Maaf ya Rin telat banget updatenya… lagi buntu ide… semoga kalian menikmati chapter ini…
.
.
.
-Happy Reading-
A Little Secret : Date
Naruto Masashi Kishimoto
A Little Secret Rin Mizuki
Genre : Romance & Friendship
Rate T
Cast :
Haruno Sakura x Sasori
.
.
.
.
.
Sakura sudah mematung di depan cermin yang terpampang di kamarnya hampir seharian ini. Sesekali ia akan berputar ke kiri-kanan melihat apakah semua sudah pas pada tempatnya, atau apakah ia akan terlihat aneh ketika mengenakan gaun selutut berwarna hijau yang baru ia beli bersama Ino kemarin.
"Kira-kira dia akan mengajakku kemana ya?" Sakura mulai memikirkan tempat-tempat yang mungkin akan ia datangi bersama dengan pria itu.
"Kau tidak akan berubah jadi cantik jika hanya berdiri disana sepanjang hari."
Sakura menatap sebal ke arah komentar barusan.
.
Sasori POV
Aku baru saja sampai di rumahnya dan langsung bertemu dengan Ibunya. Kami sempat berbicara sebentar dan Ibunya menyuruhku untuk menghampiri Sakura di kamarnya. Ibunya bilang kalau Sakura sudah berdiri di depan cermin selama berjam-jam. Aku jadi penasaran apa yang ia lakukan selama itu. Aku membuka pintu kamarnya tapi sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku. Gadis ini tidak sensitif sama sekali. Bagaimana jika ada pria lain yang masuk ke dalam kamarnya diam-diam. Ck.
Dia masih saja berdiri disana, di depan cermin itu. Aku melihatnya yang terus-terusan memperbaiki bajunya yang sudah rapi itu. Melihatnya, membuatku ingin menjahilinya.
"Kau tidak akan berubah jadi cantik jika hanya berdiri disana sepanjang hari." Ucapku dan sukses mendapatkan tatapan tajam darinya.
"Berisik!"
"Dan kau! Berhenti masuk ke kamarku sembarangan!"
Dia kemudian langsung keluar dari kamarnya, tapi saat akan melewati pintu dia berbalik dan menarik tanganku untuk pergi bersamanya.
'Aku tidak akan membiarkanmu membongkar lemariku lagi.' Aku mendengarnya menggumam dengan jelas.
Kami turun dari kamarnya dan tidak menemukan Ibu Sakura dimanapun. Sepertinya beliau sedang pergi. Disinilah kami duduk di ruang tengah. Aku melihatnya terus memandangi jam tangannya sejak beberapa menit yang lalu.
"Kemana perginya Ka-san? Aku kan harus pergi."
"Memangnya kau mau kemana?" tanyaku.
"Kemana? Bukankah kita akan pergi?" dia malah berbalik bertanya padaku.
"Pergi? Memangnya kita akan pergi kemana? Aku tidak ingat pernah mengajakmu pergi." Ekspresinya berubah saat itu juga.
"Jelas-jelas kemarin kau bilang untuk meluangkan waktuku. Jadi ku pikir kau akan mengajakku pergi. Apa aku salah?" dia mulai menatapku bingung dan aku tidak sanggup menahan tawaku.
"Jadi aku salah?" dia mulai terlihat kecewa.
Dia mulai mengacak rambutnya yang sudah ia tata seharian ini dan aku hanya bisa menatapnya jahil. Gadis ini, aku benar-benar menyukai saat melihatnya seperti ini. Melihatnya bergumam dan marah-marah. Dia kira aku tidak mendengar semuanya. Tiba-tiba dia beranjak dari kursinya.
"Kau mau kemana?"
"Ganti baju." Jawabnya ketus.
"Tidak perlu." Tapi dia tidak mendengarku dan tetap pergi.
Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Aku pun beranjak dari tempatku dan menghampirinya lalu menariknya keluar rumah. Dia terlihat terkejut tapi tetap mengikuti langkahku dengan tenang.
"Pakai ini dan naik!" dia tidak langsung memakai helm yang kuberikan dan hanya memandangku dengan tatapan penuh tanya.
"Jelaskan padaku kita akan pergi kemana kalau tidak aku tidak akan memakainya?" ucapnya sambil melipat kedua tangannya.
"Bukannya kau yang tadi ingin pergi?"
"Tidak. Aku tidak ingin pergi."
"Jadi kau sedang jual mahal sekarang?" ledek ku.
"Ya. Kau benar. Aku sedang jual mahal sekarang. Kau tidak tahu seberapa tingginya harga diriku." Dia benar-benar kesal karena tadi.
Aku pura-pura masuk kembali ke dalam rumahnya.
"Kau mau kemana?"
"Tentu saja masuk. Kau tidak ingin pergi bersamaku kan?"
"KAU!" lagi-lagi aku tidak bisa menghentikan tawaku meski aku tahu dia sangat tidak menyukainya.
Tingkahnya selalu berhasil membuatku tertawa. Aku pergi menghampirinya dan mengambil helm yang sebelumnya ku berikan padanya dan memasangkannya di kepala Sakura. Sekilas aku melihat senyum yang berusaha ia sembunyikan.
.
Kami sampai di taman kota. Aku tidak menyiapkan rencana apapun hari ini karena aku pikir kami hanya akan menghabiskan waktu dirumahnya. Tapi tampaknya dia sangat senang dengan acara jalan-jalan ini. Dia terus saja menarikku kesana-kemari dan tidak membiarkanku untuk duduk sedetikpun. Setelah dua jam berkeliling akhirnya kami duduk disebuah bangku. Dia begitu menikmati es krim yang ada ditangannya.
"Aku memang mengijinkanmu untuk pergi kemanapun. Tapi apa yang sedang kita lakukan sekarang?"
"Siapa yang menyuruhku untuk memilih tadi? Kau ini masih muda tapi sudah pikun." Sepertinya dia sangat menikmati saat mengatakan kalimat barusan.
"Cepat habiskan itu dan kita pulang."
'Kencan macam apa ini.' Sekali lagi dia menggerutu.
"Kencan? Jadi kau pikir aku mengajakmu kencan?"
Oh tidak. Sepertinya aku baru saja membuatnya tersinggung. Dia berdiri dan menghampiriku. Aku bahkan sempat berpikir dia akan memukulku atau melemparkan es krim yang ada ditangannya ke arahku. Tapi tidak, dia justru melewatiku begitu saja. Aneh. Dia berbalik saat menyadari aku tidak mengikutinya dan ia kemudian menyeretku pergi ke suatu tempat. Apa dia sedang mencari tempat yang sepi untuk menghabisiku?
Aku pikir dia akan membawaku ke gang sempit atau tempat lain yang tidak terlalu banyak orang. Tapi dia malah membawaku ke sebuah kafe. Dia masih diam dan kemudian memesan strawberry shorthcake.
"Kenapa memandangiku seperti itu?" dia akhirnya membuka suaranya.
"Ada yang ingin kau katakan padaku?" tebaknya.
Dia tahu? Apa dia juga bisa membaca pikiran orang lain? Apa kukatakan saja. Lagipula dia yang memintanya.
"Dengar Sakura."
"Oh! Ini pertama kalinya kau memanggilku dengan namaku."
"Mulai besok, aku mungkin tidak akan masuk kelas."
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Orang itu sakit dan aku harus ikut merawatnya meski aku tidak mau."
"Orang itu? Oh maksudmu Ayahmu?"
"Ya. Dan aku harus membantunya mengurus beberapa hal selama dia sakit."
"Berapa hari?"
"Bukan hari, mungkih selama beberapa tahun dan kurasa kau bisa bebas dariku sekarang. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Dia menatapku terkejut dan langsung meletakkan sendoknya.
"Apa ini permainan barumu?"
"Bukankah seharusnya kau senang terbebas dariku dan soal rahasiamu kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi."
"Aku masih tidak mengerti. Jelaskan padaku."
"Aku tidak memintamu untuk memahamiku."
"Kau tahu. Kau ini benar-benar egois. Ah aku mengerti jadi maksudmu sekarang kau akan membuangku?"
"Bukan begitu Sakura."
"Kalau begitu jelaskan padaku."
"Sakura, kau tidak mungkin jatuh cinta padaku kan?"
"Ya. Kau benar."
"Tidak. Kau tidak bisa begitu."
"Kenapa? Memangnya aku bisa menentukan dengan siapa aku akan jatuh cinta?"
"Ku rasa kau benar, tapi menurutku bukan dengan cara seperti ini."
"Memangnya apa yang salah dengan ini?"
"Kau. Apa kau juga menyukaiku?" Pertanyaan itu begitu sulit untuk kujawab.
Tentu saja aku menyukaimu Sakura. Sangat menyukaimu tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku tidak mau membuatmu terikat padaku dan membawamu ke dalam masalahku. Setidaknya kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku.
"Baiklah kalau itu maumu." Dia berdiri dan langsung meninggalkan kafe itu.
Mau kemana dia? Dia bahkan tidak membawa dompet.
Sasori POV End
.
.
.
Sakura POV
Apa dia salah makan? Ada kepalanya terbentur sesuatu? Apa ini niatnya sejak awal saat memintaku untuk meluangkan waktuku? Tidak masuk akal. Nah, kita lihat bagaimana ini akan berakhir sekarang. Aku putuskan untuk kembali masuk ke dalam kafe dan menemukannya masih duduk di tempat kami sebelumnya. Dengan tenang aku duduk kembali dikursiku dan dia hanya menatapku bingung.
"Hai, namaku Sakura, Haruno Sakura umurku 17 tahun. Aku juga salah satu murid di KHS. Ku dengar beberapa bulan yang lalu kau pindah kesana." Aku berpura-pura memperkenalkan diriku dihadapannya seolah ini adalah kali pertama kami bertemu.
"Sakura, ada apa denganmu?" dia memandangku bingung.
"Eh? Apa itu tidak terlalu terburu-buru untuk langsung memanggil nama depanku? Kita kan baru saja bertemu."
"Kau ini bicara apa?"
"Aku menyukaimu. Aku tidak tahu sejak kapan itu terjadi, yang jelas aku menyukaimu. Ah, lebih tepatnya aku jatuh cinta padamu. Apa kau mau jadi kekasihku?"
Dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah menyeretku pergi dari kafe itu setelah meninggalkan beberapa lembar uang di meja.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Tidak."
"Kenapa? Apa aku kurang menarik untukmu?" Aku berusaha menampilkan sisi imut yang ku miliki.
"Hentikan. Kita pulang sekarang. Aku akan mengantarmu."
Ke lepaskan genggaman tangannya dan menatapnya.
"Kau tahu. Selama ini aku selalu berpikir, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada orang sepertimu? Orang yang selalu mengganggu hidupku. Pria egois ini. Bagaimana bisa aku jatuh cinta padanya? Tapi ada satu hal yang lebih mengangguku. Apa dia juga menyukaiku?" Aku menatapnya.
"Kau. Pria paling egois yang pernah kutemui yang dengan mudahnya menarikku kesana kemari. Aku bahkan tidak lagi peduli kau orang seperti apa. Siapa kau sebenarnya dan apa yang selama ini kau coba sembunyikan dariku."
"Sakura, apa kau tidak mengerti? Aku sedang memberikanmu kesempatan untuk bebas dariku dan bertemu seseorang yang mungkin akan membuatmu bahagia."
"Tidak. Aku tidak mengerti sama sekali. Aku sudah mengatakan bahwa aku menyukaimu. Itu terserah padamu. Setidaknya kalau kau tidak menyukaiku, kau bisa menolakku dan aku tidak akan mengganggu hidupmu."
Aku menunggu jawabannya. Tapi dia hanya terdiam. Apa yang membuatnya begitu ragu? Jika benar dia tidak menyukaiku, kenapa dia tidak langsung menolakku saat ini juga.
Sakura POV End
.
.
.
Sasori memeluk Sakura. Cukup lama mereka berpelukan sehingga mengundang perhatian orang-orang yang ada disana.
"Lepaskan. Kau tidak malu semua orang melihat kita?" Sakura mulai membuka suaranya dan berusaha melepaskan pelukan Sasori.
"Itu salahmu. Aku sudah memberikan kesempatan untuk lepas dariku."
"Bagaimana bisa itu salahku?"
"Hon- hm, maksudku Sasori. Ada yang mengganggu pikiranku."
"Apa ini artinya kau menerimaku?" sambung Sakura.
Sasori tidak menjawab dan hanya mengecup singkat bibir Sakura. Setelah itu Sasori menarik tangan Sakura dan mengajaknya pulang. Di tengah jalan, hujan turun cukup deras. Sasori dan Sakura berhenti sebentar di sebuah Halte. Mereka duduk berdampingan. Sakura memberanikan diri untuk menggenggam tangan Sasori. Wajah Sakura memerah hingga ia memilih untuk membuang mukanya dan tersenyum malu.
"Sepertinya sudah reda. Ayo."
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Tapi Sasori tidak membawa Sakura pulang ke rumahnya, melainkan pergi ke arah apartemennya.
"Kenapa kita kemari?"
"Bajumu basah."
Sakura kemudian mengikuti Sasori. Keadaan apartemen itu sebenarnya sudah cukup sepi karena tidak banyak barang-barang yang ada disana. Sepertinya ada sebuah kotak yang tersimpan di sudut ruangan. Tak lama Sasori muncul dari kamarnya dan mendekati Sakura. Sakura tidak mengerti kenapa pria itu terus mendekat dan semakin mendekat ke arahnya hingga jarak keduanya semakin berkurang. Sakura sudah tidak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah menyentuh permukaan dinding. Reflek Sakura langsung menginjak kaki Sasori dan langsung menyingkir dari pria itu.
"Kau! Kau mau apa?"
"Kau pikir apa yang aku lakukan? Ah kau ini ternyata mesum juga Honey." Ledek Sasori.
"Cepat keringkan bajumu atau kau mau langsung mandi. Dan pakai ini." Sasori memberikan sebuah handuk dan sepasang pakaian.
Setelah mengambil handuk dan baju itu Sakura langsung masuk ke dalam kamar mandi.
.
Setelah Sakura selesai mengeringkan badannya, Sasoripun langsung mengantar gadis itu pulang. Tidak ada yang membuka obrolan selama perjalanan hingga mereka sampai di depan rumah Sakura.
"Masuklah."
"Kau, benar-benar akan pergi selama itu?"
"Kenapa? Apa kau menyesal sekarang?" tanya Sasori dan Sakura hanya menggeleng pelan.
"Kau masih akan menemuiku kan?"
"Aku tidak janji."
"Kau!"
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, mulai besok aku tidak akan masuk kelas dan kau harus membiasakan diri untuk itu."
"Kau tetap akan tinggal di apartemenmu kan?"
"Tidak. Aku akan pindah ke Suna mulai besok."
"Heh?"
"Masuklah."
"Tapi."
"Masuklah, aku tidak mau kau kena flu. Aku akan baik-baik saja." Sasori mengecup kening Sakura dan langsung bergegas pergi.
.
.
.
.
.
-to be continued-
.
.
.
#Author's Corner
Astaga Rin telat update lagi… karena lagi kehabisan ide… TT_TT maaf ya semuanya…
Apakah mereka akan benar-benar berpisah disaat mereka baru saja mengakui perasaannya masing-masing…?
Bagaimana dengan ceritanya…? Apa Rin harus menyelesaikannya…? Atau menceritakannya perjalanan mereka sampai menikah..?
Apa mereka akan menikah..? Rin bingung… Rin sedang menyiapkan alur untuk chap minggu depan jadi Rin nggak telat update lagi…
Maaf ya…
Oh iya kalau ada yang punya masukan untuk fic ini ataupun kritikan Rin akan senang untuk menerimanya…
Dan sekali lagi maaf untuk keterlambatannya…
