Konbanwa minna~ ^o^
Masih semangat kah untuk membaca Fict ini?
Apa alurnya mulai ga jelas nih? Apa konfliknya terlalu nyeleneh kayak sinetron?
Oh~ gomenasai~ (ToT)
I'll try to make it better next time~

Hari ini Hinata-chan yang akan ambil alih, daijoubu kan? ^^
*kasihin kertas reviews ke Hinata*

~Balasan Reviews~

Hinata : em.. anoo... hari ini aku yang akan membalas reviews kalian, semoga berkenan. x(
*bungkukin kepala* #JDUAK *kejedut meja* (T-T)

Hana Hoshiko,
Konbanwa, ah~ *merinding* *glup*
Ah ha ha,iya... itu...cukup sadis.

Uchiharuka,
Konbanwa, a ha ha sudah ketemu kok. Baru saja ketemu, dan itu ternyata di bawah bantal Author-san. *sweatdrop*

Shaaap48,
Konbanwa, arigatou gonzaimasu~
*nunduk-nunduk*
Akan kami pertimbangkan review-mu, terima kasih~

Sonedinda2,
Konbanwa, Emm... sabar ya~ semoga bagi yang Karin lovers tak tersinggung~ x(

CutIcut Uchiha,
Konbanwa, nggak telat kok. :)
Ah itu... em.. iya akan kusampaikan. terima kasih.

Luca Marvell,
Konbanwa, engh... iya gomen~ *nggak tau maaf buat apa*
Akan kusampaikan pada Itachi-oniisama, terima kasih.

Edelwish,
Konbanwa, ah...ah... G-gomen, aku yang membalas review-mu. G-gomenasai! *nunduk*
(Sai : Tak apa Hinata, *tepuk kepala Hinata*.
Hm? bentou? boleh juga, tapi makannya disuapi ya? dan jangan pakai tangan. *smirk* Aku selalu mendoakanmu. :*)

Sakira nata-chan,
Konbanwa, hai' daijoubu~ :)
Akan kusampaikan review-mu, terima kasih~

natsumo Kagerou,
konbanwa, he he itu ide yang bagus~ tapi...em... mungkin akan sedikit ekstrem ya? (._.)

Angel Jessi,
Konbanwa, em... itu sebenarnya...
(Sasuke : *lewat* itu aku yang bilang, kenapa? Membaca sambil membayangkan, itu sama saja. Hn *pergi lagi*)
Ah g-gomenasai~ akan kusampaikan reviewmu~ terima kasih~

gagaGomez,
Konbanwa, ah Author-san bilang ini kira-kira akan berakhir di part 14. Tinggal 4 part lagi~ *mendadak sedih*

Kiki RyuEunTeuk,
Konbanwa, akan kusampaikan review-mu~ arigatou~ :)

hana Loveless,
Konbanwa, Author-san sangat senang sekali membaca reviewmu~
*lirik Author yang lagi jungkir balikan di atas kasur* Sai-oniisama akan memiliki peran kok dalam beberapa waktu ini~

Fira Uchiha,
konbanwa, emm... Author bilang, Karin harusnya hanya memeluk Sasuke-oniisama, tapi ternyata dia malah menciumnya. itu diluar dugaan~ emm... gomenasai~

Princess Cherry Blossom,
Konbanwa, em... g-gomenasai kalau konfliknya buat nggak nyaman~
Author-san akan mencoba mencari penyelesaiannya~ terima kasih~

hikari m,
konbanwa, hai' daijoubu~ :)
em.. ano.. g-gomensai~! x( *minta maaf mulu kerjaannya*

Nurafiah15,
Konbanwa, g-gomenasai~ kami akan mencoba menyelesaikan masalah ini pada Karin-oneesama~

reako Mizuumi,
Konbanwa, Author-san mengambil cuti selama 3 hari, sekarang kami akan mencoba berjuang mengejar deathline lagi~ ganbatte-ne~ o('v')o
BMD.. em.. BDMS.. BDSM.. apa itu? *polos*

Anisha Ryuzaki,
konbanwa, hai' itu kesalahan kami~ g-gomenasai~
Karin-oneesama hanya berusaha mendalami perannya~ x(
Gomenasai~

Uchiha ratih,
Konbanwa, ah...uh... ini... ha-haruskah kusampaikan pada Karin-oneesama? *bingung*

Qian Zhang,
Konbanwa, ha ha *garuk pipi*
Em... *tengak-tengok* *liat Karin lewat* *cepet-cepet sembunyiin*

Sudoer arekndablekputrakeramat,
! honto gomenasai~! *nunduk-nunduk*
Kami akan mencoba mempersingkat konfliknya, gomenasai~

Jeremy Liaz Toner,
konbanwa, arigatou gonzaimasu~ ^^

Cherryma,
Konbanwa, ah... sepertinya Author-san tak ingin membuat SasuSaku berkonflik lagi~
Emm.. sepertinya~ *garuk pipi*

White's,
konbanwa, Itachi-niisama masih dalam status siaga~ mohon doanya~ *bungkukkin badan*
Akan kusampaikan, terima kasih~

Ichiro kenichi,
Konbanwa, ah...g-gomen~!
G-gomenasai~ kami sepeinya sedikit lalai~
karin-oneesama sekolah di Konoha Music School, ditambah lagi dia adalah penyanyi solo yang sedang tenar.
Karenanya sekolah memberikan hak-hak khusus padanya~ terima kasih~ :)

Haruchan,
konbanwa, sebelumnya terima kasih sudah memintaku membalas reviews~ *bungkukin badan* Arigatou~
masalah ciuman, itu tak seperti script yang ditulis Author-san. Seharusnya Karin-neesama hanya memeluk Sasuke-oniisama, tapi... engh~ gomenasai~

Lui H,
Konbanwa, emm... etto... engh... akan kusampaikan reviewmu, terima kasih~ *canggung*

dhezthy UchihAruno,
Konbanwa, ha ha em.. gomenasai~ itu kesalahan kami dalam memperhitungkannya. Gomenasai~
akan kusampaikan reviewmu, terima kasih~

Cherrywarriors,
konbanwa, terima kasih atas reviewnya~ :)

Miura-chan,
konbanwa, Author-san mengatakan senang sekali bisa berkenalan denganmu~ :)

Sasa,
Konbanwa, g-gomenasai~
Em...Itachi-niisama pasti akan baik-baik saja kok~ *berdoa*
Masalah Karin-neesama, sebenarnya itu salah paham saja~ engh~ *bingung menjelaskannya*
kami akan berjuang lagi setiap harinya, terima kasih~

Me,
Konbanwa, iya~ terima kasih sudah setia dengan kami~ *bungkukkin badan*
Akan kusampaikan review-mu, terima kasih~ :)

Sami Haruchi,
Konbanwa, hai' akan kusampaikan~ terima kasih~ :)

Qren,
Konbanwa, ha ha capek?

Uchiharuka,
Konbanwa, Auhtor-san bilang akan segera mencari jalan keluarnya~ x(
terima kasih~ :)

Black SS Pearl,
Konbanwa, em.. etto~ he he *garuk pipi*
Ah, sebenarnya... itu Author-san sendiri yang menaruhnya di kamar, sepertinya ia lupa. *Sweatdrop*

P.I.J
Konbanwa, em.. etoo~
ha ha *nggak bisa komen apa-apa*

Hinata : Ah, mengenai kasus ciuman kemarin, nanti di belakang layar, kalian akan tau.
Em... sekilan dariku. Semoga tak ada kata-kataku yang menyinggung. Senang bisa membalas reviews kalian.
Arigatou~

~Enjoy Reading~


Disclaimer Characters © Masashi Kishimoto

Disclaimer Story © Shera Liuzaki

.

.

A story with a girl being loved by lot of guys

.

.

WARNING!
HARD (or may be NOT) LEMON INSIDE! 18+ ONLY!

.

.

No Flame. Kritik? yes. Pujian? apa lagi~

.

.

Shera Liuzaki, present :

.

.


"BROTHER X SISTER"


.

.

Part 10 : I Will Protect You

.

.

Enjoy Reading

.

.

"Sakura! Hinata!" panggil seorang pemuda, yang disinyalir adalah Sasori. "Kalian baik-baik saja. Sepertinya terjadi gangguan pada saluran listrik, panitia sedang berusaha memperbaikinya."

"Begitu kah?"

Paaatss

Namun secara misterius lampu itu kembali menyala. Menampilkan seluruh sudut panggung yang ada di hadapan mereka. Sakura membulatkan mata, melihat apa yang mereka lihat di atas panggung. Seorang pemuda, dan seorang gadis berambut merah. Sakura mengenali gadis itu. Tapi yang membuat syok adalah…

Sosok Sasuke yang berciuman dengan Karin.

DHEG

Ini bukan sesuatu yang bagus. Bahkan ini buruk. Sakura masih syok melihatnya. Tak hanya dirinya, seluruh KISSer yang ada dan bahkan para anggota KISS yang notabe berada di atas panggung pun terlihat kaget. Sakura menutupi mulutnya yang terbuka, sebenarnya apa yang terjadi selama lampu padam tadi?

-ooOoo-

"Tidaaakkk~! Sasuke-samaaaaa~!"

Hiruk pikuk kekecewaan para KISSer pecah sudah. Mereka beringsut dan menjerit kesal. Sasuke segera saja mendorong sosok Karin menjauhinya. Ia menutupi mulutnya sambil menatap wanita merah itu dengan sinis. Namun Karin hanya tersenyum, ia kembali menarik lengan Sasuke.

Saat itu Sakura hendak beraspirasi, namun tiba-tiba segerombolan orang datang menyerbu tempat itu begitu saja. Sakura sudah bisa menyebutkan kalau mereka adalah wartawan, itu karena kamera besar yang mereka bawa di atas pundak dan sedang menyorot ke atas panggung.

Tapi tunggu. Kenapa ada wartawan di tempat seperti ini dan di saat seperti ini? Mengapa wartawan itu mengetahui kalau KISS sedang manggung di Konoha High School? Dan kenapa Karin kebetulan berada di sini? Mungkin saja itu bukanlah 'kebetulan', tapi bagian dari rencana seseorang.

Karin mengambil mic yang digunakan Sasuke untuk bernyanyi, "Perhatian semuanya. Kalian pasti kaget mengenai hal barusan bukan? Biar kujelaskan."

Sakura memiliki perasaan tak enak. Sasuke kembali melepaskan diri, namun gerakannya sedikit terlambat karena Karin sudah lebih dulu mengumumkan sesuatu yang bahkan sangat mustahil untuk dilakukan. Baik Sasuke, Sakura, Sasori, Hinata, atau para personil KISS lainnya, semua membulatkan mata tak mempercayainya.

"Kami sudah bertunangan."

-ooOoo-

BRAK

Sasuke nampak kesal. Sangat kesal. Ia membanting tasnya ke sembarang arah, membuat beberapa benda berjatuhan karena terkena lemparannya itu. Kedua Kaasan dan Tousannya bahkan diabaikan begitu saja saat menyambutnya pulang ke rumah.

"Sial!" pekiknya sambil meremas rambut ravennya sendiri.

Sementara itu Sakura yang datang belakangan, kini menjadi sasaran introgasi dari Kaasannya. Sakura hanya bisa menjawabnya dengan mengangkat bahu, atau sekedar menggelengkan kepala. Dengan lemas gadis itu menaiki tangga menuju kamarnya. Sejenak, ia sempat melirik pintu kamar Sasuke, ada sebesit rasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, tapi air mata yang mengalir di pipinya menjadi bukti bahwa itu BENAR terjadi.

Bahkan untuk Sasuke sendiri, tak pernah menyangka Karin akan melakukan hal gila seperti itu. Pemuda itu memang pernah menaruh hati padanya, tapi tidak lagi sekarang. Kenapa saat Sasuke sudah mulai move on dari wanita itu, yang ada ia selalu saja mengganggu hubungan mereka.

Ditambah lagi mengatakan kalau Karin dan dirinya bertunangan? Yang benar saja.

"Sial! Brengsek!"

Sasuke menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka Karin akan melakukan hal seperti itu. Remasannya semakin mengerat, tak peduli kepalanya yang mulai merengek kesakitan. Ia bangkit secara tiba-tiba, diambilnya beberapa helai tissue dari meja belajarnya, digosokkannya tissue itu ke bibirnya.

Mengingat Karin sudah menciumnya tepat di depan semua orang. Bahkan mungkin seluruh dunia. Kenapa? Karena wartawan yang datang di sana meliputnya secara live. Siaran langsung pernyataan tunangan dari artis papan atas, Karin. Siapa yang akan menyangkal berita ini.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, atau mungkin tepatnya seseorang.

"Sakura."

Kejadian itu pasti cukup untuk membuat Sakura syok. Sepanjang perjalanan pulang pun Sakura sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Ia membisu seketika, dan Sasuke pun tak tahu lagi harus mengatakan apa. Yang pemuda itu ketahui dengan pasti adalah, Sakura kini pasti sedang menangis.

Perlahan Sasuke melangkahkan kakinya menuju kamar Sakura, sesampainya di depan pintu kamar itu, ia bisa mendengar isakan Sakura. Hatinya nyeri, mendengar sang kekasih larut dalam kesedihannya. Padahal bukan maksudnya begini, ini semua benar-benar di luar dugaannya.

"Sakura."

Gumam pemuda itu sambil mendekat, lampu dibiarkannya padam. Mungkin sekarang situasinya berbalik. Sasuke pernah termenung dalam suasana sepi di ruang multimedia pada hari kekalahannya dari Sasori. Kini giliran Sakura yang terpuruk. Lagi-lagi semua karena Sasuke.

"Engh…hiks." merasa Sasuke ada di sana, Sakura mencoba menahan tangisannya. Ia menarik selimut tebalnya dan menutupi seluruh tubuhnya.

"Sakura, gomen~" Sasuke berlutut di samping ranjang Sakura. Mencoba menatap sang kekasih meski ia tak bisa melihatnya secara langsung. "Kau tahu sendiri kan, kalau Karin yang tiba-tiba menciumku."

Sret

Seketika itu pula Sakura bangkit dan membuka tameng alias selimut—yang menutupi dirinya—itu. Membuat Sasuke kaget dan hampir saja terjungkal kebelakang. Untungnya itu tak terjadi, dan Sasuke masih stay cool di tempatnya.

"Tapi kan kau bisa menghindarinya!" ketus Sakura—dengan wajahnya yang sudah dipenuhi linangan air mata dan ingus. Sasuke mendengus menahan tawa melihatnya, meskipun ini bukan saat yang tepat.

"Gomen, Sakura." Sasuke mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambut gadis kesayangannya itu.

Seet

Dengan gerakan refleksnya, Sakura menangkis tangan Sasuke. Itu bukanlah tangkisan kuat, tapi cukup untuk menghentikan tawa Sasuke. Kini gadis itu memasang wajahnya yang serius—meski bagi Sasuke masih saja terlihat lucu.

"Kau jahat! Aku benci padamu." Sakura memukul-mukul ringan dada Sasuke. "Kau kan bisa mendorongnya dengan mudah! Atau jangan-jangan kau juga senang dicium olehnya?!"

Dengan sekali tarikan, tangan Sakura ditarik ke pelukan Sasuke. Pemuda itu mencium bibir Sakura. Mata emerald-nya yang terkaget itu menutup perlahan, dan tak lama Sasuke melepaskannya. Ciuman itu menjadi obat penenang untuk Sakura. Sasuke memeluk gadisnya dengan erat.

"Kau ini benar-benar… Sama sekali tak memberikanku kesempatan untuk menjelaskan." Sakura hanya bisa bersemu di sela pelukan Sasuke. "Bukankah aku sudah menjadi milikmu? Kenapa juga aku harus senang dicium oleh wanita lain?"

"Tapi kalian berciuman, dan Karin adalah mantan pacarmu."

"Aku tahu, aku tahu. Itu kan cerita lama, yang sekarang kuinginkan hanya kamu. Haruno Sakura."

Sakura sepertinya mulai terbawa suasana yang diciptakan Sasuke. Gadis itu larut dalam belaian lembut sang kakak. Sasuke perlahan melepaskan pelukannya, gadis yang kini ada di pangkuannya itu menatapnya dengan bingung. Sasuke meraih tangan kanan Sakura, ia menatap sang emerald dalam-dalam sebelum ia mengecup tangan kekasihnya itu.

"Apa aku bisa minta tolong padamu, tuan putriku?" tanyanya sambil tersenyum kepada Sakura, membuat gadis itu sedikit salah tingkah. "Sepertinya seorang wanita telah dengan seenaknya menyentuhku, dan aku ingin kau yang menghapus bekas itu. Agar aku bisa kembali menjadi milikmu, bersediakah?"

Sakura memalingkan wajahnya, "Hentikan, Sasuke-kun."

Meskipun berkata begitu, tapi terlihat jelas dalam wajah Sakura bahwa gadis itu senang. Sasuke pun mendekatkan wajahnya, dan Sakura juga tak terlihat menolaknya.

"Mmm…"

Sasuke mengecupnya, merasakan kelembutan bibir merah Sakura yang membuatnya ketagihan. Perlahan ciuman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih 'berani'. Ya, berani. Sasuke kini berani memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sakura. Membuat gadis itu mengerutkan dahinya dan bersiap mengikuti pertarungan lidah dalam mulutnya.

Tubuh Sasuke terangkat, semakin menekan tubuh Sakura agar jatuh berbaring di ranjang. Menyadari hal itu, Sakura sontak membulatkan mata. Ia langsung mendorong tubuh Sasuke mundur, sampai-sampai pemuda itu hampir tersungkur jatuh saking kagetnya.

"Sakura, apa yang kau lakukan?" keluh pemuda Uchiha itu sambil mengusap perutnya yang terkena tonjokkan Sakura.

Sakura malah memundurkan dirinya dan menutupi tubuhnya sendiri. "Kau lupa? Kau bilang kau tak akan menyakitiku! Tapi kemarin itu SANGAT MENYAKITKAN, bahkan aku tak bisa berdiri atau duduk dengan benar! Kau pembohong!"

Toeng

Sasuke menatap kekasihnya itu dengan tatapan cengo. Mereka terdiam sejenak, sebelum Sasuke tiba-tiba mendengus dan menertawakan Sakura. Merasa malu, Sakura menggembungkan kedua pipinya dan melengos tak menatap sang kakak. Sasuke berusaha meredam tawanya, bahkan air mata pun terlihat di sudut kelopaknya.

Dengan gerakan yang tiba-tiba, pemuda itu melesat naik dan kembali mengunci gerakan Sakura. Menahannya dengan sebelah tangan dan mulai melucuti pakaian gadis itu. Sakura syok melihatnya, tidakkah pemuda itu mengerti keluhannya?

"Sasuke! Hentikan! Kau tak mendengarkanku barusan?" ketus Sakura berharap sang kakak mau menghentikan aksi gilanya.

"Aku mendengarmu, Sakura. Tapi justru karna aku mendengarmu," Sasuke menyeringai. "Aku jadi semakin tak bisa menahannya."

Sambil mengucapkan itu, Sasuke menurunkan bra Sakura, kini terlihatlah dua gundukan yang gempal itu. Siap untuk dijamah oleh Sasuke, dan tentu saja tak ingin terabaikan sia-sia.

"Uhh~" Sakura menahan desahannya. Ia memalingkan wajah dan memejamkan mata.

Sasuke mengigit puting kemerahan Sakura, menggigit, menjilat, lalu menggigitnya lagi. Menghisapnya seolah-olah ia adalah bayi yang kehausan dan mencari minum. Sakura semakin berkeringat saat Sasuke menambah tempo permainannya.

Sebelah tangannya yang menganggur, meraba perut datar Sakura, dan terus turun sampai ke paha mulusnya. Sasuke mengusapnya konstan sebelum akhirnya melebarkan kedua penghalang Sakura di bawah sana.

"Tunggu, oniicha~ aahh~"

Terlambat, tangan Sasuke berhasil menerobos pertahanan Sakura. Tanpa melepas celana dalam yang mulai basah itu, Sasuke memainkannya. Memainkan 'biji' yang ditemukannya di dalam sana. Membuat cairan kental semakin membasahi telapak tangannya.

Baik dada maupun kewanitaan Sakura, kini sudah sama-sama basah. Meskipun gadis itu menolak—pada awalnya, tapi tubuhnya tetap saja berkata lebih jujur dari lidah. Sasuke tersenyum penuh kemenangan melihatnya.

"Engh~ niichan aahh~ hah hah…"

"Bukan 'oniichan' kan, Sakura?" sahut Sasuke sambil memamerkan seringainya.

"Engh~ hah hah… Sasu…ahh hah hah ah~ Sasuke-kuuuunnn~!"

Pekikan panjang itu menandakan sebuah klimaks yang pertama. Sasuke menetrasinya sejenak sebelum ia menarik keluar tangannya itu. Cairan bening kental telah membasahinya, Sasuke memperlihatkannya pada Sakura, namun gadis itu menolaknya.

Seperti biasa—tanpa persetujuan Sakura, pemuda itu akhirnya membuka satu-satunya penghalang 'kenikmatan' Sakura di bawah sana. Ia juga mulai menurunkan celananya sendiri, memperlihatnya bendanya yang ia banggakan. Belum sempat Sakura protes, Sasuke sudah memposisikan dirinya memasuki Sakura.

"Aaahh~!"

Tak seperti kemarin, kini Sasuke memasukkan langsung setengahnya. Meskipun ini bukan yang pertama bagi Sakura, tapi kewanitaannya masih cukup erat menjepit Sasuke. Membuat pemuda itu dengan seketika dimandikan oleh peluh. Sasuke memejamkan matanya, ia bersiap sebelum memulai aksinya.

Sakura menahan nafas merasakannya. Semakin ia berdebar, semakin kencang jepitan yang dirasakan Sasuke. Melihat kekasihnya itu terdiam cukup lama, Sakura mengulurkan tangan membelai pipi Sasuke.

"Ada apa?"

Sasuke membuka mata, nafasnya terengah. Tak menyangka hanya dengan memasukkannya saja sudah senikmat ini. Sambil sebelah tangannya memegangi tangan Sakura, Sasuke mulai menekan masuk seluruh kejantanannya. Sakura memekik, namun ia terlihat pasrah tak berdaya.

Melihat kekasihnya itu menjadi penurut dan tak berontak lagi, Sasuke tersenyum. Gadis itu sudah menjadi miliknya, sepenuhnya. Dan hanya ia lah yang bisa memuaskan tubuh di bawahnya itu. Hanya dia—setidaknya itulah apa yang ia pikir.

"Ahh hah hah… Sasuke~ hah hah ahhh~ aaahh~ hah."

Desahan Sakura seiring dengan genjotan Sasuke. Tempo yang semakin bertambah dengan teratur membuat Sakura sudah tak lagi memikirkan cara untuk menghentikan sang kekasih. Kini bahkan tangannya mulai bergelayutan di leher Sasuke.

Merasa bosan dengan posisi mereka, Sasuke memiringkan tubuh Sakura, ia sendiripun berbaring di hadapan sang gadis. Dengan gerakan yang lebih cepat, ia 'menusuk-nusuk' Sakura. Dan ternyata posisi ini memberikannya variasi dalam permainan mereka.

"Aaahh Sasu~ aaahhh….ah…hah…aaaahhh ahh ahhh~"

Sakura meremas seprei ranjang yang berdecit itu. Oh tidak, Sasuke baru menyadarinya, kedua orang tua mereka sedang berada di rumah, ditambah lagi Sasuke lupa tak mengunci kamar Sakura. Besar kemungkinan mereka akan ketahuan kalau melakukannya terlalu lama.

Dengan itu pun Sasuke semakin mempercepat temponya, menusuk gadis itu semakin dalam dan membuat Sakura meraung kencang. Tak ingin seseorang datang karena mendengar suara Sakura, Sasuke menarik kepala gadis itu. Ia mulai melumatnya hingga Sakura tak bisa mengeluarkan desahannya dengan jelas.

"Emmmmh~ mmngh~ mnn…"

Beberapa tusukan setelahnya, Sakura mulai mengeluarkan cairan hangat. Sasuke pun menarik mundur kejantanannya dan mengeluarkan spermanya di ranjang. Membuat ranjang itu dibasahi oleh cairan mereka yang menyatu. Bisa gawat kalau hal itu terjadi di dalam tubuh Sakura.

Nafas Sakura terengah, sepertinya gadis itu cukup kelelahan. Tentu saja, ia baru saja selesai bertanding karate di sekolah, sekarang Sasuke mengajaknya 'bertanding' lagi. Pemuda itu membenarkan pakaian Sakura dan dirinya. Ia membaringkan Sakura di lengannya, dan membelai wajah lelah gadis itu.

"Bagiku…tak ada yang lebih menarik selain melihat wajah kagetmu." gumamnya.

"Hm?" sepertinya Sakura masih belum sepenuhnya tertidur. Sasuke membalasnya dengan senyuman.

Tiba-tiba saja pemuda itu menyadari sesuatu. Ia teringat sebelum kejadian Sakura pingsan tadi, Sasori mengatakan kalau Sakura cidera. Dan lagi Sasuke belum sempat menanyakannya, kenapa Sasori mengetahui hal itu? Sedangkan dirinya tidak?

"Hn, Sakura." Sakura mengangkat kepalanya. "Kenapa kau memberitahu Sasori kalau kau cidera?"

"Aku tak memberitahunya." bela Sakura. "Sebelum pertandingan, kami sempat latihan bersama. Saat itulah Sasori-kun menyadarinya."

"-kun, heh?" terdengar nada tak suka dari Sasuke. Sakura terkekeh.

"Tak perlu cemburu, aku sudah menolaknya."

"Hmph, ada yang ingin kuberitahu padamu, Sakura. Sasori adalah sepupu Karin." kembali terlihat wajah keterkejutan Sakura yang menjadi favoritnya. "Aku mengenal Sasori karena Karin, kami bertiga lumayan akrab—dulu. Sampai… aku mengetahui kalau Sasori menaruh hati pada Karin yang saat itu menjadi pacarku."

"Lalu kalian berkelahi?"

"Dibilang berkelahi juga tidak, mungkin pertengkaran kecil. Lagipula kami masih sangat muda untuk mempermasalahkannya. Pada akhirnya, toh Karin juga meninggalkanku."

"Apa kau… masih memikirkan Karin?" Sakura menundukkan wajahnya, bertanya hati-hati.

"Hey, kenapa? Kau cemburu? Bukankah aku sudah melakukan banyak hal yang meyakinkanmu? Apa masih kurang cukup juga?"

"Sasuke-kun! Bukan, bukan. Em…maksudku…apa kau masih trauma atas kejadian bersama Karin itu? Awalnya kau membatasi interaksi dengan orang lain, kau juga melakukan banyak hal untuk menyiksaku. Meski kini kau sudah mulai berubah, tapi itu tak menutup kemungkinan kan?"

Sasuke menegadah seolah berpikir, "Sebelumnya aku memang sempat trauma. Kupikir semua orang—terutama wanita, sama saja. Dulu, bagiku hidup itu seperti berlari. Ketika mereka bisa melangkah lebih jauh dariku, maka mereka tak akan segan-segan untuk meninggalkanku."

"Aku tak akan meninggalkanmu!"

Sasuke kembali menatap Sakura, mendengar sang gadis membantah ucapannya dengan mantap dan tanpa berpikir panjang. Kembali pemuda itu terkekeh melihat kelakuan Sakura. Benar juga, gadis itu mungkin terlalu bodoh untuk sekedar sampai pada tahap 'mengkhianati'nya.

"Hm… Pernah sekali aku mengejek Sasori. Saat itu kupikir konyol sekali bisa menyukai sepupu sendiri."

Sasuke terdiam sejenak sambil mengamati wajah Sakura yang terlihat—dengan jelas—penasaran terhadap kelanjutan ceritanya.

"Sekarang malah aku yang menyukai adikku. Karma itu ada ya?" Ucapnya sambil mencubit pipi Sakura. Membuat gadis itu menggembungkan pipinya dan cemberut. Sasuke hanya terkekeh melihatnya. Kembali tangannya mengusap rambut Sakura.

"Tapi kita tak memiliki hubungan darah."

Sasuke menghela nafas, "Kau mungkin benar, tapi tetap saja, dimata orang-orang kita ini berstatus kakak-adik. Dan ini illegal."

"Lalu bagaimana?" Sakura mengerutkan dahinya, menatap sang kakak dengan tatapan kecewa.

"Tenang saja. Bagaimanapun… tetap aku yang akan menjadi mempelai pria saat pernikahanmu nanti. Aku janji."

Bagaimana tak blushing kalau orang yang kau cintai berkata begitu. Sakura memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan mukanya yang terasa panas. Tapi itu percuma, karena kini Sasuke sedang menertawakan perubahan mimic kekasihnya itu.

Perlahan pemuda itu mendekatkan wajahnya kembali, tangannya menyelusup ke tengkuk Sakura, menarik gadis itu agar ikut mendekatinya. Dan mata merekapun terpejam. Sasuke bisa merasakan lembutnya bibir merah Sakura, membuainya dalam sebuah mimpi indah yang panjang.

Namun di sela ciuman itu, ia memikirkan sesuatu. Mengenai wanita dari masa lalunya yang kembali untuk menghancurkan dirinya yang sekarang. Sasuke sudah berjanji akan menjaga Sakura, dan ia akan menepatinya apapun yang terjadi.

"Emm? Sasu…ke…?"

Sakura bisa merasakan sesuatu menusuknya di bawah sana. Gadis itu melepaskan ciumannya, dan melirik ke bawah. Sementara Sasuke hanya membuang muka—dengan guratan merah tampil di wajahnya yang sempurnya. Sakura kaget melihat 'sesuatu' milik Sasuke.

"Sa—Sasuke-kun…"

Glek

"Apa boleh buat kan, Sakura."

Malam itu, sinar bulan yang masuk melalui celah jendela yang terbuka, menjadi saksi bisu pertarungan kedua insan yang saling mencintai di atas ranjang yang berdecit.

-ooOoo-

[Sasuke's Point Of View]

Pengkhianatan.

Bagiku itu kata sakral yang paling kubenci. Kukutuk semua orang yang pernah melakukannya, tanpa terkecuali.

Karna aku pernah merasakannya, pada seseorang yang kusayang.

Sejak hari itu aku mengerti…

Ketika kau mengenal apa itu cinta, saat itu juga kau mulai mengenal apa yang dinamakan kebencian. Kalau ada yang menentang hal itu, akan kubuktikan padanya, hingga ia merasakan apa yang kurasakan.

-ooOoo-

Aku terbayang…

Saat itu konser KISS tak cukup memuaskan. Berkat ke-absen-anku beberapa tahun belakangan, fans kami semakin berkurang. Bendera kejayaan sudah diturunkan. Sebagai vocalist, tentu semua tangung jawab ada padaku. Tapi apa yang harus kulakukan? Aku tak memiliki mood untuk menciptakan lagu baru. Bisa dibilang, 'muse'ku telah hilang.

Aku pulang membawa kehampaan, seperti biasa. Saat memasuki rumah, aku mendengar suara ramai. Kupikir mungkin ada tamu yang datang, tapi tumben sekali. Rumah sebesar ini dikunjungi tamu, toh Kaasan dan Tousan saja jarang pulang ke rumah.

Di sana, seorang gadis asing berdiri. Merasakan kehadiranku, gadis itu menoleh perlahan. Mengibaskan rambutnya yang berwarna merah muda—sangat aneh. Aku terpaku sejenak, bukan karena apapun, tapi karna wajah itu. Wajah yang hampir sama.

"Itu dia!" pekikan Kaasan membuat gadis itu membuyarkan lamunannya. "Itu putraku, kembaran Sai. Sasuke."

Aku memandangnya sejenak, entah mengapa aura kebencian menyelimutiku seketika. Aku membenci wajah itu. Itulah kesan pertamaku padanya. Dan aku tak berniat untuk merubah kesanku itu nanti.

Mungkin ia adalah putri keluarga Haruno yang diceritakan Tousan. Putri yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, dan dipungut oleh Tousan. Kasihan.

"Mulai sekarang mereka akan menjadi kakak-kakakmu. Nama Haruno akan diganti jadi Uchiha, kau keberatan?"

"Go—gomenasai~ tapi kalau bisa, aku ingin mempertahankan nama 'Haruno' itu." ucap gadis itu menjawab pertanyaan Tousan.

Bagus. Aku juga tak ingin memiliki marga yang sama denganmu. Setelah acara tak penting itu selesai, aku segera beranjak menuju kamar. Kuletakkan tas gitarku dan kujatuhkan tubuhku di atas ranjang. Pandanganku melayang seketika.

'Aku benci wajah itu.' gumamku lagi—entah pada siapa.

Namun aku merasakannya, getaran yang sudah lama hilang. Apakah gadis seperti itu yang bisa mempengaruhiku? Kalau begitu ia berbahaya. Aku tak ingin kejadian itu terulang lagi. Dan satu-satunya cara untuk mencegahnya, adalah membuat 'adik baru'ku itu pergi dari rumah ini.

-ooOoo-

Pagi itu aku terbangun dengan sebuah catatan kecil di atas meja.

Sasuke, aku menitipkan Sakura padamu.
Berangkatlah bersamanya.

-Itachi-

Sebuah pesan singkat namun sangat tepat sasaran. Ya, sasaran kesialanku. Baru aku mencoba mengusirnya dari rumah ini, dan sekarang aku harus mengantarnya ke sekolah. Oh, bagus sekali, niichan. Kau memang benar-benar kakak yang 'pengertian'.

Kuremas kertas itu, dan aku bersiap menuruni tangga. Tepat di bawah sana, kulihat sosok itu. Merah muda yang sangat mencolok. Sebuah sisir menyangkut di rambutnya, aku bisa saja membiarkannya, tapi entah mengapa tanganku bergerak dengan sendirinya. Hingga tanpa sadar, gadis itu sudah melirikku dengan takut-takut.

"A—arigatou."

"Itachi-niichan memintaku untuk mengantarmu ke sekolah."

Dengan itu aku melanjutkan langkahku. Aku tak memaksanya, toh saat ini kami adalah musuh, aku ingin lihat sampai sejauh mana ia bisa bertehan di neraka yang kuciptakan ini. Semuanya sama, ketika diberikan tekanan sedikit, dengan mudah pertahannya akan goyah dan menyerah. Namun yang mengejutkanku adalah…

"AKU TAK AKAN LARI!"

Dia melawanku.

Aku tersenyum penuh arti. Gadis ini boleh juga, mungkin aku jadi memiliki mainan untuk mengisi waktuku. Lagipula kemiripannya dengan 'orang itu' bisa kumanfaatkan sebagai pelampiasan. Sampai aku bosan, dan aku akan membuangnya dengan tatapan dingin—seperti biasanya.

-ooOoo-

Sayang sekali, sejak pendeklarasian perangnya terhadapku, justru statusku sebagai vocalist KISS semakin memadat. Membuatku tak memiliki waktu untuk mem-bully-nya lagi. Meskipun sedikit menyesal juga, tapi melihat sikap Sakura yang takut-takut di hadapanku membuatku semakin merasa akan memenangkan pertarungan ini tanpa banyak beraksi.

Tapi ketika sore itu, sepulang sekolah kulihat Sakura yang berjalan dengan seorang lelaki. Aku mengenali lelaki itu. Ya, aku mengenalinya. Sangat.

Sakura tersenyum, pertama kalinya kulihat sejak ia melawanku. Dan senyuman itu berbeda dengan senyuman yang biasa Sai tunjukkan kepadaku, ataupun biasa diperlihatkannya ke orang lain. Kenapa? Kenapa pemuda itu? Kenapa harus Sasori? Kenapa dia lagi?

Kebencianku…bertambah.

Hingga saat malam tiba, dan ia berkunjung ke kamarku untuk mengantarkan makanan. Saat itulah aku memulai aksiku yang tertunda. Remang-remang, namun mataku cukup untuk menangkap guratan merah di kedua pipinya saat aku mendekatkan wajahku.

"Kalau kau tak mengerti lewat kata-kata,… Mungkin kau akan mengerti lewat perbuatan."

"Apa maksud—mmmnghh!"

Aku menciumnya. Ciuman yang dipenuhi oleh paksaan. Aku tak peduli, hanya ingin melampiaskan kekesalanku. Kekesalan terhadap apa? Peduli setan aku memikirkannya. Aku sudah cukup kalut dengan beban hidup ini.

Dorongan dan gerakan perlawanan kian melemah seiring berjalannya waktu. Lihat? Benar bukan apa yang kubilang. Sekuat apapun pertahanan seseorang, kalau didesak secara konstan, ia akan menyerah dengan sendirinya. Dan itu terbukti saat ini.

Lenguhannya menandakan ia mulai menikmati aksiku. Dan tentu saja tujuan utamaku bukanlah untuk memuaskannya. Aku tersenyum, meski masih dibungkam oleh bibirnya.

"Fuwah~"

Ciuman itu terlepas. Aku meliriknya, namun aku terkejut melihat ekspresinya saat itu. Air matanya sudah penuh dan siap untuk menetes. Pipinya yang memerah mungkin karena sedang menahan diri. Tubuhnya pun gemetaran. Apa aku sudah sebegitu keterlaluannya?

Sakura mendorongku menjauh, dan berlari pergi. Sebesit rasa bersalah menyelimutiku. Aku tak mengerti, bukannya wanita selalu senang bila dicium? Bahkan mereka akan menjerit hanya karna tatapan kami bertemu. Kenapa Sakura malah sebaliknya?

Aku tak mengerti.

-ooOoo-

Turn on some blaring music
[
Nyalakan musik yang meriah]

Everyone put your hands up and get your drinks up

Go crazy with the whole world
[
Gemparkan seluruh dunia]

Everyone put your hands up and get your drinks up

Now put your hands up, put your hands up
[
Sekarang angkat tanganmu, angkat tanganmu]

Put your hands up!

Plok Plok Plok

Konser hari ini tak sesuai target. Tapi meskipun begitu, kami cukup puas. Fans KISS (KISSer) mulai bertambah jumlahnya. Saat lampu panggung dimatikan, para personil berhamburan menuju ruang istirahat. Sayangnya aku tak seluang itu, masih ada banyak hal yang perlu kuselesaikan lebih dulu.

Saat aku kembali menuju ruang istirahat, yang kuharapkan adalah sebuah ketenangan sebelum aku pulang ke rumah nanti. Tapi kini, yang hadir di hadapanku adalah sosok Sakura yang duduk di sebelah Kiba sambil bercanda.

Oh, apa-apaan ini?

"Ah, itu…Sasuke, kau sudah datang." Kiba langsung berdiri dan mencoba menyambutku dengan ucapan canggung.

Aku terdiam. Aku tak suka ini. Melihat Sakura yang berada di sini, mengingatkanku pada sosok Karin yang pernah menjadi bagian dari KISS dulu. Segera saja kutarik lengan kecilnya. Begitu kecil bahkan seperti batang kayu rapuh yang bisa kupatahkan dengan mudah.

Perasaanku sangat kacau. Rasa lelah, kesal, marah, kecewa, takut, semuanya seakan menggerogoti pertahananku dan berusaha menghancurkannya. Kubanting tubuhnya dengan keras di suatu jalan yang sepi. Kukunci gerakannya, wajahnya menunjukkan ketakutan meskipun samar-samar bisa kucium aroma alcohol darinya.

"Aku… datang ke konser KISS. Engh, aku ingin mendengar… suara itu lagi." alasan Sakura membuat mataku sedikit goyah. "Tapi…aku tak merasakan hal yang sama saat mendengar nyanyian Sasuke-nii barusan. Rasanya, jauh berbeda dengan yang kudengar di halaman rumah atau di belakang sekolah."

Dheg

Apa-apaan itu. Sok tahu sekali, memang sudah selama apa kau mengenalku sampai-sampai kalimat manis itu bisa keluar darimu. Aku menundukkan kepalaku. Pening mulai datang menyapa.

Perlahan Sakura memposisikan dirinya berdiri di depanku.

"Niichan? Kau baik-baik saja?" Sakura memperhatikanku dengan tatapan cemas. "Apa ada yang sakit? Perlukah kupanggilkan orang? Niichan?"

Ah, ada apa ini. Aku bergerak lagi dengan sendirinya. Tanganku meraih pinggangnya dan menariknya dalam dekapanku. Kenapa setelah sekian lama aku menyimpan perasaan ini, baru di hadapannya lah keangkuhanku goyah. Aku berusaha menghindari semua orang, dan membuat semua orang menghindariku.

Hanya Sakura lah yang mau mendekat.

Diriku sendiri saat itupun tak menyadarinya, bahwa Sakura mulai menggerayangi tubuhku dan memasukkan virusnya. Membuatku semakin kesakitan bila aku tak bersamanya, membuatku kecanduan. Dan aku tak suka itu, meskipun aku juga tak membencinya.

-ooOoo-

Suatu siang di tempat persembunyianku, di belakang sekolah. Aku menanyikannya, lagu bersejarah. 'Because I miss you', awalnya lagu itu seperti ungkapan rindu kepada seseorang. Kini ketika aku menyanyikannya, seakan menjadi lagu yang mengharapkan untuk bisa mengulang masa lalu.

Aku membuka mata, kulihat sosok Sakura yang sudah dipenuhi cairan mengalir dari matanya. Ia terisak, aku sendiri tak tahu kenapa. Tapi seakan ia mengerti apa yang ingin kusampaikan dari lagu ini.

Tanpa aba-aba dariku, ia berlari. Memelukku secara tiba-tiba, membuatku hampir saja terjungkal jatuh—dan membuat suasana menjadi comedy. Sambil mengusapku, ia bergumam. Gumaman tak jelas. Tapi aku lega, seakan ia mewakili tangisanku. Sampai aku berusaha menenangkannya dengan kecupanku.

Tapi…

Pernah suatu ketika aku memeluknya dengan erat, entah mengapa yang keluar adalah nama gadis lain.

"Karin."

Tentu saja ia langsung membeku, dan aku mendapatkan penolakan keras untuk kedua kalinya. Kembali kupijat kepalaku—yang mungkin sudah konslet. Kemanakah akal sehatku, kenapa aku malah melukainya saat aku ingin mengucapkan terima kasihku.

"Bodoh."

-ooOoo-

Acara keluarga yang akan diadakan oleh Tousan awalnya akan menjadi moment permintaan maafku. Tapi setelah kupikir-pikir, aku pasti tak akan memiliki cukup waktu untuk bersamanya di sana. Toh aku juga tak ingin mengundang cibiran atas sikapku pada Sakura yang mendadak berubah.

Tepat saat Sakura hendak berangkat menuju Hawaii bersama Sai, aku menculiknya—mungkin itulah tepatnya. Aku membawanya bersamaku menuju Bogor untuk konser KISS. Tentu saja ia sempat menolak habis-habisan, tapi kemudian ia lelah dan memutuskan untuk diam.

Konser pertama KISS di Bogor. Berakhir dengan kejadian pertemuanku kembali dengan Karin. Sosok yang ingin kuhindari tapi justru mendekati. Sekilas kulihat, memang Karin dan Sakura sangat mirip. Entah karena apa, tapi setelah aku mengenali mereka lebih jauh. Aku menemukan perbedaannya. Ternyata mereka tak semirip yang kukira.

Sakura jauh lebih baik darinya. Itu yang bisa kusimpulkan. Setidaknya, Sakura tak akan berani mengkhianatiku. Karin kembali mencoba merayuku, menjaringku perlahan untuk memasuki jurangnya secara tak sadar. Aku hampir saja terkecoh, bagaimanapun ia 'pernah' menjadi seseorang yang paling berharga untukku.

"Apa yang terjadi?"

"Sakura…"Naruto menundukkan kepalanya, "Sakura tiba-tiba berlari keluar, padahal ia tak tahu daerah ini, ditambah lagi jalanan sangat ramai karena ada acara kembang api nanti malam. Kami juga tak bisa menelponnya."

"Kau yang mengajaknya ke sini, seharusnya kau bisa menjaganya! Bukannya malah berduaan dengan beruang betina itu!" sindir Shion sambil menatap tak suka pada Karin.

Ini sama sekali tak bagus. Padahal aku sendiri yang mengajaknya datang ke sini, tapi rencana jadi berantakan karena Karin. Segera saja kutinggalkan 'mantan'ku itu, entah apa yang dilakukan Shion dan Naruto kepadanya setelah itu, aku tak tahu.

Aku berlari ke segala tempat yang melintas di pikiranku. Berjam-jam berlalu aku tak menemukannya dimanapun. Saat aku mulai putus asa, sebuah suara misterius menuntunku. Aku berjalan mengikutinya, berkat suara itu, aku bisa menemukan Sakura.

Sosoknya yang mungil dan bergaun putih panjang, kakinya yang telanjang, rambut merah mudanya yang terurai. Apakah ia secantik ini dari dulu? Kenapa aku baru menyadarinya? Aku mendekatkan diriku, tapi ia semakin menjauh. Melihat adanya bahaya bila ia terus berjalan menjauh ke sana, aku berhenti.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku menyukai Sasuke-niichan."

Dheg

Mataku membulat sempurna. Wajah masam yang dipenuhi dengan keputusasaan terpampang jelas pada adik angkatku itu. Tubuhnya sedikit gemetar, aku tahu itu pasti karena udara dingin yang sudah tak bisa ditahannya lebih lama lagi.

"Tapi kau tak perlu khawatir." Sakura mendongakkan kepalanya. "Dengan ini…aku akan melupakan segalanya."

Apa maksudnya? Jangan bilang kau mau bunuh diri, Sakura. Ini konyol. Aku tak mem-buly -mu agar kau patah semangat dan mati. Itu bukan tujuanku. Tapi aku juga tak bisa tinggal diam seperti ini, sambil memikirkan cara, Sakura melangkah mundur menuju kematiannya.

"Aku ingin Sasuke-nii bahagia—"

"AKU INGIN BAHAGIA BERSAMAMU."

Ctar Taarrr

Sudah tak ada cara lain lagi yang bisa kupikirkan. Aku meneriakkannya sekuat yang kubisa. Kau tahu, ini pertama kalinya untukku menyatakan cinta duluan. Ini pernyataan cinta bukan? Tentu saja ini pernyataan cinta. Ah, sedang apa aku mengoceh sendiri sepeti ini.

"Aku ingin bahagia, bersamamu, selamanya." ulangku, penuh dengan penekanan.

Sakura menatapku seolah tak percaya. Jangankan dia, aku saja tak pecaya telah mengatakannya. Sungguh egoku sedang bersembunyi di mana saat ini. Kalau ada lubang besar, mungkin aku sudah masuk dan bersembunyi di dalamnya. Sayangnya kini malah Sakura yang akan terpeleset jatuh ke jurang karena terlalu dekat.

Aku mencoba meraihnya, berharap hari pernyataan cintaku yang pertama tak menjadi pernyataan cintaku yang terakhir. Sejak saat itu, aku mulai mencobanya lagi. Membuka hatiku meskipun tak sepenuhnya bisa kumaafkan Karin yang telah menyakitiku.

-ooOoo-

Mentari pagi membukakan mataku. Aku merenggangkan tubuh, sungguh mimpi yang aneh. Kenapa aku bisa memimpikan kejadian-kejadianku bersama Sakura? Dan saat kulirik ke sampingku. Sosok itu sedang tertidur dengan pulasnya sambil memeluk lengan kiriku.

Aku tersenyum, "Selamat pagi, Sakura." Kukecup kening lebarnya.

"Engh~ Sasuke-kun." Ia hanya melenguh, sebelum kembali menutup matanya.

Benar juga, mungkin ia lelah dengan permainanku semalam. Tapi perasaan kami hanya melakukannya sampai jam 3, dan hanya berlangsung 5 ronde dengan 30-50 menit tiap rondenya. Oh, apa itu berlebihan?

Aku menggeser tanganku darinya perlahan, berusaha tak membuat tuan putriku itu terbangun. Ah, matahari sudah sangat meninggi. Aku harus segera pergi ke base camp KISS. Aku yakin kini KISS pasti sedang mengalami gonjang-ganjing karena skandal Karin yang menciumku di atas panggung kemarin.

'Akh, sial. Kejadian itu…' ketusku.

Wanita itu benar-benar tak pernah berhenti mengusikku. Yang sebenarnya diinginkannya itu apa, sudah menghancurkan hidupku dan KISS, aku tak akan membiarkannya mempengaruhi Sakura.

Sebelum aku bersiap untuk berangkat, kusempatkan mengecup bibir Sakura. Berbisik di telinganya, mengatakan bahwa aku mencintainya. Masalah ini akan kuluruskan, hingga saat ia terjaga nanti, semua akan baik-baik saja.

-ooOoo-

"Sasuke, ini benar-benar heboh!" Naruto menunju-nunjuk layar televise di hadapannya. "Skandalmu dengan penyanyi solo—Karin, sudah menjadi trend topic hanya dalam waktu kurang dari satu hari."

"Tentu saja, itu kan disiarkan secara live." Shion nampak kesal sambil melipat kedua tangannya. "Pasti beruang betina itu telah merencanakannya dari awal! Atau mungkin bisa jadi sejak hari pertama festival olahraga di sekolahmu, dia sudah mengawasi di sana?"

Aku mengehela nafas panjang, sungguh sulit untuk meluruskannya. "Apapun yang terjadi, aku tak akan membiarkan hal ini terus lanjut dan merusak segalanya. Aku akan memikirkan cara untuk segera menyelesaikannya."

"Tapi bagaimana? Kau tahu kan, popularitas KISS sedang labil. Para KISSer tak bisa dijadikan tameng untuk membantu kita melawan Karin. Beberapa diantaranya bahkan sudah beralih dari KISSer dan menjadi pendukung Karin."

Benar juga ucapan Kiba barusan. Fans kami tak cukup kuat untuk melawan berita heboh itu. Kalau begini, tak hanya karir KISS yang akan hancur, tapi juga kehidupan semua personil yang terlibat di dalamnya.

Tunggu, mungkin ada yang bisa kulakukan. Ya. Ada. Aku segera meraih ponsel dan mengetikkan pesan singkat kepada Karin. Kalau hal ini tak bisa diluruskan dengan jalan damai, maka hanya inilah satu-satunya cara. Dan semua akan kupertaruhkan di sini.

"Sasuke, apa yang kau pikirkan?" melihatku terdiam, mungkin Kiba menjadi penasaran.

"Kita akan berperang."


-To Be Countinued-


...Behind The Scene...

*Semua sedang mengadakan rapat dadakan*
*Kami duduk mengelilingi Karin yang kini berada di tengah-tengah*

Author : Ehem... baiklah. Kau sudah mengerti kesalahanmu, kan? Karin?

Karin : . . . . .

Sakura : Di dalam script dijelaskan bahwa kau hanya perlu 'memeluknya', kenapa kau malah mengambil inisiatif untuk 'mencium'nya? Dan lihat kini, akibatnya banyak protes dari readers. Kamu mau tanggung jawab?! *menahan emosi*

Hinata : Sakura-chan, tenang lah~ *membantu Sakura duduk kembali ke kursinya*

Karin : Memang kenapa? Ciuman kan hal yang biasa? lagipula kalian bahkan melakukan yang lebih dari ciuman? *membela diri*

Sasuke : Tapi kami hanya mengikuti apa yang tertulis dalam script, dan kau tak melakukannya.

Sakura : Kami jadi kerepotan karena keeoisanmu! Lihat saja, saat keluar dari studio ataupun dari apartemen, kami selalu dibuntuti wartawan yang bertanya tentang kejadian ciuman itu. Akh~ *melipat kedua tangan di depan dada*

Author : Ah, baiklah-baiklah.
Sementara biar aku yang menjelaskannya pada readers~

Ehem...readers, sebenarnya Shera hanya menuliskan 'memeluk' dalam script kemarin, tapi sepertinya Karin terlalu ingin menghayati perannya sampai melakukan hal itu.
Maklumi saja ya readers, Karin adalah bukan berasal dari agency kami, jadi kami tak bisa memarahinya atau memecatnya. *sujud-sujud*

dan...jawaban atas siapa yang menyembunyikan script, sebenarnya... aku yang lupa meletakkannya di bawah bantal. He he ^^;

Ok, see you next part
Mind to give a mark (review)?
keep Trying My Best!

Shera.