Disclaimer : I DO NOT OWN NARUTO.. Kishimoto owns Naruto..(T_T)
Don't like don't read!
Warning: Perhatian cerita ini mengandung unsur seksualitas, umpatan, dan kekerasan. Untuk pembaca usia 18+.
.
SPECIAL THANKS TO:
Mizzy - Tempat Author mengadu dan memohon. Ide dan Saranmu Berarti Banget. Semoga tidak capek dengan gangguan Author.. Hehehe
Chapter ini spesial dipersembahkan untuk:
-Valkyrie Sapphire, Kenshin, Eunike Yuen dan Teman-teman FB yang tidak bisa disebutkan satu per satu-
THANKS TO:
Cutie Hanny-Chan, Ruru aika, Nonana, Darkt night to emo, Aiko JoonBe Hachibi-chan, Sasusaku 4ever, Vide Shaki, Author Unyu, ulq4schiffer, Hana Ai Dream-High, Ayhank-chan UchihArlinz, psycholic, Lady lollipop, Sichi, lorist angela, Chini VAN, d3rin, Sky pea-chan, garoo, Eunike Yuen, uchiha lovers, yoyoi, Black winged reaper, Devil's of Kunoichi, Rei, Tabita Pinkybunny, FYLIN, Uzumaki Panda, Sachiko Takarai, Selenia Kagene, Chwyn, Zoroutecchi, Yue Heartphilia, Uchiha Sakuya-Chan, Valkyria Sapphire, Sagaarayuki, Kikyo Fujikazu, Kirei kazuhito, Akari nami amane, Sintathae, uchihaiykha, Kikyo Fujikazu, icko sasusaku, Rierye, Michiru Kita, viechan, haruno gemini-chan, Mochi-boo, Twingwing RuRaKe, Dark Angel, Kazuki Namikaze, Rizuka Hanayuuki,.
...
Gomen Baru mengupdate! Silahkan dibaca!
...
Slave of Your Love
AU, OOC, Miss Typo, Gaje
Rate : M
Genre : Angst/Hurt/Comfort/Romance
...
Summary:
Aku tidak pernah bermimpi untuk menjalani hidup seperti ini. Menjadi jaminan atas hutang ayahku dan hidup layaknya seperti seorang wanita penghibur. Bahkan hidup seorang wanita penghibur lebih baik dari apa yang kurasakan. Aku hanyalah seorang budak dan aku tidak bisa lari dari nasib hina yang mengikat hidupku ini. Bisakah aku keluar dari kehinaan ini? Ataukah takdirku yang sudah harus begini?
...
Recap:
Naruto diam tidak mampu berkata-kata setelah mata sapphire-nya menatap wajah pria itu. Matanya membelalak tidak percaya dengan makhluk yang sedang berdiri di hadapannya. Makhluk kejam yang menatapnya tanpa belas kasihan. Tatapan matanya setajam pedang yang siap menembus tubuhnya kapan saja. Keberanian yang tadinya memenuhi raganya berganti dengan ketakutan yang sangat besar. Jantung Naruto serasa berhenti memompa darah ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya terasa membeku dan tidak bisa bergerak. Ia berusaha mengerakkan bibirnya yang terasa berat untuk menyebutkan dua kata yang kini melekat di otaknya.
"I-I-tta-chi-Nii-san—" ucap Naruto gemetaran.
'BAANNGG!
Rasa nyeri tiba-tiba menghujam tubuh Naruto. Wajah pria di hadapannya samar-samar menghilang dari pandangannya. Dan setelah itu, yang Naruto tahu, tubuhnya terasa ringan dan kegelapan mulai menari-nari di pelupuk matanya.
.
.
Chapter 10. New Plan
.
.
-Amegakure-
Normal POV
Sosok pria yang terbalut jaket hitam panjang berdiri di sebuah lorong gelap kecil sembari memandang ke arah gedung Klub yang telah hangus oleh kobaran api. Tangan kanannya ditopang ke dinding—menahan tubuhnya yang terasa berat sambil mengatur desah nafasnya yang terengah-engah. Wajahnya menghitam oleh arang dan bau asap menyeruak dari tubuhnya. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Namun, ia sama sekali tidak mempedulikannya. Mata Onyx-nya kini terfokus pada pemandangan di hadapannya.
Kobaran api melahap habis bangunan Klub yang disertai dengan ledakan-ledakan kecil dari dalamnya. Teriakan panik dan ketakutan orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri membuat malam yang dingin itu semakin mencekam dan menakutkan. Tidak ada satu orang pun yang berusaha menghentikan kobaran api itu. Mereka lebih memilih melarikan diri dan membiarkan bangunan klub itu habis dilahap api.
Pria itu kemudian menyandar punggungnya di tembok—mengawasi gedung yang hampir terbakar habis. Matanya memandang lurus ke bangunan itu sembari me-reka ulang ingatan akan peristiwa yang belum lama terjadi. Peristiwa yang terus mengusik pikirannya.
Ia masih ingat dengan jelas bagaimana sepasang mata sapphire menatapnya dengan pandangan takut bercampur tidak percaya dan suara parau orang itu sebelum akhirnya ia menembakkan pelurunya ke tubuhnya. Ia belum pernah mengenal orang itu sebelumnya. Namun, mengapa mata orang itu seolah pernah ia lihat. Dan lagi, suara orang itu tidak terdengar asing di telinganya ketika mengucapkan kata-kata yang sepertinya pernah didengarnya. Kata-kata itu membuatnya terhentak dan tanpa sengaja membuat tembakan pistolnya melenceng ke bahu orang itu—sebelumnya sudah diarahkan ke jantungnya. Ucapan orang itu sangat mengganggunya dan terus terngiang-ngiang di benaknya.
'I-I-tta-chi-Nii-san—'
Kemudian, wajah orang itu berubah menjadi wajah pemuda berambut pirang—yang tengah tersenyum lebar kepadanya, sambil menampilkan sederetan gigi putihnya,
'Itachi-Niisan!'
Suara pemuda itu semakin lama semakin membesar di benaknya dan membuat dirinya berusaha mengingat siapa pemuda yang kini muncul di pikirannya.
'Itachi-Niisan!'
'ITACHI-NIISAN!'
Tiba-tiba, wajah pemuda berambut pirang itu berubah menjadi wajah seorang pemuda yang sangat mirip dengannya, namun memiliki rambut hitam yang mencuat ke belakang. Suara pemuda itu berulang-ulang mengisi kepalanya.
'Hn. Nii-san.'
'Nii-san.'
Kepalanya mulai terasa pusing dan berat ketika ia mencoba mengingat siapa kedua wajah yang muncul di otaknya. Tetapi, semakin ia berusaha memutar otaknya, semakin besar rasa sakit yang mengguncang di kepalanya, sehingga ia sama sekali tidak menemukan jawabannya. Rasa sakit itu seolah-olah menghentikan dirinya untuk menemukan ingatan yang samar-samar tidak diketahuinya. Rasa pening terus menusuk ketika pikirannya tidak hanya dibayang-bayangi oleh wajah dan suara kedua orang itu, tetapi juga wajah dan suara orang asing lainnya yang tidak dikenalnya, namun terus memanggilnya dengan sebutan 'Itachi'.
Akhirnya, sebelum ia kehilangan kendali, bunyi ringtone iPhone-nya mengembalikan kesadarannya.
"Ya," jawabnya.
"Bagaimana pertemuan kalian?" tanya suara dari balik handphonenya.
"Tidak seperti yang direncanakan, Pain. Shinobi mencium pertemuan kita. Mereka mengirim penyusup ke sini."
"Shit!" umpatnya kesal. "Inilah yang kubenci jika bekerja sama dengan Orochimaru." Pain terdengar sangat panik. "Apa mereka berhasil mendapat informasi?"
"Tidak. Aku menghancurkan alat penyadap mereka sebelum kita mendiskusikan kesepakatan dengan Oto." ungkapnya. "Aku berhasil membuat mereka sekarat kemudian melarikan diri sebelum gedung terbakar habis. Aku tidak bisa menghabisi mereka saat itu juga karena api semakin membesar. Mereka sepertinya mati terbakar bersama dengan gedung." Pria itu menjelaskan. "Berita buruk juga untukmu. Hidan tewas dibunuh Shinobi."
"Cih. Ini diluar perkiraanku. Tidak kusangka akan seperti ini," ujar Pain kesal. "Lalu bagaimana dengan kesepakatan kita?"
"Kisame yang mengurusnya. Ia lari ke tempat lain bersama Kabuto dan Kakazu. Aku yakin mereka sedang mendiskusikannya."
"Bagus." Pain terdengar sedikit tenang. "Tapi, mulai sekarang kita harus bergerak perlahan-lahan. Aku yakin Shinobi akan mulai memburu kita setelah tahu penyusup mereka mati."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya, Pain?"
"Aku belum bisa memutuskannya sekarang. Kita harus menunggu sampai Kisame memberi kabar," jawab Pain. "Saat ini yang bisa kau lakukan hanyalah bersembunyi dan menutupi jejakmu sampai aku memberimu perintah selanjutnya."
"Aku mengerti."
"Hayate, kuingatkan padamu, tutupi baik-baik keberadaanmu. Shinobi bukan lawan yang sepele." Pain memperingatkan. "Aku akan menghubungimu kembali untuk memberitahukan rencana kita selanjutnya."
"Hn."
Hayate menatap bangunan Klub yang masih terbakar untuk terakhir kalinya setelah Pain mengakhiri pembicaraan. Lalu, ia berjalan meninggalkan tempat itu dan membiarkan kegelapan menyamarkan keberadaannya.
.
.
.
.
-Konohagakure-
'BANG! BANG! BANG! BANG! BANG!'
Peluru-peluru melesat kencang dari pistol yang ditembakkan Sasuke ke deretan target di hadapannya. Sasuke kemudian menggumamkan umpatan kesal setelah menyaksikan satu dari lima peluru yang ia tembakan—yang mampu mengenai sasaran. Tidak berhenti begitu saja, Sasuke kembali mengisi peluru-peluru baru, menarik pelatuk pistolnya, mengarahkan pistolnya ke target, dan untuk kesekian kalinya menembak target yang diincarnya. Sayangnya, untuk kali ini, tidak satu pun dari tembakannya yang tepat mengenai sasaran. Saking kesalnya, Sasuke kembali menggumamkan sumpah serapah bertubi-tubi. Percuma saja menghabiskan seluruh pelurunya, usahanya selalu sia-sia. Sasuke akhirnya memutuskan berhenti melanjutkan latihan tembaknya dan melepaskan headset peredam suara yang sedang dipakainya dengan kasar.
Suigetsu—berdiri di samping kanan Sasuke—mengangkat alis kanannya heran melihat gerak-gerik Sasuke yang tidak biasa itu. Ia lalu menoleh kepada Shikamaru di belakang—juga sedang mengawasi Sasuke. Matanya memandang penuh tanya pada Shikamaru, menyiratkan keingintahuan terhadap penyebab keanehan Sasuke. Shikamaru membalas Suigetsu dengan mengangkat bahunya, tanda tidak tahu.
Pada akhirnya, Suigetsu memilih untuk tidak ikut campur dan menghiraukan Sasuke. Suigetsu mulai membereskan perlengkapannya, melirik sejenak ke jam tangannya –menunjukkan pukul 12 malam, mengeluarkan kunci motornya, dan meninggalkan ruang menembak Shinobi setelah mengucapkan pamit pada Shikamaru dan Sasuke.
Shikamaru segera bangkit berdiri setelah Suigetsu meninggalkan dia dan Sasuke. Ia melangkah dengan santai mendekati Sasuke yang sibuk membersihkan pistolnya, lalu berdiri tepat di samping kiri Sasuke. Shikamaru kemudian mengambil pistolnya yang diselipkan di pinggangnya, lalu membidiknya ke salah satu target di depannya.
Shikamaru tidak langsung menembak. Ia melirik sekilas ke arah Sasuke dan mendapati Sasuke tengah memperhatikannya. Setelah itu, dengan tenang, ia menarik pelatuk pistol dan menembakkan pelurunya. Peluru itu meluncur mulus dan menembus target di hadapannya dengan sempurna. Puas dengan hasilnya, Shikamaru menyimpan kembali pistolnya dan menghadap Sasuke yang kini menatapnya sebal. Seringai angkuh terpasang di bibir Shikamaru.
"Cih. Cuma begitu saja aku juga bisa," ujar Sasuke tidak mau kalah. Jelas sekali suaranya terdengar kesal.
"Oh ya. Sayangnya apa yang kulihat tadi tidak begitu," balas Shikamaru yang membuat Sasuke terdiam. "Kau tidak fokus," sambungnya sembari mengambil rokok dari sakunya.
Sasuke tetap diam dan sibuk membereskan perlengkapan menembaknya.
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur. Tapi, melihatmu sangat kacau membuatku tidak bisa mengacuhkanmu." Shikamaru menyulutkan api di rokoknya.
"Bukan urusanmu," jawab Sasuke keras kepala.
Shikamaru menghisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asapnya, lalu melanjutkan bertanya topik yang lain. "Sakura baik-baik saja?"
Pertanyaan Shikamaru membuat Sasuke tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Ia kaget mendengar Shikamaru menyebut nama orang yang sangat sensitif di telinganya. Ditambah lagi, Shikamaru menyebut nama depan wanita itu tanpa canggung, seolah-olah mereka sudah saling mengenal dekat.
"Kau kenal Sakura?" bukannya menjawab Sasuke malah balas bertanya.
"Tentu saja kenal. Dia bekerja di toko Ino sebelum kau mengambilnya."
"Ya, aku tahu. Dia juga sahabat Yamanaka, bukan?"
Shikamaru mengangkat alis kanannya dan balik bertanya, "Sakura mengatakannya padamu?"
"Ya." jawabnya. 'Tapi tidak secara langsung,' lanjutnya dalam hati. "Dia baik-baik saja dan bekerja padaku," sambung Sasuke kemudian.
Shikamaru menggangguk setelah mendengar jawaban Sasuke. Mereka berdua kemudian tidak bersuara karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Shikamaru," panggil Sasuke tiba-tiba. "Kau akrab dengan Sakura?" tanyanya.
"Tidak juga." Shikamaru menatap Sasuke penuh selidik. "Kenapa kau bertanya?"
"Kenapa tidak? Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang orang yang bekerja padaku. Wajar, bukan?" ucap Sasuke hati-hati agar Shikamaru tidak mencurigainya memiliki maksud tersembunyi di balik pertanyaannya.
"Tentu saja wajar, Sasuke," jawab Shikamaru. "Hanya saja, setahuku kau tidak pernah tertarik dengan kehidupan pribadi seseorang, apalagi jika orang itu adalah wanita."
Kejeniusan Shikamaru ternyata cukup jeli menangkap 'sesuatu' dari pertanyaan Sasuke, dan itu membuat Sasuke mengumpat kesal di hatinya.
"Sakura itu putri Shouji. Bisa saja dia memiliki sifat penipu seperti ayahnya. Aku harus mengetahui latar belakangnya supaya tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dulu." Shikamaru bisa saja jenius tapi Sasuke juga pintar mencari alasan yang masuk akal.
"Aku memang tidak begitu akrab dengan Sakura. Tapi, aku yakin Sakura bukanlah seperti yang kau tuduhkan," kata Shikamaru sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "Sakura gadis yang rajin dan jujur. Dia juga mandiri dan pekerja keras. Dia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya karena Shouji sama sekali tidak mempedulikannya. Itu yang kudengar dari Ino."
"Bisa saja dia bersikap baik hanya untuk menyembunyikan jati dirinya," ujar Sasuke berkeras. "Mengenai Shouji, mana mungkin seorang ayah tidak mempedulikan anaknya sendiri." Nada Sasuke terdengar tidak percaya. Namun, setelah ia mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Sakura—dimana tubuh wanita itu yang penuh luka pukulan, ia sadar semua itu bisa saja benar. Tiba-tiba, perasaan bersalah mulai mengusik hatinya.
"Tidak. Aku tahu Sakura dan dia tidak seperti itu. Aku bisa pastikan sikap yang ia tunjukan selama ini adalah jati dirinya sendiri." Shikamaru membela. "Aku tidak tahu pastinya bagaimana hubungan Sakura dengan ayahnya. Tapi, aku yakin dia tidak seperti Shouji yang mampu menyakiti orang lain. Sakura itu terlalu baik dan lemah untuk menyakiti orang lain. Di luar, ia kelihatan gadis yang kuat. Padahal, Sakura sebenarnya gadis yang sangat rapuh dan butuh kasih sayang. Aku rasa itulah yang menarik Ino untuk menjadi sahabatnya dan kemudian memutuskan untuk melindunginya." Sebuah senyum kecil tanpa sadar terbentuk di bibir Shikamaru saat ia menjelaskan.
Di hati Sasuke mulai muncul rasa tidak suka mendengar cara Shikamaru berbicara. Seperti ada perasaan kagum di suaranya. "Dari penjelasanmu itu kau kedengarannya sangat mengenal Sakura."
"Itu karena aku sering bertemu dengannya saat aku masih berhubungan dengan Ino. Ino sering membicarakan tentang Sakura saat kami sedang berdua. Bahkan, wanita merepotkan itu pernah mengajak Sakura untuk ikut pada acara kencan kami." Shikamaru menghela napas. "Mereka itu sudah seperti saudara kandung yang tidak bisa dipisahkan, sampai membuatku berpikir Ino lebih mementingkan Sakura dibandingkan aku." Ada nada kecemburuan samar-samar terdengar di suara Shikamaru. "Itulah Ino. Dia akan berusaha melindungi orang yang berharga baginya bahkan melebihi dirinya sekalipun." Mata Shikamaru terlihat melembut walau hanya sebentar kemudian memandang Sasuke. "Jadi, kau jangan heran jika aku bisa tahu banyak tentang Sakura."
"Apa dia pernah berhubungan ataupun dekat dengan seseorang?" tanya Sasuke penasaran. Dan itu, tentu saja menarik perhatian Shikamaru.
"Aku memang mengenal Sakura, tapi bukan berarti aku tahu seluruh kehidupannya. Tidak semua kehidupan Sakura, Ino ceritakan padaku. Aku rasa ada sesuatu yang tidak Ino ceritakan padaku dan aku sama sekali tidak keberatan. Aku memang tidak tertarik mengurusi kehidupan orang lain." Shikamaru memandang Sasuke penuh selidik dan menyeringai. "Sasuke, kurasa kau bertanya tentang Sakura bukan karena kau curiga. Kau sebenarnya tertarik padanya, kan? Dan, jangan bilang sikapmu yang aneh ini ada hubungannya dengannya."
"Tidak," jawab Sasuke bersikeras. "Aku sama sekali tidak menyukainya dan sikapku ini tidak ada hubungannya dengan dia. Aku hanya ingin memastikan kalau Sakura tidak berhubungan dengan orang aneh yang nantinya diam-diam mengincar kekayaanku."
"Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak pernah melihatnya bersama dengan pria mana pun." Shikamaru mengangkat kedua bahunya. "Tapi, itu tidak bisa memastikan kalau Sakura belum pernah memiliki kekasih. Sakura itu gadis yang sangat menarik dan pastinya banyak pria yang ingin mendekatinya," ujar Shikamaru dengan seringai mengejek di bibirnya sambil menyelidiki ekspresi wajah Sasuke.
"Hn," balas Sasuke datar mendengar jawaban Shikamaru. Ekspresinya menunjukkan dia sama sekali tidak keberatan.
Percuma saja menggali informasi itu lebih lanjut. Jika ia mendesak, Shikamaru akan mencurigainya dan menyimpulkan sesuatu seenaknya. Sasuke akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bertanya dan memasang ekspresi tidak peduli. Hanya saja, Hati dan pikirannya sama sekali tidak sejalan. Hatinya sama sekali tidak tenang mendengar jawaban Shikamaru yang ambigu itu. Telinganya benar-benar panas mendengar ada pria lain yang merndekati Sakura. Tiba-tiba, emosinya mulai memuncak. Rasanya, Sasuke ingin sekali melampiaskannya pada target di depannya dan menghancurkannya sampai tidak tersisa.
"Sasuke." Shikamaru menghisap kembali rokoknya dan menghembuskannya perlahan. "Mengenai Sakura, sebaiknya kau mengijinkan dia bertemu dengan sahabatnya. Sakura pasti sangat kesepian di rumahmu."
"Tidak masalah. Dia sudah kuijinkan keluar rumah."
"Baguslah. Ino bisa tenang nantinya. Ino sangat histeris semenjak dia tahu Sakura menghilang."
Mata Sasuke menatap Shikamaru dengan pandangan mencibir. "Bukan Sakura yang kau khawatirkan. Kau sebenarnya masih sangat peduli dengan mantanmu itu, kan?" Sasuke balas mengejek.
"Cih. Ino hanyalah masa laluku. Aku tidak punya waktu berurusan dengan wanita merepotkan itu." Shikamaru memejamkan matanya.
"Kalau begitu, kau tidak keberatan jika Yamanaka berhubungan dengan Arisugawa? Kurasa tidak butuh waktu lama bagi Arisugawa mengajak Yamanaka tidur dengannya." Sasuke sengaja menyindir dan melirik sebentar ke tangan Shikamaru yang kini mengepal kuat.
Sasuke tahu, Shikamaru berusaha menahan diri. Tapi, jika hal itu sampai terjadi, Sai Arisugawa akan segera berubah menjadi mayat dan Sasuke tidak akan membutuhkan waktu yang lama mengetahui siapa penyebab kematiannya.
"Aku tidak peduli," jawab Shikamaru pelan dan menyiratkan bahwa ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu. Shikamaru mulai berjalan meninggalkan Sasuke dan menuju pintu keluar.
"Shikamaru,"panggil Sasuke. Shikamaru berhenti berjalan dan menatap Sasuke. Shikamaru menatap tanda tanya pada Sasuke yang tidak berbicara satu kata pun setelah Sasuke memanggilnya. "Apa?" tanyanya tidak sabar.
"Bagaimana caranya menaklukkan hati wanita yang kau incar?" tanya Sasuke tanpa menatap langsung mata Shikamaru.
"Kupikir kau sama sekali tidak ada masalah berhubungan dengan wanita. Mereka tidak pernah berhenti mengejarmu."
"Jawab saja pertanyaanku," kata Sasuke tidak sabar.
"Tanyakan saja pada Kakashi. Dia lebih berpengalaman dengan hal itu." Shikamaru menguap dan kembali berjalan keluar. "Aku pulang," tangan kanannya diangkatnya untuk mengucap perpisahan.
Sasuke menjatuhkan tubuhnya di salah satu deretan kursi. Kedua telapak tangannya menahan kepalanya yang tertunduk menatap lantai. Ia terlihat lelah. Tidak ada gunanya bertanya pada Shikamaru. Ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban akan permasalahan yang kini membelenggunya. Ia sungguh kecewa dan tidak tahu harus berbuat apa. Sasuke tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Sasuke kemudian menutup kedua matanya. Samar-samar, wajah wanita bermata hijau yang sedang menatapnya mulai terbayang di benaknya. Ia membiarkan bayangan wanita itu memenuhi seluruh pikiriannya, karena ia sadar tidak ada gunanya lagi untuk lari dari kenyataan.
Di luar, Shikamaru bersandar di luar gedung. Udara malam yang dingin sama sekali tidak dipedulikannya. Matanya menerawang jauh ke langit malam. Malam itu, tidak ada satu pun bintang yang muncul. Bulan pun juga sama sekali tidak tampak. Sama sekali tidak ada yang menarik memandang ke langit yang sangat gelap itu. Tapi, itu tidak membuatnya memalingkan pandangannya. Shikamaru tetap memandang pasrah ke atasnya, menunggu adanya bintang jatuh melintas di hadapannya untuk memohon harapannya.
"Jika aku tahu caranya, aku tidak akan mungkin seperti ini," gumamnya penuh penyesalan.
.
.
.
.
Suara pintu yang dibuka pelan membangunkan Sasuke dari tidurnya yang tidak lelap. Kesal, Sasuke segera duduk di kasurnya, menyalakan lampu tidurnya dan memelototi pengganggu yang beraninya membangunkan dirinya di tengah malam. Perlahan-lahan, orang yang membuka pintu itu menutup pintu itu kembali dan melangkah mendekati Sasuke.
Sasuke baru akan mendamprat orang yang berjalan ke arahnya, namun suaranya tercekat di tenggorokannya begitu melihat orang yang kini berdiri di hadapannya. Amarahnya secepat kilat berubah menjadi rasa kaget. Matanya menatap tidak percaya ke sosok Sakura yang kini berdiri beberapa meter dari tempat tidurnya. Cahaya lampu remang jatuh menyinari tubuh ramping Sakura, membuat Sasuke mampu melihat dengan jelas tubuh wanita itu yang terbalut dengan lingerie hijau.
Mata Sasuke fokus menatap dengan rakus dari atas kepala hingga ujung kaki tubuh Sakura. Matanya terus menjelajahi seluruh tubuh Sakura dan menemukan lekuk-lekuk tubuh wanita itu yang tidak mampu ditutupi baju tipis itu. Bahkan, rambut pink panjangnya yang dibiarkan tergerai indah, tidak dapat menutupi kedua dada polosnya, yang kini menegang saat mata onyx-nya memandang keduanya tanpa malu. Pandangan lapar Sasuke kemudian terhenti pada thong berwarna senada yang membungkus pangkal paha Sakura. Dalam hatinya, ia mengutuk benda itu karena menghalanginya menemukan 'sesuatu' yang ingin dinikmatinya.
Pandangan Sasuke kembali bergerak ke bawah menikmati kedua kaki jenjang Sakura yang tidak ditutupi baju tipis sepaha itu. Tidak salah memang bagi Sasuke memilih baju itu untuk Sakura karena saat ini, wanita itu terlihat begitu sempurna dan menggoda. Tidak dapat Sasuke pungkiri lagi, wanita itu adalah pemandangan yang paling indah yang pernah ia lihat selama hidupnya, membuat tubuhnya kini mulai menegang dan terbakar gairah hanya dengan memandanginya saja.
Sasuke berusaha mempertahankan akal sehatnya dan tidak terbuai dengan nafsu yang membakar seluruh tubuhnya. Ia mencoba berpikir mencari tahu kenapa Sakura datang ke kamarnya dan memakai lingerie yang ia belikan khusus untuk wanita itu. Bukankah Sakura menolak hadiah itu dan membencinya? Lalu kenapa Sakura sekarang berdiri diam di hadapannya dan mengenakan pakaiannya itu? Bahkan, mata emerald wanita itu kini menggelap dan menatapnya penuh kerinduan seolah memanggil dirinya mengambil apa yang tubuh wanita itu tawarkan.
Heran. Itulah yang saat ini ada di pikirannya dan membuatnya ingin bertanya maksud kedatangan wanita itu ke kamar tidurnya. Namun, belum sempat mulutnya mengeluarkan kata-kata, Sakura telah naik ke tempat tidur, mengalungkan kedua tangannya di leher Sasuke, dan duduk di pangkuannya. Lalu, dalam sekejap wanita itu membungkam bibir Sasuke dengan bibirnya.
Sasuke membelalakkan matanya kaget begitu merasakan bibir Sakura mengunci rapat bibirnya. Akal sehatnya mulai mengabur setelah bibir ranum Sakura bergerak perlahan tanpa pengalaman. Nafsu mulai mengambil alih akal sehat Sasuke membuatnya melupakan pertanyaan di otaknya. Saat ini, hanya wanita di pangkuannya inilah yang memenuhi otaknya. Tidak ada hal lain yang diinginkan Sasuke saat ini, selain menikmati, mencicipi dan memiliki wanita itu seutuhnya. Dan akhirnya, pertahanan diri Sasuke runtuh, ia lalu memejamkan matanya, mendekap tubuh di hadapannya di dadanya yang telanjang, lalu membalas ciuman wanita itu sepenuh jiwanya.
Sasuke memperdalam ciumannya dan mengambil alih ciuman Sakura. Erangan lembut kemudian terdengar dari tenggorokkan Sasuke saat Sakura membuka bibirnya dan mengundang Sasuke menjelajahi mulutnya. Tidak perlu menunggu, Sasuke kemudian menyambut undangan tersebut. Dengan lembut, ia mulai mengecap dan mencicipi rasa manis mulut Sakura yang baru pertama kali dirasakannya. Lama kelamaan, ia semakin terbuai dalam kenikmatan ciuman itu. Tangan kanan Sasuke bergerak ke kepala Sakura dan menahan wajah wanita itu saat ia semakin memperdalam ciumannya. Tidak lama kemudian, ciuman lembut keduanya berubah menjadi ciuman penuh nafsu.
Sasuke menarik bibirnya lalu mulai mencium lembut leher Sakura, sedangkan tangan satunya yang bebas mulai melepaskan pelan lingerie yang menghalanginya mencicipi wanita itu. Setelah penghalang itu lepas, kedua tangannya segera bergerilya di tubuh Sakura, membuat Sakura mengerangkan namanya senang. "Ahh, Sasuke-sama…."
Bibir Sakura tidak henti-hentinya mendesahkan namanya saat tangan dan bibir Sasuke memberikan kenikmatan di sekujur tubuhnya. Hal itu membuat Sasuke menjadi semakin tidak bisa menahan diri untuk segera menyatu dan merasakan tubuh Sakura—yang selama ini dirindukannya.
Sasuke tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Saat ini, yang ia butuhkan hanyalah mendekap dan menikmati apa yang ada di depannya. Secepat kilat, Sasuke membaringkan tubuh Sakura di kasur dan melucuti sisa pakaian yang menghalangi keduanya. Kemudian, ia menatap dalam-dalam pada Sakura yang terbaring telentang di hadapannya, yang tengah tersenyum pasrah dan memohon padanya. Hanya itulah yang perlu Sasuke ketahui sebelum akhirnya ia mendekap tubuh Sakura.
Onyx tidak sedikit pun berpaling dari Emerald di hadapannya. Sambil memandang ekspresi Sakura yang pasrah penuh dengan kenikmatan, Sasuke perlahan-lahan memasuki Sakura dan mulai tenggelam dalam surga yang mengaburkan dunianya. "Sakura—"
"Saa-suu—TEEEEEEEEEEEEENG!"
Sasuke secepat kilat bangun dan menatap marah pada alarm Blackberry yang berbunyi keras dari meja tidurnya. "DAMN! DAMN! DAMN!" umpatnya kesal. Ia hampir saja membanting keras benda tidak bersalah itu, sebelum akhirnya ia sadar dan menenangkan dirinya.
Sasuke bersandar dan menutup matanya menenangkan kekesalan dan gairah yang sama sekali tidak tersalurkan. Ia tidak tahu manakah yang membuatnya kesal. Alarm Blackberry-nya yang mengganggu tidurnya ataukah kejadian sebelumnya yang ternyata hanya mimpi belaka. Sudah kesekian kalinya mimpi yang sama itu terus mengganggu tidurnya. Dalam mimpi pun, ia sama sekali tidak bisa menghindari Sakura.
Sasuke kemudian memeriksa layar Blackberry-nya dan membaca pengingat—memberitahukan meeting di salah satu kantor anak perusahaannya, jam 08.00 pagi nanti.
Jam di Blackberry-nya sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi dan itu berarti ia harus segera bersiap-siap. Sebelum bangkit berdiri, ia menatap ke pahanya dan mendapati dirinya masih menegang dan butuh pelepasan. Ia menghembuskan nafas perlahan, pasrah dengan apa yang menimpanya. Ia tidak tahu sampai kapan harus menjalani tidur yang tidak nyenyak dan kemudian bangun dengan nafsu yang menggebu-gebu.
Sasuke bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi, kemudian melepaskan celana boxer yang dipakainya. Ia segera memutar kran shower dan sekali lagi mandi air dingin menjadi pelariannya melenyapkan bukti gairah yang tengah melanda tubuhnya.
.
.
=/=/=
.
.
Sasuke menghampiri meja makan sembari membetulkan letak dasi di kerah kemejanya. Ia duduk dan menikmati kopi hitam yang telah tersedia. Ia mulai membuka koran Konoha Financial, membaca berita keuangan ringan, dan mencari tahu perkembangan pasar saham Konoha terakhir.
"Permisi, Sasuke-sama. Ini sarapan Anda." Genma menghidangkan makanan di hadapan Sasuke.
"Hn," kata Sasuke sembari menutup dan meletakkan kembali koran yang telah selesai di bacanya.
"Genma, beritahu Sakura untuk menungguku di depan," perintahnya.
"Baik," jawabnya. "Ada lagi, Sasuke-sama?"
"Tidak. Kau boleh kembali."
"Permisi." Genma membungkuk kemudian meninggalkan Sasuke yang mulai menyantap sarapan paginya.
Sasuke segera menghabiskan makanannya dan meneguk habis kopinya. Ia kemudian memakai jas kantornya dan menuju ke luar rumah sembari menenteng tas kerjanya. Sesampai di luar, ia menangkap sosok Sakura yang sedang berdiri menungguinya. Darah panas mulai berdesir di tubuhnya, saat memandangi punggung wanita yang menghiasi setiap mimpinya di malam hari.
"Sasuke-sama," sapa Sakura membungkuk begitu melihat Sasuke menghampirinya. Suaranya terdengar seperti dipaksakan.
"Hn."
"Anda meminta Saya menunggu?" tanya Sakura dengan suara datar. Mata hijaunya memandang ke belakang Sasuke dan menolak menatap langsung mata pria itu. Sakura rupanya masih tidak menerima kejadian kemarin.
"Kau akan ikut aku meeting di salah satu anak perusahaanku."
"Bukankah Saya harus menyelesaikan beberapa dokumen yang belum diperiksa di kantor Anda?" tanya Sakura bingung.
"Nanti saja. Kau sangat dibutuhkan untuk mencatat hal-hal penting saat meeting."
"Baiklah, Sasuke-sama. Aku akan segera memberitahukan Ebisu mengantarku ke sana." Sakura lalu membungkuk memberi hormat. "Permisi, Sasu—"
"Tidak perlu. Kau bisa ikut dengan mobilku," Sasuke memotong perkataan Sakura dan mulai berjalan ke arah mobilnya.
Sakura, yang awalnya ingin menolak, akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti Sasuke di belakangnya,. Ia kemudian masuk ke mobil dan duduk di samping Sasuke. Beberapa menit kemudian, mobil Lexus itu meninggalkan rumah bergaya tradisional Sasuke dan melaju ke jalan raya.
Keheningan melanda keduanya saat dalam perjalanan. Keduanya memilih diam dan tidak sedikit pun mau membuka suara untuk memulai pembicaraan, walaupun sesekali keduanya diam-diam melirik ke satu sama lain dari ekor mata mereka.
Sakura memilih mengacuhkan Sasuke dan memandang ke luar jendela, seolah menikmati pemandangan kota Konoha yang mereka lewati. Ia memang tidak berniat sedikit pun membuka suaranya. Ia terlalu benci dan marah untuk berbasa-basi dengan pria di sampingnya. Begitu pula dengan Sasuke, Ia lebih fokus dengan lalu lintas di hadapannya dan membiarkan Sakura diam. Harga dirinya juga terlalu tinggi untuk menegur wanita itu.
Keduanya memang tidak saling menegur satu sama lain. Namun, pikiran mereka berdua dipenuhi satu sama lain. Di satu sisi dipenuhi perasaan benci dan di sisi lain dipenuhi perasaan bersalah.
Perjalanan yang penuh ketidaknyamanan itu akhirnya berakhir saat keduanya tiba di tempat yang mereka tuju. Keduanya kemudian turun dan memasuki kantor. Di dalam, mereka disambut beberapa direksi perusahaan dan Madara—selaku komisaris perusahaan—yang telah menunggu kedatangan mereka.
.
.
=/=/=
.
.
Sakura duduk mendengarkan diskusi yang sedang berlangsung antara Sasuke, Madara dan beberapa Direkur membahas keadaan anak perusahaan tersebut. Sakura yang bertugas untuk mencatat, dengan fokus berusaha mendengarkan dan menganalisa apa saja poin-poin penting yang perlu ia catat. Tatapannya kemudian jatuh pada Sasuke yang kini sedang berbicara. Di samping rasa benci yang dirasakan Sakura terhadap Sasuke, tidak bisa ia elakkan kalau ia juga mengagumi sosok Sasuke.
Jujur, selain dari fisiknya yang tampan. diam-diam Sakura mengagumi cara Sasuke bekerja dan memimpin perusahanya. Ia memang tegas dan penuh tuntutan terhadap karyawannya. Tetapi, ia juga seorang pekerja keras dan penuh dedikasi terhadap pekerjaannya.
Dari luar, Sasuke memang terlihat keras dan kejam terhadap karyawannya. Tapi, bukan berarti ia bertindak semena-mena. Sasuke akan selalu menghargai kerja keras bawahannya, yang memberikan kontribusi terbaik untuk kemajuan perusahaan. Mereka akan diberikan kompensasi yang tinggi dan posisi jabatan yang sangat penting dalam perusahaannya.
Pantas saja Sasuke sudah menjadi seorang Presiden Direktur dalam usianya yang masih muda. Ia sangat cerdas dan kritis dalam menganalisa informasi dan situasi. Beberapa Direksi yang usianya terpaut jauh melebihi Sasuke, terlihat cukup kerepotan menghadapi berbagai macam pertanyaan Sasuke tentang kondisi keuangan dan operasional perusahaan itu. Wajah mereka terlihat canggung, namun mereka akhirnya mampu menjawab pertanyaan tersebut, dan membuat Sasuke dan Madara mengganguk puas.
Mata Sakura tanpa sadar menatap kagum pada Sasuke. Pria seperti Sasuke adalah pria impian semua wanita. 'Jika aku tidak membencinya. Aku mungkin akan jatuh cinta padanya,' pikir Sakura tiba-tiba.
Sakura segera menyadari pikiran bodohnya itu dan mengenyahkannya. Ia mengutuki dirinya yang berpikiran seperti itu dan kembali fokus mendengarkan diskusi ringan itu. Namun, matanya kembali jatuh ke wajah Sasuke. Daya tarik pria itu terlalu besar untuk diabaikan. Tatapan mata Onyx-nya yang serius mampu mempercepat detak jantungnya, suara beratnya yang seksi mampu membuat darahnya berdesir dan seringai kecil di sudut bibirnya mampu membuat kedua pipinya memerah. Tanpa sadar, Sakura menggegam erat kedua tangannya di pangkuannya begitu merasakan hal itu.
Meeting tidak lama kemudian berakhir. Sakura, Sasuke dan Madara diajak oleh para Direksi itu untuk mengelilingi pabrik-pabrik yang dimiliki perusahaan itu.
Mereka kini sedang berada di lantai atas pabrik tersebut sembari memperhatikan kinerja pabrik tersebut. Perjalanan observasi mereka belum selesai dan para Direksi masih ingin memperlihatkan seluruh isi pabrik itu. Namun, Sakura merasa tidak kuat lagi. Pabrik yang mereka kelilingi itu sangat besar dan luas, membuat kakinya sakit dengan sepatu highheels yang dipakainya. Ia memang tidak mempersiapkan diri untuk datang ke sini.
Sakura mundur menjauh beberapa langkah dan bersandar di dinding. Ia kemudian membuka salah salah satu sepatunya dan merenggangkan kakinya yang terasa sakit.
"Kau tidak apa-apa?" suara berat Sasuke membuat Sakura segera menoleh ke arah pria itu.
"Maafkan Saya, Sasuke-sama," jawab Sakura memerah. "Kaki Saya agak sakit."
"Hn. Kau masih bisa berjalan? Kita masih akan melanjutkan pengawasan ke divisi lain."
"Masih bisa, Sasuke-sama. Saya hanya butuh beristirahat sebentar." Sakura memakai kembali sepatunya. Sakura mengedarkan pandangannya, dan mendapati bahwa tinggal dirinya dan Sasukelah yang ada di situ.
"Mereka kuminta pergi lebih dulu," kata Sasuke kemudian setelah melihat pandangan heran mencari sosok lainnya yang tadinya bersama mereka berdua. "Sebaiknya kita menyusul."
"Hai." Sakura berjalan mengikuti Sasuke yang mulai akan turun dengan tangga.
"Pegang tanganku," ujar Sasuke datar mengulurkan tangan kanannya. "Kau sepertinya kesulitan berjalan."
Sakura ingin menolak, tetapi tidak mungkin dengan kondisi kakinya yang semakin sakit. Ia terlebih dulu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan menyadari bahwa tidak ada orang yang memperhatikan mereka. Kemudian, dengan canggung, Sakura meraih tangan Sasuke dan memegangnya. "Maaf, merepotkan Anda, Sasuke-sama."
"Tidak apa."
Sakura perlahan mulai menuruni anak tangga. Jari-jarinya tanpa sadar meremas jari Sasuke saat ia mencoba menurunkan kakinya di setiap anak tangga. Sasuke pun sama sekali tidak keberatan. Ia bahkan mengeratkan pegangan jarinya mencegah Sakura melepaskan tangannya.
Sakura menundukkan kepalanya, berusaha memfokuskan matanya pada kakinya dan bukan pada kedua tangan yang sedang saling berpegangan. Genggaman tangan Sasuke terasa hangat di jari-jarinya. Rasa hangat itu kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya, hingga ke wajahnya yang kini memerah malu.
Sakura berusaha menyembunyikan wajahnya dari tatapan Sasuke. Untungnya, tatapan Sasuke sedang mengarah pada kedua kakinya. Saat Sasuke mengeratkan pegangannya, anehnya tidak terasa menyakitkan bagi Sakura. Ia merasa nyaman dengan genggaman pria yang kini menuntunnya dengan hati-hati. Bahkan, ia membalas mengeratkan jari-jarinya dan menikmati rasa hangat dan kelembutan dari jari-jari kekar dan besar itu.
"Kau tidak perlu melanjutkan observasi. Kakimu tidak bisa lagi berjalan jauh," kata Sasuke ketika mereka tiba di lantai bawah. "Sebaiknya kau beristirahat di mobil." Tangan Sasuke belum melepaskan genggamannya di jari-jari Sakura.
"Ya, Sasuke-sama. Aku bisa ke sana sendirian." Sakura mulai melonggarkan pegangan tangannya
"Aku akan membantumu."
Sasuke tidak membiarkan Sakura melepaskan tangan dan kemudian melingkarkan lengan Sakura ke belakang lehernya, lalu menuntun Sakura berjalan perlahan menuju mobilnya yang letaknya cukup jauh.
"Arigatou, Sasuke-sama," ucap Sakura begitu mereka berdua tiba di mobil Sasuke.
"Hn," Sasuke perlahan mendudukkan Sakura dan membantu menaikkan kedua kaki Sakura ke dalam mobil. "Kau tunggu di sini."
Sasuke kemudian mengitari mobil itu, lalu membuka pintu kemudi. Ia masuk ke dalam dan membalikkan badannya ke belakang kursi mobil untuk mengambil sebuah bingkisan kotak yang ada di situ.
"Kalau kau lapar makanlah." Sasuke menyodorkan kotak itu kepadanya. "Ini akan mengusir rasa bosanmu."
"Arigatou, Sasuke-sama," balas Sakura sekali lagi dan menerima bingkisan itu. Ia cukup kelaparan. Apalagi, waktu sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Sakura," Sasuke memberanikan diri membuang egonya dan menatap mata hijau Sakura yang menatapnya penuh tanda tanya. "Maaf atas kejadian kemarin."
Wajah Sakura kini menatapnya dengan pandangan kesal. "Anda seharusnya tidak memberikan benda itu. Saya merasa terhina saat Anda memberikannya."
"Itu tidak akan terulang lagi," kata Sasuke menatap dalam-dalam kedua mata Sakura. "Maaf."
Sakura tidak tahu apa yang ia rasakan saat mendengar kata Sasuke meminta maaf dengan suara pelan. Yang ia tahu, jantungnya kini berdetak tidak beraturan dan rasa panas mulai melanda pipinya. Sakura menarik pandangannya dari Sasuke dan menatap bingkisan di pangkuannya.
"Saya harap Anda tidak melakukannya lagi," jawabnya datar namun tidak lagi terdengar begitu dingin di telinga Sasuke.
"Ya." Sasuke membalas. "Aku harus kembali ke pabrik. Tunggulah di sini. Kuusahakan secepat mungkin kembali ke sini."
"Baik, Sasuke-sama."
"Hn," ujar Sasuke kemudian sebelum ia melangkah keluar dari mobil dan meninggalkan Sakura.
Setelah Sasuke berjalan menjauh, Sakura segera membuka kotak di pangkuannya dan mendapati beberapa bola-bola coklat yang kelihatannya sangat lezat dan menggoda itu. Tidak sabar ingin mencobanya, Sakura mengambil satu bola coklat dan memasukkannya ke mulutnya. Awalnya coklat itu terasa pahit di mulutnya. Namun, lama-kelamaan rasa manis menyebar menggantikan rasa pahit itu. Sakura memejamkan matanya menikmati rasa coklat yang baru pertama kali dirasakannya itu. Lidahnya terasa meleleh dan membuatnya tidak puas dengan hanya memakan satu saja. Ia kemudian kembali mencicipi dua coklat lagi.
Hati Sakura kemudian menghangat mengingat siapa yang memberikan hadiah istimewa itu. Coklat itu membuat dirinya membayangkan pria yang sudah memberikannya itu. Akankah pria yang awalnya membawa kepahitan dalam hidupnya, memberikan rasa manis di kehidupannya selanjutnya? Ia tidak tahu jawabannya. Pastinya, pria itu benar-benar penuh dengan misteri.
.
.
.
.
Telinga Naruto samar-samar mendengar seseorang memanggil namanya berkali-kali. Perlahan-lahan mata sapphire-nya terbuka. Matanya samar-samar mulai dapat melihat ruangan putih yang mengelilinginya dengan bau obat-obatan di sekitarnya. Ia mencoba bangun namun rasa sakit di bahu kirinya menahan dirinya bergerak leluasa. Kemudian, ia merasakan sepasang tangan yang menahannya untuk bangun dan perlahan membaringkan tubuhnya kembali ke tempat tidur.
"Jangan ba-banyak bergerak, Naruto-kun," suara lembut terdengar dari samping tubuh Naruto.
Naruto memalingkan wajahnya ke sumber suara itu dan menatap seorang wanita berambut indigo. Matanya menatapnya khawatir bercampur bahagia terpancar di matanya. Di sekitar matanya terlihat bengkak dan sedikit bekas air mata tersisa di pipinya yang putih.
"Hi-na-chan, dimana i-ni?" tanyanya pelan.
"Rumah sakit, Naruto-kun. Kemarin pagi kalian tiba di Konoha," jawab Hinata berbisik. Air mata mulai merebak di kelopak matanya. Ia membaringkan wajahnya perlahan-lahan di dada Naruto dan kemudian tangisannya pecah.
"Hinata, kau kenapa?" tanya Naruto panik sembari mengeratkan pelukannya pada Hinata.
"Hiks-hiks- a-aku-hiks- ta-takut-hiks- kau-hiks- ti-dak-hiks ban-gun-hiks –kem-ba-li-hiks," ujar Hinata di sela-sela isakannya.
"Shh, Tenanglah," kata Naruto menenangkan. "Kau lihat kan, aku tidak apa-apa? Kumohon berhentilah menangis, Hinata-chan," bujuknya lembut seraya mencium dahi Hinata dengan penuh kasih sayang.
"A-aku akan me-memanggil Tsu-nade-sama mem-beritahukannya ka-kalau kau su-sudah sa-sadar." Hinata perlahan bangkit berdiri.
"Tidak usah." Naruto menarik kembali Hinata ke pelukannya. "Temani aku di sini saja, Hinata-chan."
Hinata mengeratkan kembali pelukannya pada tunangannya. Ia memohon penuh terima kasih pada Kami-sama. Rasa bahagia kini memenuhi jiwa dan raganya karena orang yang dicintainya baik-baik saja. Hinata mendekatkan wajahnya ke wajah tunangannya dan mendaratkan kecupan ringan di bibir Naruto. Ia kemudian mengangkat wajahnya, menaruhnya kembali ke dada Naruto yang bidang, dan perlahan mengeratkan pelukannya saat Naruto mengecup lembut dahinya. Keduanya lalu menutup mata mereka masing-masing dan masuk dalam alam tidur dengan kehangatan satu sama lain.
.
.
=/=/=
.
.
Keesokan paginya, sinar mentari pagi yang masuk di sela-sela jendela rumah sakit membangunkan Naruto dari tidur lelapnya. Ia membuka kedua kelopak matanya dan menatap lembut ke wajah manis Hinata yang masih terlelap di dadanya. Ia mencoba menggerakkan badannya hati-hati agar tidak membangunkan wanita itu.
"Ohayou, Naruto. Baguslah kau sudah bangun," suara pelan dari arah pintu membuat Naruto memalingkan wajahnya ke sumber suara itu. Hak sepatu orang itu berbunyi pelan ketika ia berjalan mendekati ranjang Naruto. "Bagaimana keadaanmu?"
"Ohayou, Tsunade-Baachan. Aku baik-baik saja. Cuma nyeri sedikit di sini," katanya sambil menunjukkan tangannya ke bahu kanannya yang dibalut dengan perban.
Tsunade, yang mengernyit kesal mendengar kata Baachan dari mulut Naruto, memilih memendam rasa kesalnya karena merasa bukan waktu yang tepat untuk meneriaki bocah itu. Hatinya sedikit tenang mengetahui bocah itu baik-baik saja dan tidak mengalami luka yang sangat serius. "Baguslah kalau begitu." Tsunade berhenti di samping Naruto dan dengan pelan membangunkan Hinata.
"Hinata, bangunlah."
Hinata membuka matanya perlahan dan langsung bangkit berdiri begitu ia melihat Tsunade berdiri di sampingnya.
"O-ohayou, Tsu-sunade-sama," sapanya memerah malu.
"Ohayou, Hinata. Sepertinya tidurmu sangat nyenyak," kata Tsunade menggoda yang membuat wajah Hinata semakin merah padam.
"H-hai," Hinata hanya tersenyum malu dan berusaha menenangkan dirinya agar tidak pingsan di tempat ini.
"Pulanglah dan istirahatlah di rumah, Hinata. Kau belum pulang dan beristirahat sejak kemarin pagi."
"Ba-baiklah Tsu-sunade-sama," jawab Hinata. "S-sore nanti a-aku akan ke-kembali ke sini."
Hinata bangkit berdiri, mengecup pelan dahi Naruto, lalu pamit dan meninggalkan kamar itu.
Tsunade mendekati Naruto dan mulai memeriksa luka Naruto. Ia kemudian mengganti perbannya dengan perban yang baru. "Lukamu sudah membaik dan sama sekali tidak ada masalah dengan kondisi tubuhmu. Kau sudah bisa pulang besok pagi, Naruto."
"Terima kasih, Baachan," jawabnya. "Baachan. Aku tidak ingat saat aku sampai di Konoha. Apa yang terjadi?" belum sempat Tsunade menjawab, Naruto bertanya kembali sambil memandang Tsunade cemas. "Tenten. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Naruto mencoba bangkit dari tempat tidur.
"Tenanglah, Naruto. Tenten masih hidup dan dalam perawatan khusus." Tsunade membaringkan kembali Naruto di ranjang. "Kita akan diskusikan misi kalian nanti. Saat ini kau perlu istirahat," kata Tsunade dengan nada tegas.
"Kembalilah tidur, Naruto. Kau masih membutuhkannya untuk mengembalikan staminamu," ucap Tsunade sambil menulis di map pasien yang ada di tangannya. "Aku akan kembali lagi siang nanti," katanya kemudian dan meninggalkan Naruto yang kembali jatuh tertidur.
.
.
=/=/=
.
.
Naruto menyandarkan badannya lelah setelah akhirnya mampu melewati masa-masa merepotkan yang belum lama terjadi. Sebelumnya, tidur siangnya harus berakhir setelah orang tuanya datang dan berhamburan memeluknya dengan perasaan khawatir. Bukannya ia tidak senang ayah dan ibunya datang, namun yang sangat merepotkan adalah membujuk Kushina yang terisak histeris dan terus memeluknya dengan pelukan yang hampir meremukkan tulang Naruto. Untunglah, Minato mampu menenangkan istrinya dan menjelaskan bahwa putra mereka baik-baik saja dan mampu menjaga dirinya. Naruto senang karena walaupun sibuk dengan urusan Hokage setiap harinya, ayah dan ibunya itu masih sempat menjenguknya dan menemaninya dalam waktu yang lama. Maklumlah, Naruto dan orang tuanya tidak lagi tinggal serumah, sejak ia memilih untuk tinggal sendiri di rumah mewahnya yang ia bangun dengan usahanya sendiri. Tidak lama menjenguk, mereka kemudian meninggalkan rumah sakit karena orangtuanya harus menghadiri acara kenegeraan yang tidak bisa dibatalkan.
Bunyi pintu yang dibuka membuatnya menolehkan wajahnya ke arah pintu dan mencari tahu siapa yang datang.
"Yo, Naruto. Kondisimu sudah lebih baik rupanya," Kakashi masuk sambil membawa sebuah bingkisan.
"Ternyata kau masih hidup juga, Dobe," Sasuke masuk dengan seringai khasnya.
"Kau benar-benar merepotkan," Shikamaru masuk di belakang Sasuke sambil menguap.
"Pergi saja kalian kalau hanya ingin mengejekku," balas Naruto merengut dan menatap marah pada kedua sahabatnya.
"Jangan dengarkan mereka, Naruto. Mereka sebenarnya sangat mencemaskan keadaanmu," kata Kakashi yang mengacuhkan tatapan jengkel Sasuke dan Shikamaru. "Mereka bahkan menyempatkan diri untuk membeli ramen kesukaanmu, tapi mereka memaksaku membawakannya," tambahnya tersenyum sambil memberikan bingkisan yang ia bawa, yakni semangkok ramen yang masih hangat.
Mata Naruto kini berbinar-binar menerima pemberian makanan kesukaannya itu. "Teme, Shika. Kalian memang teman terbaikku!" Naruto tidak menunggu lama lagi dan langsung melahap ramen itu.
"Kau akan mati tersedak kalau makan secepat itu, Dobe!"
"Gzz. Aku lapar sekali, Teme. Makanan rumah sakit tidak enak," ucap Naruto kemudian kembali menikmati makanannya.
Ketiga penghuni kamar rumah sakit itu hanya bisa tersenyum kecil melihat Naruto yang melahap ramennya dengan rakus. Itu berarti kondisi Naruto baik-baik saja dan membuat mereka lega. Awalnya, mereka sangat kaget dan khawatir mendengar kabar Naruto terluka saat menjalankan misi di Amegakure.
"Kenyang sekali," kata Naruto setelah ia menghabiskan makanannya dan mengedarkan pandangannya ke teman-temannya. "Neji kemana?" tanya Naruto saat mengetahui bahwa salah satu sahabatnya tidak datang.
"Neji ada pekerjaan penting dan tidak bisa datang," jawab Shikamaru. "Dia mengirimkan pesan cepat sembuh untukmu."
Naruto menggangguk setelah mendengar jawaban Shikamaru
"Bagaimana keadaan yang lain?" tanya Naruto kembali. "Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya setelah aku tertembak."
"Rock-Lee dan Gai baik-baik saja. Rock-Lee berhasil menyelamatkanmu dan membawa kau dan Tenten keluar sebelum api membakar kalian berdua. Mereka kemudian segera menghubungi aliansi kita, Raikage dan Killer-Bee. Dengan bantuan mereka, kalian bisa kembali ke Konoha secepatnya." Kakashi menjelaskan. "Sayangnya kondisi Tenten tidak sebaik dirimu," lanjutnya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Tenten kehilangan banyak darah dan terkena luka tembakan serius. Kondisinya masih kritis. Menurut Tsunade-sama, Tenten membutuhkan perawatan yang sangat serius dalam waktu yang lama."
"Salahku tidak bisa melindunginya. Neji pasti membenciku." Naruto menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jangan menyalahkan dirimu, Naruto. Itu semua kecelakaan dan di luar kendalimu," Shikamaru mencoba menenangkan Naruto.
"Oto dan Akatsuki berhasil menggagalkan misi kami dan kami tidak mendapatkan apa-apa."
"Dobe, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sasuke kemudian. "Kau tidak pernah sekalipun gagal dan terluka dalam misi."
"Aku bisa saja keluar dan melarikan diri dari Klub itu. Tapi seseorang mencegahku keluar dari situ." Naruto menatap Sasuke serius. "Sasuke, dengarkan baik-baik apa yang harus kau ketahui."
"Katakan."
"Itachi-niisan masih hidup dan dia merupakan anggota Akatsuki."
Mata Sasuke kaget melebar tidak percaya mendengarnya. Ia terlihat seperti sedang melihat hantu. "Jangan bercanda, Naruto! Itu lelucon terbodoh yang pernah kudengar!" katanya marah.
"Aku tidak akan bercanda untuk urusan seperti ini, Sasuke!" balas Naruto marah. "Aku tidak mungkin salah. Pria itu benar-benar Itachi-niisan. Aku tahu itu dia dan aku bisa merasakannya, Sasuke! Aku sangat shock saat melihat Itachi-niisan sampai aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Sasuke, Kakashi dan Shikamaru hanya mampu diam mencerna penjelasan Naruto dengan raut wajah kaget di wajah mereka. Melihat ketiga temannya masih belum menjawab apa-apa, Naruto kemudian melanjutkan. "Itachi-niisan memakai jaket Akatsuki. Dialah yang menembakku."
Perkataan Naruto membuat mereka bertiga semakin tidak mampu berkata-kata. Naruto sama sekali tidak akan mungkin berbohong untuk masalah serius seperti ini dan itu berarti kemungkinan Itachi masih hidup memang benar.
"Aku pikir Niisan sudah meninggal saat mereka bilang ia menghilang. Aku bahkan berpikir Oto yang membunuhnya," kata Sasuke parau. "Tapi, kenapa ia tidak kembali jika ia masih hidup. Dan, kenapa ia bersama Akatsuki?" Wajah Sasuke terlihat sangat menyedihkan.
"Aku akan membicarakan masalah ini dengan Tsunade dan Jiraiya-sama. Bagaimana pun juga Akatsuki tidak bisa dibiarkan begitu saja," ucap Kakashi kemudian mencairkan suasana yang tegang sebelumnya.
"Tch. Pekerjaan ini semakin merepotkan saja." Shikamaru mulai berjalan ke arah pintu. "Aku pergi dulu. Aku akan mulai berusaha mencari informasi Akatsuki. Kita tidak bisa membuang-buang waktu. Cepat sembuh, Naruto. Mata ne!" Shikamaru meninggalkan mereka bertiga.
"Aku juga pergi dulu. Ada yang harus kubahas dengan Tsunade-sama. Cepat sembuh Naruto. Mata ne!" Kakashi keluar meninggalkan ruangan itu.
"Sasuke," panggil Naruto setelah ketika tinggal mereka berdua di situ. "Aku tahu ini berat bagimu tapi itulah kenyataannya."
"Aku tahu, Naruto." Sasuke berjalan ke depan jendela dan memandang kosong ke arah luar. "Dan aku sadar ternyata kenyataan itu memang pahit," gumamnya pelan.
'Nii-san, kenapa?'
.
.
=/=/=
.
.
Sorenya, Danzo dan Madara datang mengunjungi Naruto setelah mendengar berita dari Kakashi.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Naruto," kata Danzo saat masuk dan melihat Naruto duduk bersandar di ranjang rumah sakit. "Halo Sasuke," sapa Danzo pada Sasuke yang bersandar di dekat jendela. Sasuke membalasnya dengan anggukan sopan.
"Kami berdua langsung kemari begitu mengetahui kau terluka, Naruto." Madara berjalan mendekati Naruto. "Kami baru tahu kalau kau menjalankan misi ke Amegakure."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku Danzo-san, Madara-jiisan." kata Naruto sembari tersenyum. "Aku baik-baik saja, hanya luka tembak ringan. Besok pagi aku sudah bisa pulang." Naruto berusaha tidak membicarakan lebih lanjut tentang misinya.
"Kami tenang sekarang karena kau baik-baik saja," kata Danzo.
"Aku masih belum tenang. Aku cemas dengan keadaan Tenten. Kata Tsunade, kondisi Tenten masih kritis," ujar Madara saraya menatap Sasuke serius.
"Ya. Sampai saat ini kondisinya belum ada perkembangan, dan perkiraan Tsunade-sama bisa memakan waktu lama untuk penyembuhannya," jawab Sasuke.
"Lalu bagaimana dengan posisinya di perusahaanmu?" tanya Danzo. "Aku tahu ini belum saatnya membicarakannya, tetapi bagaimana pun juga kau membutuhkan seseorang untuk membantu pekerjaanmu. Kau tidak bisa menunggu lama mencari pengganti Tenten untuk sementara."
"Kata Danzo-san ada benarnya, Sasuke. Tanpa pengganti Tenten kau tidak mungkin bisa membagi waktumu antara perusahanmu dan Shinobi," sambung Naruto membenarkan
"Aku pikir Sakura, sekretaris penggantimu itu cukup mampu menggantikan Tenten," Madara mengusulkan.
"Ya, aku tahu. Tapi aku masih membutuhkan seseorang untuk membantuku. Aku tidak yakin Sakura mampu menangani seluruh pekerjaan yang kuberikan."
"Kau bisa mengandalkanku, Sasuke. Aku akan membantumu mencarikan seseorang yang bisa membantumu dan sekretaris penggantimu. Salah satu perusahaanku memiliki keahlian mencari calon pekerja yang terbaik untukmu dalam waktu beberapa hari saja," usul Danzo.
"Hn. Aku akan mengirimkan padamu detail apa saja yang kubutuhkan untuk orang baru tersebut. Terima kasih, Danzo-san,"
"Sama-sama, aku senang bisa membantumu," jawabnya sembari tersenyum.
.
.
.
.
"Sudah selesai," ujar Hinata setelah mengganti membalut bahu kiri Naruto dengan perban baru. "A-apa masih sakit?"
"Tidak lagi. Arigatou, Hinata-chan," jawabnya tersenyum dan mulai memeriksa pekerjaannya dari iPad-nya.
"K-Kau masih be-belum boleh bekerja Na-naruto-kun," kata Hinata mengambil iPad tersebut dari tangan Naruto dan menjauhkannya dari jangkauan Naruto."
"Tapi Hinata-chan," Naruto merengek. "Aku bosan sekali sejak tadi pagi pulang dari rumah sakit. Kalian bahkan tidak mengijinkanku menonton TV."
"K-kau butuh banyak istirahat Naruto-kun. Tsu-tsunade-sama menyuruhmu untuk lebih banyak tidur."
"Nenek tua itu hanya ingin membalasku," gumamnya pelan saat mengingat betapa marahnya Tsunade padanya waktu mengetahui Naruto menyuruh salah satu perawatnya menyelundupkan sekardus ramen di kamarnya.
"Ka-kau bicara apa, Naruto-kun?"
"Tidak ada," katanya dengan senyum polosnya. "Hinata-chan, ayahmu tahu kau akan menginap di sini?" tanya Naruto.
"Ya. A-ayah sama sekali ti-tidak keberatan aku me-menginap," jawab Hinata.
"Neji?" tanya Naruto dengan nada khawatir. Naruto tahu Neji sangat protektif terhadap Hinata dan adiknya, Hanabi.
"Ti-tidak."
'Neji akan membunuhku jika tahu Hinata menginap di rumahku,' pikir Naruto yang mulai ketakutan.
"A-aku akan tidur di kamar sebelah," kata Hinata kemudian dan mulai meninggalkan kamar Naruto.
"Hinata," panggil Naruto. "Maukah kau menemaniku tidur di sini? Aku janji tidak akan macam-macam padamu," katanya dengan wajah memerah.
"H-hai," wajah Hinata juga memerah namun ia beranjak mendekati ranjang dan tidur di samping Naruto. Ia menghampiri Naruto dan membaringkan tubuhnya dalam dekapan Naruto.
"A-aku senang karena k-kau baik-baik saja," kata Hinata sambil bersandar di dada Naruto.
"Aku juga," jawab Naruto dan mengecup pelan dahi Hinata. Bibirnya kemudian turun ke hidung Hinata, lalu berlabuh ke bibir Hinata.
Keduanya berciuman dengan lembut dan penuh perasaan, menuangkan seluruh perasaan cinta dan kasih sayang yang mereka rasakan satu sama lain. Ciuman lembut itu kemudian semakin lama semakin memanas saat lidah mereka bertemu dan saling mengecap rasa yang ditawarkan masing-masing. Bibir Naruto semakin dalam melumat bibir Hinata dan tanpa sadar membuat wanita di bawahnya itu mengerang kenikmatan. Terlalu tenggelam dalam kenikmatan ciuman yang mereka alami, mereka tidak sadar bahwa baju tidur Hinata telah berantakan dan cukup memberikan pemandangan tubuh indah Hinata di mata Naruto. Pemandangan itu berhasil membuat tubuh Naruto menegang.
"Ma-maafkan aku, Hinata-chan." Naruto bergerak menjauh dan menyembunyikan bukti gairahnya dari Hinata. Wajahnya kini merah padam.
Hinata menatap Naruto yang menyembunyikan tubuh depannya darinya. Ia tahu, Naruto sangat menginginkannya dan mereka belum pernah sekalipun bercinta. Hinata memang telah memutuskan akan memberikan tubuh dan keperawanannya pada Naruto setelah mereka menikah nanti. Namun, setelah ia merasakan perasaan ketakutan saat Naruto tidak sadarkan diri sebelumnya, Ia tidak ingin mengalami perasaan seperti itu kembali.
Hinata tahu sebagai anggota Shinobi resiko kematian dan kehilangan tidak mungkin dihindarkan lagi. Dia tidak akan tahu sampai kapan lagi mereka bisa bersama. Pekerjaan mereka itu semakin lama semakin berbahaya. Musuh yang mereka hadapi semakin kuat. Ia bisa kehilangan Naruto dan begitu pun sebaliknya. Ia tidak bisa mengelaknya dan terpaksa harus menerimanya.
Kapan lagi ia harus menunggu untuk menyerahkan miliknya yang berharga. Inilah waktu yang tepat untuknya memberikan seutuhnya dirinya pada orang yang sangat dicintainya, di saat hanya ada dia dan Naruto. Dan ia pun tidak bisa menyangkal, dirinya juga ingin menjadi milik Naruto seutuhnya.
Hinata yang telah memantapkan dirinya mendekati Naruto. "Naruto-kun," panggilnya.
Naruto membalikkan badannya dan menatap Hinata. Matanya terbelalak lebar ketika Hinata mencium bibirnya tiba-tiba dan melumatnya dengan lembut. Keduanya kini terbuai dalam kenikmatan ciuman yang panas.
"Mm, Hi-hinata..." kata Naruto saat keduanya melepaskan ciuman mereka. "Aku ingin sekali menyentuh dan memilikimu." Matanya penuh dengan gairah.
"K-Kau bisa me-melakukannya, Naruto-kun," bisiknya dengan lembut. Wajahnya memerah namun di matanya terpancar gairah dan cinta.
Wajah Naruto terlihat tidak percaya. "Kau yakin?"
"Ya."
Mendengar jawaban Hinata, Naruto tidak mampu menahan diri lagi. Rasa lapar terhadap wanita itu telah menutup semua logika yang ada. Hanya gairah yang mampu ia sadari. Gairah untuk bersatu tanpa ada yang menghalangi.
Namun, Naruto tidak ingin hilang kendali. Ia berusaha menepis keinginannya untuk secara brutal mengambil kepuasan dari Hinata. Ia tidak ingin menyakiti Hinata. Ia ingin Hinata merasakan percintaan pertamanya sebagai momen yang terindah dan tidak akan ia lupakan dalam hidupnya.
Perlahan-lahan, Naruto membuka satu per satu kancing piyama atas yang dipakai Hinata sambil mencium leher putihnya dengan lembut. Kedua tangannya bergerak lembut seirama dengan ciumannya. Mata Naruto lalu bergerak ke bawah saat baju itu lepas dari tubuh Hinata dan memandang penuh kekaguman pada kedua bukit kembar yang terlihat memohon perhatian. Bibir Naruto kemudian dengan cepat menutupi salah satunya dan mengulum puncaknya penuh perasaan, sedangkan jari-jarinya bermain di puncak yang tidak terjamah oleh lidahnya.
Hinata memejamkan matanya, meresapi rasa nikmat yang perlahan-lahan muncul oleh karena sentuhan kekasihnya. Bibirnya merekah dan desahan nikmat mengalun lembut tanpa henti. Semakin cepat sentuhan kekasihnya, semakin keras desahan yang berulang-ulang mengalir dari bibirnya. Kedua tangan Hinata meremas pelan rambut blonde Naruto di dadanya saat Naruto mengecup dan mengulum kedua dadanya bergantian.
"Na-naru—to-kuun, ughhh!" Erangan nikmat meluncur dari bibir Hinata.
Erangan Hinata semakin membuat gairah Naruto memuncak. Tidak sanggup menahan ketegangan di tubuhnya lagi, Naruto kemudian melepaskan sisa pakaian Hinata. Mata Naruto membulat kagum ketika mata sapphire-nya menelusuri seluruh lekuk tubuh polos Hinata, yang kini terpampang jelas di hadapannya. Tidak disangka, dibalik baju Hinata, tersimpan tubuh indah yang mampu membuat Naruto puas dengan memandangnya saja.
Hinata, yang merasakan tatapan mata Naruto di sekujur tubuhnya, secara refleks menutup tubuhnya dengan malu.
"Jangan." Naruto menahan tangan Hinata yang mulai menutupi tubuhnya. "Biarkan aku memandangmu, Hina-chan," ucapnya lembut.
Hinata tidak menolaknya dan membiarkan mata Naruto melanjutkan penjelahannya. Hinata memejamkan matanya rapat-rapat dan sekuat tenaga menenangkan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang saat ia merasakan tatapan mata lapar Naruto. Ia hanya berharap ia tidak pingsan di saat seperti ini.
Suara pakaian terlepas dari pria di hadapannya. Tanpa membuka matanya pun, Hinata tahu Naruto sedang melepaskan seluruh pakaiannya.
"Buka matamu, sayang," bisik Naruto membujuk. Naruto menempelkan dahi mereka berdua dan kemudian menatap penuh kekaguman ke sepasang lavender yang terbuka perlahan. "Kau sangat cantik," ucap Naruto lembut menangkup wajah Hinata sembari mencium lembut bibir Hinata, membuat wajah Hinata semakin memerah saat mendengarnya.
Tangan Naruto kemudian bergerak perlahan dan menyentuh pangkal pahanya. Dengan ahli, tangannya membelai, membangkitkan gairah Hinata yang tersembunyi, dan memberikan kenikmatan di setiap belaian jari-jarinya.
Rasa nikmat membanjiri tubuh Hinata membuat kepalanya melayang. "Hahh, Hah! Aaaahh! Na-na-ruto-kun—"
Desahan nikmat yang tidak pernah berhenti mengalir dari bibirnya. Senyum puas terbentuk di bibir Naruto saat mendengar namanya didesahkan berulang-ulang penuh kenikmatan oleh gadis itu. Matanya tidak pernah beralih dari wajah Hinata dan terus mengawasi ekspresi gadisnya.
Detak jantung keduanya semakin berdetak tidak karuan. Nafas mereka semakin memburu. Nafsu semakin memuncak dan tergambar jelas di kedua mata mereka yang telah menggelap. Hanya kepuasan yang diinginkan keduanya.
"Kau yakin, Hinata?" tanya Naruto sekali lagi mencari keragu-raguan di balik mata lavender itu. "Setelah ini tidak ada lagi kata kembali dan aku tidak yakin bisa menahan diri lagi."
Hinata memandang penuh cinta pada Naruto. "Ya. Aku yakin sekali," jawabnya mantap. "Bercintalah denganku, Naruto-kun."
Naruto menggeram pelan mendengar ucapan Hinata dan kemudian menempelkan kedua tubuh mereka. "Maafkan aku, Hina-chan," bisiknya lembut sebelum akhirnya ia menyatukan kedua tubuh mereka dalam sekali hentakan, menembus kewanitaan dan merobek keperawanan Hinata.
Rasa sakit menjalar dari pangkal paha Hinata dan menyebar di seluruh tubuhnya, membuatnya berteriak sekuat tenaga sebelum bibir Naruto menguncinya dan mengecup bibir Hinata menenangkan. Kedua tangannya memeluk punggung Naruto dengan kencang, berharap meredam rasa sakit yang sangat menusuk di pangkal pahanya.
Naruto meringis saat kuku Hinata menancap di punggungnya, tetapi tidak dipedulikannya. Ia mulai menggerakkan pinggulnya, mengulum bibir Hinata pelan, dan membelai kedua dada Hinata yang sensitif—menenangkan tubuh Hinata yang terguncang kesakitan dan berusaha memberikan Hinata kenikmatan. Berbeda dengan Hinata yang kesakitan, rasa nikmat tanpa henti menjalari tubuh Naruto sejak ia memasuki tubuh Hinata, dan saat ini, ia sekuat tenaga menahan tubuhnya untuk tidak mencari kenikmatan di tengah kesakitan Hinata.
Tidak lama kemudian, ketidaknyamanan Hinata berkurang. Rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan dan dengan reflek, Hinata menggerakkan pinggulnya mengikuti Naruto dan mengencangkan pelukannya.
Sadar dengan reaksi Hinata, Naruto kemudian bergerak semakin lama semakin cepat dan keras, mengikuti nalurinya, dan membawa keduanya pada kenikmatan yang tiada ada ujungnya.
Kenikmatan demi kenikmatan dirasakan keduanya saat keduanya mempercepat temponya. Rintihan dan erangan nikmat bergantian membahana di kamar itu—yang berasal dari bibir keduanya, sebelum kemudian bibir keduanya menyatu dalam ciuman panas dan panjang.
Keringat semakin deras mengucur di permukaan kulit keduanya. Kenikmatan terus menghantam keduanya tanpa ampun. Dan tidak lama lagi keduanya akan segera memasuki puncak dari percintaan mereka.
"Aahh! Hi-na-ta-chan," desah Naruto di sela-sela nafasnya. Pinggulnya bergerak semakin dalam dan kencang.
Hinata membalasnya dengan mengeratkan pelukannya. "Ahh, Haaah!"
"A-aku, Haah! Men-cintai-mu- Na-naru-to-kun—AAAAKKKKHHHH!"
Puncak kenikmatan menghantam Hinata seketika. Tubuhnya bergetar hebat dan teriakan kepuasan tidak dapat terelakkan lagi. Tangannya memeluk tubuh Naruto—sekuat tenaga menahan dirinya dari amukan kenikmatan yang tak kunjung berhenti dan kemudian menarik Naruto bersama merasakan puncak kepuasan yang sama dengan yang saat ini dirasakannya. Bibir keduanya kembali bersatu dalam ciuman bersamaan dengan puncak kenikmatan yang melanda mereka.
Naruto menjatuhkan tubuhnya kelelahan di samping Hinata sambil menarik tubuh Hinata dalam pelukannya. Keduanya mulai berusaha menenangkan tubuh dan nafas mereka. Kedua mata mereka mulai terpejam karena kelelahan.
"Aku juga mencintaimu," bisik Naruto seraya mengecup lembut puncak kepala Hinata. Akhirnya, keduanya memasuki alam tidur dalam kehangatan satu sama lain. Senyum kebahagian terpancar dari keduanya saat mereka tidur dalam kedamaian.
.
.
.
.
Di tengah malam yang sunyi, pria berjaket hitam berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Pria itu kemudian berhenti di depan jendela kaca yang memisahkan antara lorong dan ruangan itu. Sepasang mata lavender-nya menatap lurus ke wanita yang terbaring lemah, dengan kabel-kabel mesin yang menutupi tubuhnya.
Tangannya tanpa sadar mengepal saat melihat kondisi wanita itu. Mata lavender-nya menggelap, memancarkan kemarahan dan kebencian. Pikirannya kini dipenuhi dengan dendam yang amat sangat. Ingin rasanya ia membuat perhitungan dengan siapa saja yang bertanggung jawab membuat wanita itu seperti itu.
"Jangan bertindak bodoh." Suara seorang wanita tiba-tiba muncul di belakangnya. Wanita itu berjalan mendekatinya dan ikut memandangi wanita yang terbaring di dalam. "Kau hanya akan membunuh dirimu sendiri jika kau melakukannya." Wanita itu seolah mampu membaca pikirannya.
"Hn," balasnya.
"Kau seharusnya tidak diperbolehkan berada di sini."
"Aku tahu," katanya tanpa sedikit pun memalingkan tatapannya dari wanita yang terbaring di ranjang .
Mereka kedua kemudian terdiam dan kembali mengawasi wanita yang terbaring di dalam.
"Tsunade-sama. Aku mohon, sembuhkanlah Tenten," ujar pria itu pelan dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin," jawab Tsunade sebelum pria itu menghilang di ujung lorong.
.
.
.
.
-Otogakure-
Orochimaru melangkah santai memasuki salah satu ruangan di rumah mewahnya. Di belakangnya, pria paruh baya berseragam pelayan berjalan masuk mengikutinya.
"Kalian ssssudah datang rupanya," katanya begitu melihat mereka sebagian bawahannya telah berkumpul. Anak buahnya segera menundukkan kepala untuk memberi hormat saat Orochimaru melewati mereka.
Orochimaru menghampiri sofa lalu duduk bersandar sambil menaruh lebar-lebar kedua tangan di atas sandaran sofa, sedangkan anak buahnya tetap berdiri di depannya.
"Kozu, bawakan aku teh sssaja," ujar Orochimaru saat melihat pelayannya meletakkan sebotol brandy dan gelas kristal kosong di meja sampingnya. Pelayan itu lalu menggangguk dan menyiapkan permintaan majikannya.
"Orochimaru-sama, kami ingin menyampaikan kabar terbaru untuk Anda." Kabuto membuka pembicaraan.
"Kuharap kalian membawa kabar baik." Orochimaru menatap tajam ke anak buahnya. "Kudengar, ada tikusss-tikussss Shinobi y,ang mengganggu di pertemuan kalian bersama Akatssssuki."
"Benar, Orochimaru-sama," jawab Kabuto. Tapi, Anda tidak perlu khawatir karena kami sudah menghabisi mereka." Kabuto memberitahukan Orochimaru.
Orochimaru belum menanggapi perkataan Kabuto. Ia malah menoleh ke arah Kyo yang datang membawa secangkir teh hangat.
"Terima kasssih," katanya seraya menerima cangkir yang diberikan Kozu. "Kozu, aku tidak ingin diganggu setelah ini. Jika ada yang mencariku, katakan aku sedang sibuk," perintah Orochimaru.
"Baik, Orochimaru-sama," jawab Kozu membungkuk. "Permisi."
Kozu segera keluar dan menutup pintu. Orochimaru mulai memelototi satu per satu anak buahnya.
"Benarkah?" kata Orochimaru setelah menyesap sedikit tehnya kemudian menaruhnya di meja kecil di sampingnya. "Lalu, jelaskan kenapa Bloody Ring sampai habis terbakar?" tanya Orochimaru sinis dengan mata yang penuh amarah. "JANGAN KATAKAN MEREKA BERHASIL MENGHANCURKAN USAHAKU! KALIAN PIKIR UANG YANG KUHABISKAN UNTUK KLUB ITU HANYA SEDIKIT, HAH?" tanyanya marah.
"Maafkan kami, Orochimaru-sama," jawab Sakon ketakutan. "Hanya itu satu-satunya cara menghabisi mereka. Mereka bukan orang-orang kelas biasa. Salah satu dari mereka bahkan bisa menghabisi sebagian dari kami dalam sekejap."
Belum lama setelah ia selesai menjawab, Sakon kini meringis kesakitan ketika Orochimaru dengan cepat, telah berdiri tepat di depannya dan mencekik kuat lehernya. "Jangan beralasssan," desisnya tajam sambil menatap Sakon dengan tatapan membunuh. "Untuk apa aku bersssusssah payah melatihmu menjadi lebih kuat dan ternyata kerjamu masih sssangat berantakan. Mereka passsti hanyalah bajingan kelasss rendahan!"
"Tidak, Orochimaru-sama." Orochimaru menoleh ke arah Kabuto yang bersuara. "Salah satu dari mereka merupakan Anbu. Kami memiliki rekamannya jika Anda tidak percaya." Kabuto menyiapkan proyektor dan memutar hasil rekaman cctv yang berhasil Sakon ambil, sebelum ia meledakkan gedung Bloody Ring. Mereka semua diam sambil menonton dengan saksama.
Video mulai memutar adegan kerumunan orang yang berlarian ketakutan, adegan baku tembak, dan kemudian gambar pria yang berlari menuju lantai atas sambil menembak ke arah tangga. Kabuto segera menyetop video saat layar menunjukkan gambar pria itu dan memperbesarnya sehingga gambar pria itu dapat terlihat jelas.
Orochimaru mulai mempelajari wajah pria itu. Ia sama sekali tidak pernah melihat pria itu sebelumnya. Tapi, ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan membuka matanya. Benda yang berada di kedua tangannya itulah yang menjadi kuncinya. Dua pistol yang sedang dipegang pria asing itulah yang membuat ia menyadari siapa pria itu sebenarnya. Hanya ada satu orang di negeri ini yang memiliki pistol kembar langka itu. Tidak salah lagi, pria itu tidak lain adalah Naruto Uzumaki, salah satu anggota elit dan terkuat Shinobi. Penyamarannya benar-benar sempurna sehingga anak buahnya sama sekali tidak curiga.
Seluruh mafia di Jepang pasti tahu, setiap anggota Anbu Shinobi memiliki senjata khusus yang menjadi karakteristiknya. Anbu sangat ditakuti di seluruh Jepang dan tidak ada satu orang pun yang berani melawan salah satunya. Mereka berempat dikenal luas sebagai mafia yang menakutkan dan berbahaya, setelah mereka berhasil membantai habis seluruh anggota organisasi Mafia berbahaya yang berniat membunuh Kazekage pemimpin Sunagakura, dalam waktu beberapa jam saja.
Seringai kemenangan terbentuk dibibirnya saat mengingat perkataan Sakon bahwa mereka berhasil membunuh para penyusup Shinobi. Itu berarti, mereka berhasil melenyapkan satu anggota terkuat Shinobi. Ia melepaskan cengkeramannya dari leher Sakon dan menepuk pelan bahu Sakon. "Kerjamu bagussss. Kau memang tidak mengecewakanku," katanya memuji.
"Bagaimana dengan Bloody Ring, Orochimaru-sama?" tanyab Sakon takut-takut.
"Jangan khawatir. Aku bisssaaa membangunnya kembali. Uang tidak masssalah untukku," jawabnya tidak peduli. "Yang terpenting kau berhasssil menghabisi Uzumaki keparat itu. Sssatu per sssatu kita habissssi mereka." Senyum kegembiraan tersungging di bibirnya. "Kabuto bagaimana perjanjian kita dengan Akatsssuki?"
"Tidak masalah, Orochimaru-sama. Mereka setuju bekerja sama dengan kita. Mereka siap melakukan transaksi dengan kita kapan pun anda mau."
"Bagusss."
"Ada yang perlu anda ketahui juga, Orochimaru-sama," katanya sambil membetulkan letak kacamatanya. "Itachi Uchiha juga anggota Akatsuki."
"APA?" teriaknya kesal.
"Anda tidak perlu khawatir, Orochimaru-sama," Kabuto mencoba menenangkan Orochimaru. "Mereka telah meyakinkanku bahwa Itachi Uchiha hilang ingatan dan ia tidak ingat apapun tentang masa lalunya dan Konoha. Mereka akan memastikan Itachi jauh dari Konoha terlebih lagi dari Shinobi."
"Baiklah. Aku ingin mereka memegang janjinya."
"Tenang saja, Orocimaru-sama. Aku bisa pastikan itu," jelas Kabuto. "Lagipula, kita bisa menggunakan Itachi untuk menghancurkan adiknya." Bibirnya kini terbentuk senyum licik.
"Kau benar-benar jeniussss, Kabuto."
Bunyi pesan masuk tiba-tiba terdengar dari handphone Kimimaro. Ia membuka pesan singkat itu nya lalu membacanya. Wajahnya terlihat tidak percaya ketika membaca pesan itu.
"Orochimaru-sama, Anda perlu melihat ini," ujarnya sambil berjalan ke arah meja dan memasang TV. Saat TV menyala, di hadapan mereka terlihat seorang wartawan yang sedang mewawancarai Naruto. Naruto dengan senyum khasnya menatap ke arah layar dan menjawab pertanyaan yang diajukan.
Amarah Orochimaru memuncak. Ia melemparkan cangkir teh itu ke TV dan seketika layar TV itu pecah berkeping-keping. Setelah itu, ia mencekik kuat leher Sakon yang membuatnya berteriak kesakitan, mengambil pistol di sakunya, dan tanpa menunggu lama memasukkan mulut pistol itu ke mulut Sakon dan menembaknya.
"BANG! BANG! BANG!"
Darah Sakon berhamburan ke wajah Orochimaru. Dari mulut Sakon yang menganga lebar, darah menetes ke dagunya dan jatuh ke lantai. Cengkeraman Orochimaru di leher Sakon dilepaskan perlahan, dan kemudian tubuh Sakon yang tidak bernyawa jatuh ke lantai bagaikan barang yang tidak bernilai.
"Itulah akibatnya jika kalian gagal menjalankan tugasss kalian," ujar Orochimaru tanpa rasa bersalah.
Para penghuni lain yang berada di ruangan itu shock dan ketakutan melihat adegan itu. Mereka terdiam tidak bersuara. Kepala mereka semua tertunduk, tidak berani menatap mata Orochimaru yang penuh kemarahan.
Bunyi ketukan di balik pintu kemudian terdengar mengalihkan perhatian Orochimaru dari anak buahnya. Pintu lalu terbuka dan muncullah sosok Kozu yang masuk dengan ketakutan. "Maafkan saya Orochimaru-sama, tapi ada telepon untuk Anda," ujarnya gemetaran. "Saya sudah katakan padanya kalau Anda tidak ingin diganggu, tapi dia memaksa. Katanya, dia dari Konoha."
"Pergilah," Orochimaru mengambil telepon itu.
"Apa maumu," katanya kesal setelah menempelkan telepon itu di telinga.
"Khukhukhukhu. Kau sedang tidak mood kedengarannya," ejek suara di balik telepon itu.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalian akan memata-matai kami di Amegakure!" bentak Orochimaru.
"Tentu saja tidak bisa Orochimaru. Mereka akan segera mencium keberadaanku di Shinobi jika mereka tahu misi mereka telah bocor," jawabnya datar. "Mereka mulai mencium keberadaan penyusup di antara mereka dan aku harus berhati-hati. Lagipula, aku tidak tahu siapa saja yang akan pergi ke sana. Tidak kusangka Tsunade mengirim Naruto untuk misi itu."
"ITU BUKAN ALASAN, BRENGSEK!" teriak Orochimaru. "GARA-GARA KALIAN AKU KEHILANGAN SALAH SATU HARTAKU YANG BERHARGA!"
"Tenanglah, Orochimaru. Tidak perlu kau hiraukan Klubmu yang tidak berguna itu," kata orang itu tanpa rasa takut. "Aku punya kabar bagus yang lebih penting dan pastinya tidak akan mengecewakanmu."
"CEPAT KATAKAN!" teriak Orochimaru lagi semakin tidak sabar.
"Baiklah kalau kau tidak sabar. Sekretaris Sasuke terluka karena misi di Amegakure dan kondisinya masih kritis. Saat ini, Sasuke membutuhkan seseorang asisten untuk menggantikan sekretarisnya yang terluka itu."
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Tentu saja ini kesempatan untukmu memasukkan salah satu anak buahmu dan mendapatkan informasi penting tentang Sasuke. Dengan begitu, kau tidak perlu menunggu lama lagi untuk bisa menghabisi Sasuke dan juga Shinobi. Dan akhirnya, Konoha jadi milikmu,"
"Idemu boleh juga," ujar Orochimaru senang. "Katakan bagaimana caranya aku memasssukkan anak buahku ke perusssahaannya?"
"Aku yang akan membantumu menyelundupkan anak buahmu. Kirimkan berkas anak buahmu itu padaku dan selebihnya aku yang akan mengurusnya. Dia akan langsung menjadi asisten Sasuke." Orang itu menjelaskankan. "Aku jamin, rencana ini akan berhasil."
"Kapan batasss waktunya?"
"Lusa. Lebih dari itu, kesempatanmu habis."
"Baiklah."
"Itu saja. Sampai jumpa." Orang itu kemudian memutuskan hubungan telepon.
Orochimaru meletakkan teleponnya di meja samping dan menatap ke arah Kimimaro. "Cari seseorang untuk menjadi penyusup di perusahaan Sasuke."
"Anda butuh kriteria seperti apa?"
"Dia harus pintar dan memiliki latar belakang pendidikan yang memuaskan. Dia akan kujadikan asisten Sasuke." Orochimaru tersenyum licik. "Yang paling penting, dia harus bisa mengambil hati Sasuke dalam waktu singkat. Apapun caranya katakan padanya, dia harus bisa menaklukkan Sasuke."
Kimimaro mencoba mengingat-ingat setiap anggota Oto yang memiliki kemampun seperti yang diinginkan. "Aku punya seseorang yang pas untuk posisi itu, Orochimaru-sama," jawabnya dengan senyum mengembang setelah ia menemukan calon yang pas untuk menjalankan tugas tersebut. "Dia sesuai dengan kriteria yang anda inginkan. Dia orang yang hebat. Dia tidak pernah gagal menjalankan pekerjaan yang kuberikan dan aku yakin dia akan senang menerima tugas ini."
"Bagusss. Besssok bawa dia padaku."
"Siap, Orochimaru-sama."
'Sasuke berssssiaplah. Dendamku akan segera terbalasssss. Khukhukhukhu.'
.
.
.
.
-Konohagakure-
"Sasuke-sama," Sakura membuka pintu dan masuk menghampiri meja kerja Sasuke.
"Sakura," ucap Sasuke ketika Sakura berdiri di depannya. "Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan."
"Ada apa, Sasuke-sama?" Sakura duduk dan memangku kedua tangannya di pahanya.
Sasuke melipat tangannya di dada dan menatap Sakura serius. "Bagaimana pendapatmu dengan pekerjaanmu selama ini?" tanyanya tiba-tiba.
Sakura diam dan berpikir sejenak kemudian menjawab dengan jujur. "Sangat menantang dan menyenangkan. Walaupun hanya untuk beberapa hari, aku sangat menikmati pekerjaan ini. Aku berterima kasih pada Anda yang memberikanku kesempatan ini, Sasuke-sama." Jawaban Sakura itu memberikan sedikit harapan bagi Sasuke.
"Bagaimana jika aku memberikan kesempatan itu lagi?" tanya Sasuke lagi.
"Maksud anda?" balas Sakura dengan raut wajah bingung.
"Aku tahu kesepakatan kita hanya sampai besok. Tapi, aku tertarik dan cukup puas dengan cara kerja dan kepintaranmu. Untuk seorang pemula kau cukup hebat." pujian Sasuke cukup membuat Sakura merona merah. Sakura tidak menyangka Sasuke akan berkata seperti itu. "Kau masih kubutuhkan karena aku baru mendapat kabar, Tenten mengalami kecelakaan dan dalam kondisi kritis. Tenten harus menjalani perawatan intensif dalam waktu yang cukup lama." Sasuke menerangkan.
Sakura tetap diam dan dengan seksama mendengarkan penjelasan Sasuke. Wajahnya terkejut dan sangat prihatin mendengar berita yang tidak terduga itu. "Karena itu, selama Tenten masih di rawat di rumah sakit, aku ingin memintamu untuk menggantikannya dalam beberapa waktu ke depan," lanjut Sasuke.
"Sampai kapan saya harus menggantikan Tenten-san, Sasuke-sama?" tanyanya kemudian setelah sebelumnya diam memikirkan jawaban yang tepat.
"Aku belum tahu sampai kapan Tenten akan kembali. Sampai saat ini kondisinya masih belum mengalami kemajuan," ujar Sasuke sambil melipat kedua tangannya di atas meja. "Sakura, kuharap kau mau menerima penawaranku ini." Sasuke bersandar di kursinya dan menatap Sakura dengan serius.
Sakura kembali terdiam meresapi apa yang Sasuke katakan. Ia menimbang-nimbang tawaran Sasuke Sasuke itu. Ia sangat menyukai pekerjaan ini dan sayang sekali jika ia menolaknya. Jujur, Sakura ingin sekali melanjutkan bekerja di tempat ini. Bukan karena ia ingin bersama Sasuke, melainkan karena pekerjaan yang ia lakukan amat sangat menarik baginya. Akan tetapi, menerima tawaran itu berarti ia harus menerima konsekuensinya, yaitu semakin lama ia menghabiskan waktunya bersama majikannya itu. Sebaliknya, jika ia menolaknya, ia hanya akan menghabiskan waktunya sebagai pembantu di rumah Sasuke
"Baiklah, Sasuke-sama. Aku bersedia." Keinginan Sakura untuk bekerja di sini ternyata lebih besar dibandingkan keinginannya untuk menjauhi majikannya. Sakura tidak tahu mengapa, begitu sulit menolak tawaran majikannya, saat mata Onyx-nya memandangnya dengan serius. Dan Sakura cukup yakin, mata Onyx itu sempat berkilat saat ia menyetujui tawaran itu. Hanya saja ia tidak mengerti apa artinya.
"Hn." Sasuke memajukan tubuhnya dan melipat tangannya di bawah dagunya. "Mulai besok aku akan menggajimu sesuai dengan semestinya. Tapi, setiap bulannya, gajimu akan kupotong 30% untuk pengurang hutang ayahmu padaku."
Mata Sakura berbinar senang mendengar pernyataan Sasuke itu. Senyum kecil tanpa sadar mulai terbentuk di bibirnya yang tipis.
Bunyi telepon di meja Sasuke menghentikan pembicaraan mereka berdua.
"Hn. Biarkan dia ke sini," ujar Sasuke pada seseorang di balik telepon itu. Sasuke kemudian menutup gagang telepon dan melanjutkan kembali penjelasannya.
"Sakura, mulai hari ini juga kau tidak akan sendirian membantuku. Kau akan dibantu oleh asistenku yang baru aku pekerjakan. Kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik."
"Tidak masa—" bunyi ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka berdua.
Sasuke menyuruh pengetuk pintu itu masuk. Orang itu masuk, kemudian mengambil tempat duduk di samping Sakura setelah Sasuke mempersilahkannya duduk. Sasuke menyambut orang yang baru masuk itu dan kemudian memperkenalkannya pada Sakura.
"Sakura, ini asisten terbaruku."
Orang itu menoleh ke arah Sakura sejenak dan mengulurkan tangannya. "Hai. Nama Saya Karin Izumi. Mohon bantuannya," katanya ramah dan tersenyum manis.
Sakura menatap wanita cantik di hadapannya dengan perasaan gusar. Perasaan was-was dan tidak nyaman mulai menggerogoti jiwanya. Sakura tidak tahu apa penyebab perasaan ini muncul saat ia melihat wanita ini. Tidak ada yang salah dengan sikap wanita berambut merah ini. Kecuali, tatapan lain penuh kekaguman yang tersirat di mata wanita itulah saat diam-diam memandang majikannya itulah, entah mengapa sama sekali tidak bisa diterimanya. Ia tidak menyukai tatapan itu. Dan, setelah melihat itu, hatinya serasa dihantam batu.
"Aku, Sakura Haruno. Selamat datang, Izumi-san."
.
.
-TBC-
.
.
Hola Minna-San! Terima kasih sudah menunggu Fic yang lama update ini.
Pertama-tama, Author mo ngucapin Minal Aidin Wal Faidzin ya untuk readers yang merayakan. Mohon maaf telat banget ngucapinnya. Heehehehehe..
Maaf atas keterlambatan chapter ini. Berhubung Author menderita penyakit malas waktu liburan kemarin. Eh, pas dapat ide waktu udah mulai masuk kuliah. Susah banget bagi waktu nulis. Tugas menumpuk terus. (T-T)
Chapter kali ini kupersembahkan bagi kalian semua yang menunggu Fic ini terutama para Readers setiaku.
Sorry banget buat para Readers yang udah Review, Author gak bisa balas satu per satu pertanyaan lewar PM. Jarang buka FF soalnya. Kalo ada yang mo nanya2 bisa langsung ke FB author aja. Author akan membalasnya kalo sempet. hehehehe
Mohon Reviewnya ya!
Akhir kata:
Thank You dan Don't Forget to Review!
Lot of Love,
.
.
.
Niwa Sakura
.
.
-R&R-
