma melepas headsetnya dan tersenyum.

9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Hhh… beginilah jadinya XD. Saya tau chapter ini agak aneh gimanaa gitu XD.

Neko Twins Kagamine: hehehe…terimakasih. Semoga saja saya bisa menyelesaikan fic ini dengan baik. Terimakasih sudah mampir ^^/

NamikhraKyra: hehehe sepertinya begitu. Karma baru jatuh cinta* tebar wasabi. Terimakasih sudah mampir ^^

SNJ: Terimakasih :D. semoga tetap menghibur yaaa ^^/ terimakasih sudah mampir.

Denia: saya semangat saya semangat. Jaringannya yang nggak XD. Terimakasih untuk semangat dan reviewnya ^^

BlueSky Shin: buat Karma cemburu itu… sesuatu*plak. Besok aja deh. Sekarang buat karma kesel dulu XD. Terimakasih sudah mampir ^^

Faira: Terimakasih ^^. Semoga menghibur :D

Angelic yet Demonic: Dia hanya kurang berlatih mengungkapkan perasaan B-). Gantung? Saya bingung saya abis gantung apa#dilempar. Terimakasih sudah mampir :D

Kyunauzumi: Iya.. terimakasih untuk dukungannya ;)

Fallyn: hehehe.. saya terlanjur nulis ini (?). Nagisa bersama teman cowoknya mau ngapain*eh. Terimakasih sudah mampir ^^

Frwt: dia memang kawaaiii. Ok, terimakasih sudah mampir ^^

Dan untuk semua yang membaca, follow fav, review,pm, terimakasih banyaak.. I love you #hug.

Jaa!