Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – Ketua 'Grey'

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – ketua OSIS BigHit School – Ketua 'White'

Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'

Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'

Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – pengurus OSIS BigHit School – 'Grey'

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'Grey'

Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo) – 'Grey'

Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – wakil OSIS BigHit School – 'White'

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher

Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo) – Suga's ….

Cha Eunwoo!GS as Yutaka Iijima (16yo) …..

All in Korean age

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, ASTRO, and SNSD member belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

.

Chapter 10: Miss Influential

.

.


KLEK

.

"Huahm.."

.

Hari itu Jimin bangun pagi, seperti biasanya, karena ia harus menyiapkan sarapan dan pakaiannya seorang diri. Anggaplah Jimin tinggal sendirian karena Jin selalu mendadak menghilang—apalagi saat dibutuhkan—seperti remote tv.

Ketika keluar dari kamarnya, kaki Jimin menabrak sebuah boks besar.

.

Ng? Apa ini?

Sejak kapan ada di sini?

.

KLANG!

.

Hah?! Suara apa itu?

.

Baru saja Jimin dikejutkan oleh boks besar di depan pintu kamarnya, sekarang keterkejutannya ditambah oleh suara aneh dari arah dapur. Jimin panik karena ia sedang sendirian tanpa Jin. Ia takut jika ada penjahat yang masuk ke rumahnya. Ia pun memberanikan diri mendekati dapur, mengendap-endap, dan mengintip.. Lalu ia menemukan siluet seseorang yang sedang memegang pisau di sana.

Jimin mengambil payung yang disimpan di dekat pintu dapur—sebagai alat untuk membela dirinya dari penjahat, lalu berseru, "Si-siapa?!"

Sosok itu berbalik dan Jimin pun langsung terduduk lemas di lantai dan melepaskan payungnya. "Jin! Astaga.. Kukira siapa!", seru Jimin.

"Pagi, Jimin.. Aku sedang memasak sarapan, nih.", sapa Jin hangat dengan senyuman angelic-nya.

Jimin langsung berdiri dan berlari lalu memeluk Jin.

"Jin ke mana saja, sih?! Paling nggak kan bisa meneleponku barang sekali saja?! Aku kan cemas..", rengek Jimin.

Jin membalas pelukan Jimin erat. "Mian.. Kesepian, ya, 'gak ada aku?", goda Jin.

Jimin mendongak seraya merengek, "Iya!"

Jin terkejut melihat mata Jimin yang berkaca-kaca. Jujur sekali..

"Sudah kubilang, kan? Aku cuma bisa menunjukkan kelemahanku di hadapan Jin..", lanjut Jimin sambil mengusak matanya yang berair.

Semburat pink muncul di kedua pipi Jin. Jimin sangat jujur dengan perasaannya, berbeda dengan Jin yang menutupi banyak hal, termasuk perasaannya. Jujur, Jin senang jika Jimin hanya dapat bergantung padanya. Tapi, di sisi lain, ia juga sedih karena hal itu tidak akan berlangsung selamanya. Suatu saat Jimin akan meninggalkannya, bukan?

Jin menepuk dahi Jimin pelan. "Kamu kelihatan capek. Maaf ya.. hari ini aku akan mendengarkan semua keluh kesalmu. Jadi, cepat pulang, ne?", lanjut Jin sambil mengusap pipi chubby Jimin lalu tersenyum lembut.

"Iya. Banyak hal tentang masa lalu yang ingin kutanyakan pada Jin.", kata Jimin sambil tersenyum hingga eyesmile-nya muncul. "Tunggu aku pulang sekolah, ya!"


Setelah sarapan..

.

Jimin telah selesai sarapan dan hendak berangkat ke sekolah. Ia mengenakan mantel musim dinginnya lalu menyampirkan bagpack di sebelah pundaknya.

"Beberapa kali orang dari museum menelepon soal pameran tunggalmu. Telepon balik mereka, ya, Jin.", seru Jimin dari dekat pintu rumahnya. "Aku berangkat, ya. Daah~"

"Tunggu, Jimin!"

"Hm? Apa lagi Jin?"

Jin menarik Jimin mendekat hingga perut mereka saling bertemu lalu ia mengeluarkan sebuah syal yang sedari tadi disembunyikannya di balik punggung.

"Ini, permintaan maafku karena menghilang selama dua minggu.", kata Jin sambil mengalungkan syal berbahan cashmere berwarna hijau mint di leher Jimin. Tidak lupa dengan kecupan hangat di dahi Jimin. "Hati-hati di jalan."

Kedua pipi Jimin otomatis memerah seperti kepiting rebus. "A-aku pergi!", lalu ia pun berlari ke arah pintu.

Jin masih tersenyum dan melambaikan tangannya hingga Jimin menutup pintu rumah mereka, dan senyuman Jin lenyap seketika setelahnya.

.

Jimin mau bertanya.. tentang masa lalu?

Gawat.

.

Jin melangkahkan kakinya ke sebuah kamar di lantai dua, kamar yang selalu dikuncinya agar Jimin tidak bisa masuk ke dalamnya. Bahkan kuncinya selalu Jin bawa kemanapun ia pergi agar tidak ada kemungkinan Jimin akan menemukan kuncinya dan masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan itu tidak terlalu besar—hanya berukuran 6x8—dan penuh dengan alat-alat melukis Jin: kuas, palet, pisau palet, easel, cat, pensil, dan kanvas. Ruangan pribadi Jin.

Ruangan itu berbeda dengan studio kerja Jin di lantai satu, yang bisa selalu dimasuki Jimin jika sedang rindu padanya. Ruangan itu berisi curahan hati Jin yang selama masa hidupnya tak pernah ia bagi dengan siapapun.

Jin menyingkap kain putih penutup salah satu kanvas yang masih menempel di easel. Setelah kain putih itu terhempas ke lantai, terlihat lukisan seorang yeoja cantik berambut panjang yang sedang memeluk seorang bocah namja ber eyesmile.

Sorot mata Jin berubah teduh, jemari lentiknya bergerak menyusuri wajah yeoja itu. "Hai.. Uri Jimin tumbuh dengan sehat. Tapi.. masih belum saatnya aku menceritakan kejadian sebenarnya, bukan?"

.

Di BigHit School

Markas (dadakan) 'Grey'

.

"Kamu hebat sekali bisa menaklukkan Yoon Sanha!", seru Yugyeom ceria. "Salut, deh!"

Yugyeom melanjutkan, "Tadinya susah banget mengajak anak lain bergabung. Tapi, begitu Sanha masuk, kita langsung dapat tiga-puluh anggota baru!"

"Ah.. Aku nggak berbuat apa-apa, kok…", kata Jimin. "Ah, itu Sanha noona!"

"Hai, ada apa?", kata Sanha yang baru masuk ke dalam ruangan itu.

"Kami mau rapat strategi," kata Jimin riang, "Sanha noona ikutan, ya."

Sanha masih mempertahankan ekspresi ramahnya, lalu ia memanggil seseorang untuk mendekat. "V, coba ke sini sebentar.."

V menunjuk dirinya sendiri lalu berjalan mendekati Sanha.

"Terus terang, aku nggak peduli soal reformasi sekolah ini. Jadi, jangan anggap aku sekutu kalian, dong.", bisik Sanha.

V menepuk kedua bahu Sanha sambil berseru, "Eh? Jadi begitu?! Sanha noona bersimpati banget sama kami?! Senang sekali ternyata kau mau membantu kami menambah anggota baru. Yoon Sanha memang hebat!"

"Apa?! Tungg—"

"Pengagum Sanha noona banyak, sih. Bisa jadi kekuatan kita, nih!", potong V. "Daftarnya tugas Sanha noona sudah kubuat, loh!"

V menampakkan senyum kotaknya seraya melanjutkan, "Kerjaku cepat, kan? Berusahalah! Kami semua berharap padamu!"

Sanha melihat sekeliling dan menemukan puppy eyes dari mata semua orang yang ada di markas dadakan 'Grey' sedang tertuju ke arahnya. Mau tidak mau Sanha melebarkan senyumannya lalu berkata, "Ya.. Serahkan padaku..!"

"Hore!"

"Yoon Sanha memang keren!"

Sanha mendekatkan bibirnya ke telinga V lalu berbisik, "Awas kau. Kutaruh ular di tasmu nanti!"

V masih menampakkan senyuman kotaknya sambil berkata, "Aih!❤"

Semua orang nampak bahagia dan semangat, berbeda dengan Hoseok. Jimin yang menyadari hal itu pun bertanya, "Hosiki, kamu kenapa? Kok lesu?"

"Eh? Aku nggak apa-apa, kok..", jawab Hoseok sambil tersenyum.

"Benar nggak apa?"

"Ne, Jiminnie..!", jawab Hoseok mantap.

"Yap, rapat dimulai!", seru V.

Jimin yang sedari tadi sudah berdiri di depan ruangan kelas—markas dadakan 'Grey'—pun membuka suaranya. "Pertama, laporan kondisi terakhir akan disampaikan oleh saudara Kim Yugyeom."

Yugyeom berdiri dan membungkukkan badannya 90o yang disambut oleh gelak tawa seisi ruangan.

"Saat ini, yang sudah bergabung dengan 'Grey' adalah klub basket, baseball, dan voli putra, lalu sebagian anggota klub sepak bola, tenis meja, dan atletik.", kata Yugyeom. "Juga beberapa anggota klub budaya. Ditambah tiga-puluh anggota baru hari ini.. Daebak!Totalnya 126 orang! Sudah lebih dari seratus!"

"Woah, daebak!"

"Bagus, bagus!"

"Kereeen!"

Sahut seluruh anggota 'Grey' sambil bertepuk tangan.

Jimin kembali ke mode seriusnya. "Tapi, walaupun strategi rat association terus diterapkan, anggota wanita kita sama sekali nggak bertambah. Di bulan ini, aku ingin kita fokus menambah anggota wanita."

Jimin melanjutkan, "Mengingatsedikit waktu yang tersisa, akan sulit menambah anggota 300 orang. Di semester akhir nanti, anak kelas 3 pasti akan jarang datang ke sekolah karena sudah sibuk ikut bimbingan belajar. Jadi, bulan ini kita harus lebih kompetitif. Saudara V akan menjelaskan strateginya."

V berdiri dari posisinya seraya membungkuk sedikit. Lalu ia berjalan ke arah depan kelas—ke sebelah Jimin—dan menghadap seluruh anggota 'Grey' lainnya.

"Untuk menambah jumlah anggota 'Grey' secara efektif, aku sudah membuat daftar orang-orang populer di kalangan siswa BHS. Profil dan cara menghadapi mereka juga ada.", kata V sambil membagikan lembaran-lembaran kertas pada anggota 'Grey'. "Berdasarkan daftar ini, kita adakan pendekatan intensif pada mereka untuk dapat menarik fans mereka juga."

Yugyeom mengacungkan tangan kanannya, menandakan ia ingin menanyakan sesuatu.

"Silakan Kim Yugyeom.", kata V.

"Apa penyebab utama anggota wanita tidak bertambah?", tanya Yugyeom formal.

"Em..", Jimin terlihat berpikir karena ia juga sebetulnya tidak tahu jawabannya.

"Penindasan.", kata salah satu anggota 'Grey'. "Mereka bilang nggak mau bergabung dengan 'Grey' karena takut ditindas.

"Oh.. begitu.", kata Jimin.

"Iya, penindasannya sadis, sih.", seru anggota 'Grey' lainnya.

V membuka suaranya. "Sudah kupikirkan, kok, solusinya. Pertama, tumpas bos penindas para yeoja."

Seisi ruangan terkejut mendengar ucapan V.

"Maksudmu.. 'Itu', ya?", tanya Yugyeom.

"Iya, 'itu'.", jawab Sanha.

"Kalau 'itu' nggak dibasmi, anggota wanita kita nggak akan bertambah.", kata anggota 'Grey' lainnya.

"…". Ketika hampir seluruh anggota 'Grey' melontarkan pendapat mereka, Hoseok hanya berdiam diri dengan wajah yang memucat.

"'Itu' apa, sih?!", tanya Jimin. "Jelaskan, dong!"

V menjelaskan dengan wajah serius, "'Butterfly', salah satu Unit Pembasmi 'Grey'".

"..Lagi?! Yang benar saja!", seru Jimin.

V melanjutkan , "Aku dan Minnie saja yang menghadapi 'Butterfly'. Soalnya, kalau ketahuan, bisa diserang balik, sih.", V menaruh kedua tangannya di meja lalu melanjutkan, "Revolusi kita bisa berantakan. Mulai sekarang, kalian juga harus bertindak hati-hati. Rapat hari ini selesai."


Di ruang kelas 1-D

.

Kelas sedang kosong karena sekarang jam istirahat. Rata-rata siswa kelas 1-D menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin, taman, lapangan olahraga, atau perpustakaan.

Jadi, saat itu di sana hanya ada Hoseok yang sedang menatap horor pada sesuatu..

Yaitu tumpukkan bukunya yang tersobek-sobek, isi tasnya yang berhamburan, dan meja juga kursinya yang berantakan.

Juga pada sebuah benda seukuran genggaman tangan berbentuk kupu-kupu di atas kekacauan itu.


Di jembatan antar gedung BHS

.

"Apa 'Butterfly' segawat itu? Dari namanya saja nggak terdengar garang.", kata Jimin polos.

"Sst, nanti ada yang dengar, Minnie.", bisik V. "'Snake' dan Kamaitachi beraksi demi kepentingan kelompok.. Tapi 'Butterfly' beda. Mereka menindas.. karena suka."

"Wuah?! Keterlaluan! Yang kayak begitu memang harus ditumpas habis!", amuk Jimin.

V mengangguk-angguk. "Masalahnya, 'Butterfly' didukung preman jalanan."

"Glek! Serius?! Terus 'gimana, dong?"

"Untuk mengatasinya, kita perlu teman yang berpengaruh yang bisa mendukung kita. Nah, sekarang aku mau ke rumahnya.", kata V.

"Wah, siapa? Dia lebih kuat dari preman jalanan itu?", tanya Jimin.

"Cha Eunwoo.", kata V dengan ekspresi datarnya.

"Cha Eunwoo..? Kok, kayak pernah dengar…", kata Jimin.

DUK!

Tiba-tiba saja ada yang menendang Jimin hingga tersungkur ke lantai.

"Jangan lelet-lelet kalau jalan di depanku—", kata Suga dengan seringaian khasnya, "—bocah!"

Jimin balas menendang Suga. "Apaan, sih, Min Yoongi?!"

"Hoh?! Ngajak berantem, ya?!", teriak Suga sambil balas menendang Jimin.

Aksi saling tendang pun berlanjut.

"Aku nggak ada waktu meladenimu, Min Yoongi!"

"Seenaknya saja memanggil nama asliku, bantet!"

"Ya! Dasar menyebalkan!"

Sejak kapan mereka jadi akrab begitu…? Benak V.

Setelah aksi tendang-menendang berubah menjadi cakar-mencakar, salah satu anak buah Suga datang menghampiri mereka, terlihat tergesa-gesa.

"Gawat, Suga!"

"Apa?", jawab Suga dingin tanpa melepaskan kedua tangannya yang sedang menggenggam kepala Jimin, mengabaikan Jimin yang meronta-ronta.

"Di.. di depan ada gerombolan orang aneh! Mereka bilang 'Keluarkan Min Yoongi dan Park Jimin!'."

"Hee?!", seru Jimin dan Suga bersamaan.


"Itu geng paling berpengaruh di daerah Gangnam. Sebagian besar anggotanya pernah diciduk polisi.. Mereka sangat ganas.", kata Suga sambil melihat gerombolan preman itu dari jendela lantai 3.

"Kalau preman seganas itu datang kemari.. Kira-kira alasannya apa, ya?", tanya seseorang.

"Pasti..", kata Suga.

"..Karena waktu itu..", tambah Jimin.

Jimin menoleh pada Suga. "Iya! Pasti gara-gara waktu itu kamu mengamuk karena hal sepele, Min Yoongi!"

"Apa?! Kamu lupa, ya, 'hal sepele' waktu itu adalah aku menolongmu, Park Bantet!"

"Oh.. mereka yang menyerangmu 4 hari lalu sepulang dari karaoke, ya, Minnie?", tanya V.

"Ne. Argh, semua gara-gara dia!", seru Jimin sambil menunjuk wajah Suga.

"Mwo?! Dasar makhluk nggak tahu terimakasih!"

Lalu mereka berdua pun berkelahi.

Hm.. mau balas dendam sama Suga, ya.. Percuma kalau menyalahkan Sanha. Ini sih sudah jadi dendam pribadi. Benak V.

"Suga, sekarang bukan waktunya untuk bertengkar!", seru salah satu anak buah Suga.

"Hih, biar kuladeni saja mereka!", seru Suga sambil meninjukan kepalan tangannya ke telapak tangannya sendiri.

"Ja-jgngan! Kau bisa terbunuh!", seru anak buah Suga yang lain.

"Berisik! Kalian pikir aku akan menghindar?! Ini bukan urusan kalian, pulanglah! Cukup aku yang menghadapi mereka.", kata Suga.

"Jangan, Suga! Mereka membawa senjata!", seru anak buah Suga.

"Ah, mau bawa busur panah atau pistol pun, aku nggak… Sakit?!"

Suga tidak dapat meneruskan ucapannya karena ia pingsan, dipukul dengan tongkat baseball oleh V.

"Hoi, cepat ambilkan tali..!", seru V santai.


"Berani-beraninya.. memperlakukanku seperti ini..", geram Suga setelah tersadar dari pingsannya. "Jangan kira kalian akan lolos begitu saja setelah ini!"

"Sudah, diam sebentar, ya.", kata V lalu membungkam mulut Suga dengan lakban.

"..!2f1g!%*W$!", entah apa yang dikatakan Suga dibalik lakban yang menutupi mulutnya, tapi, yang pasti, isinya sumpah serapah.

"Kalau cuma menyangkut kamu, kami nggak peduli. Tapi, ketua kami juga diincar. Bisa repot kalau kamu bertindak seenaknya.", kata V santai.

"Benar. Kalau si gila ini dilepas, masalahnya bisa bertambah rumit.", kata Yugyeom.

"Sekolah sudah dikepung. Kita nggak bisa kabur.", kata salah satu anggota 'Grey'.

"Hm.. kita butuh bantuan.", kata Yugyeom. "Satu-satunya cara, ya, telepon polisi.."

"Bergerombol dan membawa senjata tajam bukan kejahatan luar biasa—,", kata V, "—kalau sudah bebas mereka pasti akan mengincar Minnie lagi."

"Jadi 'gimana, dong? Ada-ada saja..", kata anggota 'Grey' lainnya.

"Em.. maaf, ya, teman-teman… Rencana kita jadi agak terlambat.", kata Jimin lirih.

"Nggak, kok. Ini bukan salahmu, Jimin.", kata Yugyeom.

Setelah terdiam beberapa lama, V membuka suaranya. "Kita minta tolong Cha Eunwoo saja. Dia pasti bisa membuat mereka mundur."

Jimin dan Suga terkejut mendengar V berbicara seperti itu.

"I.. itu memang bisa. Tapi, kurasa, dia nggak akan mau bekerja sama.", kata Yugyeom.

"Itulah yang harus kita usahakan.", kata V, berusaha santai.

.

Cha Eunwoo..

Punya kekuatan yang bisa menekan preman ganas.

Dia.. orang yang seperti apa, ya?

Benak Jimin.

.

"AH! Aku tahu! Cha Eunwoo.. nama teratas dalam daftar anggota 'Grey', kan?!", seru Jimin. "Dia salah satu dari lima orang pelopor 'Grey'!"

V tersenyum lalu menjawab, "Ne."

"Tadi aku lihat Cha Eunwoo.", kata anggota 'Grey' lainnya.

"Hah?! Di mana?!", tanya Yugyeom.

"Hari ini dia ke sekolah?!", tanya V.

"Iya, aku juga kaget.. Tumben, sih."

"Ayo cari dia!", seru V sambil berlari ke arah pintu.

"Cepat bawa dia kemari!", seru Yugyeom. Ia berlari menyusul V diikuti oleh beberapa anggota 'Grey' lainnya.

"Ah! Main pergi saja. Aku juga kan ingin ikut..!", seru Jimin sambil mem-pout-kan bibirnya dan berjalan ke arah pintu.

Meninggalkan Suga di ruangan itu dalam keadaan diikat dan dibekap…

Yang ekspresi wajahnya terlihat masih sangat terkejut walau tertutup lakban.


"Cha Eunwoo? Tadi, sih, ada di ruang musik.", jawab siswa namja anggota 'White' yang kebetulan lewat.

"Ah, ne. Gamsahamnida.", kata Jimin.

Jimin melangkahkan kakinya ke arah ruang music dengan hati bergemuruh.

.

Cha Eunwoo..

Orangnya bagaimana, ya?

Dia kan salah satu dari lima orang pelopor 'Grey'..!

.

Setelah hampir sampai di ruang musik, Jimin disambut oleh alunan piano yang sangat lembut.

.

Wah.. hebat sekali. Siapa yang main, ya?

.

Jimin mengintip ke dalam ruangan musik dan menemukan seorang yeoja berambut hitam, lurus, dan panjang sepinggang sedang memainkan piano. Tanpa sadar Jimin pun memasuki ruangan itu karena terpesona oleh alunan musik yang keluar dari piano itu. Jimin berjalan mendekat ke yeoja itu lalu bertanya, "Anu… Apa Cha Eunwoo ada di sini?"

Yeoja itu mendongak memandang Jimin.

Wuah.. cantiknya..! Benak Jimin.

"Duduklah di situ.", kata yeoja itu tanpa menghentikan permainan pianonya.

"Ne?"

"Silakan tanya setelah lagu ini selesai.", kata yeoja itu lagi.

"Ah, ne…", jawab Jimin lalu ia pun duduk di salah satu kursi yang berjejer di pojok ruangan.

Setelah duduk, Jimin memperhatikan yeoja itu dengan seksama.

.

Ah..! Dia pakai baju bebas…!

'Grey' baru, ya?!

Uwaa,aku senang sekali!

Kenapa dia jadi 'Grey', ya?

Aaah, ingin cepat ngobrol, nih..!

.

Ting.. ting… ting…

.

Yeoja itu masih memainkan lagunya. Lama kelamaan Jimin terhanyut pada melodi yang tercipta dari setiap sentuhan yeoja itu pada tuts piano yang sedang dimainkannya.

.

Lagu ini… sangat indah.

Seolah-olah membangkitkan kenangan masa laluku..

.

Jimin yang asalnya bergoyang-goyang tidak sabar dalam duduknya sekarang diam dan memejamkan matanya. Ia menikmati permainan piano yeoja itu.

Setelah menyelesaikan lagunya, yeoja itu menghadap Jimin dan terkejut.

"Kenapa.. menangis?", tanya yeoja itu.

"Eh..?", Jimin membuka kedua matanya lalu menyentuh pipinya yang ternyata sudah basah. "Loh, kenapa, ya? Mungkin karena capek..."

Ekspresi Jimin langsung berubah menjadi ceria ketika berkata, "Tapi, lagu tadi benar-benar indah! Menggema di hatiku. Aku benar-benar terkesan! Omong-omong, itu lagu siapa?"

Yeoja itu terpaku melihat Jimin yang matanya berbinar-binar ketika mengatakan kalimat tadi. Begitu jujur dan polos.

"Em.. lagu ciptaanku…", kata yeoja itu.

"Hee?! Daebak! Kamu berbakat jadi pencipta lagu! Permainan pianomu sangat indah..", kata Jimin ceria.

"Gomawo..", kata yeoja itu. Singkat, namun dalam hatinya ia senang sekali. "Ada apa?"

"Eh?"

"Kamu ada perlu denganku, kan?"

"Ah, aku sedang mencari Cha Eunwoo.."

"Cha Eunwoo itu aku.", kata yeoja itu.

"Eh..? Yeoja?!"

.

.

TBC

.

.


hohoho

makin complicated gak sih? iya dong...harus ahaha haha haha

siapa kah butterfly? apakah lagu bts?! wakaka apakah cha eunwoo? hmm

btw dedek eunwoo GS yah di sini

dan dia punya kekuatan yg bisa memukul mundur preman paling berpengaruh di gangnam! woahhh

siapakah eunwoo? di chap berikutnya bakal ada penjelasannya kok tenang aja hihihi