Uwaaahh wkt ngeliatin review, ternyata Fire dpt FLAME pertama!

Wow!

Entah kenapa Fire seneng banget^^

Karena dr dulu Fire pengen tahu, apa sih FLAME itu?

Makasih buat Sagerinnegan yg bilang klo fict ini membosankan, krn dgn demikian Fire bs berusaha bikin supaya fic ini nggak ngebosenin.

Dan khusus buat Sagerinnegan-senpai, gomenasai ya kalo menurut pandangan senpai fict ini membosankan.

Dan terima kasih buat para readers, yg login maupun yg nggak login, yang sudah berkenan mereview chapter sebelumnya

Baiklah!

Silahkan dinikmati chapter ini!


CHAPTER 10 : WISHING YOU WERE SOMEHOW HERE AGAIN

Sedikit dari chapter sebelumnya..

Hinata sedang berjalan menyusuri lorong-lorong penjara khusus Konohagakure. Di tangannya tergenggam setangkai bunga mawar merah yang sangat indah yang terikat dengan sebuah pita berwarna violet yang sangat bagus. Seulas senyum merebak di wajah cantiknya.

Dia ingin secepat mungkin bertemu Gaara!

Dia ingin mengatakan pada Gaara tentang perasaannya yang sebenarnya terhadap pemuda Ai itu!

Bahwa..

Dia mencintai Gaara.

Akhirnya Hinata sampai di depan sel Gaara. Tangannya hendak memutar kenop pintu saat dia mendengar namanya dipanggil oleh sebuah suara yang berat dan maskulin.

"Hinata-sama."

Hinata berbalik. Dilihatnya siapa yang berdiri di belakangnya.

"Sasuke-san." Hinata membiarkan tangannya jatuh lemas ke sisi tubuhnya.

Sasuke tersenyum semanis mungkin pada Hinata. "Sudah pulang, Hinata-sama?"

Hinata mengangguk. Mata darahnya menatap mata onyx Sasuke.

"Kau mencari Sabaku-san?" tanya Sasuke, melangkah mendekati Hinata. Hinata mengangkat wajahnya mendengar nama depan Gaara disebut.

"Benar. Bukankah dia ada di dalam?" tanya Hinata dengan nada datar dan formal.

"Lho? Apa Hokage-sama nggak memberitahumu?" kata Sasuke dengan nada pura-pura terkejut.

"Ada apa?" tanya Hinata. Perasaannya mulai tidak enak. Tangannya menggenggam tangkai mawar dengan lebih erat.

"Sabaku no Gaara-san sudah kembali ke Sunagakure sejam yang lalu sebelum kau datang."


Dua hari setelah event chapter sebelumnya..

"Ayah!" suara melengking dari seorang gadis berambut gelap dan bermata lavender menggema di ruang kerja Hiashi.

Hiashi memandangi putri bungsunya yang kini berdiri dengan memasang raut wajah marah di depannya. Alis sang Hyuuga Leader bertaut erat. Frustrasi adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang kini dirasakan olehnya.

"Ayah! Gara-gara Ayah tidak meminta Hokage-sama mencegah Gaara dibawa kembali ke Suna oleh Yondaime Kazekage sialan itu, Hinata Onee-san jadi pemurung seperti ini! Dia nggak mau makan ataupun keluar! Dia terus mengunci diri selama 2 hari ini di kamar dan taman pribadinya! Semua gara-gara Ayah yang tidak mencegah Gaara-san dibawa pulang! Dan aku tahu bahwa Ayah justru senang! Padahal Ayah sudah tahu, kalau Hinata Onee-san menyukai Gaara-san!" Hanabi membentak ayahnya. Kemarahan tampak jelas di wajah cantik gadis Hyuuga pengguna Teknik Pulau Persik itu.

"Hanabi, aku hanya menginginkan yang terbaik bagi Hinata. Aku memang tahu Hinata menyukai Gaara, tapi Gaara adalah Jinchuuriki, Hanabi. Itu akan membahayakan Hinata juga kita." Jawab Hiashi dengan nada suara berwibawa namun tampak jelas memancarkan rasa penyesalan yang sangat dalam.

"Huh! Itu terus yang Ayah katakan! Aku bosan! Aku nggak mau tahu! Aku tahu jika Hinata Onee-san tidak mempedulikan apakah Gaara-san Jinchuuriki atau bukan! Pokoknya.. Pokoknya aku ingin Hinata Onee-san yang dulu! Ini semua gara-gara Ayah! Ayah dan Yondaime Kazekage sialan itu!" Hanabi membalikkan badan dengan marah, lalu keluar sambil membanting pintu ruang kerja ayahnya, meninggalkan sosok sang Hyuuga Leader yang termenung memikirkan putri sulungnya.

"Ayah jahat! Ayah jahat! Ayah jahat!" kata-kata itu terus terulang di benak Hanabi saat dia mempercepat langkah menuju kamar kakaknya. Tanpa disadarinya, cairan bening yang disebut airmata mengalir di kedua pipinya. Hanabi tak berusaha menghapusnya. Pandangannya menjadi berkabut, tapi dia tak peduli. Kini yang ada di pikirannya hanya kakaknya.

Dia teringat saat Gaara akan dibawa oleh Yondaime Kazekage, ayahnya ada di sana. Dan ayahnya tak melakukan apapun.

Hanya diam begitu saja dan tak melakukan apapun.

Sesampainya di depan pintu kamar Hinata, Hanabi menghapus jejak-jejak airmata di pipinya. Dia berdehem dan menghela napas, lalu mengetuk pintu. Saat tidak ada jawaban dari dalam, Hanabi menghela napas sekali lagi kemudian memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kakaknya.

Hanabi, yang mana membuatnya heran, tidak terkejut saat mendapati kamar kakaknya kosong. Hinata tak ada di dalam kamarnya. Hanabi membiarkan sebutir airmata menetes lagi dari matanya. "Mungkin Hinata Onee-san ingin sendirian."


Keheningan total malam ini sedikit ternoda oleh suara langkah kaki yang nyaris tak terdengar, yang asalnya dari seorang wanita berambut Indigo gelap nyaris hitam yang juga mengenakan kimono hitam. Wajahnya void dan tak beremosi sedikit pun. Kedua bola matanya yang berwarna semerah darah seakan tak pernah dimasuki perasaan, sangat emotionless. Semua ciri-ciri yang disebutkan ini menunjuk pada gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Hyuuga Hinata.

Hinata berjalan melalui tepi sebuah jalan besar yang sepi di Konohagakure. Di sisi kiri kanannya toko-toko dan kedai sudah hampir tutup semuanya, maklum malam sudah sangat larut. Angin malam yang berhembus membuat rambut gelapnya berkibar-kibar, menambah kesan mengerikan pada dirinya. Semua orang yang sempat melihatnya pun segera membeku ketakutan, apalagi saat melihat mata darahnya. Tapi Hinata sama sekali tidak memperdulikan tatapan orang-orang atas dirinya. Hanya ada satu hal, lebih tepatnya satu orang, yang memenuhi pikirannya saat ini.

SYUT

Hinata tiba-tiba menghilang, menyebabkan orang-orang di sekelilingnya makin ketakutan, bahkan ada yang menjerit dan pingsan. Ya ampun!

Hinata muncul di perbatasan antara Konoha dan Suna. Dia duduk di atas patung tertinggi dan membiarkan angin mempermainkan rambut panjangnya.

*Fire sarankan saat membaca bagian Hinata's POV sampai End Hinata's POV berikut ini Minna-sama sambil mendengarkan lagu berjudul 'My All' by Mariah Carey, supaya suasananya lebih berasa –ciaila!-*

Hinata's POV

I am thinking of you

In my sleepless solitude tonight

If it's wrong to love you

Then my heart just won't let me be right

Cause I've drowned in you

And I won't pull through

Without you by my side

Gaara-san, kenapa kau pergi meninggalkanku?

Padahal kau sudah berjanji.. berjanji bahwa kau akan tetap tinggal di Konohagakure.. tinggal di sebelahku.. apapun yang terjadi.

Kau bilang, walaupun mereka memaksamu, kau akan tetap tinggal di sisiku. Tapi kenapa sekarang kau malah menghilang? Apa mereka memaksamu? Tapi kau sendiri yang bilang bahwa meski mereka memaksa, kau akan menolak.

Kau sudah mengajariku apa itu cinta..

Apa itu perasaan..

Dan sekarang kau malah menghilang begitu saja?

Mengenai perasaanku, apa aku salah jika aku mencintaimu, Gaara-san?

Apa aku salah?

Tapi walaupun aku salah, hatiku tak membiarkanku berpikir demikian. Walaupun aku salah..

..hatiku tak membenarkan pendapatku bahwa aku salah jika mencintai dirimu, Gaara-san..

I'd give my all to have

Just one more night with you

I'd risk my life to feel

Your body next to mine

Cause I can't go on

Living in the memory of our song

I'd give my all for your love tonight

Aku ingin bersamamu lagi.. walaupun cuma satu malam saja. Aku akan memberikan apapun.. apapun.. apapun, Gaara-san..

Agar kau aku bisa merasakan dirimu berada di sebelahku lagi.

Aku sangat kesepian, Gaara-san. Apa kau tahu itu?

Apa kau tahu kalau aku kesepian karena kau sudah lenyap dari sisiku?

Aku akan memberikan segalanya.. aku akan mempertaruhkan segalanya.. bahkan perasaan yang sudah kau berikan padaku..

..hanya demi dirimu, Gaara-san..

Imagining I'm looking in your eyes

I can see you clearly

Vividly emblazoned in my mind

And yet you're so far

Like a distant star

I'm wishing on tonight

Akhir-akhir ini, aku sering membayangkan dirimu ada di sebelahku, Gaara-san. Walaupun dalam kenyataannya kau berada nun jauh di sana, di Sunagakure.

Aku sering membayangkan kalau aku melihat ke dalam matamu yang ramah dan menenangkan. Aku bisa dengan jelas melihat bayanganmu, namun kau sangat jauh.

Jauh dariku.

Kau seperti bintang bersinar yang berada jauh di langit di atas sana. Bintang terang yang di atasnya aku menaruh permintaan dan harapanku..

Juga cintaku.

I'd give my all to have

Just one more night with you

I'd risk my life to feel

Your body next to mine

Cause I can't go on

Living in the memory of our song

I'd give my all for your love tonight

Aku tak bisa berhenti memikirkanmu, Gaara-san. Kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkanku sendirian sambil terus menerus memikirkanmu di sini?

Aku tak bisa begini terus. Aku tidak bisa terus termenung di sini sambil mengingat-ingat saat-saat kita bersama. Aku menginginkan kau sekarang di sisiku, Gaara-san.

End Hinata's POV

Normal POV

Hinata berdiri setelah beberapa saat tenggelam dalam pikirannya tentang sang Jinchuuriki Shukaku. Dia kembali ke Konohagakure dan kembali berjalan tak tentu arah. Hinata terus melangkahkan kakinya tanpa arah tujuan yang jelas. Dia tidak ingin pulang ke Hyuuga Palace, karena di sana pikirannya akan makin kacau.

Dalam perjalanan malamnya yang sepi, dia melewati sebuah gang yang dijadikan tempat berkumpul para pria yang sedang minum minuman keras. Hinata tak bermaksud ikut campur, namun langkahnya terhenti saat dia mendengar salah satu pria berkata.

"Hei apa kalian tahu? Si monster bernama Gaara yang beberapa tahun lalu dikirim ke Konohagakure sudah pulang ke Suna!"

Mendengar nama Gaara disebut, Hinata berhenti dan bersembunyi di salah satu sudut gelap untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Bola mata darahnya bergerak dan melirik ke arah kumpulan pria tersebut.

"Benarkah? Bagus kalau begitu! Kita jadi nggak khawatir lagi! Lagipula apa sih gunanya monster itu di sini? Mengganggu saja!"

"Betul! Keberadaannya di sini hanya mengancam penduduk Konohagakure!"

"Dia tidak pantas hidup! Sebaiknya dia mati saja!"

Mendengar semua kata-kata menyakitkan yang dikatakan para pria asing itu, Hinata merasa hatinya memanas. Benar.

Hinata marah.

Berani-beraninya orang-orang itu mengatakan bahwa Gaara sebaiknya mati saja!

Tanpa menimbulkan suara sekecil apapun, Hinata membentuk beberapa hand seal dan muncullah sebilah Nodachi (pedang samurai panjang) hitam berjenis Shirasaya. Sarung pedangnya yang elegan dengan warna hitam legam tampak berkilat ditimpa sinar lampu jalan ditambah sinar bulan.

Hinata pun menampakkan diri di depan para pria tersebut, membuat mereka terkejut saat mereka melihat siluet sesosok wanita yang tak terlihat karena gelap dan hanya menampilkan dua bola mata darah yang berkilat.

Para pria tsb membeku ketakutan saat kedua bola mata darah Hinata seakan menusuk jiwa mereka dengan tatapan intens yang sangat emotionless. Tangan putih Hinata memegang pedangnya, yang masih beristirahat dalam sarungnya, di depan wajahnya. Tangan kirinya memegang sarungnya, sementara tangan kanannya memegang gagang pedang. Sebuah puisi pendek melantun dengan nada datar namun mengerikan dari bibir pucat Hinata.

"Saat mata sang Dewi Neraka melihat ke arahmu dengan hati yang dipenuhi kemarahan.."

CLING

Hinata menarik pedangnya sedikit dengan sentakan yang kuat, menampilkan 1/3 bilah pedangnya yang berkilauan dengan sangat terang. Para pria di depannya segera mengangkat tangannya untuk melindungi mata mereka, silau akibat kilauan bilah pedang Hinata.

"Saat itulah akhirmu akan tiba!"

SYUTT

Sosok Hinata menghilang tanpa jejak.

"Hei, kemana wanita misterius itu?" para pria asing tsb kebingungan sambil celingak-celinguk mencari Hinata.

"Apa yang kau cari?"

Suara dingin bersuara dari balik kegelapan.

JRASS

"Matsumoto!" salah satu dari kumpulan pria itu memanggil nama temannya yang kini tubuhnya tanpa kepala.

"Sayonara."

Suara dingin Hinata bersuara di telinganya. Napas yang dingin membuat rasa ngeri menjalar di sekujur tubuhnya.

JRASS JRASS JRASS

Di tengah kegelapan malam, terjadi pembantaian tanpa perasaan yang dilakukan Hinata terhadap segerombolan pria yang berani mengolok Gaara.

Walaupun tersembunyi dengan kegelapan gang yang nyaris tanpa cahaya, kilauan pedang Hinata masih bisa terlihat jelas sebagai satu-satunya cahaya di situ, meski besi bilah pedangnya ternoda oleh beberapa titik darah. Bola mata darah Hinata juga bersinar di dalam kegelapan.

Hinata mengangkat pedangnya yang berkilauan ke depan wajahnya, kemudian berkata dengan nada yang datar dan agak mirip suara desahan kasar *bayangkan suara Enma Ai sang Jigoku Shoujo*

"Hontou ni.. Hyuuga Hinata katana tanta na."

I'd give my all to have

Just one more night with you

I'd risk my life to feel

Your body next to mine

Cause I can't go on

Living in the memory of our song

I'd give my all for your love tonight

Give my all for your love

Tonight...


Sunagakure, kamar Gaara..

Suara erangan lirih terdengar jelas dari sebuah kamar yang bisa dibilang cukup luas yang letaknya di lantai teratas Kediaman Rei. Erangan tsb sangat menyayat hati, seperti suara erangan orang yang merasakan penderitaan amat sangat.

Suara erangan itu berasal dari mulut seorang pemuda berusia 21 tahun Jinchuuriki Shukaku yang berambut merah. Dia berbaring di atas kasur berseprai putih, kasurnya. Tangannya mencengkeram erat kain seprai kasurnya hingga buku-buku jemarinya memucat. Keringat membasahi tubuhnya dan menetes dari alisnya yang tak ada di tempat. Ya. Pemuda yang sedang kita bicarakan ini adalah Sabaku no Gaara.

Seluruh tubuhnya masih penuh luka memar dan luka sobek yang masih sedikit berdarah bekas cambukan Sasuke. Lebam di mata kanan dan sudut bibir kirinya masih belum hilang. Rasa kram dan nyeri serta perih masih sangat terasa di seluruh tubuhnya. Suara rintihan pelan namun serak keluar dari mulutnya.

Dia dibawa kembali ke Sunagakure dengan paksa oleh ayahnya, Yondaime Kazekage. Saat Yondaime Kazekage tiba, Sasuke mengeluarkannya dari sel tempatnya disiksa setelah lebih dulu membiusnya. Gaara tidak tahu bagaimana reaksi ayahnya saat melihat kondisinya yang mengenaskan. Yang Gaara tahu, begitu dia terbangun, dia sudah berada di sebuah kamar luas yang dikunci dari luar.. dan rasa sakit yang langsung menyerang tubuhnya dengan bertubi-tubi.

Sudah dua hari dia pingsan dan hal pertama yang diingatnya setelah matanya terbuka dan kesadarannya kembali sepenuhnya adalah Hinata.

Sambil menderita menahan siksaan yang sekarang dialaminya ini, benaknya terus memikirkan sang gadis Hyuuga yang sangat dicintainya melebihi apapun di dunia.

Setelah rasa sakit yang dirasakannya mereda, dia dengan tertatih-tatih berdiri lalu berjalan menuju jendela kamarnya. Dengan tangannya yang gemetaran dia membuka jendelanya, membiarkan angin malam masuk dan menerpa tubuhnya yang langsung menggigil kedinginan walaupun sudah mengenakan pakaian.

Mata turquoise nya menengadah dan melebar saat dia melihat bulan yang bulat sempurna di langit malam yang cerah tak berawan. Sinar keperakan bulan menimpa tubuhnya, membuat kulitnya yang putih semakin pucat. Matanya tak beralih memandangi bulan yang menurutnya sangat indah itu.

Melihat bulan yang bersinar dengan indahnya, dia perlahan tersenyum.. dan teringat Hinata.

SYUT

TAP

Entah dari mana didapatnya kekuatan untuk meloncat ke atas atap kamarnya. Gaara duduk di atas atap, sambil menekan perutnya yang terasa menggigit dan nyeri. Pandangannya tak beralih dari bulan yang bersinar makin terang, menerangi malam yang gelap, dingin dan sepi itu. Gambaran-gambaran tentang Hinata melintas terus di pikirannya tanpa henti seiring dengan dia melihat bulan.

*dari Gaara's POV sampai End Gaara's POV, Fire saranin Minna-sama sambil dengerin lagu judulnya 'Talking To The Moon' –nya Bruno Mars, biar lebih berasa sedih2 gimana gitu*

Gaara's POV

I know you're somewhere out there

Somewhere far away

I want you back

I want you back

My neighbors think I'm crazy

But they don't understand

You're all I have

You're all I have

Hinata-sama..

Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?

Maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku untuk terus berada di sampingmu.

Maafkan aku yang lemah ini..

Hinata-sama, aku sangat merindukanmu. Aku tahu kau ada di sana, di suatu tempat yang sangat jauh dariku.

Aku menginginkanmu kembali..

Ingin agar kau kembali di sisiku lagi.. bersamaku lagi..

Hanya kau yang kumiliki di dunia ini, Hinata-sama..

At night when the stars light up my room

I sit by myself

Malam ini begitu cerah, Hinata-sama. Tak ada awan sedikit pun yang menghalangi. Bintang-bintang juga bersinar terang. Indah sekali.

Hinata-sama, apa kau juga sedang mengagumi cerahnya malam ini sepertiku?

Apa kau juga duduk sendirian seperti aku yang kini memandangi bulan dan bintang sendirian?

Talking to the Moon

Try to get to you

In hopes you're on the other side

Talking to me too

Or am I a fool who sits alone

Talking to the Moon

Aku seperti berbicara sendiri dengan bulan, Hinata-sama. Tapi aku mencoba untuk meraihmu yang aku tahu tidak akan mungkin. Aku berharap kau ada di sisi sebelah sana dan berbicara juga denganku.

Tapi kalau harapanku tak terkabul, apakah aku ini adalah seorang pemuda bodoh yang duduk sendirian dan berbicara kepada bulan yang tak mungkin menjawabku?

I'm feeling like I'm famous

The talk of the town

They say I've gone mad

Yeah

I've gone mad

But they don't know what I know

Cause when the sun goes down

Someone's talking back

Yeah

They're talking back

Aku bisa merasakan semua penduduk desa yang masih bangun di malam ini sedang menatap ke arahku, Hinata-sama. Mungkin mereka pikir aku gila karena duduk sendirian dan berbicara kepada bulan yang bisu.

Mungkin mereka pikir aku sudah kehilangan kewarasanku gara-gara apa yang kulakukan ini. Tapi aku tidak peduli. Kerinduanku padamu lebih besar dari rasa maluku. Aku tidak peduli apa yang dibicarakan orang tentang aku.

At night when the stars light up my room

I sit by myself

Talking to the Moon

Try to get to You

In hopes you're on the other side

Talking to me too

Or am I a fool who sits alone

Talking to the Moon

Hinata-sama, apakah kau juga merindukanku?

Atau apakah aku terlalu banyak berharap?

Mungkinkah kau juga merindukanku di Konohagakure sana? Mungkinkah?

Hinata-sama, hanya karena kau aku menjadi sangat kacau seperti ini.

Kita tidak sempat mengucapkan selamat tinggal, Hinata-sama. Pertemuan terakhir kita terasa sangat berkesan bagiku, seperti sesuatu yang amat sangat berharga dalam kehidupanku.

Pelukan terakhirmu sebelum kau pergi meninggalkanku ke Negara Mizu.. masih sangat terasa hangat di tubuhku. Meskipun tubuhku sangat terasa sakit, kehangatan pelukanmu saat itu masih membekas dan memberi aku kekuatan untuk menahan derita ini.

Do you ever hear me calling?

Hinata-sama, apakah kau bisa mendengar suaraku?

Apa kau bisa mendengarku memanggil-manggil namamu?

Aku ingin berharap kau bisa mendengarku walaupun cuma sebatas dan sepelan angin lalu di telingamu.

Cause every night

I'm talking to the moon

Still trying to get to you

In hopes you're on the other side

Talking to me too

Or am I a fool who sits alone

Talking to the Moon

Hinata-sama, aku ingin sekali lagi bertemu denganmu..

Akan kuberikan segalanya.. akan kukorbankan segalanya..

Nyawaku sekalipun..

Demi bisa bersamamu walaupun hanya sesaat..

Demi bisa melihat senyummu dan merasakan pelukanmu..

Hinata-sama..

Aku mencintaimu..

Apakah kau juga mencintai aku?

Cause every night

I'm talking to the Moon

Still trying to get to you

In hopes you're on the other side

Talking to me too

Or am I a fool who sits alone

Talking to the Moon

I know you're somewhere out there

Somewhere far away

-TBC-


*Hontou ni Hyuuga Hinata katana tanta na = ini benar-benar pedang Hyuuga Hinata

Fiuh akhirnya update juga

Gomenasai kalo misalnya menurut Minna-sama ini membosankan, soalnya Fire ingin memfokuskan ke sudut pandang Gaara dan Hinata saat mereka terpisah

Tapi Fire harap Minna-sama tetep suka deh^^

Tolong di review ya?