Title: Without word
Cast: Kyuhyun, Changmin, cast lain menyusul seiring cerita berjalan
Desclaimer: Semua cast milik Tuhan YME, but this story is mine
Genre: Brothership, friendship, family, no-romance
Rating: Fiction T
Warning: Just fanfic, don't like don't read, typos, OOC, masih author baru, alur membosankan, cerita pasaran
Summary: -
Happy reading
Puput257™
"Persahabatan itu indah. Aku tertawa, kau juga tertawa. Aku menangis, kau juga menangis."
Chapter 10
"Kyu-ah..."
"Hm"
"Kyu..."
"Hm"
"Yak, buka mulutmu saat menjawab!" Kesal Changmin karena panggilannya hanya dijawab dengan gumaman oleh Kyuhyun.
Kyuhyun membuka matanya lalu melirik Changmin. "Ada apa?" tanyanya tanpa dosa.
"Aish.." gerutu Changmin. "Kau lelah?"
Kyuhyun mengangguk, "Lumayan. Tapi setidaknya, aku bisa tidur nyenyak nanti malam." jawab Kyuhyun dengan senyum tipis.
"Kau sudah libur?"
"Ya, sudah waktunya libur sekolah."
Sudah enam hari sejak kedatangan Changmin ke Seoul dan sampai sekarang sang appa belum memintanya pulang.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan besok?"
"Kemana?"
"Lotte World? Mungkin..."
Kyuhyun kembali melirik Changmin. Ayolah, ia sudah 23 tahun. Apakah ia harus naik wahana sejenis itu di usia yang sekarang? Mungkin itu bisa terjadi jika ia datang bersama yeojachingu nya, namun ia akan datang bersama Changmin. Menurutnya itu bukan ide yang tepat.
"Aku tidak mau," jawab Kyuhyun.
Changmin cemberut, "Lalu kemana?"
Kyuhyun terlihat berpikir. "Padang rumput saja. Sudah lama aku tidak kesana." ucap Kyuhyun. Changmin berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Baiklah, besok kita ke padang rumput." kata Changmin dengan senyum lebar sambil memandang jalanan di depannya. Kyuhyun yang melihatnya lalu melengos. Terlalu sering melihat Changmin tersenyum sangat lebar membuat ia takut.
"Jangan tersenyum selebar itu. Apa kau tidak takut bibirmu akan robek?" Itulah yang Kyuhyun takutkan.
Changmin tidak merasa tersinggung sedikitpun. "Aniyo. Karena senyumku ini, kau akan selalu teringat padaku jika aku kembali ke Jepang lagi."
Jawaban itu tak membuat Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah Changmin. Pandangannya justru terlihat kosong dan ia hanya diam. Ia memejamkan matanya sejenak, menekan perasaan khawatir yang bersarang di hatinya.
"Kenapa diam?" suara Changmin menyadarkan Kyuhyun.
"Tidak apa. Hanya ingin merasakan angin musim panas saja." bohong Kyuhyun. Beruntung angin musim panas memang sedang berhembus sekarang.
"Bagaimana kalau kita mengajak Eunhyuk hyung juga?"
"Terserah kau saja. Aku ingin pulang." ucap Kyuhyun tiba-tiba.
Changmin melotot ke arah Kyuhyun yang beranjak menaiki motornya. "Yak, Kyu! Kupikir kau akan disini sampai nanti sore." ucapnya dengan nada heran.
Kyuhyun memakai helmnya. "Kau pikir ini masih pagi?"
Changmin melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Ia meringis melihat jarum pendek yang menunjuk antara angka 5 dan 6.
"Naiklah. Kuantar kau pulang." ucap Kyuhyun. Changmin tersenyum sumringah mendengarnya. Tanpa ba bi bu ia langsung menaiki motor Kyuhyun. Changmin bahkan melingkarkan kedua tangannya pada perut Kyuhyun. Membuat Kyuhyun mendesah keras. Ia melihat lewat kaca spion.
"Lepaskan tanganmu itu, Chwang. Kita bisa dianggap sebagai pasangan homo oleh orang-orang."
Kyuhyun melihat Changmin meringis lalu melepaskan pelukannya. "Mianhae," ucapnya pelan. "Ayo jalan." kata Changmin lagi.
Kyuhyun menstarter motornya lalu memacu dengan kecepatan sedang. Ia tidak mau mengambil resiko menabrak. Saat jam pulang kerja seperti ini bisa dipastikan jalanan akan ramai.
.
.
.
"Tidak mau mampir dulu?" tawar Changmin saat ia sampai di tempat Eunhyuk. Kyuhyun menggeleng dibalik helmnya.
"Sudah terlalu sore. Ini bahkan menjelang malam. Noona dan eomma pasti sudah menungguku."
"Baiklah. Hati-hati."
"Ya. Aku pulang dulu."
Changmin memandang Kyuhyun yang menghilang dibalik tikungan. Ia berbalik untuk masuk. Namun sebelumnya ia mengecek ponsel. Ada satu pesan.
Ia membuka ponsel sembari berjalan menuju pintu. Ia mengalihkan pandangannya dulu ke arah pintu untuk memasukkan password.
KLEKK
Changmin mengurungkan niat untuk masuk saat membaca pesan yang masuk. Dari appanya.
"Min-ah, appa memberimu waktu dua minggu dari sekarang untuk pulang. Ingat hanya dua minggu dan setelah itu kau harus kembali ke Jepang."
Changmin menghela napas setelah selesai membaca. Ia bahkan mengabaikan pintu apartment yang terbuka.
"Kenapa tidak masuk?"
Changmin berjengit mendengarnya. Ia pikir Eunhyuk belum pulang.
"Masuklah."
Changmin masuk ke dalam. Ia merebahkan badannya pada sofa merah di ruang tamu. Pesan dari sang appa sedikit mengganggu pikirannya.
"Kau tadi pulang naik apa?" Eunhyuk yang kembali memasak di dapur bersuara.
"Aku diantar Kyu-ah" jawab Changmin seadanya.
Hening.
Eunhyuk yang heran melongokkan kepalanya untuk melihat Changmin. Biasanya namja kelewat tinggi itu akan bertanya ini itu saat ia memasak. Kalau tidak ia akan mengganggu acara memasaknya.
Eunhyuk menaruh masakannya di piring lalu meletakkannya di ruang tamu. Apartmentnya memang tidak memiliki meja makan. Hanya ada meja di ruang tamu yang biasa ia gunakan sebagai meja makan.
"Makanan sudah siap. Makanlah." kata Eunhyuk. Changmin mengalihkan pandangan pada makanan yang sudah tersaji di depannya.
"Aku mau mandi. Hyung duluan saja."
Eunhyuk melongo melihat Changmin yang beranjak setelah mengatakannya. Mimpi apa ia semalam sampai Changmin menolak untuk makan.
Padahal biasanya Changmin akan menomor satukan urusan perut walau ia belum mandi pun. Bahkan terkadang Eunhyuk yang menyeretnya ke kamar mandi karena Changmin memaksa makan saat belum mandi.
Pasti ada sesuatu yang mengganjal pikiran Changmin. Apalagi Changmin terlihat aneh sejak datang tadi.
Eunhyuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas televisi. Mungkin Kyuhyun tahu jawabannya.
"Yeoboseyo,"
"Yeoboseyo, Kyu. Kau tadi bersama Changmin, bukan?"
"Iya. Wae?"
"Apakah kalian tadi bertengkar?"
Kyuhyun terdiam di seberang telepon.
"Aniyo. Kami tidak bertengkar."
"Baiklah."
"Kenapa, hyung? Apa terjadi sesuatu yang buruk?"
"Tidak. Tidak terjadi apa-apa. Aku tutup dulu telponnya."
"Ya"
PIP
Berarti ada hal yang lain. Bukan karena Kyuhyun. Tapi apa kira-kira?
Entah berapa lama Eunhyuk sibuk dengan pikirannya sembari mengabaikan makanan yang sudah tersaji. Yang jelas sekarang Changmin sudah duduk didepannya dengan wajah yang lebih segar dibanding tadi.
"Hyung belum makan?" suara Changmin mengagetkan Eunhyuk yang belum juga tersadar dari pemikirannya.
"Eoh?! Belum..." jawabnya sedikit gelagapan. "Aku menunggumu," ucap Eunhyuk sedikit berbohong.
Changmin yang mendengarnya merasa tidak enak. "Aigo... mianhae membuatmu menunggu."
"Gwenchana. Ayo makan," ajak Eunhyuk dengan senyum. Changmin mengangguk. "Selamat makan!" ucap mereka hampir bersamaan.
Makan malam antara Eunhyuk dan Changmin berlangsung dalam diam. Mereka khidmat menikmati makanan yang ada di piringnya masing-masing.
Eunhyuk diam-diam melirik Changmin. Ia bisa melihat wajah Changmin yang sedikit lesu, tidak seperti biasanya. Ia juga bisa melihat Changmin memakan makananmya itu dengan enggan. Oh, berarti ini serius.
Changmin menelan suapan terakhir. Susah payah ia menghabiskan makanan di piringnya. Sang kekasih -makanan- bahkan tidak sanggup membuat Changmin melupakan pesan yang ia baca tadi.
"Apakah terjadi sesuatu yang buruk?"
Changmin memandang Eunhyuk yang juga sudah usai makan. Piring-piring kotor masih berserakan didepannya.
"Tidak ada" jawab Changmin dengan senyum yang dipaksakan. Ia mengambil piring di meja yang ada didepannya lalu beranjak berdiri. Namun, belum sempat ia melangkah, suara Eunhyuk membuatnya kembali duduk.
"Aku tahu kau tidak sedang baik-baik saja."
Skakmat. Ada pepatah yang mengatakan jika sahabat adalah seorang yang mengenalmu lebih dari kau kenal dirimu sendiri sepertinya memang benar adanya.
Changmin meletakkan piringnya lagi. Ia menundukkan kepalanya.
"Appa memberiku waktu dua minggu dari sekarang untuk kembali ke Jepang." ucap Changmin pelan.
Eunhyuk yang mendengarnya hanya mengangguk saja. "Hanya itu?" tanyanya.
Sontak Changmin langsung mendongak mendengar respon Eunhyuk. "Kenapa kau bilang hanya itu, hyung? Apa maksudmu?" nada bicaranya tiba-tiba meninggi.
"Dua minggu itu waktu yang sangat panjang, Min. Aku tahu kau mencemaskan waktumu bersama kami." Eunhyuk menjawab dengan tenang.
"Kau tidak mengerti, hyung. Aku tidak bertemu dengan kalian selama 5 tahun. Lalu setelah aku kembali ke Seoul lagi, aku hanya menemui kau dan Kyu-ah. Itupun hanya kuranga dari sebulan. Setelah itu aku harus kembali ke Jepang. Aku bahkan tidak tahu kapan bisa bertemu kalian lagi." suara Changmin melunak. Ia kembali menunduk.
Eunhyuk menghela napasnya. "Kau yang tidak mengerti, Min. Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu."
"Tapi setidaknya, kau masih bisa bertemu rutin dengan Kyu-ah, hyung. Sedangkan aku? A-aku..." Changmin tidak bisa meneruskan ucapannya. Ia menggigit bibirnya.
"Aigo..." Eunhyuk tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku bahkan tidak bisa merayakan kelulusan bersama kalian." lanjut Changmin pelan. Namja ini tiba-tiba berubah menjadi sensitif.
.
.
.
Kyuhyun memandang ponsel yang ada di genggamannya. Ia baru tiba di rumah saat Eunhyuk menelponnya tadi.
"Apakah terjadi sesuatu yang buruk?" gumam Kyuhyun tanpa ada jawaban dari siapapun.
Ia beranjak ke kamar mandi setelah meletakkan ponsel di meja. Badannya butuh dimanjakan dengan guyuran air hangat dari shower.
.
"Hyung," panggil Changmin lirih. Mencoba memastikan apakah Eunhyuk sudah tidur atau belum.
"Hm," Eunhyuk menjawab dengan gumaman.
Changmin yang tidur terlentang justru memandang lurus langit-langit kamar Eunhyuk. Sebuah senyum terlukis di bibirnya. Sedangkan Eunhyuk yang merasa tidak mendapat respon -lagi- dari Changmin menoleh ke kiri. Ia belum tidur saat Changmin memangggil namanya.
"Ada apa?" tanya Eunhyuk lagi.
Changmin menoleh dengan senyum. "Besok kau ada acara?" tanyanya.
Eunhyuk menggeleng. Senyum di bibir Changmin semakin lebar. "Ikutlah dengan kami. Aku dan Kyu-ah akan menunjukkan tempat rahasia kami padamu."
"Tempat rahasia?" Eunhyuk mengerutkan dahinya. "Maksudmu seperti markas atau sejenisnya?"
"Aniyo. Itu bukan markas, hanya tempat yang indah saja."
"Kau bilang rahasia, lalu kenapa mau menunjukkan tempatnya padaku?"
"Hanya ingin saja. Lagipula Kyu-ah juga setuju." Changmin mencolek Eunhyuk yang terdiam. "Besok bawa mobilmu, ya? Sekalian menjemput Kyu-ah." katanya memohon.
Eunhyuk mendengus. Selama Changmin di Seoul, ia merasa menjadi sopir pribadinya. Seenaknya saja menyuruhnya menjemput disinilah, mengantar kesanalah.
"Baiklah," jawabnya kemudian. Ia sudah bersiap membekap mulut Changmin kalau-kalau namja itu berteriak kegirangan. Bukan suatu keheranan jika Changmin akan berteriak kegirangan setelah keinginannya terkabulkan, apalagi oleh Eunhyuk.
"Terima kasih, hyung. Jaljayo." ucap Changmin dengan senyum kekanakan. Membuat Eunhyuk terheran, namun akhirnya tersenyum. "Sama-sama. Jaljayo, Changmin-ah," jawabnya. Mereka menuju ke alam mimpi setelah mengucapkannya.
.
.
.
Kyuhyun yang duduk di teras melirik jam tangannya. Changmin bilang ia sedang dalam perjalanan bersama Eunhyuk. Ia kembali memainkan PSP ditangannya. Ia bosan jika hanya diam menunggu.
Namun ternyata otaknya tidak bisa fokus pada benda persegi ditangannya itu. Pikirannya justru melayang saat ingatan tentang perpisahan dengan orang ia cintai.
Pertama appanya. Orang yang sangat Kyuhyun sayangi melebihi rasa sayang pada dirinya sendiri. Lalu Changmin yang mengatakan akan pindah saat pemakaman selesai. Waktu itu adalah titik tersulit dalam hidup Kyuhyun. Namun berkat dukungan dari orang yang ia sayang, semua bisa ia lewati.
Ia kembali teringat saat kelulusan mereka di tingkat akhir. Kyuhyun merasa ditinggalkan lagi. Pada saat itu Yunho secara mendadak memutuskan menjadi prajurit. Hal itu membuat mereka sempat mempertanyakan lagi arti persahabatn karena Yunho mengatakannya tiba-tiba. Walau mereka sempat bersitegang satu sama lain, namun akhirnya mereka hanya bisa mendukung keputusan Yunho.
Tiga tahun kemudian, Sungmin dan Siwon yang baru lulus strata satu ditarik oleh perusahaan luar negeri. Mereka langsung diterima menjadi karyawan disana. Pada tahun yang sama, Donghae juga harus pindah dari Seoul karena pekerjaannya. Dan lagi-lagi Kyuhyun merasa ditinggalkan.
Ia tak apa walau harus jauh dari sahabat-sahabatnya itu. Setidaknya Eunhyuk masih dekat dengannya walau tidak dalam satu pekerjaan yang sama.
Kyuhyun percaya, pada akhirnya sahabat yang ia cintai memang harus pergi jauh darinya. Entah untuk pekerjaannya, cintanya, ataupun hal yang lain. Namun satu yang pasti, mereka akan dipertemukan lagi suatu hari.
Kyuhyun sudah menyiapkan hati seumpama Eunhyuk juga harus pergi jauh darinya. Ia juga akan baik-baik saja saat Changmin kembali lagi ke Jepang.
Ia sudah berjanji pada mendiang appanya. Ia akan menjadi namja yang kuat dan tidak mudah menangis.
TIINN TIINN
Kyuhyun terlonjak mendengar suara klakson. Ia menoleh dan menemukan mobil Eunhyuk sudah ada di halaman rumahnya dengan Eunhyuk dan Changmin yang menyandar pada mobil.
"Yak, Kyu-ah! Aku pegal menunggumu sadar dengan kedatangan kami." seru Changmin dengan wajah kesal. Bagaimana tidak kesal? Ia bahkan sudah memanggil Kyuhyun untuk kesekian kali dan tidak ada respon dari sahabatnya itu.
"Harusnya kita membunyikan klakson saja sejak tadi." Eunhyuk yang tadi membunyikan klakson ikut berkomentar.
Kyuhyun tidak tersadar jika ia melamun sejak tadi. Ia melihat PSP ditangannya yang menunjukkan tulisan 'game over'.
"Mianhae," Kyuhyun yang tersadar segara merapikan bajunya lalu mengambil ponsel serta membawa kekasihnya pula. Ia berjalan mendekati mobil Eunhyuk.
"Ayo berangkat." seru Kyuhyun.
Tanpa berkomentar, Eunhyuk dan Changmin masuk ke mobil. Changmin yang tadi duduk di samping Eunhyuk memilih duduk di belakang.
"Kau pikir aku supirmu?" kesal Eunhyuk melihat Changmin dan Kyuhyun sudah duduk manis di kursi belakang.
"Sudahlah, hyung. Jangan banyak komentar. Ayo jalan!" perintah Changmin disertai senyum menjengkelkan yang ditunjukkan Kyuhyun.
Eunhyuk menghela napas, "Ke arah mana kita pergi?" tanya Eunhyuk dengan nada yang lebih manis.
Changmin menepuk dahinya. Ia lupa belum memberitahu Eunhyuk dimana tempatnya.
"Jalan lurus dulu. Nanti aku beritahu saat diperjalanan." ucap Changmin membuat Eunhyuk ingin menenggelamkan kedua namja bergelar setan itu ke dalam Sungai Han. Ia merasa menjadi supir sungguhan.
"Baiklah," jawabnya lalu mulai melajukan mobilnya.
.
.
.
"Hyuk, bagaimana kabar kekasihmu?" tanya Kyuhyun yang sedang menikmati pemandangan dari jendela mobil.
"Baik, ia bahkan menanyakanmu." jawab Eunhyuk tanpa menoleh. Ia masih menyetir sekarang.
"Mmuohh, heomm kommm mmm?" Kyuhyun menoleh dengan pandangan jijik pada Changmin.
"Jangan bicara dengan bahaaa alien. Telan dulu makanan mulutmu itu!" ucap Kyuhyun pada Changmin.
GLUK
"Hyung punya kekasih?" tanya Changmin setelah menelan makanannya.
Eunhyuk melempar kotak tissue disampingnya ke arah Changmin. "Kau mengejekku?!" tanyanya sambil menoleh sebentar ke arah Changmin lalu kembali fokus ke depan.
Changmin mengelus kepalanya yang mendapat lemparan sayang dari Eunhyuk.
"Aku tidak mengejekmu. Sungguh. Aku tidak tahu kau sudah punya kekasih."
"Aku memang sudah punya kekasih. Kenapa? Kau iri?" ucap Eunhyuk angkuh.
"Apa?! Aku iri? Tidak, terima kasih." jawab Changmin sedikit menggerutu lalu menarik selembar, dua lembar, tiga lembar, sampai beberapa lembar tissue kemudian merematnya.
"Hei! Kau membuang-buang tissue. Tak tahukah kau berapa banyak pohon yang ditebang untuk membuat segenggam tissue ditanganmu itu?!" Kyuhyun bersuara. Ia menarik kotak tissue dari pangkuan Changmin. Sejak tadi ia mengamati Changmin sembari menyenderkan tubuhnya pada jok.
"Aish..." Changmin menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Eunhyuk hanya meliriknya lewat kaca spion hanya terkikik. Mungkin Changmin kesal karena omongannya tadi.
.
"Di perempatan belok ke kiri lalu jalan sekitar 100 meter. Disana tempatnya." Changmin memajukan tubuhnya mendekati Eunhyuk. Sebentar lagi mereka tiba di tempat 'rahasia' Kyuhyun dan Changmin.
Ketiga namja itu turun setelah Eunhyuk menghentikan mobilnya. Tidak ada yang tidak tersenyum dari ketiga namja itu. Kekaguman jelas terlihat sejak pertama menginjakkan kaki turun dari mobil.
"Wow, daebak. Tempat ini sangat indah." ucap Eunhyuk sembari melepaskan kacamatanya. Ia tidak tahu jika ada tempat yang seindah ini disekitar Seoul.
"Masih sama. Tetap indah." gumam Kyuhyun. Changmin tertawa melihat Eunhyuk yang berputar - putar seperti anak kecil. "Tempat ini tetap mempesona." ucapnya menyetujui gumaman Kyuhyun.
Kyuhyun melangkah melewati rumput ilalang yang membentang luas. Changmin juga berjalan disampingnya. Eunhyuk? Ia bahkan asyik dengan dunianya sendiri sejak tiba. Entah berpoto ataupun bermain - main dengan rumput tersebut. Benar - benar kekanakkan, pikir Kyuhyun.
Kyuhyun berhenti lalu merebahkan tubuhnya diatas rumput. Beberapa pucuk dan daunnya terasa menggelitik, namun terasa nyaman bagi Kyuhyun.
"Aku heran. Kenapa tempat ini selalu sepi. Aku bahkan berpikir hanya kita yang mengetahui tempat ini." Changmin merebahkan tubuhnya disamping Kyuhyun.
Kyuhyun menaruh kedua tangannya dibawah kepala. "Entahlah. Tapi selama kau tidak di Seoul, aku lebih sering kesini. Dan kurasa kau benar. Hanya kita yang tahu tempat ini." ucapnya menatap langit pagi dari tempatnya berbaring. Mereka memang sengaja pergi lebih pagi untuk menghindari kemacetan. Maklum, sedang musim liburan. Wajar jika kemacetan mengular dijalanan Seoul jika menjelang siang.
"Tapi kemarin kau bilang sudah lama tidak kesini?"
"Memang. Biasanya aku kesini seminggu sekali. Tapi sejak 4 bulan lalu, aku jarang kesini."
"Kenapa?"
"Sibuk mengurusi muridku yang sangat pintar."
Changmin terkekeh, ia mengerti maksud sahabatnya ini. "Jadi, Cho seongsangnim sulit membagi waktu." Ok, itu sebuah pertanyaan.
"Sedikit," timpal Kyuhyun.
"Kenapa kau sering kesini?"
"Untuk mengobati kerinduan pada sahabat terbodohku." jawab Kyuhyun dengan senyum.
"Aku itu pintar," Changmin menarik pipi Kyuhyun, menimbulkan erangan dari si pemilik pipi.
"Sssh, sakit, pabbo!" ketusnya sambil mengusap pipinya yang memerah. Ia selalu menjadi sasaran sahabatnya, terutama Changmin.
Kyuhyun memilih menutup mata, merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya. Mengabaikan pipinya yang masih terasa berdenyut akibat ulah Changmin. Sedangkan Changmin memperhatikan Eunhyuk yang terlihat berjalan kearah mereka. Sepertinya namja itu kelelahan.
Eunhyuk menjatuhkan tubuhnya disamping Kyuhyun. Ia menetralkan napasnya yang memburu akibat terlalu antusias bermain dengan rerumputan yang menurutnya sangat indah.
"Kalian, bagaimana bisa menemukan tempat seindah ini?" tanyanya sedikit mengangkat kepala lalu menengok pada Kyuhyun dan Changmin disampingnya. Ia sudah bernapas teratur saat ini.
"Entah, tidak sengaja saja." Changmin mengangkat bahunya. Memang, ia dan Kyuhyun tidak sengaja menemukan tempat ini.
"Ketidaksengajaan yang mengagumkan," ucapnya kembali merebahkan kepalanya.
Hening
Ketiga namja itu terdiam. Semilir angin musim panas menggoyang rerumputan disekeliling mereka. Suara gesekan dedaunan seperti sebuah lagu yang terdengar nyaman ditelinga mereka.
"Kyu.." panggil Changmin lirih.
"Hm," respon Kyuhyun.
Jeda
Kyuhyun menunggu balasan Changmin. Begitupula Eunhyuk yang hanya diam. Ia penasaran bagaimana Changmin menyampaikannya pada Kyuhyun.
"Dua minggu lagi aku pulang," ucapnya pelan. Changmin bersumpah, ia sangat takut dengan respon Kyuhyun.
"Begitu ya?"
Namun diluar dugaan, Kyuhyun justru tersenyum. Padahal Changmin kira, ia akan mendapat umpatan gratis dari Kyuhyun.
"Aku mengerti," ucap Kyuhyun lagi.
"K-kau tidak marah?"
"Aku? Apa hak ku untuk marah padamu. Itu hidupmu. Aku sebagai sahabatmu hanya bisa mendukungnya."
Kyuhyun menoleh dengan senyum pada Changmin, membuat namja kelebihan kalsium itu merasakan kedua maniknya memanas.
"Aigo, Kyu-ah. Aku menyayangimu..." seru Changmin sambil memeluk Kyuhyun. Eunhyuk tersenyum melihatnya.
"Aku tahu," jawab Kyuhyun sembari mengelus punggung Changmin. Ia jadi teringat saat Changmin memeluknya persis seperti ini saat terbangun dari tidur. Ia sudah memantapkan hatinya jika satu persatu sahabatnya harus pergi. Walau itu menyakitkan, tapi itulah kehidupan.
Changmin sendiri tanpa sadar mempererat pelukannya pada Kyuhyun. Kedua matanya sudah berkabut dan siap meneteskan air mata. Namun air matanya langsung lenyap karena ulah Eunhyuk.
Eunhyuk dengan jahil memisah kedua namja itu lalu berbaring diantara mereka. Ia hanya tersenyum saat mendapat umpatan dari kedua namja yang kesal itu.
Changmin-ah, hyung bangga padamu. Setidaknya kau berani mengatakannya dengan berani saat ini. Kupikir kau akan setakut seperti saat kau akan mengatakan kepindahanmu dulu.
Dan Kyuhyun-ah, kau semakin kuat dari hari ke hari. Hyung bahkan tidak pernah melihatmu menangis sejak hari kematian appamu. Kau benar - benar menjalankan apa yang appamu inginkan.
Eunhyuk hanya bisa berteriak kegelian saat Kyuhyun dan Changmin dengan kompak menggelitik badannya.
.
.
.
"Aigo, Chwang. Aku hanya akan pergi ke toko di persimpangan jalan." kesal Kyuhyun pada Changmin.
Bagaimana tidak? Sejak Changmin bilang akan pulang dua minggu lagi, namja itu terus menempel padanya. Awalnya ia setuju saja saat Changmin memohon untuk menginap di rumahnya. Toh eommanya menyukai kehadiran Changmin. Namun lama - lama Kyuhyun kesal sendiri melihat Changmin yang terus mengekorinya.
"Ayolah, Kyu-ah." rajuk Changmin. Demi Eunhyuk yang memiliki wajah paling jelek diantara mereka -menurut Kyuhyun, ia ingin muntah melihat Changmin yang merajuk seperti anak kecil. Lagipula ia sudah 23 tahun. Sadarkah Changmin jika mereka sudah beranjak dewasa?
"Kau di rumah saja, Chwang!" Kyuhyun keluar dengan cepat.
Changmin berdecak setelahnya, "Aish..."
Ia merebahkan kepalanya disandaran sofa. Sepertinya memang terlalu berlebihan terus menempel pada Kyuhyun. Ia merutuki sikap bodohnya.
Changmin memandang seluruh penjuru ruangan. Ia merasa nyaman tinggal dirumah Kyuhyun. Namun saat sepi seperti inilah yang membuatnya menarik kata - katanya. Ia benci sendiri, karena itu ia menolak tinggal dirumah lamanya.
Ahra dan Nyonya Cho pergi sejak pagi. Kata Kyuhyun, kedua yeoja itu pergi bersama kekasih Ahra. Membicarakan pertunangan katanya.
Sedangkan ia dan Kyuhyun sejak tadi hanya di rumah. Bermain game, menonton film, dan bermalas - malasan. Sudah lama ia tidak melakukan hal itu. Saat menginap di apartemen Eunhyuk pun ia lebih banyak pergi berjalan - jalan karena Eunhyuk sibuk bekerja.
Changmin meniup poninya yang menjuntai menutupi dahi. Rambutnya sudah mulai memanjang. Berbeda sekali dengan Changmin saat berada di lingkungan kerjanya. Biasanya ia selalu berpenampilan cool dengan tatanan rambut yang klimis. Tapi, biarlah. Kapan lagi bisa berpenampilan sesantai ini jika tidak sekarang. Mungkin ia akan mencukur rambutnya saat akan pulang.
DRRT DRRT DRRT
"Yeoboseo," jawab Changmin.
"Kau dan Kyuhyun di rumah?" tanya seseorang di seberang telepon.
Changmin mengangguk dengan bodohnya. Tidak mungkin orang di seberang telepon bisa melihatnya. Ia dengan cepat menjawab, "Ya, tapi Kyu-ah sedang keluar sebentar."
"Datanglah ke tempat rahasia kalian. Ada masalah." ucap namja itu -Eunhyuk- dengan gusar. Nada bicaranya mencerminkan kegelisahan.
"Mwo?! Apa yang terjadi?"
"Pokoknya cepat datang kesana bersama Kyuhyun. Titik."
"Yak, hyung. A-..."
TUT TUT TUT
"Aish,.." kesal Changmin karena Eunhyuk mematikan teleponnya sepihak. Dadanya berdebar kencang. Ada apa? Apakah tempat rahasianya dijadikan perumahan? Apakah tempat rahasianya tiba - tiba dibuka untuk umum oleh pemiliknya? Atau jangan - jangan diratakan dengan tanah. Andwee!
Changmin menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran negatif di kepalanya. Ia berjalan bolak - balik sambil menggigiti kukunya.
"Kenapa Kyu-ah lama sekali." ucapnya dengan khawatir. Ia berjalan kearah pintu rumah yang tertutup. Namun, ia langsung berlari saat melihat Kyuhyun masuk.
"Kyu-ah, kita harus pergi ke padang rumput." Kyuhyun mengerutkan kening. "Aniyo, aku malas." jawabnya acuh.
Changmin menghembuskan napas kasar. Ia langsung menarik Kyuhyun yang masih memeriksa kantong belanjaannya.
"Yak, Chwang! Jangan menarikku!" teriak Kyuhyun saat kantong di tangannya jatuh.
"Diamlah dulu. Ada masalah disana. Kita harus memastikannya."
Kyuhyun berhenti, membuat Changmin juga sontak berhenti. "Maksudnya?" tanya Kyuhyun selidik. Changmin menggeleng. "Kujelaskan nanti saat dijalan. Kita pergi dulu yang penting."
"Lepaskan dulu tanganku,"
"Baiklah," Changmin melepaskannya.
Kedua namja itu bergegas pergi ketempat rahasia -padang rumput- mereka menggunakan motor Kyuhyun.
.
.
.
Kyuhyun dan Changmin langsung berlari kearah padang rumput setelah turun dari motor. Kedua namja itu menautkan alis saat tidak melihat keanehan disana. Kedua namja itu saling berpandangan bingung.
"Annyeong, Changmin-ah, Kyuhyun-ah."
"Aku tidak menyangka, kita bisa bersahabat sampai akhir."
TBC
Huwaa. Ada yg nungguin gak? Mianhae, author beneran tulalit jadi orang. Rencananya gimana, jadinya gimana. Ini mumpung idenya terus mengalir malem ini, jadi ngetik without word dulu.
Kecewakah setelah lama gak update trus hasilnya kek gini? Author udah berusaha loh. Mianhae, kalo lagi lagi mengecewakan.
Niatnya mau end di chapter ini, tapi belum jadi. Tapi chapter depan udah pasti end.
Buat yang masih setia baca sama review, gomawoyo. Itu semangat buat author.
Sekali lagi, jeongmal gomawo*bungkuk90°
Pai-pai. See u next chapter*bow
1 Januari 2016 00:00*jam dirumah author. Happy New Year all.
Balesan review
Guest chapter 9. Dec 14
Enggak kok. Kyu jarang sakit sebenernya. Gomawo udah review, jangan bosan ya.
Cho sabil chapter 9. Dec 10
Gomawo, ini bakal dilanjut terus sampai end kok. Masih banyak kekurangan disini.
Wonhaesung love chapter 9. Dec 9
Gomawo, ini udah dilanjut. Maaf agak ngaret. Jangan bosan review.
Lia chapter 9. Dec 10
Tebak coba, kayaknya udah bisa ngira deh buat chapter depan. Gomawo, jangan bosan review.
Anna505 chapter 9. Dec 10
Apanya yg lancar?*kedipkedip. Kkkk, gomawo udah review.
Awaelfkyu13 chapter 9. Dec 9
Eh, minta konflik lagi?*mendadakbodoh. Kayaknya udah abis konfliknya, tinggal penyelesaian cerita aja*peace. Gomawo chingu, jangan bosan review.
Diahretno chapter 9. Dec 9
Yup, masalah kecil yg berubah jadi besar. Kalo itu coba baca chapter 2 deh, itu tuh yg bikin kyu harus kambuh sampai eommanya nangis. Mianhae, 'jujugan' itu maksudnya gimana? Gomawo.
Pckyh chapter 9. Dec 9
Emang, bikin ngiri sekali, chingu. Author aja gemes nulisnya. Nunggu mereka kumpul? Uhm, gak janji ya*peace. Gomawo
Ekaokta3424 chapter 9. Dec 9
Kkk, chingu lucu deh. Terkadang sebuah masalah sepele menjadi lebih rumit saat kita saling diam. Karena gak ada kebenaran yg bisa disampaikan oleh kedua belah pihak*apa ini?. Gomawo chingu.
Lydiasimatupang2301 chapter 9. Dec 9
Mianhae chingu, update molor sekali. Jangan bosan review, ya. Gomawo.
Meimeimayra chapter 9. Dec 9
Persahabatan tanpa konflik itu ibarat sayur kurang garam. Gak ada gregetnya gitu. Gomawo, jangan bosan review.
Kyuli 99 chapter 9. Dec 9
Yup, mereka udah saling tahu memang. Mianhae agak ngaret. Gomawo, jangan bosan review.
Angel sparkyu chapter 9. Dec 9
Salah berarti perkiraan chingu. Mianhae, lagi lagi ngecewain readers. Belum bisa update cepet. Gomawo udah review.
Cinya chapter 9. Dec 9
Iya nih. Author geli pas nulis. Aduh, chingu bener banget deh. Tapi itu sakit bamget loh. Dulu ketawa bareng, terus jadi sinis sinisan. Kan itu sakit. Ups, jadi curhat. Gomawo, jangan bosan review.
