FIGHT
Jadi, sebelum aku jatuh cinta pada Park Chanyeol dan benar-benar bisa menerima kehadiran pria itu dalam hidupku, satu-satunya hal yang kusukai dari dirinya hanyalah ibunya—Park Chaeyoung. Ini bukan jenis suka antara pria-wanita, tidak mungkin karena jarak usia kami yang terpaut begitu jauh. Namun sebaliknya, perasaan yang kumiliki untuk wanita itu lebih tepat jika dideskripsikan sebagai rasa sayang dari seorang putra kepada ibunya.
Kalian tahulah, aku tak punya ibu—jadi, ketika Chaeyoung menawarkan dirinya untuk menjadi ibuku, aku tak bisa menolak. Tidak mau menolak lebih tepatnya.
"Kau lebih suka stroberi atau cherry, Baekhyuna?"
"Stroberi, eomma~" jawabku malu-malu. Chaeyoung eomma tersenyum dan sesaat kemudian, tangan indahnya mulai mengiris-iris stroberi merah besar yang telah dipersiapkan dalam wadah kaca di dekat perkakas membuat kue-nya.
"Kalau begitu, eomma akan menghiasi cake-mu dengan baaaanyak sekali stroberi! Kau suka?"
"Ung!"
"Tch! Apa-apaan dengan ung?!"
Bola mataku berputar dengan malas ketika aku kembali dihadapkan dengan realita bahwa lelaki paling menyebalkan bernama Park Chanyeol sedari tadi masih duduk dengan wajah kesalnya di sebelahku.
"Seingatku, kau belum pernah bilang ung begitu padaku dengan wajah imut dan nada manja seperti tadi," rajuknya kesal. "Semua gara-gara kau, Chaeyoung!"
"Yak! Panggil nama pada eomma seperti itu tidak sopan!" desisku marah. Bukannya minta maaf, yang Park Chanyeol lakukan malah menekuk wajahnya dalam-dalam dengan bibir yang mengerucut semaju-majunya.
Hari ini tepat seminggu setelah aku diculik dan dibawa paksa ke rumah mereka untuk yang pertama kalinya. Semenjak itu pulalah Chaeyoung 'menculikku' setiap hari dengan cara mengutus putra semata wayangnya untuk datang ke studio kemudian melarikanku ke kediaman mereka. Yang kulakukan di sana adalah menemani ibu Chanyeol tersebut membuat cake, menjadi yang pertama mencicipi kue-kue lezat tersebut setelah matang, bercengkerama tentang banyak hal hingga malam menjelang, kemudian Chanyeol akan mengantarkanku pulang sebelum pukul 10 malam.
Tapi itu baru terjadi dua kali saja dalam seminggu ini, karena lima hari sisanya, Chanyeol terus saja memaksaku agar menginap di rumah mereka dengan berbagai alasan tak masuk akal.
"Aku tidak bisa menginap."
"Kenapa tidak?"
"Aku ada pekerjaan besok."
"Pekerjaan apa? Bukankah kau sudah dipecat dari semua pekerjaanmu?"
Aku memutar mata bosan, "Memangnya gara-gara siapa aku dipecat?"
"Aku, hehe." Park Chanyeol tersenyum lebar seolah membuatku kehilangan pekerjaan bukanlah sesuatu yang besar. Padahal mencari pekerjaan itu susahnya bukan main, tapi dia dengan santainya menyeretku keluar dari tempatku bekerja memotong rumput dan bilang kalau yang bernama Byun Baekhyun semenjak hari ini tidak akan bekerja di sini lagi.
Menyebalkan.
"Jadi, menginap saja ya, Baekhyunku sayang?"
"Ti. Dak."
Aku menyerahkan piring terakhir yang kucuci pada Chanyeol agar lelaki itu mengeringkannya dengan kain yang ia pegang. Wajahnya tampak tak terlalu senang atas jawabanku, tapi sudah kuputuskan untuk tidak menuruti permintaannya kali ini.
Meski dia sudah mengenalkanku pada ibunya, tapi tetap saja hubungan kami masih, yeah—memangnya ada hubungan apa antara aku dengan Park Chanyeol? Kutegaskan, kami tidak ada hubungan apa-apa.
Well, belum.
"Baiklah, sebaiknya aku pulang sekarang, Park Chanyeol. Selamat malam." Sempat kulihat wajah Chanyeol tampak tak terlalu senang, tapi aku tak terlalu mengambil pusing. Aku akan berpamitan dengan eomma dan berlarian menuju halte sebelum bis terakhir tiba.
"Pulanglah maka besok kau akan mendapati kalau semua tempat tidak akan ada yang mau menerima dirimu untuk pekerjaan sekecil apapun, atau—"
Sebelum aku berbalik meninggalkan Chanyeol di konter dapur, lelaki itu sudah terlanjur menarik bahuku dan memaksa agar kami berdiri berhadapan. Dia melakukan tiga hal yang kubenci sekaligus dalam satu waktu. Satu, mengintimidasiku dengan tubuh besarnya yang menjulang tinggi itu. Dua, menatapku dalam-dalam seolah di dunia ini dia hanya ingin menatap diriku seorang saja. Dan tiga, lagi-lagi mengancamku dengan sesuatu karena dia ingin aku tetap bersamanya sepanjang waktu. Bukankah wajar kalau kukatakan dia itu menyebalkan?
"—menginaplah malam ini dan besok aku akan mengantarmu ke restoran pagi-pagi sekali. Bos macam apa yang tidak pernah datang ke restoran dan malah sibuk mencari pekerjaan di tempat lain?"
Mungkin si Park ini pikir aku akan tersanjung dengan sedikit sisi romantis tak wajar yang terselubung di balik ancamannya, namun dia salah. Bukan bait ke-dua kalimatnya yang menjadi pusat perhatianku, tapi yang pertama. Tentu saja, emosiku yang memang selalu mudah tersulut jelas langsung melonjak tanpa bisa kucegah. Karena sudah terbiasa hidup susah dan berjuang sendirian, aku tentu saja tidak bisa terima kalau ada orang lain yang menginjak-injak dan menganggap remeh usahaku hanya demi kepuasan mereka.
"Kau sedang mengancamku?" desisku dengan rahang yang saling beradu. "Kau ingin bilang kalau kau punya kuasa untuk membuatku tidak diterima bekerja dimana pun jadinya aku harus menerima ancamanmu kalau aku masih ingin melanjutkan hidup?"
"Aku tidak bilang seperti itu—"
"Kenapa kau selalu menganggapku remeh sekali, Park Chanyeol? Karena aku tak punya apa-apa sedangkan kau punya segalanya, hal itu membuatmu merasa selalu bisa mengendalikan hidupku, iya kan?"
"Baekhyuna, dengarkan aku dulu—"
"Untuk apa mendengarkanmu kalau yang kau lakukan hanyalah memaksakan kehendakmu padaku?"
"Memaksakan kehendak?" Mata bulat Chanyeol melebar, "Kau bilang memberikan segala yang terbaik untuk kekasihku adalah memaksakan kehendak?"
"Hah, kekasih? Omong kosong macam apa itu? Kita tidak ada hubungan apa-apa jadi kuharap jangan sembarangan menyebut kata itu dihadapanku. Minggirlah, aku mau pulang dan tidak punya waktu luang untuk bertengkar denganmu malam ini," Aku menghempaskan tangannya tapi dia dengan keras kepala kembali menarikku hingga aku tak punya pilihan lain selain menatapnya jengah.
"Jadi sekarang kau juga ingin bilang kalau perasaanku padamu hanyalah omong-kosong, Byun Baekhyun?" Lagi-lagi, Chanyeol memaksaku untuk tetap berdiri di tempat. "Setelah mencoba membuktikannya padamu, kau masih ingin bilang semuanya adalah omong kosong?"
Mulut berbisaku seperti direkatkan dengan lem ketika mata bening itu mulai berkaca-kaca. Se-semudah itukah membuat orang seperti Park Chanyeol tersakiti? Maksudku, aku sama sekali tidak ingin melihatnya menangis karena yang kulakukan hanyalah membela diri dari kesewenang-wenangan yang ia lakukan terhadapku. Tapi kenapa rasanya juga menyesakkan setelah menyadari ucapanku tadi ternyata menyinggung perasaan lelaki ini?
Apa... sebenarnya apa yang tengah terjadi dalam hidupku?
"A-aku tidak bilang begitu tentang perasaanmu—"
"Kau iya! Seharusnya kau paham tentang perasaanku tiap kali aku menyebutmu sebagai kekasihku!"
"Tapi aku memang bukan kekasihmu, Park Chanyeol—"
"Ah, jadi setelah aku menyelamatkanmu, menciummu malam itu, datang ke rumahmu, memberikan restoran, mempertemukanmu dengan ibuku dan kau menginap di sini—semua itu belum cukup untuk menjadikan kau sebagai kekasihku? Ah, harusnya sejak kemarin-kemarin itu kutiduri saja kau sebagai pembuktikan perasaanku dan sebagai tanda bahwa kau telah resmi menjadi kekasihku!"
Aku tersenyum sinis sebagai reaksi atas ucapannya. Segala rasa bersalah yang kupunya semenit lalu menguap entah kemana dan berganti dengan kemarahan yang memuncak. Kalau ditanya, ingin sekali rasanya kulayangkan tinju ke mulutnya tapi aku terlalu marah hingga kedua tangan bergetarku tak punya tenaga untuk digerakkan.
"Hei, Tuan Park—aku tahu kau punya segalanya dan bisa melakukan apapun yang kau mau hanya dengan menjentikkan jari saja. Namun kuberitahu kau, mungkin aku adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tak bisa kau dapatkan dengan uang dan kekuasaanmu? Kenapa? Karena aku paling benci orang seperti kau—merasa paling berhak atas hidupku dan mengungkit-ungkit apa saja yang sudah kau lakukan untukku!"
Dadaku menyesak jadi aku berhenti sebentar untuk menarik nafas.
"Apa? Meniduriku sebagai pembuktian? Kalau kau sebegitu frustrasinya ingin memiliki seorang kekasih, kenapa tidak kau tiduri saja jalang-jalang di luar sana sesuka hatimu? Tidak hanya satu, kau bisa dapatkan ribuan jalang sekaligus dengan hartamu yang berlimpah itu, mudah bukan? Ayolah, Byun Baekhyun itu tidak satu level denganmu jadi kenapa harus susah-susah melakukan apapun deminya?"
Aku tahu tangan Chanyeol terkepal dan wajahnya merah padam, tapi apa peduliku? Dia saja dengan bebasnya bisa menginjak-injak harga diriku, lalu kenapa aku harus menahan diri dengan semua ucapan pedas yang kupunya?
"Dengar, Park—aku tidak pernah minta kau selamatkan, aku juga tidak pernah minta diberi apa-apa olehmu. Terima kasih atas semuanya tapi kuharap kau berhenti sampai di sini. Dan tentang ciuman itu, itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku."
"Sama sekali tidak?" Mata Chanyeol menatapku dengan sorot tak percaya.
"Ya, sama sekali tidak!" Aku tersenyum remeh meski sebenarnya darahku sudah mendidih hingga ke ubun-ubun, "Karena ciumanmu buruk sekali,"
Aku bohong, tapi entah setan mana yang merasukiku hingga aku bisa mengatakan dusta semacam itu, entahlah.
"Sudah dengar semuanya, bukan? Ambil kembali restoranmu dan jangan pernah ikut campur hidupku lagi. Aku mau pulang dan ini terakhir kalinya kau melihatku di sini!"
Prang!
Kami hanya tidak sadar kalau pertengkaran yang terjadi di dapur ini ternyata disaksikan oleh Chaeyoung. Ada pecahan kaca tersebar di lantai di dekat kakinya, sepertinya dia tengah memegang gelas dan terlalu terkejut dengan ucapanku hingga benda itu terlepas dari genggaman.
"Ja-jadi kalian akan putus karena ciuman putraku buruk sekali? Be-begitukah, Baekhyuna?"
Oh, tidak!
Aku memang bilang kalau aku menyukai Chaeyoung, tapi pada dasarnya, dia itu mirip dengan anaknya sehingga kami kerap diliputi oleh kesalah-pahaman. Ekspresi berlebihnya itu pula yang menyebabkan wanita itu tersedu-sedu karena tak terima kami berdua putus—itulah menurutnya—jadi dia merajuk dan mengancam tak mau melakukan apapun sampai kami berdua kembali berpacaran. Dia bahkan merosot ke lantai sambil menjejak-jejakkan kaki meminta agar kami menjalanin hubungan sebagai sepasang kekasih lagi, yang mana menurutku benar-benar menyebalkan.
"Chaeyoung! Berhenti menangis dan jangan buat semuanya bertambah buruk!"
"Hei, bisakah kau sopan sedikit pada ibumu?" Aku yang sedang berlutut di lantai sambil terus membujuk ibu Chanyeol tersebut itu agar berhenti menangis tentu saja merasa kesal. Harusnya dia yang bertanggung-jawab karena keadaan ini terjadi gara-gara dirinya. Bukannya memperbaiki situasi, yang ia lakukan malah memperparah segalanya.
"Siapa bilang aku tidak sopan?"
Mendengar nada suara Chanyeol yang setengah membentakku, langsung saja kekesalanku semakin menjadi-jadi.
"Kau pikir memanggil ibumu hanya dengan namanya saja itu adalah perbuatan sopan?"
"Lalu bagaimana dengan kau sendiri? Menggantung perasaanku padahal kau tahu sendiri kalau aku menyukaimu—tidak, aku mencintaimu, Byun Baekhyun!—kau pikir itu juga perbuatan sopan?"
Kalian dengar? Baru saja Chanyeol bilang dia mencintaiku. Aku sudah pernah mendengar kalimat itu darinya sebelum ini, silahkan baca chapter sebelumnya kalau lupa, tapi tetap saja—aku tidak bisa mempercayainya.
"Jangan alihkan pembicaraan, Park Chanyeol!" sergahku untuk menutupi diriku yang tiba-tiba saja gugup. Bagaimana mungkin dia bilang cinta padahal di sini masih ada ibunya?
"Kita sedang membahas ketidak-sopananmu pada eomma, bukan aku yang—"
"Kau mengakui kalau yang kau lakukan itu juga tidak sopan, bukan? Kau tahu pasti kalau aku mencintaimu, tapi kau sengaja menarik-ulur dan mempermainkan perasaanku dan—"
"Aku tidak pernah mempermainkan perasaanmu!"
"Kau iya! Kau sangat ingin membuatku tersiksa oleh cintaku sendiri, karena itulah kau terus mempermainkanku sampai kau bosan! Padahal aku lihat sendiri kau begitu menikmati ciumanku malam itu di mobil malam itu—"
"Yak! Hentikan!" Aku bangkit berdiri dengan niat membungkam mulut Chanyeol pakai tanganku namun dia berhasil menangkap kedua pergelangan tanganku dan memaksaku untuk mendengar rahasia kami terbongkar mentah-mentah di hadapan Chaeyoung.
"—itu ciuman kita yang ketiga kalinya karena aku pernah menciummu dua kali sebelumnya—"
"Kubilang hentikan!" Mukaku merah padam menahan malu. Tapi apa yang bisa kulakukan dengan kedua tangan dipegangi dan dengan posisi berdiri yang dipaksa menghadap lelaki brengsek itu seperti ini?
"—malah yang di mobil waktu itu kau sendiri yang mengangguk pasrah saat aku minta izin ingin menciummu sekali lagi, lalu sekarang kau bilang ciumanku benar-benar buruk?"
"Ber-henti, Chanyeol, aku tidak ingin membahasnya lagi—"
Kemana perginya sumpah serapahku? Kenapa semuanya mendadak kosong dan dunia seolah menyisakan kami berdua saja ketika aku menatap wajahnya yang juga merah padam namun bercampur dengan kesedihan itu?
"Tapi aku masih belum selesai, Byun Baekhyun! Baiklah, aku minta maaf kalau ternyata kepedulianku terlihat sebagai pemaksaan di matamu. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik, aku tidak ingin kau kesusahan lagi—kalau kau memang tidak bisa membalas perasaanku, tidak apa-apa. Tapi—"
Chanyeol melepas tanganku dan sekarang memegangi kedua bahuku erat-erat.
"—katakan di depan wajahku sendiri kalau kau sama sekali tidak mencintaiku dan kau tidak ingin menjadi kekasihku sampai kapan pun. Ayo, ucapkan dan jangan diam saja."
"A-aku ti-tidak—"
"Katakan yang jelas!"
"Aku-ti-tidak men—"
Harusnya gampang saja bukan mengatakan kalimat-kalimat seperti yang ia pinta? Apa susahnya bilang kalau aku tidak mencintainya dan tidak ingin jadi pacarnya sampai kapan pun? Tapi nyatanya, lidahku seperti kelu dan aku seolah lupa bagaimana caranya berkata-kata.
"Aku tidak—"
"Lambat sekali."
Rahangku dipegangi dan kepalaku dipaksa untuk mendongak.
Dia menciumku lagi.
Di depan Chaeyoung yang aku tidak tahu masih menangis atau bagaimana karena posisiku yang membelakangi wanita tersebut.
Bibirku dikulum dan lidahku dipilin-pilin oleh lidahnya seolah ingin melampiaskan kekecewaan yang ia simpan untukku.
Ciumannya membuatku hampir pingsan. Aku tidak kuasa menolak karena tubuhku seakan tidak ingin lepas dari ciumannya yang menyebabkanku hilang akal. Secara bergantian, dia menggilas habis setiap milimeter permukaan bibirku dan tidak peduli sama sekali meski liurku sudah berceceran di sekitar mulut. Ketika akhirnya dia melepaskan ciuman itu, disitulah aku melihat wajah patah hati seorang Park Chanyeol yang membuat hatiku berdenyut sakit tak terkira.
"Katakan di depan wajahku kalau ciumanku barusan benar-benar buruk. Katakan, Baekhyuna!"
Semenit. Dua menit. Yang kulakukan cuma memandanginya seperti orang tolol.
"Kau tidak bisa mengatakannya?"
Aku menunduk, tak mau dia melihat ke dalam mataku yang memang tidak pintar menyembunyikan kebohongan.
"Baiklah, kuanggap diam-mu sebagai ya dan itu artinya kau benar-benar tidak mencintaiku, kau tidak ingin menjadi kekasihku dan ciumanku memang buruk sekali."
Chanyeol mengambil langkah mundur sekali lalu mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
"Pergilah, kau bebas sekarang."
—
I'm sorry but I think that I have no more confidence to write ffs. But thanks a lot for the support, love you all.
Spain, el 12 de 3, 2019.
