A/N: maaf kalau saya agak lama dalam mengupdate cerita ini, karena saya masih berpikir untuk membuat fanfic lain. Anyways, ini adalah chapter terakhir. Tetapi masih ada epilogue setelah chapter terakhir ini. Enjoy

Disclaimer: Eyeshield 21 doesn't belong to me; it belongs to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata

Warning: OC, OOC

TO BE PARENT 10

Sudah 3 bulan lebih sejak hari pernikahan Hiruma dan Mamori. Kini usia kandungan Mamori telah menginjak minggu ke 21, sehingga perutnya sudah membuncit agak besar dari sebelumnya. Bahkan, sehari sebelumnya, anak dalam kandungannya telah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Anak mereka sudah bisa menendang perut ibunya dari dalam. Terkadang Hiruma menyempatkan dirinya untuk meletakkan telinganya di atas perut Mamori, ingin menerima tendangan anaknya dari dalam perut ibunya.

Setiap minggu, Hiruma juga menyempatkan dirinya untuk membelikan Mamori dan calon anak mereka yang akan lahir nanti sebuah kaset musik, karena menurutnya seorang anak bayi juga dapat membedakan bunyi dan musik. Kemudian, Mamori juga mulai berkelakuan aneh layaknya orang hamil pada umumnya. Ia mulai jadi bersikap lebih moody dari biasanya, bahkan selera makanannya jadi berubah sedikit aneh. Setiap malam, sehabis Hiruma pulang kerja, ia selalu minta dibelikan setidaknya kue sus rasa strawberry dengan syrup maple di atasnya, dan bermacam-macam makanan aneh lainnya.

Karena perutnya sudah agak membesar, Mamori terpaksa harus berhenti sekolah dan menjalani home schooling. Sedangkan Hiruma, ia pun harus sekolah, memimpin tim amefuto Deimon Devil Bats sekaligus bekerja untuk membiayai kehidupan keluarga barunya. Ia memilih bekerja sebagai seorang pembuat software computer dan membangun perusahaan miliknya sendiri. Kali ini, Hiruma membuat sesuatu dengan usahanya sendiri, tanpa memalak orang lain. Ia ingin agar anaknya hidup dari hasil kerja kerasnya sendiri, bukan dari orang lain. Meski begitu, terkadang Hiruma harus menderita kelelahan karena ia harus bekerja sebagai seorang pemilik perusahaan software sekaligus seorang siswa dan seorang kapten dalam tim amefuto, juga dalam beberapa bulan ia akan lulus dari sekolahnya dan melanjutkan ke universitas yang diinginkannya.

Dan juga, karena mereka merupakan sebuah pasangan baru yang baru saja menikah, terdengar beberapa kabar tak sedap yang mengganggu hubungan mereka. Seperti kabar yang masih menyebar di masyarakat tentang mereka yang masih berstatus pelajar sekolah. Saat Mamori baru belanja di kota bersama Suzuna dan Wakana, manajer tim Ojo Knights, atau pergi keluar untuk Jalan-jalan, pasti selalu terdengar orang-orang berkata, 'Lihat itu, masih sekolah sudah menikah!', 'Katanya ia dihamili oleh pria tak bertanggung jawab', 'Memalukan sekali anak perempuan itu,' dan berbagai perkataan lainnya. Sebenarnya Mamori tak terlalu memikirkannya, tetapi lama-lama ia merasa risih. Meski pada akhirnya kabar tersebut menghilang setelah beberapa bulan ia menikah dengan Hiruma.

Tetapi, meski kabar tersebut sudah menghilang, terdengar lagi kabar baru.

Sore itu, ketika Mamori dan Suzuna sedang Jalan-jalan di tengah kota, membeli perlengkapan untuk anak Mamori yang akan lahir, mereka berhenti di sebuah restoran.

"Hyaaa! Senangnya, habis belanja menikmati sepiring strawberry shortcake!" seru Suzuna begitu mereka sampai di restoran tersebut.

"Ah, Suzuna-chan ingin membeli strawberry shortcake ya? Hmm, kalau begitu, enaknya aku memilih apa, ya?" ujar Mamori sambil melihat-lihat daftar makanan yang diberikan oleh sang pelayan.

Saat Mamori dan Suzuna sedang asyik memilih makanan yang akan mereka makan, di TV mereka mendengar kabar mengenai perusahaan computer Hiruma.

"Berita hari ini, kami akan memberitakan tentang Hiruma Corporation yang akhir-akhir penjualan sahamnya mengalami peningkatan pesat," begitu isi berita tersebut.

Mamori dan Suzuna beralih ke arah TV. Dari TV, mereka bisa melihat beberapa orang wartawan berusaha mewawancarai Hiruma, tetapi Hiruma hanya diam tak menanggapi.

"Wah, tak kusangka Yo-niisan bisa seterkenal itu. Tapi apa ia tak kerepotan, ya, harus menjadi seorang siswa SMU, sekaligus kapten amefuto dan seorang pemimpin perusahaan?" ujar Suzuna, matanya beralih dari TV kembali ke daftar makanan.

"Ya, kadang aku juga berpikir seperti itu. Berpikir bahwa aku hanya menyulitkan Youichi saja. Seandainya aku tak pernah hamil, mungkin ia tak perlu mengalami hal seperti ini," kata Mamori, tangannya mengelus-elus perutnya.

"Eh? Kenapa Mamo-neesan berpikir seperti itu? Kurasa Yo-niisan tidak akan menyesal telah menikahi Mamo-neesan, lagipula Yo-niisan kan benar-benar mencintai Mamo-neesan," sahut Suzuna cepat, tak mau melihat Mamori bersedih, karena ia tahu bahwa tak baik untuk orang hamil untuk stress.

Mamori hanya tersenyum menanggapinya.

Tetapi, saat ia melihat lagi ke layar TV, ia melihat Hiruma bersama dengan seorang wanita cantik berambut pirang, yang sepertinya seorang wanita asing. Wanita tersebut sepertinya cukup dekat dengan Hiruma, beberapa kali di layar TV, Hiruma tersenyum menyeringai pada wanita tersebut. Dan belum lama Mamori memperhatikan layar TV, berita itu dialihkan ke berita lain.

"Siapa wanita itu?" tanya Mamori, matanya masih tertuju pada layar TV.

"Eh? Siapa?" Suzuna menoleh pada Mamori, "Barusan Mamo-neesan bilang apa?"

"Ah," Mamori buru-buru menjawab, "Bukan apa-apa. Hahaha."

Suzuna menatap Mamori dengan tatapan aneh, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mamori. Tetapi ia memilih tak mau mengungkitnya.

Pada malam harinya, Hiruma pulang ke apartemen mereka saat Mamori sedang memasak makan malam.

"Hei, istri sialan, aku pulang," panggil Hiruma memanggil istrinya.

"Ah, iya!" sahut Mamori dari dapur. Ia segera mematikan pematik api di kompor dan menghampiri suaminya, menciumnya di bibir, "Selamat datang ke rumah Youichi. Aku sudah membuatkan makan malam untukmu," kata Mamori memberitahu.

"Hn, makan malam, ya. Yah, apa boleh buat," Hiruma memandang Mamori sambil nyengir seperti biasanya.

"Apa boleh buat apanya?" Mamori mengerutkan keningnya.

"Sebenarnya, aku sudah makan malam tadi bersama seorang klien yang datang dari sebuah perusahaan asing. Tapi tak apalah, hari ini kau masak apa?" tanya Hiruma pada istrinya.

Mamori menunduk, 'Klien? Dari perusahaan asing? Apakah mungkin klien itu yang barusan ada di TV?' batin Mamori, tiba-tiba saja hatinya terasa panas, "…nasi kare…" jawab Mamori, masih menundukkan kepalanya.

"Kalau begitu aku minta sepiring besar," kata Hiruma, mencium kening Mamori dan berjalan menuju kamar mereka.

Mamori menggigit bibirnya, mungkin sebaiknya ia tak usah bepikir hal-hal yang buruk tentang Hiruma. Siapa tahu ia hanya terlalu cemburu pada Hiruma sehingga ia berpikir demikian.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Usia kandungan Mamori kini tengah memasuki minggu ke 30. Dan pada hari ini, Mamori hendak mengadakan sebuah tes ultrasound pada kandungannya, ingin mengetahui jenis kelamin anaknya yang akan lahir dalam beberapa minggu. Ia juga ingin mengajak Hiruma, hingga ia pada suatu hari hendak mengajak Hiruma.

"Youichi," panggil Mamori lembut pada suaminya yang sedang memainkan komputernya, "Maukah kau besok mengantarkanku ke dokter untuk melakukan pemeriksaan ultrasound?" tanya Mamori, berharap Hiruma mau ikut dengannya.

"Hn?" Hiruma melirik sesaat ke arahnya, "Besok?"

"Ya, besok, sekalian aku ingin memintamu untuk mengantarkanku mencari perlengkapan kamar untuk anak kita," jelas Mamori.

Hiruma terlihat berpikir beberapa saat, "Sepertinya tak bisa. Besok aku akan ada meeting dengan klien."

"O-oh… ya, sudahlah kalau begitu…" Mamori memaksakan dirinya untuk tersenyum.

"Bagaimana kalau aku meminta si chibi kuso atau si monyet sialan itu untuk menemanimu? Atau kalau mau aku akan meminta bodyguard untuk mengantarkanmu ke dokter. Aku takut akan terjadi sesuatu kalau kau pergi ke tengah kota sendirian," kata Hiruma pada Mamori, sambil mengambil sebatang permen karet dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Mamori hanya menggelengkan kepalanya, "Tak perlu. Aku bisa menjaga diri, kok. Baiklah, selamat malam," Mamori berjalan meninggalkan Hiruma. Telapak tangannya menutupi wajahnya, berusaha agar air matanya tidak berjatuhan.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Mamori-neesan? Sedang apa di sini?" tanya Sena pada Mamori, kebetulan Mamori bertemu dengan Sena, Suzuna, Monta, Musashi, 3 bersaudara, Kurita dan Komusubi.

"Ah, teman-teman. Aku baru saja ingin melakukan pemeriksaan ultrasound. Kalian sendiri sedang apa di sini?" Mamori berbalik bertanya.

"Kami baru saja selesai latihan amefuto," jawab Monta, meski ia masih patah hati Mamori telah menikah dengan Hiruma, tetapi ia masih terlihat ceria seperti biasanya.

"Oh," Mamori terdiam beberapa saat. Ia sudah agak jarang melihat dan mengawasi latihan tim Deimon, karena ia sibuk mengurusi kelahiran anaknya dalam beberapa minggu ke depan. Tetapi hatinya terasa tak enak saat ia melihat teman-temannya tersebut, "Ng, di mana Youichi? Apakah kalian bersamanya saat latihan tadi?"

"Ya, tetapi Hiruma langsung pergi. Katanya ia ada pertemuan penting di perusahaannya," sahut Kurita, "Memangnya ada apa?"

"Bukan apa-apa," kata Mamori sambil tersenyum, "Baiklah, aku duluan, ya semuanya."

"Eh! Tunggu Mamo-neesan! Boleh kami ikut?" tanya Suzuna. Mamori membalikkan badannya.

"Eh? Kalian ingin ikut?"

"Kalau Mamori-neesan mengijinkan. Lagipula, sebenarnya, sebelum Hiruma-senpai pergi, ia berpesan untuk menemani Mamori-neesan apabila bertemu dengan kami," jelas Sena.

"Yah, hari ini pun sepertinya akan sedikit membosankan. Jadi aku juga ikut saja," timpal Jumonji, diikuti dengan yang lainnya.

"Baiklah. Terima kasih semuanya!" Mamori merasa sedikit lebih baik karena pada akhirnya ada yang mau menemaninya, setidaknya, meski ia lebih memilih Hiruma yang menemainya.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Mamo-neesan! Bagaimana pemeriksaannya?" tanya Suzuna tidak sabaran begitu Mamori keluar dari ruang pemeriksaan. Yang lainnya, yang sedari tadi juga ikut menunggu Mamori melakukan pemeriksaan, juga terlihat penasaran tentang keadaan kandungan Mamori.

"Apakah bayinya sehat?" tanya Monta.

Mamori tersenyum seraya menganggukan kepalanya, "Iya, bayinya sehat. Placenta-nya dan tali pusarnya terletak pada tempat yang seharusnya, posisinya juga bagus. Tak ada masalah dengan detakan jantungnya meski aku harus tetap ekstra hati-hati dan tidak boleh sampai stress, karena dapat menyebabkan bayinya lahir prematur," jelas Mamori antusias, sambil memperlihatkan gambar bayinya yang lewat hasil pemeriksaan ultrasound.

Monta, 3 bersaudara dan Kurita yang baru pertama kali melihat gambar seperti itu Cuma bisa cengo memandangi gambarnya.

"Mamori-neesan, bayimu laki-laki atau perempuan?" tanya Sena masih penasaran.

"Perempuan," jawab Mamori, tersenyum.

"eh? Perempuan? Selamat kalau begitu, Mamo-neesan!" seru Suzuna senang, ia mengelus perut Mamori dengan lembut dan menerima beberapa tendangan kecil dari anak yang berada di perut Mamori, "Ah, dia menendang!"

"Benarkah? Aku mau coba!" Monta langsung ikut-ikutan Suzuna, meletakkan tangannya di atas perut Mamori, "Ah, benar. Baru pertama kali ini aku merasakannya," Monta terkekeh sedikit.

"Apa nanti anak mereka akan seperti Hiruma ya?" Kuroki merinding sendiri. Yang lainnya hanya tertawa mendengar ucapan Kuroki, meski mereka juga ikut merinding.

Mamori meletakkan telapak tangannya di atas perutnya, pikirannya jauh melayang tentang Hiruma.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Lagi-lagi di TV tersiar kabar tentang perselingkuhan Hiruma dengan seorang wanita asing yang merupakan klien kerjanya. Di TV, mereka berdua diberitakan terlihat sedang berduaan di sebuah restoran mewah. Mamori yang melihat berita tersebut, langsung memanas hatinya, apalagi di TV tertulis jelas judul beritanya 'Hiruma Youichi tertangkap kamera sedang berduaan dengan seorang wanita'. Apa mungkin Hiruma menolak permintaannya untuk mengantarkannya melakukan pemeriksaan ultrasound hanya karena ingin bersama wanita lain? Tetapi kenapa Hiruma sampai harus berbohong padanya? Air mata Mamori langsung menetes.

"Youichi bodoh," bisiknya.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi, Mamori langsung menghapus air matanya dan bergegas menuju pintu masuk dan membukanya, "Ya?"

Di depan pintu sudah berdiri Hiruma yang membawa sebuah bingkisan, di belakangnya juga terdapat beberapa pelayan yang sepertinya sedang membawa bingkisan berukuran besar, "Aku pulang istri sialan. Kekekeke."

Mamori tersenyum, "Selamat datang ke rumah, Youichi! Apa itu yang kau bawa?"

Hiruma menarik lengan Mamori hingga ke ruang duduk, "Aku membawakan sesuatu untukmu," ia menyuruh beberapa orang pelayannya mengangkut bingkisan berukuran besar, hampir sebesar sofa. Sedangkan Hiruma sendiri menyerahkan sesuatu pada Mamori sebuah bingkisan sedang yang ia bawa tadi, "Bukalah."

Mamori menarik pita besar yang melilit di sekitar bingkisan tersebut. Matanya terbelalak lebar ketika ia melihat apa yang ada di dalam bingkisan tersebut, sebuah boneka teddy bear berukuran besar, "I-ini... Yo-Youichi, kau serius?"

"Ya. Itu untuk anak kita," kata Hiruma memberitahu.

"Terima kasih, Youichi! Ini bagus sekali, pasti anak kita akan senang menerimanya," seru Mamori seraya memeluk Hiruma, lalu matanya beralih ke bingkisan besar lainnya, "Lalu, apa itu?"

"Bukalah sendiri," kata Hiruma. Mamori berjalan menuju bingkisan besar yang tertutupi oleh kain berukuran panjang, ketika ia membukanya, ia mendapati sebuah tempat tidur untuk bayi yang berukuran besar, berwarna putih dengan gambar teddy bear sebagai temanya. Mamori tersenyum bahagia, "I-ini indah sekali Youichi! Kau yang membelikan semuanya untuk anak kita?"

"Hn," Hiruma hanya menganggukkan kepalanya, "Lalu bagaimana pemeriksaannya?"

"Anak kita sehat," sahut Mamori, "Dan kau tahu... Kita punya anak perempuan!" seru Mamori.

Hiruma hanya tersenyum, diletakkan telapak tangannya di atas perut Mamori, dan ia bisa merasakan anaknya menendang-nendang lewat perut ibunya.

"Ng, Youichi..." panggil Mamori lembut, saat ia teringat dengan berita apa yang dilihatnya sebelum Hiruma pulang. Hiruma menoleh.

"Hm?"

"Siapa, gadis asing yang bersamamu di restoran tadi sore?" tanya Mamori, menggigit bibirnya.

Hiruma mengerutkan dahinya, "Apa kau tahu soal itu dari TV?" Mamori mengangguk pelan. Hiruma menghela nafas, "Tak perlu khawatir, dia itu adalah klienku. Aku tak mungkin benar-benar selingkuh dengannya. Lagipula, kami hanya sebatas teman kerja. Dan klien sialan itu juga, dia sudah mempunyai keluarga," kata Hiruma menjelaskan, berusaha meyakinkan istrinya, "Lalu, kau menanyakan hal itu karena kau cemburu, istri sialan?" goda Hiruma.

Mamori memerah, "Bu-bukan seperti itu! a-aku kan hanya bertanya padamu!"

"Lalu, apa kau mempercayaiku? Percaya bahwa aku tak mungkin berselingkuh di belakangmu, huh, istri sialan?" tanya Hiruma, tersenyum pada Mamori.

"Uhm," Mamori hanya mengangguk pelan, lalu tertawa, diikuti oleh tawa Hiruma.

Suara tawa mereka berdua terdengar di sekitar apartemen hingga tengah malam menjelang.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

36 minggu, Mamori semakin mendekati hari persalinannya. Sebenarnya, semakin mendekati hari persalinannya, Mamori ingin Hiruma terus berada di sampingnya. Tetapi karena akhir-akhir ini Hiruma akan menjalani ujian di sekolahnya sekaligus harus mengurus perusahaannya, ia hampir tak sempat menemani Mamori. Seminggu sekali ia hanya pulang 5 kali. Mamori ingin sekali suaminya ada di sampingnya apabila ia bersalin nanti, tetapi ia tak mungkin memaksakan perasaannya. Ia tahu, Hiruma jarang pulang ke rumah adalah karena ia harus berusaha membanting tulang untuk menghidupi keluarga barunya. Naasnya, di tengah Mamori hamil tua, musim salju sedang melanda.

Dan yang tahu akan permasalahan Mamori dan Hiruma hanyalah Sena, Suzuna, Monta, Musashi, dan Kurita. Mereka cukup bersimpati akan keadaan Mamori dan Hiruma sekarang ini, apalagi mereka tahu bahwa Hiruma dan Mamori menikah di waktu yang seharusnya mereka masih melanjutkan penididikan.

Karena itu, Sena mengajak seluruh anggota tim Deimon dan Mamori untuk berjalan-jalan ke taman bermain di tengah kota. Dengan ini, Sena berharap dengan mengajak Mamori berjalan-jalan untuk refreshing bisa menyegarkan pikiran Mamori dari segala pikiran stres yang mengganggunya. Dan awalnya Sena juga ingin mengajak Hiruma, tetapi ia tahu Hiruma tak akan mungkin bisa datang karena akhir-akhir ini ia harus mengurusi perusahaannya.

"Mamo-neesan, bagaimana keadaanmu? Sudah merasa baikan?" tanya Suzuna saat ia bersama anggota tim Deimon lainnya sedang naik bus dalam perjalanan menuju taman bermain.

"Ya. Punggungku terasa sedikit sakit, tapi tak apa," kata Mamori berusaha meyakinkan.

"Kalau Mamori-neesan merasa kurang baikan mungkin lebih baik kita kembali saja," saran Sena, agak merasa khawatir dengan keadaan Mamori.

Mamori menggeleng, "Tak perlu. Lagi pula sudah lama aku tak bermain ke taman bermain untuk bersenang-senang. Seandainya juga Youichi ada di sini," Mamori mengarahkan pandangannya ke luar jendela.

"Max! Tak apa, kami pasti bisa membuatmu senang, meski Hiruma-senpai tak ada! Lagi pula, kenapa Hiruma-senpai selalu saja sibuk dengan urusan pekerjaannya dan mengabaikan ke-" Sena langsung menutup mulut Monta dengan telapak tangannya, takut Mamori akan semakin merasa tertekan dengan perkataan Monta.

Mamori hanya tersenyum melihat kelakuan keduanya, "Sudahlah. Tak apa, Youichi memang sedang sibuk akhir-akhir ini. Aku bisa mengerti. Untung saja Natal masih seminggu lagi."

Suasana pembicaraan jadi terasa canggung. Untungnya beberapa menit kemudian mereka sampai di taman bermain.

"Ah, akhirnya kita sampai juga!" seru Kuroki begitu sesampainya di taman bermain.

"Wah! Ada coklat panaasss!" tanpa ragu Kurita dan Komusubi langsung menerjang seorang penjual coklat panas di depan pintu masuk.

"Aku mau ke toilet," kata Togano, yang dari tadi tampaknya sedang berusaha menahan buang air kecil. Kuroki dan Jumonji mengekornya dari belakang.

"Wah, ada pisang, max~!" seru Monta, ia langsung menghambur ke sebuah kandang monyet yang dipenuhi dengan pisang.

"Eh... ng, anu, sebaiknya kita jangan berpencar-pencar seperti ini... eh..." Sena yang belum sempat mengingatkan teman-temannya hanya bisa gelagapan. Ia menoleh ke arah Mamori.

"Sudahlah, tak apa Sena. Sudah saatnya sekarang kita bersenang-senang kalau sudah sampai di sini," kata Mamori sambil tersenyum.

Kemudian Mamori mengajak Sena dan yang lainnya untuk berjalan-jalan di sekitar akuarium, menikmati pemandangan air. Lalu mereka pergi ke museum robot, rumah kaca, dan beberapa tempat lainnya. Karena Mamori sedang hamil tua, ia terpaksa harus menunggu di kursi panjang sementara teman-temannya yang lain bermain dan menikmati berbagai macam wahana permainan. Saat Mamori tengah duduk di atas kursi, menunggu teman-temannya selesai bermain roller coaster, ia merasa bagian belakang punggungnya terasa sangat sakit, dan ia mulai merasakan bagian perut dan bawah perutnya terasa nyeri.

Mamori bergindik, mungkin anaknya hanya sedang menendangnya saja. Tetapi beberapa menit kemudian, rasa sakit itu bertambah parah. Mamori langsung panik, mungkinkah ini saatnya? Tetapi ia belum mencapai 40 minggu! Ini terlalu cepat. Nafasnya pun mulai terasa berat.

"Mamori-neesan?" panggil Monta, mengejutkannya, "Kau kenapa? Wajahmu terlihat pucat... kau kelelahan, ya?"

Mamori menggeleng, "Se-sepertinya bukan..." tiba-tiba saja, Mamori merasa ada cairan yang mengalir dari selangkangannya. Saat ia menyadari bahwa itu adalah air ketubannya, Monta, Sena, Suzuna, Kurita dan Yukimitsu yang kebetulan sedang berada di sana langsung panik.

"HAH? MAMORI-NEESAN?" seru Sena panik, ia berlari menerjang Mamori yang sedang terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa.

"A-apa ini sudah waktunya?" Suzuna pun segera mengambil ponselnya dan menelepon nomor telepon rumah sakit.

3 bersaudara, Komusubi, Ishimaru, Taki dan Musashi yang pada saat itu baru saja datang sehabis jalan-jalan sebentar, memasanga wajah bingung.

"Ada apa dengan Mamori?" tanya Jumonji pada Sena.

"Ma-Mamori-neesan... i-ia hendak melahirkan!" sahut Monta, saat Sena hendak menjawab pertanyaan Jumonji.

"Hah? Kontraksi?"

Dan dalam sekejap, suasana di taman bermain pun mendadak heboh.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Hiruma beralih dari layar komputernya ke telepon genggamnya. Ia mengernyit sebentar, lalu tanpa basa-basi lagi ia langsung mengangkat teleponnya.

"Hi-Hiruma!" dari ujung telepon terdengar suara Kurita, terdengar begitu panik.

Hiruma kembali mengernyit, "Hn, ada apa gendut?" tanya Hiruma.

"Ma-Mamori! Saat kami di taman bermain tadi, tiba-tiba saja air ketubannya pecah! Ia hendak melahirkan, dan sekarang kami semua ada di rumah sakit di dekat taman bermain! Cepatlah datang Hiruma! Hwaaa!"

Tanpa basa-basi lagi, Hiruma mematikan ponselnya dan berlari menerjang keluar dari ruang kerjanya, sambil terburu-buru. Asistennya yang melihat hal itu buru-buru menghentikannya.

"Anda mau ke mana? Setelah ini Anda harus menghadiri rapat penting!"

"Bukan urusanku asisten sialan! Sekarang ada hal yang lebih penting yang tak boleh aku lewatkan!" dan Hiruma bergegas masuk ke dalam mobilnya, berjalan menuju rumah sakit yang dimaksud.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Di mana dia sekarang?" tanya Hiruma tak sabaran sesampainya ia di rumah sakit.

"Sabarlah Hiruma. Sekarang ia sedang ada bersama dokter. Dan sekarang hampir 1 jam lewat 17 menit..." kata Musashi sambil melirik jam arloji di tangannya.

"Mamo-neesan terlalu cepat... bukannya ia baru mengandung selama 35 minggu?" Suzuna tak bisa menahan air matanya.

Tiba-tiba datang dokter yang bertugas menangani persalinan Mamori, "Maaf. Di antara kalian semua adakah yang merupakan suami dari Nona Hiruma Mamori?"

Hiruma berjalan menuju sang dokter, "Aku orangnya. Sekarang cepat katakan bagaimana keadaannya?"

"Ehm, sekarang yang lebih penting Anda harus masuk dulu ke ruang operasi," Hiruma berjalan mengikuti sang dokter, sedangkan yang lainnya menunggu kabar selanjutnya di ruang tunggu.

Sesampainya di tempat yang dimaksud, Hiruma mendapati Mamori sedang terbaring di atas ranjang yang telah disediakan. Bisa dilihat pula banyak darah berceceran di sekitarnya, pemandangan yang cukup membuat orang biasa ketakutan. Hiruma segera berlari menuju istrinya, "Bagaimana keadaanmu?" tanya Hiruma cemas, meski wajahnya terlihat biasa saja.

"B-buruk... beberapa saat lalu, kontraksinya sudah mulai! Sekarang, cepat bantu aku!" Mamori meraih tangan Hiruma dan menekannya.

"Hn, tenanglah. Sekarang aku sudah berada di sini, istri sialan," kata Hiruma.

Sang dokter memberi aba-aba pada Mamori untuk mendorong bayinya keluar, sementara Mamori menekan tangan Hiruma saat ia berusaha mendorong. Teriakan kesakitan Mamori bergema di sepanjang ruangan hingga sampai ke lorong utama rumah sakit. Sena dan yang lainnya yang pada saat itu sedang berada di ruang tunggu pun dapat mendengar teriakan Mamori. Bahkan Monta sampai pingsan mendengarnya. Hiruma yang melihat Mamori bersusah payah seperti itu, hanya bisa memberikan dukungan lewat bisikan halus ke telinga Mamori. Cukup lama Mamori berjuang, akhirnya anaknya berhasil keluar. Hiruma dan Mamori akhirnya bisa merasa senang juga, karena pada akhirnya, anak yang telah lama mereka tunggu lahir ke dunia.

Sang dokter yang membawa bayi Mamori, juga terlihat bersuka cita, "Perempuan! Selamat, Anda mendapatkan seo-" tetapi, belum sempat sang dokter melanjutkan, ia langsung terdiam, wajahnya terlihat panik.

Hiruma yang pada awalnya merasa bahagia karena akhirnya anaknya lahir, langsung heran, merasa ada sesuatu yang tak beres, "Hei, botak! Cepat katakan! Apa yang terjadi? Apa anakku baik-baik saja?" tanya Hiruma pada sang dokter, tak sabaran.

Mamori yang merasa sangat kelelahan juga mulai merasa cemas, "Kenapa? Kenapa anakku tak menagis? Apa ada yang salah? Bukankah seharusnya anak yang baru lahir itu menangis? Tapi... kenapa?"

Sang dokter menarik nafas, penuh penyesalahn. Sambil menggigit bibirnya, ia berkata, "Maaf. Anak kalian... Ia... sudah tak bernafas."

Mamori dan Hiruma terdiam beberapa saat. Tetapi kemudian, Mamori mulai menangis, "Ta-tak mungkin... ini tak mungkin..." dan tangisnya pun memecah keheningan di ruangan tersebut.

"Ia sudah tak bernafas?" Hiruma terlihat tak percaya.

Sang dokter bergidik ngeri. Tetapi matanya terlihat fokus menatap jasad anak Hiruma dan Mamori, seolah menyadari sesuatu, "Y-ya, karena tali pusarnya melilit lehernya... Sekarang, cepat ambilkan aku gunting! Kita harus cepat memotongnya! Jika tidak ia bisa meninggal kehabisan nafas!"

Hiruma yang pada saat itu sedang berusaha menenangkan tangisan Mamori, hanya melihat anaknya yang baru lahir dengan pandangan kosong. Ia tak mau kalau sampai anaknya meninggal. Dan baru saja Hiruma menyadari, bahwa ia sudah bersikap tak peduli pada keluarganya. Beberapa saat sang dokter berusaha memutuskan tali pusar sang bayi, terdengar suara tangisan kecil dari sang bayi. Mamori yang mendengarnya sesenggukan.

"I-itu?"

"Anak kita belum mati, lehernya terlilit oleh tali pusar," jelas Hiruma.

Sang dokter yang telah menyelesaikan tugasnya, segera membawa bayi perempuan itu ke pada orang tuanya. Mamori dengan perasaan bahagia dan terharu karena anaknya ternyata masih hidup, ia menciumi anaknya yang masih merah. Suara tangisannya bercampur dengan suara tangisan anaknya. Melihat pemandangan itu, Hiruma memeluk keduanya.

"Maaf..." bisik Hiruma.

"E-eh?" Mamori menatap Hiruma dengan tatapan tak percaya, baru kali ini ia mendengar Hiruma meminta maaf padanya.

"Seharusnya, aku tak meninggalkanmu. Kalau anak kita sampai mati, itu adalah kesalahanku," kata Hiruma.

Mamori kembali meneteskan air mata, "Aku memaafkanmu, Youichi..."

Tak berselang lama kemudian, terdengar suara keributan dari ruang tunggu.

"Hei! Kalian tak boleh masuk!"

"Biarkan kami masuk! Kami hanya ingin memastikan keadaan!"

Tiba-tiba dari arah pintu masuk, muncul Sena dan yang lainnya. Wajah mereka terlihat cemas.

"Mamori-neesan! Bagaimana keadaanmu? Apakah bayinya selamat?" tanya Suzuna, begitu ia masuk ke dalam ruangan bersalin.

Mamori menyeka air matanya, "Ya. Ia lahir terlalu cepat dari pada yang diprediksikan dokter... tapi... ia selamat..."

Monta, 3 bersaudara, Kurita, Komusubi, Sena, dan Kurita menghampiri Mamori, ingin melihat anaknya.

"Hmm, rambutnya berwarna hitam, ya... kira-kira kalau sudah besar nanti ia mirip siapa, ya?" tanya Monta.

"Itu bukanlah masalah yang penting, Monta!" kata Suzuna, menyikut Monta. Sena buru-buru melerai keduanya dengan mengatakan bahwa sebaiknya mereka tak ribut di dalam ruangan.

"Lalu, kalian memberinya nama siapa?" Sena menatap Hiruma dan Mamori secara bergantian.

Mamori dan Hiruma saling berpandangan. Lalu keduanya tersenyum.

"Hiyori. Hiruma Hiyori."

A/N: Yah, seperti yang kalian tahu, anak Hiruma dan Mamori lahir pada tanggal 18 Desember, seminggu sebelum Natal. Dan nama Hiyori saya dapatkan dari saran seorang readers (karena authornya sendiri juga buntu dalam memikirkan nama). Kalau begitu, langsung lanjut ke epiloguenya sajalah... hahaha...