I own nothing, JK. Rowling has!

Chapter 10

Natal

Butir demi butir salju turun secara perlahan dari angkasa. Tidak ada angin yang berarti. Keadaan sangat nyaman dan tentram. Sangat kudus. Tak ada kicauan burung. Hanya ada suara dari helaian udara dari angin yang bergerak lalu bergesekan dengan benda di sekitarnya.

Aku masih di dalam selimut. Duduk menyandar di papan kepala tempat tidur. Gorden yang memang semalaman ini dibiarkan terbuka sudah memancarkan pendar cahaya dari luar sana. Kulirik jam tangan yang kuletakkan di nakas tadi malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Tetapi, aku masih enggan untuk menggerakkan tubuh secara berelebihan. Mungkin bila aku mengikuti tradisi Natal keluarga Mum, pasti sekarang aku sudah menggunakan dress terbaik dan duduk takzim di dalam gereja mendengarkan khotbah dan melantunkan puji-pujian pada Tuhan. Dan terima kasih Merlin, aku tak perlu melakukan semua hal itu karena tradisi seperti itu tak ada di dunia kami. Pandanganku beralih dari jendela berhias salju menuju sosok yang tertidur dengan gaya yang entah apa namanya di tempat tidur seberangku. Aku tersenyum menatapnya. Rambut hitamnya terkulai lemas menutupi sebagian wajahnya. Selimut yang sedianya menutupinya tadi malam sekarang sudah menghilang entah kemana. Aku mendengus padanya saat ia bercerita dengan sangat bersemangat tentang kegiatannya sebagai intern di Kantor Auror tadi malam. James memang suka berlebihan bila menceritakan sesuatu, tapi hal itu yang membuatku bertahan dengannya. Dia berisik. Aku pendiam. Semacam simbiosis mutualisme bagiku.

"Hey, sweetheart," Grandma Molly mengetuk pintu kamar kami lalu melongokkan kepalanya ke dalam. "Kau sudah bangun?"

Aku mengangguk. Tatapannya beralih pada James yang masih menunjukkan tidur dengan gaya bebasnya itu. Grandma tersenyum menatap cucu lelakinya itu. "Kau kedatangan tamu," ujarnya kembali menatapku dengan senyuman hangat khasnya.

"Pagi-pagi seperti ini?" tanyaku setengah menaikan alis.

Siapa yang akan mengunjungiku di pagi Natal seperti ini? Helaine? Aku rasa tak mungkin. Dia sudah sampai di Prague semalam rasaku. "Rose," suara Grandma membuyarkan lamunanku.

"Aah yaa. Aku akan segera turun."

"Bangunkan James untuk sarapan," lalu ia pergi meninggalkanku.

Dengan malas aku turun dari tempat tidur dan mengikat asal rambutku. Kuambil jubah tidur panjang dan merapatkan serapat-serapatnya di tubuhku. Kuguncang-guncang tubuh James yang tak bergerak seperti mayat itu dan ia hanya mengeluarkan geraman dari mulutnya dan dengan tersenyum bodoh aku meninggalkannya.

Grandma mengatakan bahwa temanku itu menunggu di halaman. Yang benar saja. Mana ada makhluk normal yang akan menunggu di luar dengan cuaca sedingin ini. Baru saja aku keluar dari dalam rumah sosok itu langsung mengejutkanku. Ooh jangan berpikir bahwa ia mengagetkanku dengan suara atau semacamnya. Ia hanya berdiri lalu tersenyum saat melihatku.

"Scorpius."

Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat di hadapanku sekarang. Scorpius Malfoy. Di The Burrow. Mustahil. Tetapi, kenyataan berkata lain. Ia sedang berdiri di hadapanku. Mantan partner Ketua Muridku ini berada nyata di depanku.

"Rose," sapanya.

Namun aku masih menatapnya dengan tatapan yang teramat sangat tak percaya. "Rosalie," ucapnya lagi. "Kau melamun," dia tersenyum sangat tipis saat mengatakan dua kata itu padaku.

"Hah yaa. Maaf."

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.

"Aku tak boleh mengunjungimu?" ia berbalik tanya dengan bingung.

Buru-buru aku menggeleng. "Bukan itu."

"Aku hanya mampir dan membawakanmu ini," ia menyodorkan sebuah kotak beludru bewarna hitam pekat padaku.

Aku hanya mengerutkan kening sambil memandangnya bergantian. "Kado Natal."

Tanpa perlu menunggu aba-aba darinya aku langsung membuka kotak itu dan menemukan sebuah sirkam rambut yang bersinar karena berhiaskan batu-batu cantik berwarna biru tua. "Cantik," ujarku takjub.

"Kau suka?"

"Sangat."

Dia kembali tersenyum. Tapi kali ini lebih besar dan aku yakin semua orang bisa melihat jelas senyum di wajah pucatnya itu. "Rose," James sudah berdiri di belakangku dengan rambut yang masih lumayan berantakan namun harum pasta gigi dan pembersih mulut sudah tercium dari dirinya.

"Kau bangun akhirnya," kekehku.

"Dengan guncangan sedahsyat tadi, orang mati juga bisa hidup lagi," kekehnya lalu mengacak-acak rambutku.

"Berlebihan," dengusku.

James menatap Scorpius yang masih beridiri di hadapanku. "Malfoy."

"Potter," Scorpius menjawabnya dengan raut wajah yang kembali menegang.

"Aku menunggumu di meja makan," ucap James padaku yang aku sambut dengan anggukan. "Selamat Natal, Malfoy," ucapnya lagi lalu pergi masuk meninggalkan kami.

Scorpius mengangguk. "Selamat Natal, Potter."

"Kalian menginap bersama?" tanya Scorpius tiba-tiba.

"Semacam tradisi keluarga," jawabku yang tak mendapat respon darinya.

Lalu diam kembali menyelimuti kami. Tak ada yang bersuara. Hanya Scorpius yang terlihat mengedarkan pandangannya sementara aku masih tertunduk menatap isi kotak pemberiannya tadi. "Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang," ia berbicara akhirnya.

Aku hanya mengangguk. Dan tetiba suasana canggung menghinggapi kami. Scorpius tampak bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Namun, secara cepat semua itu berakhir saat ia melangkah maju dan mendaratkan kecupan di pipiku. "Selamat Natal."

Lalu ia berjalan cepat meninggalkanku.

Tanganku langsung menyentuh pipi yang baru saja merasakan kehangatan bibirnya. "Selamat Natal," bisikku dengan senyuman.

000


Musim Panas

Masih tergambar dengan jelas di ingatanku bagaimana Draco menunggu di King's Cross saat kami baru saja akan memulai semua perjalanan ini. Hari itu matahari bersinar indah dengan angin yang sesekali bertiup sejuk. Seperti biasa stasiun itu tampak ramai dengan lalu lalang para penumpang, petugas, sampai sanak keluarga yang sekadar mengantar atau menjemput rekannya. Dengan senyuman yang terpancar dari wajahku aku melangkah masuk ke dalamnya. Seperti bermain judi, aku hanya akan menebak dan berharap bahwa Draco akan menunjukkan batang hidungnya di hadapanku. Karena sama sekali tak ada komunikasi di antara kami. Hanya kalung dan gelang itu saja. Dan pada saat itu semuanya terasa cukup. Menurut kami perpisahan sementara untuk menemukan akhir yang lebih bahagia itu lebih penting dari apapun. Jadi, kami benar-benar akan menyelesaikan semua masalah yang harus diselesaikan. Seperti kasusku, bagaimana cara mengatakan pada Ron tentang hubunganku dengan Draco, bagaimana caraku mengatakan pada Harry tentang rencana kepergianku untuk waktu kembali yang bahkan tak terlintas di benakku kapan itu, dan bagaimana caranya aku mengucapkan selamat tinggal atau sampai jumpa pada semua anggota Orde serta keluarga Weasley nanti. Tetapi, semua masalah itu terselesaikan walau dengan sangat emosional.

Ron terlihat pucat pasi saat mendengar kebenaran hubunganku dengan Draco. Wajahnya berubah putih seperti saat dementor mengecupnya. Aku sudah mengira bahwa ia akan meledak dan memaki-makiku lalu tak lagi berbicara padaku karena berpikir aku adalah seorang pengkhianat. Lagi-lagi kenyataan berkata lain. Waktu mendewasakan seseorang adalalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan Ron saat itu. Dia mendengarkan semua penjelasanku dan dengan segenap kekuatannya mencerna segala informasi yang kuberikan dan ia hanya terdiam dan mengangguk kemudian pamit meninggalkanku, Harry, dan Ginny di ruang tengah The Burrow. Aku masih terduduk diam menunduk lemas karena menyadari bahwa ini seperti vonis mati dari persahabatan kami. Namun, beberapa saat kemudian Ron kembali. Kembali dengan senyum lemah yang ia paksakan terulas di wajahnya. Ia duduk di sampingku lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu , namun bila dia adalah kebahagiaanmu, aku tak akan keberatan," ucapnya.

Dan air mataku tumpah ruah saat mendengarnya. Ron merestuiku. Dan aku rasa itu sudah lebih dari cukup. "Jadi kita tetap bersahabat?" tanyaku.

"Selamanya," ujarnya. "Bahkan bila sampai kau memilki anak dari ferret itu," ia mencoba mencairkan suasana yang disambut dengan gelak tawa dari Harry dan Ginny.

Dan lagi-lagi aku tahu bahwa persahabatanku tak akan pernah pudar.

Momen emosional lainnya adalah saat Harry dan Ron mengetahui bahwa aku kan meninggalkan mereka. Dengan sangat cepat mereka berasumsi bahwa Draco yang membuatku membuat keputusan seperti ini. Dan kembali aku menjelaskan semuanya pada mereka tentang rencana ini. Mau ada atau tidak adanya Draco di hidupku sekarang, aku akan tetap pergi. Entah pergi kemana saja, hal yang aku tahu adalah aku harus sejenak pergi dari semua kegilaan yang kualami di dunia ini. Aku harus melarikan diri. Lari untuk menenangkan pikiranku. Hal ini ditolak mentah-mentah oleh mereka, tapi tak ada alasanku untuk tinggal bila Draco juga berencana sama sepertiku.

"Kau akan kembali?" tanya Harry setelah memelukku.

Aku diam tak tahu harus menjawab apa. Karena aku sendiri tak tahu apakah kelak aku akan kembali atau tetap bersama Draco sampai kami sama-sama menua dan mati karena usia.

"Hermione," ucap Harry lagi.

"Aku akan kembali mungkin suatu saat nanti," jawabku dengan senyuman.

Lalu acara peluk-berpelukan itu kembali kami lakukan. Ron menitikan air mata saat melepasku pergi. Begitupula dengan Harry dan Ginny serta seluruh keluarga Weasley. Sebelum pergi aku menitipkan kedua orang tuaku untuk terus dipantau oleh Harry dan tak ada penolakan darinya. Dan aku rasa pilihanku saat ini adalah hal yang paling tepat aku lakukan.

Kembali ke King's Cross. Saat itu aku mengedarkan pandangan keseluruh penjuru stasiun itu sambil terus berharap akan menemukan Draco. Dan terus berharap bahwa Draco sanggup meninggalkan semua kehidupannya disini. Dan harapan itu menjadi kenyataan. Sosoknya tertangkap di mataku walaupun aku masih ragu apakah benar itu dia atau muggle yang kebetulan mirip dengannya. Saat aku secara intens menatapnya, saat itu juga ia membuka kacamata hitam yang membingkai wajahnya tadi lalu tersenyum dan melambai padaku. Dia benar Draco. Sebelumnya aku tak pernah membayangkan Draco dengan balutan baju mugglenya dan lihat ia sekarang. Tampak lebih hidup. Dia memakai kaus berwarna hitam berkerah dengan celana jeans serta tas yang ransel. Disampingnya telihat travel bag. Benar-benar diluar nalarku saat melihatnya saat ini.

"Hey," sapaku saat berada tepat di hadapannya.

Dia tersenyum. "Hey," balasnya. "Kau mematung saat melihatku tadi. Apakah ada yang salah?" tanyanya dengan nada yang sangat serius.

Aku tertawa kecil saat mendengarnya. "Kau tampan sekali," ujarku.

Dan bukan seperti kebanyakan pria yang akan merasa bangga saat kekasihnya mengatakan ia tampan dan lantas semakin tersanjung dan membangga-banggakan ketampanannya, Draco hanya menunduk malu dengan semburat merah di wajahnya. Dia bersemu merah. Seumur hidup aku tak pernah melihat ia bersemu seperti ini. Seakan-akan momen seperti ini adalah kejadian langka bagiku.

"Darimana kau belajar berpakaian seperti ini?" tanyaku tak percaya.

Ia menunduk dan memperhatikan dirinya. "Darimu dan dari muggle yang aku lihat."

Aku tersenyum saat mendengarnya. "Aku merindukanmu."

"Aku juga," jawabnya dan aku memeluknya.

"Kita akan kemana?" tanyanya saat menatapku kembali.

"Pergi sejauh mungkin dari sini."

Dan ia menggenggam tanganku dengan mantap kemudian kami berjalan menyusuri stasiun ini tanpa perlu menutup-nutupi hubungan kami.

000

Musim Panas

Rasanya lucu sekali bila sekarang semua harus dilakukan serba muggle. Mulai dari pergi dari satu tempat ke tempat lain, memasak, dan melakukan segala aktivitas. Bukannya kami – maksudku aku dan Draco – tak ingin melakukannya secara sihir, tapi menurut berita yang tersiar segala aktivitas penyihir sekarang dipantau oleh Kementerian. Dan pemantauan itu dilakukan dengan melihat aktivitas tomngkat sihir dari masing-masing penyihir dan kami tak mau keberadaan serta aktivitas kami diketahui oleh seminim mungkin. Setidaknyalah itulah hal yang diminta Draco dariku. Jadilah, kami sekarang kemana-mana harus berjalan kaki atau menggunakan transportasi massal. Sama seperti pertama kali kami akan meninggalkan Inggris. Saat itu Draco dan aku bingung untuk menentukan tempat mana yang akan kami tuju. Dan tetiba saja ia menyelutuk. "Kita bisa berkeliling benua ini terlebih dahulu," dan hal itu aku sambut dengan sebuah anggukan yakin.

Aku sudah mengantisipasi semua ini. Paspor dan visa semua sudah ada di tangan. Tentunya secara ilegal. Karena dimanapun kalian berada, birokrasi untuk mendapatkan izin memasuki sebuah negara itu tetaplah sulit. Jadi, kami membeli tiket untuk menuju Heathrow Airport untuk membeli tiket tujuan Charles de Gaulle, Perancis. Sesampainya disana kami memulai perjalanan itu. Kami hinggap dari satu tempat ke tempat lain. Menjelajahi semua tempat indah dan bersejarah yang ada. Kemudian setiap harinya atau dua hari sekali kami akan berpindah negara menggunakan kereta. Entah berapa negara yang kami kunjungi. Swiss, Honggaria, Slovakia, Ceko, Polandia, dan kebeberapa negara lainnya. Semua perjalanan keliling Eropa itu berakhir saat kami sudah sampai di Turki. Kami berada di sebuah motel ditengah kota Istanbul. Aku baru saja bangun saat Draco duduk disampingku dengan lilitan handuk dan rambut yang masih setengah basah itu.

"Selamat pagi, tukang tidur," ujar Draco yang menunduk lalu mengecup keningku.

Aku merenggangkan tubuhku yang kaku sebentar lalu duduk disampingnya. Saat ia akan menciumku seketika aku mengelak. "Kau menolakku?" tanyanya bingung.

"Aku belum gosok gigi," jawabku cepat lalu sedikit menghindar darinya.

Dia menyeringai lalu mendorongku ke tempat tidur. "Percayalah, Granger. Aku tak peduli," ia terkekeh dan menciumku. Dan seperti biasanya kami melakukan rutinitas pagi yang tak perlu aku sebutkan.

Setelah selesai sarapan di sebuah kedai di dekat motel ini kami sama-sama diam dan menikmati cuaca indah di negara ini. "Kau merindukan London?" tanyanya padaku.

"Aku akan merindukan tempat dimana dirimu berada," jawabku yang disambut dengan senyuman olehnya.

Ia menenggak sisa teh susu di gelasnya. "Lalu kita akan pergi kemana lagi?"

"Kau sudah siap untuk menetap?" aku berbalik tanya.

Ia mengangguk. "Kau siap menjalani hari denganku dan semua aktivitas muggle yang akan kita lakukan kelak?" ia kini ikut berbalik tanya.

"Seharusnya kalimat itu keluar dari mulutku, Malfoy," kekehku. "Tentu aku siap," jawabku mantap. "Lalu apa yang akan kita lakukan saat sudah mendapatkan tempat untuk menetap?"

"Aku akan bekerja dan kau boleh melanjutkan studimu," jawabnya.

Aku menatap bingung padanya. Dia ingin membiayai kehidupan kami. Ini tak masuk akal. Aku tahu ia mencintaiku, tapi bukan berarti dia akan membiayai dan bertanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan hidupku. Walaupun Draco pergi bersamaku dengan uang yang cukup untuk kami gunakan untuk bertahan hidup selama 10 tahun kedepan dimana saja kami berada. Dan bila ditambah dengan semua uang di rekeningku, kami akan sanggup bertahan hidup sampai kapanpun. Tetap saja aku tak akan membiarkan ia sendirian bekerja.

"Kita berdua akan bekerja dan saat sudah mulai mapan kita akan melanjutkan studi," bantahku.

"Kau tak perlu bekerja," keceriaan di wajahnya lenyap.

"Dan membiarkanmu menanggung biaya hidupku. Tak akan pernah terjadi, Malfoy."

Dia menghela napas. "Kita masih punya banyak uang di tabungan. Hal itu bisa menjadi deposit pendidikanmu sementara aku akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari."

"Aku tak mungkin memakai uangmu untuk kepentingan pribadiku."

Ia menggeleng. "Aku yang mau kau memakainya."

"Tapi aku tak mau."

"Jangan keras kepala, Granger."

"Dan jangan memaksaku, Malfoy."

Kami diam. Diam untuk menetralisir kemarahan kami. Karena bila dilanjutkan permasalahan ini tak akan pernah berujung. "Kita berdua akan bekerja dan saat sudah mapan kita akan melanjutkan studi."

"Bagus."

"Puas, Granger?"

"Sangat, Malfoy."

Dan setelah perdebatan kami tentang apa yang harus dilakukan saat kami mulai menetap kami juga akhirnya menemukan tempat dimana kami akan menetap. Saat aku mengatakan sejauh mungkin, Draco benar-benar akan mengabulkannya. Disinilah kami sekarang negara adidaya serta tersibuk di dunia, Amerika Serikat. Selamat datang di The City Never Sleep, New York.

000

Musim Panas

New York dengan musim panasnya. Hal ini sangat tak bersahabat dengan Draco. Ia hanya melihat panas keluar jendela saat menyadari suhu di luar berada dikisaran 32 sampai 34 derajat celcius. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Aku sudah mewanti-wanti keadaan ini saat pertama kali ia mengusulkan New York tempat kami akan mengadu nasib kelak. Suhu musim panas yang sangat berbeda dengan London pasti akan menjadi kendala bagi Draco yang sangat membeci akan udara ini. Pada awalnya aku sudah memberikan beberapa alternatif pilihan kota di Amerika yang memilki musim panas yang akan bersahabat dengan dirinya, seperti San Fransico dan Seattle, tapi namanya juga Draco. Dia tetap berpegang teguh pada pilihan awalnya. Dan aku dengan senang hati mengikutinya.

"Kau sudah siap?" tanyaku yang sudah menggunakan blouse putih tanpa lengan yang kupadu dengan celana jeans pendek.

Ia mengangguk. "Kita jalan sekarang?" tanyanya sambil kembali membetulkan kemejanya di depan cermin.

"Tentu."

Dan seperti para New Yorker lainnya, kami berjalan diantara kerumunan manusia dengan segala macam motif menuju subway. Seperti halnya aku dan Draco yang sekarang sudah di dalam transportasi massal ini sambil berdesak-desakan karena pagi hari adalah waktu yang sangat sibuk di kota ini. Setelah melewati beberapa stasiun akhirnya Draco turun setelah dengan cepat mengecup puncak kepalaku. Dan aku kembali pada musik yang mengalun di telingaku sambil menunggu subway ini berhenti di pemberhentianku nanti.

Kami langsung menemukan sebuah apartemen yang lumayan bagus di daerah suburban kota ini. Letaknya tak terlalu jauh dari pusat kota dan harganya yang pas di kantunglah yang membuat kami memilih apartemen kami sekarang sebagai tempat tinggal. Dilengkapi dengan sebuah kamar tidur, dapur, ruang tengah, dua buah kamar mandi. Kami rasa ini sudah cukup. Dan baru beberapa hari saja kami tinggal disini, Draco sudah mendapatkan pekerjaan sebagai guru Matematika di sebuah sekolah dasar dan menengah pribadi di daerah Upper West Side, Manhattan. Aku terkejut saat mendengar hal itu.

"Kau diterima sebagai pengajar? Tapi kau tidak memilki ijazah dari perguruan tinggi," ucapku yang masih terkejut.

Dia tersenyum. "Kita masih seorang penyihir, Granger. Dan ingat, kita dapat melakukan apa saja dengan atau tanpa tongkat sihir itu."

"Kau memalsukan ijazah?" tanyaku tak percaya.

"Sama seperti kau memalsukan visa bekerja dan paspor kita disini," kekehnya.

Tak ada yang sanggup aku bantah. Karena memang semua izin tinggal, identitas, sampai ijazah yang dipakai Draco sekarang adalah hasil pemalsuan. Sebagai sosok yang dibesarkan di dunia sihir sangat tidak mungkin Draco memiliki semua dokumen itu. Jadi, pilihan ini adalah pilihan terakhir dan terbaik bagi kami.

"Baiklah-baiklah," jawabku. "Lalu kau mengerti tentang pelajaran itu?" tanyaku penasaran.

"Sama seperti Aritmanchy. Jadi, tak ada masalah," jawabnya mudah sambil memakan potongan apel yang tadi baru saja kupotong untuk kami berdua.

Aku hanya mengangguk. Masalah mengerti pelajaran, aku tak perlu takut akan hal itu. Otak Draco tak kalah brilian dari diriku. Dan beberapa hari kemudian aku mendapatkan sebuah pekerjaan sebagai pengasuh anak. Aku sangat menyukai hal itu. Anak kecil itu sangat menggemaskan. Dan tak hanya itu. Karena jadwal kerjaku yang hanya menuntutku untuk bekerja dari pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini hanya untuk duduk diam menuggu Draco pulang di apartemen kami. Aku melamar pekerjaan sebagai guru ballet di sebuah studio kecil yang letaknya tak begitu jauh dari apartemen kami. Dan sama seperti aku yang terkejut akan pekerjaan yang diterima Draco, ia juga terkejut saat mendengar bahwa aku diterima sebagai guru ballet untuk usia 10 sampai 15 tahun.

"Kau bisa menari?" tanyanya disela-sela sarapan kami.

Aku bangkit dari pantri kami menuju counter lalu mengambil sebotol susu untuk kumakan bersama sereal rasa madu itu. "Aku sudah mendapat sertifikat lulus dari sekolah ballet ternama di London saat umurku masih 15 tahun," jawabku yang kembali duduk dihadapnnya.

"Kau tak pernah bercerita," tanyanya lagi setelah menyesap habis kopi yang tadi baru kuseduh untuknya.

"Kau tak pernah bertanya."

"Karena aku tak berpikir kalau kau bisa melakukannya. Terlalu banyak talenta di hidupmu, Granger," ucapnya dengan tersenyum.

Aku sontak tersenyum mendengar pujiannya. "Terima kasih untuk pujian di pagi hari ini, . Kopi lagi?"

"Boleh."

Begitulah aktivitas harian kami. Bangun di pagi hari, aku menjadi pengasuh anak dan setelahnya pergi ke studio setiap hari senin sampai kamis, sementara Draco akan pergi ke sekolah untuk mengajar dan sekitar pukul 8 malam kami baru akan menikmati waktu bersama. Aku memasak, ia mencuci piring. Aku akan mencuci baju sementara ia akan membersihkan rumah. Dan segalanya terasa sangat nyata. Aku dan Draco. Tanpa sihi. Tanpa takut salah satu dari kami terbunuh setiap harinya.

000

Musim Gugur

Siapa lagi yang akan berbahagia saat musim panas di kota ini berakhir selain Draco. Ia menyambut hal ini dengan penuh suka cita rasaku. Karena ia tak perlu merasakan kulitnya terbakar dan ia tak merasa menjadi feminin karena setiap harinya selama musim panas aku akan mengolesinya tabir surya agar kulitnya tak berubah menjadi merah seperti udang rebus itu.

Akhir pekan adalah saat yang membahagiakan bagi kami. Tak perlu bangun di pagi hari, berjalan cepat demi mengejar subway, sampai berdesak-desakan di dalamnya dengan orang-orang asing yang menghimpit di kiri dan kanan. Aku dan Draco masih bergelung di dalam tempat tidur. Bersandar di dadanya adalah tempat teraman dan terdamai bagiku sekarang. Merasakan dadanya yang naik turun seperti menandakan semua ini nyata. Yaa aku selalu meyakinkan bahwa segala ini adalah nyata.

"Kau kembali berteriak histeris dalam tidurmu lagi, Hermione," ujarnya padaku dengan tangan yang bermain-main di rambutku.

"Maafkan aku."

"Tak ada yang perlu dimaafkan," jawabnya.

Sudah menjadi rutinitas bagi Draco yang terbagun di tengah malam saat mendengarku berteriak histeris karena mimpi-mimpi buruk yang terus saja menghantuiku. Keadaan orang tuaku yang kutinggalkan , wajah-wajah anggota Orde yang telah gugur, ketakutan akan Draco yang akan pergi meninggalkanku, sampai adegan-adegan yang terjadi di Malfoy Manor saat Bellatrix menyiksaku. Semua itu berhasil membuatku tidurku tak terlalu nyaman. Dan keberadaan Draco-lah yang selalu menjadi penenang bagiku.

"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar mimpi-mimpi itu tak kembali mengusikmu," ucap Draco lembut.

Aku menggeleng. "Tak ada yang perlu kau lakukan. Kehadiranmu di sisiku sudah melebihi dari cukup, Draco," aku menengadah dan mengusap pipinya. "Dan maafkan aku membuatmu terjaga hampir setiap malamnya."

"Aku tak keberatan karena kau selalu membayarku dengan bercinta," kekehnya yang berusaha mencairkan suasana.

"Pemanfaatan," ucapku pura-pura kesal.

"Pemanfaatan yang kau sukai, kenapa tidak?"

"Mesum," kekehku.

Dan kami tertawa.

Dia kembali memainkan rambut ikalku yang sekarang sudah kupotong sebahu. Dan aku masih memejamkan mata merasakan tarikan napasnya yang teratur. Suara perut Draco menginterupsi keheningan. Aku menengadah kemudian tertawa. "Kau lapar?" tanyaku

Ia mengangguk. Kulirik jam yang tergantung tepat di depan ranjang kami. Sudah pukul 9 pagi ternyata. "Omelet atau pancake?"

"Beri aku kejutan."

Aku tersenyum saat melihatnya dan keluar dari tempat tidur dengan lilitan selimut sambil memungut baju kami yang bertebaran di lantai.

000


Mum dan Mr. Malfoy menetap di New York. Demi Merlin aku tak pernah tahu akan hal ini. Karena memang aku tak pernah tahu semua hal yang berhubungan dengan Mum dan Mr. Malfoy sebelum membaca buku ini. Mungkin topik ini adalah hal yang sangat tabu bagi keluarga kami. Mum dan Mr. Malfoy melarikan diri, menetap di negara yang jaraknya bermil-mil dari sini, tinggal seatap dan...

Aku tak dapat membayangkan Mum dengan laki-laki selain Dad, tapi hal yang membuatku tak habis pikir adalah aku merasa senang membacanya. Tak ada perasaan jijik karena mengetahui hubungan Mum dengan laki-laki lain. Walaupun aku tak ada hak untuk marah pada Mum karena hubungan itu sudah lama sekali dan Mum tak berselingkuh dari Dad dalam konteks ini. Kisah cinta Mum seperti cerita-cerita picisan muggle yang pernah kubaca. Tak akan pernah bersatu karena orang tua mereka tak setuju atau perbedaan kasta di antara mereka. Pada cerita Mum, aku belum tahu apa yang membuat Mum akhirnya berpisah dengan kekasihnya. Aku sangat ingin melanjutkan membacanya. Karena seperti kataku membaca buku harian ini benar-benar seperti candu, tapi aku tak mungkin mengacuhkan Dad. Liburan ini harus aku manfaatkan bersamanya. Walaupun aku tak dapat memanjakan Dad dengan makanan lezat yang dimasak sendiri seperti Mum, tapi aku masih bisa membuatkan minuman dan menemani sesorean selepas ia pulang dari kantor.

000

"Masih ada beberapa buku milik Mum yang belum kuberikan padamu," ucap Dad disela sarapan kami.

Kutatap Dad yang masih sibuk memotong sosis dan scramble egg-nya. "Masih banyak?" tanyaku berusaha senormal mungkin saat ia mengangkat topik ini.

Dad hanya mengangguk pelan. "Ada beberapa lagi rasaku. Ada di ruang kerja ibumu, di laci paling bawah mejanya."

Setengah tahun kepergian Mum. Ruang kerjanya masih dibiarkan sama seperti biasanya. Tak ada yang sanggup mengutak-atiknya. Dad pernah berkata bahwa ruangan Mum adalah representasi Mum pernah ada di dalam kehidupan kami.

"Setelah selesai kau boleh mengambilnya dan kita langsung ke stasiun agar kau tak terlambat," ucap Dad dengan senyuman di wajahnya.

Aku mengangguk.

000

Peron 9 ¾ sudah dipenuhi oelah para siswa dan orang tua yang mengantar. Ucle Harry dan Aunt Ginny sudah berada disana sebelum kami. Albus dan Lily sudah sibuk bertemu dengan teman-temannya saat aku dan Dad menghampirinya. James tampak menjulang diantara gerombolan itu. Dia melambai padaku. Aku tersenyum dan ikut melambai padanya.

"Hey," sapanya.

"Kau bolos?" tanyaku menyelidik.

Ia tersenyum. "Itulah gunanya memiliki ayah dan paman petinggi di Kementerian," kekehnya.

"Nepotisme," dengusku.

Dan kami tertawa. Saat itu juga Scorpius bersama kedua orang tuanya berjalan melewati kami. mengangguk pada Dad dan Uncle Harry dan mereka membalasnya. Scorpius mengangguk padaku dan James sambil berlalu dengan troli di tangannya.

"Jaga dirimu, Rosie," ucap Dad padaku.

Aku mengangguk dan ia memelukku. Aku berjinjit untuk mencium pipinya. Lalu Uncle Harry dan Aunt Ginny memelukku begitu juga James.

"Kau akan mengunjungiku saat kunjungan Hogsmeade?" tanyaku pada James.

"Aku akan memeriksa jadwalku," ujarnya yang berusaha menggodaku.

Aku mendengus kemudian tersenyum. "Terserah padamu."

"Jaga dirimu, Rose."

"Kau juga, James."

Setelah acara pamit-berpamitan itu kereta tua ini berhasil membawaku kembali ke Hogwarts.

000

to be continued

Thank for the reviews, favorites, and alerts. Keep read and review guys:) Hope this chap'll be better than last and for all of the mistakes