Naruto © Masashi kishimoto

Because, I Love You © CbiellUchiha1

AU, Alur kecepetan, OOC, GaJe ,typo(miss) dan gangguan lainnya yg berefek samping.

Mohon bimbingannya senpai ^^. *kecup syariah

Happy Reading ...

.

.

.

Gaara menapaki tanah ketika turun dari oto sport miliknya dan berniat istirahat sejenak setelah memutuskan menginap di tempat Matsuri dan dikamar berbeda tentunya.

Matanya menangkap benda berwarna merah maroon yang masih terbungkus plastik bening terselip dicelah pintu masuknya. Ia tahu hari ini kedua kakaknya tidak berada dirumah karena ada acara masing-masing diluar sana – dan ia tak peduli – entah dimanapun itu dikota ini. Gaara melangkahi sekaligus dua anak tangga menuju pintu masuk dan menyambar benda yang diketahuinya adalah undangan pernikahan.

S & S

Diluar undangan yang dicetak dengan tinta warna emas dan font Bradley Hand itu, tertulis dengan jelas dua inisial nama calon mempelai.

S and S? Gaara bertanya-tanya.

Tanpa babibu, pemuda bertato itu membuka plastik pembungkusnya dengan tak sabaran. Terlihat sekali kalau ia penasaran dengan siapa yang mengundangnya. Walau hatinya berkata kalau itu Sakura, tapi otaknya menolak mengakui. Ia memang berusaha merelakan Sakura dengan pria lain, lagipula ia sudah berpikir empat kali kalau ia memang tak cukup pantas untuk gadis sebaik Sakura.

Tapi tidak secepat ini juga 'kan?

Sasuke Uchiha and Sakura Haruno Together with their families Request the honor of your presence at the celebration of their marriage

Sunday, the twenty eighth of March

Two thousand and xxx

Itulah sepenggal kabar undangan yang dibaca Gaara dengan cepat. Tak salah lagi, itu memang undangan Sakura. Undangan pernikahan Cherry-nya.

Pernikahannya dilaksanakan bertepatan dengan ulang tahun gadis itu yang berarti tiga hari lagi. Gaara menerawang, seharusnya ia bisa merayakannya bersama Sakura seperti tahun-tahun mereka berpacaran di SMA. Kue vanilla dengan krim strawberry dan buah ceri kesukaan gadis itu, lilin usianya yang berwarna merah, perang krim, dan ciuman mesra ucapan terima kasihnya. Apa tahun ini dan seterusnya ia hanya bisa mengingat ulang tahun Sakura sebagai ucapan selamat tinggal?

Tanpa sadar, Gaara meneteskan air matanya. Ia menyesal dan penyesalan terdalamnya mengapa baru sekarang ia menyadari jika ia masih mencintai gadis itu. Pemuda itu berharap jika saja waktu bisa diputar kembali, ia adalah orang pertama yang akan memperbaiki segalanya hingga tak ada kesalahan.

"Bodoh. Kenapa kau bisa sebodoh ini, brengsek? Lelaki macam apa kau?" umpatnya pada diri sendiri. Terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Gelas retak tak akan kembali utuh 'kan? Itu perumpamaan yang cocok bagi Sakura. Sekali ia tersakiti, ia tak akan pernah berpaling.

Gaara tersentak. Selain pernikahan Sakura yang menyakitkan baginya, ada satu lagi yang mengingatkannya tentang satu hal. Uchiha. Ia ingat siapa Sasuke. Ia memang merasa familiar dengan wajah itu. Ingatannya berputar, mengingat-ingat dimana pernah melihatnya sebelum pria itu bersama Sakura.

Bola mata Gaara melebar, benar. Sasuke Uchiha adalah mantan kekasih Matsuri. Gaara adalah saksi hidup ketika Matsuri memilih meninggalkan pemuda itu tak lama setelah hubungannya dan Sakura kandas. Ia menyaksikan semua itu dengan pandangan datar dari balik kaca mobil Kiba ketika Kiba mengatakan akan mengajaknya menyaksikan sesuatu yang menarik.

Gaara masih ingat seringai licik Kiba. Wajah putus asa Sasuke dan sikap kekanakan Matsuri. Bajingan macam apa yang dijadikannya teman selama ini? Dilihat dari luar saja, ia tahu bahwa Sasuke sangat mencintai Matsuri dan apa yang dilakukannya? Ia hanya duduk diam melihat bajingan itu merebut kekasih orang lain. Seharusnya ia berada di posisi Sakura agar bisa memahami rasa itu dengan jelas. Perasaan terkhianati.

Sekarang apa yang dilakukan si brengsek manja itu setelah menghamili anak orang? Dia melarikan diri, tak mengakui kesalahannya. Dasar pengecut.

Sekarang apa yang ditanggung Matsuri setelah mengetahui ia hamil diluar nikah tanpa ayah dari calon anaknya? Wanita itu menderita.

Sekarang apa yang ditanggungnya setelah dengan idiotnya mencampakkan bunga langka dan lebih memungut bunga liar? Ia menyesal, ia menderita.

Sekarang ia paham, rasa sakit dan perasaan terpuruklah yang menghubungkan benang merah antara Sasuke Uchiha dan Sakura Haruno. Dari awal mereka memang ditakdirkan bersama. Oh, betapa sempitnya dunia ini, bahkan kehidupan mereka terkait satu sama lain.

.

.

.

28 Maret 2xxx ...

Hari suci yang selama ini dinantikannya tiba. Dari semalam gadis merah jambu ini tak bisa memejamkan matanya lebih dari tiga jam saja. Ia gugup dan hal itu terlihat dari bulir-bulir keringat dingin yang mengalir dari kening dan pelipisnya. Sekarang bukan lagi tahun yang sama dengan tahun-tahun lalu. Ia tak akan merayakan ulang tahunnya dengan Sasuke maupun Naruto dan Hinata. Hari ini pernikahannya dan rasa gugup sialannya sudah membasahi telapak tangannya walau sudah beberapa helai tisu tersampir di celah-celah jari lentik yang dipoles cat kuku warna baby pink.

Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, hembuskan.

Hanya kalimat itu yang menemaninya diruang ganti pengantin wanita di butik Karin sebelum Ino dan kakak lelakinya, Deidara datang bersama seorang teman yang akan merias Sakura. Ino bersikeras kalau kakaknya bisa menjadi penata rias Sakura yang kebetulan adalah lulusan sekolah kecantikan bergengsi Amerika. Gadis pirang itu juga menekankan bahwa kakaknya bukan lelaki 'melambai', itu hanya sekedar hobi yang menjadi pekerjaan.

Sayup-sayup, Sakura dapat mendengar pintu depan dibuka dan suara melengking Ino yang mengudara dilobi tamu. Karin menyambut kedatangan Ino dan rombongannya setelah selesai melakukan pemeriksaan terakhir pada gaun yang akan Sakura kenakan dan mengajak mereka menuju ruang ganti dimana Sakura menunggu dengan gugup.

Ceklek ...

"Sakura, kau sudah siap?" Karin masuk dan meremas pelan pundak Sakura berusaha mengendurkan syaraf-syaraf tubuhnya yang terasa tegang.

"Kalau boleh jujur, aku gugup sekali, Karin-nee" ucap Sakura balas menatap Karin dari cermin. Karin tersenyum dan membungkukkan badan membisikkan sesuatu.

"Kau bisa sayang"

"Tapi –"

"Semua wanita akan mengalami hal yang kau rasakan, mereka juga tidak ingin tersandung gaun sendiri" Karin tahu apa yang ada dipikiran Sakura. Gadis itu takut jika tiba-tiba ia tersandung dan jatuh. Semua orang akan memperhatikannya dan berlomba menyusun cerita sebagai lelucon sebelum tidur.

"Aku tidak yakin kalau aku bisa" Sakura mengerutkan keningnya.

"Percayalah pada dirimu, Sakura. Seperti kami mempercayaimu"

Sakura tersentak. Ia merasa bodoh sekarang. Kenapa ia berpikir kalau ia sendiri? Ia memiliki keluarga dan teman-teman yang menyayanginya, ia mempunyai Sasuke yang akan menjadi penopang kerapuhannya. Mereka mempercayainya, kini adalah tugasnya untuk tidak mengecewakan mereka. Ia bisa, ia pasti bisa.

"Terima kasih, nee-san. Baiklah, aku siap" Sakura melukiskan senyum tipis menawannya. Walau tak seluruhnya, tapi kegugupannya perlahan sirna. Ia siap untuk menyandang nama Uchiha, dan seorang Uchiha tak boleh lembek.

"Masuklah" ucap Karin pada Deidara dan temannya yang membawa tas make up ukuran sedang. Lelaki berambut perak dengan tatanan klimis rapi itu tersenyum dan mempersiapkan keperluan rias-meriasnya. Tak lama Ino masuk dan mengoceh sebentar –setelah menelpon Sai – sebelum memperkenalkan kakaknya dan temannya yang bernama Hidan.

"Kalau ukuran wajah seperti nona Haruno tidaklah susah untuk meriasnya. Hanya perlu sedikit polesan tipis dan akan terlihat lebih sempurna" Hidan mengemukakan pendapatnya yang dijawab dengan anggukan Ino dan Deidara.

"Baiklah, kita mulai" Deidara memberi aba-aba dan Hidan memulai tugasnya.

Sakura hanya memejamkan matanya membiarkan Hidan lebih leluasa merias wajahnya. Gadis merah jambu ini merasakan kuas make up Hidan menyapu lembut permukaan kulitnya. Mata, pipi, alis, kelopak mata, hidung, dan bibirnya tak luput menjadi kanvas lukis kuas Hidan yang bergerak lihai bagai perias profesional di wajahnya.

Deidara pun tak tinggal diam. Tangannya dengan telaten menyanggul surai pink Sakura memperlihatkan jenjang leher putihnya dan membiarkan beberapa helai anak rambut pendek menari-nari menyentuh permukaan kulitnya. Ino tersenyum, masih tak menyangka sahabatnya akan lebih dulu melepas masa lajangnya ketimbang dirinya yang sudah beberapa kali gonta ganti pasangan.

Hanya dalam waktu empat puluh lima menit saja, Deidara dan Hidan menyelesaikan tugas mereka. Melihat Sakura tampak anggun bagai malaikat khayangan, keduanya tersenyum mengagumi hasil kerjanya dan maha karya Tuhan yang ada dihadapannya. Tak semua gadis yang pernah mereka dandani terlihat anggun alami seperti Sakura. Sedikit sekali bagai setetes air dari lautan. Perumpamaan yang cocok.

"Nona Haruno, kau boleh membuka matamu" ucap Hidan.

Sakura menuruti perintah Hidan, kelopak mata gadis ini terbuka pelan menampakkan emerald sejuk yang selama empat puluh lima menit terakhir bersembunyi dibalik kulit tipis matanya. Gadis ini nyaris tak percaya jika pantulan yang dilihatnya dicermin adalah dirinya sendiri. Matanya beberapa kali mengerjap pelan dan bibirnya menyunggingkan senyum manis.

"Terima kasih, Dei- nii, Hidan-san" ucap pengantin Sasuke ini lembut yang dijawab acungan jempol dari kedua penata riasnya. Tak lama Ino masuk – setelah kembali menelepon Sai – dengan bola mata melebar.

"Ya ampun. Apa kau benar Sakura? Haruno Sakura?" Ino tak percaya melihat Sakura yang tampak sangat cantik. Ayahnya tak sia-sia walau terpaksa menyekolahkan kakaknya disekolah kecantikan yang dominan wanita.

"Memangnya kau pikir siapa lagi?" Gadis pink itu geli juga melihat tingkah sahabatnya.

"Sial. Kau cantik sekali, jidat" gerutu Ino akhirnya yang disambung lainnya dengan tawa singkat ketika Karin masuk dan 'menculik' Sakura untuk membantu mengenakan gaunnya.

Karin tersenyum puas melihat gaun yang dikerjakannya selama dua bulan penuh tampak cantik ditubuh Sakura. Tak sia-sia memang dikorbankannya waktu, tenaga dan biaya untuk memesan langsung bahannya dari Paris. Buktinya Sakura terlihat seperti Cinderella merah jambu dari Konoha, Jepang.

Gaun satin lengan panjang berenda membalut indah tubuh calon nyonya Uchiha ini. Tak lupa dengan bagian pinggang gaun yang Karin selipkan sedikit bahan brokat dan pita tule menambah kesan 'sempurna' hari bahagianya. Sakura tak memakai tudung, Deidara bersikeras leher dan tengkuk Sakura harus ter-ekspos.

Tak bagus menyembunyikan seni,begitu alasannya.

Karin sendiri harus mengganti buket bunga yang dipegang Sakura dua kali –karena hancur diremas Sakura – sebelum gadis pink itu menaiki sedan mewah ayahnya dan melaju menuju altar.

"Kau siap, sayang?" tanya Jiraiya membantu putri semata wayangnya keluar mobil. Dapat dirasakannya tangan Sakura bergetar gugup dan sedikit berkeringat.

"Tou-san, jangan sampai aku jatuh" pintanya dengan sedikit rengekan manja.

"Aku janji"

Sakura dapat merasakan pandangan mata tertuju kearahnya saat melangkah memasuki katedral. Tak hanya satu atau dua pasang mata, tapi puluhan atau mungkin ratusan pasang mata memandang takjub pengantin merah jambu yang berusaha terlihat tangguh dihadapan mereka, dan berhasil.

Bahkan, Sasuke Uchiha yang selalu bermuka datar dan dingin, tak berkedip melihat keindahan yang berjalan ke arahnya. Egonya seketika runtuh. Apa benar dia calon istriku?

Dikerumunan tamu yang memenuhi bangku katedral itu, Sakura dapat dengan jelas melihat Gaara berdiri berdampingan dengan seorang wanita cantik. Bukan dengan Shion, tapi seseorang yang terlihat lebih 'berharga' lebih tinggi dari Shion. Gaara tersenyum kearahnya, walau samar Sakura pun membalasnya dan kembali menghadap lurus kedepan, ke altar yang dihuni pria tampan yang akan berjanji bersamanya dihadapan tuhan.

"Uchiha, kuserahkan putriku padamu. Jaga dia" perintah Jiraiya sebelum menyerahkan putrinya kepada Sasuke.

"Aku janji, Tou-san" Sasuke pun menyambut uluran tangan Sakura dan menggenggamnya. Ia gugup dan Sakura pun begitu. Tapi semua ini harus terlaksana dengan hikmat.

Pendeta memberikan aba-aba pada semua tamu untuk kembali duduk dan tersenyum kearah sepasang pengantin dihadapannya.

"Tolong ulangi setelah aku" perintah pendeta Sarutobi yang dijawab anggukan keduanya.

"Aku, Sasuke Uchiha / Sakura Haruno ... memilihmu untuk memiliki dan terus menjagamu saat bahagia maupun sedih ... sakit maupun sehat untuk terus mencintaimu ... membahagiakanmu ... selama kita berdua masih hidup ..." Sasuke mengikuti pendeta sambil memandang dan menggenggam tangan Sakura sampai giliran Sakura tiba dan mengulanginya.

"Aku menerimamu"

"Kau boleh mencium pasanganmu" akhirnya hal yang ditunggu bungsu Uchiha itu pun tiba juga. Sakura dapat melihat senyuman tulus yang beberapa saat lalu menghias bibir Sasuke berubah menjadi seringai mesum. Ia bergidik ngeri. Sepertinya untuk beberapa hari kedepan ia akan sulit berjalan. Ampuni Sasuke, Tuhan.

"Selamat ulang tahun, Nyonya Uchiha. Akan kuberikan hadiah yang belum pernah kau miliki dan rasakan sebelumnya" setelah mengatakan itu, Sasuke langsung menempelkan bibirnya diatas bibir istrinya. Sakura bengong sebelum benar-benar mencerna kata-kata suaminya.

"Mesum, baka" bisik Sakura disela-sela ciuman mereka.

"Dasar teme. Nafsu sekali dia, disinikan ramai" sewot Naruto dari bangku tamu nomor dua dari depan diapit Hinata disisi kanan dan pasangan ItaKarin disisi kiri.

"Naruto-kun" tegur Hinata sambil meletakkan tangannya diatas tangan Naruto dengan pandangan yang selalu menenangkan putra bungsu Minato itu. Dengan gaun ungu panjang yang tak terlalu terbuka, Hinata tampil sangat cantik. Surai indigo panjangnya digelung longgar yang menampakkan jenjang putih lehernya. Gadis tengah hyuuga itu tersenyum, dan menggeleng pelan kearah Naruto yang dibalas Naruto dengan cengiran dan mengecup singkat pipi putih gadisnya.

"Kalian ini" desis Neji dari balik punggung Naruto. Pria itu terlihat sedikit terganggu dengan kemesraan adiknya dan Naruto ditengah-tengah upacara pernikahan orang lain. Diliriknya Naruto dan Hinata yang nyengir seolah-olah sulung hyuuga itu tidak berada disana. Neji hanya mendengus, didampingi Tenten yang tengah hamil 7 bulan, mereka kembali menyaksikan seperangkat upacara sebelum benar-benar keluar dari gereja dan menuju acara resepsi menyusul kedua pengantin baru.

KONOHA GREEN LEAF HOTEL ...

Tak sedikit tamu yang dibuat kagum dengan interior aula hotel yang disulap menjadi tempat resepsi pernikahan Sasuke dan Sakura. Dimulai dari pengamanan yang super ketat, makanan dan minuman yang mengundang selera dengan berbagai macam pilihan, tata letak kursi tamu dan sebagainya didesain dengan sangat detail dan sempurna. Duo Pain dan Konan dapat tersenyum atau bahkan tertawa puas dengan hasil kerja mereka. Tak hanya satu atau dua orang yang mereka dengar memuji dan mengaguminya, tapi hampir setiap tamu yang mereka lewati membicarakan hal itu.

"Hei, kerja kalian sempurna" keduanya menoleh dan mendapati Itachi tersenyum puas dengan satu tangan menggengam segelas sampanye dan tangan lainnya melilit mesra pinggang Karin yang juga tersenyum kearah keduanya.

"Heh, tentu saja. Mana bisa kami kerja setengah-setengah jika clien-nya kau, Itachi" sahut Konan yang di jawab anggukan oleh Pain. Itachi mengulum senyum dan mengecup pipi Karin singkat didepan kedua sahabatnya. Mendapat kecupan tiba-tiba, Karin dapat merasakan panas menjalari seluruh tubuhnya.

"Ini Karin. Aku yakin belum sempat mengenalkannya pada kalian berdua, jadi sekalian saja sekarang aku lakukan. Sayang, ini Pain dan Konan yang aku ceritakan" Karin tersenyum dan mengulurkan tangan menjabat keduanya bergantian. Hari ini Karin tak memakai kaca matanya, sebagai gantinya sulung Uzumaki ini memakai contact lens berwarna coklat yang menampakkan sisi manis dan dewasanya.

"Wah Itachi, apa Karin tidak salah memilihmu yang dijuluki playboy cap gayung ini? Karin, hati-hati. Itachi itu hidung belang, lho" tuduh Pain yang mendapat deathglare Itachi. Itachi sendiri sebenarnya sudah menduga kalau deathglare andalannya memang tak akan mempan pada kedua sahabatnya, itu hanya berlaku bagi karyawan kantor yang membangkang. Jadi, ia tak perlu terkejut melihat deathglare-nya hanya menjadi bahan candaan.

"Heii, apa kau tak sadar kalau lirikanmu itu tidak menakuti kami? Kau tidak seperti seseorang yang akan meledak karena marah Itachi, tapi lebih kejurus puppy eyes. Lucu" sanggah Konan diiringi tawa keduanya. Karin hanya tersenyum dan sesekali melirik kekasihnya. Ia tak menyangka kalau lirikan maut Itachi yang sudah banyak menakuti orang tidak berlaku bagi duo Pain dan Konan.

"Sudahlah. Kalian ribut sekali" ujar Itachi jutek.

Disisi lain, Gaara yang datang dengan menggandeng Matsuri tengah menghela nafas gusar sambil melihat pantulan dirinya dicermin wastafel toilet. Ia datang memang bertujuan ingin mengucapkan 'selamat' kepada Sakura, Cherry-nya dimasa lalu. Tapi perasaan gugup dan bersalah kembali menyelimuti hatinya.

Apa ia cukup pantas datang dan menjabat tangan Sakura sambil mengucapkan selamat seolah-olah semuanya baik-baik saja? Ia memang sudah mencoba berkali-kali untuk merelakan Sakura jika gadis itu bisa bahagia jika bersama pilihan hatinya, tapi bukan berarti ia tak tersakiti. Gaara merasa sesak dihati.

Beberapa hari menjelang upacara pernikahan Sakura ia sudah mencoba menata ulang hatinya, kehidupannya dan pergaulannya. Kehidupan kelam yang mengenalkannya pada seks adalah awal mula kehancuran hidupnya. Shion, wanita jalang kenalan Kiba telah menyeretnya pada takdir menyakitkan. Hidupnya selama ini hanya dipenuhi nafsu.

Baiklah,cukup. Aku tak akan mundur lagi. Jika memang Sakura memang bukan untukku, berarti takdir tak menuliskan Sakura untukku.

.

.

.

"Hei, kau kemana saja?" Matsuri berdiri dari sofa yang didudukinya dan menghampiri Gaara yang berjalan diantara keramaian tamu, mendekat kearahnya.

"Aku dari toilet. Apa kau sudah bertemu dengan bibi Mikoto yang kau katakan itu?"

"Yah. Aku sudah menemuinya" Matsuri mengangguk dan sedikit tersenyum kecil.

"Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa senyummu aneh begitu?" Gaara tersenyum miring yang dibalas Matsuri dengan kerutan kening tak setuju.

"Kau ini. aku tersenyum manis tahu" sanggahnya.

"Oke. Baiklah. Kalau boleh aku tahu kalian membicarakan apa?" tanya pemuda bertatto 'ai' itu to the point.

"Awalnya beliau memang agak terkejut melihatku. Aku pikir dia akan marah atau yang terburuk menamparku didepan tamu. Tapi, kau tahu apa yang dilakukannya?"

Gaara menggeleng tak tahu. Wanita didepannya ini memang pernah bercerita jika ibunda Sasuke itu tak menyukainya walau Gaara berpikir penyebabnya karena penampilan Matsuri yang kelewat urakan jika harus disandingkan dengan Uchiha yang terhormat. Tapi bukan berarti wanita itu tidak anggun, hanya saja sedikit 'berbeda' dengan pembawaan Sakura.

"Dia memelukku" lanjut wanita yang tengah hamil muda ini dengan nada kalem yang terdengar senang walau ia tak perlu melompat-lompat untuk mengatakannya. Gaara melebarkan jade-nya memandang Matsuri yang tengah tersenyum.

"Benarkah? Tapi – maksudku – bagaimana mungkin? Kau bilang ia tidak menyukaimu 'kan?" tuding Gaara dengan serentet pertanyaan.

"Aku juga tidak tahu, tapi beliau bilang beliau merindukanku. Aku tidak tahu apa yang dirindukannya dari – kau tahulah, wanita hamil yang bahkan belum menikah dan yang menyakiti putranya – tapi aku senang. Setidaknya beliau mau berbicara denganku" tutur Matsuri panjang lebar yang didengarkan Gaara dengan seksama. Ia mengerti keadaan wanita itu. ia paham.

"Apa beliau tahu kalau kau sedang hamil?" tanya Gaara seolah baru mengingat sesuatu yang penting.

"Hmm ,, Ya. Aku memberitahunya. Beliau mengusap perutku lembut dan mendoakan keselamatan untuk calon anakku" wanita itu bicara sambil memandang dan mengelus perutnya yang – walau sedikit- sudah tampak buncit.

"Apa kau memberitahunya tentang ... ayahnya?" Gaara bertanya hati-hati pada topik yang sedikit sensitif bagi Matsuri. Wanita itu menggeleng lemah, bola matanya yang sedari tadi memancarkan cahaya ceria perlahan memudar. Ia bersyukur Mikoto tidak menanyakan siapa ayah calon anaknya karena itu hanya akan membuka luka yang tak kunjung sembuh.

"Maaf"

"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya merasa Kiba kembali datang dan mengambil anakku jika seseorang menyebut nama bajingan itu. Kau tak perlu minta maaf, aku tidak apa-apa" sanggahnya dan menggenggam tangan Gaara jikalau pria itu merasa bersalah.

"Baiklah. Aku akan mencatat nama bajingan itu adalah salah satu faktor yang akan mempengaruhi mood-mu, ibu hamil. Jadi, apa kau mau ikut denganku dan menyapa pengantin baru itu? mereka tampaknya terlalu sombong untuk merasakan kebahagiaan sendiri" ujar Gaara yang dijawab anggukan Matsuri. Keduanya bangkit dengan Gaara yang menggandeng tangan wanita itu dan berjalan mendekati pasangan SasukeSakura.

Tampaknya kesalah pahaman yang pernah terjadi perlahan luntur dengan kebahagiaan baru yang bermunculan. Tak hanya satu dengan jeda waktu yang lama, tapi satu per satu kebahagiaan itu akan saling bersahutan diantara mereka meneriakkan jika mereka yang paling bahagia.

.

.

.

Oke, tinggal satu atau dua chapter lagi minna. Mungkin ga akan ada konflik karena yang tersisa cuma .. ya ada dehh .. hehehe*dibacok* .. maaf kalo agak lama apdetnya soalnya beresin Just be Mine dulu biar bisa apdet barengan, soalnya kalo apdet satu-satu mahal cyinn ...

Eh, ada yang mau lemon ga? *senyum mesum on*

Nah, waktunya cipok dulu satu-satu .. sinisini *cupcuppeyukpeyuk*