IF ACTING BECAME REAL
.
Cast
Yunjae YooSuMin
.
Genre
Romance, Humour, duh apalagi ya…nanti lah dicari tahu sendiri di cerita ya…masih bingung…ehehhehehe.
.
.
.
Hai..hai…hai….Maxy beraksi lagi…..^^
Hug n Deep bow untuk teman-temanku yang uda bersedia review.
riska0122, YunHolic, aoi ao, Choi Hyun Gi, park yooki, Kyungie Jae, meirah.1111, oom komariah.921, Vic89, nndainsaniy, nope6002, dhian930715ELF, vampireyunjae, kurryoidiamond, KJhwang, Himawari Ezuki, Angel Muaffi, Cubbyloverz, insun taeby, manize83, Lady Ze, Taeripark, Uchiha Tachi'4'Sora, simijewels, FiAndYJ, Chris1004, JungJaema, , magnaeris, shifafauziah356, Dipa Woon, RunaPandaKim, kyoarashi57, Kim Eun Seob, aiueo4, ChaaChulie247, exolfia, BunnyPoro, 7D, Diani Shim, giaoneesan, Chie Na OrangeL, KRie, aISiTi, ajid yunjae, YJS nyasar, merry jung, BooBear, jema agassi, AnieJOY'ERS, Shim shia, Mei, Jung Yongki, Juuunchan, min, adindapranatha, Ryukey, MaghT, Hyeri Song, Princess yunjae, Anakjaema, JungSooAh, Dennis Park, Anayanti, Naritha, NaraYuuki, Haemin, dianaes, dee, Zhu Rizhu, Kim Hyo Min, Casshipper Jung, boochang, aiueo4 dan para 'guest'..
Untuk para guest yang di part kemarin yang gak kesebut, mianhe… padahal setelah koma yang terakhir itu ada kata guest lho, tapi kenapa pas aku upload kok ilang? Hmmm..entahlah maxy juga bingung kenapa bisa begitu..ehehehe.
Yuk langsung aja…
Warning : ada adegan kissu-kissunya, bagi yang puasa maxy menyarankan untuk dibaca setelah berbuka.. #mianhe..^^
Jangan lupa bacanya pelan-pelan aje ye…^^
Happy reading all… review please (ijinkan maxy mengetahui apa yang ada dipikiran teman-teman mengenai part inii..^^)
Love u all…
Chu…~~~
.
.
Preview
"Hyung, apa yang hyung lakukan disini?" tanya Yunho setelah ia melepaskan pelukannya.
Jaejoong tiba-tiba bingung dengan apa yang ingin ia bicarakan, ia kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal, Yunho masih memandang penuh tanya ke arah Jaejoong.
"Itu…sebenarnya…aku… ingin mengajakmu menemui appa" ucap Jaejoong hati-hati
Bagai melihat oase di tengah gurun, Yunho mengembangkan senyumnya dengan lebar setelah mendengar ucapan Jaejoong.
"Benarkah hyung? Apa kau …..?"
"Aku akan menjelaskannya nanti…" potong Jaejoong sambil memberikan senyuman.
Yunho memeluk kembali Jaejoong, ia sangat senang. Apakah ini suatu kesempatan baginya?
Yunho tersenyum, Jaejoong tersenyum, dan Boa yang melihat pemandangan ini juga ikut tersenyum. 'Baru saja aku memulainya, apakah aku benar-benar harus menyerah Yun?' ucap Boa dalam hati sambil memandang dua namja yang sedang berpelukan didepannya.
.
.
Part 9
.
.
"Jadi kau yang bernama Jung Yunho" tanya Mr. Kim sambil memandang tajam ke arah Yunho. Mereka sedang berada di taman belakang rumah, duduk di kursi yang menghadap sebuah kolam ikan. Hanya mereka berdua.
"Ne.." ucap Yunho sambil sedikit menunduk. Yunho terlihat sangat tenang, tapi tak bisa dipungkiri kalau jantungnya juga tengah berdegup kencang. Ia menggenggam tangannya untuk mengurangi kegugupannya.
"Jadi apa hubunganmu dengan putraku?" tanya Mr. Kim dengan sangat tenang.
Yunho sedikit terkejut dengan pertanyaan Mr. Kim. Ia sempat bingung mengenai jawaban apa yang akan dia berikan, mengingat beberapa minggu ini hubungannya dengan Jaejoong sedang dalam masalah. Dan sejak bertemu dengan Jaejoong tadi di café, Jaejoong belum menceritakan apapun kepadanya, Jaejoong hanya mengatakan bahwa Mr. Kim ingin bertemu dengannya. Bagaimana ini? apa yang harus aku katakan? Bagaimana dengan pertunangan Jaejoong dengan Hae Rim? Yunho terdiam, bingung tentang apa yag harus ia katakan.
"Kau tak mau menjawab pertanyaanku?"
"Anni..bukan begitu maksudku, hanya saja…." Yunho menghentikan ucapannya, ia langsung berdiri dan membungkuk ke arah Mr. Kim, "Mianhe Kim Ahjussi.. Saya mencintai putra anda, Kim Jaejoong" Yunho masih terus membungkuk, menunggu respon dari Mr. Kim.
Mr. Kim masih terdiam, ia tak mengatakan sepatah katapun. Sedangkan Yunho masih terus membungkuk. Merasa Mr. Kim masih belum memberikan respon, Yunho mencoba berbicara lagi, "Mohon restuilah hubungan kami, saya sangat mencintai putra anda… saya berjanji akan membuatnya bahagia"
Mr. Kim masih terdiam, memperhatikan Yunho.
"Aku mohon Kim Ahjussi…Mohon restuilah kami" ucap Yunho sekali lagi
"Sampai kapan kau seperti itu" ucap Mr. Kim akhirnya.
"Ahjussi… Restuilah kami, aku mohon" Yunho tak menyerah, mencoba meminta restu
"Duduklah dulu"
Yunho kemudian duduk kembali, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan meminta restu kepada Mr. Kim, karena ia benar-benar tak bisa jika harus tanpa Kim Jaejoong.
"Yunho.."
"Ne ahjussi"
"Kau tahu bahwa Jaejoong adalah putra yang sangat aku banggakan."
"Ne" ucap Yunho sambil mengangguk
"Aku sudah tua, tak banyak yang aku inginkan…"
Yunho memandang Mr. Kim, mendengarkan ucapannya dengan seksama. Mr. Kim masih diam, matanya memandang jauh kedepan.
"Aku hanya ingin melihatnya bahagia, mempunyai keluarga bahagia yang mampu memberinya semangat, mempunyai orang yang bisa diajak berbagi baik dalam suka maupun duka, memberikanku cucu yang lucu"
Yunho mengangguk, mendengar ucapan Mr. Kim, membuat Yunho berfikir, 'apakah Mr. Kim memintaku untuk melepaskan Jaejoong? Membiarkan Jaejoong membentuk keluarga dengan Hae Rim? Memberinya cucu? Meminta secara halus untuk tidak mengganggu Jaejoong lagi? Oh God… Aku benar-benar tidak siap dan tidak akan mampu melupakan Jaejoong' ucap Yunho dalam hati. Ia hanya bisa memandang sayu ke arah Mr. Kim yang masih memandang jauh kedepan.
"Aku ingin ada seseorang yang mendengarkan keluh kesahnya, menghiburnya ketika sedih, mendukungnya ketika dalam masalah, mengobati kegelisahannya, menenangkan hatinya, membuatnya tersenyum… aku sudah tua, dan aku takut, aku tidak akan bisa melihatnya menggapai itu semua.. aku hanya ingin melihatnya bahagia sebelum aku meninggal nanti… Aku rasa ini adalah keinginan yang wajar dari setiap orangtua. Apa kau juga berpikir demikian?" Mr. Kim berhenti berbicara, ia menoleh ke arah Yunho yang sedang menatap kearahnya, mata mereka saling bertemu.
"Ne.." ucap Yunho lemah dan mencoba tersenyum. 'Itu memang keinginan yang sangat wajar bagi setiap orang tua. Melihat anaknya bahagia, memiliki keluarga, dan memberikannya cucu. Semua itu wajar, sangat sangat wajar. Lalu haruskah ia melepaskan Jaejoong? merelakannya dengan yang lain?' batin Yunho sambil memandang Mr. Kim yang memandang kedepan lagi, perasaannya kembali sesak.
Keduanya diam…
Banyak sekali hal yang keduanya pikirkan.
"Tadi kau mengatakan bahwa kau mencintai Jaejoong?" tanya Mr. Kim memecah keheningan.
"Ne ahjussi…aku mencintainya..sangat mencintainya" Jawab Yunho dengan suara yang pelan tapi sangat yakin.
"Apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan bahwa kau benar mencintainya?"
Yunho terdiam sejenak, sebenarnya ia agak bingung dengan arah pembicaraan ini. Tadi ia merasa Mr. Kim secara halus memintanya menjauhi Jaejoong, tapi sekarang Mr. Kim malah bertanya seperti itu? Ini benar-benar membingungkan.
Mr. Kim masih memandang Yunho, menunggu jawaban yang akan Yunho berikan.
Yunho berbicara dengan sangat hati-hati, "Ahjussi… Aku yakin, aku bisa membuat Jaejoong bahagia, aku sangat mencintainya dan aku rasa Jaejoong juga merasakan hal yang sama. Kami akan bahagia dan aku akan terus berusaha membuatnya bahagia, selalu menemaninya, berbagi bersamanya, membuatnya tersenyum, menjadi sandarannya, dan aku akan melindunginya. Namun…" Yunho berhenti sejenak, kalimat yang akan diucapkannya membuatnya tiba-tiba sulit bernafas.
"Ahjussi, mianhe…" ucap Yunho lirih.. "Mianhe jika ada satu hal yang tak bisa aku berikan kepadanya, tak bisa membuatnya mewujudkan salah satu impian ahjussi, aku…. Aku tak akan bisa memberikan cucu seperti yang ahjussi inginkan.." Yunho sedikit terbata menyelesaikan kalimatnya, ia kemudian menunduk, ini kenyataan yang sangat menyesakkan.
Mr. Kim masih diam memandang Yunho. Ia memandang wajah Yunho dan terlihat ada gurat kesedihan disana. Apa yang dikatakan Yunho memang benar, Yunho dan Jaejoong tidak akan mampu memberikannya seorang cucu, tidak jika harus dari darah daging putranya sendiri, namun masih ada kemungkinan jika mereka ingin mengadopsi.
Mr. Kim, juga sedang berperang dengan batinnya sendiri. Disatu sisi ia tahu kenyataan ini, disisi lain ia ingin melihat Jaejoong bahagia. Mr. Kim benar-benar sedang mencoba mencari jalan yang terbaik. Ia tak ingin salah dalam mengambil keputusan.
"Ahjussi.. ijinkan aku bersama putra anda… Aku mohon…" pinta Yunho sekali lagi dengan sangat.
Mr. Kim kemudian tesenyum mendengar ucapan Yunho. "Kau tahu bahwa aku akan menikahkan Jaejoong dengan salah satu putri sahabatku?"
Pertanyaan Mr. Kim membuat Yunho tersentak dan kaget, ia sangat tahu bahwa Jaejoong akan menikah. Lalu apa arti pertemuan ini, apakah benar ia harus meninggalkan Jaejoong? ini tak boleh terjadi.
"Ahjussi, tolong jangan lakukan itu.. tolong berikan kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa membahagiakannya... ijinkan saya bersama Jaejoong" Ucap Yunho dengan berani sambil berdiri dan kemudian membungkuk ke arah Mr. Kim, mata Yunho sudah berkaca-kaca. Ia benar-benar sangat memohon sekarang.
Melihat tingkah dan mendengar ucapan Yunho, Mr. Kim kemudian tersenyum.
"Kau ternyata keras kepala sekali" ucap Mr. Kim sambil tertawa kecil.
Yunho terdiam melihat Mr. Jung. Bingung.
"Yunho, dengarkan… aku tidak akan banyak bicara." Ucap Mr. Kim tenang, kemudian ia menghembuskan nafas beratnya, ia sudah mengambil keputusan sekarang.
"Aku memang akan menikahkan Jaejoong dengan putri sahabatku, tapi itu sebelum aku tahu bahwa dia telah menyukai orang lain. Sudah cukup bagiku untuk melihatnya seperti mayat hidup selama hampir satu bulan ini. Aku hanya ingin dia bahagia. Aku harap aku bisa mengandalkanmu.. buatlah dia bahagia, dan jangan kecewakan kepercayaanku" ucap Mr. Kim sambil menepuk bahu Yunho yang sedari tadi masih setia membungkuk didepannya.
Yunho masih mencerna kalimat yang baru didengarnya. Ia memandang Mr. Kim dengan wajah bingung.
Melihat ekspresi Yunho, Mr. Kim tersenyum, "Dan berhentilah memanggilku ahjussi, bukankah kau sekarang juga anakku?"
Butuh beberapa detik bagi Yunho untuk mencerna semua kalimat Mr. Kim yang baru didengarnya. Setelah ia mengerti, senyum langsung mengembang dari mulutnya, dan dengan segera ia langsung membungkuk berulangkali. "Gamsahamnida ahjussi…ah..gamsahamnida… ap-pa …" ucap Yunho lemah di kata terakhir, ia masih ragu, apakah tidak apa-apa memanggil Mr. Kim seperti itu.
Mr. Kim kemudian berdiri, "kemarilah" ucap Mr. Kim sambil merentangkan kedua tangannya. Yunho sedikit ragu, tapi akhirnya ia mendekati Mr. Kim dan memeluknya. Mr. Kim menepuk punggung Yunho. "Bahagiakan putraku, aku percaya padamu"
"Pasti appa, aku berjanji" ucap Yunho yakin sambil tersenyum.
"Kau pria yang baik, tampan dan memiliki badan yang bagus… berada dipelukanmu sangat nyaman sekali. Pantas saja, Jaejoong begitu menyukaimu" ucap Mr. Kim menggoda setelah ia melepaskan pelukan Yunho.
Yunho hanya bisa tertunduk malu mendengar ucapan Mr. Kim.
Mr. Kim memang sedang berusaha menerima kenyataan bahwa memang putranya hanya bisa bahagia bersama Yunho. Kebahagiaan putranya merupakan kebahagaiaannya juga. Mempercayai Yunho bukan suatu hal yang salah, bukankah Yunho orang yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan? setidaknya seperti itu penilaian yang ada di benak Mr. Kim mengenai Yunho. Ia yakin putranya tidak akan sembarangan memilih pasangan, dan ia yakin keputusannya merupakan keputusan yang tepat. Dan tugasnya sekarang adalah mencoba lebih dekat lagi dengan Yunho, pilihan putranya dan yang direstuinya.
"Kajja kita masuk, aku tak ingin membuat putraku itu marah kepadaku karena terlalu lama menunggu."
Yunhopun mengangguk dan berjalan disamping Mr. Kim.
"Kau tahu, Jaejoong itu tak banyak bicara, tapi terkadang dia bisa jadi sangat cerewet.. dia terlihat dingin, tapi sebenarnya dia sangat peduli.."
Yunho tersenyum dan mengangguk, menyetujui ucapan Mr. Kim karena ia juga tahu akan hal itu. Mereka berdua ngobrol sepanjang perjalanan menuju ruang keluarga dan sesekali tertawa.
.
.
Junsu, Changmin dan Yoochun tengah berkumpul di ruangan Changmin. Junsu berangkat pagi-pagi sekali setelah menelpon Changmin, berjarak kurang dari 1 jam dari keberangkatan Jaejoong. Sedangkan Yoochun, setelah bertemu dengan Jaejoong, ia langsung menghubungi Junsu dan menyusul ke kantor Changmin setelah mengetahui ia akan kesana. Akhirnya Changmin mengetahui permasalahan diantara Yunho dan Jaejoong. Yoochunpun akhirnya juga mengetahui alasan kenapa Jaejoong tiba-tiba muncul di apartemen dan mencari Yunho tadi pagi.
"Tapi apa benar semua sudah beres?" Tanya Changmin sambil menyesap Cappucinonya.
"mmm…" angguk Junsu, "Appa sudah memberikan restunya…" lanjut Junsu
"Syukurlah kalau begitu, aku tak tega melihat Yunho hyung seperti itu terus-terusan" ucap Yoochun lega
"Aku juga seperti itu, Jaejoong hyung juga terlihat seperti mayat hidup. Ia sangat jarang bicara, sering melamun, sering kali aku melihat matanya sembab. Jae hyung memang bukan orang yang begitu banyak bicara, tapi melihatnya tak mengeluarkan sepatah katapun juga aneh. Bahkan aku pernah melihatnya berteriak frustasi di taman bermain. Aku benar-benar tak tega melihatnya." Ucap Junsu sambil menghembuskan nafas beratnya.
"Apa perasaan mereka sudah sedalam itu? Mengingat mereka baru bertemu sekitar 3 bulan yang lalu." gumam Changmin.
"Yunho hyung sudah menyukai Jae hyung bahkan sebelum masuk di intertainment. Itulah mengapa dia berusaha mendapatkan Jae hyung dan menjadi seperti itu ketika tahu Jae hyung akan dinikahkan dengan orang lain" ucap Yoochun sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
"Awalnya aku juga masih meragukan perasaan diantara keduanya, namun setelah melihat ketika mereka berpisah kemarin, aku jadi merasa ada hal yang memang membuat Jae hyung dan Yunho hyung saling cocok satu sama lain. Aku rasa perasaan mereka miliki sudah berada pada tahap hubungan yang serius" ucap Junsu menganalisis.
"Ada hal yang terkadang tidak bisa kita nalar" gumam Changmin.
Ketiganya kemudian terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing, entah apa yang sedang mereka pikirkan.
.
.
"Berarti shooting sudah bisa segera dimulai lagi?" keheningan pecah dengan pertanyaan Changmin yang tiba-tiba
"Sepertinya begitu" sahut Yoochun.
"Akhirnya pengorbananku tidak sia-sia. Hanya demi mereka aku rela menunda shooting, aku tidak akan sembarangan memproduksi film, aku ingin filmku benar-benar mampu mengajak penonton merasakan feel yang ingin aku sampaikan, kalau pemainnya saja tak konsentrasi, aku yakin film akan diproduksi dengan sia-sia. Capek pasti tapi bagus belum tentu" jelas Changmin panjang lebar.
Ucapan Changmin mendapat anggukan dari Yoochun dan Junsu.
Pemikiran Changmin memang benar, jika pemain sudah tak berkonsentrasi maka mau tidak mau akan berdampak kedalam acting mereka. Mereka akan melakukan banyak kesalahan seperti pada shooting yang terakhir kemarin, bukan hanya actor yang capek, tapi para kru dan staf yang lain juga akan capek dan membuang banyak waktu dan dengan hasil yang belum dijamin bagus. Oleh karena itu, Changmin sengaja memberikan waktu kepada Yunho dan Jaejoong untuk menyelesaikan permasalahan. Keputusan Changmin sangat mutlak, jelas, semua tahu siapa dan dimana posisi Changmin.
Sebenarnya Changmin tidak mengambil keputusan begitu saja, ia juga sudah punya alternatif, karena ia juga memiliki batas maksimal untuk menunggu. Ia santai tapi juga ter-planning. Ia tak ingin keputusannya memberikan tenggang waktu untuk menyelesaikan masalah justru akan membuatnya bermasalah. Ia harus memiliki planning kedepan jika masalah ini telah selesai tanpa melebihi batas yang ia tentukan, namun jika masalah ini tidak kunjung selesai, maka ia harus segera mengambil keputusan antara mengganti aktor atau menghentikan film.
Dan ternyata masalah ini sekarang sudah selesai, satu minggu sebelum batas yang di perkirakan Changmin. Jadi ia tidak perlu repot mencari pemain baru ataupun menghentikan pembuatan film. Dan yang menjadi tugas semuanya mulai saat ini adalah bekerja keras untuk mengganti kevakuman mereka selama satu bulan ini. Shooting akan semakin intensif, mengingat Changmin juga ingin menyelesaikan film sebelum pendaftaraan kontes film internasional mulai diadakan dan itu sekitar 9 bulan lagi, sedangkan target Changmin, film sekaligus pengeditannya akan selesai sekitar 3-4 bulan lagi. Jika Changmin segera bisa menyelesaikan dan merilis film tersebut sesuai target, maka ia akan segera mendaftarkan film ini ke acara bergengsi tersebut. Oleh karena itu, ia sangat menginginkan keromantisan dan semua emosi yang ia coba sampaikan melalui film dapat tersampaikan dengan baik. Jika respon penonton baik, maka bukan hal yang tak mungkin jika ia akan menyabet penghargaan lagi. Dan untuk film yang sedang digarapnya ini? mangsa pasarnya adalah kawasan Eropa.
Bagi Changmin, film adalah jiwanya. Jika ia mau, sebenarnya ia bisa meneruskan perusahaan ayahnya yang bekerja di bidang properti dan berlian. Cabang perusahaannyapun sudah ada diberbagai negara maju dengan omset yang sangat fantastis. Hanya saja baginya, itu bukan apa yang diinginkannya dan bukan menjadi passionnya. Oleh karena itu, ia mencoba menyalurkan hobi dan bakatnya membuat film tentunya yang sesuai instingnya. Berbeda dengan film yang ada dipasaran tak masalah, karena ia yakin, pasar akan mengikuti gayanya. Changmin memang sangat optimis, ia tak ragu mengeluarkan biaya yang sangat fantastis hanya untuk sebuah film, karena selama ini prediksinya selalu tepat, ia mengeluarkan biaya banyak untuk filmnya, memproduksi dan mensutradarai sendiri agar film sesuai dengan apa yang diinginkannya. Tentunya semua itu dibantu dengan kru dan staf yang berkompeten, sesuai kriteria dan sudah sangat mengerti kepribadian Changmin dan bagaimana dengan hasilnya…banyak penghargaan yang diperolehnya baik dalam maupun luar negeri sehingga hasil yang didapatkannya jauh lebih banyak dari biaya yang dikeluarkannya.. Hebat bukan? Begitulah Changmin. Sense-nya akan film tak perlu diragukan lagi meski usianya masih terbilang sangat muda.
.
.
"Kita bisa memulai shooting 2 hari lagi.. apa kalian ada saran?" ucap Changmin antusias.
"Aku setuju degan usulmu, aku rasa Yunho hyung juga tak akan keberatan jika harus fokus pada film ini, mengingat ia sengaja tidak menerima jadwal lain selain film ini sejak 2 minggu yang lalu" Yoochun menanggapi tanpa ragu.
"Kalau begitu aku akan segera memberitahu Jae hyung." Ucap Junsu
Tiba-tiba Changmin tersenyum evil sehingga mendapat tatapan dari Junsu dan Yoochun.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Yoochun sambil mengangkat kedua alisnya.
Changmin tetap memberikan senyum evilnya sambil memandang ke arah Junsu dan Yoochun bergantian. "Sebentar.." ucapnya kemudian mengambil script yang sudah hampir 1 bulan tak dijamahnya.
Changmin mencoret-coret di beberapa bagian, menambah ataupun mengurangi isi script sambil tersenyum puas. Tiba-tiba idenya muncul. Sedangkan Yoochun dan Junsu masih bingung melihat sikap Changmin yang tiba-tiba seperti itu.
45 menit kemudian.
"Jja…selesai…aku rasa ini akan menjadi part yang menarik" ucap Changmin tersenyum puas.
Yoochun dan Junsu seketika melihat beberapa part yang tadi sempat dicoret-coret oleh Changmin di beberapa bagian. Yoochun membuka script, ia membacanya dengan Junsu.
Tak lama kemudian Yoochun dan Junsu melotot melihat apa yang ditulis Changmin.
"Kau gila? Kau serius memberikan part ini kepada mereka? Kau ini benar-benar…" ucap Yoochun menggeleng sambil tersenyum, ia sangat mengenal Changmin, bukan Changmin namanya jika tanpa ide yang konyol.
"Kau menuliskan part Jae Hyung mencium pria lain? Omaigatsan…kau pasti akan dibunuh Yunho hyung" ucap Junsu polos.
Changmin tertawa mendengar komentar kedua temannya ini, "Tenang saja, mereka akan melakukannya. Ini adalah tuntutan peran, mereka harus profesional, lagipula itu permasalahan yang ada dalam film ini, jadi tanpa itu, filmku akan terasa hambar. Percayalah padaku…"
Yoochun dan Junsu hanya bisa speechless melihat Changmin, kemampuan Changmin memang tak diragukan lagi tapi bagaimana jadinya jika Yunho dan Jaejoong tahu jika ada perubahan script seperti itu. Memang diawal kontrak Changmin sudah menjelaskan, perubahan script bisa terjadi sewaktu-waktu tapi tidak mengubah ide cerita. Tapi kalau perubahannya seperti ini? Yunho bisa kebakaran Jenggot.
"Kalian tenang saja…akan ada penawarnya di bagian yang ini…" ucap Changmin sambil menyodorkan script. Yoochun dan Junsu membaca part yang ditunjukkan Changmin.
Mereka berdua saling memandang, Junsu sangat terkejut "NC…" gumam Junsu sambil melotot tak percaya.
Yoochun malah tertawa, "Hei, kenapa harus seterkejut itu, bukankah ini hal yang wajar? Menurutku itu masih tergolong ringan. Apa kau benar-benar tak pernah melihat film gay?" tanya Yoochun disela tertawanya melihat ekspresi Junsu yang seperti itu.
"Omo…kepalaku…" ucap Junsu sambil memegang kepalanya, namun ia terus membaca script yang sedari tadi dipegangnya.
"Omo..omo…mataku…omo…" Junsu histeris lagi sambil terus membaca script.
Melihat ekspresi Junsu, Yoochun dan Changmin hanya bisa tertawa renyah.
.
.
Sementara itu di kediaman Mr. Kim
"Yunho, bisakah kau angkat barang-barang itu menuju mobil bak terbuka yang ada di garasi?" ucap Mr. Kim
"Ah..ne..appa…" ucap Yunho siaga.
Dengan segera Yunho mengangkat beberapa pack barang dagangan kedalam mobil bak yang dimaksud.
Tak lama kemudian Jaejoong keluar dari kamar mandi.
"Umma… Yunho dimana?" tanya Jaejoong sambil menghampiri Mrs. Kim yang sedang mengiris sayuran didapur.
"membantu appamu…"
"Benarkah?" tanya Jaejoong kaget.
"Lihat saja mereka sedang ada di garasi!" ucap Mrs. Kim masih sambil melanjutkan memotong sayurannya.
"Kau tahu Jae, Yunho itu sepertinya anak yang baik, umma bisa merasakannya. Dia juga tampan dan menawan, pantas saja kau mencintainya." Goda Mrs. Kim namun tak ada sahutan, lalu Mrs. Kim menoleh ke belakang dan ternyata Jaejoong sudah tak ada di tempat. Mrs. Kim hanya bisa mendengus tapi tak lama kemudian tersenyum.
Jaejoong melihat Yunho mengangkat beberapa pack sayuran dan buahan yang akan dikirim ke pasar. Yunho terlihat sangat tampan, ia melipat lengan kemejanya hingga siku, membuka beberapa kancing kemeja birunya hingga nampak kaos putih yang dikenakannya. Keringatnya mengalir mengikuti lekukan wajahnya menuju ke lehernya dan menghilang setelah mengenai kaos dan kemejanya.
"Oh My God… dia terlihat sangat sexy sekali.." puji Jaejoong dalam hati.
Mr. Kim yang mengetahui Jaejoong berdiri didepan pintu dan bengong, kemudian berteriak "Jae, daripada hanya bengong, lebih baik kau ikut membantu, biar ini cepat selesai."
Yunho yang semula tak tahu kalau sedang di amati Jaejoong kemudian menoleh. Jaejoong menghampirinya.
"Hyung.." ucap Yunho sambil tersenyum sumringah.
"Hyung?" Mr. Kim bingung. Memang sejak tadi mereka mengobrol berdua di belakang rumah dan berkumpul bersama di ruang keluarga namun baru kali ini Mr. Kim mendengar Yunho memanggil Jaejoong dengan sebutan seperti itu.
"Ne..appa… Joongie eh maksudku Jaejoong hyung lebih tua satu tahun daripada aku… dia akan memelototiku jika aku tak memanggilnya hyung" jelas Yunho kemudian tertawa renyah.
Mendengar penjelasan Yunho, Jaejoong malah menghadiahi pukulan pelan di kepala Yunho. "Kau ini banyak bicara" ucap Jaejoong sewot kemudian ia mengangkat satu box dan dibawa menuju ke mobil.
"Wae hyung… bukankah aku menjelaskan fakta? Kenapa kau malah memukulku dan mempoutkan bibirmu seperti itu?" gerutu Yunho sambil mengusap kepalanya yang sebenarnya tidak terlalu sakit.
"cepat angkat…jangan banyak bicara.." perintah Jaejoong. Yunho masih terdiam melihat Jaejoong yang kembali dari mobil menuju ke box yang ada di dekatnya.
"Heh…kenapa malah diam..cepatlah bekerja…kau ini benar-benar tak berguna" omel Jaejoong sambil berkacak pinggang di dekat Yunho.
"Appo.." ucap Yunho sedikit manja sambil mengusap kepalanya, ia benar-benar lupa kalau ada Mr. Kim yang ada tak jauh dari sana.
"Aiissshhh kau ini.." Protes Jaejoong kemudian mendekat ke arah Yunho. Mengusap dan meniup pelan rambut Yunho kemudian tersenyum. "Jja… sudah sembuh…sekarang segera angkat yang ini" lanjut Jaejoong sambil menunjuk 2 box yang sedikit besar dari yang akan ia bawa.
"Popo.." ucap Yunho sambil memajukan bibirnya
"Ck…" decak Jaejoong sambil tersenyum, ia paling tahu kalau Yunho suka manja seperti ini. ketika Jaejoong akan mendekat ke arah Yunho, tiba-tiba…
"ehemmm…" Mr. Kim berdehem
Keduanya seketika langsung tersadar jika masih ada Mr. Kim didekat mereka.
"Apakah aku masih diangap ada disini?" ucap Mr. Kim menyindir sambil tersenyum
"Mianhe…appa" ucap Yunho langsung membungkuk meminta maaf, betapa malunya ia sekarang.
Sedangkan Jaejoong menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil cengengesan.
.
.
"Appa, biarkan aku yang mengantarkannya.. appa istirahat dirumah saja" ucap Jaejoong setelah selesai meletakkan box di mobil.
"Aku ikut hyung…" ucap Yunho bersemangat
"Kajja…"
"pakailah jaket, diluar agak dingin.." saran Mr. Kim
Jaejoong kemudian berlari menuju rumah, dan tak lama kemudian muncul dengan membawa 1 jaket hoodie hitam dan memberikannya kepada Yunho. Yunhopun memakai jaket hoodie milik Jaejoong itu tanpa mengancingkan resletingnya, perpaduan hoodie hitam dengan kemeja biru dan kaos putih yang Yunho kenakan membuat Yunho semakin tampan. Jaejoongpun tersenyum melihat penampilan Yunho.
"Apa aku aneh? Apa terlalu kekecilan?" tanya Yunho setelah melihat Jaejoong tersenyum kearahnya.
"Anni… kajja kita berangkat" ucap Jaejoong kemudian masuk kedalam mobil. Ia tak mungkin mengatakan bahwa Yunho sangat tampan sekali, itu hanya akan membuat Yunho besar kepala. Ia sendiri sekarang mengenakan sweeter berwarna abu-abu untuk menutupi kaos putih dengan kerah V neck itu.
Jaejoong terlihat sangat menawan.
"Hati-hati… antar ke tempat biasanya…" teriak Mr. Kim setelah melihat keduanya naik mobil.
"Ne.." ucap Jaejoong sambil mengeluarkan sedikit kepalanya dari jendela dan tersenyum ke arah Mr. Kim.
Tak lama kemudian mobilpun melaju meninggalkan kediaman Mr. Kim. Mr. Kim memandang kepergian itu dengan tersenyum, "Kau sudah kembali seperti dulu Jae. Sepertinya appa tak salah telah mempercayainya.. appa yakin dia pria bertanggung jawab. Apa kau bahagia dengan keputusan appa? Appa ikut senang kalau kau juga senang Jae…Berbahagialah..Doa appa untuk kalian…" gumam Mr. Kim kemudian ia masuk kedalam rumah.
.
.
Di pasar
"Han ahjussi… aku datang mengantar pesanan.." teriak Jaejoong sambil turun dari mobil.
"Omo? Kau Jaejoong? Kim Jaejoong? wah.. wah…kau sudah besar dan jauh lebih tampan dari sebelumnya.." ucap paman Han sambil memeluk Jaejoong, sudah lama sekali ia tak melihat Jaejoong.
"Siapa dia?" tanya paman Han sambil melirik ke arah Yunho
"Ah iya, ahjussi ini Yunho...temanku" ucap Jaejoong memperkenalkan
Yunho kemudian membungkuk tanda hormat. Meski Yunho sedikit keberatan dengan sikap Jaejoong yang memperkenalkannya hanya sebagai teman, tapi Yunho tak ingin memperotes. Ia tahu alasan Jaejoong. Belum semua warga menganggap hubungan sesama namja itu adalah hal yang wajar. Jika suatu saat nanti mereka semua mengetahuinya, biarlah saja, mereka yakin akan bisa melewatinya, asalkan mereka bersama.
"Oh.. Yunho… wah kau tampan sekali…Apa di seoul lelakinya tampan semua?" canda paman Han yang disambut tawa dari Jaejoong dan Yunho.
Kedatangan dua pria tampan dengan tinggi yang cukup menonjol dibanding orang-orang yang berada dipasar, membuat beberapa pengunjung pasar sedikit heboh, mereka memandang Yunho dan Jaejoong dengan intens sambil berbisik.
"Lihatlah, kalian membuat jalan ini semakin macet dan penuh sesak dengan para yeoja dan ahjuma genit" bisik paman Han menggoda.
Jaejoong dan Yunho memandang ke arah belakang mereka. Mereka berdua yang sedari tadi mengangkat box tidak sadar jika sedang menjadi sorotan banyak pasang mata. Yunho dan Jaejoong saling memandang kemudian tersenyum.
"Ahjussi…kami sudah selesai, bisakah kami titip mobil sebentar, kami ingin berbelanja sebentar" ucap Jaejoong.
"Ne.. hati-hati… ahjumma disini sedikit mengerikan, apalagi jika melihat namja tampan seperti kalian" goda paman Han yang disambut gelak tawa dari Yunho dan Jaejoong.
.
.
Yunho dan Jaejoong berjalan menyusuri jalan pasar, mereka berhasil membeli beberapa sayuran dengan harga yang sangat murah, tentu saja karena Jaejoong telah bersedia bersalaman dan dicubit pipinya oleh si penjual. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung dan penjual yang ada dipasar. Bagaimana tidak, wajah mereka yang diatas rata-rata dan dengan penampilan yang menarik membuat mereka terlihat bersinar. Beberapa gadis tengah berbisik.
"Bukankah itu Yunho yang sering muncul di TV?" Bisik salah seorang gadis yang sepertinya mengetahui Yunho.
"Benarkah?" timpal temannya
"Sepertinya iya…tidak salah lagi…itu Jung Yunho yang di TV itu.." para gadis terus berbisik sambil mencoba mendekat.
Jaejoong sedikit memberi deathglare kearah gadis yang mencoba mendekat ke arah Yunho dan langsung menggaetkan tangannya ke lengan Yunho.
"Wae?" tanya Yunho setelah melihat Jaejoong mempoutkan bibirnya.
"Gadis-gadis kecil itu mencoba mendekatimu, berani sekali mereka." Gerutu Jaejoong sambil terus berjalan.
Yunho tersenyum, kemudian salah satu tangannya memegang pinggang ramping Jaejoong, sedikit menariknya sehingga Jaejoong menjadi semakin dekat lalu Yunho mendekatkan bibirnya di telinga Jaejoong "Meskipun mereka semua menggodaku, tapi hanya hyung yang sanggup membuatku tergoda" bisik Yunho
BLUSH
"Jangan menggombal" protes Jaejoong, padahal sebenarnya ia sangat suka mendengar ucapan Yunho.
Jaejoong berhenti di penjual ikan laut, "Ahjumma harga ikan yang ini berapa?"
Ahjumma tersebut tersenyum, memandang genit ke arah Yunho, "Aku bisa memberikannya gratis, asalkan temanmu ini mau berfoto denganku. Bagaimana?"
"MWO?" teriak Jaejoong kaget mendengar permintaan sang penjual.
"Andwe…kita pergi saja…" ucap Jaejoong sewot sambil menarik tangan Yunho.
"Ah sebentar hyung…" tahan Yunho
Jaejoong mempoutkan bibirnya sambil memandang Yunho. Ia tak suka jika Yunho mengabaikannya seperti ini.
"Ahjumma… apa aku bisa memiliki ini, ini dan ini jika aku berfoto denganmu?" tanya Yunho sambil memilih beberapa ikan dan cumi-cumi dengan ukuran yang paling besar.
"Ne..tentu saja…" jawab sang penjual dengan wajah sumringahnya.
"Baiklah.." jawab Yunho. Ia berfikir bahwa ia akan pulang dengan banyak belanjaan tanpa harus mengeluarkan sepeser uangpun, bukankah ini akan sangat menguntungkan? Tapi Yunho tak menyadari bahwa Jaejoong telah mempoutkan bibirnya bahkan nyaris 5 cm, Jaejoong sangat kesal.
Belum sampai kesalnya mereda, ia sudah dibuat tambah kesal dengan permintaan si penjual genit itu. "Yah anak muda… bisakah kau fotokan kami berdua?"
NGEEEKKKK
Bagai ingin menggulingkan barang dagangan yang berada didepannya sekarang juga, Jaejoong benar-benar sangat geram tapi mau tak mau Jaejoong memfoto juga. Ahjumma itu menempel erat di lengan Yunho, membuat Jaejoong semakin iritasi, dengan segera Jaejoong memfoto keduanya, dan pergi meninggalkan Yunho dengan mempoutkan bibirnya. Yunho dengan segera membungkuk ke arah penjual dan mengambil barang belanjaannya yang diperoleh dengan cuma-cuma itu.
"Hyung…" teriak Yunho mengejar Jaejoong, namun Jaejoong tetap berjalan tak memperdulikan Yunho.
"Yah,…hyung…jangan marah seperti itu…" ucap Yunho ketika sudah berada didekat Jaejoong.
Jaejoong masih diam.
"Baby.." rayu Yunho dan berhasil membuat Jaejoong menoleh kearahnya.
"Wae?" ucap Jaejoong BT.
"Jangan marah… bukankah kita bisa untung banyak? Lihatlah…" ucap Yunho dengan senyum innocentnya sambil menenteng beberapa ikan dan cumi-cumi yang sebenarnya kalaupun dijual, itu harganya juga lumayan mahal karena ukurannya yang lumayan besar.
Namun belum sampai Jaejoong berbicara, sudah ada beberapa kerumunan gadis-gadis dengan menenteng HP berlari mengerumuni mereka.
"Benarkah kau Jung Yunho, artis itu?
"Apa benar kau?"
"Kyaaa…"
"Yunho oppa…kyaaaaaaaa…"
Lontaran pertanyaan dan teriakan histeris kerumunan gadis-gadis itu memenuhi pasar. Yunho hanya mengangguk dan memberikan senyuman. Jaejoong semakin mempoutkan bibirnya, ia terdesak kesana kemari, tangan Yunho yang semula memegangnya terlepas karena desakan dari gadis-gadis ganjen ini, mereka berfoto, mencubit Yunho, memegang tangan dan pipinya, menarik-narik baju Yunho, bahkan ada yang sempat ingin mencium Yunho. Melihat itu semua Jaejoong semakin jengah, ia semakin BT, ia tak ingin Yunhonya di sentuh orang lain, dipegang orang lain, bahkan lihatlah, ia nyaris dicium gadis-gadis itu. Ia ingin melerainya, tapi jumlah gadis-gadis ini jauh lebih banyak. Jaejoong benar-benar menyesal telah mengajak Yunho ke pasar. Yunho mencoba menghindari gadis-gadis itu dengan cara halus, mencoba sedikit demi sedikit menghindar dan menghampiri Jaejoong, namun sepertinya para gadis belum mau menyerah.
"Hyung pegang ini.." Ucap Yunho setelah berhasil mendekat ke arah Jaejoong sambil mengoper salah satu tas belanjaan yang berisi sayuran kepada Jaejoong. Jaejoong menerima tas itu, tiba-tiba tangan satunya telah di genggam Yunho dan Yunho mengajaknya berlari. Yunho menggenggam tangan Jaejoong erat, mereka terus berlari, berbelok dan terus berbelok lagi, menelisip kemanapun mereka bisa hingga tak nampak kejaran para gadis itu.
Yunho dan Jaejoong berhenti di pinggiran pasar. Mereka berdua sangat ngos-ngosan. Yunho meletakkan tas belanjaan yang ia bawa, yang berisi beberapa ikan dan cumi yang lumayan berat itu.
"Apa kau tidak apa-apa hyung? Apa tanganmu sakit?" ucap Yunho sambil mengecek tangan Jaejoong yang digunakan untuk membawa belanjaan yang berisi sayuran tadi. Sebenarnya sayuran itu ringan, tapi bukan Yunho namanya jika tidak mengkhawatirkan Jaejoong.
Jaejoong hanya berdiam pasrah melihat tangannya di usap dan ditiup pelan oleh Yunho. Ia diam sambil menetralkan nafasnya.
"Aku tak suka.." ucap Jaejoong tiba-tiba
Yunho memandang Jaejoong bingung.
"Aku tak suka jika kau dipegang dan dicium seperti itu.. lihatlah, bahkan lipstik gadis itu masih ada yang menempel di pipimu. Menyebalkan sekali" gerutu Jaejoong
Satu hal yang semakin diyakini Yunho sekarang bahwa Jaejoong sebenarnya adalah pencemburu kelas berat, tapi Yunho tak keberatan akan hal itu, bukankah itu berarti Jaejoong benar-benar menyukainya?
Yunho tersenyum, ia semakin erat memegang tangan Jaejoong, "Hyung, ini tidak sengaja, mereka saling dorong" Yunho mencoba menjelaskan sambil berusaha menghapus noda di pipinya, bahkan ia sendiri tidak tahu noda lipstik itu ada disebelah mana.
Jaejoongpun akhirnya mengusap pipi Yunho, ikut membersihkan noda lipstik itu. Ia membersihkannya dengan memberikan sedikit tekanan, entah mengapa Jaejoong masih saja dongkol. Meskipun pipinya sedikit sakit akibat Jaejoong menekannya terlalu keras, namun Yunho hanya diam, ia sangat tahu kekasihnya ini marah.
Jaejoong benar-benar sebal, ia sendiri juga tak mengetahui sebenarnya apa yang terjadi kepadanya. Semenjak menyadari perasaannya ke Yunho, Ia jadi suka marah ketika ada yang mencoba mendekati Yunho, apa ini wajar? Terlebih seperti hari ini, ingin rasanya memakan semua orang yang ada di pasar ini namun karena itu tidak mungkin akhirnya Jaejoong hanya bisa mempoutkan bibirnya.
"Jja..sudah bersih" ucap Jaejoong ketus.
"Mianhe…" pinta Yunho yang masih melihat Jaejoong mempoutkan bibirnya. Kemudian Yunho memeluk Jaejoong, mencoba menghilangkan kemarahannya.
Yunho memeluk Jaejoong, mengabaikan beberapa pasang mata yang memandang mereka. Maklum saja mereka sekarang berada di salah satu tepi pasar, menghadap ke jalan raya. Banyak orang lalu lalang disana, mobil dan kendaraan umum juga banyak yang melintas dijalan depan mereka. Namun Yunho tak peduli, yang terpenting baginya sekarang adalah Jaejoong berhenti marah.
"Cium aku sekarang" ucap Jaejoong tiba-tiba
"Baby… kau yakin? Ini tempat yang ramai sekali…" Yunho memegang kedua pipi Jaejoong mencoba membujuk, sungguh jika ia sedang berada di tempat sepi sekarang, tak perlu dimintapun, ia pasti sudah menciumnya, menenangkannya. Namun entah apa yang merasuki pikiran Jaejoong sekarang, Jaejoong bersikap sedikit aneh dari biasanya.
"Lalu kenapa? Bukankah dengan begini semua orang akan tahu bahwa kau milikku. Jadi mereka tidak akan menggodamu lagi. Apa kau tak mau? Apa kau malu jika semua tahu?" tanya Jaejoong dengan suara pelan namun menekan, ia terlihat sangat emosi.
"Bukan begitu hyung, hanya saja orang-orang.."
"Itulah kau, kau lebih mementingkan orang lain, persetan dengan apa yang mereka pikirkan, aku hanya ingin kau menciumku sekarang, atau jangan-jangan kau lebih memilih dicium gadis-gadis itu daripada menciumku? Kau lebih suka di goda ahjuma-ahjuma genit daripada harus mempedulikanku? Kha..kembalilah kesana, jangan hiraukan aku.." Jaejoong semakin sebal.
Hal kedua yang dipelajari Yunho adalah jangan sekali-sekali membuat Jaejoong cemburu, karena itu akan sangat menakutkan.
Kalau sudah begini, tak ada kata lain selain menuruti apa maunya Jaejoong.
Yunho mengenakan penutup kepala yang melekat di hoodienya, mengangkat kerah jaket tersebut, lalu menutupi kepalanya dengan kepala Jaejoong. Ia tak ingin mengundang banyak perhatian atas apa yang ia lakukan ini. Yunho sedikit menunduk kemudian memiringkan kepalanya dan akhirnya Yunhopun mencium Jaejoong. Bibirnya melumat bibir Jaejoong. Jaejoong sedikit berjinjit dan mendongak untuk menemukan posisi yang pas dengan kedua tangannya yang berada di dada Yunho. Jaejoong yang tadinya mengomel akhirnya terdiam setelah kemauannya dituruti Yunho. Bibirnya bergerak seirama dengan bibir Yunho, membuat hatinya yang semula bergemuruh menjadi tenang, membuat emosinya yang semula memuncak menjadi menguap entah kemana.
Yunho beralih menyesap bibir atas Jaejoong, Jaejoong sepertinya masih enggan melepaskan ciuman itu. Tubuh Jaejoong sedikit bergetar, pantas saja ciuman ini cukup lama dan Jaejoong sedari tadi berjinjit. Dengan sigap Yunho melepaskan salah satu tangan yang memegang kerah hoodie tadi dan beralih memegangi pinggang Jaejoong dengan erat agar tidak terjatuh. Sedangkan tangan Jaejoong yang semula hanya berada di dada Yunho, sekarang mulai menggenggam kemeja Yunho, genggaman itu semakin erat dan semakin erat sejalan dengan semakin dalamnya ciuman mereka.
Lama mereka berciuman di pinggir jalan seperti itu, hingga di rasa Jaejoong sudah tenang, Yunhopun kemudian melepaskan ciuman itu dan memeluk Jaejoong. Membenamkan kepala Jaejoong didada bidangnya "Hyung, mianhe… jangan marah lagi…" gumam Yunho sambil mencium puncak kepala Jaejoong, Jaejoong masih terdiam, ia merasa nyaman diperlakukan seperti ini.
"Saranghae" bisik Yunho yang mau tak mau membuat Jaejoong tersenyum. Yunho memang paling ahli dalam membuatnya tenang.
Apakah banyak orang yang melihat aksinya mereka tadi? Entahlah… Sepertinya Yunho dan Jaejoong sudah tak peduli.
.
.
tbc
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Tadaaaa….. duh…maxy ngiler sendiri setiap kali lihat emak Jae dan babe Yun beraksi.#plakkkk
Ini mungkin update terakhir di bulan puasa, karena sepertinya di part 10 nanti akan ada NC…tapi maxy gak janji juga… soalnya maxy masih belum selesai ngetik, kadang ide lain muncul dan masalahnya akhir-akhir ini maxy agak sibuk… jadi kemungkinan updatenya agak lama… mianhe..# deep bow
Yunpa uda ketemu camer, tinggal jaema nih…bentar maxy mikir dulu dimana part yang tepat untuk jaema ketemu ma camer…^^ tapi yang jelas untuk next part uda mulai shooting lagi… kalo wordnya gak kepanjangan ya bisa langsung shooting hal yang bikin heboh Junsu tadi…kira-kira ada yang penasaran kehebohan shooting n realnya gak? Gak ada ya? Hmmm..ya uda…gak jadi update aja…Ahihihihi ^^ #kyaaaa plak plak plak…dikeroyok readers.
Jangan lupa reviewnya ya teman-temanku tersayang…
Chu..~~~~
