Joker Game © Yanagi Koji

saya tidak mengambil keuntungan materiil apa pun dari menulis fanfiksi ini.

.

Jingga

post-canon. drabble. hatajitsu/jitsuhata.


x. surat

Jika ada sesuatu yang bisa membuat Hatano seketika melankolis, itu mungkin adalah mendapati harum makanan ketika ia baru membuka pintu depan. Rasanya tidak ada yang lebih memuaskan dari bekerja seharian kemudian mendapati seseorang menunggumu di rumah, siap memanja dan menemanimu melepas lelah. Barangkali begini rasanya memiliki istri, Hatano pikir (istri yang sanggup membuatnya sakit pinggang berhari-hari, lebih tepatnya), atau sebenarnya semua pikiran tolol itu memang efek perut minta diisi saja.

"Okaeri!"

Yang mana pun, ia langsung melepaskan sandal begitu mendengar suara Jitsui dari bagian dalam. Payung disandarkannya di dekat pintu masuk, masih meneteskan air bekas menahan gerimis sepanjang perjalanan pulang. Ada daun cokelat yang menempel di kertas minyaknya, membawa serta harum musim gugur ke dalam rumah. Ia tidak mempermasalahkan, toh masih lebih baik basah sedikit dibanding merasakan gerahnya musim panas.

Hatano melangkah naik dari genkan, menggeser pintu membuka dan mendapati Jitsui sedang duduk di ruang tengah, dengan masakan yang mengepul di atas meja.

"Wah," komentarnya begitu melihat porsi dan variasi makan malam mereka, "ada sesuatu yang mau dirayakan, atau kita bakal kedatangan tamu?"

"Tidak tepat dua-duanya."

"Lalu apa?" Sebelah alisnya terangkat. "Tumben sekali kau masak, sedang menganggur?"

"Aku tidak keluar hari ini," kata Jitsui. Itu tidak menjawab pertanyan. Hatano akhirnya mengempaskan diri ke bantal duduk, berhadapan dengannya di meja. Lelaki berambut hitam itu menunggu hingga dirinya menemukan posisi nyaman sebelum mendorong sebuah amplop hijau muda ke arahnya. "Dari Asosiasi Budaya Asia Timur."

Kalau saja ia bukan orang terlatih, napasnya pasti sudah tersendat. Hatano melirik amplop itu, berusaha sebisanya untuk memasang muka tidak tertarik, tapi malah berakhir dengan wajah yang kelihatan kesal. "Kau serius?"

"Aku sengaja menunggumu pulang sebelum membukanya," mata Jitsui yang seperti kelereng obsidian menatap ke arahnya, "kalau-kalau Hatano lebih memilih untuk membakarnya saja."

"Jangan," sahutnya cepat, lalu menyesali refleks lidahnya sendiri. Ia berdecak ketika Jitsui mendengus menertawakan.

Asosiasi Budaya Asia Timur terdengar sangat familiar; dulu ada kata Raya yang terselip di belakangnya, beberapa tahun sebelum perang dan ketika Jepang masih menjadi kekaisaran yang penuh kuasa. Hatano tidak akan pernah bisa melupakan frasa itu, ditulis dengan tinta hitam di papan yang dipasang ke tembok merah, dilihatnya setiap kali ia melewati pintu depan agensi, berfungsi sebagai nama palsu yang menutupi fasilitas pelatihan untuk orang-orang yang juga palsu. Mereka tidak pernah menyebut apa pun yang ada hubungannya dengan mata-mata sejak malam menjelang akhir musim panas itu, tapi keduanya sama-sama tahu, bahwa akan tiba hari mereka harus memilih.

Hatano tidak akan bohong, seberapa pun besarnya keinginan untuk tinggal selamanya di kota kecil itu, ia yakin pada suatu titik dirinya pasti bisa sungguhan gila karena bosan. Mungkin memang ia sudah ditakdirkan untuk hidup dalam pengejaran dan ketegangan, karena ternyata melewati hari-hari dengan tenang saja tidaklah cukup baginya. Seperti ketagihan adrenalin, atau pembuktian pada diri sendiri kalau ia sanggup melakukan misi.

Ia sudah tidak memikirkan tentang alasannya lagi, bahkan, yang ia tahu hanyalah menjadi mata-mata telah mengalir dalam darahnya, meresap sampai ke inti. Maka percuma berusaha lari dan sembunyi, karena siapa juga sih yang mau ia bohongi?

Hatano merobek ujung amplop, mengeluarkan isinya ke meja. Kertasnya berwarna putih polos, dilipat tiga dengan rapi. Dikembalikannya kertas itu pada Jitsui. "Kau saja yang baca lebih dulu."

Alis pemuda itu terangkat sedikit ketika meliriknya, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Hatano sebenarnya lebih suka memfokuskan pandangannya pada jari-jari Jitsui yang membuka lipatan surat dibanding memikirkan apa yang mungkin tertulis di dalam sana, tapi pikirannya bekerja lebih kilat dari yang ia duga, dan begitu saja, ia sudah bisa menebak apa isinya.

Ia menumpukan dagunya ke tangan, sementara dalam hening lelaki yang satunya membaca.

Tentang apakah Jitsui juga memiliki rencana yang sama dengan Hatano soal masa depan, ia tidak bisa benar-benar mengklaim kalau ia tahu, karena tampaknya si rambut hitam terlihat cukup nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Meski Jitsui memang masih mempertahankan beberapa koneksi informasinya, bukannya tidak mungkin kan, kalau suatu saat ia akan melepaskan semuanya. Namun fakta bahwa si lelaki tidak langsung saja menghancurkan surat itu ketika menerimanya dan memilih untuk menunggu Hatano pulang bisa berarti dua hal; Jitsui mungkin tertarik untuk kembali jadi mata-mata, atau ia akan tetap tinggal dengan risiko bahwa ia mungkin harus merelakan Hatano. Pikiran itu membuatnya tidak nyaman; ia tidak mau berpisah, tapi hidup selamanya seperti yang ia lakukan sekarang juga tidak menjamin kewarasan, tapi

Rangkaian kemungkinan itu terputus dalam benaknya ketika Jitsui mengembalikan kertas surat ke meja, berkomentar tanpa emosi, "Isinya tepat seperti yang sudah kita tahu."

Alih-alih menyahut, Hatano hanya meraih surat itu dan membaca isinya cepat. Matanya bergulir naik-turun, baris demi baris, meniti hingga ke akhir setiap kalimat. Dari bibirnya terselip keluar bunyi decak—"Karena itu, jika berkenan, maka kedatangan Anda diharapkan di gedung Asosiasi Budaya Asia Ti—omong kosong apa lagi ini?"

Salah satu alis Jitsui terangkat, sorot matanya hampir seperti ketika ia sedang tertawa. "Jenis omong kosong yang bakal dipakai Yuuki-san, bukan?"

Hatano menahan dorongan untuk tersenyum. "Dan kau lihat pembukanya? 'Sedikit demi sedikit angin sejuk membawa dedaunan cokelat, di musim gugur yang—siapa sih yang masih pakai basa-basi semacam ini?"

Jitsui memasang muka pura-pura serius. "Hatano, coba dibaca ulang, siapa tahu ada pesan bersandi di kalimat yang itu."

"Oh tentu," Hatano melempar kertas surat ke atas amplopnya, "aku bisa melihat banyak sekali kode penting di antara kanjinya."

"Mungkin ini sebuah tes."

"Atau umpan. Hati-hati ya, bisa saja ini jebakan."

"Barangkali kali ini memang ada asosiasi budaya sungguhan."

"Oh bagus," ia merasa senyumnya sendiri mulai merekah, "karena aku tidak sabar untuk bergabung."

"Bergabung kembali, maksud Hatano?"

Lengkungan di bibirnya seketika menghilang; ia megatupkan mulut, tahu kalau suatu saat topik ini pasti terangkat juga. Cepat atau lambat, rumah di kota kecil tepi laut itu hanya tidak akan ada ubahnya dengan ilusi. Bertahun-tahun dari sekarang, mungkin rentang waktu yang pernah dihabiskannya di sini hanya akan menjadi gambar yang kaku, layaknya foto sepia berpigura yang kacanya berdebu, ditempatkan di suatu sudut tak tersentuh yang bahkan hampir tidak pernah ditengoknya lagi.

(Dan kedua Morishima abadi sesaat dalam foto itu, bersantai di teras kala suatu musim panas yang selalu begitu dibenci si kakak.)

"Ya." Jawabnya singkat. Suaranya pelan, tapi kukuh. Hatano telah memikirkannya terlalu lama dan berulang kali untuk membiarkannya berlarut-larut lagi. Ia siap mendapat wajah sakit hati atau makian apa pun dari orang yang paling dicintainya, maka ditatapnya mata lelaki itu sembari berkata, "Bagaimana denganmu, Jitsui?"

Hatano tidak langsung mendapat jawaban. Malahan, Jitsui berdiri tanpa kata-kata, beranjak ke pintu geser yang menghadap teras dan membukanya. Lelaki itu menatap kolam di taman yang beriak dihujani rintikan hujan, lalu beralih pada suatu titik di kejauhan. Hatano tahu sesuatu yang seperti ini akan terjadi. Jistui pasti sangat kecewa, dan barangkali juga marah. Tidak semua mata-mata seberuntung mereka bisa mendapatkan hidup yang damai dan ideal; mereka telah punya semua yang mereka butuhkan dan tidak perlu terus-terusan mempertaruhkan nyawa bagi negara yang bahkan tidak mau mengakui mereka ada. Mereka bisa saja bahagia—seandainya mau mencoba, seandainya Hatano bukan orang bodoh yang ketagihan berada dalam tantangan serta bahaya.

Dirinya adalah bagian dari kebahagiaan Jitsui, dan karena keegoisan, sekarang Hatano akan mengambil hal itu juga darinya. Tentu saja, tentu saja Hatano tidak akan bisa jadi orang normal; ia bahkan tidak bisa mencintai dengan benar!

Namun kejemuan mendesaknya hingga hampir gila—tidak, Hatano tidak bisa diam saja—ini mungkin akan jadi keputusan yang disesalinya setiap malam seumur hidup, dan ia tidak yakin seberapa besar patah hati bisa merusak individu karena ia tidak pernah mencintai seseorang hingga sebesar ini—tapi ia tahu ia akan bangkit, Hatano selalu bangkit, ia akan melupakan betapa perpisahan ini menimbulkan perih di dadanya, dan suatu hari ia akan berhenti mengingat kenapa ia pernah mencintai Jitsui.

Hatano ikut berdiri. "Maaf, Jitsui."

Lawan bicaranya mengembuskan napas panjang. "Sejujurnya, aku menyukai rumah ini."

"Aku tahu."

"Kolam ikannya juga, terutama itu."

"Aku juga tahu, maaf."

"Dan momen favoritku adalah duduk di teras, aku membaca dengan kepala Hatano di pangkuanku, lalu kita melewati sore sambil mendengarkan suara bel angin meskipun kau selalu benci musim panas." Akhirnya Jitusi menoleh ke arahnya. "Sebenarnya juga aku lumayan suka musim panas di sini, karena hanya pada saat itu Hatano berdiam di rumah dan rasanya jadi seperti kita memang benar-benar hidup damai. Aku bakal merindukan itu."

Mereka berdiri berhadapan, Hatano berhati-hati agar tidak menginvasi ruang pribadi Jitsui meskipun sudah tidak terhitung berapa kali spasi itu hilang di antara mereka. Apakah ini dia akhirnya? Kalau begitu, ia tidak mau mereka menjadi lebih dekat lagi, karena semakin jauh jarak mereka sekarang, semakin mudah ia menanggalkan semua perasaan lalu melupakan apa pun yang pernah keduanya punya nanti.

"Itu pun aku tahu," kata Hatano kemudian, meyakinkan dirinya sendiri kalau ini akan jadi yang terakhir kalinya ia minta maaf, "karena itu, Jitsui, untuk semua yang pernah ataupun tidak pernah kita punyai, aku benar-benar minta maaf. Tapi percayalah kalau aku bilang aku sudah memikirkan ini matang-matang; aku tidak bisa hidup di sini selamanya, dan surat itu jadi kesempatan yang sempurna untuk mengatakan ini langsung padamu."

"Aku tahu," gantian Jitsui berkata, "makanya aku juga mungkin harus minta maaf implisit pada Ishida-san, karena aku suka menyebutnya imbesil dalam Bahasa Jerman. Walaupun kalau dia, tidak, kurasa aku tidak akan merindukannya."

Ishida-san adalah nama salah satu tetangga mereka yang tinggal di ujung jalan, seorang wanita paruh baya yang sepertinya selalu agak terlalu senang mengobrol dengan Jitsui. "Apa hubungannya ini dengan Ishida-san—?"

"Ini jadi kesempatan yang sempurna juga untuk memberitahu Hatano betapa aku muak dengan kota ini," kedua ujung bibir Jitsui melengkung ke atas hingga matanya menyipit jenaka, dan Hatano tidak pernah gagal terkesan akan bagaimana lelaki itu selalu bisa membuat ekspresi palsunya terkesan tulus, "gaya hidup lambat yang menjengkelkan, tidak praktis, dan kenapa sih jadwal kereta dari sini sangat sedikit? Apakah semua orang begitu puas hingga tidak ada keinginan untuk sering-sering kabur ke kota lain? Untung setidaknya Hatano bersamaku, kalau tidak aku mungkin sudah meninggalkan samaran ini sejak seminggu pertama." Kalimatnya diakhiri dengan tawa; Hatano sudah tidak tahu pasti bagian mana dari kata-katanya yang serius.

"Dan jangan lupa soal barang-barang yang kita sembunyikan," Jitsui mengetukkan sebelah kakinya ke lantai, memberi penekanan, "harus dibawa semua. Aku tidak mau pemilik rumahnya sampai curiga pada kakak-beradik Morishima kalau kita sudah pergi nanti."

"Tunggu sebentar," kata Hatano, "maksudnya, kau juga akan kembali agensi?"

"Tentu saja," jawab Jitsui tanpa jeda, "tadinya aku sempat berpikir kalau tidak akan ada lagi kesempatan untuk jadi mata-mata, tapi hampir ajaib, bukan, bagaimana tahu-tahu surat itu diantar?" Ia memberi isyarat dengan kepala ke arah luar, senyum masih bertahan di bibirnya. "Akhirnya ada juga alasan untuk meninggalkan tempat sialan ini."

"Apanya," suara Hatano bergetar karena dorongan untuk tertawa, entah benar-benar geli atau memang karena bendungan frustrasi, "apanya yang tempat sialan," ia tertawa, meraih kedua siku Jitsui, menarik dirinya sendiri mendekat, "aku kira kau suka rumah ini?"

"Ya, aku suka rumah ini," jawabnya, "dan untuk catatan, aku suka semua rumah yang ada Hatano di dalamnya. Tapi kotanya, kapan aku pernah bilang betah tinggal di tempat yang nyaris terbengkalai ini?"

"Aku selalu mengira—yah, kau selalu terlihat nyaman-nyaman saja hidup di sini, jadi…."

"Aku nyaman hidup dengan Hatano." Tangan Jitsui berpindah ke tengkuk Hatano. "Sudah jelas kalau hidup kita di sini memang samaran sementara, tapi bukan berarti hubunganku dengan Hatano juga sementara… kan?"

"Tidak, tentu saja bukan." Ia merengkuh pinggang lelaki itu, memeluknya seperti ia ingin menghancurkan setiap rusuk yang membangun figur dalam pelukannya.

"Hatano bodoh," Jitsui berkata sesak, jemarinya mengusap sayang helai kecokelatan, "kau terlalu banyak berpikir."

"Kalau kau sadar aku terlalu banyak berpikir, kenapa tidak bilang padaku begini sejak awal?"

"Dan kehilangan hiburan di kota yang semembosankan ini?" Tawanya seperti melodi. "Aku membiarkan saja kau dengan pikiran-pikiranmu supaya aku bisa melihat juga seberapa besar Hatano ternyata mencintaiku—"

Ucapannya terpotong begitu Hatano membungkamnya dengan ciuman. Ia tidak repot-repot menunggu di ambang dengan sopan, dan diserbunya celah di bibir Jitsui tempat sebelumnya kata-kata keluar. Napas menyatu, lidah bertemu; Hatano sudah lupa dengan angin dingin yang masuk dari teras ketika suhu di antara mereka naik drastis, hingga yang ada di benaknya hanyalah Jitsui, dan ia ingin lebih dan lebih dan lebih.

Musim gugur mungkin datang untuk menghapus ilusi musim panas mereka, tapi persetan dengan itu atau kota ini atau kedamaian yang akan mereka tinggalkan. Karena pada akhirnya mereka tetap saja orang-orang yang gagal hidup normal, dan resolusi untuk hidup berjauhan dengan dunia mata-mata gugur seperti dedaunan.

Dunia di luar berubah jingga, baik di langit ataupun pepohonan. Tidak pernah ada yang abadi dan Hatano sudah paham—sejak ia memutuskan untuk meninggalkan nama yang diberikan sewaktu dirinya dilahirkan, sejak ia belajar untuk memalsukan identitas dan membuat pertemanan singkat dengan orang-orang yang mungkin bisa berguna, sejak ia menyaksikan bagaimana negaranya tumbang serta setiap rekan mata-matanya meninggalkan gedung agensi untuk misi (dan satu atau dua orang dari mereka tidak pernah kembali lagi). Ia telah menjadikan itu pegangan dan menerimanya, tanpa pernah membuat dirinya terlalu terikat pada apa pun.

Tapi baru dengan Jitsui—hanya dan satu-satunya—ketika ia akhirnya merasa tidak mau hubungan mereka cuma berlangsung sekilas. Sebut dirinya bodoh karena ingin mereka bersama selamanya meskipun ia tahu mereka berada dalam kefanaan. Berlawanan dengan logika, berlawanan dengan segala pelatihan yang telah ia terima; Jitsui membuatnya mempertanyakan lagi perannya di dunia, memacunya, sekaligus menyadarkan bahwa tidak ada yang pasti. Jitsui mengingatkannya tidak peduli seberapa pun mereka dibentuk untuk jadi monster, jauh di dalam diri masing-masing mereka masihlah manusia—dan manusia berharap, manusia membuat kesalahan perhitungan, manusia tidak abadi.

Kalkulasi paling keliru yang pernah Hatano buat sepanjang karirnya mungkin sewaktu ia bertugas di Prancis itu, tapi kalkulasi paling keliru yang pernah ia buat selama ia hidup pastilah jatuh cinta sungguhan pada seseorang yang memakai nama Jitsui ini.

Lalu, kenapa? Ia bisa mendengar dirinya sendiri tertawa di sela kecupan mereka, senada dengan kekehan geli Jitsui ketika tangan Hatano bergerak ke bawah dari pinggangnya. Kenapa memangnya kalau ia sungguhan jatuh cinta dengan orang ini? Apa yang sebenarnya ia takutkan? Apa yang sebenarnya ia coba buktikan—kalau ia begitu profesional untuk tidak melibatkan perasaan dalam pekerjaan? Pekerjaan yang mana? Sebelum perang kemarin usai, negaranya saja bahkan tidak mau mengakui kalau profesinya ada!

"Aku mecintaimu," kata Hatano; terus terang, tulus, dan kali ini tanpa malu-malu, "aku benar-benar mencintaimu."

"Aku tahu," balas Jitsui, "karena aku juga sungguhan mencintai Hatano."

end


"Jadi kita kembali ke agensi, kan, Hatano?"

"Tentu, tidak sabar untuk bergabung dengan Asosiasi Budaya Mana-Pun-Itu dan meninggalkan tempat sialan ini."

"Yakin tidak ada yang akan kau rindukan dari sini—lautnya, mungkin? Langitnya, barangkali? Langit jingga di sini selalu indah."

"Selama kau bersamaku, Jitsui, tentu saja tidak ada." Ditutupnya pintu teras. "Dan kita selalu bisa menemukan langit jingga di mana pun."