SECOND LOVE
Disclaimer : Karakter milik mereka sendiri, dan Toradora milik Yuyuko Takemiya-san, saya mengambil beberapa adegan dan inti cerita, tapi tidak semua mirip sama Toradora kok :)
Pair : SuLay, KrAy, SuDo
Warning : BL, Bahasa campur aduk, Typo(s), OOC (untuk kebutuhan cerita)
.
.
.
"Aku pulang"
Ketika Junmyeon membuka pintu, hanya kegelapan yang menyapanya. Asumsi bahwa ibunya belum pulang melintas di otaknya. Mungkin ibunya dan ibu Yixing masih mencari mereka jadi sampai sekarang ia belum pulang.
Ia berjalan perlahan untuk menggapai saklar lampu. Dan setelah ruangan itu jadi terang, sesuatu yang ada di meja mendistraksi perhatiannya. Junmyeon menghampiri meja dengan alis terangkat. Setelah sampai, sebuah jam tangan dan sebuah kertas yang bertuliskan 'untuk Junmyeon' yang ada di meja itu kembali membuat kernyitan di dahinya.
Ia membolak-balikan arloji yang ada di tangannya lalu ia membuka kertas yang ada di tangan sebelahnya.
'Pergilah ke rumah kakekmu, tunjukan jam tangan ini dan mereka pasti akan mengerti'
Junmyeon menggenggam arloji yang ada ditangannya dengan senyum yang terukir dari bibirnya setelah ia membaca isi surat itu. Ia jadi malu sendiri kenapa ia lupa kalau ibunya adalah orang yang paling mengerti dirinya.
Haa, jika ia lari, bahkan setelah ia berulang tahun, ia masih tetaplah anak-anak.
.
.
.
"Fight on fight on fight on"
Kyungsoo terus melafalkan kalimat itu seraya kakinya terus berlari kecil menyusuri pinggiran lapangan. Entah sejak kapan ia jadi suka olahraga, tapi ia benar-benar menikmati kegiatannya sekarang.
"Hoiiii, Kyungsoo" Teriak Jongin yang ada di pinggir lapangan dan hanya dibalas lambaian tangan Kyungsoo, kemudian Kyungsoo melanjutkan lari paginya "Kamu beneran gak mau nganter Junmyeon sama Yixing?"
"Hah? Apa? Aku gak denger" teriak Kyungsoo di seberang sana.
Jongin menurunkan kembali tangan yang baru saja ada di mulutnya tapi matanya tetap melihat Kyungsoo yang masih berlari-lari kecil "Tak peduli seberapa inginnya ia jadi kuat, tetap saja ia akan merasa sakit setelah ditinggalkan oleh Junmyeon dan Yixing sekaligus"
Setelah menggumamkan itu, sebuah toyoran mendarat di kepalanya. Ketika menengok, ia melihat Yifan yang sedang tersenyum lebar memamerkan deretan gigi serinya. Sebelum sempat Jongin mengeluarkan umpatan, Yifan berkata "Bukannya kamu juga sama?"
"Hah? Apanya?"
Yifan menyeringai "Sudahlah, gak usah denial, dasar barisan sakit hati"
"Apaan itu?" pertanyaan Jongin tidak dijawab, Yifan hanya mengangakat bahu sambil berlarlu dan itu membuat empat sudut siku-siku muncul di pelipis Jongin "Dasar! mentang-mentang gak ditolak!"
.
.
.
Deru suara mesin terdengar seiring memutarnya ban yang menopang badan kendaraan panjang yang bernama bus. Jika dilihat dari jendela, terlihat jelas dua orang remaja yang sedang duduk menumpang bus itu.
Yixing mengeluarkan satu keresek berukuran sedang dan menyimpannya di pangkuan "Karena ini makanan untuk orang yang kabur dari rumah, jadi aku bawa sesuatu yang terlihat dewasa" Ujarnya sambil memamerkan beberapa jenis makanan yang ada di dalam kantong kresek itu "Lihat, ada cokelat stik, ada kue wafer, dan—"
"Aku juga bawa makan siang" Junmyeon mengeluarkan satu kotak makanan dari dalam tas besarnya dan memberikan itu pada Yixing.
Mata Yixing berbinar sesaat setelah ia melihat apa yang ada di dalam kotak itu "Bukannya kamu seharusnya beli makanan cepat saji ketika kamu kabur dari rumah?" Ujarnya, meskipun begitu, ia tetap memakan itu dengan senang hati.
"Ibumu…bagaimana?"
Sebelum menjawab, Yixing menelan makanan yang sedang dikunyahnya "Semalam, ia ditelpon suaminya terus, mungkin Tao gak ada yang jaga jadi dia disuruh pulang" Jawab Yixing "Terus gimana sama ibu?"
"Ah, dia juga baik-baik saja"
"Aku hanya mengungkapkan ini karena kita sedang lari dari rumah" Yixing menatap kotak makanan yang ada dipangkuannya dengan senyum "Kamu tahu, ketika ibu bilang bahwa kita bertiga ini keluarga, aku senang sekali, aku jadi tahu apa itu 'keluarga'. Karenanya…ketika kita berdua benar-benar akan menjadi keluarga seperti ini—" Yixing mengalihkan pandangannya kearah jendela "Apa ibu akan menangis?"
Tidak kunjung mendapat sahutan dari Junmyeon, Yixing kembali mengalihkan pandangannya dan menengok kearah Junmyeon. Melihat Junmyeon sedang menunduk, Yixing langsung berkata "Nggak, maksudku bukan itu. Itu bukan berarti aku gak mau lari sama kamu—"
Junmyeon mendongak dan membuat Yixing seketika menghentikan pergerakan mulutnya. Ia tersenyum "Yixing, kalau aku bilang ini bukan jalan menuju villa Jongin, bagaimana?"
.
.
.
Setelah perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah yang kentara sekali jauh berbeda dengan rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Bukan hanya jauh lebih besar, tapi terlihat mewah dengan halaman yang luas. Sampai-sampai Junmyeon sendiri sempat melongo dibuatnya.
Meskipun sebelumnya sempat ragu, akhirnya Junmyeon memberanikan diri memencet bel yang ada disebelah pintu utama. Setelah beberapa kali ia menekan benda itu, akhirnya pintu dibuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya. "Kalian, siapa ya?" Tanyanya dengan senyuman hangat yang membuat kerutan di kulitnya semakin terlihat.
Bukannya menjawab, Junmyeon malah memperlihatkan arloji yang ditinggalkan oleh ibunya kemarin. "Ini, saya disuruh memperlihatkan ini oleh ibu saya"
Dengan mata yang membola, wanita itu menerima arloji yang diperlihatkan oleh Junmyeon "A-a-ayah! Kesini!" teriaknya dan membuat seorang pria tua datang dengan terburu-buru. Setelah ia melihat jam yang ada di tangan istrinya, ia ikut melebarkan matanya.
"Ja-jadi, kalian?"
Junmyeon dan Yixing membungkukan badannya "Senang bertemu dengan anda. Saya Kim Junmyeon, cucu anda" Ujar Junmyeon setelah ia menegapkan diri lagi. Junmyeon kemudian merangkul Yixing "Dan ini calon pengantin saya. Zhang Yixing" Ucapannya itu membuat wajah Yixing memerah.
.
.
.
Mereka diterima dengan baik dan diperlakukan dengan hangat di rumah itu. Meskipun kakek dan nenek Junmyeon orang yang berada, tetapi mereka sangat sederhana. Mereka bahkan tidak mempunyai pembantu dan melakukan apapun sendiri, meskipun kadang-kadang mereka meminta bantuan orang lain untuk membersihkan rumah yang luas itu.
Karena itu, nenek Junmyeon jadi mahir melakukan kegiatan rumahan, jadi sekarang ia sedang mengajarkan Yixing memasak. Dan Junmyeon sendiri sedang duduk-duduk di ruang tengah dengan kakeknya yang bercerita pengalaman-pengalaman hidupnya.
Suara tawa kecil dari Yixing dan neneknya yang terdengar dari arah dapur menerbitkan sebuah senyuman di bibirnya. Meskipun awalnya Yixing terlihat kaku dan gugup sekali, tetapi senyuman dan perlakuan lembut dari neneknya membuat Yixing terlihat lebih nyaman.
Dan sepertinya neneknya guru memasak yang baik karena selama Yixing berada di sana ia tidak membuat kekacauan lagi seperti dulu ia belajar bersama Junmyeon.
Beberapa saat kemudian, tepat setelah Yixing dan nenek Junmyeon menata makan malam di atas meja makan, suara bel yang ditekan mengalihkan perhatian mereka.
Yixing awalnya menawarkan diri untuk membukakan pintu namun dilarang oleh nenek Junmyeon dengan kalimat "Tidak usah, nak Yixing duduk saja" dan neneknya lah yang berjalan menuju pintu.
Setelah pintu itu terbuka, apa yang dilihatnya di depan pintu membuat tangisan bahagia turun dari matanya. Ia segera memeluk sosok yang baru ia lihat lagi setelah belasan tahun. Lalu mereka terisak bersama melepas rasa rindu yang tidak kentara.
Kemudian ia membawanya ke ruang makan tempat dimana keluarga yang lain sedang berkumpul. Setelah ia sampai di sana, semua orang langsung berdiri melihat kedatangannya.
"I-ibu?"
Ia tersenyum dan helaan nafas lega keluar begitu saja "Myeonie, Xingie, kalian benar-benar disini" setelah mendapat anggukan dari keduanya, ia menengok kearah ayahnya "Ayah" gumamnya.
Ia sempat membayangkan wajah ayahnya akan dipenuhi sorot amarah setelah ia memutuskan lari belasan tahun yang lalu, tetapi setelah ia melihat wajah lega sekaligus bahagia dari ayahnya, ia tak kuasa menahan rindu dan menerjang pria tua itu kedalam pelukan dan menangis di bahu yang dulunya tegap itu.
Ayahnya mengusap-usap punggungnya "Kamu merawat Junmyeon dengan baik ya" Ujarnya dengan air mata bahagia yang tak kuasa ia tahan. Kemudian ia menarik istrinya dan mereka bertiga berpelukan dan saling melepas rindu.
Junmyeon tersenyum melihat adegan di depannya. Hatinya jadi menghangat melihat mereka bertiga. Lalu ia menoleh kearah Yixing yang juga sedang memperhatikan mereka dengan senyum "Keluarga itu, luar biasa ya"
Yixing menoleh dan memiringkan kepalanya "Hm?"
Junmyeon kembali menatap tiga orang di depannya "Meskipun mereka tidak bertemu selama belasan tahun, tapi mereka tetap saling menyayangi. Dan kamu… ah tidak, kita… juga keluarga, kan?"
Yixing hanya membalasnya dengan senyum.
Setelah itu, mereka melanjutkan acara makan malam yang barusan sempat tertunda.
.
.
.
Junmyeon sedang berjalan di lorong rumah menuju kamarnya setelah ia mengobrol dengan kakeknya ketika ia melihat ibunya sedang berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan malam halaman rumah itu.
Ibunya menoleh ketika ia mendengar langkah kaki yang berjalan kearahnya. Setelah ia mendapati Junmyeon lah yang menghampirinya, ia tersenyum dan kembali memandang ke luar.
Junmyeon berdiri di samping ibunya dan ikut melihat keluar jendela "Jadi… ibu tidak pernah menikah, ya?"
Pertanyaan Junmyeon membuatnya tersenyum sendu "Jadi, kamu sudah tahu ya"
"Iya"
"Ayahmu pergi dengan orang lain ketika ibu sedang mengandung kamu" Ucapan ibunya itu membuatnya terenyuh "Meskipun orang-orang menyuruh ibu untuk melakukan aborsi, tapi ibu sangat ingin melindungimu"
Junmyeon menatap ibunya yang tersenyum setelah mengucapkan itu.
"Meskipun ternyata akhirnya ibu tidak bisa melindungimu dan ibu tidak bisa membahagiakan kamu"
"Apanya yang 'ibu tidak bisa melindungiku'?" Kalimat yang keluar dari mulut Junmyeon membuat ibunya mengalihkan perhatiannya dari luar jendela dan menoleh kearah Junmyeon "Bukannya kakek bilang ibu merawatku dengan baik?" Junmyeon kemudian menepuk-nepuk dadanya "Lihat, aku sudah besar. Jadi… berbanggalah"
"Ah ya, kamu sudah tumbuh" Ujarnya sambil menunduk "Punggungmu terlihat besar ketika kamu lari, sangat besar sampai ibu merasa kalau ibu tidak mengenalmu" Ia kembali menghadap ke jendela "Ibu merasa bahagia, tapi ibu juga merasa takut. Ibu takut kalau kamu akan meninggalkan ibu dan tidak akan pernah kembali—"
"Dan meninggalkan ibu sendiri?" Pertanyaan Junmyeon membuat air mata yang tadinya hanya mengintip di sudut matanya jadi keluar begitu saja "Aku… aku akan terus tumbuh menjadi dewasa. Dan aku akan melakukan itu tepat di hadapan ibu, bukan di tempat lain. Jadi, lihatlah aku selalu"
Kalimat dari Junmyeon membuat isakan ibunya mengencang dan membuat Yixing yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka di belakang tembok menunduk dengan senyum sendu.
.
.
.
Junmyeon dan Yixing sedang duduk di pinggiran ranjang ketika suara tawa ibu Junmyeon terdengar jelas saking kencangnya dan itu membuat Yixing menoleh dengan senyum lebar pula "Ibu tertawa"
Junmyeon yang juga tersenyum lebar mengangguk "Iya"
Kemudian mereka diam lagi dan Yixing hanya melihat kearah luar jendela kamar yang ditempatinya dengan Junmyeon berdua. Entah kenapa dari sekian banyak kamar kosong yang tersedia, mereka malah disuruh satu kamar berdua.
"Jun coba matiin lampunya" Perintah Yixing ketika ia melihat langit malam saat itu.
"Hah? Kenapa?"
"Matiin aja!" Setelah Junmyeon menurut, Yixing berjalan kearah jendela dan ketika jendela itu terbuka, hembusan angin malam menyambut wajah mereka.
Mereka kemudian menatap langit malam dengan takjub karena bintang yang terlihat di sana jauh lebih banyak daripada bintang yang biasa mereka lihat di kota.
Dengan pandangan masih kepada taburan bintang itu, Yixing membuka suara "Sejujurnya, aku agak khawatir" Mendengar itu, Junmyeon menoleh kearah Yixing "Aku pikir lari dari rumah dan menikah itu tidak akan berhasil" Yixing mengubah posisi jadi membelakangi jendela "Tapi, aku tetap ingin menggenggam mimpi ini. Aku merasa bahwa jika aku tidak melakukan sesuatu, semuanya akan kembali hancur"
Junmyeon menggumam dan kembali menatap langit "Mungkin, kita bisa kembali memulai dari awal di sini" Ujarnya karena ia merasa apa yang mereka lakukan selama ini salah dan itu membuat mata Yixing membola "Kita tidak harus kabur untuk menikah, ayo kita menikah dengan persetujuan dari semua orang. Bukannya akan lebih baik jika kita menerima restu dari semua orang?"
Yixing sempat menggigit bibir ketika Junmyeon mengucapkan kata-kata itu. "Maksudmu dengan semua orang?"
"Kakek, nenek, dan…orang tuamu"
Ucapan Junmyeon kembali membuat Yixing tersentak dan langsung menoleh kearah Junmyeon yang masih menatap langit. Kemudian ia menunduk kembali dengan pandangan sendu "Mungkin, itu akan memakan waktu yang lama"
"Itu tidak masalah" Jawab Junmyeon yakin "Toh akhirnya kita akan bahagia juga kan. Mungkin memang benar, kebahagiaan itu butuh proses, dan kenapa kita tidak membagi kebahagiaan kita dengan orang lain?" Lanjutnya sambil menatap Yixing dengan senyuman.
Yixing masih menunduk. Ia mengerti maksud Junmyeon. Dan dari awal Junmyeon membawanya kesini ia sudah tahu, kata-kata manis dari mulut Junmyeon waktu itu tidak akan bertahan lama. Tapi ia juga tidak menyalahkan Junmyeon, karena dari awal keputusan mereka memang sudah salah.
"Baiklah" Ujar Yixing akhirnya, kemudian ia menatap Junmyeon dan kemudian mereka saling menatap mata satu sama lain dengan hening.
Mata jernih Yixing yang sedang ia pandang sekarang membuat irama jantungnya meningkat seolah ia telah lari berkeliling berkilo-kilo meter. Tapi ia tidak lelah, dan tidak akan perah lelah memandang ciptaan tuhan yang ada di hadapannya ini.
"Yi—"
"Mata kamu merah!" Sela Yixing dan membuat Junmyeon agak tersentak "Nafasmu aneh" Junmyeon kembali tertohok dan segera menutup mulutnya.
"Diam" Ujarnya dengan suara sengau karena tangannya masih menutup mulutnya.
Yixing tersenyum dengan mata yang masih menatap Junmyeon yang menghindari tatapannya "Bibirmu juga kering. Pasti sakit kalau dicium"
"Udah ih"
Yixing menunduk dan memelankan suaranya "Kalau ciuman, rasanya pasti sakit… sekali"
Setelah Yixing menyelesaikan kalimatnya, Junmyeon langsung melepas tangan itu dari mulutnya dan dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Yixing yang masih menunduk. Ia memegang kedua lengan Yixing dan menempelkan bibir Yixing pada bibirnya sendiri.
Setelah ia melepas ciuman itu, dengan wajah memerah karena aliran darahnya mengalir cepat seiring kerja jantungnya yang juga meningkat, ia berkata "Gimana rasanya?"
"Seperti yang aku duga, bibirmu kasar dan kering" Jawab Yixing dan membuat wajah Junmyeon semakin memerah "Dan juga, rasanya hangat, hangat sekali" gumam Yixing dengan wajah yang masih menunduk.
Ia kembali mendongak dan menatap Junmyeon dengan mata sayu "Hey, ini dingin, jadi ayo lakukan itu sekali la—" Ucapannya terhenti oleh bibir Junmyeon yang kembali menempel di bibirnya.
Setelah tautan bibir mereka terlepas, Yixing kembali berkata "Sekali la—" Ucapannya kembali terhenti oleh bibir Junmyeon yang kembali menempel di bibirnya. Kali ini lebih dalam sampai mereka memejamkan mata dan Junmyeon memegang pipi Yixing lembut untuk memperdalam tautan bibir mereka. Setelah terlepas, mereka melakukan itu lagi dengan bintang-bintang di luar sana yang seolah menyaksikan mereka berdua.
.
.
.
Setelah menginap semalam, mereka akhirnya pulang ketika matahari sudah mulai berada di sisi barat setelah kakek dan nenek Junmyeon dengan berat hati mengizinkan mereka pulang. Mereka sampai di jalan menuju rumah mereka ketika warna jingga sudah mewarnai langit sana.
Ketika mereka sampai di depan pagar rumah Junmyeon, ibu Yixing juga kebetulan sedang berjalan dari arah berlawanan. Ketika ia melihat Yixing, matanya membola dan senyuman lega terukir dari bibirnya. Kemudian ia berlari kearah Yixing dan langsung memeluk Yixing.
"Yixing, kamu kemana saja, mama khawatir sekali" Tangisnya pecah begitu saja ketika anak yang sedari kemarin ia cari sekarang ada dipelukannya.
Yixing yang merasakan perasaan lega dari ibunya membalas pelukan hangat itu dengan mata yang mulai memerah "Aku minta maaf, ma"
Ibunya menggeleng cepat kemudian melepaskan pelukannya "Nggak sayang, mama yang harusnya minta maaf, mama bukan ibu yang baik selama ini dan menelantarkan kamu dan membiarkan kamu diperlakukan tidak baik oleh papamu"
Yixing ikut menggeleng "Nggak ma, itu bukan salah mama" Ujarnya cepat.
Mendengar itu, di usaplah rambut Yixing dengan sayang. Ia menatap Yixing dengan mata yang masih berair "Apa tidak ada kesempatan buat mama untuk memperbaiki semua?"
"Maksud mama?"
"Kamu benar-benar tidak mau ikut dengan mama?"
Yixing menunduk menghindari mata berair mamanya "Aku—"
"Mama mohon" gumaman lirih dari ibunya membuat Yixing tersentak dan menggigit bibir. Baru kali ini ia medengar suara sebegitu lirihnya dari sang ibu dan itu jujur saja membuat hatinya sakit.
Ia mendongak, rasa dilemma memenuhi hatinya. Ia tidak ingin pergi, tapi ia tidak ingin menyakiti ibunya. Apalagi setelah percakapan Junmyeon dan ibunya waktu itu mendadak melintas di otaknya.
"Mama janji, setelah kamu lulus sekolah menengah atas, dan kamu sudah lebih dewasa, mama akan membiarkanmu memutuskan kehidupanmu selanjutnya" Setelah mendengar itu Yixing kembali tersentak dan menoleh kembali kearah ibunya yang sedang menatapnya penuh harap.
Ia menelan ludah, lalu ia menengok kearah Junmyeon yang sedari tadi hanya berdiri mematung memperhatikan mereka.
Junmyeon terhenyak setelah ditatap Yixing dengan pandangan penuh tanya seakan ia meminta Junmyeon untuk membantunya mengambil keputusan. Ia tidak ingin Yixing pergi. Benar-benar tidak ingin orang yang selama beberapa waktu ini mewarnai hidupnya pergi. dan ia berniat tidak menjawab apa-apa sebelum sebuah tepukan dari ibunya mendarat di bahu kanannya.
Ia menengok kearah ibunya yang sedang tersenyum, seolah mengerti dilemma yang dirasakan anaknya, ibunya mengangguk meyakinkan.
Junmyeon kembali menengok kearah Yixing yang masih menatapnya dan tersenyum walaupun rasanya bibirnya terasa berat untuk ditarik dan membentuk senyuman itu "Kita akan bertemu lagi, kan?"
Pertanyaan Junmyeon membuat Yixing mengerti bahwa Junmyeon menyuruhnya untuk mengikuti ibunya. Ia tidak merasa sakit hati, justru ia merasa lega mengetahui bahwa Junmyeon merelakanya pergi meskipun ia tahu bahwa mereka sama-sama melakukan itu dengan berat hati.
"Iya. Kita pasti bertemu lagi" Jawabnya yakin.
.
Esoknya, Junmyeon dan ibunya mengantarkan mereka sampai bandara. Setelah pengumuman bahwa pesawat mereka akan segera berangkat, Yixing dan ibunya berjalan setelah sebelumnya berpamitan kepada Junmyeon dan ibunya. Ibu Junmyeon juga sempat mewanti-wanti Yixing untuk menjaga diri.
Baru beberapa langkah Yixing berjalan, ia berbalik dan berlari kearah Junmyeon kemudian memeluknya erat. "Tunggu aku" Bisiknya pada Junmyeon.
Setelah melepaskan pelukan, Yixing tersenyum lebar dan dibalas senyuman tipis dari Junmyeon. Mereka ingin menangis, tapi mereka tidak ingin membuat perpisahan ini lebih berat untuk satu sama lain.
Sebelum Yixing berbalik lagi, Junmyeon mengalungkan syal merah yang dulu selalu ia pakaikan pada Yixing. Yixing menggenggam syal itu, menghirup bau yang menguar dari serat-serat kain itu lalu mencium pipi Junmyeon dengan singkat sebelum ia berlari kearah ibunya yang sudah menunggu. Lalu Junmyeon melambaikan tangannya sampai Yixing hilang dari pandangan.
Ia tersenyum menyembunyikan rasa sakitnya sambil mengelus pelan pipi yang barusan sempat disentuh bibir Yixing.
.
.
.
Junmyeon duduk di bangkunya dengan pandangan tertuju pada bangku polos yang ada di depannya. Ia menghiraukan eksistensi Kyungsoo, Jongin dan Yifan yang sedang mengelilingi bangkunya. Ia juga hanya diam tidak menjawab rentetan pertanyaan yang diajukan padanya.
"Junmyeon, kita gak akan ngerti kalau kamu gak mau bilang apapun" Ujar Yifan akhirnya karena sedari tadi Junmyeon hanya menunduk lesu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tambah Kyungsoo "Kenapa Yixing—"
"Ayo semua, duduk ke bangku masing-masing!" Pertanyaan Kyungsoo diinterupsi oleh wali kelas yang tiba-tiba datang dan mau tidak mau membuat Jongin, Yifan dan Kyungsoo kembali ke bangku mereka sebelum mereka mendapat jawaban dari Junmyeon.
Setelah semua siswa duduk kembali di bangkunya, wali kelas kembali membuka suara "Sebenarnya, saya punya kabar buruk untuk kita semua" Ujarnya dengan wajah menyesal dan membuat para siswa menatapnya heran "Karena alasan keluarga, teman kita Zhang Yixing harus mengundurkan diri dari sekolah ini"
Kalimat barusan seolah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Junmyeon dan itu sukses membuat seluruh isi kelas menatap wali kelas mereka dengan pandangan tidak percaya, termasuk Jongin, Yifan, dan Kyungsoo yang sontak melebarkan mata mereka. Setelah itu mereka langsung menengok kearah Junmyeon yang semakin menundukan kepalanya.
"Saya baru saja mendapat kabar dari ibunya dan mengatakan bahwa Yixing akan kembali ke China bersama ibunya—"
Brakk
Suara meja yang ditepuk membuat pak wali kelas menutup mulutnya "Tunggu! Ini bohong kan? Ini hanya bercanda kan? Dia dipaksa kan?" rentetan pertanyaan yang menunjukan bahwa ia tidak percaya diungkapkan oleh Baekhyun mewakili pikiran teman-temannya.
"Dia tidak pernah bilang apapun" Tambah Sehun.
Helaan nafas panjang terdengar dari mulut bapak wali kelas kemudian ia tersenyum maklum "Di hidup kalian, kalian akan berjalan di jalan yang berbeda-beda. Tak peduli jika kalian memutuskan untuk tetap tinggal di tempat kalian sekarang atau kalian harus memutar arah, kalian harus tetap membuat keputusan"
"Dan mungkin Yixing memang meninggalkan kalian, dan itulah keputusan yang diambilnya. Jadi… bukannya lebih baik kita mensupport dia?"
Sementara yang lain langsung membuka hp mereka dan mengirimkan pesan kepada Yixing, Junmyeon bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar kelas dan tanpa ia sadari, ia diikuti oleh Jongin, Yifan, dan Kyungsoo.
"Junmyeon!" Teriakan Kyungsoo membuat langkahnya terhenti. Ketika ia berbalik, ia mendapati Kyungsoo yang sedang berlari kearahnya dan sekonyong-konyong mendaratkan telapak tangannya pada pipi Junmyeon dengan keras sampai Junmyeon terhuyung.
"Kenapa kamu kembali sendiri?" Pertanyaan Kyungsoo membuat Junmyeon menggertakan giginya dengan wajah yang masih merah "Kenapa Yixing pergi? Aku gak ngerti sama sekali. Hey Jun—"
"Tunggu, Kyungsoo" Tarikan di bahunya membuat Kyungsoo tersentak.
"Yifan?"
"Aku… aku juga gak mau dia pergi. Aku akan membawanya kembali jika aku bisa. Tapi… ini keputusannya. Dan aku tahu ini yang terbaik. Jadi, yang bisa aku lakukan saat ini hanya menerimanya, kan"
Setelah mendengar itu, mereka bertiga hanya bisa menatap punggung Junmyeon yang menjauh. Mereka bisa merasakan rasa sesak Junmyeon dari getaran suaranya.
.
.
.
Junmyeon sedang menata makan malam di meja ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang ada di kolong meja. Ia sedang galau dan malas melakukan apapun sebenarnya, tapi ia berpikir kalau life must go on dan ia tidak bisa terus-terusan murung, kan?
Ia menemukan dompet Yixing yang mungkin tanpa sengaja Yixing jatuhkan waktu itu. Ia tersenyum menatap itu dan foto Yifan terpampang di dalamnya ketika ia membuka dompet itu.
Lalu lembaran kedua dari foto itu membuat rasa penasaran hinggap dan apa yang dilihatnya setelah ia memutuskan untuk melihat lembaran kedua di bawah foto Yifan membuatnya tidak bisa menahan tarikan di sudut bibirnya. Ia melihat fotonya bersama Yixing ketika mereka berfoto bersama.
Drrrt drrrttt
Suara getaran dari hpnya membuat Junmyeon mengalihkan pandangannya dari foto itu. ia mengambil benda kotak itu dari saku celananya dan matanya sukses membola ketika nama Yixing terpampang di layar hpnya. Ia segera membuka pesan dari orang di seberang sana.
"Kamu gak pernah bilang kalau kamu cinta aku"
Adalah isi pesan yang dikirimkan Yixing dan membuat Junmyeon memiringkan kepalanya "Masa sih?" Gumamnya pada diri sendiri. Ah ia jadi ingat, waktu itu ketika ia akan mengucapkan itu setelah ia jatuh ke sungai, Yixing malah menginterupsinya. Ia lalu menepuk dahinya sendiri "Sial, aku lupa"
Drrt drrt
"Bodoh"
Adalah isi pesan kedua dari Yixing dan membuat Junmyeon terkekeh sendiri "Ya, kadang aku bodoh juga ya"
.
.
.
"Jun"
Junmyeon berjengit kaget ketika tiba-tiba Kyungsoo sudah berdiri di sampingnya ketika ia berjalan di koridor "Kyungsoo?"
"Aku… minta maaf soal yang kemarin" Ujarnya dengan pelan "Aku gak akan pernah bilang itu sama kamu" Lanjutnya.
Junmyeon menautkan kedua alisnya "Terus kenapa kamu bilang kayak gitu?"
Kyungsoo menunduk "Aku pikir, aku sedikit mengerti dengan apa yang kamu bilang kemarin" Ujarnya, kemudian ia mempercepat jalannya dan meninggalkan Junmyeon yang masih melongo.
"Kyungsoo!" Panggilan dari Jongin membuat Kyungsoo menoleh dan mendapati Jongin yang berjalan kearahnya. Lalu mereka berjalan beriringan menuju kelas "Aku gak nyangka kamu minta maaf duluan sama Junmyeon, yaa walaupun caranya aneh, sih"
Kyungsoo terkekeh "Aku memang orang baik" Jawabnya percaya diri dan membuat Jongin ikut terkekeh.
"Jongin, kamu tahu? Dari dulu, sebenarnya orang-orang selalu menyayangi Yixing meskipun ia selalu berpikir kalau kehadirannya hanya akan merepotkan orang lain dan akhirnya ia membuat dirinya semakin kuat. Bahkan aku sempat cemburu melihatnya"
Jongin melihat Kyungsoo tanpa berniat untuk menyela.
"Tapi ternyata itu tidak sepernuhnya benar. Meskipun ia selalu terlihat kuat, sebenarnya hatinya lembut dan rapuh. Apa yang ia lakukan hanya menerima apapun yang orang lain berikan padanya. Ia tidak suka memperlihatkan jati dirinya pada orang lain yang tidak ia percaya"
Jongin tersenyum "Dia sama dengan seseorang, ya"
"Maksudnya?"
"Kamu tahu persis apa maksudku" Jawab Jongin dan membuat Kyungsoo terkekeh kecil. Dan yaa… ia paham apa yang dimaksud Jongin.
.
Sementara itu, ketika Junmyeon menapakkan kakinya di kelas, ia langsung disambut pemandangan teman-temannya yang sedang berpose di depan kamera.
"Kalian sedang apa?" Tanyanya.
Kyungsoo menarik tangan Junmyeon dan melempar tas Junmyeon ke sembarang arah dan membawanya ke tengah "Kita akan mengirimkan foto ini pada Yixing" Ujarnya semangat.
"Oke siap ya, satu, dua—"
Cklek
Akhirnya foto dengan posisi absurd teman-teman sekelasnya berhasil diambil dan dikirimkan kepada orang di seberang sana.
.
.
.
Junmyeon yang sedang berjalan menuju rumahnya menghentikan sejenak langkah kakinya untuk menatap langit yang sudah berubah warna jadi jingga. Ia tersenyum. Meskipun sekarang ia hanya berjalan sendiri dan sekarang Yixing tidak ada di sampingnya, ia akan melompati ruang dan waktu dan hatinya akan selalu ada di samping Yixing.
Dan ia berjanji, perasaan cinta yang sedang ia genggam dan ia letakan di lubuk hatinya sekarang tidak akan berubah sampai kapanpun.
.
.
.
END
.
.
.
a/n : Haaaaaa akhirnya Rin bisa namatin fic ini meskipun mulai pabaliut(?) dengan tugas yang yaaa biasa lah semester awal suka ditumpuk-tumpukin tugasnya hahahaaa
terimakasih banyak buat teman-teman sekalian yang sudah mendukung Rin dalam pembuatan fanfic ini sampai beres meskipun mungkin tidak sesuai ekspektasi kalian, pokoknya aku cinta kalian semuaaaaa :*
ehem, yasudah, sampai bertemu di fic Rin yang lain yaaa (kalau ada) xDD
.
OMAKE :
Waktu terus berlalu cepat bagi yang menikmatinya dan terasa lambat bagi orang yang menunggunya. Termasuk Junmyeon. Itu yang selama ini dipikirnya sebelum akhirnya ia lulus dari sekolah tempat ia menuntut ilmu selama tiga tahun lamanya.
Meskipun awalnya terasa lambat, akhirnya ia merasa bahwa semua berlalu dengan cepat. Setahun lebih bisa membuat segalanya berubah. Sekarang, Yifan akan menyusul Jongdae ke luar negeri, kemudian Kyungsoo dan Jongin menjadi semakin mesra setelah enam bulan yang lalu mereka mendeklarasikan hubungan mereka
Dan dulu Junmyeon dan Yifan yang statusya LDR hanya bisa mengigit jari melihat kemesraan mereka berdua.
Junmyeon tersenyum geli mengingat hal-hal yang dilaluinya disini tanpa Yixing. Ah mengingat Yixing membuat hatinya menjadi tidak karuan lagi. Karena, berbeda dengan Yifan yang bisa menyusul Jongdae ke luar negeri, Yixing malah beberapa minggu terakhir tidak memberinya kabar sama sekali.
Tapi ia menyembunyikan perasaannya dan tersenyum menerima buket-buket bunga yang diberikan oleh adik kelas-adik kelasnya seperti yang dilakukan Yifan, Jongin, Kyungsoo, dan teman-teman yang lainnya. Ia juga terkekeh geli melihat Jongin yang kewalahan menerima bunga-bunga dan hadiah dari para penggemarnya.
Setelah itu, ia mengadahkan kepalanya untuk melihat jendela kelas yang dulu ia tempati bersama Yixing.
Ia membulatkan matanya setelah ia melihat lambaian benda berwarna merah yang tertiup angin dari ruangan itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung memberikan bunga yang diterimanya kepada Yifan dan segera berlari kesana.
Ia terus berlari menghiraukan tatapan heran dari teman-temannya dan—brakk—ketika ia membuka pintu kelas itu dengan keras ia—
Tidak menemukan siapa-siapa.
Kelas itu sunyi, sepi, dan kosong.
Ia berjalan perlahan menuju lemari tempat penyimpanan inventaris kelas. Dan senyuman kembali terbit di wajahnya karena ketika ia membuka lemari itu ia menemukan seseorang yang sedang menggembungkan pipinya.
"Padahal aku mau ngagetin kamu"
Junmyen terkekeh, "Aaa aku kaget" Ujarnya datar dan membuat Yixing semakin memajukan bibirnya. Melihat Yixing keluar dari lemari itu membuatnya ingat kenangan dulu yang membuat mereka semakin dekat.
Yixing yang berguling keluar dari lemari dan menarik-narik tasnya.
"Yixing, dengar!"
"Hm?"
"Aku cinta kamu!"
Tiga kata itu sukses membuat Yixing tersentak kemudian wajahnya memerah "Ke-ke-kenapa kamu bilang itu sekarang?"
Wajah gugup Yixing masih menggemaskan seperti dulu "Karena kamu bilang aku gak pernah bilang aku cinta kamu"
"Kamu sering bilang itu kok"
"Tapi belum pernah bilang langsung"
Wajah Yixing semakin memerah dan itu membuat Junmyeon tak kuasa menahan diri dan langsung membawa Yixing dalam pelukan. Dan ketika Yixing ikut melingkarkan tangannya pada tubuh Junmyeon, seketika itu pula ia merasakan kerinduan yang membuncah di dalam hatinya.
Junmyeon semakin mengeratkan pelukannya dan berharap agar pelukan hangat itu tidak secepatnya berakhir.
"Jangan pergi lagi" Bisiknya lirih dan ia hampir memekik kecewa ketika Yixing melepaskan pelukannya. Tapi hatinya kembali menghangat melihat lesung pipi yang terbentuk akibat senyuman lembut dari pemiliknya.
"Aku tidak akan pergi, oleh karena itu, ayo kita berjuang bersama untuk masuk universitas"
Junmyeon tersenyum lebar "Siap!"
Dan ini awal perjuangan mereka untuk menjadi dewasa, bersama-sama—Dan mungkin mengimplementasikan rencana 'pernikahan' mereka yang tertunda.
.
Kekehan kecil dari mulut Yixing perlahan memelan ketika Junmyeon semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Yixing. Nafasnya tercekat ketika wajah itu tinggal beberapa mili dan hembusan nafas Junmyeon sudah terasa pada wajahnya dan—"
Brakkk
"Kalian ingin melupakan kam—ah maaf mengganggu!"
Yixing dan Junmyeon tersentak kaget dan langsung menengok kearah suara dan mendapati Kyungsoo, Jongin, dan Yifan yang sudah berdiri di depan pintu dengan salah tingkah.
Yixing langsung mengubah air muka kagetnya dan langsung menerjang mereka bertiga dalam pelukan "Aku kangen kalian"
Dan Junmyeon hanya menatap itu dengan tawa kecil. Ia tidak menyangka, perjanjian untuk mendekatkan satu sama lain dengan cinta pertama mereka malah berakhir semuanya mendapatkan cinta kedua.
Ia dengan Yixing, Yifan dengan Jongdae, dan Kyungsoo dengan Jongin. Ia terkekeh, meskipun cinta pertama mereka tidak berakhir indah, tapi ada cinta kedua yang akhirnya membuat mereka bahagia.
.
.
.
END lagi
Haha daaaaaan maaf banget kalau akhirnya kurang greget
)))))
Big thanks to :
qwetyxing, yxingbunny, chenma, Guest, saklawase, MissMoretz, micopark, .35, xingmyun, Guest, ciao, akuaXing10, nichi.
