Kim Joon Myeon menghirup napas dalam begitu langkahnya melewati pintu masuk Kamong Espresso. Ia membawa pandangannya meneliti desain interior kafe yang tampak berbeda sejak terakhir kali Joon Myeon melihatnya. Seingat Joon Myeon warna dindingnya adalah biru lembut dengan variasi antara ungu, abu-abu, dan merah jambu yang elok.
"Selamat datang, Hyung." Seorang gadis bertubuh ramping dengan seragam pelayan menghampiri Joon Myeon. "Ada janji dengan yang lain?"
Joon Myeon tersenyum sekilas sebelum menjawab. "Begitulah. Tao mendadak ingin bertemu, apakah dia sudah datang?"
"Belum, Hyung. Kau yang pertama datang."
Joon Myeon menghela napas lirih. Kebiasaan terlambat Zitao bukanlah hal yang baru baginya sehingga merasa kesal adalah hal yang sia-sia berdasarkan pengalaman Joon Myeon.
"Kalau begitu aku akan menunggunya saja."
"Disini atau di lantai dua, Hyung?"
Joon Myeon mengarahkan pandangan ke sekitar dan melihat tidak terlalu banyak pengunjung. Ini adalah waktu kerja dan hanya ada satu meja yang diisi oleh tiga perempuan dengan seragam sekolah menengah yang Joon Myeon yakini sedang membolos dari kelas mereka.
"Disini saja, Jung Yeon-ah."
Gadis bernama Jung Yeon itu kemudian membawa Joon Myeon menuju sofa kosong yang berada tepat di samping dinding kaca kafe. Berusaha memberikan sedikit privasi dan kenyamanan untuk yang lebih tua. Joon Myeon menyaksikan para pegawai yang mondar mandir melayani pelanggan, ia mengenal hampir seluruh pegawai yang bekerja di kafe kakak Jong In tersebut dikarenakan intensitas kedatangannya ke tempat itu yang cukup banyak. Entah pegawai tetap seperti Jung Yeon atau yang hanya mengambil beberapa shift seperti yang pernah dilakukan adik angkat Baek Hyun. Bahkan Baek Hyun sendiri pernah beberapa kali menyumbangkan lagu bersama Luhan dan kadang Kyung Soo.
Hal itu mengingatkannya tentang Zitao yang mengatakan ia juga mengundang Kyung Soo. Ia baru saja berniat menelepon salah satu dari mereka ketika keduanya memasuki Kafe bersamaan. Joon Myeon langsung bangkit dan memberi tanda akan posisinya. Mereka saling bertukar pelukan singkat sebelum duduk dan Joon Myeon kembali memanggil Jung Yeon untuk memesan minuman.
"Kalian datang bersama?" Tanya Joon Myeon begitu Jung Yeon meninggalkan meja mereka.
Zitao menggeleng. "Kami bertemu tepat di depan pintu, Hyung."
Joon Myeon mengangguk singkat. Ia tersenyum memperhatikan wajah kedua junior sekaligus sahabatnya yang sudah beberapa waktu tidak dilihatnya. Mereka bertiga mengucapkan terima kasih ketika Jung Yeon kembali dengan nampan yang berisi pesanan mereka.
"How's your life, Hyung?" Kyung Soo ikut bersuara.
Joon Myeon menyesap Earl Grey kesukaannya sebelum menjawab. "It's all fine, anak-anak di sekolah menjagaku dari kebosanan dengan tetap membuatku sibuk. You know, deal with some homeworks and papers. Bagaimana dengan kalian?"
"Well, tidak beda jauh, Hyung. Kuliah sambil magang sebenarnya adalah mimpi buruk."
"Tidak jika yang melakukannya adalah si otak cemerlang Do Kyung Soo." ujar Joon Myeon dengan senyum usil. Ia lalu beralih ke lelaki yang satunya lagi. "Tao?"
"What? I enjoy my job and have no complaint about it."
Jawaban Zitao disambut senyum simpul oleh Kyung Soo sementara Joon Myeon langsung memutar bola matanya. Tentu saja Zitao menikmati pekerjaannya sebagai designer, dia menjalani apa yang selama ini diimpikannya. Pada dasarnya mereka semua begitu, mereka mengejar impian mereka masing-masing begitu semuanya menyelesaikan pendidikan mereka. Sedikit pengecualian untuk tiga sekawan Kyung Soo, Sehun, dan Jong In yang memilih melanjutkan studi untuk mengambil program spesialis disamping menjadi dokter magang di sebuah rumah sakit.
"Aku merindukan yang lain." Ujar Joon Myeon.
"Agak sulit karena kita tidak lagi berada pada ruang lingkup yang sama." Kyung Soo membalas disertai helaan napas. "Terakhir yang kudengar Lay-hyung sedang berada di Brazil, memotret hewan-hewan liar di Amazon sana. Sedangkan Chen-hyung berada di benua Eropa entah Negara mana."
"Min Seok-hyung?" Tanya Joon Myeon.
"Tentu saja ikut dengannya. Aku berbicara dengannya tempo hari dan katanya alasan dia ikut Chen ke Paris adalah mencari inspirasi untuk resep baru di pastry nya." Zitao ikut menyahut. Ia meniru persis nada yang digunakan Min Seok di telepon kemarin. "Sambil menyelam minum air, katanya."
"Setidaknya kita tahu mereka baik-baik saja." Balas Joon Myeon diikuti kekehan. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana interaksi dua orang tersebut di masa-masa kuliah mereka dulu. Ia cukup salut dengan kegigihan Jong Dae yang tidak pernah kapok mendapat segala macam penolakan Min Seok.
"Ah, about that, hampir saja aku lupa alasan aku meminta kalian datang kesini."
Kyung Soo dan Joon Myeon saling bertukar pandang sebelum bersama-sama membawa fokus mereka ke Zitao yang menunjukkan cengiran misteriusnya. Ia meraih sesuatu dari dalam tas tangan dan mendorongnya masing-masing ke hadapan Joon Myeon dan Kyung Soo.
"Aku tidak mau tahu, sesibuk apapun kalian harus datang." Ujarnya dengan wajah kalem.
"I-ini-" Kyung Soo kehilangan kata-kata. Matanya bergantian menatap benda ditangannya dan wajah tersenyum Zitao.
"Kau akan bertunangan? Dengan Jung Krystal? That Krystal? Kenapa aku sama sekali tidak tahu kalian ternyata berkencan- tunggu, sejak kapan kau mengenalnya?"
"Wow, chill, Hyung. One by one, please." Sergah Zitao mencoba menahan rentetan pertanyaan yang Joon Myeon jatuhkan dalam satu tarikan nafas.
"Don't 'chill' me Huang Zitao. You owe a fucking explanation for us!"
Jung Yeon yang sedang mendengarkan pesanan pengunjung di meja sebelah sampai tersentak akan teriakan Joon Myeon. Kyung Soo bangkit dan meminta maaf pada pengunjung lain yang menatap mereka dengan sorot terganggu. Sementara yang lebih tua terus memicingkan mata ke arah Zitao seolah siap menerkamnya dengan cakar dan taring jika penjelasan Zitao sama sekali tidak memuaskannya.
"Oke, pertama-tama aku minta maaf karena tidak memberitahu kalian secepatnya, tapi Hyung, itu bukan karena aku tidak mau, melainkan karena kita jarang bertemu dan semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing."
"Memangnya kau tidak punya smartphone?" Joon Myeon menukas pedas.
"Dan melewatkan melihat ekspresi shock kalian? Not gonna happen, duh." Ujar Zitao seraya memutar bola mata. "Lagipula aku merasa tidak etis jika hanya menyampaikannya melalui telepon atau email. Kalian semua adalah saudara yang tidak pernah aku miliki, jadi, yah, begitulah."
"Aku rasa aku dapat poinnya." Kyung Soo menyahut beberapa detik kemudian.
Zitao mengucapkan terima kasih karena Kyung Soo sudah bersedia mengerti melalui matanya sebelum beralih menatap Joon Myeon yang masih diam memasang wajah datar.
"Jadiii? Apakah aku dimaafkan?"
"Fine. Sekarang ceritakan bagaimana kau bisa memacari mantan penyiar radio kampus kita."
Cerita Zitao menghabiskan dua cangkir Earl Grey dan sepiring waffle untuk Joon Myeon. Mereka berkenalan melalui mantan manajer klub basket mereka yang merupakan teman sekelas Zitao di beberapa mata kuliah sekaligus sahabat dekat Krystal. Lalu pada suatu kesempatan Zitao dan Amber berada dalam satu kelompok untuk tugas akhir dan pada saat itulah keduanya berkenalan. Krystal sering berada di apartemen sahabatnya ketika Zitao datang untuk tugas tersebut. Itu adalah pertemuan pertama mereka namun Zitao akhirnya memutuskan mendekati Krystal ketika mereka kembali dipertemukan karena pekerjaan. Krystal adalah salah satu model yang akan tampil di acara fashion show perdanananya.
"Dan kalian tahu, disaat anniversary pertama kami Krystal akhirnya mengaku ternyata dia sudah lama tertarik padaku namun tidak punya nyali untuk berbicara padaku lebih dulu."
Kyung Soo mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Gosh, Kyung. Tentu saja dia takut dengan penggemar kita. Aku ingat pernah ada mahasiswa Teknik yang mencoba menembak Jong In namun tidak berhasil karena campur tangan fanclubnya. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan tapi gadis itu langsung pindah dan kabarnya tidak pernah terdengar lagi."
"Benarkah? Tapi seingatku Baek Hyun tidak pernah mendapat perlakuan semacam itu."
"Itu karena menurut mereka Baek Hyun pantas menjadi kekasih Jong In. Dia pintar, berbakat, manis. Apalagi dia juga termasuk anggota EXO. Tidak ada yang kurang." Joon Myeon menyahut.
Kyung Soo tampak termenung, berusaha mencerna informasi yang terlambat diketahuinya tersebut. Joon Myeon rasa ia tidak perlu memberitahu Kyung Soo bagaimana repotnya dulu Jong In dan Sehun menyabotase puluhan surat cinta yang masuk di loker Kyung Soo agar benda itu tidak sampai di tangannya. Tentu saja mereka melakukan itu atas perintah seseorang yang namanya tidak pernah lagi disebut. Yang lain sangat paham alasan dibaliknya.
"We're popular back then, Soo." ujar Zitao lagi. "Ah, aku juga ingin minta tolong berikan ini pada Kris-hyung. Aku sudah berkali-kali mencoba membuat janji dengan orang itu namun sekertarisnya selalu berkata dia sedang tidak ada di kantor. Pastikan dia datang atau aku akan mencabuti rambut di tubuhnya satu-persatu."
Kyung Soo mengambil undangan milik Yifan sambil bergumam, "Baiklah."
Mendadak tubuh Joon Myeon seolah disiram air dingin mengetahui ia akan bertemu dengan Yifan di pesta pertunangan Zitao. Sejak tadi ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan tersebut, karena jika saja ia menyadarinya dari awal Joon Myeon tidak akan memastikan pada Zitao bahwa ia akan datang. Ia bisa mencari alasan sehingga anak itu tidak marah padanya jika ia nantinya menelepon dan meminta maaf karena tidak bisa hadir.
"Joonie-hyung?"
"Ah, ya, ada apa, Tao?"
"Tidak apakan jika aku juga mengundang Kris-hyung? Bagaimanapun juga, dia adalah bagian dari EXO."
Joon Myeon berusaha menampilkan senyum tercerah miliknya dan dengan nada tersantai yang sanggup dibuatnya ia berujar, "Tentu saja aku tidak akan keberatan. Bukankah tadi aku bilang aku merindukan yang lain? Akan sangat menyenangkan jika semuanya bisa berkumpul lagi."
Joon Myeon melupakan satu fakta bahwa sudah sejak lama kata 'lengkap' tidak bisa lagi terealisasi. Mereka selalu kekurangan satu orang, terlalu larut dalam pikirannya sendiri membuatnya melewatkan lirikan sekilas yang Zitao arahkan ke Kyung Soo meski pemuda itu berpura-pura tidak menyadarinya.
"Kami berpisah dengan baik, Tao. Tidak ada alasan bagiku untuk menghindar darinya."
Bohong. Tentu saja Joon Myeon selama ini selalu berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari sosok jangkung tersebut. Mereka benar berpisah dengan baik dan Yifan secara mengejutkan menerima keputusan itu layaknya laki-laki dewasa. Namun yang tidak baik adalah bagaimana efek akan perpisahan mereka meninggalkan lubang besar di dadanya sampai sekarang. Dengan tidak dewasanya ia menangisi keputusannya sendiri berminggu-minggu setelahnya.
Banyak yang menyayangkan perpisahan mereka tanpa tahu bahwa dalam hatinya Joon Myeonlah yang paling menyesal.
.
Unbreakable Vow
by
Nigtingale
.
If I lose even one string-like memory
I'm afraid everything will get disconnected
so I'm hanging into you.
But was I too heavy for you?
Did you already let go?
(Lee Hi – Missing You)
.
"Selamat datang, Tuan Muda."
Perempuan dibalik meja resepsionis langsung membungkukkan badan begitu Kyung Soo melewatinya. Kyung Soo membalas senyuman perempuan tersebut.
"Beritahu kakakku aku datang." Ucap Kyung Soo sebelum melangkah memasuki lift khusus untuk CEO dan para pemegang saham.
Lagi-lagi Kyung Soo disambut dengan sapaan yang sama oleh sekertaris Yifan. Ia bahkan tidak repot-repot mengetuk dan langsung membukanya begitu saja dengan suara keras.
"Hyung, aku datang."
Yifan sama sekali tidak mengangkat kepalanya ketika membalas sapaan Kyung Soo. "Selamat datang, ma cheri."
Kyung Soo duduk tepat dihadapan Yifan dengan kening berkerut. Manik bulatnya menatap kesal laptop yang menghalangi pandangannya menatap wajah sang kakak. Dengan kesal ia mengangkat laptop tersebut dan menutupnya dengan suara keras lalu menyingkirkannya jauh-jauh ke pinggir meja kerja Yifan yang lebar.
"Ma cheri, aku belum selesai membaca dokumen itu." Sergah Yifan akhirnya.
"Hyung tidak menghiraukanku." Balas Kyung Soo dengan bibir manyun.
Yifan menghela napas, sedikit merasa bersalah karena sudah terlalu fokus dengan pekerjaannya. Ia memperbaiki posisi duduk dan menumpu kedua sikunya diatas meja, memberikan sepenuhnya atensi ke Kyung Soo.
"Baiklah. Ada apa lagi kali ini?"
"Kau tidak menanyakan kabarku lebih dulu?" Kyung Soo balas bertanya.
"Ma cheri, kita bicara banyak kemarin sore dan aku tahu kau tidak akan datang kesini hanya karena alasan rindu, jadi, cepat katakan ada apa."
Yifan mengatakan itu karena ia tahu betul Kyung Soo tidak pernah menyukai suasana kantor dan penghuninya yang selalu berpakaian resmi. Meski kenyataannya yang harusnya duduk di balik meja besar tersebut adalah Kyung Soo mengingat ia adalah pewaris utama seluruh kekayaan keluarga Do. Namun dengan tegas Kyung Soo menolaknya dan memilih mendaftar ke fakultas kesehatan ketimbang masuk ke jurusan bisnis seperti almarhum ayahnya. Rumah sakit dan segala kekacauannya lebih menarik minat Kyung Soo ketimbang suasana padat kantor dan seluruh kemewahannya.
Tidak banyak yang tahu, namun alasan Yifan berhenti menjadi model dan pulang ke Korea adalah karena permintaan Young Ah –ibu Kyung Soo- agar bisa memimpin perusahaan tersebut. Nyatanya Yifan lebih sering dikenal sebagai putra sulung Nyonya Do ketimbang anak dari orang tua kandungnya. Jadi disanalah Yifan sekarang, menjadi tonggak utama akan hidup ribuan pegawai yang bekerja padanya.
"Baiklah. Memang ada yang ingin kusampaikan, tapi alasan yang lain adalah aku ingin melihat keadaan saudaraku yang sudah lebih dari dua minggu tidak pulang."
"Sudah kukatakan padamu kemarin aku di Milan selama dua minggu."
"Selebihnya?"
"Aku tidur disini." Atau di hotel. "Kau tahu, aku tidak suka memakai supir dan menyetir dalam keadaan mengantuk adalah hal yang berbahaya."
"Katakan itu pada Eomma. Aku mulai bosan harus mengatakan hal yang sama terus menerus setiap kali beliau bertanya."
Yifan akhirnya memilih mengalah. "Baiklah, karena besok adalah hari sabtu, akan kuusahkan untuk pulang sebelum jam sepuluh malam ini."
Sahutan Yifan menghasilkan senyum di wajah yang lebih muda. "Great!"
"Sekarang katakan padaku tujuanmu yang sebenarnya datang kesini."
Kyung Soo akhirnya menunjukkan undangan pertunangan yang bertuliskan namanya dengan font yang klasik dan elegan. Reaksi Yifan tidak jauh berbeda dengan yang dirasakan oleh Kyung Soo sendiri ketika mendengarnya.
"Anak itu berhasil menggaet salah satu gadis paling populer di kampus, wow." Komentar Yifan begitu rasa terkejutnya mereda.
Ekspresinya adalah pencampuran antara tidak percaya dan bangga mengingat di jaman sewaktu mereka masih mahasiswa dulu Zitao selalu menjadi bahan olokan Jong In dan Sehun karena tidak memiliki pasangan, dan kini diantara mereka justru Zitaolah yang pertama kali mengambil selangkah lebih dekat menuju jenjang yang lebih serius, mendahului Jong In dan Sehun sendiri yang masih bersikap santai.
Kyung Soo mengangkat bahu. "Yah, memang sulit dipercaya, tapi menurutku itu bisa dimaklumi mengingat kita semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing terutama Hyung. Suho-hyung bilang ia ingin– "
"Kau bertemu Joon Myeon?"
Kyung Soo kelepasan menyebut satu nama yang seharusnya keramat di telinga Yifan. "Y-ya. Kami janjian dengan Tao di kafe milik saudara Jong In."
"Oh."
Ada hening yang terasa canggung sebelum Yifan memutuskan untuk bertanya lebih jauh.
"Bagaimana kabarnya?"
"Well, selain kurus dan agak pucat dia baik-baik saja. Katanya ia disibukkan oleh murid-muridnya. Memeriksa PR dan semacamnya."
Yifan mengangguk-angguk namun ia tidak berhasil menyembunyikan sorot khawatir mengetahui Joon Myeon yang sepertinya tidak memperhatikan kesehatannya. Ia terbiasa dengan gambaran bayangan Joon Myeon dengan pipi sedikit chubby dan badan berisi. Sejak dulu kulitnya memang pucat namun dalam artian yang baik, putih yang cerah dan mata bersinar.
"Hubungi saja jika Hyung khawatir." Atau merindukan suaranya.
Yifan menghela napas panjang. Seketika tampak begitu lelah dan butuh istirahat. Ia terus bekerja tanpa henti namun tidak tumbang sama sekali, tetapi hanya dengan menyebut nama mantan kekasihnya sekali dunia Yifan seolah langsung jungkir balik.
"Joon Myeon adalah lelaki dewasa, Soo. Dia tidak perlu lagi diingatkan untuk terus menjaga kesehatannya tidak peduli sesibuk apapun dirinya."
"Mungkin saja dia sengaja melakukannya." Kyung Soo menatap tepat ke dalam manik hazel kakaknya dan melanjutkan. "Mungkin saja dia menenggalmkan diri dalam pekerjaan agar tidak punya cukup waktu memikirkan hal lain, persis seperti yang Hyung lakukan selama ini."
"Aku tidak–"
"Berdirilah di depan cermin dan kau akan lihat betapa kacaunya dirimu sekarang. Aku benar-benar tidak mengerti, kalian menyiksa diri kalian sendiri dengan berpisah seperti ini. Kenapa masih bersikap keras kepala sementara kalian memiliki keinginan yang sama?"
Yifan menyapu surainya yang kini segelap arang. Berusaha menelan liur pahit yang menyumbat tenggorokannya. Itu adalah pertanyaan yang selama ini mengganggu benak Yifan. Ia tahu Joon Myeon mencintainya sebesar perasaannya namun lelaki itu memilih berpisah. Betapa Yifan berharap bisa membuka kepala Joon Myeon dan memeriksa di bagian mana otaknya tidak berfungsi dengan baik.
"Kau harusnya sudah tahu jawabannya, Soo. We're in the same shoes."
"No we weren't, Hyung. But I really wish we were." Kyung Soo menunduk menatap telapak tangannya dan tersenyum sedih. "Setidaknya Hyung tahu kemana harus pergi kapanpun Hyung merindukan senyumnya."
Keheningan mengisi ruangan itu selama beberapa detik, namun kerutan halus di sudut alis Yifan memberitahu Kyung Soo bahwa laki-laki itu sedang berpikir. Tampak berkontemplasi mengenai beberapa kemungkinan.
"Bolehkah aku membawa rekan?"
"Hah?" pertanyaan Yifan yang tidak berhubungan dengan percakapan sebelumnya sedikit membingunkan Kyung Soo.
"Pesta pertunangan Tao, apakah diperbolehkan membawa seseorang?"
"Maksud Hyung, pasangan?"
"Yah, sebut saja seperti itu."
"H-hyung–" Kyung Soo tergagap. "–sudah punya kekasih?"
"Hah?" kini gantian Yifan yang memasang wajah bingung, namun wajahnya kembali datar begitu benaknya paham maksud yang lebih muda. "Aah, itu, ugh, agak rumit menjelaskannya."
"Oh. Baiklah. Tao tidak menyebut soal pasangan tapi aku yakin itu bukanlah masalah."
"Bagus."
Senyuman puas Yifan membuat Kyung Soo semakin penasaran. Siapa kira-kira yang akan kakaknya bawa ke pesta Tao nanti? Apakah Yifan sedang berusaha mencari pengganti Joon Myeon? Jadi kakaknya benar-benar tidak mau memperbaiki hubungan mereka lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya seperti mesin rusak namun Kyung Soo urung menyuarakannya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, Hyung."
Yifan ikut bangkit untuk memutari meja dan meraih adiknya kedalam pelukan. Ia menyesap aroma yang sudah begitu familiar di hidung Yifan dari sela-sela rambut Kyung Soo.
"Ingin supir mengantarmu pulang?"
"Kau tahu aku tidak suka memakai supir, Hyung."
"Kalau begitu hati-hati, jangan tidur di bus."
"Pikirkan semuanya lagi, Hyung." Ujar Kyung Soo begitu ia melangkah menuju pintu dengan yang lebih tinggi mengikut di belakangnya. Ia membalikkan badan begitu mencapai daun pintu."Aku tidak bermaksud menekanmu, tapi aku lebih tidak ingin melihatmu mengambil keputusan yang akan kau sesali nantinya."
Balasan Yifan hanyalah sebuah anggukan afirmatif dan senyum tipis yang sudah jarang dilihatnya. Setelan jas kantor membuatnya terlihat lebih tua dari seharusnya. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali mendengar Yifan tertawa lepas yang kadang membuatnya terlihat idiot seperti dulu.
"Kyung Soo-ya." Panggilan Yifan membuat Kyung Soo berbalik. Ia menahan pintu agar tetap terbuka dan menatap kakaknya.
"Thanks for coming."
Kyung Soo tersenyum mengetahui ada makna lain dari kalimat tersebut. Yifan hanya memanggilnya dengan nama asli ketika lelaki itu mengatakan sesuatu yang benar-benar datang dari hatinya.
"Anytime, Hyung."
…
Kyung Soo duduk sendirian di halte dekat rumah sakit tempatnya magang dengan pandangan yang terarah pada langit senja bulan Agustus yang cerah. Sebuah bus berhenti namun Kyung Soo sama sekali tidak bangkit dari tempatnya. Ada beberapa orang di atas bus namun tak satupun dari mereka yang turun. Dan melihat Kyung Soo –satu-satunya orang di halte tersebut– tampak tidak memiliki rencana untuk naik, bus itupun kembali berlalu.
Kyung Soo tidak naik karena memang dia tidak memiliki rencana untuk pulang menggunakan bus. Ia tengah menunggu jemputannya tapi tidak, itu bukan supir keluarganya karena Kyung Soo tidak menyukainya, melainkan menunggu orang rumah.
Ia masih setia menatap langit ketika pertemuannya dengan Joon Myeon dan Zitao kembali muncul di benaknya. Zitao akan segera bertunangan dan itu membuat Kyung Soo bertanya-tanya sudah berapa tahun berlalu? Jawaban datang terlalu cepat, dan Kyung Soo tidak salah menghitung bahwa, ya, ini adalah musim panas yang ke delapan yang Kyung Soo hadapi sejak kepergian orang itu.
Tentu saja dalam kurun waktu itu ada begitu banyak hal yang terjadi, seperti putusnya hubungan Yifan dan Joon Myeon yang terjadi ketika Kyung Soo memasuki semester enam kuliahnya, atau tentang Jong Dae dan Min Seok yang memutuskan untuk tinggal bersama ketika keduanya lulus, Yixing dan Joon Myeon yang berakhir pada pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan yang mereka ambil. Mereka berdua adalah mahasiswa Hukum namun Yixing malah menjadi fotografer alam liar sedangkan Joon Myeon mengabdikan hidupnya dengan mengajar.
Bertahun-tahun berlalu dan Kyung Soo menyaksikan satu-persatu teman-temannya mulai menapaki jenjang kehidupan dengan lebih serius, menata masa depan bersama orang-orang yang mereka cintai, dan menjalani babak kehidupan mereka yang baru.
Namun entah bagaimana Kyung Soo merasa ia tidak pernah bergerak dari tempatnya berdiri selama ini.
Tentu saja Kyung Soo menyelesaikan program sarjananya dengan baik bersama Sehun dan Jong In, ia bahkan sudah ditawari untuk bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Seoul begitu program magisternya selesai, ia memiliki masa depan secerah bintang Venus yang bersinar sewaktu fajar.
Dan kini diusianya yang sudah melewati seperempat abad, Kyung Soo justru merasa bahwa ia kembali pada titik nol kehidupannya. Kyung Soo bahagia, sungguh, ia melakukan apa yang orang itu katakan. Ia berusaha menjaga makannya tetap teratur, tidur secukupnya, dan selalu tersenyum di tengah-tengah jadwal gilanya yang kadang membuat Kyung Soo mual.
Semenjak malam itu Kyung Soo tidak pernah lagi melihat atau mendengar apapun dari orang itu. (Kyung Soo bahkan tidak sanggup menyebutnya dengan nama asli bahkan di dalam pikirannya.) Ia juga tidak pernah lagi mengeluarkan air mata dan Kyung Soo bersyukur teman-temannya membantunya dengan bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Seolah orang itu tidak pernah datang ke kehidupan mereka.
"Hyung!"
Kyung Soo tersentak dari lamunannya dan menemukan sebuah mobil yang tidak asing lagi baginya berhenti di depannya. Jendela kursi belakang diturunkan dan seorang laki-laki tersenyum seraya melambai ke arahnya. Kyung Soo bergegas bangkit dan membuka pintu disamping kemudi, bertemu pandang dengan sosok lain yang juga tersenyum ke arahnya.
"Maaf membuat Hyung lama menunggu, aku juga harus menjemput Jisoo-hyung di sekolah.
"Itu salahmu sendiri, kenapa ngotot menjemputku?" tukas pemuda yang duduk di bangku belakang cepat.
"Dan membiarkan Hyung pulang diantar Donkey Kong mesum itu?"
"Namanya Lee Seok Min!" Jisoo menukas cepat. Urat-urat di sisi lehernya tampak muncul dan alisnya bertaut lucu. "Dan berhenti memberinya nama aneh seenak jidatmu, kau tidak mengenalnya."
"Aku tidak perlu berkenalan dengannya untuk tahu orang seperti apa dia. Dia itu mesum, Hyung."
Mobil berhenti di lampu merah dan Jisoo mengambil kesempatan itu untuk maju dan menjambak rambut Min Gyu sekuat tenaga.
"AWW HYUNG SAKIT SAKIT!"
"Jisoo-ya, hentikan, kita sedang di jalan." Akhirnya Kyun Soo turun tangan ketika melihat Min Gyun betul-betul mendesis kesakitan disela-sela kegiatan menyetirnya. "Jisoo-ya, kau menariknya terlalu keras." Ujar Kyung Soo lagi. Ia memperbaiki tatanan rambut Min Gyu dan mengelus kepala pemuda tersebut.
"Lihatlah, Hyung, dia terus saja menganiaya diriku." Ujar Min Gyu dengan wajah memelas yang tidak sesuai dengan postur tubuh jangkungnya.
"Kalau begitu berhenti mencampuri kehidupan pertemananku! Urus dirimu sendiri!" bentak Jisoo dengan mata menyorot tajam. Ia lalu beralih menatap Kyung Soo dan raut wajahnya sontak berubah. "Katakan padanya untuk berhenti bersikap menyebalkan, Hyung. Aku bahkan tidak bisa pergi dengan teman-temanku karena dia terus saja mengekor seperti kucing di jalanan."
"Aku melakukan itu karena dia selalu saja bertemu dengan orang yang salah, Hyung!" Min Gyu berusaha membela dirinya.
"Kau selalu mengatakan hal yang sama tentang seluruh teman-temanku."
"Aku menyukai Jeong Han-hyung."
"Itu karena kau merasa dia seperti perempuan!" tangkas Jisoo cepat. "Kau mungkin lebih senang jika aku berteman dengan banci sekalian!"
Kyung Soo hanya bergantian menatap antara Min Gyu yang tetap memasang wajah datar dan Jisoo yang tampak mengeluarkan asap dari kedua telinganya. Ia hanya bisa mendesah menyaksikan Jisoo yang tampak ingin menelan kepala Min Gyu utuh dan entah bagaimana Kyung Soo mendadak merasa begitu tua.
"Kau sangat menyebalkan! Jangan berani bicara padaku lagi!"
Jisoo langsung keluar dari mobil begitu mereka sampai di kediaman keluarga Do. Dua pelayan yang berjaga di dekat pintu langsung membukakan Jisoo pintu dengan sigap begitu melihat tuan muda mereka mendekat dengan langkah-langkah tegas dan wajah beringas, tak lupa memberikan hormat ketika Jisoo melewati mereka.
Sementara Min Gyu dan Kyung Soo berjalan beriringan dengan santai. Min Gyu sesekali mengasak kepalanya di bagian yang Jisoo jambak tadi.
"Berhentilah bersikap terlalu protektif kepadanya, Min Gyu-ya." Ujar Kyung Soo seraya mendongak menatap wajah miris lelaki tersebut. Jisoo selalu mengejeknya tiang listrik karena tingginya yang melampaui Kyung Soo dan Jisoo yang notabene lebih tua darinya.
"Tapi dia terlalu polos, Hyung. Aku tidak bisa membiarkannya bergaul dengan sembarang orang begitu saja, bagaimana jika dia diculik atau dijual?"
Kyung Soo hanya bisa memasang wajah datar mendengar alasan Min Gyu. "Min Gyu-ya, Jisoo tidak bergaul dengan sembarang orang, dia berkenalan dengan teman sekolahnya. Kau masih bisa menjaganya tanpa harus menekannya."
"Tapi aku serius, Hyung, si DK itu selalu melihat Jisoo-hyung dan tersenyum seperti orang idiot."
"Mungkin anak itu menyukai Jisoo." Ujar Kyung Soo lagi.
Min Gyu mendengus kasar. "Takkan kubiarkan itu terjadi."
Lagi-lagi Kyung Soo hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Min Gyu. Ini bukanlah pertama kalinya Kyung Soo berusaha menasehati pemuda tersebut namun semua kata-katanya hanya bagai angin berlalu di telinga Min Gyu. Anak itu sudah beranjak dewasa dan merasa sudah bisa membuat keputusan sendiri.
Kyung Soo merindukan Min Gyu kecil yang kikuk dan Jisoo yang manis dan pemalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Hal lain yang terjadi adalah Kyung Soo memutuskan mengadopsi dua bocah yang dulu ditemuinya di salah satu panti asuhan di hari Natal bersama teman-temannya. Kyung Soo tidak bisa melupakan senyum ceria dan tatapan polos dua bocah lelaki tersebut dan berakhir sering mendatangi panti membawakan barang-barang untuk mereka –entah itu makanan, mainan, ataupun pakaian baru.
Ide untuk mengadopsi keduanya datang dari ibunya sendiri yang sering merasa kesepian disaat Yifan sudah mengambil alih perusahaan dan yang dilakukan ibunya hanyalah bersantai di rumah. Dalam sekejap, nama belakang Min Gyu dan Jisoo berubah menjadi Do dan kehidupan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
"Tapi aku rasa aku akan mempertimbangkan yang tadi, terima kasih atas sarannya, Hyungnim."
…
"Selamat datang, Hyung!"
Luhan tersentak mendengar sapaan bersemangat yang diperolehnya bahkan sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu. Senyum lebar langsung terkembang di wajahnya yang kusut begitu melihat cengiran si pemuda.
"Kookie!" dan dengan begitu Luhan langsung menghambur memeluk pemuda di depannya. "Sudah cukup lama kita tidak bertemu. Kenapa kau sama sekali tidak pernah menghubungiku?"
Jung Kook menarik Luhan masuk sebelum menutup pintu di belakang mereka. "Maaf Hyung, sudah sebulan ini aku terus bolak balik Seoul-Tokyo untuk proyek terbaruku."
Luhan tidak perlu diyakinkan dua kali, ia bisa melihat gurat-gurat kelelahan di sekitar mata Jung Kook, dan hal itu membuatnya seperti bercermin pada pemuda tersebut.
"Ah, aku rindu masa-masa sewaktu kita masih mahasiswa." Ujar Luhan seraya menggandeng pemuda yang lebih tinggi ke ruang tengah.
"Itu salah Hyung, seandainya Hyung juga menjadi arsitek maka mungkin kita akan sering mengerjakan proyek bersama."
"Kau tahu aku tidak pernah benar-benar serius kuliah di jurusan itu, Kookie-ah." Sahut Luhan dengan wajah mencebik. Namun mimik wajahnya berubah begitu ia menyadari suatu hal. "Lalu apa yang kau lakukan disini di waktu seperti ini? Jangan bilang kalau mereka bertengkar lagi?"
"Sebenar–"
"YEAY AKU MENANG!"
"CURANG! JISOO-HYUNG, BERHENTI MENGGANGGUKU!"
"APA MAKSUDMU?! AKU TIDAK MELAKUKAN APA-APA!"
"Berhenti berteriak pada kakakmu, Min Gyu-ya."
"Oh astaga, siapapun tolong ambil posisi maknae ini dariku."
Pertanyaan Luhan langsung terjawab bahkan sebelum Jung Kook berhasil menyelesaikan ucapannya. Pemuda rusa itu langsung mendesah lelah. Pekerjaannya sebagai penyiar radio merangkap pemilik pastry shop yang dikelolanya bersama Min Seok benar-benar menyita tenaganyanya. Belum lagi untuk saat ini ia harus menangani pastry itu sendirian karena Min Seok sedang menjelajahi benua Eropa bersama Jong Dae. Tidak, Luhan tidak menyesali keputusannya menyarankan cuti untuk sahabatnya, hanya saja ia sedikit berharap bisa menikmati waktu luangnya sendirian bukannya disambut dengan suara ramai seperti ini.
Dan Jung Kook tampak bisa membaca pikirannya saat ini. "Maafkan Hyungku, aku tahu Hyung pasti ingin bisa beristirahat tapi kami malah datang dan membuat keributan." Kata Jung Kook dengan wajah menyesal.
"Tidak, jangan merasa bersalah begitu Kookie, aku memang sedang kelelahan tapi aku juga senang bisa bertemu dengan Dongsaeng kesayanganku lagi."
"Dua bocah manja di sana akan cemberut mengetahui mereka mempunyai saingan, Hyung."
Dagu Jung Kook menunjuk ke arah ruang santai dimana semuanya sedang berkumpul. Baek Hyun dan Min Gyu tampak serius bermain di atas karpet dengan Jisoo yang menjadi supporter setia Baek Hyun duduk di atas sofa di belakang mereka. Di sebelah mereka ada Kyung Soo bersama Nyonya Do tampak duduk santai seraya menonton tingkah konyol ketiganya. Di sofa tunggal, di seberang Kyung Soo dan Nyonya Do, ada Yifan dengan pakaian santai dan rambutnya yang acak-acakan.
Yang terakhir adalah hal yang cukup jarang sehingga Luhan langsung mengangkat sebelah alis. Maka ia menyuruh Jung Kook untuk kembali kesana sementara ia langsung ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Lima belas menit kemudian Luhan turun dan bergabung bersama keluarganya. Ia mengambil posisi di sebelah Nyonya Do yang kosong dan menyandarkan kepalanya ke pundak sempit wanita tersebut.
"Bagaimana pekerjaanmu, Sayang?" Nyonya Do langsung menyapa Luhan dengan senyuman lembut dan pelukan penuh sayang. Wanita itu selalu menanyakan hari-hari anak-anaknya ketika mereka pulang dari pekerjaan mereka masing-masing.
"Sibuk, Eomma. Rasanya tulang-tulangku hampir copot semua, tapi aku menyukainya." Mata Luhan tertutup menikmati usapan kepala perempuan yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri dan Luhan tidak pernah lupa bersyukur akan hal itu. Ia kembali membuka mata dan pandangannya jatuh ke pemuda bersurai madu tak jauh darinya. Telunjukknya terangkat seraya bertanya, "Eomma, kenapa makhluk itu ada disini lagi?"
"Kenapa tidak? Baek Hyun adalah sahabatmu dan dia selalu diterima di rumah ini."
"Aniya." Luhan menggeleng sekilas. "Dia bukan sahabatku dan aku sama sekali tidak mengenalnya."
Baek Hyun mem-pause permainannya dan meletakkan konsol ditangannya. "Kau benar-benar jahat, tidak rindu padaku?"
Luhan memutar bola mata. "Kau setiap sore singgah di tokoku dan kau bilang rindu? Please, leluconnmu tidak lucu."
"Lihatlah Kyung, kakakmu sudah tua tapi sampai sekarang semua hal yang keluar dari mulutnya hanyalah sarkasme yang menyebalkan."
Kyung Soo tergelak. "Oh, percayalah, Hyung, Luhan-hyung tidak seburuk itu."
Baek Hyun beralih menatap Yifan. "Bagaimana menurutmu, Hyung?" Ia bergeser sedikit karena Jung Kook langsung mengambil alih konsol tadi dan menggantikannya.
"Jangan tanya padaku, Princess, aku sudah mengenalnya selama– berapa usiamu sekarang, La petit? Ah ya, 27 tahun, jadi katakan saja hatiku sudah kebal dengan itu."
Luhan mendengus. "Aku hanya bersikap baik pada orang-orang yang pantas."
"Definisikan kata 'pantas'." Sahut Yifan.
"Well, Kyungie, Jiji, dan Kookie." Tandas Luhan. Jisoo terkikik senang sementara Jung Kook langsung menyengir memunculkan gigi kelincinya.
"Bagaimana denganku, Hyungie?" celetuk Min Gyu tiba-tiba.
"Not gonna happen, Kid. Kau adalah pengikut setia Sehun yang sangat merepotkan."
Baek Hyun dan Yifan kompak memutar bola bersamaan namun Luhan mengabaikannya. Obrolan mereka terputus begitu kepala pelayan datang mengumumkan bahwa makan malam mereka sudah siap. Suasana di meja itu menjadi sedikit lebih meriah, –bukan berarti biasanya mereka makan dengan tenang. Min Gyu dan Jisoo seperti biasa berebut kursi di sebelah Kyung Soo karena yang di sebelah kiri sudah diisi Yifan namun tak ada yang mendapatkannya karena Luhan datang dan mengusir mereka berdua. Akhirnya posisi di meja makan itu adalah, Nyonya Do yang mengisi kursi tunggal, di barisan sebelah kanannya diisi dengan urutan Yifan, Kyung Soo, dan Luhan, dan Baek Hyun. Di seberang mereka dimulai yang paling dekat dengan Nyonya Do ada Jisoo, Jung Kook, dan yang terakhir adalah Min Gyu.
Peraturan tak tertulis di keluarga Do adalah tidak boleh membahas pekerjaan di saat makan, dan Baek Hyun maupun Jung Kook sudah cukup sering menghabiskan waktu di rumah itu dan mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan. Maka dari itu selama di meja makan mereka hanya membahas hal-hal ringan seperti topik terhangat atau masalah sekolah dua lelaki termuda di keluarga tersebut.
Barulah ketika seusai menyantap hidangan penutup dan Nyonya Do sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat, Luhan menghampiri Baek Hyun yang tampak melamun di balkon kamar.
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi." Tandas Luhan tanpa basa-basi.
Baek Hyun menoleh padanya dengan sorot bertanya, namun begitu ia mengerti maksud ucapan Luhan mimik wajah lelaki itu langsung berubah murung.
"Kali ini apalagi?" tuntut Luhan tidak sabar.
"Aku juga tidak mengerti, Lu." Jawab Baek Hyun dengan wajah sendu. Pandangannya terarah pada pembatas besi di depannya. "Semuanya terasa salah akhir-akhir ini. Selalu bermula dari hal-hal sepele namun entah bagaimana bisa berkembang menjadi sesuatu yang besar. Tadi sore dia terlambat menjemputku dan aku merengek seperti biasa padanya, tapi entah mengapa dia menanggapinya dengan serius dan aku berakhir membanting pintu di depan wajahnya."
Luhan tidak ingat sejak kapan namun setiap kali Baek Hyun memilih masalah anak itu akan datang ke rumahnya dan mengundang dirinya sendiri untuk tidur disana. Bukannya Luhan keberatan, hanya saja ia kurang suka dengan sikap Baek Hyun yang selalu melarikan diri dari apa yang dihadapinya. Dan tidak ada yang pernah Baek Hyun anggap masalah selain tentang adik-adiknya dan Jong In.
"Apakah dia tidak mencoba menghubungimu?"
"Aku mematikan ponselku."
Benar-benar khas seorang Baek Hyun. Luhan sudah menduga jawaban tersebut.
"Sebaiknya kau mengaktifkan benda itu, Baek. Aku yakin saat ini Jong In sedang resah karena kau tidak pulang dan merasa begitu bersalah."
"Biarkan saja. Dia tahu aku selalu kesini setiap kali kami bertengkar tapi tidak pernah datang sendiri untuk menjemputku."
"Dia memberikanmu waktu untuk berpikir, Bacon."
Mendadak Baek Hyun tersenyum. "Aku rindu panggilan itu."
Senyuman Baek Hyun membuat Luhan ingin merangkul pundak lelaki tersebut dan memberikan usapan yang menenangkan disana. "Aku juga merindukannya."
Benak Luhan untuk sejenak melayang ke masa-masa kuliah mereka. Terakhir kali mereka semua berkumpul adalah sebelum malam mereka menyelenggarkan pertunjukan musik tersebut. Waktu itu yang mengisi Concerto hanyalah dua belas anggota EXO, itu adalah masa-masa dimana Yifan masih sering tersenyum konyol karena ada Joon Myeon di sebelahnya, Jong Dae yang tak pernah lelah jatuh-bangun mengejar Min Seok, Sehun dan Jong In yang menjadi mahasiswa junior terpopuler di kampus, atau bagaimana Yixing yang selalu memasang wajah mengantuk setiap kali Zitao mengomentari gaya berpakaiannya, atau pertengkaran tidak penting yang selalu terjadi diantara dirinya dan Baek Hyun.
Itu adalah saat-saat terakhir yang Luhan ingat mereka berkumpul bersama, karena setelahnya yang terjadi adalah Chan Yeol menghilang dan kapanpun mereka berkumpul yang ada bukan hanya anggota EXO saja, entah itu Jung Kook, Min Gyu dan Jisoo, kenalan Yifan, atau kenalan teman-teman mereka yang lain. Tidak pernah hanya ada EXO lagi setelahnya, tak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Satu tahun itu berlalu laksana mimpi, singkat dan tidak nyata, dan Luhan dalam hati bertanya-tanya kapan saat-saat seperti itu bisa datang lagi dalam kehidupannya.
"Tapi kau tetap harus menyalakan ponselmu."
"Besok saja."
"Dasar keras kepala."
Tengah malam ketika semua kamar telah tertutup dan para pelayan menyelesaikan pekerjaannya, Baek Hyun berbaring di sebelah Luhan dengan selimut lembut yang menutupi hingga dagunya. Hari berlalu terlalu cepat bagi Baek Hyun namun matanya seolah tidak berniat terpejam sama sekali. Bayangan wajah gusar Jong In terus menari-nari di benaknya setiap kali ia menutup mata.
"Lu…" panggil Baek Hyun ragu.
"Hmm."
"Mungkin sebaiknya hubungan kami diakhiri saja."
Kalimat Baek Hyun membuat Luhan mau tidak mau kembali membuka matanya. Ia sudah merasa begitu lelah namun wajah sedih sahabatnya adalah hal yang harus di hapusnya malam ini juga. Ia secepatnya bangkit dan bertanya,
"Dari mana datangnya gagasan konyol itu?"
"I don't know, I just– I guess it doesn't work anymore. Kau tahu, mungkin akan lebih baik jika kami berdua menjalani hidup secara terpisah."
Kening Luhan berkerut-kerut mendengarnya dan ia setengah mati menahan lidah tajamnya mengeluarkan sarkasme lain. Itu tidak dibutuhkan saat ini jadi dia harus memilih ucapannya dengan bijak.
"Baek, kau sudah tidak mencintai Jong In lagi?" Tanya Luhan hati-hati.
Baek Hyun dengan cepat ikut bangkit. Suaranya sedikit bergetar ketika berujar, "Tentu saja aku masih mencintainya!"
"Lalu apa yang salah Baek? Kau seharusnya sudah tahu dalam hubungan tidak selamanya berjalan baik, akan selalu ada masalah yang datang."
"Aku tahu, Lu. God, aku mencintainya sepenuh hatiku. Tapi aku hanya mulai merasa apa yang selama ini kami berusaha perjuangkan tidak sepadan dengan lelah yang datang. It's not worth it anymore, I guess."
Luhan menggeleng cepat. Dalam hati merasa takut melihat keraguan yang kini bersemayam dalam mata Baek Hyun. Tidak, ia tidak akan membiarkan ada satu perubahan lagi yang terjadi pada teman-temannya.
"It's worth it, Baek." Luhan menangkup wajah Baek Hyun agar menatap matanya. "As long as you still love him, it's worth it. Lihatlah apa yang terjadi pada Kyung Soo dan Yifan, Baek. Tidakkah itu jelas bagimu? Apakah kau ingin berakhir seperti mereka, meninggalkan orang yang dicintai diatas alasan yang tak masuk akal?"
"Tapi mereka baik-baik saja, Lulu, mereka–"
"Tidak, mereka tidak baik-baik saja. Mereka– aku sudah berusaha percaya suatu saat nanti semuanya akan kembali normal, tapi aku sangat mengenal mereka, Baek." Wajah Luhan berubah murung ketika bayangan wajah dua saudaranya tiba-tiba muncul. "Kyung Soo– ya, dia selalu tertawa dan ceria, tapi itu bukan dirinya yang sebenarnya Baek. Kyung Soo tidak pernah menunjukkan emosinya secara berlebihan, tidak seperti kita yang akan melompat girang ketika senang, ia hanya akan tersenyum tipis namun dari matanya kau akan tahu bahwa dia juga merasakan kesenangan yang sama. Dia- dia hanya akan tertawa lebar jika bersama Chan Yeol, dan aku selalu merasa tawa yang dia bagi kepada siapapun tidak pernah benar-benar menyentuh hatinya, Baek. Dan Yifan– dia menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan seperti orang gila. Kakakku bukan orang seperti itu, dia tidak pernah menomorsatukan pekerjaannya tapi saat ini dia bersikap seolah-olah hanya itu yang ada di kepalanya."
Luhan sama sekali tidak berniat menjelaskan betapa menyedihkannya Kyung Soo dan Yifan di mata Luhan, ia lebih senang jika orang-orang di sekitar mereka berpikir keduanya menjalani hidupnya dengan baik, akan tetapi Luhan lebih tidak bisa membiarkan Baek Hyun mengambil keputusan yang akan disesalinya.
"Tapi masalahnya berbeda, Lu–"
"Tidak peduli apa masalahnya, kenyataannya tidak ada yang benar-benar bahagia akan keputusan itu. Semua pihak menderita, dan aku tidak mau kau menjadi salah satu dari mereka. Jadi singkirkan semua pikiran tidak masuk akal itu dari otakmu sebelum aku menendangmu dari kamar ini saat ini juga."
Baek Hyun berusaha menelaah semua penjelasan Luhan barusan. Ini bukanlah pertengkaran mereka yang pertama, namun tidak pernah sekalipun kata 'putus' terlontar dari salah satu dari mereka. Tentu saja tidak karena sesulit apapun Baek Hyun sadar ia tidak mau melepaskan Jong In. Membayangkannya saja tidak. Mendadak Baek Hyun diliputi rasa bersalah.
"Hey, Baek Hyun, kenapa kau menangis?" suara Luhan menyadarkannya. Ada nada cemas yang terselip disana.
"Aku menyesal, Luhan." Ujar Baek Hyun dengan suara bergetar. Jemarinya tersembunyi dalam kepalan yang erat di atas pahanya. "Aku betul-betul bodoh karena telah meragukan perasaan Jong In. Aku sangat mencintainya dan aku menyesal, Luhan."
Luhan langsung meraih pundak Baek Hyun dan merangkulnya penuh kehangatan. Dalam hati bersyukur berhasil menarik hidup Jong In dari ambang kehancuran. Semua orang tahu betapa Jong In memuja Baek Hyun, hanya saja kadang sahabatnya tidak sanggup melihat itu semua.
"Tidak apa-apa Baekkie, yang penting sekarang kau sudah mengerti."
"Aku minta maaf." Ucap Baek Hyun disela-sela air matanya yang bercucuran. Ia terus mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
"Minta maaflah pada Jong In dan beritahu dia bahwa kau masih mencintainya seperti dulu."
"I will." Jawab Baek Hyun lebih ke dirinya sendiri.
…
Keesokan harinya Baek Hyun mengajak yang lain pergi jalan-jalan dan semuanya langsung mengiyakan, kecuali Yifan yang memilih ingin bersantai di rumah sekaligus menemani Nyonya Do. Mereka berpencar begitu sampai disana. Baek Hyun langsung menyeret Luhan menjauh dari mereka, sedangkan Min Gyu mengikuti kemanapun Jisoo pergi, sehingga tersisalah Kyung Soo dan Jung Kook di lantai satu tanpa memiliki destinasi yang tepat.
"Sekarang kita kemana, Hyung?" Tanya Jung Kook seraya mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Entahlah, Jung Kook-ah. Kau tidak ingin pergi ke tempat tertentu? Atau membeli sesuatu, misalnya."
Jung Kook tampak berpikir sebentar. "Sebenarnya kemarin aku sempat berniat mencari kemeja baru, keberatan menemaniku, Hyung?"
"Tentu saja tidak, ayo!"
Kyung Soo kemudian menemani Jung Kook masuk ke satu toko pakaian, ke toko pakaian yang lain. Mereka berkeliling beberapa kali sebelum Jung Kook menemukan kemeja yang sesuai dengan seleranya. Jung Kook menawarkan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatan berkeliling mereka. Tidak ada barang tertentu yang ingin mereka cari namun keduanya sama sekali tidak terburu-buru untuk segera pulang. Ini adalah hari Sabtu dan sudah sepantasnya mereka menghabiskannya dengan bersenang-senang.
"Bagaimana kabar Jung Ah-noona?" Tanya Jung Kook seraya menunggu pesanan mereka datang. Keduanya memutuskan untuk singgah di Starbuck sejenak. Tidak ada yang benar-benar lapar sehingga mereka hanya memesan minuman.
"Terakhir kali aku bertemu dengannya tiga bulan yang lalu, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke enam. Dia semakin gemuk, kau tahu." Sampai disini keduanya terkekeh. "Kemarin aku ke Kamong tapi tidak bertemu dengannya, sepertinya dia tidak akan berada di kafe untuk sementara waktu."
"Ah, ya, aku lupa dia sedang mengandung. Aku bahkan hanya mengucapkan selamat lewat telepon."
"Dia pasti mengerti. Akhir-akhir ini semua orang tampak disibukkan dengan pekerjaannya." Jung Kook mengamini ucapan Kyung Soo. "Bagaimana dengan Tae Hyung? Aku jarang bertemu dengannya mengingat kami bertugas di lantai dan jam yang berbeda."
"Hidupnya hanya berpusat pada dua hal, Hyung. Pekerjaan dan tempat tidur. Jika dia sedang tidak berada di rumah sakit, maka sudah dipastikan dia akan berada di kamarnya tertidur seperti orang mati." Jung Kook mendengus. Tanpa sadar memasang wajah merengut yang sangat lucu, yang sangat tidak sesuai dengan postur tubuhnya yang membuat pria kurus manapun iri. "Tidak berniat menyinggung, tapi apakah memang semua Dokter sesibuk itu? Maksudku, yeah, aku tahu tanggung jawab dokter sangat berat; menyelamatkan nyawa pasien dan sebagainya; dan aku hanyalah perancang bangunan yang tidak tahu apa-apa, tapi apakah dokter tidak memiliki waktu senggang sedikitpun?"
Kyung Soo terkekeh geli melihat Jung Kook tanpa sadar memanyunkan bibir dan terus menggerutu. Jung Kook yang di depannya sekarang sangat berbeda jauh dengan Jung Kook yang pertama kali Kyung Soo temui. Dulu ia begitu tertutup, dingin, dan selalu memasang wajah datar seolah ia tidak tahu bagaimana cara tersenyum. Dan jika boleh berpendapat, Kyung Soo jauh, jauh lebih menyukai Jung Kook yang sekarang.
"Tidak segitunya juga Jung Kookie, buktinya aku masih bisa duduk santai menemanimu disini, bukan begitu?"
"Tapi kenapa Tae Hyung terus bekerja seperti tidak mengenal kata istirahat? Dia bahkan seolah melupakan eksistensiku di dunia ini."
"Itu karena dia harus bekerja keras di tahun-tahun pertamanya jika benar-benar ingin diakui sebagai dokter yang handal, Kookie-ah. Kau harusnya bangga memiliki kekasih yang penuh dedikasi sepertinya. Setidaknya dia menghabsikan waktunya dengan bekerja, bukannya melirik suster-suster lajang berkaki jenjang disana."
"Aku bahkan ragu jika dia masih ingat tanggal lahirnya sendiri." Sahut Jung Kook dengan rengutan yang masih kentara.
"Give him some time, aku yakin setelah itu dia akan sadar telah menelantarkan kekasih manisnya yang berharga."
Sebuah dengusan terlontar. "Aku tidak manis, Hyung! Aku tampan!" seru Jung Kook setengah kesal setengah malu. Ia benar-benar sudah lelah dengan kata yang satu itu. "Dan hell, ketika dia sadar mungkin aku sudah memiliki janggut dengan perut membuncit."
Tawa Kyung Soo langsung menyusul sedetik kemudian.
Mereka kembali berkeliling, dari satu toko ke toko yang lain, mencoba berbagai macam pakaian, sepatu, atau topi. Meminta pendapat satu sama lain, dan memutuskan membeli jika benar-benar menyukainya atau keluar dari toko tersebut dan memasuki toko di sebelahnya. Mereka sedang berada di bagian jam tangan ketika Baek Hyun menelepon Jung Kook.
"Apa katanya, Jung Kook-ah?"
"Mereka berempat ada di restoran seafood di seberang mall ini, Hyung."
Kyung Soo melirik arlojinya dan menemukan ini memang sudah memasuki jam makan siang. "Baiklah, kalau begitu ayo kita kesana."
Udara hangat langsung menyapa wajah Kyung Soo begitu ia keluar dari mall tersebut. Ia bersama Jung Kook berjalan ke sisi jalan dan menuju penyebrangan jalan yang tak jauh dari mereka. Keduanya berjalan santai dengan Jung Kook yang menenteng paper bag miliknya dan juga milik Kyung Soo. Manik obsidian Kyung Soo menyorot jalanan yang seperti biasa dipadati oleh kendaraan. Ia lalu mengarahkan matanya ke lampu penyeberangan dan melihat lampunya sudah berwarna hijau dengan orang-orang yang mulai melangkah menuju sisi seberang. Ia sama sekali tidak memiliki niat mengejar lampu tersebut mengingat teman-temannya tidak ada yang terburu dan Jung Kook sendiri tampak tidak terlihat ingin segera sampai kesana. Lelaki itu malah sesekali mengomentari hal-hal di sekitarnya yang menurutnya lucu.
Kyung Soo kembali menatap ke depan dan saat itulah Kyung Soo melihatnya.
Sosok yang semula tersembunyi diantara tumpukan manusia dan tertangkap mata Kyung Soo begitu orang-orang yang berdiri di sekitarnya mulai berkurang satu demi satu. Sosok itu berdiri dalam balutan hoodie biru gelap yang dipadukan dengan ripped jeans hitam dan snapback putih di kepalanya. Sebelah tangannya menggenggam ponsel yang menempel di sisi wajahnya seraya menyebrang seperti orang-orang di depannya.
Jung Kook yang akhirnya menyadari Kyung Soo berhenti lantas menoleh dan menemukan yang lebih tua berdiri terpaku dengan wajah pucat dan mata melebar. Ia menghampiri Kyung Soo dan bertanya ada apa namun lelaki itu seolah tak mendengar suaranya sama sekali. Matanya terus terpaku pada sosok yang kini sudah berada di seberang jalan dan sedang memasuki taxi yang berhenti di depannya.
Tak salah lagi.
Itu dia.
Hyung…
"Kenapa kalian lama sekali?" Tanya Luhan begitu dua orang terakhir yang sejak tadi ditunggu kemudian muncul.
"Uhh, itu– Soo-hyung–" Jung Kook kebingungan, tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan tingkah Kyung Soo yang tiba-tiba berhenti; terpaku agak lama dengan pandangan kosong; lalu kemudian kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa tanpa terdengar aneh sama sekali.
Pesanan mereka akhirnya datang dan perhatian mereka langsung teruju ke hidangan yang baru saja diletakkan di atas meja. Namun Baek Hyun memilih memperhatikan Kyung Soo yang tampak tidak menyadari sekelilingnya sama sekali. Manik gelapnya tampak kosong menunjukkan pikiran lelaki itu sedang berada di tempat lain.
"Soo, you okay?" Baek Hyun menarik perhatian Kyung Soo dengan menyentuh punggung tangannya lembut.
"Ah, maaf Hyung, apa yang kau katakan?"
"Terjadi sesuatu? Kau seperti baru saja melihat hantu."
Hantu. Mungkin dia memang hantu karena setelah lama menghilang kini kembali muncul –walau tak sengaja- di depannya.
Akhirnya Kyung Soo memaksakan seulas senyum. "Tidak terjadi apa-apa, Hyung. I'm all fine."
Ya, Kyung Soo baik-baik saja. Apa yang tadi dilihatnya bukanlah kenyataan, melainkan ilusi yang mempermainkan matanya. Ya, pasti hanya itu.
…
Langkah Baek Hyun terhenti mendapati sosok familiar berdiri di pintu apartemennya. Tangannya terangkat hendak mengetuk benda solid di depannya namun terhenti di tengah jalan. Ia menghembuskan napas panjang seraya berbalik dan saat itulah mata mereka saling bertubrukan. Gerakan Jong In terhenti dengan mata yang melebar, ia berkedip beberapa kali seolah berusaha memastikan sosok yang ada di hadapannya benar-benar nyata.
"H-hyung…"
Saat itulah Baek Hyun memutuskan untuk mengikis jarak diantara mereka dengan menghampiri Jong In lebih dulu. Membutuhkan sebelas kali ayunan kaki bagi Baek Hyun untuk berdiri tepat di hadapan kekasihnya. Ia menghitung dalam hati berharap rasa gugup yang mendera tubunya bisa sedikit teredam.
"Hai, Jong In-ah."
Suara Baek Hyun terdengar rapuh namun itu sudah cukup membuat kaki Jong In kembali berpijak pada bumi. Jong In ingin meneriaki Baek Hyun, bahkan membentaknya karena sudah begitu bersikap kejam pada dirinya. Lelaki mungilnya itu tidak tahu betapa setiap hal yang ada pada dirinya begitu mempengaruhi hidup Jong In. Ia menghabiskan sepuluh jam berdiri di ruang operasi dan hanya mengonsumsi roti dan kopi agar tetap terjaga. Yang ia inginkan hanya bisa pulang ke rumahnya berharap bisa mengais sedikit tidur namun bayangan akan wajah menangis Baek Hyun membuat kelopaknya enggan tertutup.
Ia ingin meneriakkan semua itu dihadapan Baek Hyun. Namun setelah tatapannya bertemu dengan iris madu lelaki itu, semua rasa frustasi dan muak yang tadi Jong In rasakan menguap dan terganti dengan dorongan besar untuk menarik Baek Hyun ke dalam pelukannya dan memastikan bahwa peri berwujud manusia itu masih miliknya.
"Aku minta maaf atas semua ucapan kasarku kemarin, Hyung." ujar Jong In setelah tidak tahan dengan senyap diantara mereka. "Aku sama sekali tidak berniat mengatakan semua itu, aku benar-benar di luar kendaliku kemarin. Aku- aku benar-benar menyesal, Hyung. Aku minta maaf, aku sangat mencintaimu."
Rasa bersalah Jong In mencapai titik tertinggi ketika menemukan manik Baek Hyun dilapisi cairan bening.
"H-hyung…jangan menangis, aku mohon." Pinta Jong In dengan wajah terluka.
Yang tidak diketahui Jong In adalah betapa Baek Hyun sibuk mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Jong In selalu meminta maaf lebih dulu untuk kesalahan mereka berdua karena tahu Baek Hyun terlalu gengsi untuk melakukannya. Jong In seolah tercekik akan pekerjaannya namun masih menyempatkan waktu untuk sekedar menjemput Baek Hyun. Kulit tan-nya terlihat pucat dengan lingkaran hitam di sekitar matanya, dan rambut-rambut tipis di sekitar rahangnya menunjukkan bahwa lelaki itu belum sempat berbenah diri. Dan disinilah Jong In berdiri, menatap dirinya penuh cinta dan penyesalan yang membuat Baek Hyun semakin jijik pada dirinya sendiri. Jong In selalu mencintainya, dengan kelembutan dan kehati-hatian sehingga mungkin saja Baek Hyun tidak menyadarinya.
Baek Hyun selalu payah dalam berkata-kata –Jong In lah yang selama ini mengambil peran tersebut– jadi yang ia lakukan adalah menelusupkan wajahnya ke dada Jong In dan memeluk pinggang yang lebih tinggi seerat mungkin. Tangisnya membesar begitu menyadari Jong In kehilangan beberapa kilo massa tubuhnya. Bagaimana Baek Hyun bisa begitu buta selama ini?
"Hyung, stop crying, please." Ucap Jong In di puncak kepala Baek Hyun. "I'm sorry I hurt you."
Yang lebih tua sedikit melonggarkan pelukannya agar bisa mendongak menatap wajah Jong In. "Stop saying it, kau sama sekali tidak salah, Jong In-ah." Baek Hyun berusaha menjaga suaranya tetap terdengar disela air matanya yang bercucuran. Entah kenapa akhir-akhir ini ia mudah sekali marah dan menangis. "Maaf sudah bertingkah kekanakan, Jong In-ah. Aku harusnya mengerti keadaanmu, aku harusnya berhenti merepotkannmu, aku- aku harusnya bisa bersikap dewasa. Aku- maafkan aku, Jong In-ah."
"Sssh." Jong In membawa ibu jarinya menghapus bekas air mata di wajah mungil kekasihnya. Menahan diri untuk tidak terkekeh geli karena wajah Baek Hyun terlihat sangat lucu; pipi memerah dan hidung meler serta iris madunya yang terlihat berkaca-kaca. Dan Jong In menemukan dirinya kembali jatuh cinta pada sosok di hadapannya, persis seperti ketika Baek Hyun yang mabuk menatapnya di bawah malam berbintang delapan tahun yang lalu.
Jadi Jong In melakukan hal yang sangat ingin dilakukannya sejak kemarin. Bibirnya meraih milik Baek Hyun dan memagutnya dalam. Ia menghembuskan napas lega karena mencium Baek Hyun selalu terasa seperti rumah, mengingatkan Jong In akan rasa air sejuk yang diteguknya setelah seharian bermain layangan semasa kanak-kanak dulu.
I'm home. Pikir Jong In sarat akan rasa syukur.
Baek Hyun tersenyum dalam ciuman mereka. Aroma baby cologne yang sudah sangat familiar membanjiri indera penciumannya. Hal yang paling disukai Baek Hyun dari Jong In bukanlah mendengarkan Jong In mengucapkan I love you padanya, melainkan merasakan langsung kalimat itu di bibirnya sendiri.
…
"Listeners, antara berlibur ke luar negeri atau di dalam negeri, keduanya sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan. Ke luar negeri tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, dong, ya. Dan juga membutuhkan persiapan yang matang seperti obat-obatan dan jangan lupa untuk menghubungi kedutaan Negara kita disana jika ada masalah. Tapi kalau semuanya lancar, tentu saja kalian akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Menikmati suasana yang berbeda dengan Korea bersama keluarga atau teman-teman tentu saja akan sangat menyenangkan.
Tapi, hey, untuk kalian yang tidak bisa pergi jauh tidak usah khawatir, ada banyak tempat di Negara kita yang bisa dijadikan destinasi liburan musim panas, kok, tenang saja. Sepupuku dulu tinggal di Busan, dan dia selalu bercerita tentang pantai-pantai dengan udara bersih dan aroma laut yang menyegarkan. Ada diantara kalian yang pernah ke Busan? Hm, aku perlu mencoba datang kesana suatu hari, doakan semoga aku bisa meminta cuti setelah ini ya, hehehe."
Suara kekehan selanjutnya terdengar. Sehun yang duduk di meja kerja Luhan melirik jam dan sadar waktu siaran kekasihnya akan segera habis kurang dari lima belas menit. Itu artinya sebentar lagi Luhan harus membacakan pesan yang dikirim para pendengar melalui akun Twitter, Line, dan SMS yang masuk. Ia kembali memusatkan perhatian pada radio yang memutar suara jernih Luhan.
"'Selamat malam, Oppa. Namaku Nina. Musim panas tahun lalu aku pindah ke Seoul, dan aku sangat suka tinggal disini. Aku pindahan Australia, omong-omong. Ah, tolong putarkan lagu Sistar – Say I Love You untuk sahabatku, Lee Seol yang sedang mengunjungi neneknya di Gwangju. Hwaiting, Oppa, semoga kau bisa mendapatkan cuti yang kau inginkan. Good night.'
Hhm, terima kasih banyak Nina-ssi. Senang rasanya mengetahui Nina-ssi betah di Korea. Untuk Lee Seol-ssi yang saat ini ada di Gwangju, selamat mendengarkan Say I Love You dari Sistar. Dan untuk para pendengar, terima kasih sudah mendengarkan siaran malam ini. Sampai jumpa besok malam di jam yang sama and good night."
"Hey."
Senyum Luhan terkembang mendapati Sehun sedang duduk di meja kerjanya. Satu-satunya yang menjadi penerangan di ruangan itu adalah lampu di meja Luhan yang berada tepat di sebelah jendela. Meski penerangan disana tidak banyak, Luhan masih bisa melihat lingkaran hitam yang menggantung di bawah mata Sehun dan terlihat sedikit kontras dengan kulit putihnya yang menurut Luhan terlihat semakin pucat.
"Kau tidak memberitahuku akan datang kesini." Ujar Luhan seraya menarik kursi di meja rekan kerjanya dan duduk berhadapan dengan Sehun. Naskah siaran yang dibawanya ia letakkan bersama tumpukan naskah yang lain di sudut meja.
"Kejutan."
"Kau terlihat sangat lelah." Itu adalah pernyataan yang retoris namun Luhan tidak tahan untuk tidak mengatakannya. "Kau sudah makan?"
Sehun kemudian mengangguk. "Aku makan malam sekitar empat jam yang lalu tapi sepertinya perutku masih sanggup menampung semangkuk ramen."
Luhan memasang wajah cemberut. "Tidak, aku tidak mengizinkanmu makan ramen. Ayo segera pulang dan akan kumasakkan sesuatu yang lain."
Sehun tersenyum mendengar gagasan tersebut. Menawarkan diri memasak untuk Sehun adalah cara Luhan mengungkapkan bahwa lelaki itu sedang rindu. Luhan memasakkan Kari untuk mereka berdua dan Sehun memakannya dengan senang hati. Memasak diwaktu-waktu tak menentu bukanlah hal yang baru lagi bagi Luhan. Sejak menjadi dokter magang di rumah sakit, Sehun menjadi terlalu sering pulang ketika menjelang pagi. Dalam seminggu Luhan menghabiskan empat hari diantaranya tidur di apartemen Sehun. Secara teknis Luhan bisa dibilang tinggal disana namun tidak benar-benar melakukannya mengingat Nyonya Do yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Luhan menyukai tinggal bersama Nyonya Do dan juga saudara-saudaranya walau kadang kesal karena Min Gyu dan Jisoo tidak pernah berhenti bertengkar.
"Apa yang kau pikirkan?"
Suara Sehun membuyarkan lamunannya. Lelaki itu sedang mengeringkan rambutnya dan menatapnya melalui cermin.
"Tidak ada. Hanya teringat orang-orang di rumah."
"Bagaimana kabar Bibi dan yang lain?"
Luhan memperhatikan Sehun beranjak menuju sisi termpat tidur yang kosong dan menyelipkan diri dibawah selimut di sebelah Luhan. Ia mematikan lampu sehingga ruangan itu hanya mendapat siraman cahaya dari bulan melalui jendela. Sehun selalu membiarkan tirainya terbuka agar ia bisa bangun di pagi hari karena alarm ponsel tidak pernah sanggup membuatnya membuka mata.
"Eomma sangat sehat, dia sering menanyakannmu."
"Katakan padanya aku akan mengunjunginya begitu ada waktu luang."
"Ya, dan Kyung Soo juga baik-baik saja. Jisoo dan Min Gyu masih tetap berisik seperti biasa."
Sehun terkekeh mendengar Luhan mengucapkan kalimat terakhir dengan nada lelah. Kepalanya terbenam ke dalam celah leher yang lebih tua dan memastikan selimut membungkus tubuh keduanya dengan sempurna. "Mereka masih anak-anak, Lu, jangan terlalu keras pada mereka."
"Kau jadi terdengar seperti Kris." Luhan ingat Yifan sering mengatakan hal yang sama ketika dirinya mengomeli tingkah Sehun yang selalu membuat keributan dengan Zitao dulu. Ah, tentang Zitao… "Pastikan kau mengosongkan jadwalmu September nanti."
"Hm? Kenapa?"
"Pertunangan Tao."
"Oh? Dia sudah mengedar undangannya?" Tanya Sehun lagi seraya bangkit dan menumpukan kepalanya di tangan.
"Kau sudah tahu?"
"Tentu saja. Aku orang pertama yang diberitahunya ketika Soo Jung menerima ajakan pertunangan tersebut."
"Dia pamer lagi." Sahut Luhan setengah geli.
"Memangnya dimana acara pertunangannya diadakan?"
"Paris."
Sehun langsung memutar bola mata. "Rich bastard."
Yang lebih tua terkekeh dengan tangan terangkat. Jemarinya menyisir rambut Sehun yang sehitam bulu gagak. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali Sehun –dan dirinya– mewarnai rambut, Luhan merasa mereka sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti itu. Meski begitu Sehun masih tetap –jika tidak bertambah – tampan. Wajahnya sama sekali tidak berubah dan garis-garis kedewasaan justru membuatnya semakin terlihat menarik, hal yang membuat Luhan iri setengah mati karena bahkan setelah bertahun-tahun kesan pertama orang-orang terhadapnya masih tetaplah 'imut' atau 'manis' (Demi Tuhan, aku bahkan lebih tua darinya! ). Setidaknya satu hal yang Luhan syukuri adalah ia memiliki kesempatan untuk menyaksikan pertumbuhan Sehun dalam jarak terdekat yang tidak orang lain dapatkan.
"Jangan terlalu keras berpikir atau aku akan bisa mendengarnya, Sayang."
Luhan tersadar dan balas menatap Sehun dengan sorot mata bertanya. "Memangnya apa yang sedang kupikirkan?"
"The most beautiful thing in the universe." Balas Sehun dengan sudut bibir yang tertarik sebelah.
"And the thing is?"
Senyum Sehun melebar hingga matanya lenyap dan membentuk bulan sabit. "Me."
Luhan hanya mendengus. Ia mengabaikan jawaban Sehun dan memilih untuk memperbaiki posisi berbaringnya dan segera tidur. Sehun sendiri tidak mengatakan apapun lagi, ia hanya merentangkan tangan ketika Luhan bergeser mendekat dan menyelipkan tubuhnya ke dalam kungkungan Sehun.
"Hyung."
"Hmm."
"Aku mencintaimu."
Tapi Luhan sudah berada diambang kesadarannya dan kalimat Sehun terasa seperti hembusan angin musim semi di puncak kepalanya. Tapi Luhan juga tahu bahwa Sehun tidak perlu kalimat balasan karena perasaan lelaki itu selalu terbalas sama besarnya. Luhan pikir bukan masalah besar jika sampai sekarang Sehun belum juga melamarnya lagi setelah lamaran pertamanya di malam Natal delapan tahun lalu. Luhan sama sekali tidak keberatan, ia sanggup menunggu asal Sehun selalu ada untuk mendekapnya seperti ini.
Namun yang Luhan tidak tahu adalah Sehun masih terjaga empat puluh menit setelahnya, bertanya-tanya dalam hati apakah Luhan menyadari bahwa dirinya berarti semesta bagi Sehun.
…
Yifan menyusul ke Paris tiga hari setelah keberangkatan Luhan bersama Kyung Soo, Sehun, Baek Hyun, Jong In, dan Joon Myeon. Sementara Jong Dae dan Min Seok sudah berada di Paris lebih dulu dibandingkan mereka. Dan yang terakhir adalah Yixing yang sampai sekarang belum ada kabar. Zitao dan Krystal sendiri sudah berada di Paris sejak akhir bulan lalu. Pesta pertunangan mereka sendiri akan diadakan Minggu depan dan saat ini Kyung Soo dan yang lain tinggal di sebuah rumah yang sudah disediakan Zitao khusus untuk mereka.
Begitu pesawat Yifan mendarat di bandara Charles de Gaulle, ia langsung mencegat taksi dan membiarkan asistennya mengurus kopernya untuk diantar ke tempat teman-temannya. Café yang dimasukinya berada di Champs-Elysees dan Yifan langsung mengambil kursi dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan avenue luas dengan leluasa. Yifan sedang mencoba café crème yang dipesannya ketika seseorang menyentuh pundaknya dengan lembut.
"Apakah Anda sudah menunggu lama, Monsieur Wu?"
Sedetik kemudian Yifan langsung bangkit dan memeluk perempuan di hadapannya. "Jessica!"
"Krissie! Aku sangat merindukanmu!" balas Jessica dengan nada senang yang sama.
"Damn it, J, berhenti memanggilku dengan sebutan konyol seperti itu."
Jessica hanya tertawa melihat Yifan pura-pura memasang wajah kesal. Suara tawanya jernih, mengingatkan Yifan akan bunyi lonceng di gereja. Yifan lantas mempersilahkan Jessica duduk setelah pelukan keduanya terlepas.
"Kapan kau sampai ke Paris? Kemarin aku menelepon Krystal dan dia bilang kau belum datang."
"Aku kesini langsung dari bandara. Ada sedikit masalah di kantor sehingga aku tidak bisa berangkat bersama teman-temanku yang lain."
Jessica tampak mengangguk-angguk seraya menggumamkan sesuatu tentang resiko pebisnis sibuk.
"Jadi kau sudah bertemu mereka? Adikku dan yang lainnya." Tanya Yifan.
"Yup." Gadis itu menyibak rambut ikalnya yang panjang ke belakang, gerakan itu membuat aroma mawar Perancis merebak ke indera penciuman Yifan. "Dan aku membencimu karena tidak pernah memberitahuku ternyata teman-temanmu adalah kumpulan manusia berparas dewa."
Yifan terkekeh sekilas. "Bukankah aku yang seharusnya kesal disini? Adikmu berkencan dengan salah satu sahabatku dan kau tidak pernah mengatakannya."
"Itu salahmu kenapa meninggalkan New York tiba-tiba. Jika saja Tao tidak menunjukkan foto kalian sewaktu kuliah kita tidak akan bertemu secepat ini."
Yifan membenarkan ucapan Jessica dalam hati. Ia terkejut bukan kepalang ketika bulan lalu menemukan gadis cantik itu berdiri di depan meja resepsionis di kantornya. Ia bahkan selama ini tidak pernah menyangka bahwa Krystal merupakan adik kandung Jessica, teman sesama modelnya di New York dulu.
"Aku mendapat panggilan untuk kembali ke Seoul secepatnya dan tidak sempat memberi kabar padamu, bukankah waktu itu kau ada disini?"
"Ya, ada pemotretan untuk majalah Elle. Aku sangat terkejut ketika kembali dan mendapat kabar kau sudah tidak bekerja di agensi itu lagi. Aku benar-benar kesal waktu itu."
"Okay. I'm sorry, Baby J."
Jessica langsung tersenyum lebar, terlihat begitu senang karena Yifan masih mengingat nama panggilannya sewaktu mereka masih menjadi model dulu. "Dimaafkan."
Mereka terus mengobrol hingga tiga jam kemudian. Saling berbagi cerita tentang kehidupan mereka setelah bertahun-tahun. Jessica menceritakan bahwa ia juga memutuskan berhenti menjadi model setahun setelah kepergian Yifan dan pindah ke Paris. Ia mendaftar di universitas dan mengambil jurusan tata busana dan kini bekerja sebagai designer di salah satu merk pakaian ternama di Paris.
Jessica yang ternyata membawa mobil akhirnya mengantar Yifan ke tempat teman-temannya tinggal selama di Paris.
"Kau tidak mau mampir?" Yifan bertanya begitu mobil Jessica berhenti di depan gerbang rumah yang ditempati teman-temannya.
Jessica menggeleng. "Besok saja. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu lebih dari ini."
"Baiklah. Hati-hati di jalan, J."
"Bye, Krissie!"
Yifan akhirnya berbalik ketika mobil Jessica sudah menghilang dari pandangan. Namun kakinya berhenti di langkah ke lima begitu matanya bertemu pandang dengan sosok yang berdiri di pintu. Joon Myeon berdiri di sana dengan kedua tangan yang tenggelam dalam saku sweaternya.
"Hai." Joon Myeon mengulas senyum tipis dan mendadak udara di sekitarnya seolah menghangat.
Yang lebih tinggi berdehem merasakan tenggorokannya yang mendadak kering. Ia melangkah ragu hingga keduanya berdiri berhadapan dan Joon Myeon harus sedikit mendongak agar bisa menatap sosok di hadapannya dengan lebih jelas.
"Hai." Yifan akhirnya menemukan suaranya setelah beberapa saat.
Angin musim gugur bertiup lemah dan mendadak Joon Myeon kehilangan kata-kata yang sudah dihapalnya semalam untuk diucapkan pada Yifan. Apa susahnya menyapa mantan kekasih yang sudah hampir delapan tahun tidak kau temui?
"La-lama tidak bertemu."
Mereka berjabat tangan untuk sepersekian detik dan Joon Myeon berusaha tidak menunjukkan kekecewaannya begitu tangan mereka terlepas.
"Yah. Kau terlihat agak kurus."
Joon Myeon yakin Yifan sama sekali tidak memiliki maksud buruk dengan kalimat tersebut namun ia tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk berpikiran Yifan tidak mungkin tertarik lagi dengan penampilannya yang sekarang.
"Yah, pekerjaan membuat semua orang sibuk, bukan begitu?" Ujar Joon Myeon berusaha terdengar bercanda namun ekspresi Yifan sama sekali tidak berubah. Alis lelaki itu tampak mengerut diatas hidungnya yang sempurna dan Joon Myeon mengira Yifan merasa kesal karena telah membuatnya berdiri di pintu terlalu lama.
"Ah, masuklah. Maaf, aku tidak bermaksud menahanmu di luar." Joon Myeon langsung mundur dan bergeser ke samping untuk memberikan yang lebih tinggi jalan masuk. "Kyung Soo sedang tidur sedangkan Luhan menonton TV dengan Jong In walau aku tidak yakin mereka mengerti jalan ceritanya karena drama tersebut berbahasa–"
"Joon Myeon." Yifan menyentuh pundak yang lebih pendek dan hal itu secara otomatis menghentikan racauan Joon Myeon yang semakin melantur. Yifan tersenyum tipis melihat bagaimana Joon Myeon menatapanya dengan kedua mata yang melebar dan mulut yang sedikit terbuka. Kulitnya yang pucat tampak dihiasi rona merah samar, dengan gemas tangan Yifan beralih merapikan surai gelap Joon Myeon yang hampir menusuk matanya sebelum beralih mengelus pipi lelaki tersebut, tepat di bagian semu kemerahan itu berkumpul.
"Aku juga senang bertemu denganmu lagi."
…
Seusai mengantar Yifan, Jessica mengendarai mobilnya menuju sebuah bistro kecil yang berada di Quartier Latin. Bistro tersebut cukup terkenal dan selalu padat akan pengunjung yang kebanyakan merupakan mahasiswa Sarbonne. Bistro itu sudah menjadi salah satu tempat favoritnya karena menyajikan masakan Asia seperti Shasimi, Samgyupsal, nasi goreng Kimchi, dan beberapa makanan khas Negara-negara Asia yang lain. Alasan keduanya adalah pemilik bistro tersebut adalah mantan rekan kerjanya dan kini menjadi teman dekatnya. Ia tersenyum membayangkan akan seperti apa mimic Yifan jika ia memberitahu tentang keberadaan salah satu teman lama mereka.
Suara dentingan lonceng bergema halus begitu Jessica mendorong pintu kaca di hadapannya. Sebagian pengunjung langsung teralih melihat seorang gadis cantik berwajah oriental memasuki bistro, mungkin sebagian dari mereka ada yang mengenali Jessica sebagai mantan model namun tidak berniat mendekat karena tahu semua yang memasuki bistro ini mengingkan waktu bersantai untuk diri mereka sendiri.
Jessica membawa matanya menuju meja kasir dan langsung tersenyum melihat seseorang yang memang ingin ditemuinya hari ini. Sosok yang tadi ditatapnya kini berjalan menghampiri meja Jessica yang berada di tengah-tengah ruangan dan saat itulah Jessica menyadari bahwa sosok itu memakai apron hitam yang diikat di pinggangnya, yang membedakan penampilannya dari pelayan asli di kafe tersebut adalah kemeja kotak abu-abu yang dipakainya sebagai atasan.
"Selamat datang, Mademoiselle Jung." Sapa sosok tersebut dengan bahasa Perancis dengan logat asing yang lancar. "Anda ingin memesan apa hari ini?"
Jessica menahan senyum di bibirnya dan hanya membalas dengan, "Seperti biasa, Monsieur Park."
Sepuluh menit kemudian sosok itu kembali dengan semangkuk Soondobu jiggae dan secangkir teh herbal yang Jessica sambut dengan senang hati. Namun alih-alih kembali ke meja kasir, sosok itu justru menduduki kursi di depan Jessica dan menatapnya dengan pandangan sangsi.
"Kau tidak memikirkan berat badanmu?" Tanya sosok itu dengan sebelah alis terangkat. Kini menggunakan bahasa ibu Jessica.
Jessica mengibaskan tangan tak peduli. "Aku bukan model lagi, naik satu-dua kilo bukanlah masalah besar." Gadis itu kembali menyendok makanannya sebelum melanjutkan. "Lagi pula aku pergi ke gym tiga kali seminggu, jadi kau tidak perlu khawatir, Louis."
"Aku sama sekali tidak khawatir." Louis menyanggah dengan cepat namun gadis itu sama sekali tidak mengacuhkannya.
"Omong-omong, tadi aku bertemu Krissie."
Senyum Louis langsung muncul dan Jessica berusaha meredakan jantungnya yang selalu bereaksi sama ketika melihat senyum itu. "Benarkah? Bagaimana kabarnya?"
"Baik. Dan dia sangat penasaran dengan pasanganku di pesta Krystal nanti karena aku sudah menolak ajakannya."
"Dia memintamu menjadi pasangannya di pesta? Kenapa kau?"
"Karena aku cantik?" Jessica membalas setengah bergurau.
"Oh, please." Louis memasang wajah ingin muntah dan Jessica langsung menendang tulang keringnya di bawah meja. "Memangnya kau ingin akan dengan siapa?"
"Tentu saja kau." Tandas Jessica penuh yakin.
Lelaki di depannya langsung mengeluarkan erangan lelah bercampur kesal. Tangannya tanpa sadar mengacak surainya yang berwarna merah terang, hal yang Jessica ketahui kerap dilakukan Louis ketika merasa kesal. "I'm not doing this anymore, J. Kau sudah berjanji tidak akan merepotkanku lagi setelah aku menemanimu ke Seoul bulan lalu."
"Tapi aku sudah terlanjur menolak ajakan Kris. Dia pasti akan mengejekku jika tiba-tiba aku bilang menerima ajakannya." Jessica merengek dengan nada kekanakan yang pastinya akan berhasil jika saja Louis tidak melihatnya terlalu sering.
"Cari orang lain saja."
"Tapi aku juga sudah terlanjur bilang bahwa dia mengenal pasanganku, ayolah…"
Jessica bisa melihat bahu Louis mendadak menegang dan suaranya menjadi lebih berat dari sebelumnya. "Kau mengatakan sesuatu tentangku?"
"Tidak." Dan jawaban Jessica langsung mengendurkan kembali bahu lelaki tersebut. "Lebih tepatnya belum. Dan aku dengan senang hati akan mengatakan semuanya pada Kris jika kau tidak mau melakukannya sendiri."
"Kau sudah ikut campur terlalu jauh, Soo Yeon-ah." Louis menukas dengan sorot mata memperingati namun Jessica seolah tidak terpengaruh sama sekali.
"Aku terpaksa melakukannya karena kau terlalu pengecut untuk mengambil langkah sendiri."
Louis menghela napas panjang. Jessica adalah gadis manis yang menjadi kesukaan banyak orang. Sifatnya ceria dan bersahabat, namun sangat keras kepala. Ketika gadis itu menginginkan sesuatu, ia tidak akan berhenti sampai mendapatkannya. Sedikit banyak karakter Jessica mengingatkan Louis dengan seseorang di masa lalunya.
"Aku rasa ini bukanlah waktu yang tepat, Jessi."
"Tidak. Ini adalah waktu yang tepat." Jessica membantah cepat. "Bahkan aku rasa ini adalah waktu paling tepat yang kau tunggu-tunggu sejak delapan tahun terakhir."
Ketegasan dalam suara Jessica membuat Louis kehilangan kata-kata. Sebagian hatinya berselimut rasa takut akan segala kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika ia mengikuti permintaan Jessica, dan sialnya lagi benaknya lebih banyak membuat kemungkinan yang akan berujung menjadi mimpi buruk. Louis tidak sadar tapi sudah lama dirinya merasa bahwa ia tidak pantas mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki beberapa hal yang sudah ditinggalkannya.
Namun sebagian hati yang lainnya lagi dipenuhi oleh berbagai macam emosi yang terus memakan dinding pertahanannya sedikit demi sedikit. Jauh dalam hatinya ia tahu ia ingin kembali, bahkan walau hanya untuk sejenak dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa sahabat-sahabat yang ditinggalkannya baik-baik saja, bahwa orang yang paling berarti dihidupnya masih bernapas dan hidup. Mungkin –atau tidak mungkin lagi– Louis hanya tidak sadar bahwa ia merindukan sosok itu lebih dari yang disadarinya; lebih dari yang sanggup diakuinya pada dirinya sendiri.
Dan tampaknya gadis cantik yang duduk dihadapannya juga mengetahui hal tersebut, karena suaranya mengandung rasa simpati dan pengharapan ketika bertanya;
"Tidakkah kau sudah terlalu lama melarikan diri, Chan Yeol-ah?"
Tbc
Night's footnote:
HELLO!
Lama gak apdet yah? Hehe. Sorry for letting you hanging so long. Gak ada alasan lain kecuali sibuk kuliah, apalagi semester kemarin ada dua mata kuliah yang 4 SKS. Can you imagine that? But, it's all over now, lagian itu udah konsekuensi jadi yah…
Anyway, kemarin banyak yang kecewa yah karena chap 8 isinya VKook? I'm sorry, tapi di chap 7 kemarin Night udah jelasin di note kalau chap 8 itu special update dan gak ada hubungannya sama CHANSOO. Well, it's okay. Semoga setelah baca chap ini kalian gak makin kesal hehe *evil laugh*
Yak, as always, thank you for reading and don't forget to leave something on my review box. I'll really appreciate that. Buat new reader, WELCOME! Thanks for coming and don't leave before it reaches its end, deal? DEAL! _
Semoga chap ini worthy buat penantian kalian. You know I didn't mean it. Terima kasih karena sudah bertahan sampai sejauh ini. I LOVE YOU ALL! SO SO MUCH xxoxxoxxoxx
With love, Night.
