Cast :
Denis / Park Jungsoo (King of Asterium)
Aiden / Lee Donghae (Prince of Asterium)
Victoria (Queen of Asterium)
Airen Delavina (Princess of Asterium)
Marcus / Cho Kyuhyun (Prince of Darkwarium)
Choi Siwon (King of Darkwarium)
Robert (Destiner 1)
Michael (Destiner 2)
Gabriel (Destiner 3)
Xi Luhan (Master Xi)
Cast of Rainbow Knights :
Yumi (Red)
Lee Hyukjae (Orange)
Son Naeun (Yellow)
Lee Taemin (Green)
Kim Seokjin (Blue)
Kim Jongwoon (Indigo)
Kim Myungsoo (Purple)
Cast-nya memang banyak, soalnya genre utama ff ini Kingdom life, fantasy, supernatural, dan mistery.
Mianhae, kalau ada yang protes! Cast kali ini sudah cukup, hanya ada beberapa cameo yang nyempil jadi usahakan fokus.
Saya menetapkan cast di sini berdasarkan lotre, kecuali untuk Pangeran & Raja + Indigo. Mereka terpilih karena hati saya yang ingin. ^_^
Yang berminat bisa mampir ke wp saya di :
krystalaster dot wordpress dot com Kamsahamnida!
Happy Reading...!
Satu persatu bayangan menyusup
Satu persatu mimpi terlihat
Satu persatu ingatan mulai kembali
Tapi tak ada yang tau kapan mereka tersadar
Rainbow Knight
Sosok bersayap bagai malaikat
Sosok dengan kekuatan dasyat
Pelindung alam semesta
Sosok yang bertarung dengan taruhan nyawa
'Red - captain of Rainbow Knight'
.
.
.
Ia mendongakkan kepala dan melihat Hyukjae yang sudah berdiri, melipat tangan di depan dada dan memandangnya dengan tajam.
"Mianhae." Sedikit susah payah, Yumi berusaha bangkit lalu membungkukkan tubuhnya berulang kali.
"Yumi-ya, ada apa?" Donghae menghampiri dengan langkah tergesa, beruntung supermarket masih sepi jadi Yumi dan Hyukjae tidak menjadi tontonan gratis untuk orang-orang.
Remaja itu mendengus, tatapan matanya masih berkilat tidak suka. "Yumi-si, tak perlu melakukan cara licik untuk mempermalukanku. Dulu kau menumpahkan jus di seragamku, sekarang kau membuat belanjaanku berantakan."
Mendengar nada dingin itu membuat Yumi tak berani melihat Hyukjae, ia menundukkan kepala lebih dalam. "Aku sungguh menyesal. Mianhae."
"Cihh, aku tak butuh permintaan maafmu." Berdecih, Hyukjae berniat untuk pergi tapi perkataan Donghae membuatnya mengurungkan niatan itu.
"Hyukjae-si, kami akan menganti semua belanjaanmu." Tanpa menunggu persetujuan, Donghae melambaikan tangan pada seorang pramuniaga yang berjaga.
"Baiklah kalau begitu." Kepala Hyukjae mengangguk, ia juga tak ingin rugi dengan belanja ulang dan membayar barang yang terjatuh juga biaya untuk membereskan kekacauan yang ada.
Jangan pernah remehkan Donghae, ia memiliki kekayaan yang takkan pernah bisa dibayangkan, puluhan aset restoran atas namanya. Sebuah keberuntungan tersendiri bagi Pangeran Aiden, ia tak harus merasakan hidup kekurangan, karena di Bumi manusia yang digantikannya sangat kaya. Ia menyuruh pramuniaga itu untuk mengambilkan barang yang sama persis dengan belanjaan Hyukjae. Tak lupa juga memberikan list belanjanya pada pramuniaga itu.
"Kita tunggu di kasir. Mereka akan membawakan belanjaan kita dan membersihkan tempat ini." Yumi hanya menurut saat Donghae menarik tangannya, membawanya menuju kasir.
Dengan sedikit kesan cool yang berlebihan, Donghae mengulurkan black card miliknya untuk membayar semua tagihan saat barang mereka sudah selesai di total. 4 juta won, jumlah yang cukup besar. Tapi Donghae tak ambil pusing dengan nominal itu, orangtuanya masih sangat mapan meskipun ia menghabiskan uang 10 juta won setiap hari. Lagipula belanjaan kali ini sekalian untuk jatah satu minggu, sudah tentu troli yang dibawa pramuniaga penuh hingga nyaris tidak muat
Mereka berjalan keluar dari supermarket, diluar dugaan ternyata hujan deras sedang mengguyur kota. Donghae dan Yumi berlari menuju tempat parkir sementara Hyukjae berdiri di bawah halte bus, membiarkan beberapa tetes air membasahi tubuhnya.
Tin!
Tin!
Sebuah mobil audy berhenti di hadapan seseorang yang masih berdiri diam. Kaca jendela mobil itu terbuka menampilkan wajah yang tersenyum lebar, tangannya bergerak menyuruh Hyukjae masuk.
"Masuklah Hyukjae-si, hujannya sangat deras. Kau bisa basah kuyup."
Yang dipanggil tampak berpikir sejenak, akhirnya Hyukjae memilih masuk ke dalam mobil milik itu, menempati kursi penumpang di belakang bersama Yumi.
"Ini, usap kepalamu!" Sebuah tangan mengulurkan handuk kecil padanya. Masih tetap dengan kediamannya, Hyukjae menerima handuk tersebut lalu mengusap wajah serta lehernya yang basah.
Mobil audy itu mulai melaju dengan kecepatan rendah, jalan kini cukup licin saat hujan, sehingga kecelakaan rentan terjadi. "Yumi-ya, kau baik-baik saja kan?" Sepasang mata melirik dari kaca spion untuk melihat keadaan Yumi.
Mendengar hal tersebut, refleks Hyukjae menolehkan kepala, sedikit aneh melihat Yumi yang mennggigil kedinginan, padahal selimut tebal sudah membungkus rapat tubuh gadis itu.
"Ne oppa." Gadis itu mengangguk, wajahnya terlihat sangat pucat dengan tubuh menggigil.
Memasuki kompleks perumahan, Donghae mulai melajukan mobilnya lebih cepat. "Bilang padaku jika kau merasa pusing. Hujan dinihari seperti ini memang sering tidak terdeteksi."
"Eum." Yumi hanya menggumam, kepalanya terasa semakin pusing.
Sepasang obsidian Donghae beralih melirik Hyukjae yang diam sejak tadi dari kaca spion. "Hyukjae-si, tumben kau belanja sendiri. Setahuku biasanya Jo ahjummah yang membelanjakan segalanya."
Helaan nafas terdengar sementara tangan kanan itu masih sibuk mengusap lengan yang basah. "Jo ahjummah sedang libur. Aku sendirian di rumah." Ya, bukan hal yang aneh jika Donghae mengetahui keluarganya, dulu saat masih duduk di bangku elementary school, namja itu memang sering bertandang ke rumahnya bersama tuan Xi, mereka adalah relasi kerja tapi sayangnya hubungannya dengan Donghae tak sebaik hubungan orangtuanya.
Senyum tipis terukir, memaklumi sikap lawan bicara yang sedikit canggung dengannya. "Kalau begitu, tidak masalahkan jika kau mampir sebentar ke rumah kami untuk sarapan?"
"Aku tidak ingin merepotkan." Menggeleng kecil untuk menolak secara halus, merepotkan orang lain adalah hal kesekian yang akan dilakukan Lee Hyukjae.
"Hahaha, tidak. Kebetulan Yumi dan aku yang memasak hari ini. Aku akan mengantarkanmu 1 jam sebelum bel masuk berbunyi, kurasa itu cukup untuk sekedar menaruh belanjaan dan mempersiapkan diri." Tawa ringan Donghae berikan, tak ada salahnya sedikit menawarkan jasanya pada anggota Rainbow Knights yang masih tersegel ingatannya.
"Terserah." Bahu itu mengendik. Toh ia tidak memiliki pilihan lain untuk menolak karena hujan yang begitu lebat. Tidak membawa mobil membuatnya hanya bisa menurut.
Mereka sudah sampai di pekarangan rumah. Seorang satpam menghampiri dengan membawa dua buah payung, memberikan payung itu pada tuan muda yang duduk di kursi pengemudi.
Donghae menerima payung itu, memberikan satu pada Hyukjae dan membawa sisanya. Langkahnya sedikit tergesa keluar dari mobil dan membuka pintu belakang tepat disebelah Yumi.
"Yumi, biarkan Lee ahjussi yang membawa belanjaannya. Kau masuk dengan oppa." Gadis pucat itu mengangguk, meletakkan selimutnya lalu menerima uluran tangan Donghae. Sementara itu Hyukjae sudah keluar dari mobil dan sedang menunggu di teras rumah.
Sebagai tuan rumah yang baik Donghae membuka pintu, mempersilakan tamunya untuk masuk. "Masuklah! Anggap saja rumah sendiri!"
Mereka bertiga berjalan menuju dapur, Donghae menerima beberapa kantung plastik dari Lee ahjussi yang baru saja tiba, meletakkan kantung di atas pantry. Kaki panjangnya berjalan memasuki kamar lalu kembali ke dapur sambil membawa kaos dan celana training.
Memberikan barang itu pada tamu yang duduk di kursi meja makan."Yumi, biar aku yang memasak dulu. Hangatkan tubuhmu sekaligus bersiap-siap. Hyukjae-si, ini baju ganti untukmu. Mandilah di toilet itu, tubuhmu basah kuyup. Kau bisa flu jika tetap memakai pakaian basah."
"Ne." Yumi mengangguk, meninggalkan dapur membiarkan oppa-nya memasak lebih dulu. Fisik captain Rainbow Kinght itu memang tidak bisa bertoleransi dengan air karena elemen tersebut belum ia pelajari.
40 menit kemudian...
"Aigoo. Aku masih mengantuk, tapi Yumi eonni mengancamku tak mendapatkan sarapan jika aku telat." Si manja berjalan malas dengan mata setengah menutup. Menghempaskan dirinya pada kursi meja makan.
"Berhenti mengomel sambil tidur berjalan Xi Yue!" Teguran itu diucapkan tanpa mengalihkan pandangan dari berbagai bahan makanan yang sudah hampir selesai diolah.
"Aish, Dongdong oppa menyebalkan." Xi Yue mendesis, tak suka ketika prilakunya dikomentari oleh namja paling cerewet di kediaman Xi.
Tuk
Kepala itu tak kuat bertahan, akhirnya Xi Yue meletakkan dahinya di atas meja, kelopak matanya sangat lengket seperti dieratkan dengan lem.
"Oppa, biar aku yang menyelesaikan." Suara Yumi terdengar bersama langkah kakinya yang mendekat. Gadis itu sudah terlihat segar dengan kedua pipi yang juga merona seperti biasanya.
"Ah, ige." Donghae melepas apron yang dikenakannya dan memberikan apron itu, meninggalkan dapur untuk bersiap-siap juga membangunkan Kyuhyun karena Yumi bilang jika namja pecinta PSP itu tidur seperti beruang yang sedang hibernasi.
Yumi sendiri sudah tampak rapi dengan seragamnya, blazer dan tas miliknya sudah ada di ruang tamu. Ia hanya tinggal memastikan masakan sudah matang dan menyiapkan bekal sekaligus menata hidangan.
Si manja mengernyitkan hidung saat aroma masakan mulai mengusik tidur sambungannya, ini adalah alarm paling ampuh yang sukses menarik kesadarannya. Aroma masakan membuat perutnya tergelitik secara otomatis.
"Hyaaa! Hyukjae-ya, kenapa kau bisa ada disini?" Teriakan histeris itu tentu berasal dari Xi Yue yang terkejut melihat namja asing duduk di hadapannya, menempati kursi yang biasanya kosong tak digunakan.
"Ceritanya panjang Xi Yue." Memilih mengalihkan pandangan, Hyukjae terlalu malas berhadapan dengan siswi yang terkenal paling absurd di sekolah. Ia baru saja keluar dari toilet tetapi malah disambut teriakan super yang hampir menulikan telinganya, sial sekali hari ini.
"Huh, kau tetap saja bersikap dingin padaku." Sebuah dengusan menandakan kejengkelan Xi Yue pada sosok tamu yang entah muncul karena apa. Menyesal mengajak orang dingin berceloteh jika akhirnya ia teracuhkan.
Donghae datang tepat saat Yumi sudah selesai menata makanan di atas meja beserta membagi bekal masing-masing.
Sandwich isi tuna dan telur mata sapi + segelas susu hangat.
Menu yang pas untuk sarapan.
Nasi goreng kimchi dan ayam goreng + sebotol minuman.
Menu makan siang di sekolah.
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Ada lima porsi begitu juga bekal yang tersaji di meja membuat Hyukjae berpikir. 'Siapa lagi yang sekolah? Apa mereka masih punya adik lagi? Lalu apakah aku juga dapat bekal?'
"Mianhae, aku telat." Suara itu terdengar saat semua sudah menghabiskan setengah porsi masing-masing.
"Kyuhyun?" Tak menyangka jika Kyuhyun yang notabene siswa baru berada di kediaman Xi, ada hal apa seorang murid baru di SSH bisa berada di bawah atap kediaman Xi? Bermacam spekulasi akan rumor mulai bermunculan di otak cerdas Hyukjae. Menerka adalah kebiasaan buruknya yang tak bisa dihilangkan.
Yang baru datang mulai menarik kursi, menyampirkan jasnya di sandaran kursi lalu duduk untuk bergabung menyantap sarapan. "Ah, kau Hyukjae kan? Bagaimana bisa ada disini?" Kemarin ketua OSIS memang mengenalkannya pada Hyukjae saat mereka berpapasan di tikungan koridor.
"Hyukjae-si kebetulan belanja di supermarket tadi dan karena ada hujan deras, aku mengajaknya pulang sekalian karena ia tidak membawa mobil." Donghae memutuskan untuk menjawab.
Kepala Kyuhyun mengangguk, ia mulai menyantap sarapannya dengan santai. "Oia, jika kau ingin tau alasan sekarang aku tinggal disini. Lebih tepatnya aku ini tunangannya Xi Yue." Ceritanya asal dengan mimik wajah kelewat santai.
"MWOYA? YAKK JANGAN BICARA SEMBARANGAN KAU! DASAR KEKASIH PSP!" Teriakan keras itu sedikit lagi mungkin bisa menulikan pendengaran. Si manja memang labil dan dengan teganya namja bernama Kyuhyun itu mengusiknya.
"Aish, tak usah berteriak. Aigoo, kenapa para gadis tidak bisa diajak bergurau sih." Tersangka pemancing teriakan itu sibuk menutup telinganya yang berdengung. Hyukjae dan Donghae juga melakukan hal yang sama, sedangkan Yumi tetap tenang menyuap sandwichnya.
"Diam kau!" Gadis manja itu menunjuk Kyuhyun dengan sumpitnya, Xi Yue memberikan deathglare yang malah terlihat lucu di wajahnya. Butuh perjuangan menahan tawa bagi Hyukjae yang baru melihatnya.
"Ne." Mengangguk dan diam, Kyuhyun masih cukup waras untuk tidak mengusik gadis yang murka. Membangunkan singa betina di pagi hari sama saja mengundang petaka.
Untuk menenangkan emosi, Xi Yue menengguk minumannya. Nyaris saja tersedak saat sepasang atensinya mendapati Pemandangan asing yang sangat mencolok. "Sejak kapan Yumi eonni dan Dongdong oppa memakai kacamata?"
Ini terlalu janggal hingga Xi Yue mengucek matanya berulang kali, memastikan penglihatannya tidak keliru dalam memperhatikan obyek. Kemarin seingatnya benda kaca bening berframe kecil itu tidak ada.
Donghae mengelap mulutnya dengan tisu, tersenyum tipis lalu menatap si manja. "Ah, soal itu. Minus di mataku semakin mengganggu, sedangkan Yumi mengalami sedikit gangguan di matanya karena kecelakaan itu."
Mendengar pernyataan tersebut, sontak saja membuat sorot kekhawatiran muncul. "Keadaan mata Yumi eonni tidak parahkan?" Sepasang onix itu siap menumpahkan air mata jikalau kabar buruk terdengar setelah ini. Cengeng, mungkin itulah sebutan yang cocok untuk putri manja keluarga Xi.
Donghae bangkit dari kursi, membawa piring kotornya ke washtafel. "Tenanglah, mata Yumi hanya sedikit buram. Jadi uisa menyuruhnya memakai kacamata silinder agar saat matanya lelah, ia tidak kebingungan karena obyek yang terlihat menjadi ganda."
Menurut Pangeran Aiden, berbohong itu halal jika dilakukan demi kebaikan, tak perlu takut kekuatannya melemah karena ia berbohong demi misi. Tuhan tak pernah tidur, berbekal rasa percaya diri tersebut ia yakin takkan mendapat hukuman. Masih ingatkan jika Golden Clan dilarang berbohong.
Sepasang obsidian Xi Yue masih menatap eonni-nya, alis gadis itu menyatu karena otaknya merasakan sebuah kejanggalan lain. "Ini aneh. Kapan eonni pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan mata? Kenapa aku tidak tau. Eomma dan appa juga tidak mengatakan apapun." Mengingat posisinya adalah orang ter up to date jika sedang ada berita, pastilah seluruh aktifitas di mansion mewah ini diketahuinya.
"Di suatu hari sepulang sekolah, aku yang mengantarkannya sekaligus menebus obat." Donghae menjawab tanpa menoleh, ia sedang mencuci piring yang tadi dipakainya.
"Yakk, Dongdong oppa! Kenapa oppa terus yang menjawabnya! Aku bertanya pada eonni." Lagi-lagi berteriak, kebiasaan buruk si manja perlu diperbaiki sebelum menulikan telinga orang lain.
Obyek yang diteriaki malah terlihat santai mengusap tangan, kaki jenjangnya berjalan menuju meja makan setelah menumpuk piring di dalam rak. Tangannya bersedekap, sedanhkan sepasang netranya menatap malas pada si manja yang kian heboh setiap harinya. "Ck, kau saja yang bodoh. Dari dulu Yumi tak pernah berbicara saat makan karena ia mudah tersedak."
"Aissh..." Skakmat! Xi Yue hanya mampu mengacak rambutnya. Ia berhasil dipermalukan oleh Dongdong oppa-nya. Oppa-nya itu sungguh pandai membuatnya terpojok dan berakhir mati kutu karena tingkahnya sendiri. Bodohnya ia tidak mengingat kebiasaan eonni-nya yang mudah tersedak.
.
.
.
Satu persatu mereka sudah menyelesaikan sarapan dan mencuci piring masing-masing, bahkan tamu mereka juga mencuci piringnya. Namja bernama Donghae bahkan masih mengulum senyum karena tingkah canggung dan kaku yang ditampakkan Hyukjae saat mencuci piring, mungkin itu adalah yang pertama kali bagi putra tunggal keluarga Lee. "Ayo berangkat! Kyu, kau bawa Xi Yue bersamamu. Biar Hyukjae dan Yumi berangkat denganku." Donghae menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas kulkas.
"Eo." Kyuhyun mengangguk, memakai jas sekolahnya lalu melenggang lebih dulu ke arah ruang tamu.
"Hey cerewet cepatlah!" Teriakan itu membuat Xi Yue mendesis. Dengan tergopoh ia memakai jas sekolah lalu menyambar tas yang di bawakan oleh kakak tercintanya, siapa lagi kalau bukan Yumi.
Hyukjae sebenarnya merasa sedikit sungkan, tetapi melihat sikap Donghae dan Yumi yang tampak biasa berbagi serta menanggapi segala tingkah Xi Yue, entah kenapa membuat hatinya terasa hangat. Ia merasa seperti tengah bersama keluarga sendiri. Lebih tepatnya, hatinya merasa tidak asing dengan interaksi seperti ini.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Hyukjae seringkali mencuri pandang untuk sekedar melihat ekspresi Yumi. Sedikit heran memang karena dinihari tadi gadis itu sangat pucat hanya karena terkena sedikit hujan deras, tetapi beberapa saat kemudian Yumi sudah muncul dengan segar ditambah pipinya yang selalu bersemu kemerahan.
Gadis itu seperti memiliki cara tersendiri dalam bersikap. Keanggunan selalu terlihat meskipun gadis itu melakukan hal yang tidak biasa.
Ia merasa seperti telah mengenal sosok Yumi jauh daripada yang diingatnya. Gadis itu seperti sebuah magnet yang selalu membuatnya sukar menjauh sejak peristiwa dinihari tadi. Daya tarik akan setiap pergerakan gadis itu seolah memenjarakan akal sehatnya.
Ckitt
Gesekan ban dengan aspal terdengar saat Donghae memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah keluarga Lee. Rumah dengan desain modern dan minimalis, berbeda dengan kediaman Xi yang menggunakan desain renaissance. "Masuklah Hyukjae, kami akan menunggumu."
Hyukjae mengangguk, berjalan cepat memasuki rumahnya untuk bersiap-siap. Beberapa menit kemudian ia sudah keluar dari rumah dengan setelan seragam yang melekat sempurna di tubuhnya, meletakkan tasnya di tengah posisinya dengan Yumi.
"Yumi, ulangi hafalanmu!" Perintah namja yang sedang menghidupkan mesin mobil.
"Oppa, ini ada di mobil bukan di sekolah." Gadis bernama Yumi itu merengek, seperti anak kecil yang mencoba berkilah saat disuruh mengucapkan kejujuran setelah berbuat salah. Yumi memang suka menghafal tapi ini berlebihan, mana ada pemaksaan belajar di dalam kondisi seperti ini.
"Jangan mencoba menghindar. Cepat bunyikan hafalanmu!" Kepala Donghae menggeleng, sepasang onixnya terfokus sepenuhnya pada jalan saat mobilnya mulai keluar dari pelataran kediaman Lee.
Yumi mengerutkan hidung, menyandarkan punggungnya lalu bersedekap. "Elektron klorofil akan tereksitasi dan ditangkap oleh ekseptor elektron. Pada waktu elektron ditransfer ke FS terjadi reaksi fosforilasi sehingga 1 mol ATP terbentuk dan selanjutnya NADP tereduksi menjadi NADPH + H.
Cahaya menggerakkan sintesis NADPH dan ATP dengan memberi energi kepada kedua fotosistem yang tertanam pada membran tilakoid kloroplas. Kunci untuk transformasi energi ialah aliran elektron melalui fotosistem dan komponen molekul lain yang ada di dalam membran tilakoid. Selama reaksi terang terdapat dua kemungkinan rute untuk aliran elektron: siklik dan nonsiklik."
Hyukjae mengerjapkan mata berulang kali, seingatnya tidak ada materi seperti itu di kelas 1 senior high. Itu pelajaran Biologi yang paling rumit dalam sejarah pendengarannya, namun entah kenapa saat Yumi yang mengucapkannya, Biologi terasa sangat menyenangkan untuk dihafal. Padahal pelajaran tersebut termasuk ke dalam list materi yang tidak ia sukai.
"Cukup baik. Tapi koreksi kalimat terakhir hafalanmu Yumi-ya! Seharusnya begini. Selama reaksi terang fotosintesis terdapat dua kemungkinan rute untuk aliran elektron: siklik dan nonsiklik. Hahahaha... kau melupakan kata 'fotosintesis' yang ada. Teliti sekali lagi saat menghafalkan! Seonsaengnim tidak akan memberimu nilai sempurna jika kau menghilangkan satu kata." Donghae tertawa mengejek, ia berhasil membuat Yumi cemberut.
"Lagipula itu materi kelas 3. Aku masih berada di kelas satu jika oppa lupa." Ujar gadis itu menegaskan.
Hyukjae terperanjat, tidak menyangka hafalan tadi merupakan materi biologi untuk kelas 3. Berarti rumor jika Yumi adalah siswi ter-jenius itu benar adanya. Lalu apakah rumor lain yang menyebutkan Yumi bisa menghafal dalam satu kali membaca itu benar? Jika iya, Hyukjae berani membenturkan kepalanya pada tiang bendera. Mana ada manusia se-hebat itu? bisa menghafal dengan sekali lihat. Yeah, kecuali jika Yumi memiliki kelebihan khusus yang patut di tuliskan dalam jajaran manusia jenius abad 21.
Mendengar ucapan Yumi yang tidak logis, dengan santai Donghae menjelaskan. "Justru karena kau masih kelas satu Yumi-ya, kau harus menghafalkan hingga ke materi kuliah semester satu jika ingin loncat kelas lagi. Bukankah kau akan mengikuti test akselerasi untuk menyusulku." Mobil yang mereka tumpangi kini sudah memasuki kawasan Seoul Senior High. Yumi hanya mengangguk, membenarkan dalam hati dengan sedikit mengeluh.
Beberapa waktu lalu Red tak sengaja menemukan buku harian milik Yumi yang asli, disana tertulis jika gadis itu ingin mengikuti ujian dan masuk ke kelas 3 lewat ujian akselerasi. Bukankah sekarang ia sedang menjadi Yumi, berarti demi mewujudkan hal itu ia rela belajar keras. Meskipun sejatinya seorang krystalier sudah masuk dalam kategori jenius jika disejajarkan dengan manusia.
"Ayo keluar!" Donghae keluar dari mobil terlebih dahulu, berjalan kebelakang untuk membuka pintu mobil penumpang yang ada di sisi Yumi.
Walau enggan diperlakukan seperti ini, pada akhirnya Yumi menyambut uluran tangan itu, membenahi tas dan seragam sebelum berjalan bersisian dengan oppa-nya. Sementara itu Hyukjae memilih mengekor di belakang mereka hingga berbelok ke koridor yang berlawanan arah dengan kelas mereka berdua.
"Yumi-ah, kau tau kenapa seluruh murid memandangi kita?" Donghae mengikis jaraknya, menunduk sedikit untuk membisikkan isi pikirannya pada Yumi.
"Karena Aku dan Hyukjae berangkat bersamaan." Yumi menjawab dengan santai. Meski ia tidak sempat mendengar beberapa kusak-kusuk saat melewati koridor di persimpangan tadi. Mengunci kekuatannya saat di tempat umum adalah hal yang terbaik, pusing akan menderanya jika mendengar seluruh pikiran dari setiap orang yang berpapasan dengannya.
"Ah, kau benar." Donghae mengangguk, ia sempat lupa jika Hyukjae dan Yumi sebagai manusia di Bumi adalah musuh.
Tiba-tiba Donghae merangkul pundak Yumi. "Hehehe. Tapi kurasa tidak buruk menjadi pusat perhatian. Dengan begini kau bisa segera menyatukan mereka." Cengiran lebar semakin membuat dirinya dipandang oleh para murid. Tentu saja yang para siswi terpesona.
Menurutnya itu adalah pemikiran yang tidak buruk, Yumi mengangguk, tapi ia punya pikiran yang lain tentang hal ini. "Eum, mereka bertiga pasti akan mencecarku dengan berbagai pertanyaan setelah ini."
Benar saja, ketiga temannya itu sudah menunggu kedatangannya di balik pintu kelas. Membuat Yumi terkejut bukan main hingga nyaris terjengkang.
Padahal penyebab seluruh murid memandangi Yumi adalah karena artikel buletin yang menyuguhkan foto adegan tidak biasa, saat Yumi di bawa paksa oleh Kyuhyun. Pose yang mirip dengan adegan artis korea Lee Minho, saat memanggul seorang dokter bedah plastik di drama faith the great doctor.
.
.
.
Empat serangkai sedang bersantai, ketua cantik sibuk mengetik pesan singkat pada oppa-nya, menjelaskan perihal artikel kurang kerjaan yang berhasil mendongkrak popularitasnya hingga ke luar SSH. Yeah, Kyuhyun itu populer dan ia sekarang juga semakin terkenal.
"Taemin, kenapa kau murung sekali?" Myungsoo menyenggol lengan Taemin yang melamun.
"Aku sedang bosan." Taemin menopang dagunya, bibirnya sedikit mengerucut karena kesal.
"Tumben sekali." Jongwoon mencibir, biasanya Taemin memang yang terlihat paling hiperaktif dari mereka. Bertingkah seperti bocah sudah pemandangan yang tidak asing lagi.
"Yumi, bisakah aku meminjam buku dongengmu yang berjudul Asterium itu?" Taemin menatap ketua cantik dengan puppy eyesnya. Membuat Jongwoon dan Myungsoo nyaris tersedak udara. Ya Tuhan! Lee Taemin ber-aegyo sangat mirip seperti pose bocah TK yang meminta es cream.
"Untuk apa?" Yumi heran, ia kan sudah membacakan buku Asterium hingga tenggorokannya kering. Membiarkan ketiganya terlelap damai di atas kasur udara, sementara dirinya begadang hingga tengah malam demi menuntaskan bacaan yang sudah dimantrainya.
Taemin mengusap wajahnya kasar. Membuat Yumi menerka, temannya itu 'tampak lelah dan putus asa?'. Oh, sekarang Yumi sedikit meragukan kemampuannya membaca mimik wajah orang lain.
"Aku hanya ingin menghilangkan rasa penasaranku ini. Sejak kau membacakan buku itu, aku selalu mendapatkan mimpi tentang Asterium setiap kali tertidur." Pernyataan Taemin sungguh memblokir jalan pikiran Yumi, tak menyangka jika efeknya secepat ini.
"Kenapa bisa sama? Aku juga memimpikan tentang Asterium." Jongwoon terkejut, matanya yang sipit tak berhasil melebar meskipun tidak maksimal, di tambah lagi bibirnya membuka hingga nyaris menyamai ikan Hiu.
"Aishh, aku kira hanya diriku yang terlalu terbuai dengan cerita tersebut. Ternyata kalian berdua juga." Myungsoo menunjuk Jongwoon dan Taemin, merasa lega karena kedua temannya juga mendapatkan mimpi yang sama.
Ketua grup mengulum senyum, ternyata ketiga temannya mulai tertarik dengan Asterium. "Hahaha, kalian lucu sekali bisa mendapatkan mimpi tentang Asterium secara bersamaan." Tawanya meledak, padahal ia hanya menggunakan mantra paling sederhana. Andai kata Pangeran Aiden itu tau, pasti ia sudah melongo.
"Hentikan tawamu Yumi! Jadi bisakah aku meminjamnya?" Taemin merengut, merasa aneh karena ditertawakan.
Tawa ringan dari ketua grup akhirnya terhenti, Yumi mengangguk lalu meminum jus jeruknya. "Tentu, aku akan membawanya besok."
"Ah, aku juga ingin pinjam." Myungsoo menimpali.
"Aku juga." Jongwoon mengacungkan tangannya, ia tidak ingin melewatkan kebaikan Yumi yang sedari dulu sangat susah meminjamkan buku pada orang lain dengan suka rela. Ia suka membaca apapun, tapi tidak pandai membaca peta maupun koordinat lokasi. Peta itu rumit, hanya ada garis dan warna yang berkelok-kelok membentuk pola aneh.
"Aku duluan. Setelah itu Myungsoo, baru yang terakhir Jongwoon." Taemin menunjuk dirinya sediri, Myungsoo, dan berakhir pada Jongwoon untuk menegaskan urutan siapa yang meminjam lebih dulu. Sifat childishnya mulai nampak.
Ketua grup hanya mengibaskan tangannya, berusaha terlihat tetap acuh meskipun ia merasa senang bukan main. "Ah, terserah. Yang penting kalian harus membacanya tanpa berhenti sepertiku." Ya, mantranya tidak akan berpengaruh jika mereka membacanya secara bertahap. Sepertinya malam ini ia harus begadang untuk merapalkan mantra panjang.
.
.
.
Ketua grup empat serangkai kini sedang bersantai di dalam home theater dengan sang Pangeran tampan. Kyuhyun dan Xi Yue ada jadwal ekschool vokal, jadi mereka belum pulang. Kediaman Xi yang akhir-akhir ini berisi banyak teriakan, terasa damai dan tentram kali ini karena si manja belum menampakkan diri.
"Besok hari terakhir ulangan kenaikan kelas." Suara pelan Yumi berhasil memecah keheningan yang melingkupi sejak beberapa menit lalu.
"Aku sudah tau Yumi-ya." Bahu Donghae mengendik, ia masih sibuk mengfokuskan perhatian pada layar lebar TV plasma yang sedang menampilkan film action Andy Lau.
Merasa terabaikan Yumi memutuskan mengambil remote, sedikit mengecilkan volume speaker. "Hanya mengecek seberapa kuat ingatan Pangeran Aiden. Hehehe...Eum, aku ingin bertanya sesuatu."
Donghae memutar bola mata,"Tanyakan saja." Jawabnya sesingkat mungkin. Acara menontonnya akan terganggu jika ia tak menyanggupi, Yumi tak jauh berbeda dengan Xi Yue yang cerewet jika merasa diabaikan.
Sambil menopang dagu dan mengetukkan jari telunjuk kanannya pada bibir. Yumi mulai mengungkapkan isi pikirannya yang sedari dulu mengusik tanpa bisa diabaikan. "Seingatku usia Pangeran Aiden terpaut 6 tahun denganku. Seharusnya oppa sudah berada di semester akhir bangku universitas. Tapi kenapa disini oppa masih Senior high?" Ia memutuskan untuk menanyakan tentang berbedaan usia mereka yang sebenarnya. Sungguh anehkan jika loncatan usia tidak sesuai dengan hukum portal galaxi.
Yang ditanya hanya mengendikkan bahu. "Aku juga tidak tau. Yang jelas Donghae yang asli masih berusia 18 tahun." Keterangan itu sudah terpampang manis pada sebuah kartu tanda kependudukan.
"Ah, itulah yang membuatku bingung. Tapi jika oppa ada di tingkat senior high. Bagaimana dengan Raja Marcus yang saat itu berada di usia batas remaja? Apakah di Bumi ia menjadi dewasa, atau malah sepantaran dengan kita?"
"Yang pasti Perawakan tubuhnya tidak jauh berbeda, karena sosok darklier tidak bisa menua setelah berusia 21 tahun. Sama seperti kita." Donghae memandang Yumi saat fokusnya buyar. Film seseru apapun tak ada efeknya jika fokus sudah buyar, setelah ini ia harus mengulang film Andy Lau.
"Oh, begitu." Tak merasa bersalah, Yumi malah mengangguk masih dengan pose berpikirnya. Padahal ia mendengar gerutuan dari dalam kepala Pangeran Aiden.
Pangeran Aiden merengangkan tangan,sebagian ototnya terasa kaku karena rutinitas manusia yang terlalu berbelit-belit dan kurangnya pergerakan sendi. Sekolah hanya duduk manis berjam-jam dan memandang lurus ke papan, itu salah satunya. "Setahuku Marcus tak pernah keluar dari Istana Darkwarium. Ia tidak diijinkan menampilkan diri pada penduduk sebelum penobatannya di usia 12 tahun. Tak ada yang tau berapa usia pasti maupun bagaimana rupanya selain keluarga kerajaan. Menurut analisaku, Marcus menghancurkan Darkwarium saat usianya sekitar 7 tahun, ia terperangkap dalam lorong portal antar dimensi selama 6 tahun. Karena saat ia muncul di Asterium, auranya masih sangat segar menandakan jika usianya tak lebih dari 20 tahun." Pangeran Aiden memutuskan mengambil handphone untuk melihat beberapa pesan yang mungkin ada. Membuka akun SNS-nya yang sudah pasti penuh dengan komentar dari banyak penggemar.
Decakan kagum dari Red terlihat sedikit berlebihan hingga sepasang onix itu tampak berbinar. "Wah, aku tidak bisa membayangkan jika anak berusia 7 tahun sudah mampu menghancurkan planet. Jika dihitung secara mendetail 7 + 6 = 13 tahun. Tapi kenapa ia setinggi itu?" Memori ingatannya berputar saat ia dijadikan sandra oleh Pangeran Marcus. Kepalanya hanya menyentuh perut bagian atas Pangeran Darkwarium itu.
Dengan sedikit paksa Pangeran Aiden merebut remote di tangan Red, ia mematikan film yang sedang berputar. Toh, film itu sudah tak menarik lagi dilihat jika captain Rainbow Knight ini tetap berceloteh. "Hitunganmu kurang, jika kau lebih teliti maka usianya sekarang berkisar 23 tahun, kita melewati portal galaxi. Nah, faktanya siapapun yang melewati portal galaxi pasti akan mengalami locatan usia 10 tahun. Itulah kelebihan Darklier, mereka diciptakan dengan tingkat emosi tinggi yang cenderung kurang stabil. Di Planet Darkwarium sering terjadi pertikaian, untungnya Raja Siwon merupakan keturunan murni campuran, jadi ia memiliki kekuatan dan pengendalian emosi yang sangat luar biasa. Tinggi badanku juga nyaris menyamai daddy, padahal usiaku saat itu bahkan masih 12 tahun. Perkembangan fisik itu dipengaruhi oleh jenis aktifitas, olahraga, makanan, dan gaya hidup. Jadi jangan heran jika krystalier lebih cepat berkembang dibandingkan manusia." Yumi mengangguk, mengingat baik-baik setiap kalimat yang diucapkan oleh Donghae. Kali ini ia memutuskan untuk beralih tempat ke atas karpet, mengulurkan tangan untuk mengganti kaset film.
Kalimat penjabaran Pangeran Aiden sedikit melenceng dari topik bahasan mengenai usia, Pangeran sedang menjelaskan karakter fisik yang memang tidak menua di Galaxi Gramerald.
"Oia... Beberapa waktu lalu, Green, Indigo, dan Purple meminjam buku pengetahuan dasar tentang Asterium yang aku bawa." Ucap Red dengan santai.
Yang mendengar sontak saja terperangah, Pangeran Aiden tidak menyangka jika ketiga kesatria itu menaruh minat pada buku usang yang nyaris lapuk. Ia bahkan memprotes Destiner Robert agar membinasakan seluruh buku usang yang memenuhi perpustakaan Asterium. Menurutnya buku usang sangat tidak menarik untuk dipandang. "Lalu?"
"Aku memberikan sentuhan kecil pada buku itu. Tentunya agar saat mereka melihat aksara mibel, aksara itu berubah menjadi tulisan hangul." Senyuman kecil terukir di bibir Red, sepasang matanya mulai memperhatikan film minion yang sedang berputar. Animasi tersebut sangat disukainya setelah film Frozen.
"Coba kutebak. Kau juga menggunakan sihir pada buku itu agar bisa membuat ingatan mereka bertiga kembali secara perlahan." Turun dari sofa, Pangeran Aiden bergabung dengan Red yang sudah duduk bersila di atas karpet.
Kepala itu mengangguk, rupanya Pangeran Asterium sangat pandai menebak. "Yups. Bisakah oppa sekarang menebak mantra sihirnya?"
Diam, berpikir sejenak agar tebakannya tidak meleset. Sebagai Pangeran Asterium, ia pasti malu sekali jika tidak bisa menebak mantra. "Kau menggunakan mantra pengendali mimpi, setiap kisah yang mereka baca dari buku pasti muncul di alam mimpi. Lalu kau juga menggunakan mantra penarik aura, apa aku benar?"
"Oppa benar." Red tersenyum lebar.
Mata itu terbelalak saat menjumpai hal aneh dari pembenaran Red. "Tunggu, setahuku Destiner maupun para Master tidak pernah sekalipun memberikan materi dan praktek uji mengenai mantra sihir diatas level 7. Tapi mantra yang kau pakai menempati jajaran level 1 (level paling tinggi)." Seluruh sistem materi pembelajaran memang telah dipelajari oleh Pangeran Aiden. Rainbow Knight sudah miliki kemampuan yang hebat sejak lahir, sehingga materi tentang sihir hanya diajarkan sedikit.
Hal ini dikarenakan Para Master lebih bertanggungjawab mendidik Rainbow Knights agar menguasai elemen, pengendalian, serta cahaya pelangi mereka hingga dinyatakan sempurna. Karena Destiny book mengatakan jika pertarungan berlangsung lebih cepat, jadi materi yang tidak terlalu penting harus dihilangkan.
"Eoh, itu benar." Red mengulum senyum, menolehkan kepala dan mengedipkan sebelah matanya. Lihatkan, siapa yang paling hebat disini? Tentu saja ia bisa menyamai kemampuan Pangeran Aiden yang terkenal mengusai seluruh materi.
Pangeran Aiden berseru, sepasang obsidiannya terbelalak. "Ya Tuhan! Jangan bilang jika kau-" Perkataannya terpotong saat Red mengangkat tangan kanannya, isyarat agar menghentikan bicara.
"Aku meminjam buku mantra sihir milik Destiner Robert dan daddy." Pengakuan itu diucapkan dengan volume suara yang nyaris menyamai bisikan.
"Meminjam atau mencuri?" Pangeran Aiden memicingkan mata, menatap Red penuh selidik.
"Tentu saja memimjam, aku sudah mengembalikan buku itu tanpa cacat sedikitpun." Red mengendikkan bahu, menolehkan kepala untuk kembali mengamati film.
"Sama saja eo... Kau kan tidak meminta ijin." Pangeran Aiden mencibir dengan permainan kata tersebut. Ternyata Red cukup bandel dibalik sikap lucunya yang tersohor itu, sungguh tidak bisa diduga jika ternyata ia berani mencuri buku mantra.
"Terserah sajalah." Red mengibaskan tangannya, kembali bersikap cuek. Sepasang netranya terfokus penuh pada film minion yang tengah berlangsung.
"Aissh." Pangeran Aiden mengacak rambutnya, merasa jengkel setengah mati menghadapi Red yang terlalu pandai membalikkan kata.
.
.
.
Seminggu kemudian...
Seluruh Murid Seoul Senior High dibebaskan dari segala jam pelajaran untuk seharian ini. Semua seonsaengnim sibuk dengan rapat untuk membicarakan hasil perolehan Ujian Kenaikan Kelas, jadi mereka membiarkan para murid berkeliaran di dalam lingkungan sekolah hingga bel pulang berdenting.
"Ini bukumu Yumi-ya." Jongwoon mengulurkan buku Asterium pada ketua grup. Mereka tengah menikmati semilir angin di taman belakang sekolah, menyusul Yumi yang sejak pagi sudah berada di sana.
Yumi menerima buku itu, memasukkannya kedalam tas yang disandarkannya pada akar pohon besar. "Eoh, kalian sudah selesai membaca?"
Jongwoon serta Myungsoo memilih duduk di sisi kanan dan kirinya. Sedangkan Taemin merebahkan tubuhnya ke atas rerumputan di samping Myungsoo. "Sudah. Hahh... Asterium sungguh luar biasa. Aku jadi ingin kesana."
"Jangan berkhayal!" Myungsoo memutar bola mata, tangannya mendadak gatal untuk menjitak Taemin jika imajinasi liarnya kumat.
Taemin merubah posisinya menjadi duduk tegak, tidak terima jika pikirannya dikomentari. "Hei, imajinasi itu diperbolehkan."
"Tapi imajinasimu keterlaluan." Myungsoo mencibir, Jongwoon mengangkat bahu acuh lalu mulai menyantap bekalnya. Lebih memilih untuk diam disamping menyimak segala adu argument yang berlangsung.
"Bagaimana jika Asterium memang nyata?" Taemin kekeuh dengan pikirannya.
"Hah? Itu mustahil." Myungsoo mengibaskan tangannya.
Ketua grup menarik nafas, ia tidak terima jika Asterium dikatakan tidak ada. Dengan santai Yumi mulai mengeluarkan pendapatnya, setidaknya agar Myungsoo berhenti membicarakan ketidaknyataan Asterium.
"Myungsoo-ya. Tuhan bahkan menciptakan malaikat, bidadari, dan iblis. Keberadaan surga dan neraka juga nyata meskipun tempat itu masih tak terlihat. Banyak bukti maupun cerita tentang keberadaan dunia gaib yang diyakini oleh manusia. Jadi bukan hal yang mustahil jika penduduk krystalier itu ada. Krystalier selalu menjaga keseimbangan alam semesta sesuai misi yang mereka emban. Jika mereka gagal dalam sebuah misi, maka di masa yang akan datang, takdir dimana misi itu diberikan pasti terulang kembali. Tujuannya hanya satu yaitu keberhasilan dan kemenangan agar alam semesta ini aman hingga hari kiamat yang sebenarnya tiba." Yumi menengadahkan kepala menatap ke atas langit dengan pandangan menerawang jauh. Ia merindukan planet Asterium yang bebas dari pencemaran lingkungan, planet indah dengan segala keunikannya.
"Waw, kau berucap seakan dirimu adalah seorang krystalier." Myungsoo berseru takjub, Taemin menganga, lalu Jongwoon terlihat terkejut hingga mendongakkan kepala untuk melihat Yumi.
Menoleh cepat menghadap Myungsoo, berujar dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. "Aku memang krystalier, lebih tepatnya aku adalah cahaya utama 'Red' captain dari para Rainbow Knight." Myungsoo dan Taemin saling berpandangan, alis mereka bertaut. Beralih memandang Yumi, hinga...
Satu
Dua
Tiga detik kemudian...
"Hahahaha... Leluconmu sungguh hebat Yumi-ya." Tawa Myungsoo meledak, terpingkal-pingkal di atas rerumputan sambil memegangi perut.
"Aishh. Kalian ini." Yumi memukul Myungsoo dengan buku pelajaran yang dibawanya.
Kali ini Taemin yang tertawa sambil berguling di atas rerumputan. "Hahahaha, jika Yumi adalah Red. Aku ingin menjadi Green." Perkataan itu membuat Yumi terkejut dan menghentikan pukulannya pada Myungsoo. Matanya mengerjap, memastikan Taemin tidak salah bicara.
"Kau memang Green, Taemin-ah." Mengangguk, tersenyum tipis dengan wajah bahagia.
Diluar dugaan, tawa Myungsoo semakin meledak. "Buahahaha. Taemin memang Green jika ia memakai kostum keropi."
Taemin yang mendengar perkataan itu semakin terpingkal. "Hahahaha..." Pasti lucu jika ia berstransformasi menjadi badut berwajah kodok itu.
Myungsoo menghentikan tawanya, membenahi posisi menjadi duduk tegak saat melihat muka cemberut ketua grup. Tangan kanannya menopang dagu sedangkan kedua obsidiannya tak lepas mengamati wajah ketua caktik, mungkin sedang ngambek. Ekspresnya berubah menjadi serius, Taemin berdehem mengakhiri acara tertawanya lalu ikut duduk di samping Myungsoo. "Yumi-ya, daripada kau menjadi Red. Lebih baik kau menjadi artis saja. Hahahaha..." Tertawa lagi.
Sepertinya kejujuran itu tidak bisa menarik ingatan mereka, padahal ia berharap misi ini segera tuntas lalu mereka bisa kembali ke Planet Asterium.
Myungsoo dan Taemin bahkan berhigh five disela tawa mereka. Ketua grup mendengus, memilih membiarkan duo absurd itu. Sudah cukup perkataannya dinistakan, Yumi tidak ingin bertambah kesal menghadapi mereka berdua.
.
.
.
Cklek
Pintu yang sedari tadi ditatap tanpa berkedip akhirnya terbuka, ia langsung memberikan pertanyaan pada Yumi yang baru keluar dari toilet. "Jadi bagaimana hasilnya? Seberapa jauh mantra sihirmu bereaksi?"
Yumi duduk di sisi ranjang yang lain, menyandarkan punggung pada dashboar seperti yang dilakukan oppa-nya. "Awalnya Taemin memberikan tanda-tanda yang cukup bagus, tapi setelah aku menceritakan-" Donghae membungkam mulut itu dengan telapak tangan, menyebabkan perkataan Yumi terhenti.
"Aigoo, jangan menceritakannya seperti ini. Aku bisa tertidur karena dongengmu Yumi-ya. Buatlah visual dengan mantra seperti yang pernah kulakukan." Mulai menuntut, ia sedang bosan sekarang. Sedikit hiburan tak ada salahnya, sekalian menilai seberapa mahir Red menciptakan visual sihir cahaya.
"Ah. Baiklah." Red (Yumi) mengangguk, menjentikkan jarinya hingga lampu kamar meredup.
Menggerakkan jari-jarinya hingga cahaya putih keluar dan membentuk lingkaran. Membaca beberapa mantra lalu merubah cahaya itu membentuk visual kejadian tadi siang saat sekolah.
Pangeran Aiden diam, mengamati visual itu dengan seksama, tak ingin melewatkan adegan yang tengah berlangsung di hadapannya hingga...
"Hahahaha, kau tampak konyol sekali Yumi-ya." Tawanya meledak saat melihat Myungsoo dan Taemin yang menertawai ketua grup-nya.
"Tertawa saja sepuas oppa." Memutar bola mata, sedikit menyesal telah bercerita dan malah berakhir dijadikan bahan ledekan.
Tawa itu terhenti ketika mendapati sesuatu yang ganjil."Tunggu, apa kau mengamati ekspresi Jongwoon?" Raut wajahnya berubah menjadi sangat serius.
Yumi tersenyum kecut. "Dia hanya diam dan memakan bekalnya."
"Aigoo, bukan itu. Lihat! Ekspresi Jongwoon saat kau berkata jika dirimu adalah Red." Donghae menggerakkan jarinya ke arah visual itu, memundurkan peristiwa yang tengah terputar. Jarinya berhenti pada saat visual itu menampilkan wajah Jongwoon.
"Ya Tuhan. Kenapa aku tidak sadar?" Terkejut, ia terlalu tenggelam dalam kejengkelan sehingga hanya terfokus pada Myungsoo dan Taemin.
To be continue
