Selamat Membaca!
Sorry for typo ^^
.
.
Adventurous Dream
10
.
.
Note: Hun = Sehun
[Rumah Luhan] Dunia Nyata
Victoria mulai menggeliat karena merasakan sakit di punggungnya. Ia membuka mata perlahan dan menoleh ke sampingnya tempat semalam Heechul tertidur. Heechul masih tertidur di sana dengan raut wajah yang mneyiratkan kegelisahan.
"Dalam tidur pun kau masih merasakan kesedihan, Heechul-ah" gumam Victoria. Ia bangkit dari duduknya dan mulai merenggangkan tubuhnya yang kaku akibat tidur sambil duduk.
"Yeobo, kau tidur di sini?" tanya suaminya saat mendapati Heechul ada di ruang tengah. Ia mencari istrinya itu ketika istrinya tak ada disampingnya saat ia terbangun.
"Ne. Semalam Heechul terbangun, ia menangis dan baru tertidur pukul 5 tadi," Victoria kembali meregangkan tubuhnya, "aaah, aku sangat lelah" lanjutnya.
"Ya sudah. Kau istirahat saja. Aku bisa sarapan di lokasi syuting. Kau tidak ada syuting hari ini kan?"
Victoria menggeleng, "aku tidak ada syuting hari ini, jadi aku masih tetap bisa membuatkan sarapan untukmu. Setelahnya aku akan tidur," Victoria menggelung rambutnya ke atas, lalu berjalan ke dapur diikuti suaminya.
Setelah mereka selesai sarapan, Victoria mengantar suaminya hingga suaminya berangkat dan kembali ke ruang tengah. Ia menyelimuti sahabatnya lalu berbaring di sofa depan Heechul, ia menutup matanya menyusul Heechul yang masih tertidur.
"Victoria!"
Victoria merasa tubuhnya seperti diguncang. Semakin lama semakin kencang dan juga semakin jelas seseorang berteriak.
Ia dengan terkejut membuka matanya dan menemukan Heechul berderai air mata. "Wae? Ada apa Heechul-ah?!" paniknya langsung menghampiri sahabatnya yang terduduk tak berdaya di lantai.
"Sehun–" ia tak sanggup lagi mengucapkannya. Victoria yang mengerti segera saja berlari ke kamar yang Sehun tempati.
-Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit-
Suara itulah yang pertama kali Victoria dengar saat memasukki kamar. Ia melihat Hechul yang berjalan dengan lunglai dan terjatuh di samping ranjang Sehun. Ia menghambur ke sahabatnya dan memeluknya dengan erat. Ia ikut menangisi kepergian Sehun yang terlalu tiba-tiba itu.
-Tit..tit..tit..tit..-
Mereka berdua sontak melihat pada monitor yang memantau detak jantung Sehun. Mereka sangat senang dan bersyukur bahwa Sehun mereka kembali. Tapi itu tidak berlangsung lama, tubuh Sehun secara tiba-tiba mengalami kejang yang membuat para eomma itu kembali panik.
"Sehun-ah, sayang, kau harus bertahan nak," Heechul terisak sambil menggenggam tangan anaknya. Ia mengusap air mata yang keluar dari mata tertutup Sehun.
"Mengapa kau menangis nak? Apa sangat sakit?" lirih eomma-nya.
Victoria sendiri tengah sibuk dengan ponsel digenggamannya, menghubungi dokter yang menangani Sehun selama Sehun di rumahnya. Tubuh Sehun berhenti kejang, perlahan ia membuka matanya. Matanya memerah dengan air mata yang membasahi kedua matanya. Para eomma tersebut cukup terkejut melihat Sehun yang tiba-tiba membuka matanya.
"Se–" segera saja Heechul memeluk anaknya yang sudah sangat lama itu tidak sadarkan diri. "Terima kasih Sehun, terima kasih karena kau sudah mau bertahan," ucap eommanya sambil menangis tersedu.
Setelah menghubungi suaminya, Victoria mendekat pada mereka dan tersenyum bersyukur Sehun bisa kembali sadar. Pipinya sudah dipenuhi aliran-aliran air mata yang telah lewat walaupun tidak melebihi bagaimana air mata bahagia Heechul keluar.
Jinki, dokter yang merupakan dokter keluarga Lu baru saja selesai memeriksa keadaan Sehun. Zhoumi, Victoria, dan Heechul yang sedaritadi menunggu di ruang keluarga sigap berdiri dan menghampiri Kyuhyun.
"Bagaimana Hyung?" tanya Zhoumi. Jinki merupakan seniornya ketika masih disekolah menangah pertama.
"Tubuh Sehun menunjukkan respon yang baik, keadaan vitalnya juga . Aku harap kalian bisa membawa Sehun ke rumah sakit supaya otot-ototnya yang kaku bisa dilatih kembali. Bagaimana pun ia sudah sangat lama berbaring,"
"Terima kasih seonsaengnim," ucap Heechul membungkuk senang. "Tapi.. apa bisa jika Sehun tidak menjalaninya di rumah sakit? Aku masih khawatir padanya," tanya Heechul.
"Ia bisa melatih tubuhnya di rumah, tapi memang lebih baik jika di rumah sakit agar bisa terkontrol dengan baik," jawab Jinki.
"Ne, seonsaengnim," Heechul menganggukkan kepalanya.
"Tapi.."
"Ada apa Oppa?" tanya Victoria.
"Ada masalah dengan ingatan Sehun. Aku kira ia tak bisa berbicara, tetapi saat aku membujuknya bersuara, ia malah bertanya ia kenapa," jawab Jinki sendu.
"Ja..jadi Sehun kehilangan ingatannya?" tanya Heechul menahan tangisnya. Victoria sudah mengelus penggungnya memberi ketenangan.
"Ia hanya mengalami hilang ingatan sebagian, ia masih mengingat eomma-nya tetapi ia tidak mengingat apa yang terjadi padanya,"
"Itu lebih baik," ucap Heechul, "ia tak perlu tahu apa yang terjadi 5 tahun yang lalu,"
"Heechul-ah, kau tidak bisa seperti itu. Bagaimana pun Sehun harus mengetahui kebenarannya, bagaimana jika ia menanyakan tentang Kyuhyun?" tanya Zhoumi.
"Aku akan bilang Appa-nya sudah tiada, itu tidak akan aku tutupi. Tapi perihal ayah tirinya, aku tidak akan memberitahunya," Heechul menatap kedua sahabatnya memohon "tolong, jangan katakan apapun pada Sehun tentang itu,"
"Tapi Heechul-ah, aku setuju dengan ucapan suamiku. Lagipula Sehun pasti akan mengingat semuanya,"
"Tidak untuk saat ini Victoria, hiks aku mohon" ucap Heechul, air matanya kembali mengalir.
Victoria memeluk Heechul menenangkan, "baiklah, kami akan membantumu sebisa kami," ucapnya. Heechul menangis di pelukan sahabatnya dengan menggumamkan kata terima kasih berkali-kali.
Jinki sudah pulang setelah memberikan resep yang harus mereka tebus. Zhoumi sudah pergi ke apotek untuk membelikan obat-obatan yang diperlukan Sehun sedangkan Heechul sedang membuatkan bubur untuk anaknya dengan senang. Victoria mau tak mau ikut senang melihat sahabatnya kembali dari keterpurukannya.
Victoria merasa tak melihat anaknya pagi ini, pasalnya ini sudah pukul 10 pagi dimana biasanya Luhan sudah terbangun. "Heechul-ah, apa kau melihat Luhan turun?" tanya Victoria.
"Ani, mungkin Luhan kelelahan karena tidur malam. Mungkin ia masih tertidur,"
"Mungkin saja," ucap Victoria lagi, ia mengabaikan rasa aneh yang bergemuruh di dadanya ketika mengingat Luhan. Mungkin ia kurang tidur juga semalam hingga tubuhnya merasa tak enak.
"Sudah matang. Aku akan membawanya ke kamar Sehun dulu ya Victoria," ucap Heechul sambil membawa nampan berisi bubur dan segelas susu.
Victoria mengangguk, "aku masih mengantuk, aku akan tidur sebentar,"
.
.
Heechul masuk ke kamar Sehun, ia melihat anaknya kini sedang bersandar di ranjang dan melihat ke luar jendela.
"Sehunie, eomma membuatkan bubur untukmu,"
Sehun menoleh pada wanita paruh baya yang membawakan nampan ke kasurnya.
"Gomawo eomma," jawab Sehun. Ia hendak mengambil sendok dan bermaksud memakan bubur buatan eommanya itu. Tapi Heechul mengambil alih sendoknya dan menyodorkan satu sendok bubur.
"Aaa," titah eommanya.
"Aku bisa makan sendiri eomma, aku bukan anak kecil," kekeh Sehun lemah.
"Andwae, kau harus eomma suapi, ayo aaa,"
Mau tidak mau Sehun memakan bubur yang disodorkan padanya itu. "Apa aku menyusahkan eomma selama aku sakit?" tanya Sehun.
"Tentu saja tidak sayang. Terima kasih kau sudah kembali sadar," ucap eommanya. Sehun tersenyum. Beginilah Sehun seharusnya, tersenyum sesuakanya, bukan Sehun yang dingin dan tempramen ketika eommanya menikahi Ayah tirinya.
Sehun tahu bahwa ia baru saja sadar dari koma karena kecelakaan. Ia ingat Appa-nya memang sudah meninggal, tetapi ia tak ingat mengenai Ayah titinya, hal itu membuat Heechul bernapas lega. Di rumah itu tak boleh menghidupkan televisi ataupun alat komunikasi lainnya kecuali ponsel milik Zhoumi, Victoria, dan Heechul tentunya. Mereka beralasan Sehun harus istirahat penuh.
Siang ini Victoria tengah sibuk di dapur untuk membuat makan siang. Heechul menemani Sehun untuk melatihnya berolahraga di ruang gym milik keluarga sahabatnya itu. Victoria menata banyak lauk-pauk dan bubur yang tadi pagi Heechul buatkan untuk Sehun.
Ia melirik jam sudah pukul 12 lewat, mengapa Luhan belum bangun juga, pikirnya. Jadi ia bermaksud membangunkan anak perempuannya yang tak pernah tidur lebih dari pukul 12 siang.
Tok Tok.
"Lu, sayang.. kau belum sarapan sejak pagi. Sekarang sudah waktunya makan siang, ayo bangun!" panggil Mamanya. Tidak ada balasan dari Luhan. "Hah anak ini," gumam Victoria.
"Mama masuk oke," Victoria membuka pintu kamar Luhan yang memang tak pernah dikunci. Ia mendekat pada sosok anaknya yang tengah berbaring dalam selimut.
"Apa kau sebegitu lelahnya?" tanya Mamanya. Ia tak melihat respon apapun dari Luhan.
"Sayang," Victoria mengguncang tubuh anakanya. Tapi Luhan tetap bergeming. Anaknya bukanlah seseorang yang sulit dibangunkan. Dengan ketukan pintu saja biasanya Luhan langusng terbangun.
"Lu," Victoria mengguncang tubuh Luhan lebih kencang.
"Luhan!" panggil Mama-nya lagi dengan nada khawatir. Victoria memegang tubuh Luhan, dingin. Rasa takut merasuk di hatinya. "Luhan, sayang bangun!" Victoria mengguncang tubuh Luhan tanpa henti, tapi tetap saja Luhan tak membuka matanya.
Ia mengambil ponsel Luhan dengan gemetar dan menghubungi Jinki. Ia tak berani jika harus turun meninggalkan Luhan meski hanya untuk mengambil ponselnya
.
.
[Dunia Mimpi]
Di sebuah kastil kecil dengan dua menara di sisi kanan-kirinya terlihat sangatlah suram. Kastil itu merupakan markas Black Side. Jika kita mengikuti sebuah tangga yang tersembunyi di samping kastil, kita akan menuju ke sebuah penjara bawah tanah. Ya, para tahanan dari Black Side akan mereka masukkan ke sana.
Di salah satu ruangannya, seorang gadis masih tak bergerak di tanah yang menjadi lantai ruang jeruji itu. Sejam yang lalu ia dibawa oleh perempuan bermata besar dari hadapan Sehun. Kyungsoo memang ditugaskan oleh Yifan untuk menangkap Luhan. Kebetulan sekali Luhan sedang tidak bersama makhluk-makhluk sok baik itu.
.
[Flashback] kejadian penculikan Luhan
"Jongin! Cepat datang padaku," ucap sebuah suara di pendengaran laki-laki yang sedang asik berbaring sambil memikirkan perempuan yang ia sukai.
'Mengganggu saja!' kesal Jongin dalam hatinya.
"Ya" ia menjawab panggilan Yifan dan menghilang dari kamarnya.
PUSH
Jongin tiba di hadapan Yifan, "ada apa?" tanyanya malas.
"Hari ini kita mulai rencana. Bawa Luhan ke hadapanku!" perintah Yifan.
Jongin sedikit terkejut karena Yifan bertindak lebih cepat daripada perkiraannya. "Sekarang?" tanya Jongin memastikan.
"Ya. Kenapa? Kau takut tidak bisa melindungi wanita pujaanmu?" ejek Yifan.
Wajah Jongin menegang, 'apa Luhan akan di sakiti juga?' pikirnya.
Yifan tersenyum miring, "Luhan hanya kita pakai sebagai pancingan untuk Baekhyun, kau ingat?"
"Apa jaminanmu jika Luhan terluka?" tanya Jongin datar.
"Wow wow.. hanya karena wanita kau tidak bermaksud menghianatiku kan Jongin?"
Jongin tak menjawab.
"Kau bisa membunuhku jika Luhan terluka," ucap Yifan dengan senyum licik kecilnya yang tak dilihat oleh Jongin.
Bersamaan dengan itu Tao, istrinya masuk "Yifan! Kau tidak menyuruh anak buahmu untuk membunuhmu kan?" tanya Tao tidak percaya.
"Hai sayang, sudah bangun?" tanya Yifan tak memerhatikan pertanyaan istrinya.
"Kita perlu bicara Jongin!" ucap Tao tajam.
"Maaf, aku tak punya waktu untuk berbicara omong kosong padamu," ucap Jongin lalu menghilang dari hadapan keduanya.
"Sial–" Tao hendak mengumpat lalu ditahan oleh suaminya.
"Kau tidak mau mengajarkan hal buruk pada anak kita kan Tao-ya?" Yifan mengingatkan.
"Baiklah maafkan aku. Tapi mengapa kau menyerahkan hidupmu semudah itu pada si hitam?!"
"Aku tidak menyerahkan hidupku. Ia berani membunuhku? Penghianat seperti itu yang akan mati terlebih dahulu ditanganku," ucap Yifan memberitahu istrinya.
Tao mendekati suaminya dan duduk dipangkuannya lalu memeluk lehernya, "aku harap begitu, aku tidak mau anakku tidak memiliki Ayah," ucap Tao.
"Tenang saja sayang," Yifan mencium puncak kepala istrinya dan mengelus perut yang berisi anak pertamanya itu.
"Kyungsoo," panggil Yifan lagi.
"Ya aku datang," suara di pendengaran Yifan.
Kyungsoo sampai di hadapan suami-istri itu. "Apa tugasku kali ini?" tanya Kyungsoo langsung.
"Wah kau sepertinya tidak sabar Nona," goda Yifan.
"Cepatlah brengsek! Aku ingin membunuh Luhan secepatnya," ucap Kyungsoo emosi.
"Baiklah-baiklah jika itu yang kau mau. Sekarang ikuti Jongin ke rumah Suho, ia aku perintahkan untuk menangkap Luhan. Ia bisa saja berbohong seperti kemarin," perintah Yifan.
"Baiklah aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang dengan istrimu," ucap Kyungsoo tersenyum miring lalu berlari ke luar. Ia menembus tanah di belakang kastil, jalur tanah yang ia buat sebelumnya agar lebih cepat menuju rumah Suho.
Kyungsoo bersembunyi di balik pohon sambil memerhatikan Jongin yang sedang bersandar di bawah pohon. Mereka saat ini belum sampai di rumah Suho dkk, bahkan ini masih cukup jauh sampai di sana.
"Luhan tidak ditemukan," ucap Jongin, sepertinya ia sedang berbicara pada Yifan.
Kyungsoo menatap Jongin geram. Bagaimana Jongin bisa mengatakan Luhan tidak ada sedangkan ia belum sampai di rumah Suho, Kyungoo bertelepati pada Yifan mengatakan bahwa ia akan membawa Luhan ke markas mereka.
Kyungsoo melanjutkan perjalanan bawah tanahnya dan keluar di celah yang ia buat. Celah yang membawanya ke rumah Suho.
Ia keluar dan melihat Luhan berjalan bersama yang lainnya menuju pohon yang sudah ia ketahui adalah pohon menuju rumah Luhan. Tepat sekali!
Kyungsoo mengikuti mereka dan bersembunyi di balik semak halaman belakang rumah Luhan. Ia benar-benar muak mendengar perpisahan mereka. 'Teruskanlah kalian mengucapkan kalimat perpisahan, Luhan akan segera mati tenang saja' tawa jahat Kyungsoo dalam hati.
Setelah memastika semuanya pergi, Kyungsoo diam-diam menyelinap ke dalam rumah Luhan. Ia mengernyit ketika melihat laki-laki berkekuatan angin bersama Luhan. 'Apa yang ia lakukan?' tanya Kyungsoo dalam hatinya.
Ia terus saja mengikuti mereka dan ia paham, ternyata laki-laki itu adalah manusia seperti Luhan. 'Ini menarik,' pikirnya.
Dirasa laki-laki angina itu sedang dalam mode "tak bisa apa-apanya" karena sedang berada di antara dunia mimpi dan nyata, Kyungsoo beraksi dengan menaburkan obat bius yang ia bawa ke udara ruangan itu.
Kyungsoo berjalan mendekati Luhan dan menyeringai pada Sehun sebelum membawa Luhan pergi dari hadapannya.
[Flashback off]
.
Perempuan yang terbaring di tanah jeruji itu terbatuk-batuk dan mencoba bangun dari posisi tidurnya. Kepalanya terasa pusing dan hidungnya yang sensitif terhadap debu membuatnya terbatuk.
"Wah, kau sudah bangun rupanya?"
Luhan menoleh ke sumber suara dan mendapati perempuan bermata besar yang ia pernah lihat sebelumnya sedang memandang remeh dirinya dari luar jeruji.
"Kau.. uhuk, dimana ini?" tanya Luhan.
"Tentu saja di tempat sebelum kematianmu Luhan," jawab Kyungsoo tajam lalu tertawa.
"Apa salahku padamu hah?!" teriak Luhan lalu ia kembali terbatuk karena ia sensitif terhadap debu. Yang ia duduki sekarang adalah tanah kering yang banyak menghasilkan debu saat kau mengusiknya.
"Ouu, sebaiknya kau diam saja Luhanie cantik, kau akan mati sebentar lagi. Lebih baik kau melakukan hal yang berguna seperti.." Kyungsoo terdiam sebentar dan berpose seperti sedang berpikir.
"–seperti menangisi nasibmu yang sial mungkin?" Kyungsoo tertawa seakan ucapan mengejeknya untuk Luhan sangat lucu. Luhan hanya menatap Kyungsoo tak mengerti dan kembali terbatuk.
"Sudah bersenang-senangnya Kyungsoo?"
Kyungsoo menoleh ke pintu masuk dan mendapati Yifan di sana. "Oh, kau. Aku belum puas tentu saja jika ia belum tersiksa dan.. mati," jawab Kyungsoo sarkastik.
"Well, itu urusanmu. Urusanku adalah penghianat itu,"
Yifan tersenyum miring pada Luhan, "kau akan ku bebaskan tentu saja Luhan," ucapan Yifan membuat Kyungsoo menoleh tak suka.
"Tapi bukan salahku kan kalau kau mati di tangan Kyungsoo? Yang penting aku hanya memerlukanmu untuk memancing Baekhyun," ucap Yifan lalu berbalik ingin meninggalkan tempat itu.
"Bisakah kau biarkan saja Baekhyun? Lagipula Baekhyun tak merugikanmu–"
"Tutup saja mulutmu!" bentak Yifan membuat nyali Luhan sedikit ciut.
"Kyungsoo ikut aku!" perintah Yifan.
"Sampai jumpa pecundang," ucap Kyungsoo lalu hendak melangkah tapi ia mengurungkannya, "aku beritahu, kekuatanmu tidak berguna di ruangan ini karena kami sudah membuat ruangan ini kebal terhadap kekuatanmu. Byee" Kyungsoo melenggang pergi meninggalkan Luhan yang ketakutan dalam jeruji itu.
'Hun-ah, maafkan aku tidak disampingmu' batin Luhan sedih.
.
.
Sementara itu di rumah Suho. Hari ini tak seperti hari-hari sebelum Sehun pergi. Rumah ini terlihat lebih sepi dan penghuninya memilih melakukan kegiatan masing-masing. Suho terlihat sedang melatih kekuatannya di halaman depan rumah. Lay sedang berada di kamar, membaca buku-buku yang tebalnya tidak bisa dibayangkan. Chen sedang berjaga di ruang pantau, hari ini adalah tugasnya. Sedangkan Xiumin sedang di dapur berkutat dengan peralatan dapur dan bahan makanan, ya, hari ini juga giliran Xiumin yang memasak.
Baekhyun terlihat di halaman belakang rumah sedang membuat sesuatu dengan kain-kain yang ada di depannya. Chanyeol ada di dekatnya hanya memandangi apa yang dilakukan Baekhyun, Baekhyun pun tidak menyadari Chanyeol ada di sana. Jadi Chanyeol bisa leluasa melakukan kegiatannya 'menatap Baekhyun'.
"Makanan siaaappp!" teriak Xiumin dari dapur membuat keheningan rumah menjadi hilang sementara.
Satu per satu dari mereka masuk ruang makan tanpa bersuara. Xiumin yang tidak suka keheningan langsung saja berbicara, "Aku tidak memasak banyak siang ini, jadi aku harap kalian memakan apa yang aku masak," ucapnya.
"Kami akan memakan apapun yang kau masak, Xiu" ucap Suho.
"Benar," timpal Chen yang lain hanya mengangguk. Suasana kembali hening.
"Ya! Aku benar-benar benci suasana ini!" kesal Xiumin. Semua mata tertuju padanya dengan bingung.
"Ayolah Hun pasti baik-baik saja di sana! Luhan akan selalu bersamanya,"
Mereka semua masih terdiam memikirkan ucapan Xiumin, membuat perempuan berpipi chubby itu menggeram kesal.
"Ya, apa yang Xiumin bilang itu benar. Kita tidak seharusnya seperti ini terus," ucap Suho akhirnya.
"Kalian menyiksaku," ucap Xiumin sedih.
"Bukan seperti itu Xiu, mianhae. Aku hanya merasakan sepi, walaupun Hun-ah tidak pernah berisik tapi kehadirannya benar-benar ada." Ucap Lay.
"Aku juga merasakan seperti itu walaupun aku dan Baekhyun baru saja tinggal di sini," tambah Chanyeol. Diangguki oleh Baekhyun.
"Sungguh banyak yang menyayangi Hun," ucap Chen.
"Tentu saja, dia adik kesayanganku. Lihatlah aku sampai membuat minuman dunia nyata itu, bubble tea" ucap Xiumin terkekeh sambil menunjuk 8 cup bubble tea yang ia buat.
"Kalau begitu biar aku yang habiskan," Chanyeol mengambil satu cup buble tea dan meminumnya saat ini juga. Baekhyun juga mengikuti Chanyeol dengan mengambil satu bubble tea dan meminumnya.
Xiumin hanya bisa tertawa melihat kelakuan pasangan Chanbaek yang terkadang konyol, bodoh, dan menyebalkan tapi kadang mereka romantis juga membuat yang melihatnya merasa iri. Jadilah hari ini mereka mulai kembali seperti biasa, bercanda dan berbagi bersama.
.
.
[Dunia Nyata] Rumah Luhan
Di kediaman Luhan suasana tegang masih menyelimuti. Victoria sejak tadi tak hentinya menangis di pelukan suaminya yang juga terlihat gusar. Heechul duduk di sampan anaknya dengan wajah yang khawatir. Sedangkan Sehun yang tidak mengenal siapa perempuan yang ada di dalam, tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya mengetahui bahwa perempuan itu bernama Luhan, anak dari Mama Victoria dan Baba Zhoumi, tidak lebih.
Mereka terus menatap ke pintu kamar Luhan, di dalam sana, Jinki tengah memeriksa Luhan. Pintu kamar terbuka memperlihatkan Jinki, sang dokter yang keluar dengan wajah bingung dan sedihnya.
Langsung saja Zhoumi merangkul istrinya mendekat pada Jinki. "Ada apa dengan Luhan, Hyung?" tanyanya.
Jinki menggeleng, "Luhan sekarang dalam keadaan koma," ucapnya sambil menunduk.
Victoria jatuh tak sadarkan diri setelah mendengar ucapan Jinki. "Yeobo," panggil Zhoumi.
"Ke..kenapa Luhan sampai koma dok?" tanya Heechul, ia cukup terpukul dengan Sehun yang koma selama 5 tahun, bagaimana jika Luhan juga koma selama it– 'tidak! aku tidak boleh berkata seperti itu'.
"Saya pun tidak tahu mengapa Nona Luhan bisa sampai koma, tubuhnya baik-baik saja begitu juga bagian vitalnya. Ia seperti tertidur," ucap Jinki.
"Luhan," gumam Zhoumi. Ia khawatir dengan anak semata wayangnya, sekarang sang istri pun jatuh pingsan.
"Maafkan aku Zhoumi," ucap Jinki bersalah.
"Tidak apa Hyung, terima kasih sudah memeriksa Luhan. Aku mengantar istriku ke kamar dahulu," ucap Zhoumi lalu mengangkat Victoria menuruni tangga.
"Mari dok saya antar," ucap Heechul. "Sehun-ah, jaga Luhan sebentar," ucap eommanya.
Sehun henya mengangguk.
Sehun melangkahkan kakinya memasuki kamar Luhan. Ia dapat melihat seorang perempuan yang terbaring di sana. Suara monitor pemantau jantung terdengar sangat familiar di telinga Sehun. Mungkin karena ia juga baru saja sadar dari koma, pikirnya.
Sehun terus melangkah hingga ke samping ranjang Luhan. Ia menatap wajah teduh perempuan yang berbaring di sana. Ia duduk di pinggiran ranjang dan secara tidak sadar menggenggam tangan Luhan.
'aku tidak tahu siapa kau, tapi mengapa aku sangat sedih melihatmu terbaring lemah? Oh sial dadaku sangat sesak' batin Sehun dalam hati.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Sehun tanpa diminta. 'Mengapa aku menangis?' ia menghapus air mata yang sebentar lagi akan menetes kembali.
Ia melihat tangannya yang menggenggam tangan Luhan, rasanya tidak ingin melepaskan tangan Luhan yang dingin. Tangannya mungkin bisa memberi kehangatan untuk Luhan.
"Berjanjilah kau akan tetap bersamaku"
"Agh!" pekik Sehun. Sebuah suara tiba-tiba terdengar di telingnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit setelah mendengarnya.
"Tentu saja aku akan selalu bersamamu"
"Aghhh!" suara itu masih terngiang di kepalanya. "Suara siapa itu?" gumam Sehun. Ia melihat pada Luhan. 'Apa kita saling mengenal?' batinnya.
"Sehun-ah?" panggil eommanya yang baru saja masuk.
"Eomma.."
"Wae Saehun-ah?"
"Apa aku dan Luhan saling mengenal?" tanyanya.
"Saat kau masih kecil tentu saja, setelah itu kalian tidak pernah bertemu lagi. Jadi, baru sekarang kalian bertemu lagi." Jelas eommanya. "Wae?"
"Anio," jawab Sehun.
Heechul duduk di pinggiran ranjang Luhan. Ia menangis kembali "Mi..mianhae Luhan-ah, apa karena kami kau jadi koma?" ucapan eommanya itu tidak dimengerti oleh Sehun.
"Eomma, Luhan tidak koma karena kita. Mengapa eomma bicara begitu?"
"Tidak. Ayo kita temui Victoria di bawah," ajak eommanya.
Kini Victoria sudah sadar kembali, tetapi tubuhnya masih lemah, ia masih berbaring. "Maafkan aku," ucap Heechul. Kata-kata itu membuat Sehun bertambah bingung, apa seseorang yang koma akan menular? Tidak kan?
Victoria menggeleng sambil tersenyum lemah.
"Ini bukan salah siapa-siapa. Kami juga tidak mengerti mengapa Luhan seperti itu, bahkan dokter pun tidak mengerti. Jadi, jangan salahkan dirimu Heechul-ah," tambah Zhoumi.
Heechul masih menangis. Sehun hanya bisa mengelus sayang punggung wanita yang telah melahirkannya itu.
"Sehun-ah, bagaimana jika kau menempati kamar Luhan? Biarkan Luhan dirawat di kamarmu sementara," tanya Zhoumi.
"Ne. Gwaenchanha Baba. Biarkan aku yang menempati kamar Luhan,"
"Aku akan memindahkannya sekarang, batu aku ne?"
"Ne, Baba"
"Heechul-ah, kau istirahatlah. Aku tidak mau semua yang ada di rumah ini jatuh sakit."
Heechul mengangguk. Sehun mengantar eommanya hingga ke kamar lalu naik ke lantai dua untuk membantu Zhoumi memindahkan Luhan.
.
"Tapi anakku sedang sakit! Mana mungkin aku meninggalkannya sekarang!" Zhoumi terlihat sedang marah saat ini, managernya yang juga merupakan manager istrinya menelfon dan meminta keduanya untuk datang ke press conference untuk serial drama terbaru mereka.
Sedangkan Victoria duduk di samping suaminya menunggu keputusan akhir. Tentu saja mereka lelah karena terlalu banyak pikiran yang harus mereka selesaikan.
"Tidak bisakah kau mengerti Hyung?" suara Zhoumi melunak.
…
Zhoumi menghela napasnya lelah, "baiklah kami ke sana sekarang," suami dari Victoria itu memutuskan sambungannya.
"Apa kita harus meninggalkan Luhan?" tanya istrinya.
"Ya, hanya sebentar. Hyung sudah berjanji padaku hanya selama 1 jam kita pergi,"
Victoria hanya mengangguk.
"Ayo bersiap," Zhoumi merangkul lengan istrinya dan menuntunnya karena Victoria dalam keadaan tidak baik saat ini.
.
.
[Dunia Mimpi]
"SUHO HYUNG!" teriakan Chen sore ini membuat para penghuni rumah berhamburan dari kamar masing-masing menuju sumber teriakan Chen.
"Ada apa?!" tanya Suho panik.
"Li..lihat kitab ini," tunjuk Chen sambil menatap ngeri pada tulisan yang tertera pada halaman kitab.
Suho mengambil alih kitab dari tangan Chen dan membacanya, "Mati Sekarang Juga Atau Api Tak Akan Memaafkanmu!"
"Mengapa kata-kata itu sangat mengerikan?" tanya Xiumin khawatir. "Siapa yang lebih baik mati?"
"Apa maksudnya?" gumam Suho.
"Kalimat ini memiliki makna tersendiri," ucap Lay.
"Maksudmu?" Xiumin bertanya, dadanya berdebar entah apa yang ia rasakan saat ini, perasaannya benar-benar aneh.
"Mungkin ini adalah jelmaan kekuatan seperti kalimat di halaman awal. 'Tanah yang rusak akan meluas dengan pergerakan yang cepat' setelah kalimat itu muncul, Kyungsoo dan Jongin dari Black Side benar-benar menampakkan diri," jelas Lay.
Xiumin terdiam memikirkan sesuatu, "apa mungkin–"
"Chanyeol, kekuatanmu api bukan?" tanya Xiumin tiba-tiba.
Chanyeol mengangguk, "ya, tapi apa hubungannya denganku?"
"Apa kau akan membunuh seseorang?" hening seketika setelah Xiumin mengatakan hal yang tidak masuk akal.
Chanyeol menatap Xiumin bingung "apa wajahku adalah wajah pembunuh?" tanyanya.
"Mwo? Ani, bukan itu maksudku. Kalian tahu bukan jika Chanyeol memiliki kekuatan api, bisa saja apinya membunuh–"
"Hun!" pekik Xiumin tiba-tiba.
"Xiumin-ah, jangan mengada-ada. Chanyeol tidak mungkin akan membunuh Hun" ucap Lay.
"Bukan. Maksudku Chanyeol memang tidak akan membunuh Hun. Aku memiliki perasaan tidak enak sejak Hun meninggalkan kita,"
"Apa maksudmu?" tanya Suho.
"Tidak ada tanda-tanda Luhan ataupun Hun mengunjungi kita, aku takut terjadi sesuatu,"
"Benar, aku juga mengkhawatirkan mereka," ucap Lay.
DUAR!
Suara ledakan terdengar dari halaman depan rumah mereka, segera saja Suho berlari ke arah sumber ledaka dengan yang lain mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di depan rumah, mereka tidak menemukan kerusakan apapun. Halaman mereka aman seperti sebelumnya, jadi apa yang menyebabkan ledakan itu?
"Apa kita salah dengar?" tanya Chen.
"Ani, aku kira kita tidak salah dengar. Ledakannya sangat besar, aku pikir halaman depan kita hancur" sahut Chanyeol.
Baekhyun melihat sesuatu yang sangat familiar di matanya. Sebuah gulungan berwarna hitam yang tergeletak di tengah halaman. Ia berjalan mendekati gulungan itu.
"Baekii, mau ke mana?" tanya Chanyeol panik melihat perempuan yang sudah menjadi kekasihnya berjalan menjauhi rumah.
Baekhyun menunduk dan mengambil sesuatu yang menyita perhatiannya. Kemudian ia membulatka matanya ketika mengingat benda apa yang ditangannya sekarang.
"Ada apa?" Suho menghampiri.
Baekhyun hanya menyerahkan gulungan hitam itu pada Suho dengan tangan gemetar.
Karena penasaran, Suho membuka gulungan itu dan membacanya dalam hati. Baekhyun tak lagi ingin melihat apa isinya, ia mulai mengeluarkan air mata ketakutan.
"Tidak mungkin," lirih Suho.
.
.
to be continued-
.
.
Annyeeeooonggg ^^
Maaf ya karena aku suka banget ngundur-ngundur update-an cerita ini. Sedih si menunggu review gak nambah-nambah kkk. Aku harap kalian gak bosen ya sama cerita ini TT huhu. Apa kalian bosen? Jangan oke hehehe :D
Balasan Review
#knightwalker314: iyaya Kyungsoo-nya bener-bener jahat memang huhu. Mianhae buat Kyung jadi jahat TT huhu. Makasi buat reviewnya ya hihi :)
#oh nuhi: wehehe makasii :* kalo yang ini seru tak? semoga tak mengecewakan yahh hehe. Makasi reviewnya :)
Makasi yang masih nunggu cerita ini ^^ tunggu chapter selanjutnya. Review jangan lupa oke :D
Gamsahamnida *loveforHUNHAN yeayy!
