"Mengubah data penting perusahaan, memalsukan tanda tangan beberapa petinggi perusahaan, memberi informasi yang salah, dan mencelakai rekanmu sesama karyawan," Orbs yang seperti mutiara itu berkilat ke arah Karashi yang terduduk gugup. Hyuuga Neji berdiri dengan tangan terlipat di dada, Sarutobi Asuma duduk berpangku kaki di sofa yang berada di dekat meja presiden direktur yang tak lain adalah ayahnya. Pemimpin perusahaan itu sendiri bersandar di kursinya dengan mata yang awas mengawasi, mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka lakukan pada Karashi. "Dan kuharap kau tidak ada sangkut pautnya dengan bocornya desain Sai." Tandas Neji dingin,ia menunggu lelaki bersurai cokelat itu membuka suara.
Office Temptation
Chapter 10
Naruto © Masashi Kishimoto
Office Lover © OKKO/Arithmetic
Warning: OOC, typo(s), dan kesalahan yang umum dilakukan amatir lainnya.
Brunette itu duduk sambil menutup matanya dan menopangkan wajahnya dengan telapak tangannya. Di meja didepannya layar ponselnya masih menyala. Ia dan Ino masih saling berkirim pesan untuk informasi terakhir kondisi gadis Barbie itu. Diluar dugaan Tenten, Sai membatalkan semua acaranya untuk menemani Ino. Setelah memeriksakan kondisi Ino, Sai menemaninya membeli ponsel baru, kini duo desainer itu sedang berada di rumah Ino dan menurut pesan terakhir yang dikirimkannya, mereka sedang menonton sebuah film bergenre komedi romantis.
Sesekali ia mengintip ke arah pintu yang tertutup. Sudah tiga jam yang lalu ia mengetahui kalau Karashi dari bagian keuanganlah yang mencelakainya dan Ino. Apa yang dilakukan Neji pada lelaki itu?
Tiga jam yang lalu
"Bisanya Tenten keluar dari perangkap ruang arsip yang kau susun?"
Pertanyaan yang terlontar untuk Karashi itu membuat Tenten tersentak. Karashi 'kah? Oke, lelaki itu memang terlihat aneh dengan pembawaannya yang mudah gugup, tapi benarkah ia pelakunya?
Tenten memandang kedua lelaki itu bergantian, Neji yang seperti teka-teki atau Karashi yang setahu Tenten, merupakan lelaki baik-baik.
"Maksudnya?" Tanya Karashi, suaranya terdengar pelan namun lirikan matanya yang terlihat tak fokus seperti mengatakan kalau ia merasa jauh dari tenang. Ia melangkah maju sambil menatap lurus ke arah Neji, namun baru beberapa langkah, dua pasang tangan melingkari lengan atasnya, menahannya. "Apa-apaan ini?"
Neji mengitarkan pandangan ke sekelilingnya, menyadari kerumunan kecil yang terbentuk. "Aku tahu waktu jam kerja hampir habis, tapi kembalilah ke ruangan kalian masing-masing, tak ada yang perlu dilihat disini." Ia berhenti, menunggu kerumunan yang makin mengecil sebelum beralih pada Tenten, "aku menaruh sejumlah pekerjaan di mejamu. Kerjakan itu hingga selesai, jangan pulang sampai aku selesai dengan orang ini. Aku akan mengantarmu."
"Baik, Pak." Jawabnya setelah menatap ke arah Karashi yang dicengkeram dengan erat oleh Izumo dan Kotetsu, ia sedikit iba melihat wajah Karashi yang ketakutan.
"Izumo-san, Kotetsu-san, mari kita bawa orang ini ke ruangan Asuma."
Selebihnya Tenten hanya tahu kalau Asuma menyarankan agar orang itu dibawa ke hadapan ayahnya, dan sampai sekarang mereka belum selesai. Ia mengernyitkan dahi, semudah itu kah menangkap pelakunya? Tapi apa motifnya? Ia akan merecoki Neji dengan banyak pertanyaan kalau lelaki itu sudah selesai dengannya. Saat itu juga, pintu ruangan terbuka, menunjukkan wajah datar atasannya, meski begitu Tenten bisa melihat keletihan dalam gerak-geriknya.
Neji menyunggingkan senyum kecil saat melihat Tenten yang terus memandanginya. "Ada apa? Kau kelihatan seperti balita yang ingin tahu." Matanya menemukan satu paket makanan di mejanya. "Oh, milikku?" Tanyanya sambil berjalan sedikit cepat ke arah mejanya.
Tenten mengangguk, "aku hanya memesan dari rumah makan di dekat sini. Jadi, aku tidak yakin apa rasanya sesuai dengan lidahmu." Jawabnya singkat.
"Terima kasih, Tenten." Suara Neji terdengar sangat tulus, "kau sudah makan?" Tanyanya sambil membuka kotak makannya.
"Sudah, dan pekerjaanku juga sudah selesai."Ia membuat gerakan menunjuk kecil pada tumpukan berkas di sudut meja Neji.
Neji menghentikan gerakan makannya, "Ya ya, kerja yang bagus. Setelah aku menghabiskan ini, aku akan mengantarmu pulang."
"Oke," Tenten berhenti sejenak, "dan kau juga akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku 'kan?"
"Tentang?"
"Karashi."
Neji menghela napas panjang, membuat kedua alis Tenten terangkat. "Kau yakin mau tahu?"
"Sangat." Tenten mengangguk antusias.
"Baiklah."
Tenten menunggu Neji bersuara setelah mereka memasuki mobilnya. Gadis itu memasang sabuk pengamannya dan langsung memutar tubuhnya empat puluh lima derajat ke arah lelaki yang baru saja menjalankan mesin kendaraannya itu. Iris cokelatnya mencoba menirukan apa yang disebut orang-orang sebagai puppy eyes, berusaha agar ia mengetahui apa yang terjadi di ruangan presdir.
Neji yang sedang mengubah arah menyeringai saat melihat wajah yang ditunjukkan Tenten dari sudut matanya. Pemandangan di sebelahnya sedang bermain-main dengan otaknya. Karena alih-alih jadi ingin menceritakan apa yang mereka temukan, ia malah jadi ingin menangkup kedua pipi gadis itu dan mengecup bibirnya. Ia buru-buru menepis pikiran itu, entah kenapa ia selalu merasa kalau Tenten harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Apa ia dia mulai peduli dalam artian lebih kepada sekretarisnya itu?
Tak lagi mampu membendung rasa penasarannya, Tenten akhirnya bersuara. "Bagaimana Karashi-san? Apa dia bilang kenapa dia melakukan itu?" Cecarnya.
Hyuuga itu tak langsung menjawabnya, "Pak Presdir tak memecatnya, kau tahu anak perusahaan yang dipimpin Morino Ibiki? Dia akan dimutasi kesana, sebagai intern." Lelaki itu mengambil jeda untuk menarik napas. "Motifnya uang, ia mengulik database perusahaan dan menjual ide Sai pada R-Couture karena ia butuh uang untuk operasi ibunya." Lampu merah di depan mereka membuat Neji menghentikan kendaraannya, Tenten bisa melihat tangannya mengepal diatas kemudi. "Presdir terlalu bermurah hati. Ia melarang untuk menyerahkan lelaki itu pada polisi."
Tenten sedikit iba pada Karashi, ibunya butuh dioperasi dan sekarang ia dipindahkan ke tempat baru yang dibawahi Morino Ibiki. Tenten pernah mendengar cerita tentang Morino Ibiki dari Yugao, dan meskipun ia terdengar bijak bagi Tenten, lelaki yang pernah dua kali Tenten temui itu tidak punya toleransi terhadap kesalahan. Tiba-tiba matanya membulat, ia ingat sesuatu. "Bagaimana dengan Raiga-san? Karashi-san mencoba mengalihkan tuduhan padanya, kenapa dia melakukan itu?"
Neji menggeleng pelan sebelum kembali melaju, "alasannya satu, ia tahu ID yang Raiga gunakan. Ia butuh satu orang untuk disalahkan." Nada bicaranya terdengar sangat jengkel.
"Ya ampun," Tenten tercengang mendengarnya. Karashi yang tak lain adalah orang kepercayaan Raiga melakukan hal seperti itu? Raiga mungkin punya masa lalu yang kelam, tapi ia sudah berubah sejak mengadopsi seorang anak laki-laki yang ditemuinya di rumah sakit.
Suasana di dalam mobil itu berubah hening, Neji tak sekalipun mengalihkan perhatiannya dari jalanan di depannya dan Tenten lebih memilih membalas pesan Ino. Sahabatnya itu mengatakan kalau ibunya datang dan menemaninya malam ini. Ino? Lantas untuk apa dia menyekap Ino dan mengunci Tenten di ruang arsip itu? Apa karena dia tahu Tenten sedang menyelidiki sesuatu? Dan ancaman yang didapatkannya, apa benar Karashi hanya bertindak sendiri? "Tenten." Suara Neji yang memanggilnya agak keras itu menyadarkannya dari teori yang berputar di dalam kepalanya. Haruskah ia bilang pada lelaki itu tentang surat kaleng yang ditemukannya di dalam tumpukan berkas?
"Eh, ya?" Ia menyadari kalau mereka sudah berada di persimpangan menuju tempat tinggalnya.
"Boleh aku minta bantuanmu?" Neji sudah menepikan mobilnya. Sepertinya ini akan serius.
"Soal apa? Aku akan melakukan apa yang kubisa." Jawab Tenten cepat, toh Neji sudah sangat banyak membantunya.
"Pulang denganku malam ini."
Mata Tenten membola mendengar pinta atasannya itu. "Um," ia tak tahu harus berkata apa. Ia ingin membalas kebaikan Neji, tapi permintaan itu bukan permintaan umum yang dilayangkan oleh atasan untuk bawahannya.
Neji melihat gadis di sebelahnya yang kebingungan. Si-pekerja-keras-Tenten, yang kemungkinan seluruh waktunya dihabiskan untuk bekerja dan beristirahat di rumah, menimbang perkataannya. "Seperti tadi malam, kau tidur di kamarku, aku di ruang tamu atau kamar tamu. Aku tidak akan macam-macam. Janji." Ia mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, meyakinkan Tenten.
"Kenapa?" Tenten terdengar hampir berbisik. Situasi kali ini beda dengan malam sebelumnya. Ia tertidur semalam, dan disana mereka tak hanya berdua.
Neji tak berani menatap wajah gadis itu, "karena kejadian tadi siang. Aku meninggalkanmu untuk keluar sebentar dan kita berdua tahu apa yang terjadi." Neji tidak berbohong, ia memang takut untuk meninggalkan Tenten sendirian, tapi bukan hanya keselamatan Tenten yang dijaganya. Konsultan muda itu harus mengakui kalau ia takut, takut Kin melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan Tenten menjauhinya. Masa lalunya memang bukan urusan Tenten, tapi ia tak siap jika bawahannya itu tahu seperti apa dirinya. Katakanlah ia egois tapi semenjak mengenal gadis polos patuh yang hampir selalu mengiyakan perintahnya itu, ia tak ingin gadis itu berlama-lama menjauh dari pandangannya.
Mendengar atasannya mengemukakan alasannya, Tenten mengangguk pelan. "Tapi pakaianku…"
Saat itu Neji sudah kembali menyalakan mesin mobilnya, "masih ada piyama yang kau pakai semalam. Dan besok aku akan mengantarmu pulang untuk ganti baju."
Alis Tenten terangkat mendengar intonasi Neji yang seperti tergesa-gesa dan tak bisa dibantah. "Pak, kita akan terlambat."
"Tidak akan, aku pastikan itu. And cut that 'Pak', please?"
Cengiran layaknya anak-anak menambah kesan manis di wajah Tenten. "Oke."
"Oke?" Jawaban macam apa itu.
"Oke, aku akan ikut kembali ke rumahmu." Jawab Tenten menegaskan maksudnya.
Neji tertawa kecil dan menggelengkan kepala, "kuharap kau tidak sepatuh ini." Sedikit lagi, dan mungkin Neji akan tergila-gila dengan keluguan Tenten.
Tenten menggembungkan pipinya, "apa itu hal yang buruk?" Ia hampir saja berubah pikiran dan meminta pulang kalau ia tidak melihat tawa Neji.
"Tidak, itu hal yang bagus, sangat bagus. Tapi jangan sepatuh itu pada setiap orang. Siapa yang tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka." Tidak semua orang bisa menahan diri sepertiku. Sambungnya dalam hati.
"Aku tahu," sahut Tenten riang. "Tapi ini kau, kau 'kan orang baik." Sambungnya lugas. "Kau bisa dipercaya."
Perkataan Tenten itu sukses membuat perasaan Neji bercampur aduk. Meskipun ia tak menunjukannya, ia senang Tenten mempercayainya. Dan disaat yang sama, ketakutannya semakin menjadi. Ia membayangkan bagaimana kalau pada akhirnya gadis itu tahu semua permainan kotor yang pernah dilakukannya? Sebagus apapun hasil kerja Tenten selama menjadi bawahannya, gadis itu seperti Morino Ibiki, tak punya toleransi terhadap kesalahan.
Tenten berbalik sekali lagi, ia di kamar Neji dan tak bisa tidur. Mungkin itu ada hubungannya dengan aroma khas lelaki itu yang sedikit tertinggal di bantal dan seprai. Setiap kali ia memejamkan mata, ia merasa sepasang orbs lavender mengawasinya.
"Uuurgh!" Gerutunya seraya bangun lalu duduk bersila di tempat tidur. Ia menatap sebentar ke arah pintu yang tertutup.
PRANG!
Suara kaca pecah mengagetkannya. Pencurikah? Karena tidak mungkin orang setenang Neji memecahkan barang. Dengan cepat ia turun dari tempat tidur, cemas setelah mengingat kalau Neji tertidur di ruang tamu. Tenten membuka pintu pelan-pelan, melangkah diam-diam ke tempat terakhir kali ia melihat Neji namun tak menemukan lelaki itu disana.
Ia berbalik arah menuju ke dapur setelah mendengar samar suara dari sana. Aroma tajam alkohol memenuhi rongga hidungnya. "Neji?" Bisiknya, ia melihat satu sosok yang duduk bertumpu pada mini bar di ruang makan, dua botol alkohol hampir kosong di depannya dan satu gelas berserakan di kaki kursi yang didudukinya. "Neji!" Serunya setelah yakin kalau sosok yang duduk dalam gelap itu adalah atasannya. "Apa ini?" Tanyanya sambil mengguncang pelan bahu Neji. "Neji? Pak?" Sesekali ia menahan napas, bau alkohol bukan aroma favoritnya.
Rambut Neji yang biasanya jatuh dengan rapi terlihat kusut, ia bahkan tak mengganti kemeja yang tadi dikenakannya. "Berat sekali." Tuturnya dengan suara parau, membuat Tenten secara refleks terkesiap.
"Maaf."
Kepala yang menempel pada mini bar di depannya itu terangkat, dengan mata setengah tertutup, lelaki itu tersenyum lemah. "Aaaa, Tenten." Ia mengibaskan jari telunjuknya, "bukan kau. Aku." Racaunya. Seorang Hyuuga Neji mabuk dan Tenten kebingungan tentang apa yang harus ia lakukan. Ia masih mencoba menerka apa yang bisa ia lakukan saat satu lengan menariknya maju. Neji yang masih dalam kondisi duduk memeluknya dan menyandarkan kepalanya di perut Tenten. "Jangan pergi."
Tenten yang masih terkejut hanya bisa membiarkan Neji meracau tak jelas. Beberapa kali ia menggumamkan 'maaf' dan 'jangan pergi' padanya. Apa lelaki itu sedang bertengkar dengan salah satu perempuan yang dikencaninya? Tenten tak suka perasaan yang dimunculkan pemikirannya itu, mungkin ini hanya stress yang terakumulasi. Ia lebih percaya kalau pekerjaanlah yang menyebabkan Neji melakukan ini. Jangankan belakangan ini, hari ini seperti roller coaster yang memainkan adrenalin mereka.
Setelah menimbang-nimbang, ia mencengkeram erat bahu Neji, mencoba melepaskan diri dari pelukan lelaki itu. "Kau bertingkah aneh sekali hari ini." Lagi, ia mencoba membuat lelaki itu berdiri. "Kau butuh tidur," ujarnya lembut, berusaha memapah lelaki itu ke kamarnya.
"Mungkin," sahut Neji. Satu tangannya tersampir di bahu Tenten, sementara yang satunya tetap melekat di perut gadis itu, dan untuk sekali itu Tenten tak pusing tentang bagaimana eratnya posisi mereka saat ini.
"Pelan-pelan," tukas Tenten pelan saat ia memberikan air hangat untuk Neji. Lelaki itu akan benar-benar mengalami sakit kepala hebat besok. Ia menyelimuti Neji yang sudah meletakkan gelasnya dan berbaring. "Sebaiknya kau baik-baik saja besok," Tenten punya dua kekhawatiran sekarang, ia bisa terlambat ke kantor dan atasannya itu bisa jatuh sakit.
"Aku akan baik-baik saja besok." Balas Neji, bicaranya terdengar lebih jelas sekarang.
"Baguslah." Tenten mengambil gelas dan hendak keluar, membiarkan Neji beristirahat namun ada yang mencekal lengannya. "Apa kau butuh sesuatu?"
"Tetaplah disini, letakkan gelas itu." Ia bergeser untuk memberikan ruang kosong pada Tenten kemudian menepuk tempat di sebelahnya. Tangannya menggenggam tangan Tenten yang tak menggenggam gelas, menahan gadis itu untuk tetap disana.
Tenten yang merasa tak punya pilihan lain, meletakkan gelasnya sembari mengingatkan dirinya sendiri kalau kali ini bukan Neji yang berbicara tetapi pengaruh stress dan alkohol. "Baiklah," dengan enggan ia duduk bersandar pada headboard tempat tidur itu.
"Terima kasih," Suara Neji terdengar sangat bersungguh-sungguh, Tenten bisa bersumpah kalau ia melihat senyum kecil di wajah letih lelaki itu.
Saat kepalanya bersandar di headboard itu, rasa letih mulai mendatanginya. "Don't mention it," ia menyahuti Neji dengan mata yang mulai mengantuk. Dan keduanya tak butuh waktu lama untuk terlelap.
xxx Bersambung xxx
Terima kasih sudah membaca.
Terima kasih juga untuk yang sudah baca, follow, fav, sama review di chapter sebelumnya. Semoga chapter ini menjawab pertanyaannya, ya.
Dan yang terakhir, maafkan saya yang bahasanya berputar-putar.
See you in the next chapter. ^^v
