JY present
Delinquent Student
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Nine
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
.
.
.
"Sudah kubilang, jangan kemari brengsek!"
"Uhuk!"
Jihoon meronta, meronta sekuat yang ia mampu. Sungguh, ia tak menyangka Jinyoung benar–benar akan menyeretnya secara harfiah seperti ini. Ia harusnya tak keras kepala dan menuruti ucapan Jinyoung saja, persis seperti anjing penurut. Tapi ia tak bisa. Ia merasa bertanggung jawab, terlebih Tuan Bae sudah meminta padanya secara langsung untuk mengawasi Jinyoung. Dan ia juga penasaran. Setiap larangan yang Jinyoung ucapkan justru terasa menantang dirinya untuk melanggarnya. Bahkan ia rela membolos pelajaran demi melangkahkan kakinya kembali ke koridor belakang gedung sekolahnya. Kejadian ini pasti akan jadi headline yang bagus. Park Jihoon, ketua Organisasi Siswa membolos pelajaran untuk bertemu adik kelas berandalannya.
Dan apa Jinyoung tak sadar wajah Jihoon sudah memerah karena tercekik kerah bajunya yang ditarik Jinyoung dari belakang? Jihoon sudah tak fokus lagi, antara ingin terbatuk, pusing, atau ingin berontak. Beberapa kali tubuhnya yang melangkah mundur terjatuh. Dan sialnya, Jinyoung tak peduli. Ia tetap memaksa tubuh Jihoon untuk terus melangkah sementara ia menarik kerah yang lebih tua.
"S–stop, please..," suara Jihoon melemah di ujung kalimatnya. Tubuhnya sudah lemas. Sungguh, tercekik kerah bajunya sendiri adalah hal yang akan menjadi trauma baru bagi Jihoon.
Jinyoung berhenti. Tangannya terlepas dari kerah Jihoon. Tubuh yang lebih tua langsung terjatuh ke lantai. Wajahnya memerah, air mata ikut membasahi ekor matanya. Berulang kali Jihoon terbatuk hingga ia merasa ia nyaris saja muntah.
"Kalau kubilang jangan kembali, maka jangan kembali! Berhenti bersikap seakan kau peduli, Jihoon!"
Jihoon masih terbatuk ketika Jinyoung membentaknya keras. Kepalanya semakin berdentam mendengar suara keras Jinyoung. Pening merambat semakin cepat di sistem syaraf pusatnya itu. Jihoon meraba dahinya pelan, menyangga kepalanya yang nyaris tertunduk. Keringat dingin mengalir disana.
"Kau– kau tak mengerti. Kau siswa teladan, dan kau tak bisa seenaknya pergi ke tempat para berandalan seakan kau bisa mengendalikan segalanya. Kau membunuh dirimu sendiri!" Jinyoung mengusap wajahnya kasar. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri yang nyaris meledak. Teman–temannya pasti akan terkejut mendengar Jinyoung berbicara sepanjang ini. Catat, Bae Jinyoung itu selalu irit dalam berbicara.
"Berhenti melempar dirimu sendiri, Park," Jinyoung berjongkok di hadapan Jihoon yang bahkan tak bisa mendongakkan kepalanya. "Aku peduli padamu."
"Jin–young?"
Yang Jihoon lihat setelahnya adalah kegelapan yang berangsur mendekat padanya.
.
.
Jihoon mengerjap, membiasakan cahaya yang berlomba masuk memenuhi netranya. Cahayanya agak jingga. Ah, sudah sore rupanya. Ia pasti sudah melewatkan banyak pelajaran. Jihoon menoleh kebawah, memperhatikan tubuhnya yang terbungkus selimut cukup tebal. Tunggu, sejak kapan ia ada di ruang kesehatan? Apa yang–
"Jin–young?"
–Oh sial.
Ia pingsan tadi.
Tapi, kenapa ia bisa berakhir terbaring disini? Apa ada murid lain yang menemukan dia tergeletak di koridor belakang? Ah tidak mungkin. Mana mau murid lain melangkah kesana. Mereka tidak cari mati seperti Jihoon. Lalu apa? Jihoon berjalan sendiri ke ruang kesehatan? Heol, jangan bercanda. Atau.. Jinyoung menggendongnya tadi? Ah tidak mungkin, itu sangat tidak mungkin terjadi.
"Kau sudah sadar?" Jihoon melonjak dari posisinya. Melihat Bae Jinyoung, sosok yang membuatnya pingsan tengah duduk di sebelah kasurnya dengan tenang adalah kejutan bagi Jihoon. Tunggu. Apa benar–benar Jinyoung yang membawanya kemari? Bagaimana? Ia diseret lagi?
"Aku menggendongmu. Kau berat."
"Apa?" Jihoon menelan salivanya susah payah. Jinyoung menggendongnya? Cool. Murid lain pasti melihat mereka. Ya sudah, mau bagaimana lagi? Jihoon pasti sudah jadi bahan pembicaraan saat ini.
"Tak ada yang melihat, tenang saja."
Jihoon mengernyit dalam posisinya. "Kau cenayang ya?"
"Terserah, Park," Jinyoung berdiri dari kursinya. Di dekatkannya tubuhnya dengan tubuh Jihoon yang masih terbaring lemas. Padahal, Jihoon ingin melompat dan menjauh dari Jinyoung. Sayang, tubuhnya masih belum stabil.
"Aku membawakan tasmu."
Okay, yang itu pasti dilihat murid lain.
"Saat kelasmu sudah kosong tentu saja."
"Cenayang brengsek."
"Kau tak mau berterima kasih?"
"Setelah kau membuatku pingsan? Wow, terima kasih Bae Jinyoung."
Jinyoung mendengus pelan. "Kau saja yang terlalu lemah."
"Sorry?" Jihoon perlahan menegakkan tubuhnya. Ditatapnya Jinyoung tajam, meski sebenarnya kepalanya masih berputar. Ah sial, pemuda Bae itu tak tanggung–tanggung membuatnya pingsan. Bahkan ia masih bisa merasakan panas yang melingkari lehernya.
"Aku tak pernah menghajar murid lain hingga pingsan. Mungkin nyaris, namun tak pernah benar–benar pingsan. Kau yang terlalu lemah."
"What the fuck? Kalau kau mau menjelekkanku, lebih baik kau pergi saja."
"Fine," Jinyoung mengangkat tas punggungnya, bersiap meninggalkan Jihoon yang menekuk wajah kesal. Sial, maksud Jihoon 'kan bukan seperti itu. Pemuda itu bodoh atau bagaimana sih? Apa dia akan benar–benar meninggalkan Jihoon sendirian di ruang kesehatan? Ini sudah sore, petugas kesehatan jelas sudah pulang. Jinyoung tak benar–benar akan pergi 'kan?
"Kau pergi?"
"Kau mengusirku."
"Okay, pergi saja brengsek."
"Cepat pulang setelah pulih," Jinyoung menatap Jihoon dalam. Tangannya sempat bergerak sedikit, nampak ragu untuk melakukan tindakan bodoh yang tak pernah tercatat dalam kamus hidupnya., seperti mengelus surai Jihoon misalnya. Okay, dia akan urungkan yang satu itu.
"Taksi dengan pesanan atas namamu akan tiba sepuluh menit lagi."
"Kau memesankan taksi? Bagaimana aku membayarnya bodoh! Uang jajanku tak sebanyak itu!"
"Cek dulu tasmu, baru kau marah," Jinyoung mendecih seraya melangkah menjauh dari Jihoon. "Aku pergi."
"Yak! Bae Jinyoung!"
.
.
–Kau sudah sampai rumah?–
Read, 6.20PM
.
Jihoon menatap horror layar ponselnya melihat notifikasi pesan dari kontak atas nama 'Bae Jinyoung'. Sejak kapan ia menyimpan nomor ponsel adik kelasnya itu? Jangan bilang Jinyoung membuka ponselnya saat ia pingsan. Jihoon menekan kuat layar ponselnya, mengetikkan pesan balasan pada Jinyoung.
–Kau membuka ponselku? Kau gila?–
Sent, 6.21PM
.
–Apa uangnya cukup?–
Read, 6.21PM
.
–Bae Jinyoung!–
Sent, 6.21PM
.
"Brengsek! Kalau ditanya, kau harus menjawabnya. Bukan mengalihkan pembicaraan!" Jihoon melempar ponselnya ke atas kasur kesayangannya. Sempat ia dengar bunyi 'duk' pelan dari arah kasurnya. Ah ponselnya pasti terpantul ke dinding. Masa bodoh. Kalau dengan cara seperti itu dia bisa menghilangkan kontak Jinyoung dari sana, ia akan menghancurkan ponselnya sekalian.
Jihoon menggusak surainya yang masih basah. Ia baru selesai mandi. Ia kira mandi bisa menyelesaikan rasa lelahnya hari ini. Dan ternyata ia salah. Notifikasi pesan dari Jinyoung kembali merusak moodnya. Harusnya ia menuruti kata hatinya tadi untuk mendiamkan ponselnya semalaman ini.
Jihoon mengecek ponselnya kembali. Layarnya berkedip, menampilkan sebuah notifikasi pesan dari Jinyoung. Masih dibalas rupanya. Sebenarnya Jihoon tak ikhlas, tapi ia terdorong dengan rasa penasaran dengan balasan seperti apa yang Jinyoung berikan padanya.
.
–Aku bertanya, apa uangnya cukup?–
Read, 6.22PM
.
–Hm–
Sent, 6.22PM
.
–K–
Read, 6.22PM
.
"Oh okay, terima kasih dengan satu hurufnya, pangeran Bae," Jihoon memutar bola matanya jengah. Bahkan sepupunya saja, Lee Jihoon, tak pernah membalas sesingkat itu meski sepupu pendeknya itu sangat menyebalkan. Jihoon mengacungkan jari tengahnya pada layar ponselnya. Mengejek pesan dari Jinyoung dengan senyum sarkastik.
DRRTT
"Astaga!" Jihoon terlonjak dari posisi berdirinya begitu melihat nama 'Bae Jinyoung' terpampang di layar ponselnya. Adik kelasnya itu meneleponnya? Serius? Untuk apa? Jihoon menelan salivanya susah payah. Diaturnya nafasnya sejenak sebelum menerima panggilan dari Jinyoung.
"Apa?"
"Tidak."
"Hah? Yak brengsek, dengar ya. Kalau kau tengah bercanda, maka aku sangat kesal. Kau mengganggu waktuku untuk memakai baju dan tidur."
"Ini baru jam 6 sore lewat."
"Lalu kenapa? Aku tak boleh tidur sore, begitu? Lagipula aku tak ada tugas."
"Oh."
"Yak! Kau itu benar–benar ya!"
"Selamat tidur."
"H–hah?"
"Aku matikan panggilannya."
PIIP
Jihoon memandang layar ponselnya yang masih menyala dengan tampilan semula, kontak Jinyoung. Tunggu, tadi adik kelasnya bilang apa? Selamat tidur? Jihoon tidak salah dengar 'kan? Ah tidak, ini pasti mimpi, bukan begitu?
"Pasti hanya mimpi burukku," Jihoon tertawa terpaksa. Cepat ia merebahkan tubuhnya ke atas kasur, tanpa berniat mengenakan piyama atau baju lain yang akan menutupi tubuh atasnya. Toh ini hanya mimpi 'kan?
.
.
Jihoon bangun dengan tubuh menggigil dan rasa dingin yang menggigit. Diliriknya tubuhnya yang tak terbalut selimut. Ia tidur tanpa atasan apapun. Jihoon tersenyum horror melihat kenyataan pagi yang tak ia sangka ini.
"Tidak mungkin," segera ia meraih ponselnya yang ia tindih sejak semalam, mencari daftar panggilan yang ada. Dan ternyata semalam bukanlah mimpi. Jihoon bisa melihat nama 'Bae Jinyoung' melakukan panggilan masuk pada ponselnya di pukul 6.23PM.
"Okay, aku akan menutup mata dan menghitung mundur. Saat aku membuka mata, semua ini akan menghilang dan aku kembali ke kehidupan normalku."
Jihoon memejamkan kelopak matanya rapat. Tak membiarkan celah bagi seberkas cahaya untuk menembusnya.
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Jihoon perlahan membuka matanya. Ia tak ingin melihat tubuhnya atau ponselnya dahulu. Ia lebih memilih memandang cermin yang menghadap langsung pada kasurnya. Nampak jelas tubuh mungilnya yang tak terbalut apapun tengah terduduk di atas kasur.
"Jangan, please jangan."
Dan sialnya –atau kabar baiknya–, nama 'Bae Jinyoung' masih berada di urutan teratas daftar panggilannya.
.
.
.
–TBC–
a/n: And here we go! One chapter full of JinHoon!
Huftt, untung bisa update di sela belajar gini.
Terima kasih untuk dukungannya yaa~!
.
Pada kaget ya JinSeob tunangan?
Ehe, JY juga kaget kenapa bisa nulis mereka udah tunangan.
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
